YOU'RE NOT ALONE

Pairing: The REAL couple in this world, YUNJAE! Slight Yuntoria (-_-")

Genre: Drama, Romance, Hurt, Little bit Angst

Rated: PG+17

Cast:

Jung Yunho (27 yo)

Kim(Jung) Jaejoong (27 yo)

Victoria Song (27 yo)

Other cast:

Park Yoochun (27 yo)

Mrs Jung aka Jung Eun Hye (47 yo)

Mrs Song (46 yo)

Part: 3 of ?

Disclaimer: Yunho belongs to Jaejoong and Jaejoong belongs to Yunho!

Warning: It's YAOI, MalexMale, BoyxBoy, Gay, Shoneun-ai story. So, if you don't like YAOI story, just go back and don't read this story. Arraseo?!

.

.

''Is the beginning or ending?''

.

.

Part sebelumnya…

Victoria menatap Yunho dengan pandangan yang sulit diartikan.

''Sepertinya kau akrab sekali dengan pelayan tadi.'' Ujar Victoria.

Yunho menoleh. Ia mengangguk kecil.

''Aku sering ke sini dengan istriku. Bulgogi di sini adalah favourite istriku.'' Kata Yunho menyodorkan sebungkus bulgogi pada Victoria dan dibalas dengan senyuman Victoria setelah menerima bulgogi itu. Namun senyuman itu memudar saat dia menyadari sesuatu.

Dia menoleh ke samping dan memandang pada namja tampan itu.

Yunho tiba-tiba tersenyum. Membayangkan wajah cantik istrinya yang pasti sedang mempoutkan bibirnya karena kesal ia pulang telat.

Victoria terdiam membatu. Raut wajahnya tampak shock namun juga kecewa.

'Ternyata sudah menikah?, batin Victoria kecewa.

Matanya terarah pada Yunho. Namja bermata musang itu tersenyum mengingat sesuatu. Pasti istrinya.

''Kau sudah beristri?''

''Ne, namanya Jung Jaejoong. Dia namja yang cantik dan baik. Ia segalanya bagiku.'' Kata Yunho menerawang.

Victoria mengangguk pelan.

''Tapi Yunho-sshi. Ini terlalu banyak untuk ku.''

Victoria mengangkat bungkusan bulgoginya.

Yunho terkekeh,

''Bagi istriku yang penggila bulgogi berat, itu tak seberapa.'' Ujar Yunho,''Kau mau aku antar pulang?'' Lanjutnya pada Victoria.

Victoria menggeleng,

''Gomawo, Yunho-sshi. Aku naik taksi saja. Lagipula hujannya sudah berhenti.''

Yunho memandang langit dan tersenyum.

''Ah benar juga. Kalau begitu aku pamit dulu, ne? Istriku pasti sudah menungguku di rumah.''

Victoria mengangguk dan memandang punggung Yunho yang berlari menjauh darinya dengan tatapan sendu.

''Apakah aku bisa berharap?'' Gumamnya lirih.

Namun tiba-tiba saja ponsel di tasnya berdering. Ia merogoh tasnya kemudian mengangkat panggilan telepon itu.

''Kau butuh uang, kan? Ada namja yang mau mengontrak rahim mu, kau mau?'' Tanya seseorang di seberang telepon.

Mata Victoria terbelalak.

''Mwo?! Mengontrak rahim?''

Part 3

Yunho mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Menuju rumahnya.

Ia terdiam. Memikirkan perkataannya dengan Yoochun tadi. Apakah ini memang jalan yang benar? Mengapa ada yang mengganjal dihatinya? Jaejoong kah?

Tentu saja.

Yunho tak tahu harus berbuat apa. Ia sangat menginginkan seorang anak. Tapi ia bingung. Dengan cara 'itu' ia memang akan mempunyai seorang anak, darah dagingnya sendiri. Namun bukan dengan Jaejoong. Egoiskah ia?

Bagaimana jika nanti Jaejoong tahu?

Cepat atau lambat pasti semuanya akan terbongkar.

Well. Bahkan ia belum pernah menemui 'pelacur' itu dan sudah setuju saja dengan ucapan Yoochun. Ada apa dengannya? Sungguh kali ini ia sangat menginginkan sesuatu.

Seorang anak.

Yunho bingung, apa ini memang jalan yang tepat? Apakah ini memang sebuah pengkhianatan secara tidak langsung?

Lalu, apa yang harus ia lakukan? Membatalkan semuanya? Tidak! Ia sudah memutuskan. Ia akan mengontrak rahim yeoja yang bahkan tak dikenalnya. Untuk urusan Jaejoong,mungkin istrinya akan menerimanya jika ia menjelaskannya dengan sabar. Istrinya bukanlah tipe orang yang egois. Ia tahu itu. Istrinya juga seorang penyayang anak-anak. Pasti ia akan menerima ini.

Tetapi tak semudah itu,apakah ia harus mengatakan pada Jaejoong kalau nanti jika ia mempunyai anak dari mengontrak rahim, apakah ia harus berkata jujur bahwa anak itu adalah anak kandungnya? Darah dagingnya dengan seorang yeoja yang di'beli'nya? Bagaimana jika nanti istrinya marah? Bagaimana jika ia tak terima dan meminta cerai darinya? Apa yang harus ia lakukan?

Ia tak munafik, ia memang menginginkan seorang anak. Darah dagingnya. Namun itu tak mungkin. Bahkan istrinya tak bisa mengandung setelah kejadian itu. Well.

Yunho mengusap pelan wajahnya dengan tangan kirinya, sedang tangannya masih menyetir. Yunho melirik pada dashboard mobilnya. Di dashboard itu terdapat sebuah foto. Fotonya bersama Jaejoong yang sedang hamil dan mereka berdua tersenyum bahagia. Didalam foto itu, perut Jaejoong tampak sudah besar. Maklum saja, waktu itu usia kandungannya sudah mencapai lima bulan lebih.

Hmp.

Hal yang membahagiakan bukan? Tapi itu dulu, sebelum-, Ah, ia tak mau mengingat insiden itu lagi. Yang berlalu biarlah berlalu.

Yuhho merogoh kantung celananya saat merasa ada getaran. Ponselnya bergetar.

Ia mengambil ponsel itu dan mengernyit heran saat ada sebuah nomor asing yang tak dikenalnya menelponnya.

Yunho menekan tombol answer dilayar ponsel touchnya.

''Yoboseyo?''Ujar Yunho. ''Ini siapa?''

''Aku Yoochun, Yun.''

Yunho mengangguk pelan walaupun Yoochun tak akan melihatnya. Ah ia baru sadar. Ia memang memberikan nomor ponselnya pada Yoochun setelah dari cafetaria kantornya tadi siang, sebelum Yoochub pulang.

''Ya! Kau masih di sana, Yun?!'' Pekik Yoochun merasa tak ada sahutan. Yunho terlonjak. Ia mengangguk, mana mungkin Yoochun bisa melihat? Pabo! Ia tak konsen saat ini.

''Ne..'' Sahut Yunho.

''Kau tidak lupa janjimu besok,kan? Jam tiga sore di Cassiopeia restaurant. 'Ia' sudah menyetujuinya. Kau tinggal buat surat perjanjian saja.'' Balas Yoochun di seberang telepon.

Yunho mengangguk,

''Ne~ Aku akan membuat surat perjanjian malam ini juga.'' Ucap Yunho,''Baiklah, aku tutup telponnya dulu.''

KLIK

Yunho menghela napas pelan.

'Tuhan,semoga ini memang jalan yang benar.', Batin Yunho berharap.

.

.

You're Not Alone

.

.

Yunho berjalan memasuki rumahnya. Ia mengernyit saat membuka pintu. Pintu rumahnya tak terkunci.

Ia terus memasuki rumah megahnya bersama Jaejoong. Saat melewati ruang keluarga,ia mendengar gelak tawa. Ramai sekali.

Dengan langkah penasaran, Yunho berjalan mendekati ruang keluarga itu. Suara televisi terdengar samar-samar. Ia melongokkan wajahnya dari balik tembok dan melihat istrinya dengan seorang namja kecil yang ia tahu sebagai sepupunya, Jung Moonbin. Ah ada Eommanya juga ternyata yang sedang menonton televisi, namun sesekali mencuri pandang pada istrinya yang bermain bersama Moonbin, kemudian tertawa kecil saat ada hal yang lucu.

Yunho tersenyum teduh. Ia bagaikan melihat seorang ibu dan anak. Ia menggeleng pelan. Demi apa, kenapa pikirannya tak pernah lepas dari seorang 'anak?'

Moonbin yang sepertinya menyadari keberadaan Yunho, bangkit berdiri. Ia berlari kecil menuju arah Yunho dengan kaki-kaki mungilnya. Hmp. Lucu.

''Daddyyyyyyyyyy~'' Teriaknya manja sambil berlari ke arahnya seraya merentangkan kedua tangan mungilnya.

Yunho mengernyit heran saat Moonbin memanggilnya dengan sebutan 'Daddy' namun ia tertawa kecil dan memeluk Moonbin, kemudian menggendongnya.

Moonbin mengeluh manja pada Yunho saat Yunho sudah menggendongnya.

Jaejoong berjalan mendekati Yunho. Ia meraih tas kerja suaminya.

''Kau sudah pulang? Kenapa kau pulang terlambat, eoh? Bukannya kau sudah janji tak akan pulang terlambat hari ini?'' Tanya Jaejoong kesal.

Yunho tersenyum dan mengacak surai madu milik Jaejoong.

''Aku minta maaf, Sayang. Tadi hujan setelah aku membelikan bulgogi untukmu tapi aku berlari menerobos hujan dan aku me-'' Ucapan Yunho terputus saat melihat Jaejoong menyodorkan kedua tangannya, dengan bibir yang mengerucut. Ah, ia jadi gemas dengan istrinya.

''Mana bulgoginya? Kau membelinya di restaurant langganan kita, kan?'' Jaejoong memicingkan matanya.

Yunho tersenyum dan mengangguk.

''Tentu saja. Kau ini, yang ditanyakan malah bulogi bukan keadaan suaminya. Istri macam apa kau ini?'' Canda Yunho.

''Aku sudah melihat keadaanmu. Kau baik-baik saja. Hanya saja bajumu basah.'' Ujar Jaejoong melihat Yunho dari bawah sampai atas, ''Kka, mandilah dulu. Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu sebelum kau pulang. Berikan Moonbin padaku. Ia akan sakit jika menempel di tubuh basahmu.'' Kata Jaejoong mengambil alih Moonbin dari gendongan Yunho dan mengambil dua bungkus bulgogi dari tangan kanan Yunho (Yunho menggendong Moonbin dengan tangan kirinya) Ckck.

Yunho mengangguk. Ia mengecup kening Jaejoong dulu. Melangkahkan kakinya menaiki tangga, tapi sebelumnya ia sudah menunduk hormat dulu pada Eommanya sebelum melangkahkan kakinya menaiki tangga yang membawanya ke lantai dua, di mana kamarnya dan Jaejoong berada.

''Setelah mandi, turunlah ke meja makan. Kita makan bersama, Yun.''

Yunho hanya mengangguk.

Jaejoong tersenyum miris. Namun,ia menunjukkan senyum terbaiknya saat melihat Moonbin yang melihatnya dengan tatapan polos miliknya.

''Kau mau makan, Binnie~ah?'' Tanya Jaejoong lembut. Moonbin mengangguk manja. Ia menyandarkan kepalanya di atas dada agak 'berisi' milik Jaejoong.

''Ne,Mommy~ Binnie lapal,'' Rengek Moonbin manja.

Jaejoong tersentak. Eh, apa tadi? Moonbin memanggilnya 'Mommy'? apa ia salah dengar? Tadi juga Moonbin memanggil Yunho 'Daddy'?

''Wae? Kenapa Binnie memanggil Jae Ahjumma 'Eomma', eoh?'' Tanya Jaejoong.

Menatap Jaejoong dengan tatapan polosnya,

''Kalena Jae Ahjumma cekalang jadi Mommy Binnie, Yun Ahjusshi jadi Daddy Binnie~'' Kata Moonbin imut, ''Jadi Binnie punya dua Eomma dan dua Appa, ne? Jae Mommy cama Yoona Eomma, Yun Daddy cama Sooman Appa. Hihi~ kelenkan Mommy?'' Lanjut Moonbin dengan tawa cute-nya.

Jaejoong hanya menggeleng pelan,sedang Eomma Jung yang sedari tadi hanya mendengar percakapan mereka tertawa. Aih, ada-ada saja anak itu.

Eomma Jung masih saja tertawa melihat kepolosan cucunya. Aish, cucunya memang menggemaskan.

.

.

You're Not Alone

.

.

Sudah hampir tengah malam. Beberapa puluh menit sebelum sebuah kedai coffee tutup.

Yeoja yang memakai pakaian seragam khusus itupun menguap pelan. Victoria.

Ia memang bekerja sebagai pelayan selain bekerja sebagai pelacur di Mirotic Club. Ia hanya bekerja sebagai pelacur jika kekurangan uang saja.

Ia menghela napasnya. Ia melihat masih ada satu orang yang masih ada di kedai coffee tempatnya bekerja. Ia melihat mata laki-laki itu merah. Sepertinya ia sudah mabuk sebelum ke sini.

Hmp.

Langkah kaki Victoria mendekati laki-laki yang menelungkupkan wajahnya di atas meja.

Dengan ragu, ia membangunkan laki-laki itu.

''Tuan.. Bangun, kedainya akan tutup.'' Ujar Victoria menguncang-guncangkan bahu laki-laki itu pelan.

Tak lama, laki-laki itu membuka matanya.

Mata Victoria terbelalak.

''Yoochun-ah!'' Pekiknya.

Laki-laki bernama Yoochun itu menyeringai pada Victoria.

Victoria masih dengan tampang terkejutnya mendelik pada Yoochun. Temannya.

Ia tak tahu bagaimana bisa Yoochun mabuk-mabukkan seperti itu. Seingatnya, Yoochun bukanlah tipe orang yang suka bermabuk-mabukkan untuk bersenang-senang maupun melupakan masalahnya.

Bau alkohol tercium tajam dari badan Yoochun. Mata laki-laki itu memerah dengan mulut yang menggumam tidak jelas.

Victoria kemudian berinisiatif mengantarkan Yoochun ke rumah laki-laki itu. Ia memegang lengan Yoochun, kemudian Victoria membungkukkan sedikit badannya lalu meletakkan lengan Yoochun ke bahunya. Memapah laki-laki itu.

''Aku akan membuatnya menderita! Seperti ia yang telah membuatku patah hati..'' Racau Yoochun tidak jelas. Bibirnya menyeringai bak iblis.

.

.

You're Not Alone

.

.

Selepas subuh,namja itu usai melepaskan hasratnya pada tubuh seorang yeoja, Victoria. Seperti mayoritas laki-laki pada umumnya, dia lalu tertidur nyaman sepulas bayi dalam pelukan. Victoria bergerak perlahan melepaskan diri tanpa membuat namja itu terbangun. Gerakan semacam itu dikuasainya dengan baik karena telah berulang kali melakukannya. Lalu, dia berkemas dengan cepat, menghitung uang pembayaran yang menjadi haknya dan segera pergi berlalu. Tanpa ucapan selamat tinggal apalagi sebuah kecupan pamit. Transaksi telah selesai dilakukan dan masing-masing pihak telah mendapatkan apa yang diinginkan, maka pertemuan harus disudahi. Tanpa perlu melibatkan perasaan, apalagi kenangan yang tertinggal. Bukankah begitu?

Baru saja diputarnya tombol kunci pembuka pintu ketika terdengar lenguhan napas laki-laki itu.

''Gajima, tinggal lah lebih lama,'' Ujar laki-laki itu menahan kantuk, ''Kita sarapan bersama. Sebentar lagi pagi.''

''Ania, gomawo.'' Tolak Victoria halus.

''Mengapa kau selalu tergesa-gesa? Kau selalu menghilang,'' Kata laki-laki itu dengan seringai mesumnya, ''Kemarilah, biar ku peluk dirimu.''

''Tidak, sudah pagi.'' Tolak Victoria bergeming.

Dia membuka pintu dan melangkah dengan cepat meninggalkan kamar. Tanpa perlu mendengarkan jawaban laki-laki itu apalagi mempertimbangkan permintaan laki-laki itu yang meminta pelukan tambahan. Sungguh tidak. Uang yang diperoleh barusan sudah cukup. Bila hari berjalan seperti biasa dan tidak terjadi sesuatu yang tak terduga, dalam arti Ibunya baik-baik saja sehingga tidak memerlukan pengobatan tambahan, maka dia bisa menghilang sepuluh hari mendatang tanpa perlu menerima transaksi apa pun. Segera pulang setelah kedai coffee tutup, demi melegakan Ibunya. Sungguh tidak diperlukan tambahan pelukan beserta kompensasinya.

Victoria melangkah bergegas dengan tatapan lurus ke depan. Tidak mengedarkan pandangan kemana pun selain lurus ke depan. Bukan karena disambangi-nya banyak penginapan sehingga apa pun interior hotel itu akan tampak sama belaka, melainkan lebih karena tak ingin ditanggapinya tatap mata meneliti dari mereka yang berpapasan dengannya. Meski semua penginapan menyediakan pelayanan 24 jam sehari dan pintu lobby tidak pernah tertutup, keberadaan perempuan yang melintas pada pagi yang belum bercahaya, sendirian keluar dari salah satu kamar akan selalu memicu praduga.

Dugaan yang benar belaka, tetapi biarlah sebagi pertanyaan semata. Tak ada keharusan untuk menjawab semua dugaan itu. Tetaplah dia menjadi anonim. Tanpa perlu saling mengenal apalagi membekaskan kenangan dalam ingatan. Begitulah, ditinggalkannya setiap penginapan dan namja-namja pembayarnya tanpa perlu membawanya dalam ingatannya. Tidak pernah dibinanya hubungan lebih lanjut meski sekedar basa-basi. Victoria menjelma sebagai sosok asing pada setiap 'transaksi' tanpa melibatkan perasaan di dalamnya.

Dijalaninya profesi itu sembunyi-sembunyi. Tersimpan rapat tanpa seorang pun yang mengetahuinya. Juga Ibunya. Kecuali Yoochun yang mengetahui profesi tersembunyi itu. Tetaplah demikian, meski berarti harus membangun kebohongan demi kebohongan untuk menjaganya.

''Baru pulang?'' Sapa Ibunya saat melihat Victoria membuka pintu.

Sedemikian pula geraknya ketika memutar anak kunci, meminimalkan bunyi, nyatanya telinga Ibunya terlalu peka untuk mendengar..

''Mengapa Eomma terbangun, eoh? Eomma tak bisa tidurkah?'' Tak bisa disembunyikan rasa sesalnya telah mengusik tidur Ibunya.

''Cukup nyenyak tidurku. Sambil sesekali menunggumu pulang.'' Jawab wanita paruh baya yang tampak kelelahan dari wajahnya.

''Janganlah selalu menunggu Eomma, aku selalu bisa pulang tepat waktu.''

''Begitu banyakkah tugasmu sehingga baru pulang sepagi ini?'' Tanya sang Ibu dengan raut wajah sedihnya. Ia merasa membebani putri satu-satunya karena penyakitnya, yang mengharuskan putrinya bekerja lebih keras untuk sekadar membelikannya obat.

''Sering kali ada tamu yang tak bergegas pulang.'' Nada sesal begitu kentara di setiap ucapan Victoria. Sungguh, rasanya ia ingin menangis karena selalu membohongi Ibunya, ''Mereka memesan begitu banyak makanan dan minuman, dan kami harus mencuci banyak peralatan sesudahnya. Juga mengepel lantai, meja, dapur. Semua harus dilakukan saat itu juga karena Café akan kembali buka jam tujuh pagi esoknya. Tidak ada pekerjaan yang bisa kami tunda.'' Lanjut Victoria.

Memang benar ia melakukan semua itu. Namun ia hanya menutupi profesi sampingannya yang adalah seorang pelacur. Ia tak mau Ibunya bersedih dan kecewa kepadanya.

''Seberat itukah pekerjaanmu?''

''Tidak juga, biasa saja. Ada banyak pekerjaan lain yang lebih berat.''

Nyonya Song tersenyum pahit,

''Tidurlah. Ibu akan menunggumu.'' Bisik nyonya Song lirih.

Victoria tersenyum dan mengangguk.

Victoria segera bergelung pada tilam. Ditutupnya mata yang lelah. Tangan sang Eomma menyusuri punggungnya, mengusap perlahan, menjalarkan rasa hangat yang menebar ke seluruh tubuh bahkan menjangkau sudut terjauh di dalm benaknya. Kehangatan Ibu, senantiasa menentramkan hati. Menumbuhkan keyakinan itulah sandaran hangat untuk pulang dan bersarang. Maka, dilakukannya apapun demi keutuhan sarang itu. Meski harus dibayar dengan tubuh keperempuannya. Meski menempatkannya pada sebaris laki-laki tak bernama.

Lalu, Victoria akhirnya terlelap.

.

.

You're Not Alone

.

.

Yunho membuka matanya saat merasakan cahaya matahari yang menyeruak dari celah gorden kamarnya.

Mata musangnya mengerjab perlahan. Menyusuri setiap sudut kamarnya dengan sang istri tercinta.

Tuhan, entah ia selalu hatinya tak nyaman setelah menerima tawaran sahabatnya. Bahkan, belum melakukannya pun ia sudah sangat merasa bersalah. Lalu, bagaimana jika ia sudah melakukannya bersama seorang yeoja pilihan Yoochun? Akan seperti apakah perasaannya?

Ia melirik ke samping. Istrinya masih terlelap pulas di ranjang. Menatap wajah Jaejoong seperti membawanya ke surga. Wajah damai yang selalu menemani hari-harinya selama lima tahun ini. Memberikan warna yang berbeda, yang bahkan ia sendiri tak pernah merasakannya dengan mantan-mantan kekasihnya, sebelum menikahi namja cantik itu.

Hmp.

Kenangan memang selalu indah.

Yunho bergegas bangun, dan melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandinya. Ia akan segera berangkat ke kantor karena ada meeting hari ini. Pukul 7 pagi dan meeting akan dimulai pukul 8.30 pagi.

Meninggalkan istrinya terlelap dengan tubuh polosnya karena aktivitas melelahkan yang mereka lakukan semalam.

.

.

You're Not Alone

.

.

Victoria menyeruput milk shake-nya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru sudut restaurant.

Ia sudah berjanji pada Yoochun akan ke Cassiopeia restaurant. Kata Yoochun, orang akan mengontrak rahimnya akan datang bersamanya sore ini. Jantungnya berdebar-debar. Seperti apakah laki-laki yang akan mengontrak rahimnya? Apakah ia seorang laki-laki yang baik hati?

Ia melihat Yoochun yang tersenyum dan melambaikan tangannya di depan pintu restaurant itu.

Victoria tersenyum. Akhirnya Yoochun datang. Tapi.. Mengapa Yoochun hanya datang sendiri? Di mana laki-laki yang akan mengontrak rahimnya? Apakah laki-laki yang akan mengontrak rahimnya tak datang?

Yoochun kemudian duduk di depannya.

''Chun-ah, kemana laki-laki yang akan mengontrak rahimku? Apakah ia tak jadi datang?'' Tanya Victoria.

Yoochun menggeleng,

''Ia akan datang, hanya saja dia akan sedikit terlambat.'' Jawab Yoochun.

Victoria mengangguk. Jantungnya masih berdebar kencang.

Detik demi detik berlalu. Akhirnya sekitar tujuh menit kemudian, seorang laki-laki tampan bermata musang tiba di Cassiopeia restaurant.

Langkah panjangnya berjalan menuju Yoochun yang terlihat melambai ke arahnya.

Yunho, namja itu, tersenyum canggung dan duduk di sebelah Yoochun. Mata musangnya melihat seorang yeoja di hadapannya yang menundukkan kepalanya.

Ia penasaran. Seperti apakah yeoja itu?

"Yun, ini yeoja yang kuceritakan padamu. Yeoja yang akan mengontrakkan rahimnya padamu."

Yunho mengangguk mendengar ucapan Yoochun. Ia melirik pada yeoja yang sedari tadi hanya menundukkan kepalanya saja. Rambut yeoja itu berwarna blode dan lurus sepinggang. Sepertinya ia tahu siapa yeoja itu. Namun ia bingung. Siapa?

Yeoja itu mendongakkan kepalanya. Menatap wajah lawan main bicaranya saat ini. Seorang namja yang akan mengontrak rahimnya.

Namun begitu terkejutnya ia begitu melihat wajah namja didepannya. Wajahnya memanas dan jantungnya berdebar-debar.

Oh gosh!

Sama halnya dengan yeoja itu,namja itu pun membelalakkan mata musangnya. Kaget.

"Yunho-sshi/Victoria-sshi!" Ujar keduanya kaget.

Yoochun tersenyum,

"Kalian sudah saling mengenal? Bagus kalau begitu."

Yunho dan Victoria hanya mengangguk.

"Kapan kalian akan melakukan 'itu'?" Tanya Yoochun tanpa basa-basi lagi.

Wajah Victoria memerah.

"Ku harap secepatnya.." Sahut Yunho pelan. Hati namja tampan itu gelisah. Apakah ini memang sebuah pengkhianatan? Sebuah perselingkuhan secara tidak langsung?

Yunho memang mengontrak rahim yeoja itu. Tetapi mereka bukan mengontrak rahim untuk bayi tabung atau semacamnya. Mereka akan langsung melakukannya. Melakukan hal yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh suami-istri. Hal yang seharusnya hanya boleh ia lakukan dengan Jaejoong, istrinya, kini harus ia lakukan pada orang lain juga hanya karena untuk mendapatkan seorang anak. Anak yang di impi-impikannya sejak dulu. Dia hanya tak ingin melibatkan banyak orang. Jadi, dia lebih memilih cara dengan melakukannya langsung.

Victoria melirik Yunho dengan canggung. Namja tampan di hadapannya hanya menatap kosong ke arahnya.

Apakah Yunho sudah merasa jijik dengannya setelah mungkin saja Yoochun menceritakkan pada namja tampan itu bahwa dirinya adalah seorang pelacur?

Hatinya hancur.

Andai saja ia adalah seorang yeoja yang berasal dari keluarga yang kaya dan terhormat. Ia pasti akan dengan mudah mendapatkan namja tampan di depannya.

Namun ia paham. Namja tampan di depannya hanya akan mengontrak rahimnya karena istrinya tak bisa mengandung dan setelah itu ia tak akan mempunyai gubungan apa-apa dengan namja itu. Semuanya akan selesai saat bayi yang nanti akan dikandungnya lahir.

''Lalu.. Di mana kalian akan melakukannya? Dan kapan?'' Tanya Yoochun.

Yunho terdiam. Sedang Victoria memandang was-was pada Yunho.

''Lusa dan kita akan melakukannya di hotel depan restaurant ini.'' Kata Yunho memandang Victoria.

Victoria mengangguk.

Jujur, hatinya berbunga-bunga.

Selama ini. Selama ia melakukan hubungan itu dengan laki-laki, ia tak pernah merasa senang.

Tetapi.. Kini?

Ia bahkan cepat-cepat mengharapkan melakukan hubungan intim dengan seorang namja yang sudah beristri?

Yunho menyodorkan sebuah pulpen dan secarik kertas pada Victoria.

Victoria mengernyit heran. Surat apa itu?

''Victoria-sshi. Ini kontrak kerja kita. Aku akan menuruti apa yang kau mau dan kau juga harus menuruti apa yang ku mau.'' Kata Yunho menjelaskan. Victoria tersentak. Apa ini? Sebuah surat kontrak?

''Aku hanya menginginkan sebuah rumah yang layak untuk ku dan Ibu ku, Yunho-sshi.'' Sahut Victoria, 'Aku tahu kau tak akan pernah mau kan jika aku menginginkan dirimu?' Batin Victoria dalam hatinya, memandang paras tampan namja yang diam-diam di kaguminya.

''Baiklah, aku akan memberikanmu sebuah rumah yang layak. Dan kau harus memberikanku bayi itu sesudah lahir. Deal?'' seru Yunho. Victoria mengangguk pelan.

Yeoja itu kemudian mengambil secarik kertas itu dan menandatangani surat kontrak mereka.

'Boo, mianhae…' Batin Yunho dalam hatinya dan kemudian memandang kosong kertas yang sudah dibubuhi tanda tangan Victoria.

To Be Continued Or END?

Hola! Author newbie ini sudah membawa lanjutannya. Otte, joahe ania?

Mind to review?