Chapter 4
Xiuhan/Lumin
Drtt.. Drtt.. Drtt..
Minseok berguling kekanan sambil menutup kepalanya dengan selimut tebal saat suara ponselnya yang bergetar mengganggu tidurnya. Tak ada niat sama sekali mengangkat panggilan tersebut. Setelah beberapa saat, ponselnya berhenti bergetar.
Drtt.. Drtt.. Drtt..
Tapi hanya sebentar, ponselnya kembali bergetar dan bergetar membuat Minseok tak tahan.
"Aishh!" Ia bergerak rusuh mengambil ponselnya. "Luhan! Ini masih jam 4 subuh" jeritnya saat melihat nama sang pemanggil yang tertera di layar ponselnya. Dengan kesal ia menyentuh tombol hijau.
"Apa?" tanyanya garang. "Hallo Minseok. Kau sudah bangun?" Minseok mati-matian menahan empat persimpangan yang akan muncul didahinya saat mendengar nada tak berdosa dari orang diseberang sana. Jika Minseok menjawab panggilanmu artinya dia sudah bangun Luhan bodoh!
"Tidak. Aku masih tidur sekarang." Jawabnya datar. "Lalu kenapa kau bisa mengangkat panggilanku?" Minseok benar-benar kesal. Luhan, kau dari planet mana sih?
"To the point. Kenapa kau meneleponku sepagi ini?" Minseok yang baru bangun tidur adalah Minseok yang sensitive, apalagi jika ia bangun secara 'terpaksa'. Luhan tertawa. Sudah bisa tertawa toh orang ini.
"Hanya iseng." Jawabnya lalu tertawa lagi. "Oh, kukira kau sudah mati hibernasi semalam" ucap Minseok dengan nada sarkatis, apalagi dibagian kata hibernasi. Luhan bergumam sesuatu dalam bahasa china yang tak dimengerti Minseok.
"Tidak. Aku tidak mati. Nanti kau depresi lagi jika kutinggal sendirian." Minseok menjulurkan lidahnya saat mendengar perkataan Luhan. Pede sekali dia berkata begitu.
"Justru aku mungkin akan sangat bersyukur. Aku tak perlu menjadi pembantumu lagi." Minseok membaringkan kembali tubuhnya dikasur. Lelah juga lama-lama diposisi setengah berbaring begitu.
"Teman Minseok, aku memintamu menjadi temanku. Bukan pembantu. Kau berkata seolah aku ini telah berbuat hal yang jahat padamu." Minseok mencibir. Bukankah Luhan memang berbuat hal jahat padanya dengan memperbudaknya?
"Yayaya, menjadi temanmu." Ucapnya tak iklas. "Kenapa saat kau yang mengatakan jadi terdengar kasar ya?" Grrr.. Urat kesabaran Minseok hampir putus. Luhan benar-benar niat menggodanya.
"Oh ya Minseok. Apa kau sendirian dirumahmu sekarang?" Tanya Luhan. "Ya" Jawab Minseok singkat. "Kenapa kau tidak menginap diapartemenku saja. Dari pada kau sendirian dirumahmu." tanyanya lagi. "Aku harus menjaga rumah. Lagipula aku tak yakin bisa tidur nyenyak diapartemen mu. Bisa saja tengah malam kau datang kekamar yang ku tempati dan berbuat macam-macam padaku" Minseok dapat mendengar kekehan Luhan dari seberang.
"Kau tau saja niat ku. Sudah ya, selamat tidur"
Tuuuuuttttt..
Minseok menatap ponselnya dengan wajah datar. Tak lama ponselnya bergetar lagi. Bukan karena ada yang memanggil. Tapi karna pesan masuk yang –tentu saja- berasal dari Luhan.
'Minseok, hari ini kau datang pagi ya? Aku ingin sarapan bersamamu hari ini. Oke?'
Belum sempat Minseok mengetik pesan balasan ponselnya bergetar lagi. Dari orang yang sama.
'Kau setuju tidak?'
Lalu beberapa detik kemudian pesan ketiga.
'oke, jika kau tak menjawab artinya kau setuju. Selamat pagi Minseok' ekspresi Minseok berubah abstrak. Sialan kau Luhan.
-TSCBBST-
Minseok memakan sarapannya dengan gerakan selambat kura-kura. Ada kerutan diantara alisnya, matanya menyipit tajam terlihat seperti sedang memelototi makanannya, bibirnya sedikit maju kedepan, pipinya semakin bulat karna makanan yang dia makan hanya dikunyah tapi tak di telan. Lalu gumaman tak jelasnya, menyempurnakan keimutannya pagi ini. Yah walaupun dia tak menyadarinya.
"mmnggm,,mmmng.. mnggg mnng mm~mm" Luhan tertawa kecil mendengar gumaman tak jelas Minseok. Menurutnya lucu sekali mendengar orang mendumel saat mulutnya sedang penuh. Suaranya jadi terdengar seperti bayi yang baru belajar berbicara.
"Minseok berhenti melakukan hal itu. Kau terlihat makin imut." Minseok hanya meliriknya tak suka sebentar, lalu kembali memelototi makanannya lagi. Luhan semakin gemas. Makhluk didepannya ini sadar atau tidak sih kalau Luhan tergoda?
"Kau jadi mirip marmut Minseok" ucapnya sambil menendang halus kaki Minseok yang duduk berhadapan dengannya. Minseok menelan sarapan yang ada dimulutnya lalu mengaduk makanannya asal.
"Aku lebih suka disamakan dengan hamster."
Happ.. Lalu memasukkan nasi kemulutnya dan kembali melakukan ritual (?) imut tadi. Luhan tersenyum lagi saat melihat keimutan Minseok.
"Benar. Hamster lebih gemuk dan pendek dari marmut, menggemaskan. Sama sepertimu" gumam Luhan. Minseok mendelik. "Aphahh?" tanyanya dengan mulut penuh. Luhan tertawa saat melihat beberapa biji nasi yang meloncat keluar dari mulut Minseok.
"Dasar jorok" ia mengelap bibir bawah Minseok dengan tangannya. Minseok buang muka kearah lain. "sok romantis" decihnya. Lalu menyuapkan nasi kemulutnya dan kembali melakukan ritualnya.
"kau sedang bad mood ya Minseok?" Minseok menatap Luhan lagi. "Tidak, aku memang begini saat sarapan? Apa aku terlihat mengerikan?"
"Bukan, kau terlihat lucu."
"Oh,"
"Se-"
Drtt.. Drtt.. Drtt..
Perkataan Luhan terpotong saat terdengar suara getar dari ponsel Minseok. Minseok menatap ponselnya bingung. Baekhyun? Kenapa dia menelpon?
"Ha-"
"Ya! Minseok kenapa kau tak membukakan pintu?" semprot Baekhyun tiba-tiba.
"Hah?" otak Minseok tiba-tiba lambat memproses. Apa sih yang dibicarakan Baekhyun?
"Cepat bukakan pintu. Aku dan Kyungsoo sudah lama menunggumu membukakan pintu" tunggu, tunggu. Membukakan pintu? Pintu apa? Ahh, otak Minseok benar-benar menjadi lambat.
"Pintu depan Minseok," Baekhyun seakan dapat membaca pikirannya. Tunggu, Pintu depan? Maksudnya pintu depan apartemen Luhan? Berarti Baekhyun dan Kyungsoo sudah tau kalau Minseok berada di apartemen Luhan? Berarti mereka tau kalau Minseok menjadi pembantu sementara Luhan?
Hahh,, gawatt. Minseok menatap tajam Luhan yang berwajah innocent. Dari tatapan Luhan Minseok dapat menebak kalau Luhan berkata 'kenapa?'
"Pintu depan mana yang kau maksud Baek?" Minseok bertanya ragu. "Tentu saja pintu depan rumahmu. Memangnya pintu depan mana lagi?" Tanya Baekhyun garang. Minseok sedikit bernafas lega. Sayup-sayup Minseok dapat mendengar suara Kyungsoo yang berkata sesuatu tentang kedinginan.
"Tapi Baek, aku sedang tidak berada dirumah. Aku ikut dengan umma ku kerumah halmeoni."
"Jangan bohong Minseok. Justru aku datang ke rumahmu karna umma-mu menelpon Kyungsoo dan bilang kau tak ikut kerumah halmeoni-mu."
Glekk.. Minseok menelan ludahnya gugub.
"Pokoknya aku sedang tak berada dirumah."
"Kalau begitu kau berada dimana?"
"Emm, anu. Aish tak penting aku barada dimana."
"Aku jadi curiga. Aku tak mau tau. Aku dan Kyungsoo akan mencarimu sampai ketemu titik!"
Tutttt…
Minseok meremas ponselnya gugub. Aaaaa! Si bebek cerewet itu pasti benar-benar akan mencarinya. Aduh, kalau mereka tau Minseok ada di apartemen Luhan bisa gawat. Apalagi Baekhyun sudah terlalu salah paham pada Minseok dan Luhan. Bisa-bisa ada berita aneh tentang Minseok dan Luhan setelah ini.
Huueee, cap 'anak baik' yang melekat di diri Minseok akan ludes dalam sekejap. Satu-satunya cara Baekhyun mencari Minseok adalah GPS di ponselnya. Dan sialnya, Minseok sama sekali tak mengerti tentang GPS.
Satu-satunya cara yang melintas diotak Minseok agar Baekhyun tak salah paham adalah pergi jauh-jauh dari apartemen Luhan. Supaya saat Baekhyun menemukannya, dia tak berada di apartemen Luhan dan Baekhyun tidak semakin salah paham. Minseok mengerjab, Luhan juga mengerjab.
"Luhan, lari!"
Minseok lari kocar kacir mencari jaketnya dan melempar jaket Luhan pada pemiliknya. Luhan yang kaget refleks ikut berlari mengejar Minseok. Jadilah mereka berdua melanjutkan larinya keluar apartemen Luhan dengan Minseok yang menggandeng tangan Luhan. Apa mereka tak merasa ada yang janggal?
-TSCBBST-
"Hahh,, hahh,, Minseok kenapa kau lari tiba-tiba begitu?" Luhan sibuk mengatur nafasnya setelah Minseok secara tiba-tiba mengajaknya lari marathon. Minseok juga sama. Badannya membungkuk dengan kedua tangan yang bertumpu pada lututnya, sibuk mengatur nafas.
Mereka sekarang sudah berada di trotoar pinggir jalan dekat apartemen Luhan.
"Baekhyun hahh, dia akan mencariku. Aku takut jika dia menemukanku di apartemenmu dia malah salah sangka pada kita. Makanya aku lari." Jawab Minseok sambil menegakkan tubuhnya. Memperbaiki jaketnya yang berantakan.
"Ishh, tapi tak perlu berteriak juga kan? Untung aku sudah mandi. Kalau kau menggeretku dalam keadaan belum mandi, bisa gempar dunia saat aku tak tampan lagi." Minseok memutar bola matanya. Apa-apaan Luhan. Pede sekali.
"Sudahlah, anggap saja ini olahraga dimusim dingin." Minseok menaruh kedua tangannya di pinggang lalu dengan pedenya, pinggangnya ia gerakkan memutar berulang-ulang. Kedepan-kekanan-kebelakang-kekiri-kedepan-kekanan-dan seterusnya. Luhan cengengesan melihat Minseok.
"Ayo pergi ketempat yang lebih jauh dari sini." Minseok kembali menggandeng tangan Luhan menjauh. Luhan berpikir ada yang salah. Tapi apa ya? Ah, sudahlah..
.
.
Minseok dan Luhan sudah tiba di sebuah taman yang letaknya lumayan jauh dari apartemen Luhan. Taman ini terlihat indah saat diselimuti warna putih bersih salju. Terlihat beberapa anak sedang bermain ditaman itu. Ada juga beberapa orang tua dan remaja yang hanya sekedar menikmati suasana.
Minseok dan Luhan mendudukan diri di bangku terdekat di taman itu.
"Hahh, aku lelah. Haus." Luhan mengusap-usap lehernya dengan ekspresi tak tahan. "Minseok, aku pergi mencari air minum dulu ya?" Minseok hanya mengangguk sambil menghirup nafas dalam-dalam.
Setelah beberapa saat. Luhan tak juga kembali, Minseok mulai bosan. Ia membuka tutup mulutnya. "Hahhhh.." Minseok tertawa sendiri saat melihat asap mengepul keluar dari mulutnya. Karna menurutnya itu lucu, jadi ia melakukannya berulang-ulang. Dengan ekspresi yang menggemaskan pula.
"apa yang kau lakukan?" Minseok berhenti, lalu menatap Luhan. "oh, kau sudah kembali?" ia melirik tangan Luhan. "Kenapa hanya membeli satu botol Minuman? Untukku mana?" tanyanya. "Kukira kau tak ingin minum. Jadi yah, aku hanya membeli satu." Minseok merengut. Jahat sekali.
Luhan duduk disebelah Minseok lalu meminum air mineralnya. Minseok diam sambil bermain dengan asap yang keluar dari mulutnya lagi.
"Minseok, kau ingin minum?" Tanya Luhan sambil menyodorkan botol air itu pada Minseok. Minseok tersenyum sumringah.
"Wah, terima kasih." Ia sudah menyentuh botol itu saat Luhan menarik kembali botolnya.
"Eh, tidak jadi. Aku tak jadi memberikannya padamu" Minseok menatapnya protes. Apa-apaan namja ini.
"Ya! Mana bisa begitu." Ia menarik lagi botol itu.
"Tidak mau! Kembalikan padaku!" Luhan kembali menarik botolnya dan jadilah acara tarik menarik diantara mereka. Mereka sama-sama keras kepala. Jadi tak ada yang mau mengalah.
"Luhan kau jahat sekali! Berikan!" Minseok dengan semangat membara menarik botol itu menggunakan kedua tangannya. Ia membungkukkan tubuhnya. Dua gigi terdepannya muncul saat ia mengigit bibir bawahnya gemas karna Luhan tak mau mengalah.
"Tidak mau Minseok! Ini milikku!". Beberapa anak yang ada di taman itu menatap mereka dengan tatapan 'siapa yang anak kecil disini?'.
"Ughhh! Berikannnnn!"
"Tidakk mauuu!"
"Berikaaaaannnn!"
"Oke oke, ini. Kau minum yang ini saja." Luhan mengeluarkan sebotol lagi minuman dari belakangnya. "Aku hanya ingin menggodamu kok." Katanya sambil tersenyum tak bersalah. Miseok merebut botol itu dengan wajah berbinar.
"Ayoo bersulang." Lalu dengan bodohnya mereka berdua bersulang.
.
.
"Luhan, apa menurutmu kita sudah jauh dari apartemen mu?" Luhan menatap Minseok dengan ekpresi aneh. "Kau bercanda? Kita sudah sangat jauh dari apartemenku Minseok." Minseok tersenyum cerah.
"Yes!" soraknya bahagia dengan tangan terkepal erat. Sepertinya Minseok tertular bodohnya Luhan sekarang. Minseok menggendeng lagi tangan Luhan dan menggeretnya menyusuri trotoar. "Minseok, kita mau kemana?" Tanya Luhan.
"Aku juga tidak tau" jawab Minseok acuh. Matanya melirik ke jendela kaca toko-toko yang berjejer rapi di pinggir jalan itu. Luhan tersenyum saat sadar tangannya digenggam Minseok. "Minseok, apa tanganku senyaman itu sampai kau tak mau melepaskannya?" Minseok melirik tanggannya dan baru sadar.
"Jangan terlalu pede tuan. Aku hanya terbawa suasana." Ia lalu berjalan lebih dulu dari Luhan. Malu sepertinya. Luhan tertawa sebentar. "Minseok, kau yakin tak ingin tinggal di apartemenku saja?" Minseok menggeleng yakin. "Tidak mau. Aku tak ingin berpisah dengan kasur nyamanku."
"Tapi di apartemenku banyak kasur yang lebih nyaman. Kau tinggal memilih salah satunya." Luhan masih mencoba membujuk Minseok. Kalau Minseok mau menginap di apartemennya lebih mudah untukknya menggoda Minseok setiap saat.
"Atau, kau bisa tidur satu kasur denganku." Minseok mendelik. Namja dibelakannya ini frontal sekali. "Tetap tidak mau." Luhan cemberut. Susah sekali merayu namja ini.
"Ah, bagaimana kalau aku saja yang menginap dirumahmu?" Minseok mendelik lagi. "Dan membiarkanmu menghancurkan rumahku dengan tingkah konyolmu? Hoho, tidak terima kasih. Ummaku akan menjadikan kita berdua makan malam jika itu terjadi." Luhan menyeringai.
"Setidaknya kita mati bersama Minseok. Romantis seperti romeo dan Juliet." Luhan berkata dengan wajah terharu. Untung Minseok tak melihatnya. Jika ia melihatnya, sudah pasti akan keluar kata-kata tajamnya untuk menghina Luhan saat itu juga.
"Menjijikan. Kau terlalu banyak menonton drama romantis seperti itu Luhan. Seperti yeoja saja." Oh, sepertinya salah. Tanpa melihat wajah Luhan pun Minseok tetap akan menghinanya.
"Itu menyakitkan Minseok." Kali ini Luhan berwajah terluka sambil menyentuh dada kirinya. Ada apa sih dengan namja ini? Benar-benar king of drama.
"Sudahlah Luhan." Minseok berhenti sebentar didepan kaca jendela sebuah toko yang sedikit memantulkan bayangannya. Ia merapikan poninya dan tersenyum manis. "Ternyata aku memang tampan." Lalu melambaikan tangannya seakan berkata 'selamat tinggal kaca. Sampai ketemu lagi.' Dengan wajah polos. Luhan benar-benar ingin tertawa sekarang, hari ini ia banyak sekali melihat sisi lain seorang Kim Minseok yang terkenal dengan mulut pedasnya.
"Emm, permisi?" Minseok dan Luhan menoleh kearah seorang ajumma yang sepertinya berumur 40-an . "Ya, ada apa ajumma?" Tanya Minseok sopan. "Bisakah kalian membantuku membawa itu?" sang ajumma menunjuk kearah beberapa tumpukan kardus yang ada dipinggir jalan. Minseok dan Luhan saling bertatapan, lalu Luhan mengangguk.
"Tentu ajumma." Sang ajumma tersenyum. Mereka menghampiri kardus itu. Saat Minseok mencoba mengangkat satu, ternyata kardus itu lumayan ringan. "Apa isi kardus ini?" sang ajumma tersenyum lagi.
"Parfum. Tolong bawakan kedalam ya?" karna lumayan ringan, jadi Luhan dan Minseok membawa masing-masing tiga kardus kedalam toko parfum sang ajumma. "Hmm, toko yang bagus." Gumam Minseok sambil menatap jejeran parfum ternama yang dipajang di toko itu.
"Letakan disini saja." Sesuai yang diperintahkan sang ajumma, Minseok dan Luhan meletakkan kardus-kardus itu sedikit dipinggir ruangan. "Terima kasih. Ngomong-ngomong ajumma belum tau nama kalian."
Minseok tersenyum ." Namaku Minseok ajumma.". ajumma itu beralih menatap Luhan yang tengah mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menatap Minseok. "Lalu namamu siapa?" Luhan sadar, sedikit kaget karna ketahuan sang ajumma tengah menatap Minseok. "Oh, namaku Minse-.. Umm, maaf. Maksudku Luhan." Luhan nyengir kearah Minseok sebentar, lalu menatap sang ajumma lagi.
Ajumma itu hanya tertawa kecil. Dua anak ini benar-benar lucu.
Luhan dan Minseok memilih untuk melihat-lihat toko parfum itu sebentar. "Ajumma, boleh kami sedikit mencoba parfum ini?" Tanya Minseok sambil menunjuk salah satu botol parfum. Ajumma itu mendekat kearah Minseok. "Tentu saja." Ia mengambil botol parfum itu dan memberinya pada Minseok.
Minseok membuka tutup botol parfum itu lalu mengarahkan ke hidungnya. "Hmm,harumnya boleh juga. Luhan, bagaimana menurutmu?" Minseok mengarahkan botol parfum yang dipegangnya ke hidung Luhan. "Harum." Komentar Luhan. "Ya iyalah, namanya juga parfum. Kau ini bagaimana sih?" Luhan cemberut. Hey, tadikan Minseok meminta pendapatnya. Ya hanya itu pendapat Luhan, Kenapa dia malah marah.
Luhan merebut botol parfum itu dari Minseok lalu menyemprot sedikit kepunggung tangan Minseok. Minseok mengendus sedikit punggung tangannya dan memasang ekspresi aneh. "Terlalu menyengat." Luhan tertawa sedikit lalu menggosok punggung tangan Minseok dengan punggung tangannya sendiri.
"Coba cium lagi." Minseok kembali mengendus tangannya, berpikir sebentar lalu mengarahkan punggung tangannya ke hidung Luhan. Luhan mengendus tangan Minseok sebentar lalu menatap Minseok. Mereka berdua diam sambil saling menatap. Kemudian tertawa heboh bersama. Benar-benar aneh.
Mereka memutuskan pergi keluar toko itu setelah membeli parfum yang mereka coba tadi –dengan uang Luhan-. Sekarang mereka melanjutkan perjalanan tanpa arah mereka tadi.
"Sekarang kita mau kemana?" sekarang sudah jam tiga lewat dan Luhan mulai lelah. Tapi Minseok belum menunjukkan tanda-tanda ingin pulang. Ia juga sudah sangat lapar.
"Aku juga tidak tau."
Gruuuukkk…
Minseok dan Luhan saling pandang, lalu tersenyum aneh.
"Pemberentian selanjutnya. Cafe!"
-TSCBBST-
Minseok dan Luhan sekarang sudah duduk manis saling berhadap-hadapan disalah satu meja di dalam sebuah café. Menunggu pesanan mereka datang. Meja mereka berada didekat jendela kaca café itu. Jadi mereka dapat mengawasi keadaan sekitar. Kalo-kalo Baekhyun muncul tiba-tiba.
"Minseok." Panggil Luhan. Minseok hanya bergumam menjawab panggilan Luhan. "Bagaimana kalau kita pergi ke hotel?"
"Apa!?" Minseok sudah siap melayangkan tinjunya saat mendengar kalimat ajakan Luhan itu."Tindakan jaga-jaga kalau Baekhyun mencarimu sampai malam." Hallo? Bukannya Baekhyun akan lebih salah paham jika menemukannya di hotel berdua dengan Luhan? Cara pemikiranmu itu seperti apa sih Luhan? Minseok baru akan mengomel panjang lebar tapi makanan yang mereka pesan lebih dulu datang.
"Silahkan menikmati." Pelayan itu beranjak pergi setelah menaruh pesanan Luhan dan Minseok di meja. Minseok memakan pesanannya dengan lahap. Sedangkan Luhan hanya menikmati dengan santai.
"Minseok kau mau?" Minseok menatap makanan yang ada di sendok Luhan yang terarah padanya lalu membuka mulut siap menerima masuk makanan itu.
"Emm, tidak jadi." Luhan menarik kembali sendoknya yang terarah ke Minseok tadi dan melahap apa saja yang ada di atas sendok itu. Minseok merengut."Dasar labil." Ejeknya lalu menyantap makanannya lagi.
"Hehehe, aku hanya bercanda. Kau mau?" Luhan menyodorkan lagi sendoknya yang sudah terisi makanan lagi, tapi Minseok hanya menggerakan tangannya seolah mengusir.
"Jangan ganggu aku. Aku sedang sibuk menghabiskan makanan ku." Kali ini Luhan yang merengut. "ayolah Minseok. Aaaaa~~" Minseok menggeleng tak mau. Tapi Luhan sama sekali tak menarik tangannya. "Minseok aaaaa~~" Ngototnya.
Akhirnya Minseok menerima suapan Luhan. "Mmm.." Luhan tersenyum saat melihat wajah Minseok yang seakan menikmati suapannya. Wajahnya cantik sekali."Coba setiap hari kau mau kusuapi Minseok."
"Sudah jangan berisik. Habiskan makananmu cepat. Sebelum Baekhyun kesini."
.
.
Minseok kembali menggeret Luhan keluar dari café tadi. "Minseok, kita mau kemana?" Pertanyaan yang sama dari Luhan untuk kesekian kalinya hari ini. Dan jawabannya selalu sama. "Aku juga tidak tau."
"Aishh,, aku benar-benar sudah lelah."
"Aku juga." Minseok tetap menarik tangan Luhan. Luhan ingat sesuatu.
"Minseok, kau tadi lari karna tak ingin Baekhyun melihatmu di apartemen ku dan menjadi salah paham kan?" Minseok mengangguk. "Ya," jawabnya singkat. "Lalu kenapa kau ikut membawaku pergi? Bukankah Baekhyun tetap akan salah paham?" Minseok menghentikan langkahnya. Hampir membuat Luhan menabraknya dari belakang. Ia menoleh horror kearah Luhan.
"Benar.."
".."
"Luhan,, pulang sana! Pulang!" Minseok menjerit-jerit panik. Sial, kenapa ia baru menyadari hal itu sekarang. Ia menatap sekitarnya was-was. Mana baekhyun, mana Baekhyun. Aghhh…
"Tidak perlu Minseok. Kita sudah tertangkap basah.".
"Apa yang-"
"Halo Minseok. Kau hanya perlu berkata jujur jika kau tak ingin kami mengganggu kencan kalian." Dan disanalah dia, dengan gaya bak cover boy. Baekhyun dengan senyum jahilnya. Disebelahnya, ada Kyungsoo yang hanya tersenyum polos. Mereka benar-benar salah paham. Huhh, nasib.
"Halo Baekhyun. Hehe, kau sedang apa." Sumpah demi Luhan yang sok romantis. Minseok tak pernah setakut ini melihat Baekhyun. Baekhyun tertawa setan. "Ternyata kalian sudah benar-benar jadian ya? Luhan, aku menagih janjimu." Baekhyun melirik Minseok tajam.
"Dan kau!" jari telunjuk Baekhyun mengarah tepat ke jidat Minseok. "Kau membuat kami kecewa. Berita menggembirakan begini kau tak memberi tau kami? Kau anggap kami ini apa?" Rasa takut Minseok mendadak menguap saat mendengar Baekhyun mengatakan hal itu dengan dramatis sambil memeluk Kyungsoo dan berakting seolah sedang menangis dibahu Kyungsoo. Apa tak cukup dengan seorang Luhan, dan sekarang Baekhyun?
Kyungsoo juga, kenapa ia menepuk-nepuk bahu Baekhyun dan berkata 'jangan menangis hyung. Tegarlah'. Oww, ayolah. Sepertinya Minseok harus memisahkan Kyungsoo dari Baekhyun supaya Kyungsoo tak tertular bodohnya Baekhyun setelah ini.
"Baek, kau sudah menemukanku. Pulang sana." Usirnya datar. Baekhyun mengintip dari balik bahu sempit Kyungsoo. "Kau galak sekali. Seperti yeoja yang sedang datang bulan." Gumamnya sedikit tak terdengar karena tertutup bahu Kyungsoo.
"Ya, dan aku sudah minum 5 botol kiranti. Puas!?" Baekhyun dan Luhan tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Kyungsoo hanya tertawa kecil. Sialan, dua orang ini. Dan sepertinya urat kesabaran Minseok sudah putus.
"Awas kalian!"
"Aaaaaa! Luhan lari! Lari!"
Dan sepertinya hari ini ditutup dengan Minseok yang mengejar Baekhyun dan Luhan. Good luck Minseok hyung. Semoga sukses^^. Kira-kira itu yang dipikirkan Kyungsoo sekarang.
TBC
Maaf kalo ada typo
Hhaha, Chapter ini aku banyak pake moment realnya xiuhan loh. Yah, walau ada sedikit perubahan. Ini romantis atau gak, itu terserah penilaian kalian. Tau dong ya, mana moment realnya mereka? Lagi kangen berat sama moment mereka yang kaga nongol2 lagi sih. Oh ya, chapter ini udah kupanjangin, buat kalian.
Mmm, maaf nih yg minta minseok tinggal di apartemennya luhan, kaya.a gak bisa kukabulin dulu U.U. yang udah ngoreksi kesalahan ku di chapter kemaren makasih ya. Aku ngakak sendiri waktu baca ulang chap kemaren. Terlalu menghayati nulis sih, sampe gak tau yg di tulis bener atau salah.
Makasih yg sudah review. Review kalian jadi hiburan tersendiri kalo aku lg pening mikirin tugas haha.
Dan lagi, review sangat dibutuhkan^^. Dan untuk siders kalo ada, review yok. Aku gak gigit. Sudah jinak.
