Bisa Apa?
Kim Mingyu x Jeon Wonwoo
T+
Disclaimer:
Sesungguhnya Seventeen adalah milik kita bersama.
Warning:
AU. Typo(s). Boys Love/sho-ai. OOC. Romance Comedy (mungkin)
.
.
Menginap di kediaman Jeon (part 2).
.
.
.
"Hyung, apa kau tidak bosan ditindas terus oleh Wonu hyung?"
Aku mengalihkan pandanganku dari televisi menuju kearah Bohyuk yang tengah berbisik kepadaku. Matanya menatap was-was ke sekeliling. Mungkin takut kalau saja kakaknya datang, lalu langsung menyiksanya begitu mendengar perkataannya barusan.
Aku terdiam—berpikir lebih tepatnya. Bosan? Hm, bagaimana ya? Aku biasa saja ketika ditindas oleh Wonwoo, yang membuatku bosan adalah sikap ibu yang tiada henti menjodohkanku dengan Wonwoo. Sudah tau anaknya selurus tiang listrik, kenapa masih disuruh belok sih?
"Entahlah?" jawabku asal.
Bohyuk mendengus, ia menepuk bahuku, menyuruhku untuk hanya fokus pada ucapannya.
"Sumpah hyung, kau tidak bosan? Serius? Maksudku, kau ini selalu ditindas oleh Wonu hyung. Apa harga dirimu tidak terluka? Kau, Kim Mingyu, si pangeran sekolah, ditindas oleh si sloth Jeon Wonwoo?"
Aku terdiam. Terluka? Harga diri? Tidak sih. Jujur saja, aku tidak menganggap semua perlakuan Wonwoo padaku itu adalah bentuk penindasan. Perilakunya yang galak dan beringas? Itu sudah sifatnya, bawaan dari lahir. Aku sudah terbiasa dengan itu semua. Menghabiskan waktuku dari belum bisa bicara sampai jadi pangeran sekolah dengan Wonwoo membuatku terbiasa dengan segala tingkah ajaibnya.
"Kau lihat bagaimana kelakuannya tadi pagi, hyung. Dia memerintahkan kita. Seperti seorang ratu saja?!" protes Bohyuk berapi-api.
Aku kembali berpikir, memutar ingatanku saat tadi pagi. Saat dimana tiba-tiba Wonwoo membangunkanku dan menyuruhku untuk belanja.
Ngomong-ngomong aku sekamar dengan Wonwoo, sebenarnya aku ingin sekamar dengan Bohyuk. Kenapa? Tentu saja untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Wonwoo itu berbahaya, dirinya itu racun untuk kelurusanku. Tapi sayangnya, Bohyuk tidak mau, ia bilang kasurnya tidak akan memuat menampung tubuh bongsorku. Sialan memang.
Kembali ke kejadian tadi pagi, dimana Wonwoo memintaku untuk belanja. Aku melakukannya dengan senang hati, hitung-hitung membantu Jeon bersaudara itu memasok kebutuhan makanan di kulkas mereka. Apalagi aku mengingat perkataan Wonwoo kemarin, dimana ia mengatakan bahwa mereka berdua itu tidak bisa diharapkan dalam hal belanja bahan makanan.
"Aku, Jeon Bohyuk, selama hidupku tidak pernah ditendang turun dari kasur. Bahkan ibu tidak pernah melakukan itu padaku. Dan Wonu hyung, dia dengan begitu teganya membangunkanku pagi-pagi dihari libur hanya untuk menjemur pakaian dan memberi makan kucing sialan itu!"
Bohyuk masih meracau, aku memutuskan hanya akan mendengarkan saja. Jarang-jarang Bohyuk mau membongkar segala kekejaman kakaknya begini.
"Dan kau lihat sendiri kemarin, hyung. Dia hampir membunuhku dengan cara menyuapi ramyeon beracun itu. Untung saja aku masih hidup sampai dengan sekarang," lanjutnya.
Aku memutar kedua bola mataku malas, agak tersinggung mendengar Bohyuk sangat merendahkan skill memasak Wonwoo.
"Kau berlebihan, sungguh," ketusku.
Kurasakan sebuah pukulan mendarat di kepalaku. Aku menatap tajam Bohyuk yang baru saja memukul kepalaku. Bagaimana bisa bosan? Aku sungguhan sudah terbiasa dengan segala tindak kekerasan Jeon bersaudara—tidak kakaknya, tidak adiknya, sama-sama suka menyiksa orang lain.
"Sebelum kau tanya padaku bosan terhadap tingkah kejam Wonwoo hyung atau tidak, lebih baik kau berkaca dulu, sialan."
Bohyuk mendengus, ia mendekatkan dirinya padaku setelah melihat keadaan sekitar. Aman—tidak ada Wonwoo yang berkeliaran.
"Aku punya ide."
Aku menatapnya heran, "Apa?"
"Bagaimana kalau kita meninggalkan Wonu hyung sendirian di rumah?"
"Ya lalu? Apa yang terjadi?" tanyaku tidak mengerti.
Bohyuk mendecakkan lidah, "Hyung, aku tak menyangka rumor yang mengatakan bahwa kau bodoh itu benar."
Kali ini gantian aku yang memukul kepala si kurang ajar Jeon Bohyuk, "Sialan kau. Aku ini tidak bodoh."
"Ya baiklah. Kau tidak bodoh, hanya telmi—telat mikir. Jadi begini, kita tinggalkan Wonu hyung sendirian di rumah dengan segudang pekerjaan rumah yang menumpuk," jelas Bohyuk.
"Pergi? Pergi kemana?" tanyaku heran.
Bisa kulihat Bohyuk menyunggingkan senyum sombong yang sungguh membuat mataku iritasi, "Kau taulah, kegiatan anak muda di hari libur begini—kencan. Hehe."
Aku melongo, telunjukku menunjuk Bohyuk, "Kau? Punya pacar? Ada yang mau denganmu memangnya?"
Sekali lagi kepalaku menjadi korban, aku menatap kesal kearah Bohyuk. Bocah ini benar-benar tidak punya sopan santun. Sudah dua kali dia memukul kepalaku.
"Tentu saja ada, aku 'kan tampan. Pacarku cantik sekali lho, hyung," bangga Bohyuk. Aku mendecih, bocah ini lagi-lagi pamer.
"Pacarmu perempuan?"
Bohyuk merotasikan bola matanya, "Tentu saja, kau pikir aku Wonu hyung yang belok? Aku maklum sih kalau Wonu hyung belok. Cantik seperti perempuan begitu, mana ada perempuan yang mau dengannya? Bisa-bisa perempuannya minder jika jalan dengan Wonu hyung."
Aku menganggukkan kepalaku—menyetujui ucapan Bohyuk. Dulu, semasa aku masih menjadi adik kelas Wonwoo, memang ada beberapa perempuan yang menaruh rasa pada Wonwoo, namun tidak ada yang berhasil mendapatkan Wonwoo.
Bukan—bukan karena ditolak oleh Wonwoo, justru perempuan-perempuan itu mundur teratur. Yang kudengar dari salah satu mantan 'Perempuan Pejuang Cinta Wonwoo', mereka akhirnya menyerah karena setelah dilihat lebih jauh, Wonwoo itu lebih cantik dari mereka.
Manis, cantik, lucu dan sangat menggemaskan—dibalik sifat emonya.
Err—itu para penggemar Wonwoo yang mengatakannya. Bukan aku.
Eh, tapi Wonwoo hyung memang manis sih kalau diperhatikan. Apalagi kalau sudah merengek begitu, duh gemas sekali.
YA! YA! BERHENTI MEMIKIRKAN YANG TIDAK-TIDAK KIM MINGYU!
Aku menghela napas kasar. Kutatap tajam Bohyuk yang sudah beranjak dari duduknya, ia tersenyum meremehkan kearahku—membuatku heran.
"Apa?" heranku.
"Sampai jumpa nanti malam, bung. Aku akan kencan dengan kekasih cantikku dulu. Kau sebaiknya juga segera pergi hyung, sebelum dijadikan budak oleh Wonu hyung," ucapnya.
Aku hanya mendengus tak peduli. Kubiarkan saja Bohyuk berlalu dari hadapanku. Aku kesal padanya yang pamer padaku bahwa dia memiliki seorang kekasih perempuan yang cantik. Huh, lihat saja, kudoakan mereka cepat putus.
Pada akhirnya aku memutuskan untuk menonton televisi. Menonton acara comedy show yang sedang booming akhir-akhir ini. Terkadang aku bermain ponselku, hanya untuk mengecek apakah teman-temanku ada yang bisa diajak untuk hangout—dan sayangnya mereka sudah ada kencan dengan kekasih mereka masing-masing.
Ya, memang salahku sih meminta mereka untuk hangout di hari libur begini—dimana hari ini biasanya sepasang kekasih memilih untuk menikmati waktu bersama. Ngomong-ngomong, dulu aku dan Minkyung juga sering menghabiskan waktu bersama diakhir pekan seperti ini, entah hanya jalan-jalan biasa ataupun menonton film di bioskop.
Ah, membicarakan Minkyung, aku jadi merindukannya. Kalau aku mengirim pesan padanya tak apa 'kan? Ngomong-ngomong tetap menjalin tali pertemanan walaupun sudah putus—siapa tau aku ada kesempatan untuk kembali bersamanya?
Hehe.
'Minkyung, apa kau ada acara hari ini? Jika tak ada aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Aku bosan sekali.'
Send.
Aku tersenyum sendiri, membayangkan Minkyung akan membalas pesanku dengan manis—seperti dulu.
Aku tersenyum lebar ketika mendapati satu notifikasi mampir ke ponselku, dan bertambah lebar ketika mendapati nama Minkyung disana. Tanpa membuang waktu, aku langsung membukanya.
'Hai Mingyu~^^ Aigoo, kau bosan ya? Kalau begitu kenapa tidak ajak Wonwoo jalan-jalan keluar? Pasangan calon suami-istri seperti kalian ini juga butuh waktu kencan! Eh tapi, kau pasti sudah sering kan ya. Hmm, kalau begitu aku akan menyarankan hal lain, seperti cuddling misalnya. Hoho, aku sangat jenius rupanya.
Ps: tolong kirimkan foto selfie kalian berdua. Aku gemas sekali dengan calon istrimu. Dia manis sekali~ '
Senyumku langsung luntur. Ponsel hitamku bahkan sudah kulempar kesamping. Tiba-tiba aku merinding—tidak percaya dengan apa yang barusan kubaca. Astaga, Minkyung yang manis dan polos kenapa berubah jadi seperti ini? Kemana perginya Minkyung yang dulu?
"Kau kenapa Ming?"
Aku mendongak, tanpa sadar aku menatap memelas kearah Wonwoo yang baru saja turun dari lantai dua dengan sekeranjang pakaian kotor.
"Ada masalah?" tanya lagi sembari mendekatiku.
Aku menggeleng, tatapanku beralih pada keranjang pakaian yang seingatku bukanlah milik Wonwoo—karena keranjang itu berwarna biru tua, sedangkan yang ada di kamar Wonwoo berwarna putih tulang.
"Milik Bohyuk?" tanyaku.
Wonwoo mengangguk, ia menghela napas panjang, "Baru saja tadi pagi aku mencuci pakaiannya. Ternyata dia masih menimbun pakaian kotor di kamar mandi dan tas olahraganya."
Aku tersentak, menatap terkejut kearah Wonwoo, "Kau tadi pagi mencuci?"
"Iya. Karena itulah aku menyuruhmu untuk belanja. Bohyuk itu tak bisa diharapkan. Pikirannya hanya pada bola, bola, dan kekasihnya. Dasar bocah pubertas dini," kesalnya.
Aku tertawa. Wonwoo yang kesal itu menggemaskan, kedua alisnya mengerut seakan bersatu, dan bibir mungilnya itu akan menggerutu.
Wajah Wonwoo itu keseringan emotionless, jadi sekalinya pemuda itu berekspresi, duh, jangan tanya, kadar pesonanya bisa naik berkali-kali lipat.
Jangan salah paham, aku memuji Wonwoo begini sebatas sahabat saja, tidak lebih.
Aku memutuskan untuk mengikuti Wonwoo yang sudah terlebih dahulu berlalu ke ruang cuci. Dan benar saja, aku menemukan Wonwoo yang tengah memilah baju putih dan baju berwarna untuk dicuci secara terpisah.
Duh, benar-benar istri idaman—eh, suami idaman.
Aku masih setia bersandar pada daun pintu dan mengamati Wonwoo yang masih fokus pada kegiatannya. Aku bergidik ketika mendapati Wonwoo membuang sebuah kaos berwarna biru muda yang sudah berubah warna menjadi sangat kusam—bisa kutebak, itu adalah baju latihan sepak bola milik Bohyuk yang terpendam didalam tasnya—kedalam keranjang yang berada disampingnya.
Entah berapa menit yang kuhabiskan untuk memperhatikan Wonwoo yang sibuk mencuci—dengan bantuan mesin cuci, tentu saja. Aku tidak tau, kenapa aku begitu betah memandangi Wonwoo. Padahal pemuda itu hanya diam menunggu cuciannya selesai.
Aku tidak bosan. Segala hal yang dilakukannya terlihat begitu menarik dimataku. Wonwoo yang tengah diam memperhatikan mesin cuci, Wonwoo yang tersenyum sendiri saat melihat ponselnya, Wonwoo yang merengut kesal ketika mendapati kaos Bohyuk yang tak bisa bersih dengan sekali cuci, dan kegiatan Wonwoo yang lainnya.
Segala hal yang berhubungan dengan Wonwoo memang selalu menarik.
Astaga.
Aku rasa aku sudah gila.
Gila karena Wonwoo—tetanggaku.
.-.-.
Aku merutuki diriku yang tidak mengikuti saran Bohyuk untuk pergi dari rumah dan meninggalkan Wonwoo sendirian. Aku tidak tau jika semua akan berakhir seperti ini.
Berakhir disituasi yang membuatku ingin menjerit, membanting atau melakukan apapun yang bisa membuatku tenang dan tetap berpikiran jernih.
Situasi dimana Wonwoo dengan tenangnya tertidur di pundakku dengan begitu manisnya—tidak. Tidak. Wonwoo tidak manis.
Kenapa bisa? Entahlah. Selepas Wonwoo mencuci dan menjemur pakaian—tentu saja dengan bantuanku, si manusia tampan berhati mulia—kami makan siang bersama, hanya makan siang sederhana, lalu dilanjutkan dengan menonton film bersama berhubung kami berdua memang tidak ada acara untuk keluar.
Mungkin aku terlalu fokus pada film, sehingga tidak menyadari beban yang berada di pundaku. Aku baru sadar ketika aku ingin menanyakan apakah Wonwoo memiliki camilan untuk kumakan saat film kedua diputar.
Aku menghela napas, ingin mendorongnya menjauh, namun iba—tak tega karena wajahnya terlihat cukup kelelahan. Akhirnya aku justru memainkan jariku diparasnya. Aku merinding ketika merasakan telunjukku yang bersentuhan dengan kulit halusnya—dan juga hangat.
Aku suka.
Kuakui, kulit Wonwoo bahkan lebih halus dari Minkyung—yang seorang perempuan tulen—dan juga hangat. Sensasinya benar-benar berbeda dibandingkan Minkyung.
Ini aneh—dan lebih anehnya aku begitu menyukainya.
Aku tersenyum sendiri—mungkin aku sudah mulai gila, dan ini gara-gara Jeon Wonwoo.
Aku menarik tanganku ketika pemuda itu menggeliat pelan, menahan napas—takut-takut Wonwoo tiba-tiba bangun dan langsung memukul wajah tampanku. Wonwoo itu beringas walaupun manis begini.
Dan aku tanpa sadar menghela napas lega karena pemuda itu tak bangun, justru menggerakkan kepalanya—mungkin mencari posisi nyaman, yang berakhir dengan kepalanya yang terjatuh.
Aku terkekeh pelan. Astaga, bagaimana bisa ada manusia selucu ini? Ya Tuhan, aku gemas sendiri.
Tanganku menahan kepala Wonwoo yang terjatuh, dengan berhati-hati aku berpindah dari yang duduk disampingnya menjadi duduk dibelakangnya. Kusandarkan punggung kurusnya pada dada bidangku, tak ketinggalan tanganku memeluk pinggang ramping Wonwoo—berusaha membuatnya nyaman.
Aku tersenyum bodoh, seharusnya jika ingin membuat Wonwoo tidur dengan nyaman, aku membawanya kekamarnya dan menidurkannya dikasur.
Tapi aku tak mau. Kalau aku melakukannya, aku tidak akan mendapatkan kehangatan ini.
"Hyung, kenapa kau bisa sangat hangat begini?" bisikku. Aku menggesekkan pipiku pada surai halus Wonwoo—gemas.
Aku terkekeh geli ketika Wonwoo merasa terganggu dengan apa yang kulakukan. Dan akhirnya aku menghentikan kegiatan konyolku dan memutuskan untuk menyusul Wonwoo ke alam mimpi—masih dengan televisi yang memutar film.
Dan juga perasaan hangat yang membuncah—menutupi otakku yang terus berteriak untuk tak melakukan ini.
.-.-.
CKREK CKREK.
Aku membuka mataku ketika mendengar suara yang cukup berisik dan juga kilatan cahaya yang langsung menerpa mataku yang masih terpejam. Aku berusaha untuk meregangkan tubuhku yang terasa berat—namun susah, mengingat aku masih menjadi tempat sandaran untuk Wonwoo.
"Aw, mesra sekali. Pantas saja kau tidak mau meninggalkan Wonu hyung sendirian dirumah. Ternyata maksudmu ini," ucap sebuah suara.
Aku mengerjapkan mataku, menatap heran kearah Bohyuk yang jongkok didepanku—dan juga Wonwoo, tangannya sibuk dengan ponselnya. Aku semakin heran ketika Bohyuk menatapku tajam.
"Dasar kau bunglon! Tukang modus! Kau kesini hanya untuk mencuri kesempatan berdekatan dengan Wonu hyung 'kan?! Sialan kau, hyung," umpatnya.
"Apa maksudmu?" heranku.
Bohyuk menunjukkan ponselnya padaku—dan seketika mataku membola melihat apa yang terpampan di ponsel canggih itu.
Fotoku dan Wonwoo—yang mungkin baru diambil oleh Bohyuk beberapa saat yang lalu.
Foto dimana aku dan Wonwoo tidur saling memeluk. Iya memeluk, Wonwoo yang bersandar padaku dengan badan yang agak dimiringkan dan tangan yang memeluk lenganku serta aku yang memeluk erat pinggang Wonwoo dan menyandarkan kepalaku pada kepala Wonwoo.
Mesra, dan manis.
Dan itu agak melukai kelurusanku.
Yang saat ini begitu kuragukan.
"Lepas," itu Bohyuk yang bersuara.
Aku masih menatapnya heran—dan juga kesal, "Apa?"
"Lepas tidak?!" Bohyuk membentak. Wajahnya yang tadi begitu ramah sekarang berubah menjadi garang.
Ah, aku lupa Bohyuk itu brother complex akut. Dia paling tidak bisa melihat Wonu hyungnya melakukan skinship dengan orang lain—entah itu laki-laki atau perempuan, mau muda atau tua, Bohyuk tetap tak bisa membiarkannya.
Lihat, bocah ini bahkan sudah akan menarik Wonwoo dari pelukanku, "Ya! Ya! Apa yang kau lakukan bocah?!"
Bohyuk memandangku bengis, "Lepas atau kupotong tanganmu, hyung?"
Tatapannya kubalas tak kalah bengisnya, enak saja dia mau mengambil Wonwoo dari pelukanku, aku belum puas memeluk tubuh hangatnya—eh.
"Tidak mau."
Bohyuk memicingkan matanya, "Ternyata kau benar-benar mencuri kesempatan untuk menyentuh hyungku! Terkutuk kau Kim Mingyu!"
Aku menggeplak kepalanya, "Tambahkan hyung dibelakang namaku dasar kau bocah tidak sopan!"
Bocah itu mendecih—sukses membuatku emosi, "Tidak sudi."
Ya Tuhan, salah apa aku harus berhadapan dengan si bungsu Jeon yang sungguh sangat amat teramat menyebalkan—bahkan 1000 kali lipat lebih menyebalkan dari kakaknya.
Aku dan Bohyuk masih bersikeras untuk memperebutkan Jeon Wonwoo, dan sepertinya Wonwoo tidak terganggu dengan pertengkaran kami yang tidak bisa dikatakan pelan. Bohyuk bahkan sudah berteriak kesetanan dan memakiku dengan kata-kata 'tukang modus', 'pencuri kesempatan', dan lain sebagainya.
Sedangkan tanganku entah sudah berapa kali memukul tangan kurang ajar Bohyuk.
"Ya! Ya! Kau menjadi incest ya?!" bentakku ketika Bohyuk berusaha meraih pinggang ramping Wonwoo.
Bocah itu mendelik menatapku, "Hm, incest? Dengan Wonu hyung? Boleh juga saranmu."
Aku melongo tak percaya. Astaga, pasti ada yang salah dengan otak anak ini. Ya. Pasti.
Tanganku masih berusaha melindungi tubuh menggoda—err, maksudku tubuh kurus Wonwoo dari tangan kurang ajar adiknya sendiri. Astaga, aku tidak bisa membayangkan bagaimana kelakuan Bohyuk jika berdua saja dengan Wonwoo. Apa bocah ini sering melecehkan Wonwoo?!
"Ngh!"
"Hehe."
Aku menatap tajam Bohyuk yang tengah tersenyum bodoh—dan mesum. Tangan bocah itu tadi tidak sengaja menyenggol aset milik Wonwoo hingga menimbulkan suara laknat yang begitu menggoda.
"K—kau!" hardikku pada Bohyuk, dan bocah itu hanya tertawa.
"Mukamu memerah hyung," ucapnya dengan begitu entengnya tanpa ada rasa bersalah.
Aku mengusap wajahku, sedikit melirik kearah Wonwoo yang kini meringkuk. Kalau aku tidak salah lihat, wajah putih itu ternodai semburat merah yang membuatnya semakin menawan.
Oh Tuhan, aku bisa gila jika seperti ini lagi.
"Hehe. Sentuh lagi ah."
"Mmm—"
Aku terdiam dengan tampang paling bodoh yang kumiliki. Reflek aku menendang Bohyuk dan tangan kurang ajarnya yang menggoda Wonwoo.
"JEON BOHYUK!" teriakku murka.
Aku yakin wajahku sudah memerah sekarang—aku tidak tau ini efek aku terlalu marah dengan Bohyuk atau salah tingkah mendengar suara laknat nan menggoda Wonwoo yang bisa ditangkap dengan jelas oleh telingaku.
Pemuda kurus dipelukanku bergerak pelan—yang menimbulkan sebuah sensai tak terduga yang membuatku sulit bernapas.
"Dilihat dari wajahmu, sepertinya kau berpikiran mesum," ucap Bohyuk. Bocah itu menatapku tajam.
Aku merotasikan mataku, "Berkacalah."
Beberapa detik kemudian aku merasa beban yang sedari tadi bersandar padaku menghilang. Aku menatap lekat kearah Wonwoo yang baru saja bangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan matanya, menatap bingung kearahku dan juga Bohyuk—yang kini tersenyum mesum.
"Ming?" ucapnya pelan. Ia masih mengusap matanya—dan parasnya itu masih ternodai semburat merah, efek dari perbuatan tangan kurang ajar Jeon Bohyuk.
Aku hanya bisa diam, bingung harus bertingkah bagaimana.
"Aku—sedari tadi tidur bersandar padamu?" tanyanya.
Aku mengangguk kaku—membenarkan.
Aku berteriak dalam hati ketika melihat Wonwoo melebarkan mata sipitnya, parasnya memerah—hingga telinganya. Mulutnya membuka dan menutup—bingung.
Ia mendorongku menjauh, "A—aku—uh, terima kasih."
Aku melongo, memandang bodoh kearah Wonwoo yang sudah beranjak menuju kamarnya sendiri. Meninggalkan berdua dengan si bocah bodoh nan kurang ajar disini.
"Hyung, kau gemas tidak?" Bohyuk bersuara, memecah hening.
Aku mengangguk. Memang benar aku gemas dengan sikap Wonwoo barusan. Dimana pemuda itu mengatakan terima kasih dengan ekspresi malu-malu seperti kucing minta dikawini.
Ibu, aku tidak kuat kalau harus begini terus. Bisa-bisa aku mewujudkan keinginan ibu untuk meminang Wonwoo.
Astaga, jika begini terus bisa-bisa kelurusan yang selama ini kubanggakan akan belok—belok sangat tajam jika terus-menerus melihat Wonwoo yang emo tapi menggemaskan seperti tadi.
Tuhan, tolong hambaMu yang masih ingin memertahankan kelurusannya ini.
Fokusku beralih pada Bohyuk yang duduk tak jauh dariku—efek setelah kutendang tadi. Tiba-tiba aku teringat kalau Bohyuk berkata sudah memiliki kekasih perempuan, namun kelakuannya tadi membuatku cukup ragu.
"Bohyuk. Kau lurus 'kan?" tanyaku pada Bohyuk.
Bohyuk memandangku heran, namun sedetik kemudian dia mengulas senyum yang mulai saat ini menjadi senyum yang paling menjengkelkan untukku, "Lurus kok. Tapi belok kalau ke Wonu hyung."
Aku menghampirinya dan menendang tulang keringnya, "Jangan jadi incest, bodoh!"
"Hehe."
.-.-.
Aku menghampiri Wonwoo yang tengah sibuk dengan laptopnya diatas ranjangnya. Ditanganku terdapat nampan berisi makan malam untuknya. Iya, Wonwoo tidak turun untuk makan malam, ia bilang tugasnya sudah mendekati deadline hingga harus segera dikerjakan.
Dan karena absennya Wonwoo, makan malam yang seharusnya tenang dan menyenangkan berubah menjadi petaka karena aku hanya makan berdua dengan Bohyuk—yang sumpah sangat amat teramat pandai membuat emosiku meledak-ledak.
"Makan dulu, hyung," ucapku sembari meletakkan nampan yang kubawa dimeja belajar milik Wonwoo.
Wonwoo hanya bergumam—dan aku cukup tersinggung karena aku seperti diabaikan. Aku pun menghampirinya dan menarik selimut yang sedari tadi menyembunyikan tubuh kurusnya.
"Ya! Apa yang ku lakukan?!" galak Wonwoo—tak ketinggalan ia menghadiahiku tendangan keramatnya.
Aku meringis merasakan tendangan yang tak bisa dikatakan pelan itu mendarat sempurna di paha seksiku. Hish, kemana perginya Jeon Wonwoo yang manis dan menggemaskan tadi? Kenapa sudah menjadi super galak begini?
"Galak sekali," cibirku.
Wonwoo melotot kearahku—yang kubalas dengan senyum bodohku, antisipasi untuk menghindari serangan gelombang dua.
"Makan dulu, hyung. Aku sudah membawakan makanan untukmu," ucapku sembari menarik tubuh kurusnya untuk menjauh dari laptop laknat itu.
Wonwoo menggeleng, "Nanti. Tugasku belum selesai."
Aku memutar kedua mataku jengah. Menunggu tugasnya selesai? Yang benar saja, memangnya Wonwoo ini serajin apa sih?
"Makan dulu!" bentakku.
Wonwoo merengut. Ia memutar tubuh—dan laptopnya hingga membelakangiku. Oke. Dia merajuk.
Aku mendekatinya, tanpa permisi aku langsung menutup laptop putih itu hingga terdengar suara yang cukup keras.
"YA! Apa yang kau lakukan?! Kalau draftnya hilang bagaimana?!" galaknya sembari memukulku bengis.
Aku meringis, berusaha menghindari pukulan Wonwoo yang benar-benar menyakitkan—berhubung pemuda kurus itu tengah emosi, "Hyung, tugasmu tidak akan hilang. Percaya padaku. Laptop jaman sekarang kan sudah ada autosave. Laptopmu tidak sebutut itu 'kan?"
Wonwoo mendelik—dan aku mengabaikannya, ia tengah merajuk. Aku menariknya untuk bangkit dari kasur dan segera menghabiskan makan malamnya. Aku sangat paham jika pencernaan Wonwoo hyung itu sensitif sekali. Ia rentan pingsan jika telat makan—yang sayangnya Wonwoo sendiri itu sangat malas untuk makan.
Tidak heran kalau tubuhnya sekurus lidi begitu.
Aku menariknya untuk turun dari kasur, yang sayangnya mendapat penolakan dari Wonwoo, pemuda itu membalas menarik tubuhku ke kasur—ini kode atau bagaimana?
Adegan tarik menarik itu terjadi beberapa saat, dan aku merasa bodoh karena sudah meladeni sifat kekanakan Wonwoo yang sangat jarang muncul ini. Lelah meladeni, aku pun mengalah, tidak lagi menariknya untuk bangkit—tapi sayangnya Wonwoo malah menarikku.
Dan tentu saja hal itu yang selanjutnya terjadi.
Tubuhku yang limbung dan menimpa tubuh kurusnya—khas drama sekali.
Suara pekikan tertahan terdengar oleh telingaku, namun aku enggan bangun—sedikit meniru apa yang biasanya terjadi di drama tidak apa 'kan? Jadi aku melakukannya, menatap kedalam mata rubah milik Wonwoo yang katanya sangat mempesona.
Dan memang benar adanya. Mata itu sangat mempesona, membuatku jatuh dalam pesonanya. Membuatku merasa sebentar lagi aku akan menjadi gila—mabuk kepayang hanya dengan memandang kedalam sepasang manik tajam yang menatap polos itu.
"Mingyu?"
Tolong. Wonwoo, tolong. Jangan memasang wajah polos yang menggemaskan dan membuatku setengah mati berusaha bertahan pada kelurusanku.
Jangan menyeretku dalam pesonamu. Jangan membuatku gila.
Jangan membuatku jatuh hati padamu.
Aku mengabaikan kebingungannya dan memilih untuk memeluknya erat, masih dalam posisi aku yang menindihnya diatas kasur.
Wonwoo itu hangat, dan memiliki harum yang begitu menenangkan. Entah itu perpaduan antara bunga mawar dan vanilla yang mampu membuatku mabuk kepayang.
Aku suka.
Tapi disisi lain aku tak ingin jatuh untuk Wonwoo. Aku ingin bertahan pada kodratku.
Aku dilema.
DUAK!
"Sudah kuduga seharusnya aku tak membiarkanmu untuk masuk kedalam kamar Wonu hyung, dasar kau lelaki bunglon, mencari kesempatan dalam kesempitan!"
Aku mengusap kepalaku yang baru saja menjadi korban lemparan buku oleh Bohyuk. Bocah itu bahkan tanpa sopan santun menarik kerah bajuku—membuatku melepaskan pelukanku pada tubuh Wonwoo dan bangkit dari kasur nyaman itu.
"Lepaskan, sialan!" hardikku.
Bocah itu tak mendengarkanku. Ia justru menendang betisku. Aku meringis kesakitan, sialan. Apa Bohyuk lupa jikda dirinya ini pemain bola? Sialan, ini sakit sekali.
"Sakit, bocah!" aku mendesis sembari memitingnya—yang tentu saja disambut dengan pekik kesakitan dari bungsu Jeon ini.
Aku dan Bohyuk kembali bertengkar. Kami berdua sama sekali tidak menyadari hawa gelap yang sudah dikeluarkan oleh Wonwoo sampai pemuda kurus itu mendorong tubuhku dan Bohyuk keluar dari kamarnya.
"KALAU MAU BERTENGKAR, SANA BERTENGKAR DI LAPANGAN, SIALAN!"
BRAK!
Aku dan Bohyuk melongo menatap pintu yang baru saja terbanting didepan wajah kami, kemudian kembali saling berpandangan.
"Kurasa Wonwoo hyung yang galak sudah kembali," gumamku.
"Mungkin dia PMS," celetuk Bohyuk asal, membuatku tak bisa menahan diri untuk tidak menjitak kepala bodohnya.
"Manis dan cantik begitu dia tetap laki-laki."
Bohyuk memicingkan matanya kearahku—sebelum senyum menyebalkan itu kembali menghiasi wajahnya, "Ey, kau naksir pada Wonu hyung ya? Kau belok ya, hyung?"
Aku terdiam setelah mendengar perkataan Bohyuk. Aku? Belok?
Entahlah, aku bahkan sekarang bingung dengan diriku.
Aku emang terpesona dengan Wonwoo—bahkan mungkin sudah dalam tahap tenggelam terlalu dalam hingga membuatku gila.
Tapi, disisi lain aku juga masih ingin mempertahankan kelurusanku.
"Sudah, belok saja. Banyak yang mendukung kok—aku contohnya," celetuk Bohyuk.
Aku mengerjapkan mataku, menatap berbinar kearah si bungsu Jeon, "Serius? Kau mendukungku dengan Wonwoo hyung?"
Tatapan mendukung yang beberapa saat lalu menghiasi wajah Bohyuk seketika menghilang, digantikan dengan wajah datar dan mata yang menatapku tajam, "Siapa bilang aku mendukungmu dengan Wonu hyung?"
"Tadi?"
"Aku mendukungmu untuk belok—tapi tidak pada Wonu hyungKU!" galaknya sembari menendang betisku dan berlalu meninggalkanku yang meringis kesakitan.
Sialan Jeon Bohyuk dan brother complex yang dideritanya.
.
.
.
To be Continued.
(Hei gaes, akhir-akhir ini aku sedang galau gundah merana—ya pokoknya begitu. Maafkan aku jika humornya ini tidak sampai. Semoga saja meanie momentnya disini—yang walaupun hanya sedikit ini bisa menghibur. Huhu TT)
(TT TT TT TT )
(Terima kasih sudah membaca dan mereview! 3)
Special thanks to:
jeonwonlust | jiyulee | Kyunie | Chwe S. Kaa | lulu-shi | ArZell17 | MeanieSeries1706 | DevilPrince | seira minkyu | Mingyu04won17 | whiteplumm | sehon-ey | pizzagyu | Park RinHyun-Uchiha | Nikeisha Farras | Khasabat04 | Albus Convallaria majalis | gahee28 | hoaxshi | chypertae | wonppa | hamsteosoon | JoK | Dazzpicable | Kimi | bbyshbrth | john want wow | Mocca2294 | rubby | ysejikook | Song Soo Hwa | Desi Vbaexian1048 | newtrie12 | Guest | aliciab. I | xxjaekim | Jeonna | juliakie | DKJisoo chittayong | AiandU | btobae | bolang | Gigi onta | hoshilhouette | monwiijeonwii | cheonsa19 | kimjeon17 | riani98 | PHC520 | Beanienim | real wonwoo | naintin2| utsukushii02 | hvyesungalwaysmeanieJaeminNananaSungRaeYoo | kacamatapolkadot | Firdha858fera95loeloe07 | jeonsan | HanniebangtaninmyloveSonewbamin | KMaddict | Mrs. EvilGameGyuXiayuweLiurexov | KimAnita
(sampai jumpa chapter depan :*)
(pesan khusus teruntuk Jeon Wonwoo dari saya—fans yang tidak akan pernah anda sadari keberadaannya; tolong, kamu jadi manusia jangan manis kebangetan gitu bisa? Aku tida kuat TT )
