"STAY WITH ME"
Disclaimer : Nama-nama yang tercantum dalam cerita sepenuhnya milik mereka. Jungkook milik Taehyung. Taehyung milik saya *eh. I own nothing except the whole story line.
Genre : Romance, Drama-Hurt
Main Casts : Kim Tae Hyung x Jeon Jung Kook
Other Casts : Kim Nam Joon | Kim Seok Jin | Min Yoon Gi | Jung Ho Seok | Park Ji Min | Choi Soo Young
Rated : M (Buat Jaga-Jaga)
Warning : Top!Taehyung x Bottom!Jungkook
YAOI, BoyxBoy, Akan ada banyak kisah flashback
Chapter 4
Kim Taehyung POV
Handphone putih di sakuku bergetar. Aku menariknya keluar sebelum melihat nama yang tertera di layar kaca ponselku.
Park Jimin
Dengan sekali sentuhan, suara sobatku ini langsung menggema di telingaku.
"Yak, Kim Taehyung!" teriaknya. Aku terpaksa menjauhkan handphoneku dari telinga. Gila anak ini. Apa dia mau membuatku tuli? Suaranya benar-benar seperti kucing yang terinjak ekornya.
"Ish, bantet! Apa-apaan kau ini!" aku balas berteriak. Kadang-kadang temanku ini bertingkah menyebalkan, bagaikan gadis remaja yang sedang datang bulan. Ingin rasanya aku memukul kepalanya dengan kamus bahasa Jepangku barang satu-dua kali. Biar dia kapok. Sedetik kemudian aku mendengar kekehannya di ujung ponsel.
"Mianhae. Aku cuma ingin menanyakan sesuatu" ucapnya.
"Kau benar-benar mengajaknya kencan?"
Aku terdiam belum memberikan respon. "Kau tahu, pemuda itu, Jungkook. Kau mau mengajaknya kencan? Kau serius dengan hal itu?" sambungnya.
Mendengar kata 'kencan' sedikit membuatku dilema. Pasti Jimin tahu hal ini dari Sungjae. Semalam aku memberitahunya akan rencanaku untuk mengajak Jungkook keluar. Jika Jimin sudah tahu, maka kemungkinan yang lain juga sudah tahu.
Dia sudah tahu.
Aku menarik nafas perlahan.
"Benar. Aku akan berangkat sekarang" setelahnya aku langsung mematikan panggilan dan memasukkan kembali ponselku ke dalam saku. Tidak ada kata mundur, Tae. Kau sudah memulainya. Sekarang hadapilah.
Aku mengeluarkan kunci motorku dan mengambil dua buah helm. Aku mengecek lagi penampilanku di cermin di sebelah garasi. Sepertinya jacket kulit ini cocok dengan celana jins dan sepatu cokelatku. Aku mengacak sedikit rambutku yang siang tadi baru saja ku warnai dengan warna abu-abu. Warna yang unik. Aku suka bereksperimen dengan rambutku.
Semenit kemudian motorkupun telah berjalan menembus dinginnya angin malam. Tidak butuh waktu lama untukku karena kebetulan rumah Jungkook berjarak hanya 10 menit dari rumahku. Aku menepikan motorku ketika sudah tiba di depan rumahnya.
Disanalah dia.
Pemuda itu berdiri di depan gerbang rumahnya. Menggunakan sweater berwarna hitam dan merah yang berlubang di sekitar bahunya, ia terlihat sedikit nervous. Aku melepaskan helmku dan berjalan ke arahnya.
"Hi, stranger" ia berjalan menuju ke arahku. Ia menunjukkan senyum malu-malunya padaku. Aku harus menjaga kesadaranku tetap ada ketika melihat wajahnya.
Ia sangat manis.
Pemuda yang sangat manis.
"Kau mewarnai rambutmu!" ujarnya antusias. Ia bergegas menjulurkan tangannya dan menyentuh ujung rambutku. Tangan lembutnya menyentuh helai rambutku.
"Kau suka?"
Ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Aku tersenyum geli saat melihat kakinya yang berjinjit di depanku. Tanpa sadar tanganku bergerak dan menyentuh lembut pipinya.
Jungkook sedikit menegang. Sedetik kemudian ia menarik tangannya dari rambutku dan menundukkan kepalanya malu. Aku dapat melihat semburat merah menghiasi kedua pipinya.
"Kita mau kemana?" cicitnya. Jemarinya bertaut dan ia menggigit bibir bawahnya. Begitu menggemaskan.
Aku berbalik, mengambil salah satu helm dan mengulurkan pelindung itu kepada Jungkook.
"Pakailah. Aku akan mengajakmu ke tempat spesial" aku menyunggingkan senyumku. Ia terlihat gugup ketika mengambil helm dari tanganku. Matanya bergantian memandang helm dan motor. Bola matanya sedikit membulat dan pipinya menggembung. Astaga, anak ini benar-benar tahu bagaimana cara menarik perhatian pria.
"Kau belum pernah naik motor?" tebakku.
Ia mengangguk kecil. "Bukankah itu berbahaya?" cicitnya.
Aku terkekeh mendengar ucapannya. Tanpa menunggu lebih lama lagi aku mengambil helmku kembali dan memakaikan di kepalanya. Ia terlihat kaget dan tubuhnya membeku.
"Pas. Sekarang naiklah. Kau tak akan terluka" aku memakai helmku sendiri dan mulai naik ke atas motor. Kunci yang masih tertancap disanapun ku putar sehingga mesin motorku meraung menyala.
"Naiklah"
Ia mendekati motorku dan mencoba menaikinya.
"Whoa. Aku harus berpegangan pada apa? Bagaimana kalau aku jatuh?" ucapnya panik.
Aku menarik kedua tangan Jungkook untuk memeluk pinggangku.
"Tetap seperti itu. Aku tak akan membuatmu jatuh"
Jungkook sedikit kaget saat aku mulai melajukan motorku. Ia memeluk erat perutku dan menempelkan pipinya di bahuku. Diam-diam aku tersenyum dari balik helm.
Jeon Jungkook POV
Setelah 20 menit berkendara (dengan jantung yang deg-degan dan keringat dingin yang mengalir di punggungku) motornyapun berhenti. Aku bergegas turun dan melepaskan helm yang ia pakaikan ke kepalaku.
"Wow" hanya itu yang terlontar di bibirku. Aku mencoba untuk bernafas. Aliran oksigenku terasa sesak ketika menaiki kendaraan beroda dua itu. Seumur hidup aku tak pernah membayangkan akan menaiki motor. Benda itu selalu terlihat mengerikan di mataku. Rasanya seolah-olah aku bisa terlempar ke jalanan saat menaikinya. Aku meremas tanganku guna meredakan tremor yang melanda tubuhku.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya. Aku mencoba menganggukkan kepalaku. Aku tak ingin terlihat payah di hadapannya. Entah mengapa aku begitu mengharapkan banyak hal dari acara malam ini. Ada sedikit hal yang ku harapkan darinya. Entahlah. Ku rasa aku gila. Aku tertarik dengan pria di depanku yang baru-baru ini kutemui.
"Bodoh"
Aku mendongakkan kepalaku. Apa katanya?
"Err—Maksudku aku yang bodoh" ralatnya langsung. "Seharusnya aku memakaikanmu jaketku saat berkendara tadi. Kau hanya memakai sweater itu. Berlubang pula!"
Aku mengintip pakaian yang ku kenakan. Memang sedikit dingin sih. Hmm—banyak. Aku lupa tak membawa jaketku karena ku pikir ia akan menjemputku dengan menggunakan mobil.
"Tidak.. Tidak usah" Ia melepaskan jaket kulit hitamnya dan memakaikannya di tubuhku. Aku menolaknya namun ia bersikeras agar aku memakainya.
"Cuaca sedikit dingin. Pakailah. Aku tak mau kau kedinginan"
Sebelum aku menolaknya lagi, ia meraih tangan kananku dan menggandengnya.
Demi apapun itu, aku sangat-sangat kaget. Dan senang. Dan malu. Dan hangat. Semuanya bercampur menjadi satu. Pipiku memanas. Ku rasa saat ini wajahku sudah serupa dengan kepiting rebus. Aku menatap wajah eloknya di sebelah kananku.
"Tanganmu dingin" ucapnya. Ia meremas tanganku lagi dan mengayunkannya beberapa kali ke udara.
"Astaga, kau seperti anak kecil!" aku tertawa riang, begitupula dengannya. Selama kami berjalan, ia mengayun-ayunkan tangan kami yang tertaut tanpa henti. Mengingatkanku betapa kekanakannya pria tampan ini.
Kami memasuki sebuah gedung bertingkat bertuliskan "KIM HOTEL" dengan hiasan lampu-lampu yang indah mewah berwarna putih. Aku mengernyitkan keningku.
"Kau mengajakku ke hotel? Yang benar saja!" Aku melepaskan tanganku darinya. Apa-apaan orang ini. Dia pikir aku murahan?
"Tidak.. Bukan seperti yang kau pikirkan" Ia menarik lagi tanganku. "Di rooftop hotel ini, pemandangan seluruh Seoul akan terlihat sangat jelas. Ini hotel tertinggi di Seoul"
Aku mengerjapkan mataku. "Jadi kau tidak mengajakku kesini untuk—"
"Tidak" jawabnya tegas. "Aku ingin mengajakmu melihat pemandangan Seoul"
Aku menghela nafas. Seketika merasa malu akan tuduhanku yang tidak beralasan.
"Kecuali kau mau" ia tersenyum jail. Aku melayangkan pukulan main-main ke bahunya. Ia terkekeh riang selagi aku memukulinya. Dasar..
Kami memasuki lift sementara ia menekan tombol yang mencapai lantai paling atas. Aku menahan senyumku menantikan seperti apa rooftop yang akan ku datangi ini. Pemuda di sebelahku ini melayangkan senyuman kepada beberapa orang yang di temuinya. Sepertinya ia sudah mengenal tempat ini. Banyak juga petugas yang menyapanya di lobby hotel tadi.
"Apa kau sering menginap di hotel ini? Sepertinya banyak yang mengenalimu"
Ia tersenyum simpul. "Hotel ini milik hyungku. Namanya Namjoon hyung" jawabnya. Aku mengangguk-anggukkan kepalaku.
Jadi dia punya hyung...
"Apa kau punya hyung juga? Atau noona?" ia membalikkan tubuhnya menghadapku. Tatapannya menatapku intens. Aku merasa seperti sedang menjalani sidang.
"Aku punya satu hyung. Namanya Hoseok hyung"
"Oh ya? Aku jarang melihatmu dengannya" tangannya mengusap-usap dagunya. Aku menelan ludah.
"Dia jarang berada di rumah. Sibuk dengan kerjaannya" aku teringat akan hyungku yang beberapa bulan ini jarang pulang kerumah. Apalagi dengan keadaan rumah saat ini...
"Kau sangat menyayangi hyungmu?" tanyanya lagi.
"Tentu saja" jawabku tegas. "Dia hyung terbaik di seluruh dunia. Dia selalu membelikanku ice cream dan cemilan. Membuatku terus menerus terlihat gendut" aku mempoutkan bibirku. Benar, Hoseok hyung selalu saja membelikanku makanan dan makanan. Ia bilang bahwa ia suka melihatku terlihat berisi. Yang benar saja. Aku mati-matian berolahraga agar berat badanku tetap seimbang. Meskipun nafsu makanku tak pernah berkurang.
"Tak masalah jika kau terlihat gendut" ia nyengir. Memperlihatkan senyum kotaknya. "Bagiku kau terlihat cantik"
Kim Taehyung POV
Begitu kami tiba di Pusat Komunitas, Jungkook bergegas keluar dengan membawa kado Yoongi hyung. Ia tidak mengatakan apapun lagi setelah aku menenangkannya dari panic attacknya tadi. Serangan panik itu.. Masih saja ia alami. Dulu juga ia mengalaminya, saat pertama kali ia naik motor denganku. Responnya sama persis seperti tadi. Tangan bergetar, keringat dingin mengalir, nafas tersengal. Kenapa panic attacknya tidak sembuh-sembuh? Kupikir setelah sekian lama ia bisa mengatasi rasa paniknya. Ternyata masih belum.
Aku mengejar Jungkook masuk kedalam Pusat Komunitas itu. Langkah Jungkook begitu ringan. Tanpa perlu di beri arahan, dia sudah bisa memasuki bangunan berwarna putih itu. Sepertinya ia sering mengunjungi tempat ini.
Tepukan tangan dan nyanyian terdengar saat Jungkook dan aku masuk. Terdapat sekitar 20 orang berdiri mengelilingi seorang pria berambut hitam yang berdiri di tengah-tengah. Aku mengasumsikannya sebagai Yoongi hyung. Pria itu tersenyum riang sembari menatap kue ulang tahun berbentuk bintang di hadapannya. Ketika menyadari terdapat personil tambahan dari perayaannya, ia terlonjak antusias dan berlari mendatangi kami.
"Jungkook!" ia menarik Jungkook kedalam pelukannya. Jungkook tersenyum lebar dan menyerahkan bungkusan kado di tangannya.
"Selamat ulang tahun hyung" matanya menatap jidat Yoongi hyung yang rupanya sedikit lebih pendek darinya. Yoongi hyung tertawa renyah sebelum menerima kado yang Jungkook ulurkan.
"Kukira kau tak akan datang!" ia memeluk Jungkook lagi. Dadaku sedikit bergemuruh. "Sudah sebulan ini kau tak pernah datang" ucapnya lagi. Jungkook hanya tersenyum mendengar ucapan itu.
Yoongi hyung akhirnya mengalihkan pandangannya kepadaku dan mengerutkan dahinya.
"Kau Bam Bam?" tanyanya. Bam Bam? Siapa pula itu.
"Bukan" jawab Jungkook sebelum aku membuka mulutku.
"Eh—Yugyeom?"
"Bukan"
"Youngjae?"
"Dia sudah berhenti 3 bulan yang lalu, hyung" jawab Jungkook kalem.
"Joy?"
"Dia menikah sebulan yang lalu, hyung."
"Perawatmu itu wanita?" tanyaku heran. Jungkook mengabaikan pertanyaanku.
"Ah, okelah. Kau terlalu sering berganti perawat, Kook" Yoongi hyung menyelaku. " Siapa namamu?"
"V" aku mengulurkan tanganku, menjabatnya. "Panggil saja V"
Yoongi menjaabat tanganku. Kamipun di giring untuk ikut berdiri diantara orang-orang yang sudah berkumpul tadi. Demi kesopanan, akupun ikut menyanyikan lagu 'Selamat Ulang Tahun' baginya. Berdiri di sebelahku, Jungkook hanya berdiri diam bertumpu dengan tongkat putihnya dan memandang lurus ke depan. Ia tidak ikut bernyanyi, melainkan hanya bertepuk tangan dengan hampa.
"Kau harus menyanyi untuknya" Bisikku. Ia sedikit terlonjak dan melayangkan tatapan protesnya padaku.
Yoongi hyung memotong kue ulang tahunnya dan menyerahkan potongan pertamanya kepada Jungkook. Heol, apakah dia menyimpan rasa untuk Jungkook? Kenapa juga dia tidak menyerahkannya pada kekasihnya.
Jungkook menerimanya namun tidak sedikitpun mencicipi kue cokelat itu. Aku juga mendapatkan sepotong kecil kue yang langsung ku sikat habis karena omong-omong, aku belum makan apapun sejak pagi tadi.
Seorang wanita muda berambut merah mendatangi Jungkook dan aku. Ia rupanya salah satu penjaga di pusat komunitas ini. Ia meminta Jungkook untuk ikut kepadanya. Saat ku tanyakan apa yang akan ia lakukan, Jungkook menjawabnya dengan dingin bahwa itu bukan urusanku. Dengan mengalah, akhirnya aku membiarkan ia dan gadis itu berjalan memasuki salah satu ruangan di ujung bangunan ini.
Yoongi hyung datang menemuiku untuk menanyakan dimana Jungkook lebih tepatnya. Beberapa kursi yang sudah di sediakan digunakan para tamu untuk duduk bersantai. Aku menduduki salah satu sofa putih dan berbincang-bincang dengan Yoongi hyung mengenai tempat ini. Rupanya ini adalah Pusat komunitas bagi penyandang cacat fisik. Aku memperhatikannya. Terdapat 5 orang tunanetra, 6 orang tunarungu dan tunawicara, 6 orang yang memiliki cacat kaki dan tangan, dan 3 orang yang sepertinya normal. Kurasa orang-orang yang tidak memiliki kecacatan itu berperan sebagai penjaga mereka.
Orang tua Yoongi hyung rupanya merupakan pemilik Pusat Komunitas ini. Ia menjadi sukarelawan membantu mengajar orang-orang disini, di samping pekerjaannya sebagai Penulis lagu. Ia berujar bahwa dengan membantu orang-orang yang memiliki kekurangan, membuatnya lebih merasa bersyukur. Bahwa ia terlahir dengan seluruh tubuh lengkap, tanpa kurang suatu apapun. Ia mengatakan bahwa ia juga sering menjadi motivator bagi mereka semua, tak terkecuali Jungkook.
"Bagaimana awalnya Jungkook bisa berada disini?" tanyaku sembari menyesap soda di tanganku. Yoongi hyung tersenyum simpul sebelum menceritakannya.
"Dia pertama kali datang kesini sekitar 10 tahun yang lalu" ujarnya. 10 tahun yang lalu, berarti saat itu Jungkook berumur 17 tahun. Masih SMA. Apa yang terjadi padanya...
"Dia sangat kacau. Benar-benar kacau. Ia sering menangis histeris namun tiba-tiba diam seribu bahasa. Hanya duduk diam dengan pandangan kosong. Butuh waktu lama bagi kami untuk membujuknya agar berhenti terkurung dalam kesedihannya"
Aku menelan ludahku dengan susah payah dan melirik pintu yang Jungkook masuki 10 menit yang lalu.
"Apa yang sebenarnya terjadi padanya?" Tanyaku sedikit menuntut. Aku butuh mengerti kebenaran yang sebenarnya tentang hal ini.
Yoongi hyung meletakkan gelas sodanya. "Yah, aku tak tahu banyak tentang hal itu. Dia tak mau berbagi lebih banyak denganku meskipun kami cukup dekat. Apalagi ibunya yang mengerikan dan ayahnya yang super duper cuek itu" ucapnya. Aku menganggukkan kepalaku menandakan ia harus melanjutkan ucapannya.
"Yang ku tahu, ia kehilangan pengelihatannya ketika ia duduk di bangku SMA. Aku tak tahu kenapa. Setiap kali aku mencoba menanyakannya dengan pelan-pelan, ia selalu menolak untuk membahasnya. Orang tuanyapun tak banyak menjawab pertanyaanku" ia melanjutkan. "Lalu ibu kandungnya meninggal dan kakaknya pergi meninggalkan rumah. Ku rasa ia benar-benar terpukul akan hal itu. Aku bisa melihat bahwa ia kehilangan orang-orang terdekatnya disaat ia membutuhkan dukungan"
Aku menggertakkan gigiku. Ibu kandungnya meninggal? Jadi wanita yang saat itu ku temui itu ibu tirinya?
Lalu apa, kakaknya pergi? Hoseok hyung? Bagaimana bisa! Dia adalah hyung yang baik bagi Jungkook.
Kenapa cobaan kelinciku itu begitu berat?
"Kau benar-benar tak tahu hal apa yang menimpa Jungkook hingga ia menjadi buta?" aku mendesaknya lagi. Yoongi hyung terlihat memikirkan sesuatu. Ia akhirnya bergumam 'Ah!' dan menjawabku.
"Saat Jungkook dalam masa kacau. Dalam tidurnya ia sering menggumamkan sebuah nama" dia menggaruk rambut hitamnya. "Tae..hyung? Taehyungie? Ku rasa benar. Taehyungie"
Nafasku tercekat.
Namaku.
"Saat aku menanyakan siapa itu Taehyung, ia mulai menangis lagi. Aku benar-benar tak tega melihat dongsaeng kesayanganku serapuh itu"
"Tapi suatu hari dia pernah menjawabnya. Ia hanya mengatakan bahwa Taehyung adalah orang yang sangat ia benci. Dialah yang membuatnya buta seperti itu. Saat ku tanyakan lagi bagaimana bisa ia membuatmu buta, ia hanya menggeleng dan mengatakan bahwa ia sangat membenci Taehyung"
Membenci Taehyung.
Membenciku.
Tubuhku sepertinya tak merespon ucapan Yoongi hyung. Aku memaksa memutar kembali ingatanku 10 tahun yang lalu. Tidak mungkin. Seharusnya semua itu sudah terselesaikan. Seharusnya Jungkook bisa kembali seperti dulu. Aku mengabaikan kemungkinan yang terlintas di kepalaku sesaat sebelum mengatakan 'hal itu' padanya Jungkook.
Siapa lagi yang harus ku tanyai? Saat aku menanyakannya pada Jimin, dia tak tahu apa yang menyebabkan Jungkook buta. Ia hanya berkata bahwa itu semua salahku. Semua orang menyalahkanku. Namjoon hyung juga.
Sebuah nama terlintas di kepalaku.
Ada satu orang lagi.
Ada satu orang lagi yang bisa ku tanyai.
Kekasih hyungku, kekasih Namjoon hyung.
Seokjin hyung.
.
.
.
Yohoo, hello semua! Pertama-tama aku mau ngucapin Happy Birtday BTS! Wow, gimana tadi BTS Festanya? Pada nonton nggak? Plum sih nggak sempet nonton, soalnya masih ada jam kuliah TT. Anyway, gimana nih ceritanya. Membosankan nggak sih? Review please. Kalau ada pertanyaan atau request apa tentang FF ini, kali aja Plum bisa penuhi. Atau ada usul dari temen temen semua? Bisa Plum pertimbangkan nanti. Oh iya, buat yang kemarin udah review. Thank you sooo much. Itu sangat memotivasi Plum buat terus nulis. Pokoknya pantengin terus fanfic ini untuk tahu kelanjutan ceritanya :D
Meet me on Instagram : summer_plum (double underscores)
See ya!
