Bagian 3

DEFYING THE PRINCE

Menantang Sang Pangeran

.

.

.

.

.

Terperangah menyadari keluarga dan semua tamunya tidak sengaja mendengar percekcokan mereka, Taehyung membeku. Ia, yang membanggakan kemampuan menguasai diri, kehilangan semua itu. Di depan umum.

Tatkala mengilas balik percakapan mereka di kepalanya, ia ingin menggeram.

Bercinta...

Bagaimana percakapan itu bisa bergeser menjadi soal ranjang?

Taehyung tidak ingat kapan terakhir kali ia mengizinkan emosi mendikte perilakunya, tapi sejak tatapannya mendarat di bibir semerah stroberi dan gaun menggoda itu, ia merasakan kendalinya terlepas dari genggaman. Taehyung membanggakan fokusnya. Ia pernah menerbangkan jet yang memiliki kecepatan melebihi kecepatan suara, menegosiasikan kesepakatan sensitif dengan pemerintah negara lain, menggalang jutaan dollar untuk tujuan amal, tapi ternyata ia belum berhasil mengendalikan kelakuan wanita muda yang menyebalkan.

Hal terbaik yang bisa diharapkan Taehyung sekarang adalah membatasi kerusakan yang terjadi.

Dengan anggukan berwibawa ia memerintahkan pramusaji pergi, lalu tanpa banyak bicara mengambil mikrofon dari tangan Jungkook.

Sekali ini Jungkook tidak melawan, dan Taehyung mematikan mikrofon, mulut laki-laki itu merapat, mencerminkan betapa canggung situasi antara mereka saat ini. Setelah memastikan mereka tidak lagi bisa didengar orang lain, Taehyung menatap Jungkook, berharap melihat kadar ngeri yang sama besar tercermin di mata yang dirias berlebihan itu, tapi Jeon Jungkook tidak habis-habisnya mengejutkan Taehyung.

Alih-alih mengkeret ketakutan karena percakapannya didengar orang banyak, Jungkook malah terbahak-bahak.

Gusar menyaksikan respon yang tidak pada tempatnya itu, mata Taehyung menyipit menakutkan. "Ini tidak lucu."

"Tidak, memang tidak lucu." Sadar diri tidak seharusnya tertawa, Jungkook merapatkan bibir tapi suara tawanya masih keluar, jadi ia membekap mulut, mula-mula dengan satu tangan lalu dua. Tetapi, itupun tidak berhasil karena air mata geli menggenangi matanya, sehingga akhirnya Jungkook menyerah dan membiarkan tawanya tersembur. Sambil membungkuk-bungkuk, ia terus terbahak, rupanya geli dengan insiden yang membuat Taehyung membatu karena ngeri. Sekujur tubuh Jungkook bergetar karena geli.

"Maaf. Aku benar-benar minta maaf—kau benar, tentu saja, ini sungguh tidak lucu—" tetapi Jungkook tertawa begitu keras hingga hampir tidak bisa bicara, begitu juga Taehyung karena matanya mendarat pada pinggiran gaun Jungkook yang terancam robek karena mendapat tekanan berlebihan. Tubuh Jungkook sintal, menggiurkan, dan nyaris tersingkap.

Seolah hendak menegaskan ketakutan Taehyung, sekeping payet merah dari gaun Jungkook jatuh berdenting ke lantai, dan pinggang Taehyung menegang. Gelora gairah mengancam membakar tubuhnya dan fakta bahwa Jungkook adalah wanita terakhir di dunia yang bakal Taehyung sukai hanya membuatnya kian gusar.

Sambil berkutat menenangkan diri, Jungkook menyeka air mata dengan telapak tangan. "Kau harus melihat sisi lucunya. Aku berharap kau memesan Quarter Pounder kapan-kapan. Dengan kentang goreng ekstra."

Taehyung berhasil mengekang amarah, kesan tidak sukanya pada Jungkook kian mendalam seiring detik berlalu. Wanita bermartabat pasti terkejut dengan kejadian ini. Jeon Jungkook tidak. Ia tidak repot-repot menyembunyikan perasaan bahwa ia menganggap kejadian ini lucu. Ia bahkan tertawa sekuat tenaga, tidak menyadari posisi tubuhnya yang menekuk ke depan membuat Taehyung dapat melihat jelas belahan dadanya. "Kau wanita pembawa bencana." Tetapi, Taehyung sadar kesengitannya tidak memengaruhi kegembiraan Jungkook.

"Aku tahu. Aku minta maaf." Tetapi, penyesalan Jungkook tidak cukup besar untuk membuatnya berhenti tertawa. "Lihat sisi baiknya—keadaan bisa saja lebih buruk. Bayangkan jika kita menyelinap kemari untuk melakukan percintaan yang panas sementara microfon masih menyala? Bayangkan seandainya kau menyergapku dan berkata, 'Jungkook, aku menginginkanmu'." Jungkook mengucapkan pernyataan dramatis itu disertai isyarat tangan yang membuat ia hilang keseimbangan dan terhuyung ke arah Taehyung. "Ups."

Sambil mengumpat pelan, Taehyung memegang kedua tangan Jungkook dan menegakkan tubuhnya. Ia berharap Jungkook segera menyeimbangkan tubuh, lalu menjauh, tapi Jungkook justru merebahkan kepala di dada Taehyung.

"Senang rasanya bisa beristirahat sebentar. Kuharap aku tidak mabuk karena sampanye."

Rambut Jungkook menguarkan wangi bunga liar dan mengingatkan Taehyung pada musim panas yang ia habiskan di palazzo semasa kanak-kanak. Ingatan itu hampir membuat Taehyung kehabisan napas. "Aku juga berharap kau tidak mabuk karena sampanye." Telapak tangan Taehyung yang tidak dilapisi apapun merasakan kulit Jungkook yang lembut dan mulus di bawah kulitnya. Ia harus melepaskan Jungkook. Sekarang.

Tetapi, jika ia melepaskan Jungkook, gadis ini akan tersungkur.

Seolah hendak menegaskan tentang itu, Jungkook bersandar kian rapat. "Aku sungguh minta maaf. Aku membuat kekacauan besar dan kau pantas marah. Tapi lebih bagus kau marah pelan-pelan saja karena aku merasa tidak terlalu baik, Yang Mulia-Sir."

"Kau tidak pantas merasa baik-baik saja setelah perbuatanmu tadi." Tetapi, dari cara Jungkook meminta maaf dan bagaimana jemari langsingnya memegang bagian depan kemeja Taehyung, ada sesuatu yang membuat Taehyung tersentuh dan perasaan itu membuat pria tersebut lebih gelisah ketimbang sengatan gairah-karena Taehyung selalu mengekang diri supaya tidak melibatkan emosi dalam berurusan dengan wanita. Terutama wanita yang cukup blakblakan mengakui "target" mereka adalah menikah dengan pangeran. "Kau pembawa bencana, Jeon Jungkook."

"Aku tahu." Suara Jungkook teredam karena tertahan dada Taehyung. "Gilanya aku tidak bermaksud menjadi pembawa bencana. Aku memulai hari dengan satu target."

"Kau terus mengatakan itu." Taehyung mencoba mengurai jemari Jungkook, tapi wanita itu justru mempererat cengkeraman.

"Aku hanya ingin membuatmu terkesan."

"Kau benar-benar mengira rencanamu akan berhasil?" Bahkan nada kasar Taehyung pun tidak berhasil membuat Jungkook beranjak.

"Kuharap kau akan memandangku sekali saja dan berpikir wow. Tapi kupikir jangan-jangan aku memakai gaun yang tidak tepat. Aku tidak mencitrakan diri dengan benar. Aku harus mencoba lagi."

Taehyung menghela napas dalam-dalam. "Tolong jangan lakukan. Tolong pasrahkan saja tujuanmu."

"Aku takkan menyerah. Aku berharap bisa memutar ulang waktu dan mengulangi semuanya dari awal lagi."

Taehyung berpikir hendak memberitahu bahwa dia tidak tertarik, tak peduli gaun apa yang dipakai Jungkook, tapi sensasi yang timbul akibat Jungkook meringkuk rapat membuat darah Taehyung berdesir dari otak ke bagian lain tubuhnya.

"Apakah kau tidak pernah mengalami hal seperti itu?" kata-kata Jungkook sedikit mengalun. "Apakah kau tidak pernah berharap bisa kembali ke masa lalu?"

Selama ini orang-orang sangat berhati-hati jika berhadapan dengan Taehyung. Orang berjingkat jika berjalan di sekitarnya. Kaum pria secara umum menunjukkan sikap hormat. Kaum wanita menyanjung, menjilat dan mengerling padanya. Mereka tidak mengajukan pertanyaan pribadi tentang pikiran ataupun perasaan Taehyung.

Mungkin aku mendapat pembalasan, pikir Taehyung. Sesekali ia berharap ada sau orang saja dalam hidupnya yang bersikap wajar di dekatnya, tapi sekarang ketika dihadapkan pada realita, ia dengan cepat memikirkan ulang manfaat yang ia rasakan. "Miss Jeon-" upaya Taehyung bersikap resmi terkesan konyol dalam situasi saat ini, "-Jungkook."

"Apa?" dengan enggan Jungkook mendongak. Sepasang mata besar yang dipulas pewarna mata tebal terangkat menatap Taehyung. Matanya yang sepekat arang dibingkai bulu mata panjang dan tebal yang pasti palsu.

Wangi parfum Jungkook meliuk di dekat hidung Taehyung dan sesaat otaknya berhenti bekerja. Jungkook menguarkan wangi musim panas dan tiba-tiba saja Taehyung bisa melihat tubuh molek Jungkook berbaring di permadani bunga bluebell, rambutnya yang kemerahan meriap ke pipinya yang merona merah.

"Aku tidak bermaksud mengacaukan pesta itu." Suara Jungkook masih mengalun. "Apakah kau sangat marah? Apakah kau akan mengunciku di penjara bawah tanah lalu membuang kuncinya?"

Taehyung tidak pernah merasa sesult ini berkonsentrasi. "Saat ini aku tidak bisa memutuskan apakah akan mengguncangmu atau menyirammu dengan seember air dingin."

Jungkook mencebik. "Kedengarannya tidak menyenangkan. Untukku maupun permadanimu. Bisakah kau memikirkan hal lain yang akan kau lakukan terhadapku?"

Melumat bibir Jungkook dan menciumnya hingga mereka sama-sama terbakar gairah?

Menanggalkan gaunnya yang menggoda lalu mencari tahu apakah bagian tubuhnya yang lain selembut lengannya?

Tatapan Taehyung turun dari mata hitam berkabut itu ke bibir pink yang melekuk sempurna.

Mulut Taehyung sudah sangat dekat dengan bibir Jungkook ketika pintu terbuka.

Taehyung segera melepaskan Jungkook, tapi ia sempat melihat sorot terkejut di mata Jungkook-keterkejutan yang Taehyung cukup yakin juga tercermin dari ekspresinya.

Dengan amarah yang bercampur aduk dengan rasa jengkel, Taehyung memutar tubuh.

Tunangan kakaknya, Seokjin, berdiri dengan wajah pucat pasi.

Seraya berusaha menyeimbangkan tubuh setelah dilepaskan oleh Taehyung, Jungkook terhuyung mundur selangkah, ekspresinya terlihat prihatin. "Jinnie, kau baik-baik saja?"

"Jungkook, tega sekali kau." Seokjin mengusahakan suaranya tetap rendah, tapi itu justru menyiratkan kepekatan emosi yang ia kekang dibalik kata-katanya. "Kau pikir apa yang kau lakukan?"

Taehyung mengajukan pertanyaan serupa untuk dirinya.

Apa yang tadi ia lakukan?

Setengah menit lebih lama saja, ia pasti melakukan sesuatu yang seumur hidup akan disesali kedua belah pihak.

Lega karena terselamatkan oleh kemungkinan melakukan tindakan yang bukan hanya tidak lazim tapi juga akan berakhir buruk,, Taehyung memperhatikan ketika pipi bulat Jungkook merona akibat syok.

"Aku ingin menyanyikan lagu untukmu." Nada Jungkook terdengar defensif dan sakit hati. "Ini sesuatu yang-"

"Aku bukan membicarakan tentang lagu, meskipun itu cukup memalukan karena orang normal tidak begitu saja mendatangi seseorang lalu merebut mikrofon. Yang kumaksud adalah caramu berbicara dengan Yang Mulia Pangeran." Tatapan Seokjin yang menyiratkan ngeri bergeser pada Taehyung, dan ia menekuk lutut memberi hormat. "Saya mohon maaf, Sir. Adik saya tidak terbiasa berada di lingkungan kerajaan."

"Begitulah yang kulihat." Taehyung berusaha tidak menghiraukan pemikiran bahwa justru kesegaran Jungkook dan cara bertuturnya yang tidak kaku yang membuat adik Seojin ini luar biasa menarik.

Wajah Jungkook yang dirias tebal masih kaku. "Tidak perlu meminta maaf untukku," katanya datar. "Jika perlu meminta maaf, akan kulakukan senidri."

"Jika?" Seokjin menghela napas dalam-dalam. "Sudah jelas kau harus meminta maaf. Bahkan, jika surat kabar besok memberitakan tentang kelakuanmu, mungkin sebaiknya kau menyampaikan permintaan maaf secara terbuka."

Taehyung memperhatikan ketika Jungkook memeluk tubuh dalam sikap melindungi yang terlihat berlebihan untuk gaunnya, sekeping lagi hiasan gaunnya copot dan mendarap di permadani Aubusson yang tak ternilai harganya.

"Silahkan pers menulis sesuka mereka, tanpa peduli itu benar atau tidak. Aku tidak peduli. Biasanya kau sendiri tidak peduli."

"Yah, sekarang aku peduli! Karena akan menjadi satu lagi cerita buruk bagi keluarga Jeon. Sejak dulu berita tentang keluarga kita selalu memuakkan, tapi kali ini dua kali lipat lebih memalukan karena perbuatanmu menyeret keluarga kerajaan. Pesta pertunangan ini dimaksudkan untuk memperkenalkan keluarga Jeon pada masyarakat. Pesta ini seharusnya tentang Namjoon dan aku. Tajuk utama surat kabar harusnya Pangeran Jatuh Cinta, tapi sekarang lebih mungkin akan berbunyi Bar Burger Justru Lebih Ramah." Seokjin melayangkan sorot minta maaf bercampur ngeri pada Taehyung sebelum kembali menatap adiknya. Gadis itu berdiri sekaku tiang bendera.

"Aku hanya menyanyi. Bukan kejahatan terbesar yang pernah dilakukan terhadap umat manusia."

"Mereka sudah punya penyanyi! Kau mendorongnya pergi karena kau harus menjadi satu-satunya yang disorot lampu. Kau harus menghentikan obsesi menyanyimu yang konyol ini dan mulai mencari pekerjaan baik-baik!"

"Menyanyi bisa menjadi pekerjaan."

"Menyanyi hanya impian dan impian tidak bisa membayar tagihan."

Satu-satunya suara di ruangan berpanel kayu itu hanya tik tok teratur dan berat dari jam dinding abad kedelapan belas yang mendominasi rak indah di atas perapian.

Wajah Jungkook pucat pasi, ia mencungkil-cungkil kuku. "Sebagian orang mengubah impian mereka menjadi pekerjaan."

"Berapa banyak? Berapa banyak yang berhasil melakukan itu? Ribuan, bahkan jutaan orang, mencobanya dan hanya segelintir yang berhasil. Berhenti memperolok diri sendiri. Lihat sekelilingmu. Lihat persaingan yang ada."

Adiknya mengangkat dagu. "Impianmu hanya berakhir jika kau menyerah. Aku takkan menyerah."

"Jadi kau akan menyia-nyiakan seluruh hidupmu? Kau menipu diri sendiri, Kookie. Silahkan menghancurkan hidupmu jika kau suka, tapi kumohon, jangan menghancurkan hidupku."

Pertahanan Jungkook tampak hancur berkeping-keping, seperti vas mudah pecah yang terbanting ke beton. "Bukan salahku jika pers menguntitku ke mana-mana. Bukan aku yang meminta mereka melakukan itu."

Suara Jungkook terdengar ganjil, dan Taehyung merasakan sepercik keprihatinan karena ia belum pernah melihat orang serapuh itu. Berdiri di atas hak sepatu setinggi itu, tubuh Jungkook berayun-ayun seperti ilalang ditiup angin; secara naluriah Taehyung menggeser posisi, siap menangkap Jungkook jika gadis itu terjatuh.

Apakah keseimbangan Jungkook terganggu gara-gara sampanye atau sepatu yang berkeras tetap ia pakai?

Apapun alasannya, wajah Jungkook seputih arca pualam yang tadi ia cemooh dan ia terlihat sangat merana.

Taehyung mengambil alih kendali. "Biar kuurus. Akan kuselesaikan masalah ini."

Ekspresi lega terpancar dari wajah Seokjin, sedangkan ekspresi Jungkook berubah dari nelangsa menjadi keras kepala. "Aku bukan 'masalah' dan aku tidak perlu 'diselesaikan'. Aku mampu menyelesaikan masalahku sendiri, terima kasih banyak. Jika kau ingin kau menghindari pers, akan kulakukan."

Taehyung teringat nada mendesak dalam suara kakak Jungkook tadi, jadi ia mendampingi Seokjin berjalan ke pintu. "Minggu ini tentangmu. Pers seharusnya fokus pada kau dan Namjoon. Itu yang kita semua inginkan. Jika adikmu kubawa kembali ke hotel, mereka akan memata-matai dia, jadi akan kubawa dia keluar dari sini naik mobilku." Meskipun sebagian diri Taehyung tahu adalah perbuatan gila menghabiskan lebih banyak waktu bersama wanita paling mengusik perasaan yang pernah ia temui setelah sekian lama, ia tidak menghiraukan perasaan itu. Ia membanggakan diri sebagai laki-laki yang mampu mengendalikan diri. Ia melatih kemampuan itu. Prioritas saat ini adalah menyaksikan kakaknya menikah tanpa gangguan dan menggenapi peran sebagai Putra Mahkota. "Palazzo-ku dijaga ketat, jalannya mengarah langsung ke tebing-tebing curam dan pantai pribadi. Tidak ada pers." Taehyung memang memastikan hal itu. Tempat itu mirip benteng. "Letaknya terpencil."

Ketegangan Seokjin mengendur dan ia terlihat lega selama merenungkan solusi itu. "Kedengarannya sempurna. Itu memberiku dan Namjoon kesempatan untuk... berdua saja."

"Kedengarannya mengerikan!" wajah Jungkook seputih kerudung pengantin wanita. "Berarti aku akan tinggal bersamamu? Yah, itu menyenangkan. Alangkah beruntungnya aku. Jadi aku tahu kita akan hidup bahagia selamanya. Ini akan seperti dongeng yang sempurna."

Taehyung tidak menghiraukan Jungkook dan berbicara pada Seokjin. "Kembalilah pada Namjoon."

"Halo!" Suara Jungkook melengking. "Aku di sini, ingat tidak?"

"Kenyataan yang tidak mungkin kulupakan." Nada suara Taehyung yang dingin menuai sorot terluka di mata Jungkook dan senyum lebar di bibir Seokjin.

"Terima kasih banyak."

Dari leher Jungkook terdengar suara—mungkin suara protes, tapi kakaknya sudah berlalu seraya menutup pintu dengan tegas.

Jungkook menatap marah pintu yang tertutup, dengan matanya yang bercelak tebal, seraya tidak mempercayai apa yang baru saja terjadi. "Aku harus berbicara dengan Seokjin—sikapnya tidak seperti biasa..."

Mengingat Taehyung sendiri mencurigai pertunangan ini, komentar Jungkook mungkin layak diselidiki lebih jauh, tapi Taehyung memutuskan kakaknya harud menyelesaikan sendiri masalahnya. Campur tangan Taehyung hanya sejauh menyingkirkan gadis ini dari tempat pesta.

Karena tahu pers tidak memperkirakan ada tamu yang meninggalkan pesta lebih awal, Taehyung mengeluarkan ponsel dari saku. "Kami akan pergi sekarang."

Jungkook berdiri kaku. "Aku tidak ingin menghabiskan semenit lagi bersamamu. Aku tidak tahu mengapa kau disebut pria lajang paling diincar, yang jelas aku tidak ingin bertemu siapa pun yang tercantum dalam daftar itu."

"Lain kali ketika kau menetapkan 'target' mungkin sebaiknya kau melakukan penelitian lebih mendalam," Taehyung menyarankan dengan suara selembut sutra. "Kau membawa mantel?"

"Aku tidak butuh mantel. Aku tidak akan ikut denganmu."

"Kau bisa ikut dengan sukarela atau kubopong keluar dari sini. Silahkan pilih."

"Pokoknya aku takkan—oh—" Jungkook memekik terkejut ketika Taehyung meraup lalu membopongnya menuju pintu di seberang ruangan yang membawa mereka ke jalan keluar pribadi. "Jangan mengguncangku—aku sering mabuk perjalanan. Turunkan aku! Harga dirimu tidak akan jatuh jika kau tidka menepati kata-katamu."

"Beratmu tidak ada apa-apanya." Menyadari itu menimbulkan kerugian di pihak Taehyung karena membuat ia semakin merasakan keberadaan Jungkook di gendongannya, merasakan kelembutan kulit dan rambut Jungkook yang menggesek rahangnya.

"Aku akan lebih berat jika kalian memberiku makan. Aku kehilangan berat beberapa kilo sejak tiba di sini. Mengapa kau ingin aku ikut denganmu? Kau membenciku."

Aandai saja.

Taehyung bertanya-tanya apa yang akan dikatakan Jungkook jika mengetahui perasaannya terhadap gadis ini jauh lebih rumit daripada itu. Jungkook begitu blakblakan, pikir Taehyung. Begitu ekstrem menyikapi segala hal. Bagaikan granat hasrat yang kecil tapi mematikan, menunggu untuk meledak d waktu yang keliru. Semakin menambah alasan untuk mengasingkan gadis ini di tempat ia tidak bisa menimbulkan bahaya.

Taehyung tidak menghiraukan tatapan tercengang para staf. Ia menuruni undakan menuju pekarangan pribadi di belakang istana.

Taehyung baru memberi selamat pada diri sendiri karena sudah kembali memegang kendali ketika ia merasakan kehangatan bibir Jungkook di lehernya. Api membakar pembuluh darah pria itu, membuat tubuhnya membara.

"Apa yang kau lakukan?" Suara Taehyung parau, ia cepat-cepat menurunkan Jungkook ke tanah.

"Aku meminta baik-baik supaya kau menurunkanku-" Jungkookterlihat terguncang seperti suaranya, "—tapi kau tidak mau mendengar alasanku, jadi kucoba taktik alternatif. Meskipun aku tersanjung karena kau menganggap orang kecil dan tidak penting sepertiku sebagai pengacau acara kerajaan, aku terpaksa menolak undangan menginap di palazzo-mu. Pertama, aku menaruh kecurigaan kau bukan orang yang terlalu menyenangkan. Kedua, jika malam ini adalah acara ramah-tamah, berarti keramahan kalian kurang, dan keempat—"

"Ketiga," Taehyung mengoreksi dengan halus, membuat Jungkook mengerjap.

"Terserahlah. Aku menyukai kamar hotelku. Mereka memberiku gaun bulu. Selama seminggu aku akan hidup dalam kemewahan. Aku akan menikmati kehidupan tuan putri yang seutuhnya tanpa gangguan dari pangeran."

Sekarang Taehyung berdiri dalam jarak aman dari Jungkook, tapi ia masih bisa merasakan sentuhan bibir Jungkook di kulitnya. "Hotelmu sekarang menjadi tempat yang terlarang untuk kau datangi. Kau harus ikut aku dan itu bukan undangan, melainkan perintah."

"Aku lebih suka menentukan pilihan sendiri, terima kasih banyak."

"Baik. Ini pilihanmu sekarang. Silahkan masuk sendiri ke mobil itu, atau aku yang memasukkanmu. Masuk." Dengan menyentak pergelangan tangan tanpa kentara, Taehyung membuka kunci mobil sport-nya. "Dan jangan berani-berani muntah."

.

.

.

.

.

TBC...