Diclaimer :Tite Kubo

Title: PENYESALAN

Penyesalan yang selalu datang belakangan, ternyata Rukia selama bertahun-tahun sudah menyukai Ichigo, hanya saja Rukia tidak pernah menyadari rasa itu, sampai akhirnya perpisahan yang membuat Rukia sadar akan perasaannya pada Ichigo...

Chapter 4 : Apa yang sebenarnya terjadi?

"Sebenarnya waktu itu memang benar! Waktu itu aku memang sempat menyukaimu," jawab Ichigo.

"Apa! Jadi benar, yak?" kataku

"Hey tunggu dulu, aku belum selesai bodoh!" kata Ichigo tiba-tiba.

"…"

"Memang dulu iya, tapi karena ada sesuatu hal makanya aku berubah pikiran!" kata Ichigo.

"Memang ada apa?" tanyaku penasaran.

"Ada lah pokoknya," jawab Ichigo.

"Jangan-jangan karena waktu itu aku lagi menyukai Kaien Shiba! Itu alasannya kan Ichi?" tanyaku pada Ichigo.

"Hah! Ya tentu saja tidak," jawab Ichigo.

"Ah… pasti itu alasannya, mengaku saja! Kau takut nantinya akan kutolak mentah-mentah kan? Dan kau akan malu," tanyaku lagi pada Ichigo.

"Ih mana mungkin, tidak lah!" kata Ichigo.

"Hah, sudahlah! Tidak perlu dibahas juga, tidak penting," ujarku.

"..."

Sebenarnya itu sangat penting untukku, tapi selalu saja kututupi. Entah mengapa aku ini selalu jaim pada orang. Padahal suka, tapi gengsi untuk mengakuinya. Pura-pura tegar didepan orang, padahal dibelakang sangatlah lemah.

"Oh ya Ichi, kapan kau pulang?" tanyaku pada Ichigo.

"Entahlah, aku belum lama disini. Mana mungkin aku pulang!" jawab Ichigo.

"Oh begitu, yak! Okelah kalau begitu," ujarku pada Ichigo.

"Sepetinya sudah malam, sebaiknya kau tidur. Aku juga sudah mengantuk," ucap Ichigo.

"Benar juga, tak terasa sudah larut malam. Memang sudah waktunya tidur," jawabku pada Ichigo.

"Sudah ya Rukia, segeralah kamu tidur," kata Ichigo.

"Iya," jawabku pada Ichigo.

"Selamat malam," kata Ichigo.

"Selamat malam juga," jawabku.

Setelah itu aku menutup ponselku. 'Ichigo... andai saja kau tahu ternyata didalam hatiku ada ruang untukmu. Aku tidak tahu harus bagaimana, kupikir aku baru tahu kalau aku menaruh hati padamu. Aku... aku... ingin kau tahu Ichi... kalau sebenarnya aku menyukaimu. Apakah ini sebuah kesalahan yang kulakukan? Karena aku menyukai orang yang sudah jelas-jelas menyukai orang lain, apa aku salah juga jika menyukai sahabatku sendiri? Kenapa aku jadi memikirkan hal itu? Sebaiknya aku tidur saja!'

Segera kuambil mp3 yang berada diatas meja. Kupasang headset ketelingaku dan kurebahkan tubuhku di ranjang.

'Kenapa mata ini sulit sekali terpejam? Padahal aku ngantuk sekali. Tanpa sengaja aku mengakui kalau Ichigo benar-benar hebat karena berhasil membuatku menjadi seperti ini, padahal selama ini belum ada seorangpun yang bisa memporak-poradakan hatiku ini.'

Waktupun terus berjalan bersamaan dengan alunan lagu yang kudengarkan lewat mp3 dan tak terasa pula akhirnya aku bisa tertidur dengan pulasnya.

Tiba-tiba saja.

"Rukia! Ayo cepatlah bangun, kau ini bagaimana?"

Tiba-tiba kakakku Hisana menarik selimutku.

"Kakak ini apa-apaan sih, aku masih mengantuk, tahu!" kataku sambil menaruh bantal kemukaku sendiri.

"Rukia! Kau ini sudah terlambat, seharusnya kau bangun pagi-pagi untuk mempersiapkan semuanya," ujar kakakku Hisana.

"Mempersiapkan? Mempersiapkan apa kak?" tanyaku dengan penuh tanda tanya ke kakak.

"Sudahlah, cepat mandi sana!" perintah kakakku sambil menyeretku masuk kekamar mandi.

Akhirnya tanpa sengaja akupun memandikan tubuhku yang indah ini. Setelah aku selesai dan keluar dari kamar mandi, kakakku Hisana segera menarikku ke depan cermin. Kak Hisana mendandaniku aneh, sampai saat ini aku masing bingung dengan apa yang dilakukannya...

'sebenarnya ada apa ini? Kenapa kakak jadi aneh seperti ini?' pikirku dalam hati.

Setelah kakak selesai mendandani wajahku tiba-tiba kakak meninggalkan aku. Saat aku memperhatikan diriku dicermin aku sangat kaget bukan main.

"Apa ini benar-benar aku? Kenapa aku jadi cantik seperti ini? Kakak memang jago merias," gumanku blushing sendiri.

Aku sangat terpesona pada diriku sendiri. Tak berapa lama kemudian kakakku Hisana kembali lagi dengan membawa gaun pengantin yang sangat indah. 'Apa! Gaun pengantin?' tanyaku dalam hati dengan penuh tanda tanya besar.

"Kakak untuk apa gaun itu?" tanyaku pada kak Hisana.

"Kau ini bagaimana? Sejak kapan kau ini amnesia? Kau sendiri kan memesannya kemaren. Sebaiknya segeralah kau memakainya karena semua orang sudah menunggumu diluar," kata Kak Hisana.

"..."

"Cepatlah!" kata kak Hisana kesal.

"I... Iya kak," kataku menurut.

Segera aku berjalan menuju ruang ganti pakaian, aku sangat bingung. Sebenarnya ada apa ini? Kenapa aku disuruh mengenakan gaun ini? Jangan-jangan aku mau dinikahkan paksa oleh keluargaku.

'Apa! Aku mau menikah? Dengan siapa aku menikah, lagipula kenapa mereka tidak merundingkannya terlebih dahulu? Ini pemaksaan, ini tidak boleh terjadi! Aku kan belum mau berkeluarga, bagaimana ini? Aku harus kabur! Aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak aku sukai dan aku kenal,' gumamku dalam hati.

Dengan teliti aku mengamati ruangan ini, mataku tertuju pada sebuah jendela, aku mendekati jendela tersebut.

'Baiklah aku akan kabur melalui jendela ini,' pikirku dalam hati. Saat aku mau meloncat tiba-tiba kak Hisana memanggilku.

"Rukia? Apa kau sudah selesai memakainya?" tanya kakak sambil membuka pintu ruang ganti.

KREKK....

"..."

"Astaga Rukia! Sebenarnya dari tadi apa yang kau lakukan? Kenapa gaunnya belum juga kau pakai?" ujar kak Hisana sambil mendekatiku.

"..."

Aku hanya bisa tersenyum aneh.

"Apa yang kau lakukan didekat jendela?" ucap kakak penasaran

"Eh! Tidak ada, aku hanya ingin menikmati udara yang sejuk dipagi hari," kataku membuat alasan sekenanya.

"Ini bukan saatnya kau bersantai. Cepatlah kau pakai!" perintah Hisana.

"Baiklah," jawabku sambil memakai gaun itu didepan kakak.

-Setelah beberapa saat-

"Kau sangat cantik Rukai, lihatlah dirimu ke cermin," kata kakak.

Aku membalikkan tubuhku menghadap cermin. Aku sempat hampir pingsan melihat bayangannku dicermin, aku tidak percaya kalau itu aku.

"Astaga! Ternyata aku sangat cantik, pantas saja banyak laki-laki yang menyukaiku," ucapku pede.

"Kakak tidak menyangka ternyata adikku yang satu ini sudah dewasa dan sebentar lagi akan menikah, pasti kau juga tidak percaya kan Rukia? Sama, dulu waktu kakak mau menikah dengan Byakuya, kakak juga merasakannya. Sekarang gliranmu yang akan merasakannya," jelas kakak panjang lebar.

"..."

'Apa aku ini benar-benar amnesia? Perasaan semalam aku tidak apa-apa, kepalaku juga tidak terbentur apapun. Dan sebenarnya aku mau menikah dengan siapa?' kataku dalam hati yang penuh dengan rasa penasaran. Dan tanpa sadar pula ternyata kakakku sudah selesai menata rambutku.

"Nah Rukia, semuanya sudah beres, sudahlah kau tidak perlu grogi seperti itu," ucap kak Hisana.

"Apa? Siapa yang grogi? Aku sama sekali tidak grogi!" kataku pada Kak Hisana.

"Sudahlah Rukia, kakak juga pernah merasakannya," ucap kakak dengan senyum khasnya.

KREKK...

Tiba-tiba pintu terbuka, dan ternyata itu adalah Kak Byakuya.

"Apa yang sedang kalian lakukan? Kenapa lama sekali? Pak penghulu dan para tamu undangan sudah menunggu dari tadi," ujar Kak Byakuya.

"Iya ini kita baru mau keluar," kata Kak Hisana. Aku hanya terdiam saja.

"Kau sangat cantik Rukia! Sama seperti kakakmu dulu saat mengenakan gaun pengantin," kata Kak Byakuya dengan tatapan kekaguman.

"Ah, kau ini bisa saja!" ucap Kak Hisana blushing.

"Sebaiknya kita segera keluar, tidak enak membiarkan Pak Penghulu dan para tamu undangan menunggu," ujar Kak Byakuya.

"Iya," jawab Kak Hisana.

"..."

Kak Hisana menggandengku, sementara Kak Byakuya berjalan didepanku. Kami berjalan menuju sekerumunan manusia. Jantungku berdegup sangat kencang saat memasuki kerumunan manusia itu dan juga tanganku gemetaran.

'Aduh apa-apaan ini, kenapa aku tidak bisa berbuat apa-apa,' gumanku dalam hati.

Tepuk tangan para manusia itu mengiringi perjalanan kami menuju sebuah mimbar yang disana sudah ada Pak penghulu dan laki-laki didepannya, kurasa dia calon suamiku yang belum kuketahui siapa namanya dan orangnya. Kenapa aku rasa jalan kami sangat lambat sekali padahal hanya berjarak 25 meter. Setelah kuamati dengan seksama orang yang duduk didepan Penghulu itu adalah? Seperti sudah tidak asing lagi, tapi siapa? Aku rasa aku mengenalnya. Disaat otakku berpikir keras untuk mengetahui siapa lak-laki itu Kak Hisana membuyarkan semuanya.

"Rukia, tidak usah grogi seperti itu," ucap Kak Hisana.

"Sebenarnya aku ini mau menikah dengan siapa sih?" tanyaku pada Kak Hisana.

"Dasar kau ini, sangat groginya kau jadi lupa dengan calon suamimu sendiri," ucap kak Hisana dengan senyuman khasnya. Aku semakin penasaran dibuatnya.

"Akhirnya yang kita tunggu datang juga," ucap Ishida diujung ruangan. –Ishida adalah salah satu teman sekelasku dulu saat di STM Karakura-

Dan setelah kuamati seluruh manusia disekelilingku, ternyata mereka semua adalah teman-temanku. Akhirnya aku sampai dimimbar itu, dan aku duduk dikursi, dan disebelah manusia yang tidak dikenal dan ku rasa dia calon suamiku. Aku sama sekali tidak menengok kearah manusia itu.

"Pagi ini kau sangat cantik sekali Rukia!" ucap manusia disebelahku.

Tunggu!! Sepertinya suara itu sudah tidak asing lagi. Ya, aku mengenalnya. Kutoleh manusia itu dan benar sekali tebakanku barusan.

"I...chi... go?" kataku tersendat-sendat karena kaget bukan main.

Ternyata manusia itu, manusia yang mau menikahiku adalah Ichigo Kurosaki. Aku sangat terkejut dan sangat bahagia, entah bagaimana mengungkapkannya. Pokoknya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

"Rukia, apa kau sudah siap?" tanya Ichigo padaku.

"..."

Aku tidak bisa berkata-kata sedikitpun, aku hanya bisa menganggukkan kepalaku. Aku sangat bahagia karena ternyata orang yang membuatku penasaran dari tadi adalah Ichigo Kurosaki, ya dialah calon suamiku dan calon ayah dari anak-anakku kelak.

"Apakah kalian berdua sudah siap?" ucap Pak penghulu.

"Kami sudah siap!" jawab Ichigo tegas.

Aku hanya bisa terpesona mengamati setiap lekuk wajah Ichigo, dia terlihat sangat tampan dan dewasa. Ritual demi ritualpun sudah kami lalui dengan sukses. Saat kami duduk disinggahsana pengantin yang megah ini aku mengamati Ichigo, aku lihat dia sangat menikmati suasana ini. Dan, aku juga bisa melihat dari sorot matanya kalau dia sangat bahagia. Kulihat para tamu undangan pun juga menikmati pesta ini, aku melihat teman-temanku tertawa lepas diujung sana. Waktupun semakin berlalu, akhirnya acara ini mencapai puncaknya. Kulihat para tamu bersiap-siap untuk pulang. Dan kamipun berdiri untuk bersalaman dengan mereka.

"Selamat ya buat kalian berdua!" ucap Kira.

"Iya, terimakasih karena kalian sudah mau menghadiri pernikahan kami," jawab Ichigo.

"Jangan lewatkan malam ini begitu saja ya?" bisik Kira pada Ichigo.

"Kalian ini ngomongin apa sih?" tanyaku dengan blushing.

"Tidak ada apa-apa! Aku pulang dulu, ya?" jawab Kira sambil berlalu meninggalkan kami. Kemudian Hanatouru menghampiri kami.

"Akhirnya kalian menikah juga, kalian sudah bosan ya bertengkar terus-menerus? Kuharap kalian tidak akan bertengkar lagi," ledek Hanatarou.

"Kau ini bisa saja Hanatarou," ucapku malu-malu pada Hanatarou.

"Tenang saja kami tidak akan bertengkar lagi!" ucap Ichigo sambil menarik pinggangku agar kita lebih dekat lagi.

"Amin kalau begitu, aku pamit dulu, ya?" ucap Hanatarou pada kami.

"Iya!" jawab Ichigo.

Hanatarou pun pulang, begitu juga teman-teman yang lain. Mereka juga memberi wejangan yang aneh-aneh. Akhirnya ruangan ini terlihat sangat lenggang karena para manusia yang tadi memenuhinya sudah meninggalkannya. Kini tinggal keluargaku dan keluarga Ichigo.

"Rukia! Sepertinya kau sudah kelihatan sangat lelah, dan sudah waktunya juga kita meninggalkan ruangan ini," kata Ichigo.

"Iya aku lelah sekali, tapi rasa lelah itu tidak terasa karena aku sangat bahagia hari ini," kataku pada Ichigo.

"Kau pikir hanya kau yang bahagia, aku juga sangat bahagia karena impianku untuk mempersuntingmu sudah terlaksana dengan sukses," jelas Ichigo.

Saat wajah Ichigo mendekati wajahku, dekat sekali kupikir hanya berjarak 1 cm. Jantungku yang kemudian berdegup sangat kencang dan aku juga sudah memejamkan mata. Tiba-tiba Kak Byakuya dan Kak Hisana mengagetkan kami.

"Mobilnya sudah siap, kupikir kalian sudah kelelahan. Sebaiknya kalian pulang kerumah baru kalian," kata Kak Byakuya.

"Iya, sudah malam juga," sambung Kak Hisana.

"Baiklah kami akan pulang!" kata Ichigo.

"..."

Lagi-lagi aku dilanda rasa penasaran lagi. Rumah? Mereka sudah mempersiapkan rumah untuk kami? Beribu petanyaan bersarang diotakku.

"Rukia! Ayo kita pulang!" ajak Ichigo padaku.

"E... baik... lah," jawabku.

"Semoga malam ini menjadi malam terindah buat kalian!" goda Kak Byakuya.

"Amin!" jawab Ichigo.

Aku hanya bisa blusing. Kemudian kami berjalan menuju mobil yang sudah disiapkan dengan diiringi para anggota keluarga kami. Sebelum kami memasuki mobil, kami sempat berpamitan kepada mereka.

-Saat didalam mobil-

"Ichi, aku belum percaya kalau kita sudah menikah," tanyaku pada Ichigo.

"Sama! Aku juga seperti itu, tapi aku sangat bahagia," jawab Ichigo.

"..."

Ichigo menatapku dengan tatapan aneh, belum pernah aku melihat tatapan itu sebelumnya. Tatapan itu membuatku salah tingkah.

"Jangan menatapku seperti itu!" kataku malu-malu.

"Kenapa?" tanya Ichigo.

"Tidak tahu. Hah... sebaiknya kau berkonsentrasi menyetir agar kita selamat sampai tujuan," kataku mengalihkan pembicaraan.

"Okelah kalau begitu," jawab Ichigo singkat.

Tidak berapa lama kemudian akhirnya kami sampai di depan sebuah rumah, lalu Ichigo pun turun dari mobil dan membuka pagar rumah tersebut. Didalam hati aku berpikir 'Apa ini rumahku dan rumah Ichigo?'.

Setelah pagar sudah terbuka Ichigo pun masuk kembali kedalam mobil dan membawa mobil ini kegarasi. Ichigo turun lebih dulu dan membukakan pintu mobil untukku. Aku semakin salah tingkah. Kamipun berjalan menuju pintu rumah, sementara Ichigo membuka pintu itu, aku mengamati halaman rumah ini. Halaman yang sangat luas dan indah.

"Ayo Rukia! Udara malam tidak baik untuk kesehatan," ucap Ichigo.

"Iya," kataku singkat.

Sampai didalam rumah aku sangat kagum dengan isinya, rumah ini tidak terlalu besar tapi rapi. Seperti rumah yang selama ini selalu aku impikan, ternyata sekarang benar-benar terwujud. Kami menuju sebuah kamar dan saat kulihat dalamnya aku semakin terpesona, kamar yang begitu mempesona. Aku sangat menyukainya, apalagi tempat tidurnya. Ranjang yang luas berseprai biru yang indah. Ichigo menarikku dan mendudukanku ke ranjang itu, dia kemudian berjalan ke sebuah almari dan mengambil sesuatu disana, lebih tepatnya sebuah kotak besar. Kotak itu kemudian diberikan padaku.

"Ini adalah hasil kerja kerasku yang pertama, aku ingin memberikan ini semua untuk istriku," kata Ichigo sambil duduk disebelahku.

"Apa ini?" tanyaku.

"Bukalah," jawab Ichigo.

Dengan pelan-pelan aku membuka kotak itu, dan aku sangat terkejut saat melihat isi kotak itu. Disana terdapat sebuah piyama yang sangat bagus dan diatasnya ada sebuah kotak lagi. Aku mengambil kotak itu dan membukanya, dan didalamnya tenyata sebuah kalung dengan huruf I&R yang berarti Ichigo dan Rukia. Aku sangat terharu sekali melihat itu, aku menatap Ichigo.

"Kau ini! Pintar sekali membuatku terharu," kataku pada Ichigo dengan berkaca-kaca.

"Waktu aku menerima gaji pertamaku aku tiba-tiba terpikir untuk membelikannya, karena aku ingin istriku yang memakainya," jelas Ichigo.

"Jadi kau sudah mempersiapkannya sejak lama?" tanyaku pada Icigo.

"Benar," jawab Ichigo singkat.

Mataku berkaca-kaca karena terharu. Kemudian aku memeluk Ichigo sambil mengucapkan terimakasih, dan aku juga merasakan kalau Ichigo mencium rambutku waktu itu. Hangat sekali.

"Sebaiknya kau mandi dulu, biar terasa segar! Dan ganti gaunmu itu, masa kau akan tidur dengan gaun pengantin?" ucap Ichigo.

"Iya! Sebaiknya kau juga mandi!" jawabku pada Ichigo.

"Bagaimana kalau kita mandi bersama?" tanya Ichigo dengan nada aneh.

"Apa? Aku tidak mau, kita mandi sendiri-sendiri saja," kataku pada Ichigo.

"Sepertinya kau masih malu," goda Ichigo.

Aku tidak menghiraukan kata-kata Ichigo. Aku berlalu menuju kamar mandi.

-Beberapa saat kemudian-

Aku sudah selesai mandi dan keluar dari kamar mandi, kulihat disana Ichigo sudah mandi.

"Kau sudah mandi?" tanyaku pada Ichigo.

"Iya aku mandi dikamar mandi luar, habisnya kau lama sekali," jawab Ichigo.

"Oh... begitu, yak?" ucapku.

"Kau terlihat seksi pakai piyama itu," goda Ichigo.

"..."

Aku hanya blushing. Ichigo berjalan mendekatiku, semakin dekat. Kukira jarak kami hanya tinggal beberapa centi. Jantungku berdegup sangat kencang, aku bingung harus berbuat apa. Dan...

~~~~T B C~~~~

Hwaaaa.... Dan bagaimanakah kelanjutannya?

penasaran yak? Ditunggu updatetannya yak?

Dan tentu saja jangan lupa me-review.

Maaf ya kalo chapter ini semakin tidak karuan.

Soalnya Hwarang lagi kumat stadiom 4.

*dilempar komputer sama orang gila yang merasa tersaingi*