Kalau kemarin KiBum mengabadikan pemandangan disekitar resort dengan kameranya tanpa ada objek. Sekarang giliran ia berfoto dengan panorama alam sebagai latar belakangnya. Jarang-jarang ia bisa sampai di pulau yang seperti surga ini.
Melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya sudah menunjukkan jam 12 lewat dan menandakan sudah waktunya ia makan siang, KiBum menyudahi acara berfoto solonya. Ia akan kembali melanjutkan kegiatan berfotonya setelah makan siang nanti.
Sambil memakai topi jerami yang sejak tadi tergantung di belakang punggungnya, KiBum berjalan menuju pintu keluar resort. Namun tiba-tiba tangisan anak kecil menghentikan langkahnya. KiBum mengikuti kemana asal suara tangisan itu, dan akhirnya mendapati seorang anak perempuan—yang kira-kira berusia 6 tahun—duduk di bawah pohon kelapa sambil menangis. Rambut hitam anak kecil itu terurai indah sebatas punggungnya dan mata hitamnya terlihat sembap karena menangis. Apa anak ini terpisah dari keluarganya saat bermain? KiBum bertanya dalam hati.
Merasa kasihan, didekatinya anak perempuan itu dan berjongkok agar bisa berbicara dengan nyaman. Anak kecil itu terus menangis dan bergeming meski KiBum sudah membujuknya untuk pergi ke receptionist—agar bisa menemukan keluarganya. KiBum yang pada dasarnya tidak bisa menenangkan atau pun membujuk anak kecil yang sedang menangis, nyaris putus asa dan berniat untuk pergi mencari bantuan lewat security.
"Yah, ternyata kau itu tidak pandang bulu ya kalau mengasari orang. Anak kecil pun kau buat menangis." SiWon tiba-tiba sudah berdiri di samping KiBum sambil menggeleng-geleng.
Terkejut. KiBum menoleh dan mendongak. Kedua matanya langsung memandang sengit. "Jangan asal menuduh! Aku tidak membuat anak kecil ini menangis!" serunya, sembari berdiri.
"Lalu kenapa anak kecil itu bisa menangis? Anak kecil tidak akan menangis kalau tidak ada seseorang yang membuatnya terluka. Dan hanya kau bersama dia di tempat ini." SiWon terus menuduh KiBum—yang jelas-jelas tidak melakukan apa-apa.
Merasa kalau dirinya akan terus dituduh, KiBum akhirnya mengalah, "Iya, aku yang membuat anak kecil ini menangis! Kau puas, huh?" dengan raut wajah kesal, KiBum berlalu meninggalkan SiWon dengan langkah menghentak-hentak.
SiWon terus mengikuti punggung itu hingga menghilang dari pandangannya. Kemudian ia menoleh dan menatap anak kecil di bawahnya yang sudah berhenti menangis. "Ayo, kakak temani kamu mencari Ayah dan Ibumu." SiWon mengulurkan tangan kanannya sambil tersenyum.
Anak kecil itu terdiam sesaat menatap tangan SiWon, sebelum ia meraihnya sambil mengangguk.
"Onii-san yang pergi tadi tidak membuat Rika menangis," kata anak kecil itu begitu SiWon berjalan sambil mengandeng satu tangannya. SiWon menoleh. "Rika terus menangis karena masih masih marah sama okaa-san."
SiWon mengangguk-angguk. Akhirnya mengerti situasi. Anak kecil ini ternyata tidak mengerti bahasa lain selain bahasa Jepang. Beruntung SiWon bisa mengerti bahasa Jepang karena hampir 2 tahun lebih pernah tinggal di sana. "Jangan menangis lagi, ya? Kakak pasti akan menemukan kedua orang tua, Rika-chan."
Anak kecil itu tersenyum. "Arigatou, onii-san."
_oOoOoOo_
Sambil mengetik text pada hyungnya, KiBum menyuapkan dessert yang dipesannya ke dalam mulut. Jika memikirkan masih ada waktu 5 hari lagi sebelum ia dijemput hyungnya untuk pulang bersama ke Seoul, KiBum bisa jadi gila. Serius.
Ini karena Choi brengsek itu yang selalu muncul dan merusak mood-nya. Kalau saja namja itu tidak ada di pulau ini, KiBum pasti betah berlama-lama di pulau ini. Maka dari itu, lebih baik sekarang ia mengabari hyungnya agar segera menjemputnya, atau dia sendiri yang akan pulang ke Seoul dan membeberkan rencana HeeChul—yang hanya ingin berlibur berdua dengan kekasih dari Cina-nya itu—pada kedua orang tuanya.
"Kau kenapa sih? Bukannya pulau Bora-bora itu sangat indah? Kenapa buru-buru mau pulang ke Seoul?" HeeChul akhirnya langsung menghubungi KiBum dan membombardirnya dengan pertanyaan.
"Pokoknya," KiBum berhenti sejenak untuk menelan potongan buah di dalam mulutnya. "Aku tidak mau tahu. Besok hyung harus menjemputku pulang atau aku sendiri yang akan pulang ke Seoul dan memberitahu semuanya pada appa dan umma," ancamnya.
"Yah! Yah! Kalau kau melakukan itu, aku tidak akan mengizinkan kekasihmu itu menginjak rumah kita lagi!" HeeChul balas mengancam di seberang telepon.
"Appa dan umma saja tidak pernah melarang kekasihku ke rumah. Kenapa hyung malah melarang?"
"Memangnya kenapa? Aku juga punya kuasa untuk melarang namja itu datang ke rumah."
KiBum mendengus begitu membayangkan diseberang sana HeeChul pasti tengah menjulurkan lidahnya. "Hyung diktator! Jika besok hyung tidak menjemputku kemari, aku serius akan langsung pulang ke Seoul!" katanya, lalu memutus pembicaraan secara sepihak. KiBum lalu mematikan teleponnya agar HeeChul tidak bisa menghubunginya. Pembalasan karena beberapa waktu yang lalu telepon darinya tidak diangkat-angkat.
Setelah meletakkan ponselnya di atas meja, KiBum kembali menyuapkan potongan-potongan buah dipiringnya ke dalam mulut.
"Boleh aku duduk di sini?" tanpa menunggu jawaban, SiWon duduk di kursi seberang meja, berhadapan dengan KiBum. KiBum yang tidak menduga kedatangan 'perusak mood-nya' langsung tersedak karena terkejut. SiWon sontak berdiri dan menepuk-nepuk punggung KiBum, kemudian mengulurkan air pada namja itu.
"Kau—" KiBum memandang sengit setelah pulih dari acara tersedaknya. "Kau pasti sengaja ingin membuat aku mati tersedak, kan?"
"Kenapa kau berpikiran begitu?" kedua alis SiWon mengerut. Nyaris terpancing kalau saja ia tidak ingat kedatangannya ke sini untuk berdamai dengan KiBum. "Ah, mian. Aku tidak ada maksud untuk membuat kau terkejut hingga tersedak seperti itu," ujarnya, sembari duduk berhadapan kembali dengan KiBum.
"Siapa yang mengizinkanmu duduk semeja denganku? Banyak meja kosong di tempat makan ini. Sana pindah!" usir KiBum dengan wajah kesal.
SiWon menarik napas panjang. "Aku kemari untuk minta maaf dan berdamai denganmu. Apa tindakanku salah?"
"Apa? Apa aku tidak salah dengar? Kau ingin berdamai denganku?" kedua alis KiBum terangkat tinggi-tinggi. SiWon mengangguk. "Bahkan meski kiamat datang pun aku tidak akan memaafkanmu!"
"Tuhan mengajarkan kita untuk saling memaafkan sesama manusia. Dan kenapa kau tidak bisa melakukan hal itu?"
"Kau—apa jiwa iblismu itu telah berubah menjadi seorang pastor?" KiBum menatap terkejut namja didepannya. Apa kepala namja ini baru saja terbentur sesuatu saat kemari? Ataukah ini kembarannya? Ah, mana mungkin! KiBum mengibaskan pertanyaan terakhir. Yang ia tahu—dari majalah yang dibacanya—Choi SiWon hanya memiliki satu adik perempuan dan bukannya kembaran.
"Aku minta maaf karena telah menuduhmu membuat anak kecil tadi menangis. Setelah aku berbicara dengan anak itu, dia ternyata tidak mengerti bahasa yang digunakan olehmu karena dia hanya mengerti bahasa Jepang," jeda sejenak. "Ya, beruntung aku bisa mengerti bahasa Jepang. Well, sebenarnya selain bahasa Jepang, aku juga menguasai dua bahasa lainnya, Inggris dan Mandarin."
"Dasar tukang pamer!" KiBum menggebrak meja dengan kedua telapak tangannya dan berdiri. Kemudian berlalu menuju pintu. SiWon menepuk dahinya dalam imajinatif—karena tanpa sadar memamerkan dirinya—sebelum akhirnya menyusul namja itu.
"Tunggu, ttalgi-ah!"
"What the!?" KiBum berbalik dengan raut wajahnya yang bertambah kesal. "Yah! Namaku bukan ttalgi!" bentaknya sambil mengarahkan jari telunjuknya di depan wajah SiWon. "Dan jangan mengikutiku, Choi brengsek!"
SiWon menghentikan langkahnya. Emosi yang ditahannya mati-matian akhirnya ikut meledak dan ia berteriak, "Namaku bukan Choi brengsek! Tapi Choi SiWon!"
"Terserah aku mau memanggilmu seperti apa!" KiBum balas berteriak sambil berlari pergi.
"Yah!"
"Yah!"
Alhasil keduanya saling berteriak dengan suku kata 'Yah!' sampai salah satu menghilang dari pandangan.
KiBum akhirnya berhenti berlari begitu ia melangkah ke dalam area resort. Berkali-kali ia menghapus peluh keringat di wajahnya—akibat berlari tadi—sambil berjalan. Merasa mendapat tempat sejuk, KiBum melepaskan topi jerami yang dipakainya dan duduk bersandar di salah satu batang pohon kelapa yang berdiri kokoh dipinggir pantai. Angin laut yang menerpa tubuhnya tampak memainkan rambut dan poni hitamnya. KiBum kembali menyalakan kameranya untuk melihat hasil foto-foto solonya tadi.
Setidaknya jika besok ia akan pulang ke Seoul, ia sudah berfoto dengan beberapa pemandangan indah di pulau ini. KiBum tersenyum sambil menggeser jarinya di layar kamera untuk melihat foto berikutnya. Jari telunjuknya yang akan menggeser foto berikutnya terurung begitu di fotonya juga menangkap dua sosok di belakangnya. Penasaran dengan dua sosok yang berdiri di salah satu bungalow—yang tidak sengaja terambil oleh kameranya—membuat KiBum menekan tombol zoom, hingga akhirnya dua sosok itu terlihat jelas. Kedua mata KiBum membelalak. Bukan karena dua sosok itu adalah hantu, melainkan karena dua sosok itu—kekasihnya sendiri, DongHae, sedang berciuman dengan seorang namja yang KiBum kenali hanyalah sebatas teman kekasihnya, EunHyuk.
"Jadi, ternyata text dari ShinDong-hyung yang kuterima di tempat makan tadi memang benar?" KiBum bertanya pada diri sendiri. Tidak menyangka selama ia menjalin hubungan dengan DongHae, kekasihnya itu juga menjalin hubungan dengan EunHyuk?
KiBum yang mengira DongHae mematikan teleponnya karena marah dirinya ditinggalkan sendiri di Seoul, ternyata sedang menghabiskan liburan musim panas di pulau Bora-bora ini? Bersama EunHyuk? Berduaan?
Dan kemudian, batang pohon kelapa yang sejak tadi menjadi tempat bersandar KiBum, menjadi korban pukulan bertubi-tubi namja itu.
_oOoOoOo_
SiWon menarik napas panjang dan menghembuskannya lewat mulut. Ia terus menerus melakukan hal itu sampai akhirnya capek sendiri. Sudah hampir tiga jam ia duduk bersandar di atas tempat tidurnya dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
"Aish!" SiWon mengacak-acak rambut hitamnya hingga berantakan. Kemudian menoleh dan menatap sang pengawal yang sejak tadi setia berdiri di samping pintu kamar. "Aku ingin keluar! Bosan sekali tinggal di dalam sini!"
"Maaf Tuan muda, tapi Tuan besar sudah memberi perintah kepada saya agar tidak mengizinkan anda pergi ke klub malam di pulau ini lagi," kata sang pengawal dengan nada suara tegas.
"Appa-ku sedang tidak ada di sini. Ia ada di Seoul sana!" SiWon mendengus. "Karena itu biarkan aku keluar sekarang!" bentaknya sambil menuju pintu. Sang pengawal dengan sigap langsung berdiri menghalangi pintu.
"Maaf, Tuan muda. Lebih baik anda kembali tidur saja."
"Kau bilang apa?" nada suara SiWon meninggi. "Kau bukan kedua orang tuaku! Jadi cepat menyingkir dari pintu!"
Namun sang pengawal bergeming. Karena perintah ayah SiWon selalu dipatuhinya. SiWon yang melihat itu akhirnya menggeram kesal.
"Terpaksa," SiWon tersenyum manis. "Aku harus menggunakan cara kasar, ya?"
Dan dengan tiba-tiba SiWon menyerang pengawalnya dengan taekwondo-nya. Sepuluh menit kemudian, pengawal itu akhirnya ambruk dibawah kaki SiWon. Senyuman dibibir SiWon semakin lebar, kemudian ia menyambar jaket kulitnya yang berwarna hitam dan berlari keluar dari bungalow-nya sambil berteriak, "I'm freedom…!" persis seperti tahanan yang berhasil kabur dari penjaranya.
Langkah kakinya yang berlari mulai melambat begitu menelusuri jalan keluar resort. Ekor matanya yang menangkap sosok seseorang yang tengah duduk di dekat pantai membuat langkahnya berhenti. Sepertinya ia merasa familiar dengan sosok itu—yang duduk membelakanginya. SiWon akhirnya berbalik arah dari tujuannya dan mendekati sosok itu dari belakang dengan langkah mengendap-endap tanpa sadar. Dan begitu ia telah berdiri disamping namja itu, SiWon akhirnya tahu bahwa instingnya benar.
"Yah, apa yang kau lakukan di sini?" SiWon bertanya, sembari berjongkok. Sosok itu tetap bergeming dengan posisinya yang menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya yang ia peluk dengan kedua lengannya. "Yah, ttalgi-ah." Jari telunjuk SiWon mengetuk-ngetuk bahu namja itu. "Ini sudah malam. Kalau kau ingin tidur, kembalilah ke bungalow—"
"Pergi!"
SiWon mengernyit. Sepertinya suara namja ini berubah, katanya dalam hati. "Kau kenapa, ttalgi-ah?"
"YAH! APA KAU TIDAK DENGAR? KUBILANG PERGI DARI SINI!" KiBum mengambil pasir putih di sekitarnya dengan kedua tangannya, kemudian melemparnya ke arah SiWon tanpa jeda. SiWon—yang tidak sempat menghindar—berusaha menghalau pasir yang dilemparkan KiBum dengan menyilangkan kedua lengannya di depan wajah, mencegah agar pasir itu tidak masuk ke dalam matanya.
Dengan napas terengah-engah, KiBum akhirnya berhenti melempar pasir. SiWon yang melihat kesempatan itu, segera menurunkan lengannya dan bersiap menyemburkan kekesalannya—karena sekarang rambut dan pakaiannya nyaris dipenuhi pasir yang dilemparkan KiBum. Bibir SiWon yang terbuka kembali mengatup begitu ia melihat sepasang mata itu terlihat sembap.
"Kau—" Kekesalan yang dirasakan SiWon seketika menguap hilang. Tanpa sadar ia mengulurkan tangan kanannya, berusaha menyentuh pipi putih itu. "—habis menangisi apa?"
KiBum menepis tangan itu dengan kasar sebelum menyentuh pipinya. Kemudian ia bergerak berdiri dan berlari pergi. SiWon baru tersadar semenit berikutnya. Wajah namja—yang habis menangis— itu seperti menghipnotisnya. Dan saat ia juga akan bergerak berdiri, kedua mata SiWon menangkap benda yang tergeletak di atas pasir.
"Apa kamera ini miliknya?" SiWon meraih benda itu sambil mengamatinya. Setelah membersihkan pasir-pasir ditubuhnya, SiWon menyalakan kamera di kedua tangannya. "Ternyata memang milik si ttalgi itu."
Tanpa seizin si pemilik benda, SiWon mulai melihat-lihat foto-foto di dalam kamera besar itu. Tidak percaya kalau KiBum bisa terlihat natural saat mengambil fotonya sendiri. Senyuman yang terukir di bibir semerah apel itu membuat SiWon terpana berkali-kali. Namja itu ternyata sangat manis jika tersenyum lepas seperti di foto ini.
Hingga akhirnya, begitu ia menggeser jarinya untuk melihat foto berikutnya, SiWon seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sosok yang sangat dikenalinya, tengah saling merangkul mesra sambil tersenyum lebar.
"DongHae…?"
Tbc
Updte asap ! :DD
Yg msh koar koar mna bukti.a mna ? :P
