Note: Karena ratenya resmi jadi M mau gam au imajinasi yuuki juga mengikuti rated. Tapi untuk lemon, sesungguhnya yuuki belum kepikiran itu. Cukup banyak kendala untuk menulis chapter ini namun akhirnya terlewati. Pair itasaku memang jarang penggemarnya tapi yuuki sendiri suka pair yg ektrm seperti Sasosaku, kakasaku, peinsaku, gaasaku, dan sekarang beratambah jadi suka itasaku. Yuuki tidak begitu suka pair Sasusaku hehehe. Terimakasih yang sudah meriview. Semoga tidak akan bosan-bosan membaca dan meriview sebagai tanda kalian peduli dg ffn ini :) Untuk rincian umur character mungkin di chap 4 akan ada note khusus. Terimakasih dan selamat membaca…

HONOR FOR FAMILY

Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto

Story by Yuuki Kiraina

Pair: Itachi dan Sakura

Warning: AU, OOC, Typo

Chapter 3 Persiapan Pernikahan

Napasku yang beruap terhembus keudara. Bahkan mantel tebalku tak bisa melindungiku dari musim dingin Konoha. Salju berderak di bawah sepatu botku ketika aku mengikuti ibuku menelusuri trotoar menuju ke sebuah deretan toto-toko, yang salah satunya merupakan butik perlengkapan pernikahan paling mewah di Kota Konoha. Kakashi membuntutiku dari dekat di belakangku. Dan pengawal ayahku yang lain, berdiri di belakang saudaraku.

Pintu kaca yang bergulir membiarkan kami masuk kedalam butik yang berkilauan dan pemilik serta kedua asistennya segera menyambut kedatangan kami. "Selamat Ulang Tahun Nona Sakura" katanya dengan suara merdu dan senyuman manis terlukis diwajahnya.

Aku memaksakan diri untuk tersenyum. Ulang tahunku yang ke delapan belas seharusnya menjadi hari yang menyenangkan, namun kenyataannya hari ulang tahunku yang ke delapan belas sekaligus pengingat di umurku yang delapan belas tahun berarti selangkah lagi untuk menikah dengan Itachi. Aku tidak pernah lagi melihannya semenjak malam pertunangan dan malam dimana dia telah memotong jari sepupuku, Konohamaru. Selama tiga tahun ini dia selalu mengirimiku perhiasan mahal sebagai kado ulang tahun, kado natal, kado valentine bahkan kado anniversary pertunanganku dengannya. Tapi aku tak pernah bertemu secara langsung dengannya selama tiga tahun ini. Aku pernah melihat foto dia bersama wanita lain di internet, tapi kebersamaannya dengan wanita-wanita akan berhenti hari ini saat pertunangan kami akan dibocorkan ke pers. Paling tidak dia tidak akan terlalu bebas berfoto dengan wanita-wanita jalang dikhalayak umum.

Aku yakin dia sangat sering tidur dengan para pelacurnya. Dan aku tidak akan memperdulikan kebiasaan buruknya. Selama dia memiliki para pelacur itu setidaknya dia tidak akan menyentuhku.

"Benar bukan tinggal enam bulan lagi menjelang pesta pernikahanmu?" Pemilik butik bertanya kepadaku. Dia satu-satunya orang yang paling bersemangat. Tidak mengherankan, karena dengan itu penghasilannya akan bertambah. Pernikahan sebagai tanda bersatunya Konoha dan Akatsuki. Uang bukan masalah bagi kedua kubu mafia tersebut.

Aku menundukan kepalaku. 166 hari terhitung dari sekarang aku akan berada di sangkar emas Itachi. Ino menatapku seperti ingin berkata, namun dia tetap diam menutup mulutnya. Pada usia enam belas tahun setengah, Ino mulai belajar mengendalikan dirinya dari sifat pembangkangnya.

Pemilik butik itu membawa kami ke ruang pas. Kakashi dan yang lainnya hanya menunggu diluar. Hinata dan Ino mendudukan diri di sofa putih mewah sementara ibuku mulai melihat-lihat gaun pengantin yang di pajang. Aku berdiri di tengah ruangan. Melihat semua tulle putih, sutra, manik-manik, brokat dan semuanya yang terlihat oleh mataku membuatku tercengang. Aku akan segera menikah. Kata mutiara tentang cinta yang menghiasi dinding ruang pas,semuanya terasa seperti ejekan mengingat kenyataan pahit yang terjadi dalam hidupku. Cinta adalah mimpi konyol?

Aku bisa merasakan pandangan mata pemilik butik dan asistennya padaku sebelum aku bergabung dengan ibuku. Tak ada seorangpun yang tahu bahwa aku adalah seorang calon pengantin yang tidak bahagia, aku hanyalah pion dalam permainan kekuasaan. Akhirnya pemilik butik mendekatiku dan menunjukan gaun yang paling mahal.

"Gaun seperti apa yang di inginkan oleh suamimu?" dia bertanya dengan ramah.

"Yang memamerakan belahan dada dan memamerkan lekuk tubuh bahkan telanjang lebih bagus lagi" kata Ino sehingga membuat ibuku menatap tajam padanya. Mukaku memerah, namun pemilik butik hanya tertawa seolah-olah itu sebuah lelucon yang menyenangkan.

"Tentu saja Nona Sakura dan suaminya mempunyai waktu khusus untuk itu, bukan begitu?" pemilik butik mengedipkan matanya padaku.

Aku mengamati dan meraih gaun termahal di antara koleksi butik itu. Dream brokat, itu disulam dengan benang mutiara dan benang keperakan membentuk pola bunga yang halus. "Itu benang kualitas platinum" kata pemilik butik. Secara tidak langsung itu menjelaskan harga gaun yang termasuk platinum class. "Kurasa calon pengntin pria akan sangat senang dengan pilihanmu"

Sepertinya dia sangat mengenal Itachi lebih baik dariku. Itachi sama seperti orang asing bagiku, tidak berbeda dari tiga tahun yang lalu.

-000-

Pesta Pernikahan akan diadakan ditaman yang sangat luas yang terdapat di rumah Madara Uchiha. Semua orang sudah mulai disibukan denganpersiapan pesta penikahan penyatuan kekuasaan itu. Aku belum pernah menginjakan kaki di rumahnya bahkan lokasi rumahnya pun aku tidak mengetahuinya, tapi ibuku tahu informasinya.

Ketika keluargaku tiba di daerah kekuasaan Akatsuki beberapa jam yang lalu, adikku dan aku meringkuk di kamar kami di Royal Hotel. Madara Uchiha menyarankan agar kami tinggal di mansionnya sampai acara pernikahan tiba, tapi ayahku menolak. Kerjasama di keduanya sudah terjalin dari tiga tahun yang lalu namun mereka masih belum bias saling percaya. Tapi dengan begitu aku cukup bahagia karena aku masih belum siap menginjakan kaki di mansion Uchiha.

Ayah yang mengizinkan aku untuk sekamar dengan Hinata dan Ino, jadi ayahku dan ibuku tidak terlalu terganggu karena adik perempuanku sekamar denganku, hanya Naruto yang sekamar dengan mereka. Tentu saja pengawal tetap menjaga kami di luar pintu kamar kami.

"Apakah besok kita benar-benar diwajibkan untuk menghadiri acara bridal shower?" Tanya Hinata, kakinya yang telanjang berayun di sandaran sofa. Hinata berusia empat belas tahun, bocah yang ekspresif ketika berbicara. Tubuhnya cukup ideal untuk remaja seusianya, dia seperti model cover majalah remaja. Rambut hitam lurusnya cukup menjadi daya tarik siapa pun yang melihatnya dan matanya bagai mutiara yang bersinar menambah kecantikannya.

Aku cukup khawatir karena adiku tumbuh menjadi remaja yang liar biasa. Kami tinggal di lingkungan yang di kelilingi oleh para lelaki, aku cukup percaya dengan pegawai-pegawai ayahku namun di luar sana masih banyak lelaki tak baik.

"Tentu saja kita harus datang" gumam Ino. "Sakura adalah calon pengantin yang bahagia, ingat?"

Hinata mendengus "baiklah" dia terkulai tidur terlentang di sofa "aku mulai bosan, ayo kita belanja".

Kakashi sebagai pengawal kami sesungguhnya dia sangat tidak menyukai acara-acara perempuan seperti berbelanja, namun tuntutan pekerjaan yang akhirnya dengan terpaksa dia selalu mengawal kami pergi kemana pun.

-000-

Kami berbelanja di toko yang menjual pakaian seksi, pakaian yang Hinata sangat ingin coba ketika aku mendapat pesan dari Itachi. Ini adalah pertama kali dia menghubungimu secara langsung dan untuk waktu yang lama aku hanya memandang layar Smartphoneku. Ino mengintip dari balik bahuku dari ruang ganti. 'temui aku di hotel jam enam' baik sekali cara dia meminta, tanpa basa basi sedikitpun.

"Apa yang dia inginkan?" Aku berbisik. Aku berharap tak akan bertemu dengannya di hingga tanggal sepuluh Agustus, hari dimana pernikahan kami di langsungkan.

"Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya," kata Ino, sambil melihat penampilannya di kaca.

-000-

Aku gugup. Aku tidak bertemu Itachi dalam jangka waktu yang sangat lama. Aku merapikan rambutku, kemudian meluruskan kaosku. Ino meyakinkanku untuk mengenakan jeans hitam ketat yang aku beli hari ini. Sekarang aku berharap aku mengenakan sesuatu yang tak terlalu membuat perhatian ke tubuhku. Mungkin akan lebih baik. Aku masih punya lima belas menit sebelum Itachi ingin bertemu denganku. Aku bahkan tak tau dia dimana, tapi aku berasumsi dia akan menghubungiku saat dia tiba dan memintaku untuk turun ke lobby.

"Berhenti mondar-mandir" Ino berkata dari tempatnya di sofa, membaca majalah.

"Kurasa pakaian ini sungguh bukan ide yang bagus".

"Itu bagus. Pakaian ini mudah untuk memanipulasi lelaki. Hinata berumur empat belas tahun dan dia sudah mengerti tentang itu. Ayah selalu berkata bahwa kita adalah makhluk yang lemah Karena kit takbisa membawa senjata. Kita memiliki senjata kita sendiri, Sakura, dan kau akan mulai menggunakannya. Jika kau ingin bertahan dalam pernikahanmu dengan lelaki itu, kau harus menggunakan tubuhmu untuk memanipulasi dia. Lelaki, meskipun bajingan berhati dingin seperti mereka, tetap memiliki kelemahan dan itu menggantung di antara kaki mereka".

Kurasa Itachi tak bisa dimanipulasi dengan begitu mudanya. Dia tak seperti pria yang mudah hilang kendali, kecuali dia memang menginginkan itu, dan aku sungguh tak yakin aku ingin dia mengenali tubuhku dengan cara seperti itu.

Ketukan membuatku melompat dan mataku terbang ke arah jam. Ini, masih terlalu dini untuk Itachi dan dia tak akan datang ke kamar kami, bukan?

Hinata menyerbu keluar dari kamar tidur sebelum Ino ataupun aku bahkan bisa bergerak. Dia mengenakan pakaian gadis rockernya, celana kulit ketat . Dia berpikir dia terlihat dewasa dengan itu. Ino dan aku berpendapat dia tampak seperti gadis empat belas tahun yang berusaha terlalu keras.

Dia membuka pintu, dan menonjolkan pinggulnya keluar, berusaha terlihat sexy. Ino menggeram tapi aku tak memperhatikan dia.

"Hi Itachi". Hinata mencicit. Aku bergerak lebih dekat sehingga Aku bisa melihat Itachi. Dia mengamati Hinata, tampaknya mencoba untuk mengingat siapa dia, Obito, Sasori dan Deidara berdiri di belakang Itachi. Wow, dia membawa pengawalnya. Dimana Kakashi?

"Kau Hinata, adik perempuan yang paling kecil", kata Itachi dan mengabaikan ekspresi menggoda Hinata.

Hinata cemberut. " aku tidak kecil"

"Ya, memang" aku berkata tegas, berjalan ke arah Hinata dan meletakkan tanganku di bahunya. Dia hanya beberapa inci lebih kecil daripada aku. "Pergilah ke Ino"

Hinata memberiku tatapan tak percaya kemudian dia berjalan pergi.

Nadiku berdeguo kencang saat aku berbalik menghadap Itachi. Matanya terpaku di kakiku, kemudian bergerak hingga ke wajahku. Tatapan itu sebelumnya tak ada di matanya saat terakhir kali aku melihat dia. Dan aku menyadari bahwa itu bisa diartikan sebagai rasa ingin sesuatu. "Aku tak tau kita akan bertemu di kamarku". Kataku, dan aku menyadari harusnya aku menyapanya dulu atau minimal tak terlalu terdengar tak sopan.

"Apakah kau akan mengizinkan aku masuk?"

Aku ragu-ragu, lalu aku mundur dan membiarkan para pria melewatiku. Hanya Sasori yang tetap di luar. Dia menutup pintu walaupun sebenarnya aku berharaplah untuk tetap membuka pintu. Obito melenggang ke arah Ino yang segera duduk dan melemparkan tatapan jijik nya. Hinata tentu saja membalas senyumnya. "Bisakah aku melihat pistolmu?"

Obito tersenyum, tapi sebelum Obito sempat menjawab aku sudah menjawab terlebih dahulu. "Tidak, kau tidak bisa".

Aku bisa merasakan tatapan Itachi padaku, berlama lama di kaki dan pantatku lagi. Ino memberiku tatapan yang berarti kubilang juga apa. Dia ingin aku menggunakan tubuhku, masalahnya aku lebih menyukai Itachi mengabaikan tubuhku karena sesuatu yang lain yang aku takuti.

"Kau tak harus berada disini dengan kami", Ino bergumam. "Ini tidak tepat". Aku mendengus. Seakan Ino peduli saja dengan kesopanan.

Itachi menyipitkan matanya. "dimana Kakashi? Bukankah dia seharusnya menjaga pintu ini?"

"Dia mungkin ke toilet atau sedang merokok untuk istirahat". Kataku , mengangkat bahu.

"Apakah ini sering terjadi, dia meninggalkanmu tanpa perlindungan?"

"Oh sepanjang waktu". Kata Ino mengejek. "Kau tau, Hinata, Sakura, dan aku menyelinap keluar setiap akhir pekan. Karena kami memiliki taruhan siapa yang lebih banyak mendapatkan pria". Hinata terkikikik, dan tawanya terdengar seperti lonceng.

"Aku harus membicarakan ini denganmu Sakura". Kata Itachi menatapku dengan tatapan dingin.

Ino bangkit dari sofa dan mendekati kami. "Aku bercanda, demi Tuhan!". Katanya, dia berusaha melangkah di antara aku dan Itachi. Tapi Obito mencengkram pergelangan tangannya dan menariknya kembali. Hinata melihat segala sesuatunya dengan mata melebar dan Deidara berdiri di depan pintu, berpura pura tidak peduli.

"Lepaskan aku atau aku akan menggigit jari-jarimu". Ino geram. Obito mengangkat tangannya dengan tersenyum lebar.

"Ayo" kata Itachi, tangannya menyentuh punggungku lebih rendah. Aku terkesima. Jika dia melihat, dia tak berkomentar. "Dimana kamar tidurmu?"

Detak jantungku berhenti saat aku mengangguk menunjuk ke arah pintu sebelah kiri, Itachi membawaku ke arah situ, mengabaikan protes Ino. "Aku akan menelepon ayah kami! Kau tak bisa melakukan itu".

Kami melangkah ke kamar tidurku dan Itachi menutup pintu. Aku tak bisa apa-apa selain takut. Ino harus nya tidak mengatakan hal-hal seperti itu. Saat Itachi menghadap ke arahku, aku berkata. "Ino bercanda, aku bahkan belum pernah mencium siapapun, aku bersumpah". Panas merayap ke wajahku saat aku mengakui itu, tapi aku tak ingin Itachi marah untuk sesuatu yang bahkan takku lakukan.

Mata hitam Itachi mengamatiku dengan sangat intens, "Aku tau".

Bibirku terbuka. "Oh. Lalu mengapa kamu marah?"

"Apakah aku terlihat marah?"

Aku memutuskan untuk tidak menjawab.

Dia menyeringai. "Kau tidak cukup tau tentangku".

"Itu bukan salahku". Gumamku

Dia menyentuh daguku dan aku hanya mematubng. "Kau seperti domba yang gugup dalam cengkraman serigala ". Dia tak tau seberapa mengena omongannya dengan apa yang aku pikirkan. "Aku tak akan menyakitimu".

Aku pasti terlihat ragu karena dia memunculkan tawa kecil, menurunkan kepalanya ke arahku.

"Apa yang kau lakukan?" Bisik ku gugup.

"Aku tak akan menidurimu jika itu yang kau khawatirkan. Aku bisa menunggu beberapa hari lagi. Lagian Aku telah menunggu selama tiga tahun".

Aku tak percaya dia mengatakan itu. Aku tau apa yang dia harapkan di malam pernikahan, tapi aku hampir menyakinkan diriku bahwa Itachi tidak tertarik denganku dengan cara seperti itu. "Kau memanggilku bocah kala itu"

"Tapi kau bukan bocah lagi", Itachi berkata dengan senyum predator. Bibirnya berjarak kurang dari satu inci dari bibirku. "Kau membuat ini menjadi begitu sulit. Aku tak bisa menciummu, jika kau menatapku seperti itu".

"Lalu, mungkin aku harus memberikan tatapan seperti itu pada malam pernikahan kita", aku menantang.

"Lalu mungkin aku akan melakukannya dari belakang sehingga aku tak akan melihatnya".

Wajahku mencelos dan Aku terkulai, bertabrakan dengan dinding.

Itachi menggeleng. "Santai. Aku bercanda". Katanya pelan. "Aku bukan monster".

"Benarkah ?"

Ekspresinya mengeras dan dia menegakkan diri, kembali ke tinggi seutuhnya. Aku menyesali perkataanku, walaupun itu adalah kebenaran. "Aku ingin membicarakan tentang masalah perlindungan denganmu". Dia berkata tanpa emosi, suara formal. "Saat kau pindah ke penthouseku setelah pernikahan, Sasori dan Deidara akan bertanggung jawab untuk keselamatanmu. Tapi aku ingin Deidara di sampingmu sampai saat itu tiba".

"Aku memiliki Kakahi". Aku protes, dia menggeleng." Tampaknya dia mengambil terlalu banyak istirahat di toilet. Deidara tak akan meninggalkanmu sekarang"

"Apakah dia akan menontonku ketika aku mandi"

"Jika aku menginginkan dia begitu"

Aku mengangkat daguku, berusaha untuk memuaskan kemarahanku, "Kau akan membiarkan pria lain melihatku telanjang? Kau benar benar percaya Deidara tak akan mengambil kesempatan dari situasi ini".

Mata Itachi menyala. "Deidara setia". Dia mendekat. "Jangan khawatir aku adalah satu-satunya lelaki yang akan melihatmu telanjang. Aku tak sabar" matanya menelusuri tubuhku.

Aku menyilangkan tangan di depan dada dan mengalihkan mataku. "Bagaimana dengan Hinata? Dia dan Ino berbagi kamar denganku. Kau melihat apa yang bisa Hinata lakukan. Dia akan main mata dengan Deidara. Dia akan melakukan apa saja untuk menarik perhatian Deidara. Dia tak menyadari masalah apa yang bisa dia timbulkan. Aku butuh tau dia aman".

"Deidara tak akan menyentuh adikmu. Hinata cuma bermain-main. Dia adalah gadis kecil. Deidara suka wanita dewasa dan matang".

"Dan kau tidak?" Aku hampir bertanya, tapi menelan kembali kata kataku, lalu mengangguk.

Mataku melesat ke tempat tidur. Ini adalah pengingat mengerikan akan apa yang akan terjadi segera.

"Ada sesuatu yang lain. Apa kau mengkonsumsi pil?"

Wajahku memucat ketika aku menatapnya. "Tentu saja tidak"

Itachi menelitiku dengan ketenangan yang mengganggu. "Ibumu bisa membuatmu mulai untuk mempersiapkan pernikahan".

Aku cukup yakin aku memiliki gangguan saraf setiap saat "Ibuku takkan melakukan itu. Ibuku bahkan tak kan bicara mengenai hal hal ini".

Itachi mengangkat satu alis. "Tapi kau tau apa yang akan terjadi antara seorang pria dan wanita di malam pernikahan?"

Dia mengejekku, bajingan itu. "Aku tau apa yang akan terjadi pada pasangan normal. Dalam kasus kita, aku pikir kata yang kau cari adalah pemerkosaan".

Mata Itachi terlihat dengan emosi. "Aku ingin kau mulai minum pil". Dia menyerahkan paket kecil. Itu KB.

"Bukankah aku butuh bertemu dokter sebelum aku mulai mengkonsumsi pengontrol kehamilan ".

"Kami punya dokter yang telah bekerja untuk Uchiha selama beberapa dekade. Ini dari dia. Kau perlu meminum pil itu segera. Butuh 48 jam agar pil itu bekerja".

Aku tak percaya. Dia tampak benar-benar semangat untuk meniduriku. Perutku menegang. "Dan bagaimana jika aku tak mau".

Itachi mengangkat bahu. "Aku akan mengenakan kondom. Bagaimanapun caranya, pada malam pernikahan kita, kau adalah milikku".

Dia membuka pintu dan memberi isyarat padaku untuk bergerak. Seolah-olah tak sadar, aku berjalan ke ruang tamu kamar, aku tak bermaksud untuk membuat dia marah, tapi sekarang sudah terlambat. Ini mungkin bukan yang terakhir kalinya juga.

Kakashi berdiri di samping Ino dan Hinata, tampak kesal. "Apa yang kau lakukan disini?"

"Kau harus memperhatikan dengan lebih baik di masa mendatang, dan usahakan untuk seminimum mungkin istirahat". Itachi memberitahu Kakashi.

"Aku hanya pergi beberapa menit dan sudah ada penjaga di pintu lainnya"

Ino menyeringai, mata Obito terdiam. "Apa yang kau lihat!" Bentakknya.

Obito membungkuk ke depan "Melihat tubuhmu yang hot"

"Kalau begitu lihatlah" dia mengangkat satu bahu" karena cuma itu yang bisa kau lakukan pada tubuh Hotku".

"Hentikan" Kakashi memperingatkan.

Aku tak melihat dia, tapi Obito yang memiliki ekspresi mempertimbangkan di wajahnya.

"Deidara akan mengambil alih tugas untuk mengawasi hingga acara pernikahan" kata Itachi. Kakashi membuka mulut, tapi Itachi mengangkat tangannya "sudah diputuskan". Dia berbalik ke arah Deidara yang langsung berdiri tegak. Mereka berjalan beberapa langkah menjauh dari kami. Ino merapat kepadaku. "Apa maksud dia?"

"Deidara adalah pengawal baruku".

"Dia hanya mau mengontrolmu"

"Shhh". Aku mengamati Itachi dan Deidara. Setelah beberapa saat, Deidara melirik ke Hinata, kemudian mengangguk dan mengatakan sesuatu. Mereka akhirnya kembali ke kami. "Deidara akan tinggal bersamamu" kata Itachi. Dia begitu dingin karena aku mengatai dia monster.

"Dan apa yang harus aku lakukan?" Tanya Kakashi

"Kau bisa menjaga pintu mereka"

"Atau kau bisa bergabung dengan pesta kami". Obito menyarankan.

"Aku tak tertarik", kata Kakashi

Itachi mengangkat bahu. "Terserah. Jiraya bergabung dengan kami"

Ayahku akan pergi dengan mereka? Aku bahkan tak ingin tau apa yang mereka lakukan.

Itachi berpaling padaku. "Ingat apa yang aku katakan"

Aku tak mengatakan apapun, hanya mencengkram paket pil di tanganku. Tanpa berkata apa-apa lagi, Itachi dan Obito pergi. Deidara membuka pintu. "Kau bisa pergi juga". Dia berkata pada Kakashi yang melotot tapi lalu berjalan keluar setelah beberapa saat. Deidara menutup pintu dan menguncinya.

Ino menganga. "Kau pasti tidak serius".

Deidara bersandar di pintu, lengannya dilipat, dia tak bereaksi.

"Kemarilah Ino". Aku menariknya ke sofa dan menjatuhkan diri. Hinata sudah berlutut di kursi, mengamati Deidara dengan penuh perhatian. Mata Ino jelalatan ke arahku. "Apa ini?"

"Pil KB".

"Jangan bilang bajingan itu memberikan padamu sekarang sehingga dia bisa menggaulimu di malam pernikahan"

"Kau tak akan meminumnya kan?"

"Aku harus, ini tidak akan menghentikan Itachi jika aku tak meminumnya. Dia hanya akan marah".

ino menggeleng, tapi aku memberi tatapan memohon. "Aku tak ingin berdebat denganmu. Ayo kita menonton film, oke? Aku benar benar butuh pengalihan". Setelah beberapa saat, Ino mengangguk. Kami menonton film secara acak, tapi sangat sulit untuk fokus ketika Deidara menjaga kami.

"Apa kau akan berdiri disana sepanjang malam?" Tanyaku pada Deidara. "Kau membuatku gugup. Tidak bisakah kau setidaknya duduk?"

Dia pindah ke arah kursi kosong dan beringsut ke bawah. Dia melepas jaketnya dan menampakkan kemeja putih dan sarung yang memegang dua senjata dan pisau panjang.

"Wow" Hinata menarik napas. Dia berdiri dan berjalan ke arah Deidara. Deidara tetap menjaga perhatiannya ke arah pintu. Hinata melangkah ke arahnya, dan dia tak punya pilihan lain selain melihat Hinata. Hinata tersenyum. Dia dengan cepat masuk ke pangkuan Daidara dan Deidara menegang. Aku melompat dari sofa dan menariknya. "Hinata apa yang kau lakukan? Kau tak boleh bertingkah seperti itu. Suatu hari seorang pria akan mengambil keuntungan darimu". Banyak pria kesulitan mengatasi godaan. Provokatif dan terkadang tindakan wanita tidak dimaksudkan untuk itu.

Deidara menegakkan tubuh di kursinya.

"Dia tak kan menyakitiku. Itachi melarangnya kan?"

"Dia bisa saja mencuri keuntungan darimu lalu menggorok lehermu sesudahnya, jadi kau tak bisa mengatakan apapun kepada orang lain". Kata Ino kasar. Aku menatapnya tajam.

Mata Hinata terbelalak.

"Aku tak akan melakukan itu". Kata Deidara. Mengagetkan kami dengan suaranya.

"Kau seharusnya tak mengatakan itu" Ino bergumam. "Sekarang dia akan terus mengikutimu"

"Hinata pergi tidur!" aku menyuruhnya dan dia melakukan protes keras.

"Maafkan aku" kataku "Dia tak tau apa yang dia lakukan".

Deidara mengangguk. "Jangan khawatir. Aku memiliki adik perempuan seusianya".

"Berapa umurmu?"

"Dua puluh"

"Dan sudah berapa lama kau berkerja untuk Itachi?" Ino mematikan TV untuk fokus pada interogasinya. Aku menetap pada sandaran.

"Empat tahun. Tapi aku sudah jadi Made man (anggota mafia) selama enam tahun".

"Kau pasti sangat hebat sampai Itachi memilihmu untuk melindungi Sakura"

Deidara mengangkat bahu. "Tau bagaimana aku bisa menghendel diri dalam pertarungan bukanlah alasan utama, Itachi tau, aku loyal".

"Yang berarti kau tak akan menyerang Sakura"

Aku memutar mataku ke Ino. Deidara tampaknya menyesali karena dia meninggalkan tempatnya di depan pintu. "Itachi tau dia bisa mempercayaiku untuk apa yang menjadi milik dia".

Bibir Ino menipis. Kata-kata yang salah untuk diucapkan "Jadi jika Sakura keluar dalam keadaan telanjang malam ini dan kau terangsang karena apa yang tidak bisa kau tahan, Itachi tak akan memotong sesuatu darimu kan?"

Deidara jelas terkejut. Dia menatapku, seolah-olah dia benar benar khawatir aku akan melakukan itu. "Abaikan dia. Aku tak kan melakukan itu"

"Dimana Itachi dan para pria lain berpesta malam ini?"

Deidara tak menjawab.

"Mungkin di club dan kemudian di salah satu pelacuran yang Akatsuki jalankan" Ino bergumam. "Kenapa para pria bisa bermain wanita saat kita harus menjaga keperawanan kita saat malam pernikahan? Dan kenapa Itachi boleh menyetubuhi siapapun yang dia mau ketika Sakura bahkan tak boleh mencium satu lelaki pun?"

"Aku tak membuat peraturan itu". Deidara berkata dengan singkat.

"Tapi kau memastikan bahwa kami tak melanggarnya. Kau bukan pelindung kami, kau mata-mata kami"

"Apakah kau pernah mempertimbangkan bahwa aku melindungi dari orang-orang yang tak tau siapa Sakura?" dia bertanya.

Aku mengerutkan kening.

"Itachi akan membunuh siapa saja yang berani menyentuhmu. Tentu saja, kau bisa keluar, bermain mata dengan seorang pria. Karena kau bukan seseorang yang akan Itachi buru".

"Itachi bukanlah tunanganku" kata Ino.

"Ayahmu akan membunuh pria mana pun yang mendekatimu, karena dia tak mau seorangpun merusak hartanya yang paling berharga"

Untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa karena aku telah diberikan pada Itachi itu bukan berarti Ino tak akan di paksa untuk menikah dengan orang lain. Aku tiba-tiba merasa sangat lelah. "Aku akan tidur"

Aku berbaring terjaga sepanjang malam, memikirkan cara untuk keluar dari pernikahan ini, tapi satu-satunya pilihan adalah harus menjalaninya dan sementara Ino pasti akan mengikuti jejakku. Lalu bagaimana dengan Hinata? Aku tak bisa menjaga mereka berdua tetap aman. Dan bagaimana Naruto? Bagaimana ibuku? Aku tak bisa meninggalkan semuanya. Aku tak tau apa-apa lagi. Mungkin aku pengecut. Walaupun menikahi pria seperti Itachi mungkin diperlukan keberanian lebih untuk melarikan diri.

Bersambung….