Lumpuh?

Satu kata itu seolah-olah membuat dunia disekelilingnya berhenti selama sedetik.

Apa maksudnya ini?

Sesshomaru segera menolehkan pandangannya ke InuYasha. Sang hanyou begitu tampak kesal dan marah saat kedua tangan dan kakinya menolak untuk digerakkan.

"S-sial!" gerutunya. Saat ini, hanya mulut dan lehernya saja yang bisa bergerak. "Sial!"

Tatapan mata sang setengah siluman sepertinya lebih terkesan murka karena kondisi tubuhnya daripada menyalahkan Sesshomaru sebagai pelaku yang membuat tubuhnya menjadi lumpuh.

Sang daiyoukai menyipitkan kedua matanya. Bagaimana dirinya bisa membuat suatu kesalahan seperti ini? Kesalahan yang telah membahayakan InuYasha. Tapi mau bagaimana lagi? Ia memang tidak boleh membiarkan adiknya mati dalam keadaan tidak terhormat dan mencoreng nama klan ayah mereka. Seandainya saja InuYasha tidak menolak sejak awal ketika kakaknya memintanya untuk pulang kembali ke dunia. Padahal, ia sungguh yakin seluruh jiwa yang mati pasti menginginkan untuk hidup kembali. Mengapa tidak dengan InuYasha?

Pertanyaannya, siapakah yang pantas untuk disalahkan sekarang?

"Raut wajahmu seolah-olah mengatakan bahwa ini bukan salahmu," sang ratu membuyarkan lamunan anaknya. "Benarkan, Sesshomaru?"

Sesshomaru mendengus. "Apa kau bisa menyembuhkannya?"

Sang ratu mendesah lemah. "Yaah ... biar aku lihat seberapa parah akibat yang kau sebabkan pada hanyou yang malang ini."

Kedua telapak tangannya diletakkan di kedua lengan InuYasha, kemudian di kedua kakinya, seolah-olah sedang merasakan sesuatu dari sana. InuYasha sendiri sangat berharap wanita ini akan mengatakan sesuatu yang amat melegakan.

"Hm, kau beruntung," ujar sang ratu setelah selesai memeriksa. "Kelumpuhan ini bisa disembuhkan."

"Kalau begitu lekas sembuhkan aku!" InuYasha nyaris berteriak kegirangan. "Agar aku bisa bergerak bebas dan menghajar orang yang sudah membuatku seperti ini." Lirikan tajamnya mengarah pada Sesshomaru, yang mana hanya membalasnya dengan tatapan datar.

"Kau akan sembuh dengan sendirinya secara perlahan," sang ratu mulai menjelaskan. "Kau pikir siapa dirimu? Kau ini anak dari Inu no Taisho; siluman besar dan terkuat yang pernah ada. Tubuhmu akan sembuh secara alami tanpa pengobatan apapun, yaah ... walau kecepatan pemulihannya tergantung dari seberapa parah kerusakan pada tubuhmu."

InuYasha merenung sejenak. Ia ingat betapa cepatnya Sesshomaru menyembuhkan luka pada lengannya saat mereka menghadapi Magatsuhi. Mungkin memang benar ucapan wanita itu.

"Tapi, untuk segera sembuh," sang ratu melanjutkan. "yoki mu harus terus berinteraksi dengan yoki yang kuat sehingga tubuhmu akan bereaksi terhadap kekuatan yang mengalir di sekitarmu. Kau tidak akan menemukan sumber yoki yang kuat di lingkungan manusia kecuali di istanaku."

InuYasha menaikkan sebelah alis. "Jadi maksudmu-"

"Kau harus tinggal di sini."

InuYasha berdecak kesal. Ia benci tidak melakukan apapun. Tapi apa yang bisa dilakukan. Untuk saat ini, ia harus mengikuti saran dari wanita itu.

"Dan kau, Sesshomaru," sang ratu melirik ke arah anaknya yang sejak tadi hanya berdiri mematung di belakangnya. "karena ini adalah salahmu, selama InuYasha tinggal di sini, kau yang akan bertanggung jawab untuk mengurusnya."

Jika saat ini Sesshomaru terkejut, maka ia menyembunyikan perasaannya dengan amat baik.

Sang daiyoukai membalikkan tubuh, berjalan menuju tangga. "Hhm, terserah apa katamu."

Kedua kakinya terangkat beberapa meter ke atas tanah, tubuhnya bertransformasi menjadi sphere cahaya putih yang berpendar dan kemudian terbang mengarah ke bumi di mana manusia tinggal.

.

Hari sudah beranjak siang,

Kondisi kesehatan Kaede semakin membaik. Tentu saja karena sejak awal penyakitnya memang tidak parah. Sebaliknya, sekarang kondisi Kagome yang memburuk. Sejak semalam dan sekarang, ia sama sekali belum mengatakan apapun. Berita yang dibawa Jaken semalam masih membuatnya shock. Meskipun Rin terus meyakinkannya bahwa Sesshomaru pasti bisa menghidupkan InuYasha kembali, tetap saja mendengar kata kematian InuYasha bagaikan mendapat sambaran petir disiang bolong.

Sango langsung membawa ketiga ananya ke rumah Kaede untuk menghibur Kagome. Miroku dan Kohaku yang baru saja kembali pagi tadi langsung pergi kembali menuju lokasi dimana jasad InuYasha ditemukan. Saat mereka kembali, satu-satunya benda yang mereka bawa adalah tessaiga yang sudah kembali ke wujud usang. Kagome hanya memeluk pedang suaminya dengan wajah murung, sambil terus memikirkan nasib InuYasha yang entah sekarang ada di mana.

"Kasihan, Kagome," ujar Shippo yang sedang menemani anak-anak Sango bermain di halaman rumah. "kira-kira Sesshomaru berhasil tidak, ya?"

Jaken yang selalu mengidolakan tuannya tampak kesal mendengarnya. "Tentu saja pasti berhasil. Apa kau meragukan kemampuan Sesshomaru-sama?!"

"Tapi ini sudah terlalu lama."

"Ini baru beberapa jam! Kenapa kau tidak begitu sabar?!"

"Kenapa kau marah, sih?!" Shippo balas berteriak. Sejak dulu, ia dan siluman kodok ini selalu saja bertengkar.

Rin yang sedang bersama mereka hanya memperhatikan, seakan-akan sedang mempelajari bagian menarik dari perkelahian kecil ini.

Sebuah suara langkah yang ringan terdengar dari arah utara. Gadis kecil itu menoleh dan sebuah senyuman lebar muncul di wajahnya yang berbinar.

"Sesshomaru-sama!" panggilnya dengan riang. Ia berdiri dan membiarkan kaki telanjangnya berlari menuju ke arah mantan walinya. Jaken yang tak kalah senang segera mengikuti Rin.

"Sesshomaru-sama, anda pergi kemana?" si siluman hijau langsung memburunya dengan pertanyaan. "Mengapa anda tega meninggalkan Jaken sendirian di hutan?"

Sesshomaru tampak tak memedulikan rengekan pengikutnya. Matanya memperhatikan sekeliling seperti sedang mencari sesuatu.

Miroku, Sango dan Kohaku yang mendengar nama Sesshomaru yang disebut langsung keluar dari rumah Kaede untuk menemui sang daiyoukai.

"Sesshomaru-sama, anda datang sendirian?" tanya Kohaku keheranan.

"Dimana InuYasha?" Miroku ikut bertanya. "Apa dia baik-baik saja?"

Shippo menengadahkan wajahnya ke atas, mempelajari ekspresi wajah Sesshomaru. Seingatnya, siluman satu ini amat pelit berkata-kata. Mungkin ia merasa dirinya terlalu penting untuk menjawab pertanyaan dari seorang biksu dan seorang pembasmi siluman. Tapi, jika dia sudah sengaja datang ke sini, berarti ada hal yang ingin ia informasikan, kan?

"Jaken," suara Sesshomaru membuat si siuman kodok menegakkan tubuh dengan tegap.

"Ya, Sesshomaru-sama?"

"Ikut aku."

Hanya itu yang dikatakan siluman anjing. Jaken tampak menangis terharu. "Anda ... anda jauh-jauh datang kemari hanya untuk menjemput saya?" Ia mengelap air mata dengan lengan bajunya. "Sesshomaru-sama, saya senang sekali. Anda ternyata sangat peduli pada saya."

Baru saja Sesshomaru akan pergi, Miroku langsung menghentikannya.

"Tunggu Sesshomaru," sang pendeta berdiri menghalangi jalan sang daiyoukai, wajahnya nampak serius dengan tongkat biksu yang tergenggam erat di tangannya. "Kau belum menjawab pertanyaan Kohaku."

Semua mata memandang ke arah satu-satunya siluman anjing di sana, termasuk Jaken. Mereka menunggu-nunggu kemungkinan kabar terburuk yang akan dibawa.

"InuYasha berada di tempat yang aman," adalah jawaban Sesshomaru.

"Jadi kau berhasil menghidupkannya?" Miroku nampak lega. "Mengapa kau tidak membawanya kesini bersamamu?"

"Dia sedang dalam masa pemulihan." Meskipun dikenal sebagai siluman yang tak berperasaan, kali ini Sesshomaru merasa tidak bijaksana memberi tahu mereka mengenai kondisi adik tirinya yang sebenarnya. "Aura di lingkungan manusia hanya akan menghambat proses penyembuhannya. Ia harus tinggal bersamaku."

"Begitu, ya?"

Sesshomaru kembali memalingkan wajah. Kakinya melangkah pergi meninggalkan desa. "Ayo pergi, Jaken."

"Ah, b-baik, Sesshomaru-sama."

Jaken berlari ke belakang rumah Kaede untuk menjemput Ah-Un. Tanpa pamit, si siluman kodok mengikuti tuannya pergi. Ia bertanya-tanya di mana Sesshomaru membawa InuYasha.

Kohaku memperhatikan kedua siluman itu menjauh. "Tidak biasanya Sesshomaru-sama mengabaikan Rin ketika berkunjung," komentarnya.

Miroku mengangguk. "Ya, kau benar," jawabnya tanpa melepas pandangan ke arah depan. "Mungkin kondisi InuYasha lebih mengkhawatirkan dari apa yang kita kira."

.

Ratu penguasa istana langit telah memerintahkan para pelayannya untuk memindahkan tubuh InuYasha ke kamar tamu. Sejak dulu, InuYasha tidak suka diperlakukan lemah, namun karena tubuhnya sendiri tidak dapat bergerak, ia tidak bisa berbuat apapun saat seorang pengawal bertubuh kekar membawa tubuhnya ke atas kasur atau saat dua pelayan youkai menyuapinya makanan, membersihkan tubuh, mengganti pakaiannya dengan kimono berwarna putih bersih dengan obi ungu serta menyisiri rambutnya, mengabaikan protes dari InuYasha dengan alasan ini adalah perintah langsung dari sang baginda ratu yang tidak ingin anak tirinya berpenampilan acak-acakan dengan pakaian merah penuh darah.

Dengan tubuh lumpuh seperti ini dan tak bisa pergi kemanapun, ia merasa seperti terpenjara di sebuah istana megah.

Ini semua salah Sesshomaru.

Giginya bergemeletuk karena marah. Sialan! Dalam hati, ia berjanji jika tubuhnya telah pulih, ia akan membalas perbuatannya. Mungkin ia akan memotong lengan kiri kakaknya lagi sebagai awal dari balas dendam.

Kalau saja siluman sombong itu tidak memotong-motong rohnya.

Tiba-tiba, sebuah pikiran aneh menyentaknya.

Dia melakukan itu demi dirimu

Dia tidak ingin kau mati

Dia amat peduli pada dirimu

InuYasha tertawa dalam hati.

Tidak mungkin. Yang ia tahu, Sesshomaru amat membencinya. Dia tidak pernah mengakui InuYasha sebagai adiknya. Pasti ada alasan lain mengapa Sesshomaru amat bersikeras membawa rohnya kembali ke dunia. Mungkin ia tidak ingin InuYasha hidup tenang di akhirat sana. Ya, pasti itu alasannya.

Sejujurnya, saat kemarin dirinya dibunuh oleh siluman dan rohnya sudah terpisah dari tubuhnya, InuYasha merasa ringan untuk pertamakalinya, seolah-olah segala hal yang membebani dan mengikatnya ke dunia sudah lepas. Ia merasa bebas, terlepas dari semua tanggung jawab. Tidak ada yang perlu dipikirkan maupun dikhawatirkan. Ketika pintu menuju dunia roh terbuka lebar, ia melihat wujud dari gadis yang amat dicintainya selain Kagome - Kikyou. Roh miko yang pernah menjadi kekasihnya itu tengah menunggu dirinya di sebuah dunia ilusi mirip taman bunga, memanggil dirinya untuk ikut bergabung bersama dirinya.

Lalu kemudian Sesshomaru datang mencari dirinya. InuYasha sudah berusaha mengusirnya dengan memperlihatkan berbagai ilusi mengenai kenangan masa kecilnya, memberitahukan Sesshomaru bahwa dirinya tidak menginginkan hidup di dunia yang pernah meninggalkan kenangan buruk. Tapi Sesshomaru memaksanya untuk kembali, bahkan tak segan-segan memotong-motong rohnya tanpa perasaan hingga ia berakhir menjadi makhluk hidup yang tak memiliki kekuatan sama sekali.

Jadi untuk apa dia hidup?

Apa kau tidak merindukan teman-temanmu?

Bagaimana dengan istrimu; Kagome?

InuYasha merenung dengan sedih. Kagome, ya? Bagaimana keadaanya sekarang?

Bukannya ia tidak peduli lagi pada wanita itu. Hanya saja, sejak mengalami kematian, ia menyadari satu hal; tidak ada yang abadi di dunia ini, termasuk kebersamaannya dengan orang yang ia cintai. Saat ia kecil, ia kehilangan ibunya. Lima puluh tiga tahun yang lalu, ia pernah berharap hidup bahagia bersama Kikyou, kemudian kematian memisahkan mereka. Menjadi seorang hanyou, ia sadar dirinya memiliki umur yang lebih panjang daripada Kagome dan ia tidak ingin lagi merasakan sakit dengan menyaksikan kematian orang yang ia sayangi.

Ia mendengar suara langkah kaki mendekat ke arah kamarnya. Segera saja InuYasha memejamkan kedua mata, berpura-pura untuk tidur. Ia tak ingin berurusan apapun lagi dengan salah satu youkai di sini.

Pintu bergeser terbuka. Langkah kaki itu semakin mendekat dan berhenti di samping kasurnya. Walau tanpa membuka mata, sang hanyou dapat merasakan tatapan si pendatang ini sedang menatap ke arah wajah tidurnya. Penciuman anjingnya menangkap aroma tubuh makhluk yang ia kenal; makhluk yang sejak tadi ada dipikirannya.

Sial, apa yang sedang dia lakukan? Gerutu InuYasha. Lekas pergi dari sini, dasar Sesshomaru brengsek!

InuYasha merasakan tubuhnya yang dingin karena udara malam tiba-tiba ditutupi oleh selimut yang hangat. Sebuah cakar tajam menyentuh pipinya dengan lembut saat selimut itu mencapai dagunya.

Langkah kaki itu kemudian menjauh dan pintu kamarnya kembali tertutup, membiarkan penghuninya untuk istirahat sepanjang malam.