Crazy Because of Him

Disclaimer: Fairy Tail © Hiro Mashima

Warning: OOC, Multi-chap, die-charas, AU, typo (mungkin), bahasa aneh(?), dan sebagainya, mungkin Minna-san lebih tau daripada Author.

Pairing: JerZa, NaLu, GruVia, GajeVy (dikit), Mystogan-Knightwalker(?)(dikit), Makarov-Porlyuscha(dikit).

Genre : Romance, Angst, Humor (dikit), Family.

Rate: antara M dan T (?) *kena tampol* yaudah, T aja.

A/N: again, please forgive me. *nangis sujud guling-guling di lantai* kemaren-kemaren, saya sibuk. Seminggu ada tujuh tugas, tujuh ulangan dan tujuh bidadari Jakatarub *disate* mm, ya pokoknya saya bener-bener padat deh jadwalnya *soksibukLoe* saya selalu tiap hari pulang sore, jam setengah 4, terus baru santai jam 10 malem, terus tidur *JDUAR* yasudah, mari baca fict ini untuk me-refresh otak kalian *siapeloe?*

N/P: Crush on You – Tata Young

.

.

.

Previously on the chapter:

Erza tersenyum simpul mendengar pengakuan itu dari orang yang—jauh di dalam hatinya—ia sukai. "Tidak apa kok, sensei. Semua orang punya zona 'gelap' nya sendiri 'kan?"

"Erza Scarlet, ini sudah gelap." Lanjut Jellal. "Tidak baik seorang mahasiswi sepertimu masih diluar selarut ini, ayo kuantar pulang."

"Uh, baiklah, tapi sebelumnya, barang barangku yang masih di kampus?" tanya Erza mengingat tasnya masih ada di kelas.

"Sudah, kau tidak usah memikirkan itu. Besok tidak usah masuk, kau butuh istirahat, dan akan kuantarkan kau ke rumahmu." Tutur Jellal.

Chapter 4: A Late-Night Conversation

Erza Scarlet, si gadis berambut scarlet menyala itu baru selesai mandi dan keluar dari kamar mandi di rumah—apartment—nya dengan mengenakan piyama dan handuk di kepalanya.

"Hari yang melelahkan," batinnya, lalu sejenak tersenyum simpul, "Jellal-sensei aku telah jatuh cinta padamu." Katanya dalam hati sambil memanaskan pizza yang kemarin ia beli di microwave.

"Aah, ku harap ada yang punya nomor Jellal saat ini. Namun jika demikian…" Erza mulai membayangkan jika ia mempunyai nomor handphone Jellal, lalu berkenalan lebih jauh dengannya.

Erza menghembuskan nafas yang mengatakan seolah dia sudah bosan hidup. "Apa mungkin, aku bisa lebih dekat dengan Jellal?" tanyanya dalam hati.

"Cinta satu malam! Oh! Indahnya~

Cinta satu malam! Oh! Indahnya~"

"GYAA!" sesaat Erza berteriak kaget. Barulah mengingat bahwa itu nada dering dari telepon genggamnya. "Tunggu. Aku tidak pernah punya lagu menjijikan itu di handphone ku," pikirnya. "Sial, pasti ulah orang itu lagi!" decaknya kesal.

Ya, yang Erza maksud adalah Sho, adiknya yang sekarang sedang tidak di apartemen karena ia tinggal bersama kedua orangtua Erza—Makarov dan Porlyushca—di rumah mereka di tengah kota Fiore, sementara Erza yang sudah kuliah lebih memilih untuk tinggal sendiri di apartemen. Melatih kedisiplinan dan kemandirian katanya.

"Sho… Aku tidak akan mengampunimu" desis Erza mengerikan sambil mengangkat telpon tersebut, tanpa melihat terlebih dahulu siapa peneleponnya. Dan bodohnya, wanita itu mengira bahwa itu adalah adiknya, yang memang teramat usil dan setiap hari SELALU menelepon kakaknya itu.

"… Scarlet-san?" tanya si penelepon. Jelas itu bukan Sho. Suara pemuda blonde itu tidak sedewasa ini, apalagi menggunakan "—san"? Sebagaimana parah pun Sho mengerjai Erza, tidak mungkin dia memakai "—san".

Erza terdiam seribu bahasa. Panik.

"KYAAAA~!" Erza menjerit panik dan lalu langsung mematikan teleponnya, dan kembali terdiam seribu bahasa sementara tangannya masih membeku melihat layar handphonenya. Lalu perlahan jarinya dengan lincah mulai mengatur kembali nada deringnya yang tadinya "kacau".

"Jelas itu yang meneleponku adalah Jellal." Batinnya berteriak-teriak menyerukan yang tadi sempat membuatnya berteriak.

"Mikazuki no kimi yo kakureta mama de

Itsuka.. Koikogareta,

Itoshisa yo kimi yo utsuro—"

Nah, setelah ringtone ponselnya disetel-ulang, ternyata masih saja si penelepon itu menelponnya kembali.

"Scarlet-san?" tanya si penelepon. Jelas Erza mengetahui siapa pelakunya, Jellal.

"I-iya?" Erza tergagap. Jarang—bahkan tidak pernah wanita bersurai scarlet ini bergagap-ria seperti ini.

"Tadi kau kenapa? Apa kau baik-baik saja?" tanya si penelepon yang ternyata benar-benar adalah Jellal.

"…" Erza terdiam lagi, menelan ludah dan bersiap dicerca sedemikian rupa. "Ano, tadi itu saya pikir anda adalah adik saya, makanya saya bersikap seperti itu," kata Erza menerangkan situasinya tadi.

"Oh, begitu," balas Jellal yang terdengar sangat dewasa saat menjawab, dan tak terdengar marah sama-sekali. "kau tidak sakit 'kan, Scarlet?" tanyanya mengacu pada pokok pembahasan.

"Haha," Erza tertawa dibuat-buat. "Tidak kok," kata Erza.

Tapi hatiku sakit dan jantungku selalu berdebar tidak normal disaat aku melihatmu.

"Kau sudah makan?" tanyanya, mungkin pemuda bersurai baby blue itu mengkhawatirkan Erza, atau malah lebih dari itu? "Aku hanya tidak ingin kau sakit." Lanjutnya.

Erza sejenak terdiam, lagi, jantungnya berdebar serasa hormon adrenalinnya dipacu karena reaksi di dalam tubuhnya yang bernama "reaksi cinta" … "Sudah kok, sensei. Terima kasih sudah memperhatikanku,"

Jellal membalasnya sekenanya dan mengingatkan muridnya itu agar tidur lebih cepat dan tidak telat untuk kuliah besok, lalu mengucapkan selamat tidur.

"Ya Sensei, terimakasih atas perhatianmu," balas Erza lalu Jellal selaku si penelepon memutuskan sambungannya.

Erza tersenyum simpul sembari membuka pintu kaca yang tersambung dengan balkon apartemennya itu, lalu menikmati angin semilir yang serasa menghipnotis, melihat sang rembulan yang terlihat begitu dekat dengannya, membayangkan bahwa dirinya bisa bersama Jellal untuk besok dan selamanya. Mimpi menjadi kenyataan.

"Sebaiknya aku tidur" batinnya, lalu segera menutup kembali pintu kaca dengan desain minimalis itu rapat-rapat dan mengunci pintu kamarnya, lalu beranjak ke ranjang berukuran king-size itu dan mematikan lampu di sebelah ranjangnya itu yang menjadi sumber penerangan di kamar ini.

Tak berapa lama, Erza langsung terlelap—mungkin karena ia mengalami hari yang sangat melelahkan—wajahnya sangat polos, seolah tidak memiliki beban dalam hidup ini, parasnya yang cantik menawan itu tersenyum simpul dalam tidurnya yang indah, bibirnya yang merah menggumamkan kata-kata yang lama kelamaan menjadi jelas, "Jellal" katanya samar. Sayang tidak ada saksi hidup dalam adegan ini, yang ada hanya saksi bisu di kamarnya.

.

.

.

Kring…Kring…

Kring…Kring…

Tap!

Tak terasa, pagi sudah tiba, dan jam alarm Erza sudah membunyikan tanda bahwa dirinya harus bangun dan bersiap ke kampus.

"Hnngh…" Erza mengulat setelah mematikan alarm berbentuk balok berwarna biru tua itu yang berada di sisi ranjang.

Gadis itu lalu keluar menuju ruang makannya dan membuatkan kopi untuk dirinya sendiri.

Sambil menyesap white coffee yang ia buat, ia tersenyum tak jelas, lalu mengambil telepon wirelessyang berada di dekatnya; menekan nomor-nomor telepon yang merupakan nomor rumah orangtuanya.

Sudah sebuah rutinitas bahwa setiap pagi Erza harus menelepon orangtuanya—yang agak protective—untuk memberi tahu bahwa dirinya akan berangkat ke kampus, dan nanti di saat ia pulang kampus pun demikian—ia harus memberi tahu orangtuanya.

"Pagi ma," kata Erza menyapa Ibunya di seberang sana, Porlyushca namanya. Wanita paruh baya yang merupakan seorang dokter saraf itu pun membalas sapaan sang anak, "Selamat pagi."

"Aku akan berangkat ke kampus Ma, jaa ne!" kata Erza seperti yang selalu ia ucapkan setiap pagi.

"Itterashai," kata ibunya lagi. Dan pembicaraan antar Erza dan Porlyushca berakhir.

Telepon telah ditutup, demikian pula dengan cangkir kopi yang tadi Erza gunakan, kini cangkir kopi itu telah ia cuci dan letakkan di rak—tempat ia meletakan piring dan sebagainya—di dapur.

Si gadis Scarlet itu kini telah mengenakan sweater ungu muda favoritnya dengan kemeja putih polos dan rok kotak-kotak hitam-putih selutut yang terasa sangat kontras dikenakan olehnya, lalu ia mengambil tas yang biasa ia bawa ke kampus.

Setelah memastikan sudah mengunci pintunya, ia pun melangkah ke lift dan memencet tombol "Ground" pada liftnya.

.

.

Gadis itu kini sudah berada di luar lobby apartemennya, sambil menunggu tukang ojek bernama Jet yang sudah menjadi langganannya sejak tiga bulan lalu, ia pun memainkan handphonenya sejenak sambil sesekali melihat ke jalan raya.

Sebuah SMS dari nomor yang tak asing—walau baru dilihatnya sekali—masuk ke handphonenya. Dan sepertinya Erza tau siapa yang mengirimnya.

"Lihat ke arah kiri." Bunyi SMS itu.

Erza berharap bahwa SMS itu tidaklah salah kirim ataupun hanya SMS jahil, lalu ia pun menengok ke jalanan di sebelah kirinya.

"Yo, ayo naik!" kata pria yang sudah tidak asing lagi bagi Erza, Jellal Fernandez. Ia menepuk-nepuk jok belakang dari motor ninjanya yang kemarin malam ia gunakan untuk mengantar Erza ke rumah.

"T-tak usah repot-repot Sensei," kata Erza mencoba menolak dengan halus.

"Sudah, cepat naik saja kalau tak mau terlambat!" kata Jellal mendesak.

"O-ok."

"Hehe, ini permintaan maaf dariku." Kata Jellal.

"T-tak perlu kok, tapi baiklah, terimakasih." Kata Erza duduk di jok belakang. Wajahnya memerah karena dibuat tersipu oleh dosennya sendiri.

.

.

.

Owari

Murasaki: Hyaah~! Akhirnya selesai juga chapter 4 ~

All: KEMANA AJA LOE?!

Murasaki: Gue baru balik dari… Emmm… Dari liburan gue di Antartica. *alibi*

Murasaki: Gomene gak update sekian lama, saya sibuk di Antartica *hoi