Title: Eyes, Nose, Lips [Chapter 4]

.

Author: Ira Putri

.

Rating: T

.

Disclaimer: SM Entertainment had the cast, but this story is mine.

.

All the cast are in the story.

.


.

.

Junmyeon memasuki gedung kantor Lotte Fashion. Ini hari pertamanya bekerja. Tapi ia tidak tau dimana ruangan tempat ia bekerja. Ia hanya memasuki lobby dan berjalan menuju lift. Ia sedikit asing dengan kantor baru yang ia tempati bekerja ini. Matanya tal disangka menangkap di depan pintu lift ada Sulli yang sepertinya menunggu kedatangan Junmyeon.

Junmyeon langsung menghampiri dan menyapa Sulli. "Selamat pagi, Bos.."

Sulli menoleh ke arah Junmyeon. "Oh, akhirnya kau datang juga. Selamat pagi juga, Suho-ssi. Ikut aku!"

"Ada apa, Bos?"

"Aku hanya ingin menunjukkan tempatmu bekerja dan beberapa ruangan yang ada di kantor ini, Suho-ssi," Sulli memencet tombol liftnya. Pintu lift tak lama terbuka.

"Ba-baik, Bos..." Junmyeon hanya mengikuti kemanapun Sulli berjalan.

Mereka pun masuk lift bersama orang-orang kantor lainnya. Tak lama pintu lift terbuka di lantai 6. Sulli pun keluar lift dan Junmyeon mengikutinya. Lantai 6 berisi sekat-sekat tempat kerja para karyawan. Sekat-dekat itu terbuat dari triplek. Walaupun sebuah triplek, tapi jangan ragukan tripleknya. Tebal dan kuat. Semua orang di sana berkutat dengan komputer mereka masing-masing.

"Lantai 6 adalah lantai gedung dimana kau akan bekerja, Suho-ssi," jelas Sulli.

"A-akan kuingat, Bos.." Junmyeon merespon.

"Jangan panggil aku Bos, Suho-ssi. Pangilan formal saja itu sudah cukup di kantor ini," Sulli menanggapi Junmyeon tetapi matanya tetap tak menatap Junmyeon.

"Ba-baik... Sulli-ssi,"

"Begitu lebih bagus. Baik. Kita sudah sampai," Sulli berhenti berjalan. Terdapat tempat kosong di hadapannya. Junmyeon juga ikut berhenti. "Ini adalah tempatmu sekarang, Suho-ssi. Kau bisa melihatnya sendiri. Dinding sekatnya bisa kau hias sesuka hatimu. Walaupun bebas, tapi kau juga harus menegakkan kedisiplinan. Mengerti?"

"Aku mengerti.. Sulli-ssi," jawab Junmyeon.

Tempat itu masih monoton menurut Junmyeon. Kursi empuk dengan bantalan berwarna coklat, komputer LED, tempat alat tulis, dua pak kertas berbeda ukuran, dan scanner. Junmyeon tak sabar ingin menghias semuanya. Tapi apa daya, ia tidak membawa apa-apa kecuali beberapa barang penting di tasnya. Itu masalah nanti, yang penting ia harus bekerja keras.

"Dua ruangan yang dilapisi kaca itu adalah ruangan rapat. Yang sebelah kiri adalah ruangan rapat untuk marketing, pemasaran, dan publikasi. Dan yang sebelah kanan adalah ruangan rapat bagi desainer, fotografer dan model. Model biasanya ikut forum rapat dengan fotografer, menyangkut pemotretan atau semacamnya. Sementara desainer akan rapat sendiri, terkadang ada waktunya juga untuk rapat bersama fotografer dan model. Kami sudah memiliki jadwal rapat rutin yaitu dua minggu sekali. Dua minggu untuk fotografer, dan dua minggunya lagi untuk desainer," Sulli melanjutkan aktivitasnya menunjukkan ruangan-ruangan yang ada di lantai 6.

"Oh begitu..." Junmyeon hanya merespon seperti itu.

Sulli berbalik menghadap Junmyeon. "... Kamar mandi ada di ujung ruangan dan jika ingin istirahat makan siang kau bisa ke lantai dua. Keterangan lanjut tentang ruangan-ruangan lainnya, kau bisa melihatnya di bagan tepat di dalam lift. Sekarang kau bisa bekerja, Suho-ssi,"

"Baik, Sulli-ssi! Tapi... boleh aku bertanya?" Junmyeon mengangkat satu tangannya.

"Apa?"

"Setahuku... Lotte Fashion akan merancang busana untuk musim gugur sebulan kedepan..." Junmyeon memainkan jari-jarinya.

Sulli menepuk dahinya. "Astaga! Kenapa aku bisa lupa? Baiklah!" Sulli mendorong Junmyeon menuju tempat kerja dan mendudukkan Junmyeon di kursinya. Ia mengambil satu pensil dan kertas. Ia banting dua benda itu di meja tepat di hadapan Junmyeon. "Gambar desain pakaiannya! Setelah itu serahkan semua desain-desain pakaian musim gugurmu padaku. Paling lambat sampai minggu depan! Karena minggu depan para desainer juga ada rapat dengan Presdir Wu!"

Junmyeon bergidik ketakutan. "Ba-baik, Sulli-ssi..."

"Bagus! Selamat bekerja, Nona Suho," Sulli tersenyum manis, lalu pergi meninggalkan Junmyeon begitu saja.

Junmyeon menatap kepergian Sulli. Kemudian menaikkan bahunya. Ia meletakkan tasnya di atas meja, lalu mulai berkutat dengan pensil dan kertasnya tadi. Ia berpikir, lalu menggambar sedikit yang ada di otaknya itu di kertas. Ia lakukan itu dengan rapi. Tak lama, ia mendengar suara sekatnya diketuk. Ia menoleh ke kanan dan kiri. Tak ada siapa-siapa. Ia melanjutkan menggambarnya lagi. Junmyeon tak sadar ada perempuan yang mengintip dari atas sekatnya.

"Hey, kau,"

"Aaaakk!"

Kertas dan pensil Junmyeon terlempar begitu saja. Junmyeon terjatuh dari kursinya. Mengaduh kesakitan setelah ia terjatuh. Ia berusaha berdiri walaupun ia berani sumpah pantatnya benar-benar sakit setelah mencium lantai. Sementara perempuan itu tetap diam di tempatnya. Di atas sekat pembatas tempat Junmyeon bekerja.

"Maaf membuatmu jatuh," ujar perempuan itu dengan nada yang datar.

Junmyeon menatap perempuan itu. Ia hampir marah, tapi ia tahan. "Kau hendak menyapaku? Harusnya kau jangan kagetkan aku... Aduh, sakit..."

"Maaf.." Perempuan berambut sebahu itu memainkan tangannya yang berpegangan di sekat pembatas. "Kau anak baru?"

"Iya.. Kenapa?"

"Tidak apa-apa.. Aku hanya memperingatkan..." Perempuan itu menatap Junmyeon. "Kau harus hati-hati dengan perempuan berhati setan itu.."

"Perempuan berhati setan? Siapa?" Junmyeon berkedip.

"Yang mengantarmu sampai ke sini,"

"Maksudmu... Sulli?"

"Siapa lagi?" Perempuan itu menopangkan wajahnya di kedua tangannya yang ia letakkan di sekat. "Karyawan terbaik Lotte Fashion telah ia singkirkan dari kantor ini. Kau tahu, aku sudah bertahun-tahun bekerja di sini. Setelah itu kau datang. Aku harap kau tak bernasib sama.."

"Kenapa begitu?" tanya Junmyeon.

"Aku tidak bisa mengatakannya. Kau nanti juga akan tahu sendiri," Perempuan itu melepaskan tangannya dari sekat, kemudian duduk kembali di tempatnya.

Junmyeon sudah membulatkan matanya di tempat. Ia kembali duduk di kursinya lalu hendak menggambar lagi. "Karyawan terbaik telah disingkirkan Sulli? Lalu aku penggantinya?"

Junmyeon menggidikkan bahunya lalu mulai menggambar.

"Ngomong-ngomong..."

"Aahh!" Junmyeon kembali kaget saat perempuan itu kembali mengintipnya dari sekat. Junmyeon mengelus dadanya untuk menetralkan detak jantungnya.

Perempuan itu tersenyum pada Junmyeon. "... Aku Oh Sehun. Aku bagian marketing. Salam kenal!" Perempuan itu kembali menghilang dari hadapan Junmyeon.

Junmyeon mengerjapkan matanya berkali-kali. Perempuan bernama Sehun itu aneh. "Salam kenal juga... Namaku... Kim Suho..."

.

?

.

Junmyeon berkutat dengan buku catatannya di hadapan Sulli. Sulli berbicara sesuatu pada Junmyeon. Tapi sepertinya kecepatan berbicaranya sama seperti kereta express.

"Kau harus menyelesaikan desainmu dalam minggu ini. Kau juga harus mencari bahan untuk debat di rapat minggu depan, lalu membuat Presdir Wu terkesan.. Hari ini jadwalmu juga membantu wardrobe pemotretan untuk memilih baju-baju yang akan dipakai oleh model... Bla bla bla..."

Junmyeon berusaha mencatat semua yang dibicarakan Sulli. Ia mengutuk telinganya yang tidak bisa mendengar kata-kata yang tertinggal, tapi ia sungkan untuk meminta kepada Sulli untuk mengulang kata-kata yang terlewat itu. Bisa-bisa ia kena omel Sulli dan kembali menjelek-jelekkannya. Junmyeon cukup pasrah untuk berdebat dengan perempuan ini.

"... Dan hari ini kau harus menyelesaikan semuanya! Mengerti?" Sulli mengakhiri laju bicaranya pada Junmyeon.

"Me-mengerti..." Junmyeon mengangguk.

"Bagus.." Sulli langsung pergi begitu saja.

Junmyeon menatap kertas catatannya itu. Banyak sekali yang harus ia kerjakan. Catatan itu bagaikan daftar belanjaan. "Astaga... Pulang nanti aku tepar..."

Tiba-tiba bel berbunyi. Entah bel apa itu, Junmyeon tidak mengerti. Semua karyawan yang ada di sana beranjak dari tempat duduknya masing-masing. Bersorak gembira. Lalu pergi menuju lift atau tangga. Junmyeon hanya bisa melongo. Itu tadi bel apa, pikirnya.

"Hey!"

"Aah!" Junmyeon sedikit terlonjak. Ia menoleh ke belakang. Sehun sudah berada di hadapannya.

"Kau tidak makan siang?" Sehun memulai pembicaraan.

"Itu tadi... Bel makan siang?" Junmyeon kembali bertanya.

"Kau kira itu bel apa? Bel istirahat anak SD?" Sehun tetap berbicara dengan ekspresi yang datar.

"Oh..."

"Kau mau makan siang bersamaku, Suho?" Sehun menawarkan.

"Boleh.." Junmyeon tersenyum, lalu mereka pergi berdua.

Mereka menuju lift. Sehun memencet tombol lift. "Sepertinya kau harus lembur hari ini,"

Junmyeon hanya tersenyum. "Ah, tidak juga. Aku bisa mengerjakannya di rumah,"

Pintu lift terbuka. Mereka pun masuk ke dalamnya. Junmyeon dan Sehun berdiri di pojok lift. Sehun melanjutkan bertanya. "Tapi menurut pengalamanku.. desainer tidak pernah membantu wardrobe pemotretan,"

"Memangnya kenapa?" Junmyeon menoleh ke arah Sehun.

"Kau kan hanya perancang busana. Bukan pembantu. Kau mau saja disuruh-suruh oleh Sulli," ujar Sehun.

"Biarkan sajalah..." Junmyeon meresponnya dengan tersenyum. "Bagaimanapun dia bosku. Dia captain desainer. Aku hanya anggota baru,"

"Tapi kau harus hati-hati dengannya," sela Sehun.

Pintu lift terbuka. Mereka pun keluar dari sana. Mereka ada di lantai dua. Lantai dua ternyata adalah kantin. Kantin itu didesain semacam foodcourt. Tempat duduknya unik. Kursinya terbuat dari kayu, tapi berbentuk balok. Bentuk mejanya bervariasi. Ada yang segitiga, lingkaran dan segiempat. Motifnya juga bervariasi. Ada polkadot, bunga, dan sebagainya.

Sehun dan Junmyeon duduk di meja yang berbentuk segitiga. "Kau mau pesan apa?" tanya Sehun.

"Kalau ada yakiniku, aku pesan satu ya," jawab Junmyeon.

"Kau tunggu disini, oke? Aku akan segera kembali," Sehun pergi meninggalkan Junmyeon.

Junmyeon pun menunggu dengan sabar. Tak lama ada seseorang yang mondar-mandir seperti sedang mencari tempat untuk duduk. Orang itu membawa nampan berisi makanan. Kebetulan mata orang itu juga tertuju pada meja yang ditempati Junmyeon. Orang itu menghampirinya. "Maaf, apa salah satu dari kursi ini kosong?"

Junmyeon menoleh ke arah orang itu. Junmyeon terbelalak. Orang itu juga terbelalak. Junmyeon menampakkan senyum bahagianya. "Tao-ya?"

"Nuna? Nuna diterima disini?" Orang yang ternyata adalah Tao itu juga tersenyum bahagia.

"Iya. Eh, ayo duduk sini. Kebetulan satu kursi disini kosong," Junmyeon mempersilakan duduk Tao.

Tao pun duduk. "Senangnya aku bisa satu kantor dengan nuna..."

"Kau juga diterima disini? Kenapa tidak bilang?" tanya Junmyeon.

"Rencananya aku ingin mengabari Suho nuna lewat telepon. Tapi, aku kehilangan nomormu. Handphoneku keformat. Hehehe..." Tao terkekeh.

"Ah, kau ini..." Junmyeon menepuk pelan lengan Tao. "Aku juga senang kau bekerja di sini. Tidak sia-sia kita bekerja keras, Tao-ya..."

"Iya nuna.." Tao mencomot kentang gorengnya.

Tak lama Sehun datang membawa nomor meja. "Suho, aku sudah memesan makanan kita. Nanti diantar,"

"Oke, Sehun-ah," Junmyeon tersenyum.

Sehun tak sengaja menatap Tao. Entah kenapa matanya tak berkedip melihat pemuda bermata mirip panda itu. Tao sedang asyik memakan kentang gorengnya. Sebelum akhirnya ia duduk di kursinya.

"Itu temanmu, Suho?" Sehun iseng bertanya pada Junmyeon.

"Maksudmu Tao? Iya dia temanku. Memangnya kenapa?" Junmyeon bertanya balik.

"Teman apa? Teman waktu SD? SMP? SMA? Teman kampus?..."

Junmyeon tertawa. "Bukan, Sehun-ah. Aku baru berteman dengannya waktu kita berdua melamar kerja. Kami senang bisa bekerja bersama di kantor ini,"

Sehun menatap Tao lagi. Kemudian berbisik pada Junmyeon. "Dia tampan sekali..."

"Begitukah? Ya.. cocok untuk ukuran model Lotte Fashion," Junmyeon tertawa kecil.

Tao menatap Junmyeon dan Sehun. "Kalian... membicarakan aku?"

"B-bukan bukan..." Sehun langsung mengelaknya.

"Dia bilang kau tampan, Tao-ya.." Junmyeon tersenyum pada Tao, kemudian mebatap Sehun.

Tao menatap Sehun. "Benarkah? Terima kasih.."

Sehun salah tingkah. "Su-suho! Boleh aku lihat daftar catatanmu?"

"Tentu saja," Junmyeon menyerahkan catatan kecilnya pada Sehun.

"Apa ini? Mendesain busana musim gugur sebanyak 10 desain? Harus selesai minggu depan? Ah, Sulli keterlaluan..." Sehun menggerutu sendiri saat ia melihat isi catatan Junmyeon.

"Itu apa, Nuna?" tanya Tao.

"Daftar catatan jadwal. Setelah jam makan siang ini aku harus ke ruang kostum penotretan untuk membantu wardrobe," jawab Junmyeon. "Apa kau ada pemotretan?"

"Sayang sekali, nuna. Aku hari ini rapat dengan Hyukjae sunbae. Tentang tempat pemotretan di musim gugur bulan depan," jawab Tao menyesal.

"Tidak apa-apa," Junmyeon tersenyum.

Tak lama makanan pesanan Sehun dan Junmyeon datang. Mereka pun makan siang dengan tenang. Tak lupa canda tawa dari Tao meramaikan suasana mereka bertiga.

.

.

.

Eyes, Nose, Lips

.

.

.

"Maaf... aku hanya ingin membantu Anda," Junmyeon berbicara pada seorang perempuan di hadapannya.

"Kau.. suruhannya Nona Sulli?" tanya perempuan itu.

Mendengar kata 'suruhan', hati Junmyeon menciut. Benar apa kata Sehun, Sulli sengaja memanfaatkan kepolosannya. Wajar saja Junmyeon tak tahu apa-apa karena ia baru bekerja di Lotte Fashion hari ini. Junmyeon menarik nafas, lalu menghembuskannya. Menahan amarah.

"Aku bukan suruhan Nona Sulli. Namaku Suho. Aku baru pertama kali kerja disini. Aku hanya ingin mengenal dunia pemotretan. Yah walaupun jabatanku bukan model atau fotografi," Junmyeon tersenyum. Lebih tepatnya, mencoba untuk tersenyum.

Perempuan itu hanya merespon dengan kata 'oh', lalu tersenyum manis. Perempuan itu mengantarkan Junmyeon ke ruang kostum. Pemotretan hari ini cukup senggang. Fotografer yang diketahui bernama Donghae itu selesai memotret seorang model perempuan. Junmyeon sampai di ruang kostum. Pakaian-pakaian yang ada di sana adalah pakaian yang biasa dipakai saat pemotretan. Tuxedo, kemeja, gaun... ah biasa, menurut Junmyeon.

"Hanya ada pakaian seperti ini jika sedang tidak ada event yang diadakan perusahaan, Suho-ssi," ujar perempuan itu.

Junmyeon menoleh ke arah perempuan itu sambil tersenyum. "Tidak apa-apa. Asalkan kau bisa memakaikan pakaian-pakaian itu pada modelnya dengan bagus, hasilnya juga akan bagus. Tenang saja,"

Perempuan itu tersenyum. Tiba-tiba perempuan itu mendapat telepon masuk. Ia langsung pamit permisi pada Junmyeon untuk pergi. Pandangan Junmyeon beralih ke pakaian-pakaian yang ada di sana.

"Setidaknya aku bisa membantu wardrobe untuk urusan fashion. Tidak ada salahnya, kan?"

.

?

.

Pintu ruangan Presdir Wu dibuka oleh seseorang secara tiba-tiba. Tampaklah Kris yang melangkahkan kakinya menuju meja kerja ibunya. Presdir Wu sedikit kaget akan kedatangan Kris.

"Kris? Kenapa kau tidak bilang kalau ingin mengunjungi kantor?" ucap Presdir menggunakan bahasa China

"Maaf tapi aku bosan di rumah. Aku ingin mengerjakan sesuatu," jawab Kris dengan bahasa China juga tentunya.

"Mengerjakan sesuatu? Apa maksudmu?"

"Aku bosan mengasingkan diri terus-menerus. Aku ingin menyibukkan diriku. Bisakah aku bekerja di sini?" tawar Kris.

Presdir Wu membulatkan matanya. Tak lama kemudian ia tertawa kecil. "Memangnya kau mau bekerja sebagai apa di sini?"

"Entahlah, model atau apa terserah. Aku hanya ingin menyibukkan diri. Tidak digaji pun tidak masalah," Kris memasukkan kedua tangannya di saku celana.

"Maksudku..." Presdir berdiri dari tempat duduknya. "Lotte Fashion ini juga dipasarkan di luar Korea Selatan. Bahkan perusahaan fashion di New York pun juga bekerja sama dengan perusahaan ini. Apa... kau tidak takut?"

"Takut soal apa? Biarkan saja mereka. Aku tidak peduli. Aku sudah tidak peduli dengan masa laluku," Kris menjawabnya dengan nada yang datar.

Presdir menghela nafas panjang. "Pekerjaan yang cocok untukmu hanyalah seorang model, Yifan,"

"Tidak masalah buatku," Kris tersenyum tipis. Sangat tipis.

Bersamaan dengan itu, pintu ruangan Presdir diketuk dan dibuka oleh seseorang yang membawa kamera DSLR. Fotografer bertag name Hyukjae. Hyukjae juga membawa beberapa kertas yang sudah dijadikan satu dengan klip kertas.

"Maaf, Presdir Wu. Ini hasil rapat saya dengan beberapa model," ujar Hyukjae.

Presdir menerima kertas itu. Membacanya sejenak, lalu ia kembali menatap Hyukjae. "Hyukjae-ah, aku ingin bertanya sesuatu padamu,"

"Apa itu, Presdir?"

"Putraku Kris, sedang mencari pekerjaan. Dan kurasa dia cocok menjadi model. Bagaimana menurutmu?" Presdir melipat tangannya di dada.

Hyukjae melihat Kris. Ia sedikit mendongak karena tinggi Kris melebihi dirinya. "Aku setuju dengan Anda, Presdir. Postur tubuh Kris yang tinggi, ditambah wajah yang tampan juga mendukungnya untuk menjadi model. Bahkan cover boy,"

"Begitukah?" Presdir terlihat menimbang-nimbang keputusannya. "Baiklah, hari ini kau bisa bekerja di sini, Kris. Kau ikut dengan Hyukjae ke ruang pemotretan,"

Kris hanya memasang wajah datar dan berjalan mengikuti Hyukjae. Hyukjae membungkuk pamit pergi dari ruangan Presdir, lalu kembali ke ruang pemotretan. Kris mengekor di belakangnya.

.

?

.

"... Nah, kau bisa ganti di ruangan ini, Kris-ssi," ujar Hyukjae mengakhiri 'tour keliling' dirinya dengan Kris. "Aku tunggu di luar. 10 menit lagi kita mulai pemotretan,"

Hyukjae pun pergi dari uang kostum meninggalkan Kris. Kris pun mengalihkan pandangannya menuju pakaian-pakaian yang tergantung rapi di setiap sudut ruangan dan juga gantungan baju. Ia tampak memilih-milih baju seperti layaknya ia memilih baju di toko baju terkenal.

Kris tak sengaja melihat seorang perempuan berdiri membelakanginya. Perempuan itu sedang melihat-lihat baju. Kris pikir itu adalah petugas wardrobe, jadi ia menghampirinya. "Ehm, sebentar lagi aku akan menjalani pemotretan. Tolong pilihkan baju yang sesuai,"

Perempuan itu tak merespon Kris. Ia hanya mengambil satu tuxedo abu-abu, kemudian melihatnya. Kris diabaikan. Tak lama perempuan itu hendak berbalik badan.

"Mungkin dengan ini cocok dipadukan dengan..."

Perempuan itu tiba-tiba diam saat ia menghadap Kris. Kris juga membulatkan matanya saat mengetahui perempuan itu adalah Junmyeon. Mereka awalnya diam. Kemudian tak sengaja mengucapkan kata yang sama.

"Kris/Junmyeon? Apa yang kau lakukan disini?"

Mereka kembali diam. Kris kemudian membuka pembicaraan. "Kau bekerja... sebagai wardrobe?"

"Bukan. Sudah kubilang sebagai desainer," Junmyeon menjawabnya.

"Lalu kenapa kau ada di sini? Bukannya tempatmu di lantai 3?"

"Memangnya kenapa aku tidak boleh disini?" Junmyeon melipat tangannya di dada. "Aku hanya ingin membantu saja. Sekaligus mengenal ruangan-ruangan yang ada di setiap lantai, Tuan Kris..."

"Terserah kau sajalah," Kris menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Junmyeon memiringkan wajahnya. "Kau bilang... kau ingin dicarikan pakaian yang sesuai untuk pemotretan?"

Kris mengangguk.

Junmyeon tersenyum. "Baiklah, pegang ini!" Junmyeon menyodorkan tuxedo tadi kepada Kris, kemudian berbalik ke gantungan-gantungan baju di belakangnya.

Junmyeon asyik memilih kemeja dan celana. Junmyeon kembaki dengan kemeja berwarna orange cerah dan celana hitam. "Pakai ini!"

Kris menerimanya. "Warnanya kontras sekali. Kau yakin?"

"Turuti perintahku! Ganti sekarang, setelah itu kembalilah! Biar aku lihat," Junmyeon berlagak seperti bos.

"Baik, baik. Bos Junmyeon," sindir Kris sambil tertawa.

Junmyeon juga membalasnya dengan tawa. Tak lama, Kris kembali dengan pakaian yang tadi diberikan Junmyeon sudah menempel di tubuhnya. Dua kancing kemeja bagian atas dibiarkan terbuka. Tuxedo juga tidak dirapikan. Junmyeon sampai berpikir, jangan-jangan resleting celana Kris belum dinaikkan. Junmyeon menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu menghampiri Kris.

"Kau yakin ingin menjadi model dengan berpakaian seperti itu?" Kali ini Junmyeon yang menyindir.

"This is my style," Kris menaikkan bahunya.

Junmyeon kembali menggelengkan kepalanya. Dikaitkanlah kancing kemeja itu sampai rapi. Membenahi kerah kemeja itu. Kancing tuxedonya juga ia rapikan. Bagian bahu Kris ia juga rapikan dengan jari-jari tangannya. Kris merasakan sesuatu yang aneh saat jemari Junmyeon membenahi pakaian yang membalut tubuhnya sekarang. Matanya tak lepas dari Junmyeon. Junmyeon juga tidak sengaja menatap Kris hingga mereka saling menatap begitu lama. Pipi Junmyeon kembali memerah.

Junmyeon mengerjapkan matanya. "Ba-baiklah! Sudah selesai. Perlu aku merapikan rambutmu juga?"

"Ti-tidak usah..." Kris menatap pantulan dirinya di cermin. Dalam hati ia berkata, bagus sekali caranya ia mengatur style berpakaian.

Junmyeon pun kembali menghampiri Kris dengan dasi berwarna merah bergaris hitam itu. Junmyeon juga memasangkan dasi itu pada Kris. Layaknya seorang istri memasangkan dasinya pada suami, pikir Kris.

"Sudah selesai," Junmyeon tersenyum sambil memperhatikan penampilan Kris. "Kau terlihat tampan sekarang, Kris,"

Kris mendekati Junmyeon. "Aku memang selalu tampan.."

Kris pun pergi menjauh dari Junmyeon. Setelah sampai di pintu, Kris membalikkan badannya. "Terima kasih, Junmyeon..."

"Anytime, Kris.." Junmyeon berkacak pinggang sambil tersenyum.

Kris pun pergi menghampiri Hyukjae. Junmyeon yang masih ada di sana tiba-tiba menepuk kepalanya. "Sial.. kenapa dia bisa tahu kalau aku bekerja di lantai 3?"

.

?

.

"Mau pulang bersamaku, Suho nuna?" Tao menawarkan.

Mereka sudah ada di luar gedung Lotte Fashion. Tao terlihat lempar-tangkap kunci mobilnya. Junmyeon hanya menanggapi tawaran Tao dengan senyum. "Tidak usah, Tao. Aku bisa naik bis,"

"Ayolah, nuna. Aku juga ingin tahu rumah nuna... Siapa tahu aku bisa main ke rumah," Tao merengek.

Junmyeon menggaruk kepalanya. Ia bingung harus berbuat apa. Di satu sisi ia tidak mau merepotkan Tao. Tiba-tiba ia melihat Sehun sedang berjalan menuju dirinya dan Tao. Junmyeon langsung menarik paksa Sehun. "Tao! Kau bisa mengantarkan Sehun ke rumahnya. Maaf, hari ini aku tidak bisa. Kerjaan menumpuk, ada keluargaku yang datang ke rumah.."

Sehun kaget atas perkataan Junmyeon. Ia hanya bisa membatu. Tao menatap Junmyeon bingung. Junmyeon menoleh ke arah halte. Ada bis yang berkode 317-324, itu kode bis yang menuju halte dekat kompleknya. Junmyeon mendorong Sehun ke arah Tao, jadi Sehun dan Tao saling berdekatan.

"Bis ku sudah datang. Aku pergi dulu! Sampai jumpa besook~~~!" Junmyeon berlari ke halte bis agar ia tak ketinggalan bisnya.

Junmyeon pergi menibggalkan Tao dan Sehun berdua. Mereka terlihat canggung. Terutama Sehun. Tao kembali lempar-tangkap kunci mobilnya. Kemudian menoleh ke arah Sehun. "Mau pulang bersamaku?"

Sehun tersipu. "Te-terserah kau saja..."

.

.

.

Eyes, Nose, Lips

.

.

.

"Sketsa desain terakhir kurang sedikit lagi,"

.

DAP! DAP!

.

"Itu desain yang tidak sengaja dicoret oleh Sulli.."

.

DAP! DAP!

.

"Baru hampir dua minggu bekerja saja sudah banyak cobaan.."

.

DAP! DAP!

.

"Aku bakalan stres bulan ini. Hampir tidak ada refreshing. Walaupun Sabtu dan Minggu memang hari libur. Tetap saja..."

.

DAP! DAP!

.

"Dan dua kali aku bertemu si Tuan Sok Kuat di kantor. Dia itu sebenarnya siapa sih?"

Junmyeon melempar bola basketnya ke ring. Bola itu masuk ke sana dan jatuh memantul di lantai lapangan. Junmyeon menarik hoodie jaketnya untuk menutupi kepalanya dari panas matahari. Ia mengambil bola itu.

Junmyeon berpikir. Sudah lama ia tidak bermain basket. Junmyeon mencoba mendribble bola itu sebisa mungkin dan seingatnya. Junmyeon juga berlari menuju ring basket sambil mendribble bola basket itu. Junmyeon juga ingin mencoba long-shoot dari tengah lapangan. Tapi bola itu hanya mengenai penyangga ring dan bola itu memantul ke arah pintu pagar pembatas lapangan.

Kebetulan ada orang lain yang berdiri di sana. Bola itu perlahan berhenti tepat di kaki orang itu. Junmyeon menatap orang yang berdiri di sana. Kris.

"Kris?" tanya Junmyeon memastikan.

"Kau payah dalam long-shoot, Junmyeon," Kris mengambil bola itu.

Junmyeon mendekati Kris. "Aku tahu kau mantan atlet. Tapi jangan menghinaku seperti itu..."

Kris tertawa. Bola itu sudah ada di satu jarinya. Bola itu berputar-putar. "Aku tidak menghinamu.."

"Lalu?"

"Itu sebuah kode, bodoh,"

Kris melempar bola itu ke arah ring. Bola itu masuk ke dalam ring. "Kau ini, tidak mengerti sebuah kode, ya?"

"Aku bukan anak pramuka. Lagipula dulu aku sering membolos kegiatan pramuka," Junmyeon memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket.

Kris tertawa. "Dasar perempuan tomboy,"

"Lalu apa urusanmu?"

"Entah kenapa aku suka dengan perempuan tomboy," Kris mengarahkan pandangannya ke langit.

Junmyeon tersipu. "A-apa maksudmu? Apa itu sebuah kode lagi?"

"Bukan. Itu bukan kode," Kris kembali menatap Junmyeon. Kembali dengan senyuman yang tak tahu artinya apa.

"Kau aneh, Kris..."

Junmyeon mundur hendak menjauh dari Kris. Entah kenapa di belakang Junmyeon ada kulit pisang yang tergeletak di lantai. Sehingga Junmyeon tak sengaja menginjaknya dan terpeleset. Tak sengaja tangan Kris ia tarik sehingga Kris ikut jatuh. Junmyeon jatuh duluan di lantai lapangan dan disusul Kris yang jatuh menindih tubuh Junmyeon.

Mata mereka bertemu. Saling bertatapan dengan posisi seperti itu. Sudah dirasakan oleh Junmyeon rasa panas yang menjalar di pipinya. Begitu juga Kris. Mereka saling bertatapan dalam waktu lama.

"Myeon..." panggil Kris.

"A-apa...?"

"Mau bermain basket bersamaku?"

.

.

.

.

.

To Be Continued


.

.

Hiyaaa~~ Maaf FFnya kependekaaann~! Ira lagi nggak bisa mikir buat chapter ini. Selain sebentar lagi masuk sekolah, Ira juga nggak ada waktu buat bikin FF hikseu~

Oh iya kenapa banyak banget yang tanya kalo Junmyeon nggak diubah sepenuhnya jadi cewek? Kenapa ia harus menjadi transgender? Kenapa nggak genderswitch aja?

Begini. Ira suka dengan hal-hal yang unik dan menarik. Ira masih mengusung boys love di sini. Tapi kalau Junmyeonnya dibuat jadi laki-laki malah jadinya nggak menarik. Begitu juga dengan perempuan. Kalau jadi perempuan atau Genderswitch juga rasanya kayak Drama Korea'-'. Ira mengangkat pokok permasalahan cinta seorang transgender di sini. Yah, walaupun akhirnya juga sama aja boys love jadinya (walaupun secara nggak langsung). Kenapa berhubungan dengan fashion? Karena transgender (mungkin) tahu tentang style laki-laki dan perempuan.

Gimana? Udah jelas? Kalo nggak jelas bisa tanya lagi pas nanti review. Makasih banyak yang udah setia pantengin Eyes, Nose, Lips ya.

Waktunya bales review~~

sayakanoicinoe: telah dilanjutkan sersan /eh

riy: fighting juga buat kamu wkwk :3 ini udah lanjut ya

anon: Iya tuh, wkwk. Junmyeonnya mah emang dasar nggak peka wkwk. Luhan sama Xiumin disini kujadikan kakak adik disini. Soalnya mereka cocok jadi kakak adik, buka pacar wkwk. Pair lain? Hmm.. /lirik TaoHun

EmmaSuho: Nyahaha iya. Udah lanjut ya, maaf pendek.

alexandra. : Haha masa sih? Coba dengerin versi Akmu sama Tablo. Keren juga lho. Kalau mau galau-galauan dengerin versi asli sama versinya Akmu. Tapi kalo mau yang lebih swag dengerin versinya Tablo wkwk. Ah, dunia ini terlalu sempit untuk mereka berdua ya Ira aja sampe heran ckckck /geleng geleng sambil minum es degan/? Ketar-ketir apaan -_- Maksudmu degdegan? Wkwkwk, kalo masalah Sulli bisa dilihat langsung ya, kalo Tao mah... wkwk liat aja nanti. Hahaha, rahasia Ira dan Tuhan yang tahu :D Ciee yang ngepens ama LuMin, mereka sibling bukan pair sayang. Pair lain? /lirik TaoHun/

meliarizkyy7: udah lanjut yaa

hyejinpark: udah next yaa

jimae407203: ini junmyeon yg seneng apa kamunya yg seneng wkkwk :D Tao keterima? Bisa dilihat di atas yo! Yaa semoga saja. Udah lanjut ya

sayangsemuamembersuju: aduh, mama lay~ anakmu ketularan virus lupamu wkwk :Dv tebak-tebakan berbonus kris? Dikata kuis kopi luwak arabica? Wkwkwk :D Ih, kok kamu terlalu detail sih? Kamu siapa sebenernya? Kenapa kamu seperti jelly/? Udah lanjut ya

Chenderella: udah lanjut ya. Nggak apa apa makasih udah mantengin ya

yongchan: nggak tahu. Hanya kris dan Tuhan yang tahu wkwk

kakchiip: wadaaw sampe histeris begitu. Makasih ya ~ Terus pantengin FF ini ya~

KrisHo WonKyu: Iya nggak apa-apa. Penjelasannya sudah di atas ya. Aduh, jangan takut begitu :( Oke ini udah lanjut ya

Hyunki2204: Kamu kurang suka kalo suho transgender ya? Maaf ya, oke ini udah next. Makasih udah baca.

Raemyoon: Wahh makasih udah suka. Penjelasan soal itu udah Ira jelasin di atas ya. Oke ini udah lanjut. Hwaiting juga buat kamu

akiko ichie: udah next ya

jameela: oke sebelum kamu bilang lupakan Ira juga udah lupa /apa/ Ira Cuma tau Fashion King, itu yang ada Yuri SNSD kan? Devil Wears Prada? Ira malah bacanya Panda Wears Prada /? /lirik Tao/ Eh, bukan Prada ding, Gucci wkwk. Ini udah update, maaf kalo lama

dhearagil: Jangan jangan kamu ikutan MOS juga? Wkwk.. Pandanya lagi makan bambu, jangan diganggu wkwk~ Kalo suho itu eommanya, Ira jadi appanya aja ya wkwk /slap/?

DiraLeeXiOh: Nah itu Ira juga bingung – itu Kris tahunya kalo Suho cewek itu karena dia pake baju mirip cewek. Ini udh lanjut ya

.

.

.

Review for this chapter?