Panggilan Barunya adalah Ayah
(Daddy's the New Title by gdesertsand Indonesian Translation)
Chapter 4: Jalan menuju Penerimaan – Penerimaan Luffy
Kematian adalah sesuatu yang pasti akan terjadi pada siapapun atau apapun yang memiliki kehidupan. Tidak ada yang bisa menghindarinya karena hidup ini hanyalah pinjaman dan kapanpun dapat direbut dari kita. Jadi hal yang hanya dapat kita lakukan adalah hidup tanpa penyesalan. Untuk kita—
Law menutup buku yang ia baca. Semua yang tertulis sepertinya hanyalah omong kosong untuknya. Hal itu hanyalah ditulis untuk membuat orang-orang berpikir bahwa kematian adalah salah satu hal yang harus di sangka dalam hidup.
Yang sebagian besar memang benar.
Pemakaman sudah selesai selama seminggu yang lalu dan para anak-anak sangat berseteru dengan para orang dewasa di sekitar mereka. Terutama Ace, anak itu tidak ingin siapapun dekat-dekat dengan adik-adiknya. Suatu hal lain yang dianggap masalah adalah setiap kali kata-kata 'adopsi' di ucapkan, Ace menjadi semakin berbahaya dari sebelumnya.
Si dokter bermata keemasan itu menghela napas pelan. Kenapa semuanya menjadi lebih sulit?
"Bagaimana perasaanmu hari ini, Law?" tanya suara perempuan padanya.
Saat ini Law sedang mengunjungi psikaternya yang merupakan suatu keharusan sejak pemerintah mengurusnya.
Pembetulan, sejak Opsir Smoker mengurusnya.
"Tidak baik Vivi-ya," jawabnya begitu ia melemaskan otot-ototnya di sofa yang ia tidurkan. Lalu ia melihat bahwa sang dokter berambut biru cyan itu sedang menulis sesuatu di notepadnya.
"Masih mendapat kilas balik?" tanyanya dengan nada keibuan yang membuat Law terbiasa dengan hal itu. Vivi sepuluh tahun lebuh tua darinya, tapi ia tetap tidak bisa menolaknya bahhwa ia suka dengan nada suara dan hal yang menenangkan seperti itu.
"Ya," lalu ia berpikir kalau berbicara pada Vivi dengan posisinya sekarang sangatlah tidak sopan tapi ia pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk mengubah posisinya itu. Lagipula tata krama tidak pernah sejalan dengannya.
"Seberapa sering?" tanyanya lagi saat ia mulai merekam percakapan mereka hari ini, bagaimanapun, Law adalah kasus special untuknya dan juga pemerintah.
"Sering," lalu ia menghela napas kembali, "Lebih sering setelah Shanks-ya meninggal."
Keheningan yang Law tumbuh terbiasa untuk menyelesaikan setiap kali kematian sang rambut merah itu di angkat sebagai topic yang membuat tidak ada yang tahu bagaimana menanggapinya, terutama saat berbicara pada orang seperti Law yang masih di kelaskan pada list 'mental tidak stabil'.
Sekarang Trafalgar Law bukanlah orang gila atau pun waras yang seperti itu. Jika para dokter psikolog di tanya maka hanya satu kata yang pas untuk situasinya.
Trauma.
Ia di selamatkan saat ia berumur tiga belas tahun dari sindikat yang dianggap, pada saat itu, sebagai kelompok criminal paling kejam. Saat ia ditemukan, orang-orang menganggap bahwa ia tidak dapat diselamatkan. Ia seperti boneka yang menunggu perintah. Tapi satu orang tidap pernah menyerah dan mengambil Law di bawah pengawasannya. Ia jugalah orang yang menyewa Vivi untuk berbicara padanya, yang pada saat itu sudah dalam uji praktek dalam perjalanannya menjadi psikater. Vivi adalah orang kedua yang tidak pernah menyerah pada Law.
Karena itu Law sangat menyukai kedua orang tersebut untuk dirinya yang sekarang yang sudah bisa bergaul dengan masyarakat tanpa merasa takut.
"Kau ingin memberitahuku tentang kilas balikmu?" Vivi membawa kembali topic asli mereka.
"Tentang bagaimana mengerikannya kehidupanku saat itu? Aku sudah memberitahumu tentang hal itu ribuan kali." Law cemberut sedikir saat ia ditanya untuk mengulangi kembali cerita yang sudah ia katakana sejak pertama kali Vivi mulai berbicara padanya, "Kau yakin kau bukan orang sadis?"
Viv hanya menunjukannya senyum ramahnya, "Jika orang disini yang sadis maka orang itu adalah kamu."
"Kau benar juga." Law berkata.
"Jadi?" Vivi mencoba mendapatkan jawaban kembali.
Kali ini mata Law terlihat berkabut,
"Dia mengajarkanku bagaimana untuk menyiksa orang," ia mulai bercerita.
"Law." Pria itu memanggil namanya dan ia tidak punya pilihan tetapi meresponnya.
"Ada apa, Doffy?" tanya delapan tahun Trafalgar Law yang saat pria berambut pirang itu mengangkatnya dan menaruhnya di pangkuannya.
"Kau suka kan jika kau belajar hal-hal yang baru?" pria yang hanya diketahui oleh sang anak sebagai 'Doffy' bertanya dengan senyum sumringah di wajahnya.
Berpikir jika Doffy akan mengajarinya sesuatu yang menyenangkan, Law hanya menganggukkan kepalanya dengan senang. Hanya saja ia tahu apa yang akan terjadi padanya ia pastinya akan menjawab tidak.
Tapi Doffy selalu mendapatkan apa yang ia mau.
"Kalau begitu ayo kita bertemu teman bermainmu." Senyum sadis menemani sang anak sampai akhir perjalanan mereka menuju sel yang gelap.
Di ruangan terrsebut hanya ada satu lampu di atap dan membuat hanya sebagian kecil penerangan untuk melihat tetapi cukup untuk melihat seorang pria duduk di atas kursi. Mata dan mulut pria tersebut di tutup oleh kain membuat Law berpikir bahwa mereka akan bermain petak umpet. Tetapi mengapa menutup mulut dan mengikatnya ke kursi? Satu lagi yang di perhatikan sang bocah adalah ruangan tersebut sangatlah bau.
"Doffy, aku tidak mau disini." Protes Law saat ia meminta sang pria untuk menurunkannya saat Doffy membawanya kesini di lengannya.
"Jangan khawatir Law," Doffy berjalan menuju pria yang diikat tersebut dan menendang kursi itu yyang membuatnya jatuh ke lantai. Law sangat bisa mendengar suara kesakitan saat hal itu terjadi. "Aku akan mengajarimu cara untuk bersenang-senang, fufufu."
"Lalu dia membuatku untuk mengiris dan memotong tiap daging yang dapat aku raih dan…" saat ia terdiam sepertinya ia dekat dalam menghidupkan kembali masa lalunya. Ia terhenti dan Vivi melihat bahwa Law sudah tidak bersama dengan dirinya lagi.
"Tidak apa, Law. Kau bisa berhenti sekarang." Vivi berjalan menuju pasiennya tersebut tetapi saat ia menaruh tangannya ke pundaknya sang pria segera menghindar dari sentuhannya seperti hewan yang ketakutan.
"Tidak…" gumam Law, "Tidak, aku mohon jangan…" lalu ia mencengkram kepalanya dengan tangannya seperti ia ingin mengancurkannya dengan tekanan, "Aku tidak mau… tidak lagi…" rintihnya, "Tolong…"
Vivi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tiap kali ia mencoba untuk meraihnya tiap kali Law dalam keadaan seperti itu hanya akan membuat satu ruangan hancur berantakan. Ketakutan yang mendarah daging itu akan menyebabkan dia untuk menyakiti orang-orang di sekelilingnya.
"Law, aku disini. Jangan khawatir." Vivi mencoba untuk meyakinkannya dan berharap kata-katanya mencapai telinganya.
Memang sampai, tetapi dengan suara dan nada yang berbeda.
"Law, aku disini. Jangan khawatir." Terdengar ucapan tersebut dengan nada yang membuat bulu kuduknya merinding.
"HENTIKAN!" Law berteriak begitu ia lari menuju pintu. Ia mencoba untuk mmbukanya tapi pintunya terkunci. Vivi memastikan untuk mengunci pintunya karena terakhir kali ia lari keluar di keadaannya yang seperti itu beberapa remaja dalam kelompok gangster hampir dihajar setengah mati. Di tambah lagi, hal tersebut hampir membuat Vivi menyerah untuk mengembalikan kesadaran pasiennya. Untungnya ia tidak menyerah.
"BIARKAN AKU KELUAR!" Law berteriak saat ia menggedor-gedorkan pintu dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya sibuk memutar knob pintu berharap akan terbuka, ÐOFFY! BIARKAN AKU KELUAR! AKU BERJANJI AKAN MENJADI ANAK BAIK! AKU MOHON BIARKAN AKU KELUAR! AKU AKAN MELAKUKAN APAPUN YANG KAU MAU!" ia berteriak secara mati-matian saat ia terus menggedor-gedor benda berkayu itu untuk mendobrak buka dengan kuat.
Vivi memandangi lantai untuk beberapa saat saat air mata mulai terbentuk di pinggir matanya sebelum berjalan menuju mejanya dan membuka satu laci yang berisikan beberapa suntikan dengan ukuran yang berbeda. Ia lalu mengambil botol biru kecil di pinggir kanan meja dan memasukkan jarum terkecil ke cairan tersebut ke dalamnya. Sang dokter yang sedang panic itu tidak menyadarinya mendekati dirinya saat kesadarannya masih di dalam masa lalunya dan hal itu pun membuat semuanya menjadi mudah untuk Vivi untuk menyuntikkan solusi pada pundak kiri Law membuat sang pria perlahan-lahan jatuh ketidaksadaran. Setelah sang dokter berambut biru cyan itu sudah yakin bahwa pasiennya itu tertidur lelap, ia segera membuka pintu dan tidak terkejut saat ia melihat sang pria yang saat ini bertanggung jawab untuk mengurus pasiennya.
"Ada kemajuan?" Smoker bertanya saat ia berjalan masuk dan mengangkat Law dan menidurkannya di atas sofa kembali.
"Maafkan aku…" Vivi meminta maaf saat ia tetap berdiri dimana ia sekarang dan tidak berani bergerak.
"Jangan," Smoker berusaha meyakinkannya, "Itu bukan salahmu. Para brengsek itulah yang membuat Law benar-benar tidak pernah bisa bebas dari penjaranya dengan mudah."
"Tapi ini sudah bertahun-tahun Smoker-san!" teriak Vivi saat ia membiarkan air matanya jatuh dari wajahnya, "Sudah delapan tahun terlewatkan dan dia masih ketakutan pada pria itu meskipun dia tidak ada disini lagi! Ia rela melakukan apapun hanya untuk tidak di hokum!" kemarahan mulai memakan dirinya hanya dengan memikirkan Law di masa lalu, badan meringkuk di atas tanah bertanya jika ia telah menjadi anak yang nakal dan jika 'Doffy' akan mengunci dirinya lagi di ruangan gelap, berbau busuk itu yang diwarnai dengan cairan lengket merah yang menempel di lantai dan dinding.
"Dan dia sudah bersama mereka selama tiga belas tahun," Smoker menjawab perkataannya, "Mari sajalah berbahagia bahwa Law dapat melakukan hal-hal biasa di luar saat ini."
"Ya dan kapan saja ia bisa hilang kendali lagi. Apa yang akan kau lakukan jika hal itu terjadi? Mengurungnya seperti apa yang dia lakukan pada Law?"
"Karena itu kita disini kan?" Smoker menatapnya dengan keyakinan, "Kita harus ada disini untuk mencegah hal itu terjadi."
XXX
"Hei Kidd," Killer menyapa temannya saat ia masuk ruang kantor membawa setumpukan kertas untuk di tanda tangani oleh si rambut merah. Seperti biasa ia menemukannya menggeram dengan kesal hanya dengan melihat jumlah kertas-kertas tersebut yang harus di baca olehnya.
"Tak bisakah kau saja yang menandatanganinya?" Kidd menganjurkan begitu Killer menaruh dokumen-dokumen itu diatas mejanya.
"Bisa saja jika aku bosnya." Jawab Killer saat ia memutar matanya dan berjalan mendekati jendela untuk menarik tirainya. Ruangan ini terlalu gelap untuknya.
"Kurang ajar kau Killer! Tarik kembali tirainya! Mataharinya membutakanku!" protes sang pria berambut merah itu begitu ia menghalangi cahaya matahari yang masuk mengenai matanya dengan tangannya yang ia taruh di depan wajahnya.
"Kalau begitu kenapa tidak nyalakan lampunya?" tidak ingin beradu mulut Killer menuruti temannya.
"Tidak bisakah kau melihatku mencoba untuk tidur?"
"Dan berpura-pura kalau kau tidak ada disini? Maaf tapi kau punya pekerjaan yang harus dilakukan." Dengan itu Killer menyalakan lampu diruangan itu.
"Kau adalah teman tidak berperikemanusiaan." Gerutu Kidd saat ia menarik secarik kertas dan mulai membaca isinya.
"Senang menjadi salah satunya." Killer bermaksud untuk meninggalkan ruangan itu ketika Kidd menanyakan sesuatu padanya,
"Sudahkah kau menemukan masa lalunya Trafalgar?"
"Belum," si pirang segera menjawab, "Tapi mengapa tiba-tiba tertarik?"
Ya, mengapa Kidd benar-benar ingin tahu tentang masa lalu teman dokter bedah mereka?
"Dia mendapatkan kilas balik lebih banyak dari sebelumnya," Jawab Kidd begitu ia menaruh kertas tersebut dan menandatanganinya, "Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi yang membuat reaksi seperti itu."
Pertama kali Kidd menyaksikan efek dari kilas balik pada Trafalgar bukanlah pengalaman yang bagus sama sekali. Hal itu terjadi pada saat festival sekolah mereka dan mereka terkunci di dalam ruang gudang olahraga. Disana cukup gelap dan lampunya sama sekali tidak berfungsi. Untunglah ponsel Kidd ada bersamanya pada saat itu dan disana ada beberapa sinyal jadi ia bisa meng-sms Killer. Hal yang sama sekali tidak ia duga adalah Trafalgar tiba-tiba menggigil seperti dalam kedinginan meskipun sebenarnya ruangan itu terasa seperti 32 derajat Celsius. Lalu sang insomnia itu memeluk dirinya sendiri seperti ia berusaha untuk melindungi dirinya begitu ia melihat sekitarnya dengan panik. Begitu ia menyadari bahwa sama sekali tidak ada jalan keluar dia berteriak dan menggedor-gedor pintu tersebut dengan keras yang sampai-sampai membuat tangannya berdarah. Kidd segera menahan tangan yang mulai terluka itu supaya hal itu tidak akan membuat tangannya semakin terluka tetapi kontak tubuh itu malah membuat Trafalgar lebih panik dari sebelumnya.
Kidd tidak akan pernah lupa kata-kata yang Trafalgar katakan pada hari itu.
"Aku janji aku akan menjadi anak baik… kumohon biarkan aku keluar…" ucapnya dengan suara anak yang terluka sangat dalam.
Killer memandangi temannya itu sebentar sebelum berkata, "Satu-satunya yang aku temukan adalah wali Trafalgar Law adalah opsir Smoker yang sekarang adalah wakil laksamana pemerintah. Mereka tidak satu darah."
"Aku sudah tahu itu." Ia bahkan bertemu dengan orangnya langsung. Kidd masih terheran-heran bagaimana bisa Smoker menghisap cerutu-cerutu itu tanpa terkena kanker tenggorokan.
"Sayang sekali, hanya itu yang bisa aku dapatkan secara legal." Killer lalu melihat ke arah Kidd seolah-olah meminta izin dan ia hanya mendapatkan seringai.
"Kalau begitu hack database mereka."
XXX
Trafalgar perlahan-lahan keluar dari alam mimpi dan mengedip-ngedipkan matanya. Sejak kapan ia tertidur? Hal terakhir yang ia ingat adalah Vivi menanyakannya tentang kilas baliknya dan kemudian… tidak ada…
ia menekukkan bibirnya karena ingatannya sendiri, ia berusaha untuk duduk dan menyadari bahwa ia sudah tidak di klinik dokternya tetapi di kamar tidurnya sendiri yang artinya ia sudah kembali ke rumahnya sendiri. Bagaimana bisa terjadi? Berusaha untuk menahan rasa sakit yang mulai muncul di kepalanya, ia beranjak dari tempat tidurnya menuju pintu dan membukanya dan berjalan menuju lantai bawah untuk segelas kopi. Tapi orang pertama yang ia temukan di dapurnya yang merokok dua cerutu sekaligus membuatnya berpikir dua kali untuk kembali ke kamarnya dan tidur. Pria itu jika ada disini pasti tidak akan baik… biasanya…
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Smoker padanya saat ia menaruh cerutu-cerutunya di atas asbak sebelahnya. Lalu ia bersandar sedikit di meja untuk posisi yang tepat.
"Baik… kurasa. Maksudku selain dari sakit kepala sekarang, apa kau yang mengantarku pulang kesini barusan?" Law berjalan maju dan duduk diatas kursi jadi ia bertatapan langsung dengan walinya. Lagipula ia tahu kalau ini akan menjadi percakapan yang lama jadi kenapa tidak?
"Ya," jawab Smoker begitu dia berdiri dari kursinya untuk mebuat beberapa gelas kopi yang sangat Law butuhkan sekarang, "Kau mendapat kilas balik di tempat Vivi jadi dia harus menyuntikkan penenang padamu untuk menenangkanmu."
"Shit," ceplosnya pelan begitu ia menaruh telapak tangannya pada wajahnya, "Apa aku menghancurkan ruangannya? Apa aku harus membayar sesuatu?"
"Tidak dan tidak ada, kau hanya hampir menghancurkan pintunya tapi untungnya benda itu masih utuh." Jawab Smoker begitu dia menaruh segelas kopi yang baru diseduh didepan sang dokter bedah.
"Makasih, Smoker-ya." Gumamnya dan menghirup aroma minuman favoritnya sebelum menyeruputnya.
"Kudengar kau bermaksud untuk mengadopsi anak-anak Akagami." Smoker memincingkan matanya pada hal ini tetapi sebelum ia melanjutkan kata-katanya terputus oleh pelototan dingin dan suara yang sama dinginnya.
"Aku akan dan kau tidak akan bisa melarangku." Law menjawabnya dengan sengit.
"Perlu aku ingatkan kau kalau alasanmu tidak tahan dengan anak-anak adalah mereka akan menambah peluang untukmu mendapatkan kilas balik?" walinya membalas yang sama sekali tidak senang dengan keputusan Law tentang membawa anak-anak ke rumahnya sendiri. Itu akan berbahaya untuk semuanya.
Tidak terdengar ada balasan untuk entah berapa menit sebelum Law berbicara lagi,
"Aku berusaha untuk melepaskan diri…" bisiknya yang hampir membuat Smoker tidak mendengarnya, "Terima kasih untuk kopinya…" dengan begitu Law berdiri dan pergi dari ruangan tersebut.
Smoker mendengar pintu depan yang dibuka dan ditutup juga yang disusul dengan suara mesin dinyalakan. Trafalgar bermaksud untuk berkendara ke suatu tempat. Dengan telapak tangannya mendarat di wajahnya Smoker menggeram dalam kekesalan,
"Bocah sialan. Aku tak tahu apakah beberapa baut di kepalanya sudah kendur." Smoker lalu mengambil ponselnya untuk menelpon bawahan terpercayanya, "Tashigi, aku ingin kau…"
XXX
Anak-anak kembali pada rutinitas mereka biasanya setelah sudah seminggu terlewatkan. Meskipun itu hanyalah rutinitas, sementara kelakuan biasanya tidak ada disini lagi. Setiap hari seseorang akan datang kerumah mereka untuk memasak makanan untuk mereka dan hanya itu. Ace tidak akan senang jika ada orang lain yang tinggal di rumah mereka untuk jangka waktu yang lama. Bahkan Makino tidak diperbolehkan tinggal untuk jangka yang lama.
Sabo tidak begitu riang lagi pada pelajarannya. Ia hanya berusaha melakukan yang terbaik di sekolahnya untuk membuat Ayahnya bangga padanya.
"Ayah, hei Ayah!" anak berambut pirang berusaha untuk mendapatkan perhatian ayahnya yang sedang membaca beberapa dokumen yang sulit dimengerti oleh anak berumur Sembilan tahun itu.
"Ada apa, Sabo?" Shanks memberinya perhatian yang setara pada salah satu dari para putranya yang ia adopsi begitu ia menaruh pekerjaannya di atas meja.
"Lihat, lihat! Aku mendapatkan nilai sempurna di ulangan matematika!" ujar Sabo dengan gembira begitu dia menunjukkan bukti dari kata-katanya.
"Woah! Itu bagus! Teruskan anakku!" Shanks juga mendapatkan kebahagiaan dari putranya dan mengusap-usap rambut pirangnya, "Jika kau sepintar ini maka suatu hari kau akan bisa membantuku dalam pekerjaanku!"
"Benarkah?! Aku bisa?" perasaannya yang berada di langit kesembilan tidak dapat dibendung lagi ketika dia mendengar kata-kata tersebut terlontar keluar dari mulut ayahnya.
"Tentu saja!" pria berambut merah itu meyakinkan.
"Kalau begitu aku akan menjadi penyelidik terhebat di seluruh dunia!" Sabo menyatakan dengan lantang sambil melompat-lompat dari kaki satu ke yang lainnya dengan riang.
"Tetap memiliki impian besar Sabo!"
Apakah itu benar-benar berarti? Shanks sudah tidak ada disini lagi.
Luffy masih tidak berbicara sepatah katapun. Ia menetap didalam kamarnya setiap kali mereka pulang kerumah. Topi jeraminya masih didalam genggamannya dan tidak memperbolehkan siapapun menyentuhnya. Kalau boleh jujur, Luffy yang suram memiliki efek yang membuat semuanya juga suram. Tidak ada yang meminta Ace dan Sabo untuk membelikannya makanan kecil setiap kali saatnya makan siang disekolah, tidak ada yang meminta kedua kakaknya untuk membacakannya beberapa buku cerita sebelum tidur dan tidak ada tawa canda tanpa peduli pada dunia.
Kejutan benar-benar memiliki kekuatan yang luar biasa untuk mengubah seseorang yang memiliki jiwa riang untuk terdiam selama ini.
Satu hal lagi adalah Sabo dan Ace mulai sering berada di perkelahian akhir-akhir ini.
Dan juga merupakan alasan kenapa mereka berdua di ruangan Kepala Sekolah lagi.
"Kalian…" KepSek Iceburg mulai, "Aku tahu kalian berdua sedang dilanda kesedihan karena kehilangan seseorang yang penting dalam hidup kalian tapi bukan berarti kekerasan adalah jawaban dari segalanya."
Iceburg tahu tentang kematiannya Shanks dan seberapa besar ia ingin bersimpatik pada anak-anak ini mereka sudah tidak bisa di beri toleransi lagi. Terutama para orang tua dari para anak yang dihajar dan meninggalkan beberapa patah tulang, Sabo dan Ace menjadi nakal begitu waktu terlewat tanpa ada wali untuk mengawasi mereka.
"Hmp! Mereka pantas mendapatkannya karena bersekongkol untuk melawan Luffy." Ace menjawab balik saat ia menyilangkan lengannya didepan dadanya.
"Ya! Mereka menindas adik kami." Tambah Sabo dengan geram.
"Cukup!" teriak Iceburg. Selalu itu jawaban yang mereka berikan selama beberapa hari terakhir dan telinganya sudah berdarah mendengar hal yang sama berulang kali, "Kalian berdua akan menetap disini untuk hukuman!" Iceburg menyatakan secara final dan tidak meninggalkan ruang untuk protes.
Sayangnya mereka berdua sadar akan hal itu yang sudah dipastikan akan protes.
"Tapi Luffy menunggu kami diluar!" protes Ace saat ia melompat turun dari kursinya dan berlari menuju meja KepSek dan memanjatnya sehingga mereka bertatap muka, "Dia tidak bisa pulang sendiri!"
"Dan kenapa dengan itu?" KepSek Iceburg mengangkat satu alisnya. Tentunya Luffy tidak—
"Luffy itu buta arah," Sabo menjawab pertanyaan tersebut.
Oh
"Kalau begitu dia kan bisa menunggu untuk beberapa jam."
"Tapi—"
"Tidak ada lagi 'tapi-tapian' Ace, kau harus belajar bagaimana kau harus bertanggung jawab atas tindakanmu."
"Bukan kami yang salah!" herannya Sabo lah yang protes sekarang, "Jika kami tidak lakukan apapun maka Luffy akan terluka lebih dalam." Gumamnya pada kalimat terakhir dengan pelan tetapi Iceburg masih bisa mendengarnya.
"Kalau begitu kau bisa memanggil salah satu dari guru… atau aku."
"Orang dewasa tidak bisa di percaya." Ujar opini Ace begitu ia melompat turun dari meja dan menuju keluar ruangan, "Mereka selalu berusaha untuk memisahkan kami."
Sabo mengikuti kakaknya tanpa sepatah katapun.
X saya setuju X sama Ace! X
Luffy sedang menunggu diluar pagar sekolah. Kalifa-sensei bilang bahwa dia harus menunggu untuk beberapa jam untuk kakak-kakaknya karena mereka sekarang sedang di disiplinkan atas tindakan mereka. Sadar akan alasan kenapa Ace dan Sabo di omeli adalah karena dirinya, bibir Luffy bergetar sedikit saat ia berusaha menahan air matanya. Ia sudah lelah menangis.
Kalau saja Ayah ada disini maka dia tahu apa yang akan dia lakukan.
Ayah selalu tersenyum dan mengangkat Luffy tinggi-tinggi di udara.
Ayah selalu menunggu mereka didepan pagar sekolah dan membelikan mereka makanan manis kecil sebelum pulang ke rumah.
Dimana Ayah sekarang? Kenapa mereka mengubur Ayah di dalam tanah?
Luffy bermaksud untuk menggenggam topi jeraminya yang ada diatas kepalanya untuk sedikit penghiburan saat hembusan angin kencang bertiup. Apa yang sang anak lakukan adalah memaksa untuk menutup matanya hanya untuk membukanya lagi tiba-tiba ketika dia merasakan dan mendengar bahwa si angin mencuri topinya!
Angin bodoh itu! Beraninya dia meniup topinya!
Luffy bergegas mengikuti topinya kemana angin akan membawanya, melupakan bahwa ia seharusnya menunggu kakak-kakaknya.
Ia berlari dan berlari sampai ia sampai di pantai dekat sekolah mereka dimana mereka biasanya melukis. Sepertinya sang angin sedang mengejeknya karena dia membuat topinya mendarat di laut jauh dari bibir pantai!
Sekarang Shanks memberinya panggilan 'Anchor' untuk satu alasan.
Ia tidak bisa berenang.
Mengembungkan pipinya dengan frustasi Luffy berusaha untuk memikirkan rencana untuk bagaimana ia bisa mengambil kembali topi milik Ayah. Ia tidak ingin kehilangan topi jerami itu, Luffy memutuskan bahwa ia akan mengembalikannya pada Shanks setelah ia akhirnya kembali pulang. Jadi dia harus mengurusnya sementara Ayah tidak ada disini.
Tapi akhirnya berpikir bukanlah poin kuat Luffy sama sekali.
Sebelum hampir menyerah Luffy melihat sebuah perahu dan apa yang perahu lakukan? Mengambang di atas laut! Itu dia! Senang akan penemuannya Luffy segera berlari menuju dimana perahu itu dan beruntung tali yang mengikat perahu di pinggir pantai itu tidak terikat tetapi hanya terkait pada potongan kayu yang menancap di tanah. Jadi Luffy segera menaiki perahu itu dan melepas kaitan tali itu sehingga ia bisa berlayar.
Jika saja Luffy tidak melupakan bahwa dirinya tidak bisa berenang dari pertama maka hidupnya tidak akan dalam bahaya. Sayangnya ia lupa.
XXX
Law tidak tahu kemana ia pergi sekarang. Semua yang ia tahu adalah dia butuh udara segar sejak banyak hal yang terkumpul di dalam pikirannya dan campuran emosinya benar-benar sama sekali tidak membantunya. Masalah-masalahnya sudah ada dalam list yang panjang.
Pertama, ia berpikir kalau ia sudah melupakan masa lalunya yang sayangnya masih terdiam diotaknya karena ia masih mendapat kilas balik.
Kedua, ketika kilas balik tersebut terlalu kuat maka ia akan kehilangan kendali dalam kehidupan nyata dan melupakan semua yang ia lakukan sementara ia terjebak dalam dunia masa lalu.
Ketiga, ia harus menempatkan perkelahian dengan Smoker untuk memperbolehkannya mengadopsi tiga anak.
Lihat? Banyak sekali masalah dan yang diatas adalah tiga besar dari semuanya.
Mungkin ia harus pergi ke pantai dekat SD New World. Laut memiliki efek luar biasa untuk menenangkan pikirannya.
Ya, laut kedengarannya bagus.
Akhirnya setelah mendapatkan tujuan Law segera menuju pantai tersebut dan memarkirkan mobilnya. Ia beranjak keluar dari mobilnya dan berjalan dekat bibir pantai tetapi tidak terlalu dekat supaya tidak basah akibat ombak air. Ia sedang tidak mood untuk melepas sepatunya. Ia menghirup dan menghela napas dalam-dalam, mencium aroma asin dari laut dan menghela napas. Ini memang benar-benar menenangkan.
Ketenangan itu hanya berlangsung sebentar ketika matanya menangkap sesuatu dari jauh. Disana ada perahu kecil tetapi yang benar-benar menangkap perhatiannya adalah yang mengendarainya…
Apa itu Luffy?
Kenapa Luffy ada disana?
Menyipitkan matanya ia melihat anak itu berusaha untuk meraih sesuatu. Law memiringkan kepalanya sedikit untuk melihat apakah itu. Voila, itu adalah topi jerami yang pernah Shanks-ya pakai…
Tunggu…
Jika memorinya benar ia dengar dari pembicaraan teman-teman Shanks di pemakaman bahwa Luffy tidak bisa berenang karena panggilan dari si rambut merah pada si bungsu adalah 'Anchor'.
Perahu…
Laut…
Jangkar…
Anchor…
Shit! Si bocah punya kesempatan yang besar dalam membuat dirinya sendiri tenggelam!
Dan takdir benar-benar kejam atau hanyalah seorang sadis karena setelah Luffy akhirnya dapat topinya dan tersenyum atas kemenangannya, ia kehilangan keseimbangan dan bertemu dengan dinginnya air laut. Itu benar-benar ide yang buruk.
"Luffy!" Law berteriak saat ia melepas sepatunya dan berenang menuju anak yang mulai panic itu. Jika Luffy akan semakin panic maka akan ada kesempatan yang besar untuk tenggelam karena oksigen tidak dapat masuk ke dalam tubuhnya secara teratur.
Law berenang lebih dan lebih cepat, adrenalin terus memerintahkan dirinya. Satu hal yang harus di capai dan hal itu adalah selamatkan Luffy. Ia tidak mampu untuk kehilangan satu lagi dengan segera.
Akhirnya ia dapat meraih Luffy di pinggangnya tapi sang bocah masih terus mengayun-ayunkan lengannya di air dan membuat cipratan-cipratan kuat yang mengenai wajah Law.
"Luffy! Luffy-ya tenang!"
Mendengar panggilan yang familiar Luffy berhenti bergerak dan melihat ke atas. Ia bertatap muka dengan wajah yang bermain dengannya dan memasaknya beberapa pancake enak. Orang itu adalah dokter yang mengurus mereka ketika Shanks pergi.
"Taka pa, aku ada disini sekarang." Law berusaha untuk meyakinkan bocah itu tetapi membuat orang-orang nyaman diluar istilah medis bukanlah poin kuatnya. Tapi ia masih mencoba, "Tidak perlu takut."
Luffy mengangguk padanya.
Law dengar kalau si bungsu tidak mengatakan sepatah kata pun sebelum dan sesudah pemakaman.
Apaka dia masih syok?
Atau mungkin si anak ini masih belum percaya bahwa ayahnya tidak akan pernah kembali?
"Ayo, kembali ke darat." Ucap Law saat ia menaruh Luffy diatas perahu tetapi sang bocah mulai bergeliat, "Apa?" tanya sang dokter dengan tidak sabar. Bisakah kau menyalahkannya? Airnya benar-benar dingin sedingin es di kulitnya! Tapi kemudian Luffy menunjuk kea rah air lagi dan Law mengikutinya…
Topi jeraminya…
Tentu saja…
Itu pasti terjatuh saat sang anak sedang panic barusan. Dan jaraknya mulai bertambah akibat ombak.
"Okay," mengetahui bahwa ia tidak memiliki pilihan tetapi mematuhinya, "Aku akan mengambilkannya untukmu jadi naiklah ke atas perahu, Luffy-ya."
Luffy memandanginya dengan tatapan tidak yakin tetapi akhirnya menurut. Ia naik ke atas perahu itu dan Law berenang menjauh dari perahu untuk meraih topi yang dimiliki oleh almarhum dan mantan dosennya itu.
Anak-anak itu sangat aneh… pikir Law begitu ia akhirnya mendapatkan topi itu dan memegangnya dengan erat supaya tidak hanyut lagi. Setelah mendapatkan objektifnya, ia berenang kembali menuju perahu kecil itu. Ia benar-benar sudah dekat sampai-sampai kakinya menyerah.
Shit…
Ia harusnya berolahraga sekali seminggu untuk menjaga tubuhnya dengan baik.
Panic mulai merambat dirinya saat kakinya mulai mati rasa. Rasanya seperti berton-ton logam menariknya kebawah dan bertemu dengan kegelapan dari dasar laut. Ini gawat, ini gawat…
Ia mencoba untuk menggerakkan lengannya untuk setidaknnya mengangkat badannya ke permukaan kembali. Tapi sepertinya takdir benar-benar mengejeknya karena disaat ia sampai di permukaan untuk mengambil udara, ia ditarik kembali ke dasar laut. Tetapi setidaknya ia mendapatkan jarak, masalahnya adalah tubuhnya mulai merasa lelah akibat kekurangan oksigen.
Tetapi ia tidak takut kehilangan nyawanya.
Hanya satu hal yang terlintas di pikirannya saat itu.
Aku harus mengembalikan topi ini ke Luffy-ya…
Mendapatkan penyelesaian itu Law memaksakan kakunya untuk bangun. Hal itu sangat menyakitkan dan jika ia bisa menjerit ia akan melakukannya, tetapi jika ia membuka mulutnya ia akan kehilangan lebih banyak udara. Perlahan-lahan ia memaksakan kaki kanannya untuk menendang airnya. Rasa sakit menyebar di badannya dan secara internal dia meringis. Lalu ia melakukannya lagi dengan kaki kirinya dan hal yang sama juga terjadi. Meskipun ia tidak peduli asalkan ia bisa kembali ke permukaan.
Akhirnya tangannya merasakan permukaan kayu di tangannya dan, sekuat tenaga dia dapat kerahkan, memaksakan dirinya untuk naik ke perahu tersebut. setelah sukses melakukannya, dia segera berbatuk akibat tekanan air lakukan padanya.
Aku benci lautan! Sudah resmi sekarang! Tangisnya dalam hati.
Menghela satu lagi napas ia membuka matanya dan mengedipkan matanya untuk menghilangkan kabur dimatanya. Ia melihat ke samping kanannya dan melihat Luffy yang ketakutan.
Ia pasti membuatnya takut saat itu.
Law memaksakan menekuk atas kedua sudut bibirnya dan menyodorkan topi yang ada ditangannya itu kepada sang anak, "Ini, Luffy-ya."
Tangan yang bergetar karena ketidakyakinan terulur untuk mengambilnya. Luffy sejujurnya tidak tahu bagaimana harus bereaksi setelah kejadian yang ia baru saja saksikan. Pertama, Traffy berjanji untuk mengambil kembali topi Shanks dan kedua ia melihat pria tersebut ditelan oleh lautan! Ia sangat ketakutan kalau Traffy tidak akan pernah kembali. Tapi kemudian sang dokter menepati janjinya dan topi jerami itu kembali tanpa rusak sedikitpun.
"Kau tahu," Law mencoba untuk mendapatkan perhatian sang anak yang sepertinya sedang menghadapi kontes saling bertatapan dengan topi jerami itu, "Aku tidak tahu apa aku harus mengatakan ini tapi secara pasti ketika sesuatu yang berhubungan dengan perasaan bukanlah poin kuatku sama sekali." Akunya saat ia duduk dalam posisi orang Indian. Lalu ia berusaha untuk membuat Luffy untuk melihatnya tepat dimata dengan cara menggeliatkan jari telunjuk kanannya didepan mata si anak, "Aku tahu kalau berita mengejutkan itu masih belum masuk ke dalam pikiranmu kalau ayahmu tidak akan pernah kembali."
Mata Luffy terbelalak saat kata-kata itu masuk kedalam telinganya dan dia mulai gemetar. Hal ini tidak membuat sang dokter tidak menyadarinya. Dan Law masih melanjutkan kata-katanya.
"Dan aku tahu kalau kau tidak menyembuhkan luka itu secepat mungkin maka luka itu akan terkena infeksi yang tidak akan pernah bisa disembuhkan oleh seberapa hebat dokter itu."
Luffy sama sekali tidak ingin mendengar apa yang Traffy akan katakan lagi. Ia hanya ingin menutup apa saja di sekitarnya! Ia bermaksud untuk menutup telinganya saat Traffy memegangnya.
"Tapi," Law mulai lagi saat ia mengelus-elus tangan itu dengan lembut yang ingin menutup apapun dari kenyataan, "Shanks mungkin tidak kembali padamu secara fisik tetapi dia masih ada disini," ia tersenyum lembut begitu ia mendapat tatapan penasaran dari Luffy. cukup sama dengan anak yang pertama kali ia bertemu, "Kau tahu, ketika orang-orang meninggal tubuh mereka akan berhenti bergerak tetapi mereka akan tetap bersamamu."
"Bagaimana?" untuk pertama kali Luffy berkata karena ia ingin tahu apa yang Traffy bicarakan, "Bagaimana?" ia ulang lagi pertanyaannya.
"Shanks ada disini," lalu Law menekan dengan pelan baju Luffy yang basah yang tepat diatas dadanya dimana ia dapat merasakan jantungnya yang berdetak, "Dia akan terus bersamamu. Kematian hanya merebut fisiknya tetapi tidak akan pernah menghapuskan segala kenangan yang kita buat dan memori yang buat dengan orang yang sudah meninggal." Dia lalu menepuk-nepuk kepala berambut hitam itu dan mengusap-usapkannya sedikit, "Jadi jangan berpikir kalau Shanks meninggalkanmu sendiri."
Luffy sekarang mengerti apa yang Traffy maksud. Karena orang-orang di pemakaman tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi karena mereka tidak tahu apa yang harus mereka jelaskan pada seorang anak tentang apakan kematian itu. Mereka tidak ingin memberitahunya betapa kejam dan tanpa ampunnya hal itu… tapi apakah benar?
Shanks masih ada disini…
Shanks ada didalamnya…
Shanks sedang memperhatikannya…
"Hiduplah tanpa penyesalan Luffy! Dunia memiliki banyak hal untuk kamu lihat!"
Perlahan-lahan air mata mulai menetes keluar dari mata menuju pipi begitu dia menggenggam topi jerami pada dadanya dengan erat. Law, mengetahui bahwa ia sudah membuat sang anak menerima kenyataan, hanya melingkarkan lengannya pada tubuh kecil itu dan membiarkan tetesan kecil dari curah hujan yang berasal dari sang anak pada bajunya. Itu bukanlah masalah karena ia sudah basah dari atas sampai bawah.
XXX
"Kita mau kemana, Traffy?" tanya Luffy kecil ketika mereka akhirnya sampai di pinggir pantai dan sang dokter memengangkat dirinya untuk menaruhnya di atas tanah yang berpasir. Setelah sang anak menumpahkan segala kesedihannya ia mulai berbicara lagi. Law hampir lupa bagaimana cerewet dan bawelnya sang bocah ini.
"Aku tahu took laundry dekat sini. Kita harus pergi kesana untuk mengeringkan baju kita."
"Eh~" rengek Luffy pada pemikiran itu karena ia seharusnya menunggunya untuk kering, "Kenapa tidak beli baru saja?"
"Bisa saja," gerutu Law, "Jika aku memiliki uang untuk itu, sayangnya tidak jadi kau harus tahan dengan itu sebentar."
"Bukankah kau membutuhkan uang untuk menggunakan pengering itu?"
"Yah karena itu aku beruntung," jawab Law begitu ia menuntun anak itu untuk berjalan karena toko yang ia maksud sangat dekat dengan pantai, "Aku kenal pemiliknya."
Hanya sepuluh menit berjalan sebelum mereka terhenti dan Luffy membaca papan tanda toko itu,
'Mermaid's Wash and Dry'
"Kenapa duyung?" sang anak bertanya lagi dan Law sama sekali tidak tahu kalau ia lebih memilih Luffy yang pendiam disbanding yang cerewet. Tetapi saat ia melihatnya lagi dan melihat emosi membanjiri kembali kedua bola mata yang terus memancarkan aura penasaran itu ia menerima bahwa ia harus terbiasa dengan perbincangan sekarang karena hal itu lebih baik daripada yang tanpa emosi.
"Belum tahu," sang dokter medorong buka pintu dan menunjukkan toko yang sepi. Untunglah tidak ada orang disekitar karena Law sedang tidak ingin berurusan dengan banyak orang sekarang. Satu-satunya orang didalam hanyalah pemilik dari toko tersebut.
"Ah! Senang bertemu denganmu Law-chin!" seorang perempuan berambut hijau itupun menyapanya. Ia mengenakan baju hitam dengan gambar bintang ditengah dan kata 'Crimin', rok merah muda yang dihiasi dengan renda-renda dan sepasang sandal ber-high-heels setinggi tiga inci berwarna siver.
"Senang bertemu denganmu juga, Camie-ya," jawab Law saat ia menuntun Luffy dekat salah satu mesin itu dan mengambil beberapa handuk dari konter untuk menutupi badan mereka setelah melepas baju mereka, "Aku akan menggunakan mesin pengeringmu sebentar oke?"
"Bukan masalah Law-chin! Sudah lama sejak terakhir kali kau mampir kesini!" ujar Camie begitu ia membantunya memasukkan baju-bajunya kedalam mesin tersebut dampai ia melihat sang bocah disebelah sang dokter, "Lucunya!" ia mulai mencubit-cubit pipi dari anak yang tidak berdosa itu, "Kau tidak memberitahuku kalau kau punya anak, Law-chin!" protes Camie saat ia memeluk sang bocah, "Kau sangat kejam!"
"Dia bukan anakku," gerutu Law dengan kesal, "Sekarang lepaskan dia sebelum dia tercekik."
Benar saja Luffy perlahan-lahan mulai menjadi biru akibat dari pelukan peremuk tulang yang langsung membuat Camie segera melepasnya dan mulai meminta maaf.
"Namaku Camie," ia mulai mengenalkan dirinya pada sang bocah, "Namamu siapa?"
"Aku Luffy!" ujar sang bocah dengan gembira saat Law melingkarkan handuk di pinggang sang bocah.
"Camie-ya, maaf tapi aku tidak membawa uang bersamaku sekarang tapi aku berjanji aku akan membayarnya besok."
Camie menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu Law-chin, kau pernah menolong hidupku sekali jadi kupikir menggunakan pengeringku secara gratis sama sekali tidak sebanding dengan tindakanmu itu."
"Makasih,"
Tidak lebih dari lima menit pakaian mereka akhirnya kering dan mereka mengucapkan selamat tinggal pada Came dengan janji dari Luffy kalau ia akan kembali untuk bermain bersama 'wanita baik' itu.
"Haruskan aku mengantarmu pulang sekarang?" tanya Law saat ia membuka pintu mobil sisi untuk penumpang.
"Tidak! Aku seharusnya menunggu Ace dan Sabo didepan gerbang sekolah!" ujar Luffy memberi Law sebuah ide untuk kemana ia harus pergi.
"Sekolah dasar kalau begitu… tunggu itu kan hanya perjalanan sepuluh menit dari sini dengan kaki."
"Tak apa, tak apa! Traffy akan memberiku tumpangan!" nyanyi Luffy yang membuktikan bahwa ia tidak ingin berjalan lagi.
"Baiklah," Law menyanggupinya, dengan begitu Law berhenti didepan gerbang SD itu dan membiarkan Luffy melompat keluar dan berdiri didepan pintu gerbang, "Kau yakin kau akan baik-baik saja sendirian?"
"Hai! Lagipula Ace dan Sabo sudah akan keluar sebentar lagi."
"Baiklah." Dan dengan begitu Law melaju pergi dari sekolahan itu dan begitu ia sudah berada jauh Luffy melihat ke atas langit,
"Shanks… Ayah… aku mengerti sekarang," ia tersenyum lebar dengan senyum riangnya, "Kau tidak akan meninggalkan kami sendirian kan?" setelah mengatakan kata-kata tersebut angin berhembus kembali dan kali ini Luffy memastikan untuk menggenggam topinya yang ada diatas kepalanya. Lalu ia merasakan tangan seseorang diatas topi tersebut yang sepertinya bermaksud untuk mengacak-acak rambutnya.
"Tentu tidak, Luffy."
Mendengar suara yang familiar Luffy berputar ke arah suara tersebut tetapi hanya disapa oleh kedua kakaknya yang berlari menuju dirinya,
"Shishishi, kau memang Ayah yang terbaik, Shanks! Aku penasaran kalau Traffy juga bisa menjadi Ayah."
A/N: Luffy, kata-katamu di kalimat terakhir itu bikin saya meleleh dech~ *meleleh beneran* Inosen bangeeeett~!
For 93: Iya, maaf ya. Faktor niat juga sih. Tapi sekarang saya udah niat lagi kok! Jadi berharap saja saya bisa update cepet, buat ngejar story aslinya dari Author aslinya juga.
For Yuzuru Nao: Yep. Banyak Sho-Ai nyempil disini. Yap, kalau saya juga disitu, saya bakal setuju sama Ace.
For Rune Of Darkness: UPDAATEE~! XD
For may: Maaf lama! DX Tapi sekarang sudah niat lagi, jadi berharap saja kalau bisa update cepet! XD
DISCLAIMER: ONE PIECE ITU BUKAN PUNYA SAYA DAN AKAN TERUS MENJADI MILIK ODACCHI-SAMA! AND I NEVER OWN THE GREAT REAL STORY BY THE REAL AUTHOR, gdesertsand, FROM THE STORY Daddy is the New Title AND I JUST OWN THE TRANSLATIONS! THANK YOU VERY MUCH!
ThiefofStealth
