Howaaaaa... akhirnya berlanjut juga fanfic ini... arigatou buat yang udah setia menunggu sampai keluarnya chapter 4 ini.
Sebelumnya, gomen kalau updatenya kelamaan. Dengan adanya tes Snmptn beberapa hari yang lalu, Misa benar-benar ga bisa pegang laptop sedikitpun, internet pun ga dikasi. Jadilah Misa terkungkung ama buku. Hauauauaua... T.T Tapi ya, ujian sudah berlalu, dan sekarng tinggal menunggu hasilnya, bagi pembaca Suddenly Accident semua, tolong doain Misa yaaa~ *dilemparin sendal, minta doa paksa*
Yep, seperti biasa, Gakuen Alice, Alice Academy, dan seluruh karakternya adalah hak milik Tachibana-sensei. Fanficnya punya otak Misa. Kalau ada kesamaan baik yang hidup maupun yang terbang, semua itu adalah kebetulan semata.
Well then minna-sama~, enjoy your salep... ^^
Mikan melihat sekeliling, semua mata tertuju padanya.
Mikan keringat dingin.
Tongkat yang dibawa Jin Jin sudah mengeluarkan percikan listrik.
"Sakura-san." Suara dingin Jin Jin memecah keheningan.
"He?" Mikan masih dalam posisinya.
"Tetap dalam posisi itu sampai pelajaran berakhir." Perintah Jin Jin tegas.
Dan pelajaran berlangsung dengan Mikan masih tetap dalam posisi menunjuk Natsume.
"Natsumeeeee~ awas kau nanti!"
Looking straight at 'do'
My heart goes 'fortissimo'
(translation of Manazashi Daydream, opening theme from Nodame Cantabile:Finale )
Mikan duduk di atas meja sambil memijit-mijit tangan kanannya. Tangan kanan Mikan seperti ingin jatuh dari tempatnya. Iya, semua gara-gara si Natsume Baka Hentai Hyuuga itu. Ngapain dia pakai pegang-pegang tangan segala? Sudah tahu Mikan lagi bengong. Natsume kan pacarnya, masa dia tidak tahu? Huuuuh, dasar si Natsume itu. Mikan akhirnya sukses 'angkat tangan' selama 2 jam pelajaran minus 30 menit. Jin Jin, sebelum meninggalkan ruangan kelas, hanya tersenyum mengejek dan berkata, "Jangan diulangi lagi, Sakura."
Bel akhir pelajaran terdengar seperti lagu kemenangan di telinga Mikan.
"Bagaimana tanganmu?" Sebuah suara mengagetkan Mikan.
Mikan berbalik dan menemukan Natsume. Hei, apakah itu muka khawatir?
"Ah, tidak apa-apa. Sudah lebih baik kok." Jawab Mikan yang disusul dengan tawa lemah.
"Maaf ya."
"Ha?"
Natsume minta maaf. Natsume minta maaf? Seorang Natsume minta maaf?
Dunia sedang terbalik rupanya.
Mikan terperangah sebentar lalu menggelengkan kepala, "Tidak apa. Bukan sepenuhnya salah Natsume kok."
Natsume mengangkat tangannya dan mengacak rambut Mikan.
"Waaa! Jangan mengacak rambutku, Natsume!"
"Teruslah memohon."
Mikan menangkap pergelangan tangn Natsume dan menjauhkan dari kepalanya. Mikan merengut dan mencubit tangan Natsume dengan gemas. Mikan mengeluarkan seluruh tenaga sisa tangan kanannya untuk mencubit Natsume. Ia kesal karena tangan itu tadi genit sekali. Tiba-tiba kekesalan dalam diri Mikan berusaha keluar
Natsume mengeluarkan wajah kesalnya dan berusaha menarik tangannya dari Mikan, namun Mikan menahannya.
"Tanganmu itu BODOH, dasar NATSUME BAKA HENTAI!" Mikan menarik nafas, "BERANINYA KAU PEGANG-PEGANG TANGANKU? JAM PELAJARAN LAGI! DASAR NATSUME BAKA HENTAAAAAAAIII!"
Mikan terengah-engah dan melepaskan tangan Natsume yang sekarang sudah berbekas merah.
Natsume berkedip dua kali. Ia kaget Mikan bisa berteriak sampai seperti itu.
"Kau mengulang 'baka-hentai' 2 kali, Mikan."
"Aku tahu! Lalu kenapa? Hah!" Mikan masih terngah-engah.
Natsume berkedip dua kali, lagi.
"Huh!" Mikan berpaling dari Natsume dan berjalan keluar kelas dengan kesal.
Mikan berjalan sepanjang koridor. Berusaha menenangkan dirinya.
"Huuuuhhhh! Dasar Natsumeeee! Aku tidak pahan kenapa pada akhirnya aku malah mau menjadi pacar si hentai itu. Dan kenapa juga dia harus pegang-pegang tanganku waktu jam pelajaran. Apalagi yang mengajar adalah Jin Jin. Dia sudah bosan hidup apa?" Mikan marah-marah pada dirinya sendiri.
"Kalau nanti aku bertemu Natsume, aku pasti akan..."
Brugh! "Aaaa!"
Mikan menabrak seseorang dan jatuh terduduk.
"Itaaai.." Mikan meraih bokongnya dan mengelusnya sedikit, berusaha mengurangi sakit.
"Mikan-chan, daijoubu?"
Mikan melihat ke arah orang yang tadi ditabraknya. Ia menemukan sesosok pemuda tampan dengan rambut hitam dan sebuah tato kecil berbentuk bintang di bawah mata kirinya. Kemejanya tidak dimasukkan ke dalam celana panjangnya. Rambutnya yang lurus dan agak panjang tampat tidak disisir.
"Hee? Siapa ya?"
Mikan memusatkan mata dan mulai mengenali siapa orang yang ditabraknya.
"Tsubasa-senpai!" Mikan memanggil senang lalu memeluk Tsubasa.
"Mikan-chan? Kau tidak apa-apa kan?" Tsubasa bertanya. Ia agak heran melihat Mikan tiba-tiba memeluknya seperti ini.
Mikan melepaskan pelukannya, "Akhirnya aku bertemu juga dengan senpai. Senpai, kau ada waktu? Aku ingin bertanya. Hmm ya, ada beberapa hal yang agak membingungkan."
"Boleh saja. Kebetulan habis ini aku tidak ada pelajaran. Pak Misaki sedang tugas diluar." Jawab Tsubasa sambil tersenyum.
"Baiklah kalau begitu. Ayo kita ke taman!" Mikan menarik tangan Tsubasa menuju taman di depan gedung SMA.
"Nee, ada apa tiba-tiba mau bicara pada senpai?" Tsubasa membuka pembicaraan. Mereka telah duduk di sebuah set meja dan kursi di bawah pohon besar yang sangan rindang.
"Anooo senpai, aku ingin bertanya sesuatu. Hmm, gimana ya? Ini, eh, ini adalah pengalaman... Bukan, ini cerita yang aku pernah dengar dari mitos-mitos yang beredar di Gakuen Alice." Mikan berusaha menjawab seadanya, berusaha menekankan kalau itu bukan kejadian yang menimpa dirinya.
"Lanjutkan."
"Begini senpai, hmm... bagaimana memulainya ya?"
"Mulai saja dari yang paling awal."
"Hehehe... Baiklah, dengarkan baik-baik ya senpai."
Tsubasa mengangguk dan memperhatikan Mikan dengan sesama.
"Begini, kalau misalkan senpai hari ini berumur 10 tahun, tapi pada hari berikutnya, senpai menjadi umur 15 tahun, apa yang akan senpai lakukan?"
"Haaa? Kok bisa seperti itu?"
"Aku juga tidak tahu. Yang jelas, tiba-tiba ku terbangun dan menemukan diriku sudah lebih tua 5 tahun. Dan ternyata orang-orang disekitarku juga bertambah 5 tahun. Tapi sepertinya mereka tidak menyadarinya." Mikan nyerocos tanpa sadar menggunakan kata ganti aku dalam ceritanya.
"Ehm... Masalah ini agak aneh. Aku tidak pernah mendengar yang seperti ini."
"Apa senpai tahu penyebabnya sampai terjadi seperti itu?"
Tsubasa mengerutkan dahinya dan berpikir.
"Hmm, aku tidak yakin. Tapi ini seperti alice time slip yang dimiliki Nodacchi. Tapi setahuku Nodacchi tidak pernah menggunakan alice-nya seperti itu. Kebanyakan dia tiba-tiba ditarik ke dimensi waktu lain. Aku tidak pernah mendengar tentang seseorang yang menjadi tua dalam semalam."
"Soudesu nee..." Mikan merengut.
"Memang apa hubungannya denganmu?" Tsubasa menatap Mikan dengan cemas.
"Ah tidak, aku cuma bertanya saja. Biasalah, cuma ide gila untuk ceritaku. Ahahahahaha" Mikan tertawa renyah.
Tsubasa mengeluarkan ekspersi heran.
"Hei Tsubasa, kau menggoda adik kelas yang mana lagi?" Terdengar suara dingin dari belakang Mikan.
"Misaki?" Wajah Tsubasa berubah takut.
Mikan berbalik dan menemukan seorang wanita berambut pink dengan panjang sepunggung. Tubuhnya langsing dan sangat cantik. Mikan bengong sebentar sampai akhirnya ia berkata, "Misaki-senpai?"
Misaki melihat ke arah Mikan, mengamati sebentar, "Ooh, ternyata Mikan-chan, aku pikir siapa. Kau terlihat berbeda dengan rambut digerai seperti itu."
Mikan tertawa dan baru menyadari kalau beberapa hari ini ia menggerai rambutnya.
Tsubasa melambaikan tangannya pada Misaki dan menunjuk sebuah kursi disebelahnya, mengisyaratkan untuk duduk.
Misaki melangkah dan duduk di sebelah Tsubasa.
"Jadi, apa yang sedang kalian bicarakan?" Misaki bertanya pada Mikan.
"Oia ya, kebetulan ada Misaki-senpai juga." Mikan menepuk pelan dahinya.
"Memang ada apa?"
"Begini Misaki-senpai, hemmm... Misalnya, hari ini senpai berumur 10 tahun, tapi pada pagi berikutnya, ternyata senpai sudah berumur 15 tahun, apa yang akan senpai lakukan?" Mikan mengulang pertanyaannya pada Misaki.
"Ha? Masalah macam apa itu?" Misaki berhenti sebentar, "tapi, kalau memang kejadiannya seperti itu, aku mungkin akan langsung mendatangi Nodacchi. Dia yang tahu soal lintas-waktu begitu."
Mikan menghela nafas panjang, "Haaah... Jawaban senpai berdua sama saja."
"Hee?" Kedua senpai tersentak dan saling melirik, lalu memalingkan muka dengan semburat merah tipis pada wajah keduanya.
"Hahaha, senpai lucu sekali." Mikan tertawa puas.
Misaki mengangkat tangannya dan menelungkupkan wajah Tsubasa ke atas meja, "Ahahahaha, dia hanya mengikutiku saja kok. Hahahaha!"
"Aku kan yang jawab duluan!" Protes Tsubasa.
"Kau bilang apa Tsubasa?" Tanya Misaki. Tsubasa dan Mikan bisa merasakan aura-aura gelap dibalik nada bicara Misaki.
"Iya, iya, aku mengikutimu Misakiiiii~" Tsubasa menyerah.
Misaki tersenyum lebar, "Bagus."
Mikan menatap kedua senpai-nya. Mereka lucu sekali. Ahh, coba Natsume sepert Tsubasa senpai.
Mata Mikan melebar. Natsume? Oia, tadi aku marah padanya. Bukankah ia sudah minta maaf? Tapi kenapa aku tetap marah padanya ya?
"Mikan? Kau baik-baik saja?" Misaki melambaikna tangan dihadapan wajah Mikan.
Mikan memusatkan matanya dan menemukan Misaki dan Tsubasa menatapnya dengan khawatir.
"Ah, aku tidak apa-apa kok," Mikan tersenyum lagi, "oia, dimana aku bisa menemukan Nodacchi. Aku haru konsultasikan masalah tadi pada Nodacchi. Karena aku masih harus mencari penyelesaiannya."
Tsubasa meletakkan tangan di dagu, "Hmm, belakangan Nodacchi tidak terlihat di kelas. Katanya penyakit bulanannya kambuh."
"Penyakit bulanan?"
Misaki membayangkan wajah Nodacchi di kepalanya, "Iya. Setiap bulan, pasti waktu beberapa hari dimana alice time slip Nodacchi sedang parah-parahnya. Ia bisa tidak pulang selama beberapa minggu karena ia terus berpindah-pindah jaman. Yang biasa saja sudah parah, apa lagi yang ini."
Bibir Mikan membulat.
"Tapi," Misaki merenggangkan tubuhnya, "Nodacchi tidak pernah menyerang orang dengan alicenya. Dia sudah terlalu sibuk untuk mengurus dirinya sendiri."
"Jadi kalau aku boleh simpulkan, masalah ku... Eh maksudnya, cerita ini mungkin ada hubungannya dengan alice time-slip. Begitu kan?" Mikan menaruh jarinya di dagu.
"Yah, kurang lebih begitu."
"Tapi ya, itu tidak mungkin terjadi. Mana ada orang lebih tua dalam setahun, eh? Agak tidak masuk akal." Tsubasa mengatakannya sambil tertawa kecil.
Haaahh, coba aku bisa berpikir seperti itu. Mikan mengerut.
"Ternyata kau disini, Polka."
Sebuah suara datang dari balik pepohonan yang merindangi tempat Mikan, Tsubasa, dan Misaki duduk. Mereka serentak menengok ke kiri dan kanan mencari sumber suara misterius itu. Mikan menemukan sesosok pria berjalan melalui pepohonan itu. Orang itu adalah Natsume.
Mikan berdiri dan mendatangi Natsume, "Natsume? Kau mengagetkan saja!"
"Aku mencarimu daritadi. Ternyata kau disini bersama si 'bayangan' dan 'istrinya'."
"Hei! Namaku bukan 'bayangan'!" Seru Tsubasa protes sambil mengangkat tangannya.
"Hei! Aku bukan istrinya!" Seru Misaki panas sambil menunjuk Tsubasa.
Natsume hanya mendengus kecil.
"Ada apa mencariku? Ah, maaf tadi aku marah-marah. Aku tidak bermaksud apa-apa." Mikan menjelaskan panjang lebar. Mukanya agak panik dan terlihat ada sedikit semburat pink yang berusaha disembunyikan Mikan. Natsume hanya tersenyum kecil.
"Hmph."
Mikan berbalik dan menemukan Tsubasa-senpai dengan muka setengah-kesal-setengah-kecewa dan Misaki-senpai dengan kepala 'berasap' diwarnai muka merah. Mikan cuma bisa tertawa renyah sambil mengisyaratkan 'gomenasai' pada kedua senpai. Entah kenapa karena sekarang Mikan sudah menjadi pacarnya Natsume, ia merasa harus bertanggung jawab dengan keusilan yang disebabkan Natsume.
"Ka... Kalau begitu, aku pergi dulu ya." Tsubasa berdiri dari meja.
"Aku juga." Kata Misaki dengan suara dingin.
Mikan memindahkan kaki menuju kedua senpai, "Ah senpai, maafkan Natsume ya. Dan juga, terima kasih atas saran dari senpai. Kalau senpai menemukan Nodacchi-sensei, beritahu aku ya senpai."
"Tidak masalah, Mikan-chan." Misaki menjawab ramah pada Mikan.
"Oh iya, sebelum itu..."
Tsubasa berbalik dan menatap pada Natsume. Mata Natsume melebar seperti menyadari sesuatu, ia berusaha lari, tapi entah kenapa tubuhnya tidak bisa bergerak. Tubuhnya diam membeku seperti di lem pada keadaan berdiri tegak. Natsume berusaha membebaskan dirinya, namun tidak berhasil. Mikan berbalik dan menemukan sebuah bayangan kurus yang menghubungkan bayangan Tsubasa senpai dengan bayangan Natsume.
"Tsubasa-senpai!" Mikan memanggil keras nama Tsubasa.
Tsubasa tersenyum dan berjongkok, menuliskan sesuatu diatas bayangan penghubungnya dan Natsume.
Baru akan bebas kalau mendapat ciuman di pipi dari Mikan.
"Senpai jahaaaa~t!" Mikan berteriak.
"Hehehehe, maaf ya Mikan-chan. Permintaan Misaki dan aku." Tsubasa tersenyum nakal dan memasukkan tangannya ke kantong celana.
"Jya ne~ Mikan-chan." Misaki mengedipkan sebelah mata.
"Semangat ya, Natsume-kun~" Tsubasa mengarahkan senyumnya pada Natsume.
"Lihat saja nanti, Bayangan. Kubakar kau nanti." Natsume berkata dengan nada sangat dingin, sampai-sampai Mikan merinding sendiri.
Tsubasa dan Misaki berlalu kedalam pepohonan berjalan menuju entah-kemana-yang-jelas-menjauhi-Natsume. Sekilas Mikan bisa mendengar mereka berdua tertawa kecil dan berbincang mengenai sesuatu, Mikan tidak bisa mendengar dengan jelas. Mikan menunduk, perasaannya bercampur antara bingung, kesal, malu, dan perasaan ingin tertawa. Sulit menentukan sikap pada waktu seperti ini.
"Jadi Polka, kau mau membantuku lepas dari sini?"
Suara Natsume mengagetkan Mikan.
Wajah Mikan spontan merah padam. Mencium pipi Natsume sama buruknya dengan menghindari robot penangih hutang milik Hotaru. Sama-sama berarti bunuh diri. Yah, meskipun setelah mencium Natsume ia dipastikan tidak mati. Yang dapat dipastikan, ia akan mati karena malu. Itu jauh lebih menakutkan.
Mikan merinding dari kepala sampai kaki.
"Hei Polka, aku sudah mulai capek berdiri nih!" Natsume memanggil Mikan.
Mikan mendatangi Natsume, wajahnya sekarang sudah seperti udang rebus saos tomat berpewarna merah ketumpahan cat tembok merah, "Natsume~"
"Kau seperti akan meledak." Natsume berkata flat.
"Disaat seperti ini kau masih bisa tenang?" Mikan ingin sekali menghajar Natsume.
"Habis aku harus apa? Kau lihat tubuhku kaku begini kan." Protes Natsume.
"Aduuh, Tsubasa-senpai jahaaat!" Mikan menghentakkan kakinya dengan kesal.
"Sudah cepat lakukan saja!" Natsume masih setenang air.
Mikan tersentak, wajahnya entah sudah semerah apa, "Kau pikir menciumu mudah, eh?"
"Kita kan sudah pernah berciuman."
"Kyaaaaaaa!" Mikan histeris, mengangkat tangan kanan lalu menampar pipi Natsume yang kaku.
PLAK!
"Hei Polka! Sakit tahu!"
Mikan tiba-tiba merasa bersalah, "Maaf. Aku hanya...eh, maksudku. Aku..."
Pipi Natsume yang bekas ditampar mulai mengelurkan warna pink berbentuk tangan.
"Kalau kau tidak mau membebaskanku juga tidak apa-apa." Natsume berkata lagi.
"Hee? Tidak, aku tidak bermaksud begitu! Aku mau membebaskan Natsume, tapi kan... Tapi kan..."
Mikan gemetar sedikit. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat lalu berjalan mendekati wajah Natsume. Mikan mengarahkan wajahnya menuju pipi Natsume yang tadi ditamparnya. Mikan menarik nafas cepat lalu memajukan wajahnya dan mencium pipi Natsume.
Bayangan Natsume langsung berubah normal dan Natsume jatuh berlutut, ia lelah berdiri.
"Thanks, Mikan." Natsume berusaha berdiri, tetapi kakinya terlalu lelah, ia terjatuh lagi. Mikan bergerak refleks dan langsung berlutut membantu Natsume.
Tiba-tiba, tangan kanan Natsume menangkap pinggang Mikan dan tangan kirinya memegang lembut kepala belakang Mikan, membimbing wajah Mikan mendekat ke wajahnya. Mikan kaget, ia membuka mulutnya, berusaha untuk protes, tetapi bibirnya terkunci dengan kehadiran bibir lembut Natsume. Mikan masih berusaha memberontak, namun Natsume lebih kuat. Tangannya tetap pada posisinya di pinggang dan belakang kepala Mikan. Mikan akhirnya menyerah dan membiarkan Natsume menciumnya. Tidak lupa, Mikan juga mengembalikan ciuman itu.
Natsume menjauh perlahan, memotong keinginannya untuk mencium Mikan lebih jauh.
"Arigatou, Polka-chan. Kupikir kau tidak mau menolongku."
"Berhenti memanggilku 'Polka'. Dan maaf aku menamparmu tadi."
Natsume tersenyum, "Maaf diterima, Mikan."
Jantung Mikan serasa ingin lompat keluar.
Natsume, satu saat ingin ku hajar jauh-jauh, tetapi pada saat bersamaan, aku tidak mau jauh darinya.
-Tu Bi Kontinyu-
Zzzssttt… Zzzssttt…
Pusatkan antenanya pada 252.9 FM… Alice Radio!
00.01 – SIKAT (Sekilas Informasi singKAT)
Misako : Yoooosshh! Akhirnya Misa bisa kembali menulis fanfic setelah ujian disana sini. Dan akhirnya kelar juga chapter 4 ini.. huauauauaua *terharu mode. Ujian SNMPTN kemarin benar-benar bikin Misa hobi pentokin kepala di meja (ga, tenang aja, ini cuma di dramatisir). -_-"
Misako : Eniwei, buat semua pembaca setia Suddenly Accident, makasi buat yang masi mau nunggu keluarnya chapter baru yang kadang cepet kadang lama. Yah, biasanya lama. Tapi tetap, arigatou gozaimasu, minna-sama ^^ *membungkuk dalam-dalam*
:Misako : Well, sepertinya, ini akan jadi siaran tunggal Misako tanpa bintang tamu. Jadi ya... manfaatkan sajalah untuk promosi, daripada nanti kalau ada bintang tamu malah nyusahin.
(Huuuuuu~ sound ngepek.) *dilemparin botol kosong sama pembaca dan kru alice radio*
Misako : Haha, gomen-gomen. Oke, let's go for the opening! Kita akan sedikit membahas fanfic yang kita baca barusan, apa yang dianggap sebagai tabu, akan menjadi layak dan patut untuk diperbincangkan. Semua akan dikupas, setajam… SIKAT.
(Jeng jeng jeng jeng! Teng tong teng tong dus…)
Misako : Yohaaa, itulah chapter 4 tadi. Seperti janji saya pada chapter sebelumnya, Tsubasa Andou bin Ganteng bin Cakep bin Tampan sudah berhasil saya munculkan di cerita. Yah, walaupun kemunculannya agak aneh -_-" Tapi, di chapter kedepannya, Tsubasa dan Misaki pasti akan muncul lagi. ^^ Dan kalau misalnya chapter ini terkesan agak membosankan karena lebih banyak omongan daripada action, dimaafkan ya. *bungkuk lagi*
Misako : Di chapter depan, Misa masih belum bisa janji mau munculin apa. Yang jelas, skema-nya udah ada di otak, tinggal dijadiin kalimat dan diketik di laptop. Dan biasanya otak ama laptop hasil akhirnya suka ga singkron... Hadoh-hadoh...
Misako : Benang merahnya, Misa akan berusaha mengupdate chapter 5 secepatnya. Garis bawah, Se-ce-pat-nya! :fieryeyes: jadi dimohon kesabarannya bagi para pembaca fanfic semuanya.
Misako :Oh iya, sebelum Misa menutup acara SIKAT hari ini, Misa mau kasi sedikit kuis kecil-kecilan.
(udah sedikit, kecil-kecilan pula, maunya apa si Misa ini? By SIKAT Producer)
Misako : Produser ga usa protes laaahh~ bilang aja mau ikutan!
*dilemparin botol kosong*
Misako : Iye iye maapin aye bang... Tiada hari tanpa lemparan, eh bukan, tiada chapter tanpa lemparan ini. Oke, balik ke kuis kita. Pertanyaannya adalah:
Apa arti dari angka 252 dari frekuensi Alice Radio diatas?
Misako : Yap, itu dia pertanyaannya. Yang angka 9-nya itu adalah angka kesukaan Misa. Tapi klo yang angka 252, pernah disebut di Gakuen Alice.
Hint : Gakuen Alice Festival in Anime.
Misako : Kalau ada yang pernah atau sedang menonton anime Gakuen Alice pasti tau jawabannya. Buat yang punya DVDnya, silahkan cek pada bagian yang disebut diatas, pasti tau jawabannya apa. :)) Misa belum lihat di manga, mungkin aja di manga ada juga. Tapi yang Misa pasti tau, di anime ada.
Misako : Yang mau jawab silahkan kirim melalui review. Caranya gampang. :D silahkan klik tombol review yang imut2 ditengah bawah. Dan tuliskan jawaban pembaca semua. Bagi 2 (dua) pembaca dengan jawaban paling benar dan paling cepat akan muncul pada chapter 5 dan 6. Jadi, ditunggu jawabannya.. :D
Misako : Yossha! Dengan berakhirnya kuis 'sedikit-kecil-kecilan' ala Misa-chan, berakhir pula acara SIKAT hari ini. Another kisses and hugs for you who read and review for this fanfic ^^.
Misako : Arigatou gozaimasu. Si yu egein di SIKAT.
(Jeng jeng jeng jeng! Teng tong teng tong dus…)
