Minhee Past Story
:
"aku akan memberikanmu kebahagian, menjagamu dan mencarikanmu seorang yang akan menggantikanku mennyayangimu dan mencintaimu seumur hidup"
:
Sore itu
Sohee sedang duduk sendirian ditaman rumah sakit, tempat dimana minseok duduk beberapa hari lalu, sepertinya saudara kembar memang memiliki takdir yang terikat satu sama lain. Sohee memandang kolam didepannya.
"huaaaaa,,,,,,,,, oppa kakiku sakit.. " seorang anak menangis didekat kolam karena dia tersandung dan lututnya berdarah. Sohee mengalihkan pandangannya pada anak yang menangis tadi.
seorang bocah laki-laki yang sohee kira oppa anak tadi datang sambil berlari dan langsung meniup luka adiknya itu
" huhhh...sudah huffhhhh... sudah nanti sakitnya pasti hilang"
Melihat pemandangan itu sohee jadi teringat masa lalu
:
:
:
Flashback on
"Seokie,,, kau yakin pada keputusanmu ?" omma Kim merengkuh minseok dalam pelukannya.
"Kau bisa memikirkannya lagi, pikirkan dirimu sendiri,,, kami bisa mencarikan pendonor untuk sohee" appa menyahut dari belakang bahu omma, memandang minseok nanar. Keputusan yang diambil minseok ini sungguh berat untuk disetujui dan sulit untuk ditolak karena ini berhubungan dengan kedua anaknya.
"appa kumohon, aku tidak bisa melihat noona seperti ini lebih lama, aku rindu wajah cerah dan senyum bahagianya" minseok mengeratkan pelukannya pada sang omma sesaat dan melepaskannya, dan beralih memandang kedua orangtuanya.
"setiap aku datang kerumah sakit, dia memang menyambutku dengan senyum tapi bukan senyum itu yang kurindukan,,, " minseok menghela nafas berat "aku akan baik-baik saja, dan kalian bisa memegang kata-kataku" minseok berusaha meyakinkan orang tuanya bahwa keputusan berat yang diambilnya tidak akan menyakiti siapapun baik dia maupun sohee
Omma dan appa kim saling berpandangan untuk saling meyakinkan akan keputusan ini
"baiklah,,,,,,"omma kim memandang suaminya kembali untuk meyakinkan keputusannya "tapi berjanjilah untuk menjaga dirimu sendiri karena sampai sesuatu yang buruk terjadi padamu kami akan menyalahkan diri kami sendiri telah menyetujui permintaanmu" omma kim kembali memeluk minseok dan menangis akan keputusan yang diambil putranya itu.
Awalnya minseok tidak percaya pada orang-orang yang mengatakan bahwa anak kembar seperti kutub positif dan negatif, jika salah satu mendapat lebih maka yang satunya akan kekurangan sampai dia merasakan sendiri pembuktiannya. Minseok berpikir sifatnya dan sohee memang berbeda tapi dia merasa bahwa itu bukan seperti kutub positif dan negatif yang orang-orang itu katakan karena menurut minseok sifat merupakan cara individu menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Sohee itu ceria sedang minseok dingin, sohee itu terbuka sedang minseok tertutup, sohee suka bahasa sedang minseok suka matematika, sohee suka susu sedang minseok suka kopi, tapi mereka berdua juga memiliki kesamaan suka menindas dan semua orang mengakui semua fakta itu dan minseok masih belum percaya pada kutub positif dan negatif yang orang-orang katakan, setidaknya belum
Sampai saat mereka menginjak kelas 3 junior high school sohee sering mengeluh lelah dan sakit kepala saat mulai melakukan aktifitas-aktifitas yang cukup berat, dan puncaknya saat pelajaran olahraga sohee pingsan dan harus dilarikan kerumah sakit, dan harus melakukan berbagai pemeriksaan yang berujung pada fonis dokter yang mengatakan bahwa kedua ginjal sohee mengalami masalah dan harus segera melakukan trasplantasi ginjal. Saat itu minseok menyadari kutub positif dan negatif yang banyak orang katakan.
Orang tua minseok dan sohee bukan belum menemukan pendonor namun dari beberapa pandonor yang bersedia hampir semuanya dinyatakan tidak cocok dengan tubuh sohee dan dokter takut itu akan memperburuk keadaan sohee. Dan pada akhirnya minseok mengambil keputusan mendonorkan satu ginjalnya pada saudara kembarnya itu dengan banyak pertimbangan.
Dokter tidak mungkin mengatakan bahwa ginjal minseok tidak cocok dengan tubuh sohee, mereka bahkan berbagi rahim untuk sampai didunia dan sesuai dengan dugaan minseok kecocokan ginjalnya dengan sohee mencapai 98%. Tapi saat ini yang menjadi masalah adalah apakah sohee mau menerima ginjal minseok ?
:
:
- 3 bulan kemudian –
2 bulan yang lalu minseok dan sohee melakukan operasi transpalantasi ginjal dan itu berhasil dengan baik tampa sohee tahu kalau ginjal yang akan dicangkokkan padanya adalah milik saudaranya.
Sohee bersikeras untuk mengetahui siapa pendonor baik hati yang mendonorkan ginjalnya. Namun kedua orang tuanya selalu berusaha menyembunyikannya dari sohee , meraka berusaha membujuk sohee dengan mengatakan kalau mereka akan mengatakan mendonornya saat ginjal itu sudah benar-benar menyatu dengan tubuh sohee dan sohee menagih janji orangtuanya saat dia mendapatkan surat dari dokter kalau ginjal itu sudah menyatu sepenuhnya dengan tubuhnya setelah melalui pemeriksaan rutin selama 2 bulan ini.
" Omma, cepat katakan padaku siapa pemilik ginjal ini ?" mereka sedang berkumpul diruang keluarga, appa dan omma kim duduk di depan minseok dan sohee yang duduk bersebelahan.
" setidaknya aku harus mengucapkan terima kasih padanya " sohee memandang orang tuanya dengan mata berkaca-kaca.
Orangtua mereka saling berpandangan dan mengalihkan pandangannya pada minseok yang berada disamping sohee untuk meminta persetujuan, yang hanya dibalas anggukan lemah oleh minseok
Minseok berpikir tak ada gunaanya menyembunyikan ini dari sohee karena sohee bukan orang penurut yang akan tinggal diam dengan rasa penasarannya, setidaknya dia bisa, menahan sohee sampai ginjalnya benar-benar menyatu dengan tubuh sohee.
Mata omma kim sudah basah saat ini, dia tidak tau bahwa ini sangat berat untuk diucapkan
" orang yang memberikan 1 ginjalnya padamu adalah ,,,,," omma kim tak bisa meneruskan kata-katanya karena dia sudah menangis sesegukan dalam dekapan sang appa.
Setelah itu hanya keheningan yang tercipta karena sang omma masih menangis dan appanya masih mencoba untuk menenangkan sang omma
Sohee memandang nanar, 'kenapa orang tuanya harus bereaksi seperti itu ?'
Setelah omma kim cukup tenang, dia menggeleng dan appa kim mengangguk
"minseokie..." sang appa yang melanjutkan kalimat omma kim yang terputus cukup lama
"
"
Hanya keheningan yang tercipta setelah suara appa kim, dengan mata sohee yang memerah menahan tangis.
Sekarang sohee benar-benar menangis dia menggerakan badannya menghadap minseok yang memandangnya dengan wajah datar. Setelah itu sohee mulai memukuli minseok
"bagaimana kau melakukan ini, kau begitu memikirkanku tapi kau melupakan dirimu sendiri" sohee terus memukul minseok sambil terisak
Minseok tiba-tiba berdiri dan menarik sohee untuk mengikuti langkahnya
" aku ingin bicara berdua dengannya appa" minseok menyahut sebelum appanya bertanya
Minseok berpikir kalo dia dan sohee tetap disana ommanya akan semakin terbebani dengan kata-kata yang akan keluar dari mulut sohee.
:
:
Dan disinilah mereka sekarang, diatap rumah mereka dengan suguhan pemandangan bintang yang berkelip-kelip sebagai latarnya, Mereka duduk di ayunan. Ini tempat mereka saat mereka membutuhkan waktu berdua, dan saat mereka menyelesaikan semua yang perlu mereka selesaikan. Dan sohee masih terisak
Mereka berdua terdiam cukup lama, mencoba memikirkan kata-kata apa yang akan mereka katakan.
"kenapa kau melakukannya ?" sohee memulai percakapan dengan tetap mencoba menahan tangisannya
" aku ingin menyelamatkan orang yang aku cintai, apa alasan itu masih tidak cukup ?" minseok mengalihkan pandangannya dari wajah sohee.
" kau akan kehilangan mimpimu soekkie ?" sohee sudah mulai menangis kembali
"aku bisa mencari mimpi lain,,,,,, tapi aku tidak bisa mencari saudara lain" mata minseok juga sudah mulai memerah dia mencoba mendongak untuk menahan air mata yang siap jatuh kapan saja.
Sohee memeluk minseok erat " terima kasih sudah mau menjadi saudaraku, tuhan sangat baik padaku mengirimkanmu untukku" minseok mengeratkan pelukannya, dan mengangguk lemah
Mereka berpelukan cukup lama sampai tangisan sohee hanya menyisakan isakan
:
"aku merasa kau harus banyak berterima kasih pada tuhan..." minseok memecah kesunyian yang sempat tercipta
Sohee melepaskan pelukannya " untuk apa?" sekarang hanya terdengar isakan kecil dari sohee
" karena tuhan merelakan malaikatnya menjadi saudaramu " minseok tersenyum miring yang hanya dibalas dengan wajah bingung oleh sohee.
Sampai sohee sadar dan menjitak kepala minseok
"appo yo..."
"kata-kata terakhirmu membuat moment romantis dan dramatis ini lenyap begitu saja"
minseok tersenyum, setidaknya tak ada lagi sohee yang menangis.
Flashback off
:
:
:
Sohee tersadar dari lamunannya tentang masa lalu, tampa terasa air matanya jatuh
masa lalu yang takan bisa dilupakannya
masa laku yang membuatnya menangis dan tertawa disaat yang bersamaan
masa lalu yang mengubah dirinya
hidupnya
takdirnya
dan juga keluarganya
dan masa lalu yang membuatnya mengucap janji
"aku akan memberikanmu kebahagian, menjagamu dan mencarikanmu seorang yang akan menggantikanku mennyayangimu dan mencintaimu seumur hidup"
"Hikh... hikh,,,,,,,,,,,,,,,,,,, "
Sohee terisak mengenang saat masa masa mereka masih berada disekolah
banyak hal yang minseok korbankan untuknya ,terlalu banyak malah sampai sohee tak bisa mengingat semuanya. Sampai saat mereka akan melanjutkan senior high school minseok memilih bersekolah ditempat yang sama dengan sohee daripada bersama dengan teman-temannya. Sohee teringat kata-kata minseok, Sekarang sohee benar-benar berpikir bahwa minseok memang malaikat tuhan yang dikirim untuk menjaganya.
"minseok menyebalkan ,,,,, " sohe menghapus air matanya kasar "dan Luhan lebih menyebalkann lagi,,,,..."
"
"
TBC
kayaknya flashbacknya kepanjangan tapi..
mudah-mudahan bisa di mengerti
:
kadang aku berpikir sebenarnya ff apa yang sedang aku kerjakan ?
rasanya mau stop saja di angka 4 ini
-_-"
