-Sehun Pov-

Ku teringat akan suatu hal yang mengganjal pikiranku, ah.. apa ya? Hmm.. suatu yang berbentuk kotak, ah.. ah aku INGAT kotak hadiah untuk Luhan-hyung. Ini tanggal berapa, ah pabo-ya.. pabo.. aku melihat kalender di hpku saat ini. OMO? Tanggal 25? Sudah lewat beberapa hari. Ah,, Mian hyung.. Aku lupa. Dengan sigap aku mengambil jaketku dan memasang topi, aku meninggalkan Rumah Sakit tanpa sepengetahuan Jo-ajusshi. Berlari dan berlari hanya itu yang bisa kulakukan sekarang, walau tubuh ini rasanya bisa ambruk kapan saja, aku tetap bersemangat untuk memberikan kado ini kepada Luhan-hyung.

-Luhan Pov-

Tok.. Tok.. Tok..

"Luhan-ssi, Bolehkah aku masuk?" Terdengar suara Xiumin, sekretarisku dari luar ruangan didiringi ketukan pintu.

"Ne.. Masuklah!" Balasku.

Setelah kuperintahkan padanya untuk segera masuk, kulihat ia berjalan mendekatiku sambil membawa sebuah kotak berwarna biru dengan hiasan pita merah diatasnya. Kemudian ditaruhnya kotak itu tepat diatas meja sehingga aku bisa melihat benda itu secara utuh.

"Apa ini?"

"Mollayo, Luhan-ssi. Aku hanya menerima kotak ini dari jasa pengantar paket." Sahutnya yakin.

"Jadi begitu.. Bila tak ada lagi yang ingin kau sampaikan silahkan tinggalkan ruangan ini" perintah Luhan.

"Ne, sajangmin." Sahut Xiumin patuh lalu meninggalkan ruangan Luhan dan tinggallah Luhan sendiri di ruangan itu.

Sejenak aku berpikir, sepertinya aku pernah melihat kotak ini. Tapi, dimana? Ketika ku raih kotak ini dan berada di genggaman tanganku, aku terkejut karena teringat dimana kotak ini aku pernah melihatnya. Apalagi ketika kulihat ada noda darah dibagian atas tutup kotak ini, meyakinkanku bahwa ini adalah pemberian darinya.

Pita yang mengikat disekeliling kotak itu, kutarik perlahan hingga terlepas dan saat kubuka sekejap air mataku mulai tertumpuk dipelupuk mataku seakan siap untuk mengalir. Sungguh tak ku sangka dongsaeng yang selama ini selalu kubenci, justru ialah yang pertama kali memberiku hadiah ulang tahun yang begitu kuharapkan walau sebetulnya ulang tahunku sudah lewat beberapa hari.

Saengil chukhahamnida…

.

Tanpa nama ataupun kata-kata lainnya, hanya itulah yang tertulis dikartu ucapan yang tergantung ditengah-tengah handphone saat ini. Aku terdiam sejenak… Dan merasa bahwa aku adalah hyung terkejam yang pernah ada. Bagaimana bisa aku memperlakukannya seperti itu selama ini? Teringat juga ia setiap pagi selalu berdiri di depan perusahaan sambil membentuk lambang hati dengan tangannya walaupun aku tidak tahu apa yang ia ucapkan.

"Luhan-ah…! Apa kau di dalam?" ujar Kris-hyung membuyarkan lamunanku dan dengan terburu-buru aku pun segera memasukkan kembali headphone itu kedalam kotaknya dan bermaksud untuk menyembunyikannya. Sialnya, belum sempat kulakukan, Kris-hyung sudah berada di depanku dan melihat kotak yang saat ini kupegang.

.

"Itu apa Luhan-ssi?"

"Oh.. Ini?" Jawabku gugup.

"Itu kotak hadiah kan? Dari siapa?... Ohhh, dari anak brengsek itu yah?" Ungkap Kris sinis.

"…." Terdiam tanpa kata.

"Sekarang selain suho, APA KAU MULAI MENARUH SIMPATI PADA ANAK SIALAN ITU? VIRUS APA YANG TERJANGKIT PADA KALIAN, SEHINGGA KALIAN SEPERTI INI?"

"CUKUP KRISS, KAU SUDAH KETERLALUAN!"

"OH, SEKARANG KAU MULAI BERANI MEMBENTAKKU YA? Geurae, kalo itu memang maumu, tapi bila kau ingin berada dipihaknya silahkan tinggalkan rumah dan jangan mengharapkan sepeser pun harta keluarga kita, Arra?." Tersenyum sinis.

"Sekarang apa yang akan kau pilih, Luhan? Kau masih ingin tinggal disini, bukan? Oh ne, aku akan menyuruh Jo-ajusshi untuk menjagamu agar kau tidak mendekati anak itu ataupun menyentuh kamarnya. Jika kau BERANI! Kau akan tahu resiko yang pantas bagi dirimu!"

Luhan benar-benar tidak bisa berkutik sehingga ia hanya bisa menuruti keegoisan Kris dan menuruti apa saja yang Kris perintahkan, karena jika TIDAK Luhan takut jika Sehun nanti akan menghadapi Kris seorang diri tanpa dirinya.

"Kurasa pembicaraan ini tidak ada gunanya, hanya membuang-buang waktuku saja." Menuju pintu…

"Mian Sehun-ah…" Batin Luhan.

.

-Luhan pov-

Beberapa hari telah berlalu semenjak kejadian itu, aku tetap tidak bisa tinggal diam setelah tau tentang penyakit yang diderita Sehun dari Jo-ajusshi, aku memberanikan diri masuk kekamarnya yang sekian lama tak kujumpai. Kubuka pintu kamarnya, lalu kututup perlahan agar tak ada yang menyadarinya. Kini ku berada di kamar Sehun, ruangan ini sangat sepi hanya ada seseorang didalamnya yang sedang terkulai lemas diatas ranjang. Air mataku tak sengaja tumpah, dengan sigap aku menghapusnya dan menuju ranjang Sehun.

Wajahnya yang sedang tertidur memperjelas bentuk wajahnya yang kini mengurus. Tulang pipinya Nampak menghiasi wajah Sehun saat ini. Mataku yang semula mengering dipenuhi deraian air mata. Kulihat keningnya tiba-tiba saja berkerut, membuatku cemas dan mencoba untuk mendekatinya.

"Hun-ah, apa kau bermimpi buruk?" Sahutku pelan.

"Mianhae Sehun-ah, Jeongmal.. selama ini kau pasti telah melalui kesedihan dan kesulitan seorang diri. Aku memang hyung yang bodoh, karna tak bisa berada disampingmu untuk berbagi rasa sakit, sedih ataupun sepi bersama. Jeongmal Mianhae Sehun.."

"Hun, sungguhkah kau akan menyusul eomma dan appa? Benarkah kau juga akan meninggalkan kami? Anni, meninggalkan ku?"

"Tuhan, mengapa bukan aku saja yang terkena penyakit itu? Aku bukanlah orang yang dipenuhi rasa syukur seperti dongsaengku ini. Aku tak pernah mengucapkan kata maaf pada seseorang saat aku melakukan sebuah kesalahan. Seharusnya aku yang menerima itu semua.." Isak tangisku makin lama semakin meledak sehingga aku harus membekap mulutku dengan tangan agar tak terdengar sampai luar.

Dengan hati yang diselimuti rasa bersalah aku pergi meninggalkan kamar Sehun. Sebenarnya, aku ingin berlama-lama disana. Namun aku tak sanggup bila melihat keadaannya seperti ini, air mataku akan jatuh dengan mudahnya.

Saat menuruni anak tangga, langkahku terhenti seketika saat aku mendapati Kris-hyung berdiri tepat dilantai dasar. Tatapan yang menusuk membuatku tertunduk diam tanpa kata. Jo-ajusshi yang datang menghampiriku pun langsung terkejut ketika melihatku berdiri ditengah-tengah anak tangga.

"Luhan, DARIMANA KAU?"

Aku hanya diam, bohong pun ku rasa percuma.

"KAU BARU SAJA DARI KAMAR ANAK ITU, HAH?"

Aku masih diam tanpa kata.

"Maaf tuan muda. Aku yang mengizinkan Luhan-ssi untuk kekamar Sehun. Kurasa ia perlu melihat kondisi dongsaengnya itu." Ucap ajusshi berbohong untuk melindungiku.

"AJUSSHI…" Ucapku berusaha mencegah.

"Tuan muda ini keslahan saya. Maaf,, tuan muda..!" sambil membungkukkan badannya.

"YAA, KENAPA KAU LANCANG SEKALI? AJUSSHI MULAI SAAT INI KAU KUPECAT!" Bentak Kris marah.

"Hyung, kumohon jangan pecat dia, ini kesalahanku, aku yang.." belum selesai aku berbicara Kris-hyung kembali membentak kami.

"JANGAN BERANI MEMUTAR BALIKKAN CERITA LUHAN!"

"Hyung-ah, aku mohon untuk sekali ini saja. Kita mulai segalanya dari awal. Apa kau tidak tega melihat Sehun teru-terusan menderita?! Dimana hati nuranimu hyung?" Ujarku namun kali ini aku terang-terangan membela Sehun.

"Aku? Mengasihani anak sialan itu? Anni,, anak pembunuh itu? Cihh, untuk dia aku memang tidak punya hati nurani, tapi satu hal yang harus kau ketahui aku bukanlah anak pembunuh seperti dia."

"Kris-hyung.."

Terdengar suara parau lemah dari lantai atas hingga membuat kami menoleh keasal suara itu. Ketika tahu siapa itu, aku meringis sedih saat melihat Sehun berusaha menuruni anak tangga satu persatu sambil memegangi pinggiran tangga. Seketika ajusshi lalu menghampiri Sehun bermaksud untuk membantunya, namun sehun menolak.

"Aku bisa sendiri Ajusshi" Ucapnya sambil tersenyum tipis.

Saat tiba dilantai dasar, Sehun berdiri tepat didepan Kris yang sedari tadi memasang wajah angkuhnya. Dan dengan wajah yang pucat sehun pun berkata,

"Jebal… Hyung. Jangan pecat Jo-ajusshi.. Jebal.. Jika akulah penyebab semua masalah ini, maka kau seharusnya menghukumku. Kau bisa saja mengusirku dari rumah ini semaumu atau kau mau menungguku mati dirumah ini? Kau tidak perlu bersusah payah untuk terus menjauhiku karena tidak akan lama lagi aku akan pergi tanpa menganggu hidup kalian kelak."

Kulihat kali ini Sehun tidak menangis, namun ia malah tersenyum lebar dihadapan Kris. Justru akulah yang menangis begitu saja setelah mendengar perkataannya.

"Geurae, kalo memang itu maumu. Aku akan membiarkan Jo-ajusshi berada disini, karena kau juga tidak ingin disusahkan untuk merawat orang sepertimu. Dan janjimu untuk segera pergi, akan selalu ku nanti.."

Setelah mendengar perkataan Kris hyung yang kejam Sehun kembali kekamarnya hingga kami tak dapat lagi melihat sosoknya.

.

-Sehun Pov-

Hanya kamar ini dunia kecil yang aku miliki, sudah berbulan-bulan tempat ini menjadi tumpuan hidupku. Belum lagi selang infus yang menghiasi hari-hariku, yang menusuk urat-urat nadiku hingga membuatku merasa tak nyaman.

Aku juga sudah tidak bisa melakukan berbagai akitifitas yang dulu kujalani: seperti berlari menuju halte bus, menuju perusahaan kedua hyungdeulku sambil mengatakan SARANGHAE, bersekolah, dan bermain bersama princess. Sekarang aku hanya bisa duduk didepan jendela sambil menatapi pemandangan diluar.

"Sehun,, Sudah waktunya aku mengganti selang infusmu." Ucap Lay-hyung.

"Lay-hyung, sampai kapan aku harus seperti ini?" . namun tak ada respon darinya, aku kembali bertanya pada ajusshi,

"Ajusshi,, sampai kapan aku harus seperti ini?" Tanyaku rengek.

"Sampai kau sembuh tuan?" jawabnya santai.

"MWO?!... Ajusshi!" Jawabku kesal.

Selama ini Lay-hyung benar-benar memberikan perhatian penuh padaku, begitu pula dengan Ajusshi. Karena aku menolak saran mereka untuk rawat inap di Rumah Sakit. Mereka selau mengingatkanku untuk minum obat, namun rasanya percuma saja. Mereka juga membantuku berjalan ke kamar mandi atau hal-hal lainnya yang tidak mungkin untuk kulakukan.

"Tuan muda, aku mempunyai berita baik. Seseorang ingin menemuimu.."

"Mwo? Nugu, Nuguya?" Jawabku senang.

"Annyeong Sehun-ah, hmm.. kau tampak kurus sekarang." Kata seorang namja yang perlahan mendekatiku.

Ketika mendengar suaranya aku pun menoleh kearahnya dan tersenyum lebar saat mengetahui siapa sosok namja itu.

Ne.. dia adalah sepupuku dari pihak ayah. Ia sudah sejak kecil berada di Paris, sehingga agak sulit untuk mengingat wajahnya sekarang. Hanya suaranya saja yang membuat aku mengetahui siapa orang tersebut. Dan aku memanggilnya D.O-hyung.

"Kau,, tampak kurus Sehun-ah" terlintas sebuah senyuman hangat dibibirnya.

"Hahh? Gwaenchanna hyung. Oh ya, bagaimana keadaan samchon (paman: adik/kakak kandung dari pihak ibu/ayah) dan imo (bibi: adik/kakak kandung dari pihak ibu/ayah) disana, mereka baik-baik sajakan?" Balasku sambil melepas kerinduan.

"Mereka baik-baik saja hun. Bagaimana kau dengan hyung-hyungmu. Apakah mereka memperlakukanmu dengan baik?" Sahutnya penasaran.

"Hyungdeul? Ah,, mereka semuanya baik padaku.." jawabku gugup dan sedikit berbohong.

"Jinjja? Oh iya, bisakah kalian meninggalkan kami berdua sebentar?" Ujarnya sambil menoleh kearah ajusshi dan Lay-hyung bergantian. Akhirnya Lay-hyung dan ajusshi meninggalkan kamar ini dan menyisahkan kami berdua.

"Sehun-ah, aku ingin menanyakan hal ini sekali lagi. Apakah para hyungmu memperlakukanmu dengan baik?" Jawabnya dengan nada yang terkesan memaksa.

"Ne, hyung.." Jawabku bohong.

"Apa kau tidak berbohong Sehun?"

"Anni.. mereka memperlakukanku sangaaat baik. Mereka begitu memperhatikanku. Apalagi setelah mereka mengetahui aku yang sedang sakit, mereka selalu menyempatkan diri untuk menanyakan keadaanku pada ajusshi."

"Jinjja?" Jawabnya agak heran.

"Ne.. hyung. Kapan sih aku berbohong padamu?"

Mianhae, aku berbohong padamu. Dulu memang hanya kau yang paling tahu, ketika aku berbohong. Tapi sekarang, setiap hari pun aku harus menjalani hidup dengan senyuman palsu dan membuatku terbiasa untuk menyembunyikan kesedihan-kesedihan yang lainnya.

"Jika memang seperti itu maka aku pun bahagia Sehun. Tapi maukah kau ikut bersamaku kembali ke Paris?"

"MWO?!" Jawabku terkejut.

"Neo gwaenchannayo?"

D.O hyung terlihat begitu panik melihat kondisi ku seperti ini dan tak lama kemudian darah pun lagi-lagi mengalir disertai sakit dikepalaku. Hingga membuat tubuhku terkulai lemas.

"Ya.. Sehun-ah, hi..hidungmu, Dokter Zhang,, ajusshi…" panggilnya panik

Ajusshi beserta Lay-hyung pun datang dengan segera. Mereka yang baru tiba pun sama paniknya dengan D.O-hyung, ini yang membuat aku tidak nyaman karena ini terasa seperti membebani mereka. Tak terasa air mataku pun jatuh perlahan.

"Apa kita tidak perlu membawanya ke Rumah Sakit?" Tanya D.O-hyung

"Percuma saja, sehun paling tidak suka bila ia dibawa kerumah sakit." Sahut Lay-hyung.

"Haissh, bocah ini. Kau keras kepala, tak pernah berubah." Raut wajah D.O-hyung yang terlihat cemas namun bercampur kesal disaat yang bersamaan saat menatapku.

.

-D.O Pov-

Tok.. Tok.. Tok..

"Hyung, bolehkah aku masuk?" ucapku sambil mengetuk pintu ruang kerja dari Kris hyung.

"Masuklah.."

Saat diizinkan masuk, perlahan aku buka pintu besar ini ku dapati Kris hyung sedang sibuk mengerjakan berkas-berkas yang sedikit tertumpuk. Tidak sedikitpun ia menatapku sejak kedatanganku diruangan ini karena mungkin berkas-berkasnya lebih penting disbanding kehadiranku.

"Bagaimana perusahaan di Paris? Apa samchon melakukannyadengan baik?" sahutnya namun ia masih belum menatapku.

"Baik hyung.. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya.."

"OK.. D.O-ah katakana saja apa yang membuatmu jauh-jauh datang kembali ke Seoul? Kalau kau kesini hanya untuk mencampuri urusan keluarga kami. Lebih baik kau jalani perusahaan Appaku dengan baik disana. Sebaiknya kau pulang sekarang."

"Ne?" Berbeda dari yang Sehun katakan padaku tadi bahwa mereka telah berubah. Justru mereka lebih parah dibandingkan sebelumnya karena ucapannya barusan secara tidak langsung telah mengusirku.

"Hyung! Darimana kau belajar kata-kata seperti itu?"

"Wae? Apa kau tersinggung?"

"Nan? Ne, Paboya.. Bagaimana bisa dengan mudahnya aku percaya pada ucapan Sehun bahwa kalian telah berubah? Belum ada 30 menit aku berbicara denganmu, emosiku rasanya mau meledak-ledak. Bagaimana dengan dongsaeng kalian selama bertahun-tahun ini?"

"Apa kau sudah selesai bicara? Kau hanya membuang waktumu percuma disini" Sahutnya yang semakin dingin menatapku.

"Dengan sikap hyung yang seperti ini, menyakinkanku untuk membawa Sehun pergi ke Paris!" Ucapku langsung tanpa basa-basi.

"Membawanya? Silahkan, bawalah ia pergi bersamamu. Aku tak ingin direpotkan hanya untuk mengurus pemakaman anak sial itu.."

"HYUNG!"

"WAE? Apa kata-kataku barusan salah? Bukannya anak sialan itu tidak punya harapan hidup lagi, bukan?"

"MWO?"

"Kalau kedatanganmu hanya untuk membicarakan hal-hal yang tak penting saja sebaiknya kau kembali saja. Jangan lupa untuk membawa pergi anak sial itu dan jangan pernah kembali lagi walau ia sudah meninggal, Arrasseo?"

"Hyung! Kau sudah keterlauan! Kau sekarang lebih rendah dari sampah hyung.. Kau menyakiti keluargamu sendiri.."

"YA KYUNGSOO.. JAGA UCAPANMU!"

"Bagaimana denganmu hyung? Apa yang tadi barusan kau katakan bisakah itu disebut manusia, hah?"

"KAU.. KAU SADAR APA YANG TERJADI BILA KAU BERURUSAN DENGANKU?"

"Wae? Apa hyung akan menendang keluargaku dari perusahaan Siwon samchon? Itu tidak mungkin hyung, karna Appa memegang saham 47% diperusahaan itu. Apa hyung tetap akan menendang kami keluar?

"Kau…"

"Hyung, Apa kau tidak sadar. Kau juga seorang pembunuh, apa kau melupakan sesuatu?"

BRAKK

Kris hyung berdiri sambil menghentakkan meja. Akan tetapi tidak membuat nyaliku menciut. Justru aku akan terus membela Sehun.

"Pembunuh? Apa maksudmu? JANGAN SAMAKAN AKU DENGAN ANAK ITU!" emosinya semakin meledak-ledak.

"Apa kau lupa kejadian yang telah menimpa sehun saat ia berumur 13 tahun? Kau yang membuatnya koma. Kau pula yang membuatnya memiliki phobia akan gelap, hujan, dan petir. Dan sekarang kau tahu? Penyakit yang ia derita itu dikarenakan timbulnya phobia yang ia alami saat berumur 13 tahun. Sehun memang tidak langsung meninggal, tapi ia akan pergi meninggalkan kami, itu semua karenamu hyung. Bukankah kejadian itu sama persis yang menimpa samchon dan imo Choi? Bukankah itu namanya egois?"

Ucapanku barusan membuat Kris hyung terhenyak diam dan masih menatapku dengan wajah angkuhnya seakan tidak memperdulikan ucapanku tadi.

"Apa Sehun membencimu karna ini? Apa dia pernah menyalahkanmu, memarahimu? Anni.. Dia bahkan tidak pernah mengungkit kejadian itu.. Hyung seharusnya kau menjaga dongsaeng mu itu, bukannya malah kau sia-siakan dia dan mencampakkannya.."

"Sesuai perjanjian kita tadi hyung, aku akan membawanya pergi ke Paris. Dan aku akan memegang janjimu hyung, aku tidak akan mengembalikan dia ke Seoul.. Tidak, tidak ke rumah ini lagi."

"KELUAR KAU KYUNGSOO, KAU SANGAT CEREWET.. AKU MUAK!"

"Mian hyung kalo aku telah membuatmu marah dan membuang waktumu." Aku membungkukkan badanku, berjalan menuju pintu dan menutupnya.

"Ku pastikan kau akan menyesal hyung…" batin ku.

.

-Senna Pov-

Dengan kedua tangan yang membawa sekeranjang buah-buahan. Aku berlari kecil menuju kamar Sehun. Langkah kakiku yang amat cepat tak terasa sampai didepan pintu kamar Sehun. Kubuka pintu kamarnya, suaranya berdecit dan setelah itu kututup pintunya perlahan.

"Hun, kubawakan buah-buahan yang manis dan segar hanya untukmu.." kusinggungkan senyuman dibibirku dengan manisnya.

"Eoh, gomawo tapi,, mian princess.. Aku sedang tidak berselera untuk makan apapun.."

"Ne, arraseo" Tampak sedikit kekecewaan terlintas dibenakku.

"2 bulan lagi akan ada ujian akhir.. Dan aku masih membayangkan bahwa kau akan ikut ujian itu.." Ujarku sambil memakan apel yang aku beli sendiri tadi.

"Maka dari itu kau harus giat belajar princess"

"Ottokhe? Selama ini kau kan tahu bahwa kau selalu mengajariku bila ada soal-soal yang sulit.."

"Ohh, jadi selama ini kau hanya bergantung dan memanfaatkan ku?"

"Hmm,, ne. Wae?"

"Ya! eiss jinjjayo?.. Kau memang betul-betul seorang princess. Tsk tsk tsk.." Ucap Sehun sambil bersandar dibantalnya dan menyembunyikan senyuman yang ia tahan sedari tadi..

"Sehun-ah, tertawalah jika kau ingin tertawa.."

"Mwo? Apakah terlihat jelas princess?"

"Ne, paboya!"

Setelah itu kami tertawa lepas, entah sudah sejak lama terakhir kalinya aku melihat ia tertawa seperti ini. Hal ini yang semakin membuat hatiku teriris, yang terlihat sekarang sepertinya jarak diantara kita makin lama semakin menjauh.. Susah untuk dijelaskan namun memang seperti ini kenyataannya..

"Apa aku mengganggu waktu bersama kalian?" Ucap seorang pria yang tinggi mungkin sama denganku yang pasti itu Kyungsoo-oppa, dan sudah berada di depan kami..

"Eoh, anni o..op..ppa" Jawab ku karna ini pertama kalinya kami bertemu, meskipun aku sudah mendengar tentangnya dari Jo-ajusshi.

"Gamsahamnida, oh ini pertama kalinya kita bertemu ya? Salam kenal namaku Kyungsoo, Do Kyungsoo. Dan namamu pasti Oh Se Na, yakan?"

"Ne, annyeonghaseyo oppa.." sambil membungkukkan badan ku..

"Sehun-ah, besok aku akan kembali ke Paris..?

"Omo? Secepat itu kah hyung?"

"Ne. Tapi aku tidak kembali sendirian…"

"Maksudmu..?"

"Aku akan membawamu pergi kesana untuk melanjutkan pengobatan disana. Aku juga telah meminta izin dokter Zhang dan ajusshi, kata mereka itu ide yang bagus.."

Asatag sulit ku percaya. Namun aku tidak bisa melakukan apa-apa dan aku hanya bisa diam dan kecewa.

"Hyung, sepertinya aku tidak membutuhkan itu.. Mati pun tidak masalah bagiku.."

"Jangan katakana itu, Hun! Yang terpenting sekarang adalah apakah kau mau ikut dengan ku untuk melanjutkan pengobatanmu bersama kedua orang tua ku?"

"Aku tidak yakin hyung.. Bagaimana dengan Senna? Dia temanku satu-satunya hyung.."

"Gwenchanna Hun.. Kau lebih baik ikut bersama Kyungsoo-oppa.. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku Hun. Aku pasti mengunjungimu di Paris nanti.." Kata ku jujur, walaupun sejujurnya hatin ku sakit.

"Bagaimana Hun? Senna saja menyetujuinya? Kau maukan?"

Sehun sempat terdiam sejenak sambil berpikir, "Tapi.. Hyung, aku.."

"Sudahlah Hun.. Ikutlah bersamaku.. Jangan keras kepala, Jebal.."

"Baiklah hyung, aku mengiyakan permohonanmu. Tapi kau harus menyanggupi permohonanku juga. Dengan begitu kita impas.."

"Aku tidak terlalu yakin. Tapi, baiklah"

.

.

Keesokan harinya..

-Sehun Pov-

Dengan berat hati aku menuruni anak tangga ini, namu belum setengah jalan dada ini mulai terasa sesak. Ku hentikan sejenak langkah kakiku. Ajusshi dan Lay-hyung sdah menungguku di bawah tangga, aku memang menyuruh mereka untuk tak membantuku, aku tak mau merepotkan mereka untuk yang terakhir kalinya.

Akhirnya aku sampai di bawah anak tangga, berat meamng rasanya namun aku tetap melukiskan sebuah senyuman untuk ajusshi dan Lay-hyung agar mereka tidak merasa khawatir. Ketika aku menyusuri ruang tamu, kuliaht sosok Kris-hyung tengah berdiri didepan pintu utama. Ku langkahkan kakiku agak cepat, ketika jarak kami tidak terlalu jauh, akupun langsung memeluk kakinya yang panjang dan mulai menangis sejadi-jadinya. Sikapku ini mungkin kekanak-kanakan dan mungkin mengagetkan ajusshi, Lay-hyung, ataupun Kris Hyung.."

"Hyung,, jebal.. Berikan aku satu alasan untuk mengurungkan niatku pergi ke Paris. Kalau kau katakana aku tidak boleh pergi ke sana maka aku tidak akan pergi hyung."

"Aku tak melarang mu pergi Hun.. Pergilah dan jangan kembali walaupun kau sudah sembuh"

DEGG..

Kata-kata barusan yang dilontarkan Kris hyung kepadaku membuat air mataku jatuh begitu saja tanpa kusadari. Kata-kata yang ia ucapkan memang bernada datar tapi, sangat menusuk. Lalu ia pun melepaskan rangkulan tanganku dari kakinya, kemudian berlalu bersama Luhan Hyung yang menatapku iba.

"Kajja Hun. Suho-hyung sedang di Beijing dan ia tak tahua apapun saat ini. Sebaiknya kita cepat pergi dari sini." D.O-hyung menghampiriku dan membantuku berdiri. Sakit rasanya hati ini. Ini terakhir kalinya aku mendengar caci makinya. Ku tatap sekekliling rumah megah ini, entah kapan lagi aku akan menginjak rumah ini atau aku tidak akan pernah kembali lagi.

Berat rasanya aku menerima semua kenyataan ini.. Sulit, sulit sekali rasanya akumenghadapi cobaan yang terus bertubi-tubi ini. Aku bahkan sudah tak bisa tersenyum ceria walaupun itu hanya sebuah senyuman palsu seperti dulu.

Selama diperjalanan, terkadang aku merasakan sesak didada yang teramat menyiksa. Tapi aku harus menyembunyikannya hingga akhir. Karena cukup bagiku untuk membuat mereka yang selalu mengkhawatirkanku setiap waktu.

Drrt.. Drrt…

Sehun-ah… Mian! Aku tidak bisa mengantarmu kebandara pagi ini, karena kurasa aku tak sanggup melihatmu pergi dari Seoul. Aku pasti akan menangis, Hun. Dan aku tak ingin kau melihatku seperti ini. Aku hanya ingin mengantarmu dengan senyuman. Tapi aku berjanji akan mengunjungimu saat liburan musim dingin nanti.. Mudah-mudahan kau selamat dalam perjalanan.. Tunggu aku, ya? Annyeong! - Senna

Aku hanya tersenyum kecil membaca pesan itu.

Ya! Teman macam apa kau? Hahaha, aku bercanda.. princess. Gwaenchanna, kau tidak mengantarku. Tapi jangan terlalu lama menunggu waktu yang tepat untuk mengunjungimu, aku takut kau tidak dapat menemuiku lagi di sana.. Annyeong ^^9 -Sehun

Tak kusangka aku harus pergi jauh dari sahabatku dan juga terutama dari hyung-hyungku. Apakah semua ini takdir? Disisa-sisa hidupku, aku tak dapat menemui orang yang kusayangi. Apakah hyung-hyungku akan tetap membenciku walau aku telah tiada? Eomma, appa.. ini kah hukuman untuk ku? Aku merindukan kalian.

.

.

TBC

Jangan lupakan mereview saran ato kritik untuk author intropeksi diri. Dan makasih yg sudah mampir :)