Title: Love is Difficult
Pairing: Hunhan (Sehun x Luhan)
Genre: Angst, Hurt, Romance, Genderswitch
Rate: T
Lenght: 4 of ?
Cast:
Xi Luhan 24 y.o (Yeoja)
Oh Sehun 25 y.o (Namja)
Xi Baekhyun 21 y.o (Yeoja)
Park Chanyeol 23 y.o (Namja)
Lee Minri 24 y.o (Oc/ Yeoja)
Warning Typo and Genderswitch!
*HUNHAN*
"Sehun"
Luhan terpaku di tempatnya. Bibirnya terasa kelu, tak ada kata yang keluar selain nama lelaki yang berdiri di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada beberapa emosi yang tersirat dari sorot matanya. Luhan berharap matanya salah atau kabur untuk saat ini. Ia tidak ingin mempercayainya namun matanya tetap memaksa untuk melihat lelaki itu, lelaki yang ia cintai, Oh Sehun.
Sehun hendak menghampiri Luhan namun terhalang oleh lengan Minri yang erat mengaitnya. Luhan hanya menggeleng dengan mata berkaca-kaca lalu pergi tanpa berkata apapun. Sehun dapat melihat Luhan pergi dengan air mata yang berlinang di kedua pipinya.
Baekhyun yang berada di sebelah Luhan tak percaya dengan orang dilihatnya begitu pula Chanyeol yang kaget menyaksikan semua itu di depan matanya. Tatapan bengis diberikan Baekhyun untuk Sehun sebelum ia pergi menyusul Luhan yang pergi entah kemana.
Luhan menjauh dari tempat pernikahan Kyungsoo yang diadakan di outdoor. Ia terduduk di balik pohon besar membiarkan dirinya menumpahkan segala emosi yang sudah ia tahan selama ini. Air mata itu tak mau berhenti sejak tadi. Tubuhnya bergetar bersama bibirnya yang tak berhenti mengeluarkan isak tangis.
"Neo-Neomu appo..hiks"ucapnya sambil mencengkram bajunya erat.
Luhan tak mampu berkata apapun selain sakit. Bukan sakit fisik yang dirasakan melainkan sakit hati. Orang yang selama ini ia cintai mengkhianatinya, Orang yang ia percayai ternyata membohonginya, apakah cintanya juga sebuah dusta? ia tak mampu berpikir jernih saat ini. Pikiran-pikiran positif yang selama ini ia bangun lenyap tak berbekas.
Sehun mampu membuatnya terbang ke angkasa namun ia juga mampu membuat Luhan tenggelam ke samudra paling dalam.
Ia masih tak ingin mempercayai Sehun melakukan ini padanya namun logikanya memaksa. Sebuah pertanyaan melintas dalam kepala Luhan. Mengapa sehun tega melakukan semua ini?
"WAE? WAE! SEHUN-AH. KENAPA KA-KAU MELAKUKAN SEMUA INI PADAKU. WAE!"jerit Luhan tak tertahankan. Isakan tersebut semakin kuat terdengar selepas ia mengatakannya. Luhan mencoba berdiri namun gagal. Ia terjatuh dengan lutut yang membentur beberapa batu kecil yang ada di sana.
Luhan tak menghiraukan rasa sakit yang ada di lututnya. Hatinya lebih sakit saat ini. Bayangan Sehun dengan wanita itu terus berputar dalam memorinya. Sehun tak pernah mengenalkan wanita itu pada Luhan sebelumnya tapi Luhan belum pelupa. Ia masih ingat wajah wanita itu, wanita yang bertemu dengannya di bus.
Wanita itu pula yang meminta saran mengenai mantan kekasihnya. Tak perlu untuk dijelaskan, Luhan sudah mengerti dari gestur wanita itu, tatapan cinta bahkan pelukannya terhadap Sehun.
Mantan kekasih wanita itu adalah Sehun, kekasihnya sendiri.
Luhan tak mempermasalahkan jika Sehun memiliki mantan kekasih tapi mengapa Sehun tak jujur padanya? awal mereka berkenalan, Sehun dan Luhan saling terbuka mengenai latar belakang mereka termasuk percintaan. Luhan kala itu mendengar jelas Sehun mengatakan ia tak memiliki mantan kekasih. Luhan dengan polosnya percaya pada Sehun karena Luhan sering berpikir positif terhadap semua orang. Luhan pun tak ragu untuk mempercayai Sehun.
Luhan benar-benar kecewa dengan Sehun. Ia tak pernah merasa sesakit ini sebelumnya, biarlah Sehun yang tak menepati janjinya atau membiarkan Luhan menunggu dengan waktu yang lama tapi jangan pernah membohonginya. Ia tak pernah suka pada kebohongan, sikap yang Luhan benci sedari dulu. Sehun juga tahu akan hal itu tapi mengapa ia tetap melakukannya pada Luhan?
Apa tawa, senyum itu yang Sehun berikan adalah kepalsuan? semua yang dilakukan mereka selama ini tak ada artinya? kerinduan itu, cinta itu, apakah hanya Luhan yang merasakannya?
Pertanyaan-pertanyaan buruk itu menyergap dirinya. Luhan terduduk tak berdaya. Matanya yang biasa bersinar kini digantikan kristal bening yang mengalir deras, bibirnya yang selalu tersenyum itu kini telah tiada. Isakan demi isakan masih terdengar dari bibirnya. Luhan memejamkan matanya membiarkan angin membawa rasa sakitnya tetapi keinginan Luhan tak terkabulkan.
Sekelebat kenangannya dengan Sehun melintas dalam memorinya. Tawa, senyum, perlakukan lembut Sehun, momen romantis mereka, cara Sehun meminta maaf. Semua itu terputar dengan baik dalam memorinya termasuk alasan-alasan penolakan yang diberikan Sehun. Pekerjaan.
Luhan hanya dapat tertawa miris. Sehun tidak bisa hadir hanya karena pekerjaan tetapi nyatanya? ia hadir. Hadir di acara yang sama tapi tidak bersama Luhan melainkan mantan kekasihnya. Hal itu sangat menyakitinya. Sehun berbohong lagi dan lagi.
Apakah cintanya selama ini juga sebuah kebohongan?
Luhan tak sanggup memikirkan semua itu saat ini. Ia sudah hancur. Luka-luka kecil itu belum kering sepenuhnya namun Sehun menorehkan luka baru. Sehun yang berjanji tak akan membuatnya bersedih namun Sehunlah yang membuatnya bersedih.
"Se-Hun-ah. Berhenti menyaki-tikuuu"rintihnya dengan tubuh yang bergetar.
Tangisan Luhan menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya termasuk Baekhyun. Baekhyun berdiri dari kejauhan, ia tidak hanya mendengar tapi ia juga melihat kakaknya sangat menyedihkan. Beberapa kali luhan terjatuh sebelum mencapai pohon itu seolah penompang di tubuhnya telah hilang. Pakaian putih itu telah berubah kusam dan lusuh.
Baekhyun menutup mulutnya dengan kedua tangannya tanpa memperdulikan buliran air mata itu turun tanpa persetujuannya. Ia hanya mampu menjadi saksi dari awal kehancuran kakaknya.
Di lain sisi, acara bahagia itu terhenti sesaat karena Chanyeol tidak mampu menahan emosinya. Ia menghajar Sehun tanpa ampun. Minri menghalangi Chanyeol untuk memukul dan menginjak Sehun tetapi dirinya terhempas. Orang-orang yang berada di dekat mereka berusaha melerai namun Chanyeol sulit untuk dihentikan.
"Kau memang sialan!"
BUGH
"KAU ANGGAP APA NOONA SELAMA INI HAH?"
BUGH
Sehun tak mampu menggerakan wajahnya. Wajahnya penuh memar, hidung dan bibirnya sudah berdarah, terkoyak, tak berbentuk. Sehun tak mampu menggerakan bibirnya walau seinci pun, ia terlihat mengenaskan. Beberapa orang bahkan mengalihkan pandangannya dari Sehun.
"JAWAB AKU BRENGSEK"
Jongin datang dan dibantu lainnya untuk membawa Chanyeol dari sana walaupun sedikit kesulitan, akhirnya mereka berhasil. Chanyeol bahkan sempat menendang dan berteriak sebelum pergi dari sana, "JANGAN PERNAH MUNCUL DI DEPAN NOONA... SAEKIYA!"
Sehun berbaring dengan mata yang berkabut. Sejak tadi Sehun tak membalas pukulan Chanyeol, ia membiarkan Chanyeol memukulnya seolah itu adalah bayaran yang ia terima karena melukai Luhan. Sekarang pikirannya hanya tertuju pada Luhan. Dimana Luhan? Bagaimana Luhan? Luhan. Luhan. Luhan.
Minri menangis tersedu-sedu di samping Sehun. Ia berteriak meminta tolong, mereka pun membawa Sehun ke belakang dengan tandu yang telah disediakan. Sehun tak bisa bertahan, kesadarannya perlahan menghilang hingga ia menutup matanya.
Chanyeol menenangkan Baekhyun dalam dekapannya. Sejak kepulangan mereka, Baekhyun tak dapat menghentikan tangisannya. Ia sudah berteriak, bahkan mengguncangkan badan Luhan namun tak ada reaksi.
Luhan benar-benar terlihat seperti manekin. Manekin yang menyedihkan. Tanpa gerakan, tatapan kosong, tapi buliran bening itu masih mengalir. Chanyeol memejamkan matanya, tak sanggup melihat Noona yang disayanginya seperti itu.
Wajah Sehun kembali terlintas. Ia sungguh menyesal, seharusnya ia dapat menghabisi Sehun sampai tuntas sebelum orang-orang membawanya pergi. Gara-gara Sehun, Luhan Noona hancur. Orang sebaik dan setulus Luhan tak pantas diperlakukan seperti ini, pikir Chanyeol. Ia tak bisa berhenti menyumpahi Sehun sampai detik ini.
Inikah pria yang dicintai Luhan? pria yang membuat Luhan selalu menunggu dan bersedih? Oh Sehun. Chanyeol akan mengingat selalu nama itu. Ia tak akan membiarkan noona yang ia sudah anggap sebagai kakak kandungnya sendiri bersedih lagi karena Sehun. Sekarang, Chanyeol mengerti alasan Baekhyun begitu membenci Sehun. Sehun memang pantas untuk dibenci, benaknya.
"O-Oppa. Apa kita harus memanggil psikiater kemari?"tanya Baekhyun yang sudah berhasil meredakan tangisannya. Chanyeol yang ditanyai Baekhyun terlihat bingung tapi melihat keadaan Luhan membuatnya tak dapat berpikir lain, ia pun mengangguk.
"Aku akan menele-"
"Tidak usah. Biar aku saja yang memanggil psikiater itu. Sebaiknya kau menjaga Luhan Noona. Kebetulan temanku seorang psikiater tetapi aku akan pulang ke rumah dulu, Baek. Ponselku tertinggal"ujar Chanyeol lalu bergegas menuju rumahnya yang tepat di sebelah rumah Baekhyun dan Luhan.
Baekhyun mengintip dari sela pintu kamar Luhan. Luhan masih bersandar pada kepala tempat tidur dengan tatapan kosong serta bekas air matanya yang belum kering menghiasi pipi tirus itu.
Hatinya sakit melihat Luhan seperti ini. Ia tak pernah membayangkan Luhan akan mengalami hal ini. Baekhyun bukan tak tahu apa-apa selama ini mengenai hubungan Luhan dan Sehun. Ia hanya berpura-pura tidak tahu. Terlalu banyak kesedihan daripada kebahagiaan yang didapatkan Luhan.
Ia juga bukannya tak tahu bahwa Luhan mengajak Sehun untuk datang ke pernikahan Kyungsoo. Ia hanya saja memilih diam. Baekhyun kala itu tak sengaja mendengar pembicaraan Luhan, ia sudah menebak bahwa Sehun tidak akan datang. Tetapi, tebakannya tidak sepenuhnya tepat. Sehun datang bersama wanita yang ia pernah lihat beberapa minggu yang lalu.
Entah apa hubungan wanita itu dengan Sehun yang jelas mereka memiliki hubungan. Alasan-alasan yang diutarakan Sehun ketika Luhan mengajak pasti ada kaitannya dengan wanita itu. Baekhyun sangat yakin.
Luhan memang gampang dibodohi. Sekalinya Sehun berucap salah pun pasti akan dipercayai. Cintanya benar-benar buta, mata dan hati Luhan sudah tertutup dengan baik. Tetapi, hari ini semua itu harus terbuka walaupun terpaksa. Di satu sisi, Baekhyun sangat bersyukur Tuhan telah membuka kebenaran pada Luhan namun di lain sisi, ia harus kuat melihat Luhan seperti itu.
Baekhyun percaya bahwa badai akan berlalu. Ia akan mencoba kuat untuk dirinya dan Luhan.
"Semoga setelah ini Eonni benar-benar dapat melupakan Sehun"gumamnya pelan.
Minri menatap Sehun prihatin. Sehun terbujur kaku di ranjangnya setelah diobati. Wajahnya yang tampan berhias memar yang diberikan oleh pria tinggi yang ia tidak kenal. Minri mendekat ke arah Sehun. Ia pun duduk di pinggir ranjang. Tangannya membelai wajah Sehun dengan hati-hati.
Ia tak tahu apa yang sedang terjadi. Mengapa pria itu memukul Sehun?, batinnya masih bertanya-tanya sampai sekarang. Minri sempat mendengar kata Noona keluar dari mulut pria bertubuh tinggi itu tapi apa hubungannya dengan Sehun? ia sungguh penasaran, setelah ia mendapatkan buket bungan itu beberapa detik kemudian semua terjadi.
Ada rasa bersalah yang hinggap didirinya. Seandainya saja ia tak menerima permintaan Appanya untuk menggantikan beliau menghadiri pesta anak temannya, kejadian ini mungkin tidak terjadi. Minri pun menoleh ke arah Sehun, "Maafkan aku Sehun-ah"lirihnya.
Tiba-tiba lenguhan terdengar dari bibir Sehun, diiringi dengan nama yang berulang kali Sehun ucapkan.
"euuungh...Luhan"
"Sehun. Sehun-ah. Pelan-pelan"ujar Minri ketika Sehun hendak bangun walaupun badannya masih terasa nyeri.
"Berbaringlah dulu, kau belum cukup kuat Sehun-ah"sambung Minri tapi Sehun tak mendengarnya, ia terus berusaha bangun sembari memanggil nama Luhan.
Minri menghela nafasnya, akhirnya ia membantu Sehun untuk duduk dengan bersandar. Sehun terus mengucapkan kata Luhan. Sehun belum sadar sepenuhnya, benak Minri. Ia menatap iba Sehun, ada rasa tak suka ketika nama itu Sehun ucapkan. Nama itu, ia seperti pernah mendengarnya tapi ia tidak dapat mengingatnya.
Luhan?
Tak mau terlalu larut, Minri pun memanggil pelayan untuk membawakan minuman untuk Sehun. Minri memanggil Sehun beberapa kali namun Sehun tak menggubrisnya.
"Sehun-ah, Luhan tidak ada. Berhentilah memanggilnya"mohon Minri nada yang terdengar layaknya orang yang berputus asa. Permohonan Minri tetap tidak mendapat balasan dari Sehun.
Minri kembali berseru,"Berapa kali pun kau menyebutnya, ia tak akan datang. Berhentilah memanggilnya."
Sehun pun menolehkan pandangannya ke arah Minri. Minri pun mengangguk seolah Sehun memastikan perkataan Minri. Sehun kembali menolehkan pandangannya ke arah lain. Bayang-bayang wajah Luhan yang menangis masih terekam dengan baik.
Luhan menyiratkan kepedihan yang mendalam dari tatapannya. Sehun tahu itu, saat Luhan pergi pun Sehun menyadari mata indah itu mengeluarkan buliran kristal bening. Sehun hendak mengejar Luhan untuk menjelaskan semuanya tapi ia terhalang oleh Minri dan Chanyeol yang langsung menerjangnya setelah kepergian Luhan. Chanyeol tak memberi sedikit kesempatan pun untuk Sehun berbicara, ia terus memukul Sehun membabi buta. Sehun tak membalas, ia membiarkan Chanyeol memukulnya.
Pukulan Chanyeol pada dirinya pun tak akan mampu menutupi luka yang sudah ia torehkan pada Luhan. Luhannya bersedih, tersakiti lagi gara-gara dirinya. Kekasih yang tak pantas disebut kekasih. Ia benar-benar kejam. Ia berharap saat Chanyeol memukulnya, malaikat kematian itu menjemputnya. Sayangnya, itu tak terjadi mungkin Tuhan ingin Sehun menyelesaikan semuanya.
Sehun bingung. Bagaimana caranya ia harus menjumpai Luhan? Chanyeol bahkan sempat mengancamnya dan tentu saja Baekhyun tidak akan tinggal diam setelah semua ini, sedangkan Luhan? ia pasti tak akan mau bertemu dengannya. Sehun mengerti akan hal itu tapi ada satu tanda tanya besar dalam benaknya.
Apakah Luhan akan meninggalkannya?
Tidak. Ia tidak mau hal itu sampai terjadi, membayangkannya saja Sehun tidak sanggup apalagi sampai hal itu benar-benar terjadi. Tidak, Sehun tidak mau. Ia akan menemui Luhan untuk menjelaskan semuanya. Ya, dia harus menemui Luhan tak peduli pada halangan yang akan menghadangnya.
"Sehun! Kau mau ke mana?"tanya Minri yang terkejut melihat Sehun yang berlawanan arah darinya hendak bangkit dari tempat tidurnya. Sehun berdiri dengan menahan sakit seluruh tubuhnya. Baru saja kakinya melangkah, ia terjatuh. Sehun bangkit dan terjatuh lagi seolah tak memperdulikan tubuhnya yang ingin berteriak kesakitan.
Minri terpaku di tempatnya. Beberapa kali terjatuh Sehun tetap berusaha untuk berdiri. Beberapa detik kemudian Sehun tak mampu untuk berdiri lagi. Ia merangkak ke arah pintu yang terbuka.
Minri tak percaya dengan apa yang ia lihat. Sedikit lagi tangan Sehun mencapai pintu membuat Minri tersadar. Minri bergegas menuju pintu lalu mencabut kunci yang terletak di belakang pintu. Ia pun menutup pintu tersebut lalu menguncinya dari luar.
DUK DUK DUK
Sehun menggedor pintu itu cukup keras sehingga bunyi gedoran itu mengagetkan pelayan yang berada di sana. Beberapa dari mereka mendekat ke arah kamar Tuan Mudanya. Mereka tak mengerti dengan apa yang terjadi pada keduanya. Gedoran itu masih terus berlanjut, sementara Minri berdiri membelakangi pintu dengan wajah yang dipenuhi air mata.
Para pelayan di sana merasakan iba kepada duanya. Teriakan Sehun menggema di seluruh penjuru rumah. Ia terus menyerukan kata buka namun tak ada yang berani mendekat. Sehun belum pulih dan ia sudah berteriak begitu keras dapat dipastikan luka yang ada dibibirnya semakin membesar. Minri tak kuasa untuk mendengarnya tapi ia juga tidak menyingkir dari sana.
Gedoran itu kian melemah beserta teriakan Sehun. Minri jatuh terduduk dengan tangisan yang tak dapat ia hentikan. Ia tak tahu apa yang akan dilakukannya setelah ini, ia hanya ingin Sehun beristirahat dan tidak memaksakan dirinya yang masih jauh dari kata sembuh.
"Ma-maafkan aku..hiks. Sehun-ah"gumamnya pelan.
Mengapa?
Mengapa tak ada yang membuka pintu ini?
Mengapa aku dikurung di sini?
Aku ingin bertemu malaikatku, Luhan. Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin menjelaskan semua ini padanya tapi mengapa semua itu sulit? Apakah ini adalah hukuman untukku karena menyakiti Luhan? Aku akan terima tapi berikan aku kesempatan untuk melihat wajahnya sekali lagi dan izinkan aku untuk memindahkan rasa sakitnya. Aku akan menerimanya.
Bagaimana kondisi Luhan saat ini? apa yang ia baik-baik saja? pertanyaan bodoh, Oh Sehun. Tatapan dan tangisannya sudah membuktikan ia menyimpan luka yang mendalam dan itu semua karenaku.
Aku memang brengsek dan aku memang pantas dibenci tapi aku masih mencintainya. Aku masih mencintai Luhan. Terserah mereka membenci atau bahkan memakiku tapi jangan Luhanku. Aku tidak sanggup jika ia juga ikut membenciku. Aku tidak mau. Tidak akan pernah.
Apakah ini semua tanda bahwa kami bukanlah pasangan yang ditakdirkan untuk bersama?
Kenangan-kenangan yang kami lalui bersama terbesit dalam benakku. Caranya tersenyum, caranya membuatku semangat, caranya menyikapi tingkah brengsekku, semua itu dilakukan Luhan dengan sabar, sedangkan aku hanya membuatnya menunggu tanpa kepastian, bersedih, dan menangis. Aku tidak bisa menghitung berapa banyak mata itu mengeluarkan air mata hanya untukku.
Aku, aku ingin memperbaikinya. Aku ingin memperbaiki hubunganku dengan Luhan walaupun aku dan dia bukan takdir. Aku akan berusaha untuk membuat takdir itu sendiri.
Ya, aku akan membuat takdir untuk kami.
Sebelum itu, aku harus keluar dari sini. Aku mengedarkan pandanganku pada kamar ini. Jendela, jendela itu terbuka. Ya, aku bisa keluar dari sana.
Ugh, tubuh ini sulit sekali untuk bekerja sama. Aku pun memaksakan tubuhku berdiri sembari memegang barang-barang yang ada di sini sebagai pegangan menuju jendela. Aku membuka lebar-lebar jendela tersebut melihat ke bawah. Jaraknya lumayan jauh karena aku berada di lantai dua tapi aku tidak perduli.
Tidak ada lagi ketakutan dalam diriku kini kecuali Luhan. Aku akan menemui Luhan walau tanpa tangan atau kaki sekalipun.
Tunggu aku, Luhan...
TBC
Annyeong
Naa hadir lagi bawa chapter lanjutan. Fast update, eoh? Wkwk.
Liat komen2an kalian buat Naa makin semangat buat update. Btw, banyak yang kesal ama Sehun ya... hehe.
Banyak2 sabar dan berdoa aja untuk Sehun dan Luhan
Ah, semoga chap ini tidak mengecewakan TT
Jangan lupa komen ya, saran dan kritikan juga boleh
Okee deh, sampai berjumpa di chapter selanjutnya
Jgn ngarep fast update ya :p Wkwk
Salam Cinta,
XNaa05
