My Sweet Devil
By, CN Scarlet
.
.
.
.
.
Vocaloid©Yamaha Corp
Dan semua karakter yang aku pinjam untuk cerita ini.
T+
.
.
.
.
Seharian.
Shion Kaito diajak berkeliling Dunia Peri dan dibuat memekik tak percaya. Ada banyak hal gaib, tidak masuk akal, indah, ajaib, dan sebagainya. Sekarang dia singgah di pinggir sungai berair manis dengan banyak ikan tuna berlompatan seperti lumba-lumba. Miku sedang masuk daerah yang hanya bisa dimasuki perempuan, katanya, mencari sehelai duri dari sebuah pohon yang dia lupa namanya.
Para makhluk aneh bersayap angsa, atau ada juga yang seperti kelelawar, beterbangan tiada henti diatas. Waktu sudah berlalu lama dan langit masih senja. Yang bisa dilakukan Kaito saat ini hanyalah mondar-mandir di pinggir sungai. Sangat bosan.
Entah kebetulan atau bukan, dia melihat seorang gadis aneh dengan rambut ungu ketika memandang ke arah kiri. Sedang bersandar nyaman di dahan pohon dengan kaki teruncang-uncang duduk di tebing, dikejauhan sana. Karena penasaran, Kaito menghampirinya.
Beberapa menit saja, dia bisa melihat sebuah tali pancing menyertainya. Rupanya si gadis sedang memancing ikan. Makin dekat, dia bisa melihat makin jelas. Ketika sudah berjarak semeter, Kaito meralat semua pikirannya tentang 'dia seorang gadis'.
Karena gadis tidak memiliki jakun, tentu saja.
"Oh, itu Kamui Gakupo, bukan?"
Yang dipanggil –si rambut ungu- menoleh dengan wajah merenggut, kemudian ceria melihat siapa gerangan yang datang. "Yo, Kaito-kun! Suka tempat ini?"
"Berhenti memanggilku dengan suara dibuat-buat begitu, itu membuatku merinding tahu!"
"Hahaha..." Kamui tertawa sampai pancingnya bergoyang-goyang. Shion Kaito duduk di sebelahnya sambil menghela nafas, hendak bertanya, tapi sesuatu yang melingkar di tangan kanan Kamui Gakupo menarik perhatiannya.
"Apa itu?"
"Hah? Oh ini," Kamui mengangkat lengannya, "dibuatkan Luka-chan, dari daun bunga kristal. Bagus bukan?"
"Oh.."
Kaito menatap ujung sepatunya yang seperti kaki santa. "Hei Kamui, kau tahu ini dimana?"
"Hm, kuyakin Miku-chan sudah cerita banyak. Kalian berkeliling, bukan?" Gakupo Kamui balik bertanya.
"Sulit dipercaya, maksudku, makhluk-makhluk apa yang tinggal di sini. Hatsune itu hanya cerita tentang peri dan benda-benda yang ada di sini, itu saja. Dia selalu diam ketika kutanyai tentang makhluk bersayap yang seukuran manusia."
Gakupo Kamui melirik Shion Kaito, kemudian fokus kembali pada kail pancingnya. "Aku bisa menjelaskannya padamu. Err, ngomong-ngomong, dimana Miku?"
"Dia pergi ke daerah terlarang, yang hanya boleh dimasuki perempuan."
"Oh, Luka-chan juga!" kata Kamui antusias, seperti hendak mengalihkan pembicaraan, tapi langsung urung begitu melihat deathglare dari Kaito. "Baiklah, baiklah. Aku akan cerita..
Ini adalah dunia peri. Para peri berbagai talenta serta keajaiban lain yang belum pernah kau lihat ada di sini. Selain itu, hidup pula makhluk lain yang seukuran manusia, mereka punya keajaiban juga. Angel dan devil. Kekuatan dan peraturan mereka saling berkebalikan.
Setiap angel memiliki sayap putih dan berbulu seperti angsa, atau merpati, dengan kekuatan luar biasa dalam tubuhnya. Devil dengan sayap hitam tanpa bulu, seperti makhluk noktural, tidak punya kekuatan murni dalam tubuhnya.
"Mengerikan!" getir Gakupo, setengah berbisik, melanjutkan, "kudengar dari beberapa yang kukenal, mereka mengambil kekuatan dari luar untuk mempertahankan diri." jelasnya. Sayangnya Kaito kurang paham maksud dari penjelasan padat yang keluar dari mulut Kamui.
"Maksudmu?"
"Mereka mengambil kekuatan orang dan merubahnya jadi energinya sendiri. Singkatnya. Yah, kau tahu cerita vamvire?"Kaito bergidik ngeri, Kamui menambahkan lagi, "Oh, sayangnya darah tidak membuat devil kembali segar. Kata Luka-chan, mereka biasanya mengambil kenangan targetnya dengan sedikit sentuhan badan."
Kaito membeo, Gakupo Kamui memproses kembali apa yang barusan dia ucapkan. Agak ambigu. Berdeham membersihkan kerongkongan yang tak gatal, berucap memperjelas. "... maksudku bukan 'sentuhan' yang itu, tapi yang ringan saja. Seperti sentuhan tangan. Atau..."
"Ciuman?"
"Tepat!... ah, pancinganku goyang."
Gakupo berdiri untuk mendapatkan lebih banyak tenaga. Ikan tuna ini bukan ikan biasa, besar dan luar biasa tenaganya. Kaito membantu menarik sekuat tenaga alat pancing itu, bersama Kamui, dan mereka nyaris jatuh kebawah. Ikan itu melompat sendiri ke pangkuan si rambut ungu setelah lima menit bergulat.
"Kurasa ini cukup, ayo!"
Shion Kaito dan Gakupo Kamui berjalan beriringan dengan seperangkat alat pancing di tas, dan tiga ekor ikan besar-besar. Tepat di dekat sebuah batu besar berkilauan, mereka berpisah. Pria ungu itu pergi ke arah depan. Megurine Luka menunggu di sana.
"Oh ya, Kamui, aku nyaris lupa!" sentak Kaito, pria berambut ungu mirip perempuan itu menoleh.
"Apa?"
"Kau itu, masuk yang mana?"
Kamui mengerti pertanyaan Kaito, masih membahas tentang dua jenis makhluk seukuran manusia di dunia peri. Dia tertawa seakan pertanyaan si ketua osis Voca High itu lelucon terlucu di dunia. Sampai butiran bening mengintip dari sudut matanya.
"Kalau kau punya sayap, maka aku juga. Ahaha... dasar bodoh!"
.
.
.
Kaito duduk beberapa saat di bawah rimbunya pepohonan beraroma harum. Melihat kadang ada beberapa makhluk melintas diatas kepalanya, masih memikirkan apa maksud ucapan Kamui yang terdengar main-main, rasanya otak dibalik rambut biru itu menumpul.
Tap,tap..
Suara seseorang berlari mendekat terdengar melalui getaran di tanah, lelaki bersurai azure itu menoleh, mendapati gadis bersurai tosca dengan kuncir kembarnya membungkuk-bungkuk kelelahan. "Miku, baru selesai?"
"Aku mencarimu kemana-mana!" teriaknya, kesal sekali.
Kaito terbelalak sekejap namun dia berhasil menguasai dirinya kembali. Ini baru pertama kalinya melihat Hatsune Miku seperti itu, menampakkan raut kesal, khawatir, gelisah, juga mau menangis. Dia hendak meminta maaf saat kemudian tiba-tiba saja gadis itu menubruknya.
Memeluk Kaito.
"M-Mi..."
Gadis berhelaian tosca itu menarik nafas pelan sebelum melepaskan pelukan eratnya pada si rambut biru. Dia mendongkak, tersenyum sambil bilang "Gomenne, aku hanya..."
Wajah Shion berambut azure itu memerah samar, namun kemudian dia tersadar satu hal. Tempatnya menapak kini berbeda dengan beberapa menit yang lalu. Tidak ada sungai berair manis, batu bermanik kristal dan pepohonan ajaib. Ini adalah lembah lavender di depan pondokan ebony tempatnya si Hatsune.
" ..."
" Ayo! aku harus segera menyelesaikan sesuatu!"
Kaito masih linglung. Diam saja saat Miku menariknya menyebrangi lembah, menyibak bunga-bunga, menaiki sepuluh tangga kayu dan memasuki pondokan itu. Pintunya terbuka dan menutup sendiri, dengan bunyi 'cring..' lonceng yang merdu.
Masih dalam pakaian berwarna putih-ungu Kamui Gakupo yang sedikit longgar di badannya, Kaito mengikuti Miku menuju ruangan di sisi lain yang belum pernah dia masuki. Ruangan itu nyaris seperti kamar Miku, tanpa ranjang tentunya, dengan tiga lemari besar dan rak besar berisi buku-buku tak lazim. Ada yang bergigi dan mendengkur, kemudian yang berusaha mengepak, yang dikelilingi angin, dan sebagainya.
Buku berderit tergeletak di meja. Tertutup dengan sampul bertuliskan 'Ramuan Manjur dari Bahan Ajaib oleh Nene', terus mengembung dan mengempis seperti bernafas, kadang juga terbatuk, membuat si rambut azure menyernyit. Miku terbahak-bahak melihatnya.
"Buku ini sudah tua, kalau berdebu biasanya sampai bersin-bersin." komentarnya, seakan-akan buku yang bersin itu wajar, "ah ya, tolong ambilkan beberapa tabung uji dan kuali biasa di lemari sebelah kiri. Jangan buka rak atas, ya! ada sumpit dan teko yang bisa menggigit.."lanjut Miku sambil membelai sayang buku aneh di meja.
Kaito berjalan menuju lemari yang dimaksud perempuan itu, mengeluarkan isinya, dan membawanya ke tengah meja. Sebuah kuali tembaga yang bersih mengkilau, dua buah tabung uji dari kaca yang tidak biasa, tiga gelas berbagai ukuran, dan sebuah sendok dengan dua sisi cekung berbeda ukuran.
"Mau buat apa sih?" tanya si rambut azure kepo pada Miku yang serius sekali pada bukunya. Ada berbagai bentuk terukir di sana dengan tinta berbagai warna, yang, Kaito yakin itu resep sekalipun dia tidak bisa membacanya.
"Ada deh.."
::
Kagome..kagome..
Seorang gadis dengan gakuran musim panas Voca High berjalan angkuh di lorong gelap gang sempit yang memisahkan caffe dan supermarket. Jalanan itu selalu ramai, terutama malam. Tapi tidak dengan sudut-sudut kelamnya. Gadis itu menghela nafas dan tersenyum.
Burung dalam sangkar... kapan, kapan kau akan bebas?
"Meow!..." seekor kucing kumal melompat dan berlari menjauh, saat si gadis berambut coklat pendek itu berbelok. Menghampiri sekumpulan anak jalanan yang sedang bermain judi liar. Beberapa kaleng sake yang masih utuh maupun sudah diminum nampak berserakan, dan asap roko menambah suram suasana.
Tap.. tap...
Seorang anak jalanan kumal berambut pirang, bertindik, dan lumayan tampan menoleh menyadari kehadirang si gadis bruttene. "Ah, beraninya kau kemari. Gadis manis!" katanya, menarik banyak perhatian teman-temannya yang berpenampilan aneh.
"Uoh, seksinya..." komentar salah satunya, menatap tidak senonoh.
Si gadis mengangkat salah satu sudut bibirnya, memperlihatkan seringai mengerikan dengan tatapan mata menyala menyeramkan. Tapi karena dibawah pengaruh alkohol. Para berandal itu tentu tidak merasa gentar dan malah bernafsu menghampirinya.
ZRASH!...
Pada malam gelap, bangau dan penyu tergelincir!
"Ah..." si rambut kuning kehilangan suara saat sesuatu yang cepat menikam hatinya. Tak ada darah setetespun, bahkan bekasnya pun tidak. Satu persatu dari berandal-berandal itu tumbang kehilangan nyawanya dengan cara yang sama. Jiwa mereka seakan terhisap dalam lubang hitam.
"Terimakasih untuk sake-nya..." ucap sang gadis, melangkah melewati gundukan mayat itu. Memungut sebuah sake kalengan yang masih utuh dan meminumnya sambil berjalan keluar gang melalui jalur lain. Seakan tak ada yang terjadi.
"Isshoume shounen da-re?"
::
TBC
A/N :
Minna-san, gomenne ya aku hiatusnya panjang banget. Kangen ya? ahahaha... iya sama, aku juga kangen sama kalian semua. Dilihat dari review kalian ya, duh, antara seneng dan pesimis. Kayaknya bacotan author lebih menarik daripada story-nya -_-" #hiksss
Btw...
Makasih ya buat yg udah pada setia baca cerita ini dari awal. Selamat datang juga buat yg baru nemu, secching-secching. Wkwkwk.. kalo ada yg kepo lagi ngapain ane, ta kasih bocoran nih.
Hari ini, rabu tanggal 19 tahun ayam api ini aku posting di Studio STMIK Radio Style Connection. Terjebak hujan, disamping sekumpulan senpai-senpai yang lagi maen poker. Nice day, right?
Mind to review?
See you next chapter!
CN_Scarlet
