Changmin membuka pintu kamar Tao. Semua tidak berubah dari seminggu yang lalu. Adiknya benar-benar pergi dari rumah dan tak kembali. Harusnya ia tidak perlu merasakan sakit seperti itu. Karena ia juga lah yang mengharapkan Tao untuk pergi. Jika bisa, meninggalkan Jepang sekalipun. Namun kenyataannya semua terlalu berat. 15 tahun ia membesarkan Tao, tidak pernah sekalipun ia berpisah dengan pemuda itu.
Changmin menatap photo bayi yang tengah ia gendong. Mengapa harus semenyakitkan ini hanya untuk membuat orang yang dicintainya itu agar tidak bertemu dengan orang yang ia benci. Changmin mulai merasa menyesal telah mengusir satu-satunya keluarganya. Tao dimana? Siapa yang akan membangunkan ia ketika pagi telah tiba? Siapa yang memasakkan bocah rakus itu? Changmin mulai terisak. Dari awal semua memang salahnya.
Changmin memegang dadanya. Rasa sakit itu kian terasa. Harusnya ia tidak membuat Tao hidup serba kekurangan. Namun ia tidak punya pilihan. Ia tidak mempunyai siapa-siapa lagi yang bisa membantu agar adiknya bisa hidup lebih baik. Andai saja, andai saja ia bisa kembali ke masa lalu dan memperbaiki segala kesalahan yang ia perbuat dulu, masihkah bisa masa depan diubah? Tidak! Kembali ke masa lalu tidak akan merubah banyak hal di masa depan!
.
.
.
JaeMin Fanfiction
Present
Regret © Ran Hime
DBSK and other cast © Themselves
M Rated
Drama, Hurt/Comfort
JaeMin
Supporting Cast: Kyosuke Miyazaki (OC), Hana Miyazaki (OC), Park Kiwoong, No MinWoo, Huang Zitao
Guest: Song Ji Hyo and Jung Jihoon (Bi Rain)
AU, Yaoi, OOC, Typo, etc.
Ini hanyalah fanfiksi.
Segala sikap dan sifat tokoh ditulis demi alur cerita.
Dan tidak ada sangkutpautnya dengan kehidupan mereka di dunia nyata.
Bijaklah dalam menilai sesuatu hal.
.
.
.
Chapter 3
.
Jaejoong berjalan santai keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia tersenyum ketika melihat Tao masih bergelung nyaman di ranjang.
Jaejoong duduk di pinggir ranjang. Mata doe-nya memperhatikan bocah yang masih terlelap itu. Masih jelas di ingatannya tentang seminggu yang lalu saat kekasihnya datang kepadanya dalam keadaan basah kuyup. Bocah itu menatapnya putus asa dengan wajah pucat. Bocah itu menangis ketika mengatakan bagaimana kakaknya mengusirnya dan mengatakan bahwa dia bukan adiknya. Bahkan Tao berakhir demam karena tidak juga mau mengganti pakaiannya yang basah.
"Tao kun?" panggilnya dengan lembut, "ini sudah pagi. Kau tidak pergi ke sekolah, hem!" lanjutnya sembari mengeringkan rambutnya.
Sudah seminggu berlalu dan bocah yang tengah tertidur di ranjangnya tidak lagi datang ke sekolah.
"Aku tidak mau!" seru Tao sambil tetap tidur dengan posisi tengkurap, "kau bilang akan mencari tahu tentang orang tuaku?" Tao menarik selimut yang hanya menutupi sebagian tubuhnya hingga sebatas leher.
"Hari ini orang suruhanku akan datang, jadi jangan ngambek terus." ujar Jaejoong sembari membalik tubuh Tao hingga menghadap dirinya. Pandangan mata mereka bertemu.
"Jangan seperti ini terus!" seru Jaejoong sambil mengusap air mata di pipi Tao, "semua pasti akan baik-baik saja," lanjutnya lalu berdiri dari ranjang dan berjalan ke arah lemari. Ia harus segera berangkat kerja mengingat hari ini ada klien dari Amerika.
.
.
ooO~Regret~Ooo
.
.
Jaejoong menatap berkas di depannya. Semua tentang Tao dan seoul. Bagaimana bisa hal seperti itu terjadi. Jaejoong tidak mungkin bisa mempercayai hal itu, sementara Tao sendiri yang bilang jika ia lahir di Seoul. Lalu bagaimana dengan hasil penyelidikan salah satu orang suruhannya?
"Lima belas tahun yang lalu tidak ada bayi laki-laki yang bermarga Huang yang lahir di rumah sakit Seoul," seru seorang pria yang berdiri di depan meja kerja Jaejoong, "hanya ada 2 bayi bermarga Huang, itupun keduanya perempuan."
Jaejoong menatap kertas di mejanya lagi. Tidakkah itu terdengar aneh. Jika berita yang ia dengar memang benar, lalu dimana Tao lahir? Jaejoong mengusap kasar wajahnya. Masalah Changmin saja sudah membuat kepalanya pusing, kini identitas kekasihya malah menambah pikirannya.
"Lalu bagaimana dengan Jung Changmin?"
"Tidak ada perubahan dari berita 15 tahun yang lalu. Jung Changmin meninggal dalam kecelakaan pesawat menuju Jepang."
Jaejoong terdiam sejenak, "Lakukan tugasmu selanjutnya. Cari tahu siapa Huang Changmin!"
Pria itu mengangguk. Ia membungkuk lalu pergi dari ruangan kerja Jaejoong.
Jaejoong memijat tengkuk lehernya. Apa yang sebenarnya terjadi? Semua itu pasti bohong. Tidak mungkin Changmin benar-benar meninggal dalam kecelakaan itu. Tidak sedikitpun ia percaya tentang berita itu, walau dulu ia sempat ikut ayahnya menghadiri pemakaman putra tunggal dari pengusaha Jung's Crop itu. Jika Changmin benar-bnear telah meninggal, lalu siapa Huang Changmin? Bohong jika ia orang lain yang mempunyai wajah sama seperti bocah itu. Jika hanya wajah, ia pasti percaya. Tapi nama dan juga ... Rasa bibirnya.
Jaejoong memejamkan matanya. Setelah lima belas tahun, akankah ia harus berhenti berharap atas Changmin. Haruskah ia terus mengucap maaf di atas makam Changmin? Karena ia tahu, kata maaf tidak akan membawanya ke masa lalu dan memperbaiki semua. Namun jika ia bisa bertemu dengan Changmin, setidaknya ia bisa mencoba untuk menebus kesalahannya di masa lalu.
.
.
ooO~ Regret~Ooo
.
.
Perlahan Tao membuka matanya. Mata sembabnya menatap photo Yunho di atas meja nakas. Diraihnya pigura kecil itu dan membuat sesuatu yang tidak sengaja tersenggol itu jatuh.
Tao mengembalikan pigura tersebut dan mencoba membangunkan tubuhnya perlahan. Ia bangkit dari ranjang lalu mencoba mencari benda yang terjatuh tadi. Mata tajamnya menatap benda perak yang tergeletak di samping meja.
Tao membungkuk dan meraih cincin perak itu. Ia mengangkat tangannya, memperhatikan cincin itu. Hingga sebuah ukiran nama membuat ia memicingkan matanya.
Jung Changmin
.
.
ooO~Regret~Ooo
.
.
Dengan tangan bergetar Changmin berusaha meletakkan cangkir minuman di atas meja kerja Jaejoong. Kenapa? Kata itu terus terucap bersamaan cepatnya detak jantungnya.
Ini memang tidak seperti dirinya yang biasanya. Tamu atasannya kini memang berbeda. Orang yang membuat jantungnya hampir berhenti berdetak.
Ia masih ingat beberapa menit yang lalu, ketika Jaejoong menghubunginya agar membuatkan minuman untuk tamunya. Semua masih biasa-biasa saja. Namun semua berubah ketika ia memasuki ruangan Jaejoong dan melihat siapa tamu tersebut. Waktu seolah berhenti dan ingatan masa lalu kembali terlihat.
"Saya permisi dulu!" seru Changmin mencoba menyembunyikan rasa gugupnya.
Tanpa menunggu jawaban dari Jaejoong, ia segera berjalan cepat keluar dari ruangan Jaejoong dan kembali ke dapur.
Changmin menarik nafas panjang. Inikah akhir dari persembunyiannya? Inikah akhir dari segalanya? Bahkan mata yang menatapnya tadi seolah ingin menelan dirinya hidup-hidup. Setelah sekian lama, cepat atau lambat semua pasti akan terbongkar dan ia tidak akan dapat apa-apa.
Changmin menutup mata. Apa yang sebenarnya Tuhan sedang rencanakan? Mengapa orang-orang dari masa lalunya kembali mumcul?
Pria itu? Pria yang bahkan lebih hebat dari Jaejoong dalam segala hal.
"Ayah menyesal dan ia ingin agar kau ikut aku ke Amerika."
"Kau bohong!" Changmin kembali menangis, "tidak ada yang menginginkan Minnie, bahkan kaasan sekalipun."
"Changmin ah!"
.
"Setelah semua selesai, kembalilah sekolah. Semua kebutuhanmu akan kupenuhi."
"Minnie tidak butuh uang. Minnie ingin kaasan. Hikss Minnie cuma ingin kaasan." Changmin bersimpuh di depan pemuda itu. Kedua tangannya meremas celana bahan milik pemuda itu, "Minnie ingin Kaasan. Minnie ingin ikut kaasan."
"CHANGMIN AH!"
.
Tanpa sadar Changmin menghapus air matanya. Sadar dari kenangan pahit itu Changmin segera lari keluar dari dapur. Ia tidak peduli jika ia masih dalam jam kerja. Ia terus berlari keluar dari gedung perusahaan Kim. Ia bahkan tidak peduli jika nantinya ia akan dipecat. Yang terpenting sekarang adalah Tao.
Tidak ada yang boleh mengambil Tao dari sisinya. Tidak Jaejoong, tidak juga pria itu. Tanpa peduli orang-orang di sekelilingnya, ia berlari kesetanan sembari meneriakkan nama Tao. Semua belum berakhir.
.
.
ooO~ Regret~Ooo
.
.
Tao menatap wanita separuh baya di depannya. Itu sudah lama dan ingatannya tidak begitu tajam mengingat seseorang yang menjaganya ketika ia baru berusia empat tahun. Tao hanya tersenyum menanggapi setiap kalimat demi kalimat wanita tua di depannya. Ia jadi merasa bersalah karena membuat Changmin marah waktu itu. Mungkin nanti ia akan meminta maaf atas perkataannya terhadap kakaknya itu.
"Aku jadi merasa kasihan terhadap Changmin kun." seru wanita itu dengan nada sedih, "di usia lima belas tahun ia harus berjuang agar kau selamat."
"Apa maksud Bibi?" tanya Tao ketika merasa ada hal yang janggal dari kalimat yang di dengarnya tadi.
Baru saja wanita tua itu akan membuka mulut, namun tiba-tiba gerimis datang. Wanita tua itu buru-buru pamit dan berlari untuk mencari tempat berteduh.
Sadar bahwa wanita itu mulai berjalan menjauh dari dirinya, Tao pun mengejar wanita yang mulai pergi bersama bus kota tersebut. Tidak dipedulikan olehnya hujan yang mulai lebat. Tao tetap berlari mengejar bus tersebut. Hingga pada akhirnya ia lelah dan memegang lututnya dengan nafas tersengal dan batuk yang tidak kunjung berhenti.
Tao membenci hujan dari dulu. Tao mendongak, menatap jalanan yang mulai sepi. Kalimat terakhir dari wanita tua itu terus terngiang di telinganya. Tao mengerjap beberapa kali, mencoba menyakinkan bahwa ia baik-baik saja. Namun kenyataan berkata lain. Perlahan tubuh Tao jatuh dan tersungkur di bawah guyuran hujan lebat.
.
.
ooO~ Regret~Ooo
.
.
Jaejoong mengernyit heran menatap kliennya yang sedari tadi menatap pintu di depannya. Tidak mungkin pria di depannya tertarik dengan Changmin.
"Minwoo san!" panggil Jaejoong untuk kesekian kalinya.
Pria itu segera memalingkan wajahnya dan menatap Jaejoong kembali. Wajah datarnya masih sama seperti biasanya.
"Anda mengenal pria tadi?" tanya Jaejoong dengan hati-hati agar tidak terdengar seperti menyinggung. Bagaimanapun pria di depannya adalah orang penting.
Minwoo hanya menggeleng.
Jaejoong tersenyum, "Dia hanya karyawan biasa yang bahkan tidak lulus Senior High School."
Minwoo hanya tersenyum mendengar ucapan Jaejoong.
.
.
ooO~ Regret~Ooo
.
.
Minwoo berjalan dengan cepat. Ia bahkan tidak peduli dengan orang yang mencoba mengimbangi langkahnya. Ia tidak peduli jika sekretarisnya hampir tertinggal jauh di belakangnya. Kini yang ada di pikirannya hanya pria yang tadi menyediakan minuman untuknya.
Jung Changmin! Ia tidak akan pernah lupa dengan wajah itu walau bocah itu telah mengalami banyak perubahan setelah sekian lama.
"Dia hanya karyawan biasa yang bahkan tidak lulus Senior High School."
Tanpa sadar Minwoo mengeratkan genggaman tangannya ketika ucapan Jaejoong kembali terdengar di telinganya. setelah lima belas tahun ia mencari bocah itu, kini saat ia menemukannya, bisa-bisanya bocah itu datang sebagai karyawan rendahan.
"Jung Changmin!" ujarnya dengan sinis.
"Tidak lulus Senior High School, dan kini bekerja sebagai pelayan," Minwoo meracau sepanjang koridor, "lucu sekali," ia tersenyum sinis.
"Putra tunggal Jung Jihoon, pengusaha tersukses di Korea berakhir sebagai office boy," Minwoo tertawa hambar, "kau harus menjelaskannya nanti, bocah!"
"Yak, Wu Yifan ! Kenapa jalanmu lambat sekali eoh?" teriak Minwoo kepada sekretarisnya yang ada tidak jauh di belakangnya.
.
.
ooO~ Regret~Ooo
.
.
Minwoi menatap pria yang sedang duduk di tepi trotoar yang tidak jauh di depannya. Niat awalnya ia ingin kembali ke hotel dan beristirahat. Namun perjalanannya terhenti ketika ia tidak sengaja melihat seorang pria dengan wajah kusut. Minwoo meminta sopirnya untuk menepikan mobilnya dan berhenti tidak jauh dari pria itu.
Ia tersenyum mengejek memperhatikan pria yang sedang terlihat berantakan itu. Lihatlah! Betapa menyedihkannya Jung Changmin sekarang. Andai saja pria itu dulu menuruti perkataannnya. Pasti pria itu kini duduk di kantor sebagai petinggi perusahaan Jung's crop. Tapi bocah itu terlalu keras kepala dan manja, hingga ia harus berakhir menyedihkan.
Minwoo melangkah mendekati Changmin sambil memperhatikan pria itu. Ternyata waktu dapat mengubah banyak hal termasuk sikap dan sifat pria itu. Tidak ada lagi Jung Changmin yang manja dan manis. Yang ada sekarang adalah Jung Changmin yang tangguh dan tampan.
"Jung Changmin!" serunya setelah berhenti di samping Changmin.
Minwoo dapat melihat keterkejutan di wajah pria itu ketika Changmin mendongak menatapnya. Pria itu buru-buru berdiri lalu membungkuk memberi hormat.
"Anda salah orang, Tuan!" ujarnya dengan tenang.
"Salah orang, heh?" ucap Minwoo lalu berjalan selangkah. Ia mencondongkan tubuhnya dan memperhatikan wajah Changmin.
"Nama saya Huang Changmin!"
Minwoo menegakkan kembali tubuhnya. Matanya masih fokus menatap wajah pucat Changmin. Lalu bibirnya tersenyum sinis.
"Orang lain boleh kau bodohi tapi tidak denganku, hyung-mu!"
Mata Changmin membulat, "ap-apa maksud anda?" dan Changmin mulai merasa tidak nyaman, "Hyung? Anda mungkin salah orang."
"Jung Changmin, bocah manja yang membawa lari bayi orang ke Jepang."
"Kau salah! Tao MILIKKU!" teriak Changmin reflek lalu menutup mulutnya ketika ia sadar telah masuk ke dalam perangkap pria di depannya.
"Tao? Siapa Tao?" Minwoo tersenyum mengejek ketika mulai mengerti siapa yang dimaksud Changmin. "Jadi-"
"Dia adikku!" potong Changmin dengan cepat.
"Seberapa kau mencoba menutupi siapa dirimu, tapi itu tidak berlaku bagiku!" ujar pria 35 tahun tersebut, "bahkan kau tidak melanjutkan sekolah dan lari dari Osaka demi bayi itu."
"Apa?"
"Kau memang bocah brengsek yang menolak untuk tinggal di Amerika bersamaku demi bayi itu"
Changmin mengeratkam kepalan tangannya. Kenapa ia harus bertemu dengan No MinWoo kembali jika hanya ingin membuka lukanya yang telah lama ia tutup.
"Kau harus menjelaskan semuanya Bocah!"
.
.
ooO~ Regret~Ooo
.
.
Jaejoong melonggarkan dasinya ketika ia telah sampai di apartemennya. Hari ini benar-benar melelahkan. Walau banyak hal yang membuat ia agak kecewa, namun ia cukup bersyukur karena pertemuannya dengan No Minwoo berjalan lancar dan kerja sama pun terjalin.
Jaejoong berjalan ke arah kamarnya. Ia mengernyit heran ketika tidak menemukan Tao di kamar. Tidak biasanya Tao keluar ketika dirinya pulang kerja. Jaejoong menatap ponsel yang bergetar di atas meja nakas. Ponsel milik Tao.
Tiba-tiba perasaan Jaejoong tidak enak. Bocah itu tidak pernah neninggalkan ponselnya ketika sedang keluar. Jaejoong meraih ponsel itu lalu melihat siapa yang menelphon kekasihnya. Nee-san! Sejak kapan Tao mempunyai kakak perempuan?
Jaejoong meletakkan kembali ponsel tersebut ketika panggilan itu berhenti. Ia melempar jasnya asal lalu berjalan ke arah kamar mandi. Mungkin berendam adalah pilihan terbaik.
Belum juga Jaejoong memasuki kamar mandi, tiba-tiba suara ponsel miliknya menghentikan langkahnya. Ia kembali berjalan ke arah ranjang dan meraih ponselnya.
"Iya, ini Kim Jaejoong!"
Mata Jaejoong membulat terkejut mendengar penuturan seseorang dari seberang sana. Ia buru-buru meraih jasnya dan segera beranjak keluar dari kamarnya. Mengurungkan niatnya untuk berendam. Karena melihat kondisi Tao jauh lebih penting.
.
.
.
To be Continue...
.
Thank's to:
xxx, shim nael, Guest077, Aiko Michishige, afifah. kulkasnyachangmin, dee6002.
