VioletUngu presents,
A Heart For You
.
.
Disclaimer : Naruto seutuhnya milik Masashi Kishimoto
'A Heart For You' seutuhnya milik saya.
.
.
Warning!
Cerita ini hanya fiktif belaka.
segenggam konten dewasa, bahasa acak-acakan, kemungkinan besar adanya Typo(s), kemungkinan besar tidak terlaksananya EYD, karakter mungkin sekali OOC, alur tak beraturan, dan lain-lain, dan lain lain.
.
.
.
.
.
Happy Reading :)
Bagian 4
.
.
.
.
.
"…Keparat…"
"…Wanita rendahan…"
"…Dasar, Jalang…"
Sambil mengeringkan rambutnya yang basah, untuk kesekian kalinya wanita muda berbakat yang super cantik itu mengumpat pada cermin toilet pribadi dalam ruangan kantornya.
"…" detik berikutnya dia diam.
Memandang dirinya sendiri di cermin. Wajahnya pucat, bibirnya memutih karena kedinginan dan tentu saja make-up yang digunakannya untuk menyempurnakan penampilannya hari itu luntur. Beruntung hari ini dia menggunakan water-proof eyeliner –jika dia salah memilih eyelinernya hari ini, saat itu dia sudah menjelma jadi Sadako yang melegenda dengan noda eyeliner yang luntur di bawah matanya, tapi tetap dalam versi cantik.
"Kenapa dia melakukannya?" wanita itu mulai mengomel pada bayangan dirinya di cermin, "…apa dia sudah buta? Bagian mana dari Mitarashi Sialan itu yang lebih menarik dariku?! Aku jauh lebih menarik dari wanita jalang itu!"
.
-Flashback-
.
12 jam sebelumnya…
Jam digital di meja kecil yang ada di sisi ranjang tempat Reira berbaring tidur saat itu menunjukkan pukul 4 pagi ketika sebuah pesan masuk. Membangunkan wanita itu dari tidur lelapnya dan membuatnya mengumpat diri sendiri karena lupa mematikannya sebelum dia tidur tadi.
From : M. Anko
Morning, Sleeping Beauty ~ apa kabarmu? Lama kita tidak bertemu, ya? Tiba-tiba saja aku merindukanmu, teman lamaku yang paling cantik ;)
Bagaimana kalau pagi nanti kita bertemu? Di tempat biasanya kita berkumpul saat sekolah dulu. Aku punya sesuatu yang mungkin bisa mengejutkanmu.
Jangan khawatir, Aku yang traktir sarapan untukmu. Aku tunggu di sana, kau akan menyesal kalau tidak datang. ;*
Seketika gadis itu bangkit dan duduk. Berusaha mengumpulkan semua kesadarannya yang sempat terbang jauh dari tubuhnya. Mengusap matanya sekali lagi dan membaca ulang pesan itu, dan memastikan nama pengirim pesan itu benar.
"…apa yang diinginkannya sekarang…?"
Sesuatu yang pasti tidak akan disukai olehnya. Reira yakin itu. Dia menyeret kakinya masuk ke kamar mandi dalam kamar Kakashi dan membasuh mukanya dengan air dingin.
Dia berpikir sebentar. Menimbang-nimbang, lalu menyambar ponselnya dan menghubungi nomor dengan nama M. Anko itu. Nada sambung mulai terdengar di telinganya ketika Reira mendekatkan ponselnya ke telinga. Beberapa detik ditunggu dan akhirnya orang diseberang sana menjawab.
"Selamat pagi, Mitarashi Anko di sini, ada yang bisa kubantu?" jawab suara itu. Nyaring dengan kesan ceria yang memuakkan.
"Katakan apa yang ingin kau katakan padaku, sekarang!" Reira berusaha agar suaranya tidak terlalu keras saat memerintah wanita di seberang sana itu.
"Wah, wah… Nona direktur tidak sabaran sekali… bukankah agak tidak sopan menelpon orang dan berteriak-teriak di pagi buta seperti ini?"
"Hei, jalang! Berhenti main-main denganku!"
"Main-main? Aku tidak sedang main-main dengan anda, nona direktur. Ikuti saja permainanku kali ini." Kalau saja wanita itu ada dihadapannya, Reira pasti tidak akan segan mencakar wajah wanita itu hingga menimbulkan bekas yang tidak bisa hilang.
"Ah~" ketika Reira tidak menjawab, wanita di seberang telepon mulai bicara lagi, "sepertinya aku lupa memberikan detail pertemuan kita nanti. Jam 7 pagi, di tempat yang sudah kutentukan tadi. Kuharap anda bersedia datang, karena kita akan bicara banyak tentang Kakashi Hatake."
"Apa katamu?"
"Daaaah~… sampai bertemu nanti saat sarapan, nona direktur~" dan percakapan mereka berakhir.
"Hei! Aku belum selesai denganmu!" ditatapnya layar ponselnya, sudah kembali ke background awalnya. Tidak ada lagi jejak panggilannya dari layar utama. Percakapan mereka berhenti.
"Sialan!" jemari lentik Reira berlarian di atas layar sentuh ponselnya, menekan beberapa bagian layar dan mendekatkannya lagi ke telinganya, "Paman Akizuki, bisa jemput aku di apartemen Kakashi sekarang…? Terimakasih."
Reira bergerak cepat. Dia tahu dia tidak mungkin pergi saat matahari sudah terbit. Kakashi pasti sudah bangun saat itu. Dia harus pergi sebelum Kakashi menahannya, memaksanya sarapan dan mengantarnya pulang saat sudah hampir waktunya pergi ke kantor. Dikenakannya lagi pakaian yang tadi dipakainya sebelum dia berganti dengan piyama Kakashi dan memungut semua barangnya dari kamar Kakashi, memastikan tidak ada yang tertinggal sebelum dia pergi.
Ketika dia sampai ke ruang tengah apartemen Kakashi, lampunya mati, hanya ada beberapa lampu kuning yang berfungsi untuk menerangi beberapa objek di ruangan itu yang dibiarkan menyala. TVnya pun masih menyala dengan volume suara paling rendah. Reira bisa mendengar dengkuran lembut Kakashi yang tidur di sofa di depan TV.
Wanita muda itu mendekati Kakashi dan mengambil selimut Kakashi yang jatuh di lantai, dan menutupi tubuhnya lagi yang tampak begitu nyaman tidur di sana. Wanita itu kemudian berlutut di sisi sofa.
"Kakashi…" bisiknya lembut. Tak benar-benar berharap Kakashi akan bangun karena suaranya itu.
"Hm…?" dan jelas Kakashi tak benar-benar bangun. Suaranya masih parau, dia menjawab dengan asal-asalan, seolah suara Reira adalah salah satu bagian dari mimpinya malam itu.
"Aku pergi, ada yang harus kukerjakan pagi-pagi sekali…"
"Hn…? Ya, ya…" Reira tersenyum tipis mendengar jawaban Kakashi yang benar-benar berantakan dan seadanya. Paling tidak Kakashi sudah mencoba merespons, kan?
"Sampai bertemu di kantor nanti…" Reira mengecup pipi pria itu lembut. Lalu bangkit dan mengendap-endap keluar dari unit apartemen Kakashi.
.
9 jam sebelumnya…
Yang diharapkan Reira pagi itu hanya secercah cahaya matahari yang hangat. Tapi sepertinya langit menolak mendengarkan permohonannya yang sederhana itu. Pagi ini, awan mendung berkerumun di atas kepalanya, seolah sedang menghisap segala kesenangannya untuk seharian ini. Dia benci hari yang kelam dan mendung, dia juga benci hujan.
Reira menatap jam tangan mahalnya, pukul tujuh tepat. Sudah beberapa menit Reira menunggu di kafe yang dimaksudkan Anko Mitarashi. Apapun janjinya, dimanapun dan kapanpun dia membuat janji, dia selalu datang lebih awal. Kebiasaan bertemu orang-orang penting di kantor, sepertinya. Tapi wanita bernama Anko itu belum juga datang.
Reira tidak melepas coat merah marunnya saat menunggu. Dari awal dia memang tidak berencana lama-lama ada di tempat itu. Rencananya begitu bertemu dengannya, dia hanya akan menyelesaikan urusannya, dan segera pergi ke kantor. Dia tidak akan sudi menerima pemberian wanita yang sejak dulu jadi seseorang yang selalu mengganggu hidup bahagianya itu.
"Sialan… wanita lamban sialan!" kali kedua Reira melihat arlojinya, waktu sudah berjalan lima belas menit.
Wanita itu belum juga muncul. Sepertinya juga tidak ada tanda-tanda wanita itu akan muncul dan langsung bicara dengannya. Seharusnya Reira tahu, wanita itu hanya ingin mempermainkannya saja. Entah kenapa instingnya kali ini kalah karena dia memikirkan apa yang dikatakan wanita itu tadi pagi, bahwa mereka akan bicara banyak mengenai Kakashi Hatake.
Tapi karena ini ada hubungannya dengan Kakashi Hatake, Reira memutuskan untuk bersabar dan menunggu lebih lama di sana. Dia tidak membuat dirinya nyaman dengan memesan sesuatu yang hangat untuk membuat tubuhnya berhenti menggigil. Dia hanya duduk di sana. Menunggu.
"Direktur Kuhouin?" seorang gadis muda datang kepadanya dan langsung mendapat perhatian penuh dari Reira.
"Ya…?" Reira tidak tahu bagaimana gadis muda ini bisa tahu siapa dia.
"Ini menu makanan yang anda pesan tadi, maaf sudah menunggu lama…" masih terkejut dan sedikit bingung, Reira hanya diam saat gadis itu meletakkan semua piring berisi makanan dan secangkir latte dimejanya.
"…maaf, tapi aku tidak merasa–"
"–dan orang yang memesankan untuk anda menitipkan ini untuk anda." Gadis muda itu mengeluarkan sebuah memori card kecil dari dalam saku apronnya dan meletakkannya di antara piring-piring yang sudah ditatanya rapi di hadapan Reira itu, "…selamat menikmati."
Meski makanan yang disediakan gadis tadi berbau begitu wangi dan sangat mengundang, Reira tidak tertarik. Fokusnya sepenuhnya terletak pada memori card kecil itu. Tak butuh waktu lama hingga akhirnya Reira sadar itu adalah ukuran untuk memori card ponsel.
Segera diambilnya ponsel miliknya, dikeluarkannya memori cardnya sendiri dan dia menggantinya dengan memori card itu. Digeledahnya isi di dalamnya. Ada beberapa foto dan sebuah file rekaman suara. Yang ada dalam setiap foto hanya tiga orang. Anko, seorang pria tua yang Reira yakin adalah ayah Anko, dan… ayah Kakashi, di ruang tamu kediaman utama Keluarga Hatake.
Semakin penasaran, Reira mengambil headset dari dalam tas mahalnya dan menancapkannya ke ponselnya. Dicarinya data suara rekaman tadi dan dia mendengarkannya dengan saksama. Volumenya diatur cukup keras hingga dia bisa mendengar semua percakapannya dengan jelas.
Yang pertama kali terdengar hanya obrolan basa-basi antara ayah Kakashi –Reira kenal betul suara ayah Kakashi– dan suara laki-laki lain yang Reira yakin adalah pria yang sama yang ada di foto-foto tadi.
"Apa ini…? Berisik sekali…" gumamnya. Ingin segera melomat ke bagian yang penting, tapi juga tidak ingin ketinggalan bagaimana jalan ceritanya.
Kemudian dia sampai pada bagian ketika orang-orang itu membicarakan ibu Kakashi, lalu nama Anko juga disebut-sebut di dalamnya. Perhatian Reira mulai terfokus kembali. Dia mendengarkan dengan saksama setiap kalimat yang diucapkan. Sejauh ini, sepertinya Reira sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan mereka. Tentang surat wasiat dan tentang perjodohan Anko.
Reira seketika menegakkan punggungnya saat mendengar suara Kakashi dalam rekaman itu. Alisnya bertaut berusaha menajamkan pendengarannya. Dia mendengar Kakashi menyebut pria asing itu presdir Mitarashi, yang jelas membuktikan bahwa dugaannya benar, dan dia juga menyebut nama Anko. Itu sedikit mengejutkannya. Namun dia tak terlalu ambil pusing, segera dia memfokuskan diri lagi, mendengarkan.
Selanjutnya hanya ada basa-basi lagi. Sepertinya presdir Mitarashi ini suka sekali melakukan basa-basi dengan semua orang. Ramah-tamah singkat lagi, dan mereka kembali ke topik utamanya. Perjodohan dan wasiat itu.
Untuk kali pertama dalam hidupnya, Reira benar-benar tersedak. Terbatuk beberapa kali dan kesulitan bernapas saat dia mendengar ayah Kakashi bilang, bahwa dia akan menjodohkan Kakashi dengan Anko atas dasar wasiat dari mendiang ibu mereka.
"Uhuk! Uhuk! …menjodohkan Kakashi dengan wanita jalang itu?! Yang benar saja…" Reira berusaha keras agar suaranya tidak terdengar oleh orang lain.
Tapi tiba-tiba rekaman itu terhenti. Ponsel Reira bergetar, tanda ada satu panggilan baru yang masuk. Nama pemanggil yang muncul adalah M. Anko.
"Hei, Jalang! Kau tidak punya otak atau apa?!" Reira sontak menyemburnya dengan makian dan nada tinggi yang jelas bisa didengar selruh pengunjung kafe.
"Maaf…, maafkan aku. Mendadak aku tidak bisa datang, aku sibuk sekali sampai waktu yang kurasa longgar ternyata masih harus tersita untuk pekerjaan. Tidak sepertimu, terlalu banyak waktu senggang. Khukhukhu…" Jawab wanita itu dengan suara riang yang sama memuakkannya dengan yang tadi pagi.
"Apa maumu?!"
"Aku hanya minta pendapatmu untuk tempat sarapan pilihanku. Bagaimana? Kau suka sarapan yang kupesan untukmu? Semua itu makanan terbaik di kafe itu. Kau harus mencobanya. Dan hadiah kecil yang kutitipkan…" Jawab si wanita terdengar suara tawa dari seberang sana. Tawa kemenangan yang samar.
Nafas Reira mulai memburu, matanya terasa memanas menahan marah. Wanita itu bukan hanya meledek dan mempermainkannya, tapi dia juga baru saja menunjukkan diri bahwa dalam hal ini, Reira kalah. Dan tidak ada yang bisa dilakukan Reira untuk membalas wanita itu karena dia tidak ada di sana. Hanya rekaman itu dan hubungan teleponnya.
"Oh… omong-omong, bagaimana menurutmu untuk perjodohanku dan Kakashi? Kuharap kau merestui kami." Wanita itu bahkan terdengar lebih riang sekarang, seperti seorang anak yang baru saja mendapat mainan termahal sedunia, mengalahkan semua mainan yang dimiliki teman-temannya, "Nanti siang dia mengajakku untuk makan siang bersama di restoran favorit kalian, lho… restoran Italia itu yang ada di dekat kantormu… kalau kau mau bergabung, aku tidak keberatan…"
"KEPARAT!" ponsel Reira menghantam lantai kayu itu dengan sangat keras hingga pecah. Reira baru saja melemparnya sekuat tenaga ke sana. Ada bekas cekungan di kayu tepat di mana ponselnya jatuh tadi.
Reira tidak repot-repot memungut ponselnya yang remuk. Dia menyambar tasnya dan langsung melangkah keluar dengan cepat. Masuk ke dalam mobilnya dan pergi.
.
4 jam sebelumnya…
Seharian itu Reira memutuskan untuk tidak pergi ke kantor. Setelah ponselnya remuk, dia segera menyuruh seseorang mengurusnya. Membeli ponsel baru dan mengurus segala sesuatu yang dibutuhkannya. Dia sempat pergi ke kantor tempat Anko Mitarashi bekerja dan meninggalkan sejenis surat ancaman di mejanya karena wanita itu sedang pergi.
Akhirnya, dia pergi ke salah satu bar langganannya. Bukan untuk minum. Dia hanya memesan segelas martini yang dihabiskannya dalam sekali teguk dan tak ada lagi yang dipesannya. Dia terlalu marah untuk bisa menikmati minumannya. Reira hanya duduk dan menunggu laporan dari anak buahnya yang disebarnya ke segala penjuru kota untuk memata-matai Kakashi dan mencari keberadaan Anko. Juga tentu saja, merencankan skenario 'pembunuhan' paling kejam yang akan ditujukan husus untuk Anko Mitarashi.
"Reira-sama…" seseorang mendekatinya. Pria dengan kacamata hitam dan setelan jas hitamnya. Terlihat mengerikan dan siap berkelahi kapan pun.
"Apa yang kau dapat?"
"Mitarashi Anko dan Kakashi-san akan makan siang pukul 2 siang ini, menurut apa yang saya dapatkan."
"Apa sungguhan Kakashi yang mengajaknya?"
"Untuk itu… saya kurang yakin. Tapi dalam kotak terkirim di pesannya tidak ada pesan undangan makan siang untuk Anko Mitarashi. Saya rasa Anko Mitarashi yang melakukannya."
"Hm…"
"Ada lagi yang bisa saya lakukan, Reira-sama?"
"Jam 2 siang… antar aku ke kantor sebelum saat itu."
"Baik, Reira-sama…"
"Terimakasih untuk kerja kerasmu."
.
2 jam sebelumnya…
Saat itu jam 2 siang saat akhirnya, perut Reira rasanya sudah seperti kemasukan seekor monster yang meraung-raung minta diberi makan. Dan seseorang membawakannya sushi dari restoran sushi favoritnya.
Reira sekarang sudah duduk di ruangannya di kantornya. Diam, berusaha agar tidak mengunyah makanannya terlalu cepat dan memikirkan apa yang akan di lakukannya pada Kakashi nanti pada waktu yang bersamaan. Sulit untuk dilakukan dalam keadaan hatinya yang sama sekali belum bertambah tenang sedikit pun sejak tadi pagi. Dan cuaca mendung berhujan hari itu memperburuk semuanya.
Mata-matanya masih berkeliaran. Di sekeliling restoran itu. Memberitahunya apa-apa yang terjadi. Termasuk ketika Kakashi menunggu selama satu jam sebelum akhirnya gadis itu datang.
Reira berusaha menunggu dengan sabar di kantornya. Cemas dengan apa yang dilakukan Kakashi dan Anko di sana. Salah satu orangnya bahkan mengambil gambar saat Anko memegang tangan Kakashi. Dan itu jelas membuatnya semakin tidak sabar untuk turun ke jalan dan mencakar wajah wanita itu di hadapan umum. Dan mungkin menjambak rambutnya hingga tercabut dari akarnya. Oh, ya… Itu akan sangat menyenangkan.
.
1 jam sebelumnya…
"Reira-sama, sebentar lagi mereka akan selesai makan." Satu dari beberapa mata-mata yang dikirimnya melapor padanya melaui telepon.
"Apa Kakashi akan mengantarnya?" Tanya Reira yang juga sedang bersiap di bagian depan kantornya, menuju ke tempat itu.
"Saya belum tahu… ah, tidak. Mereka menunggu di luar bersama. Sepertinya Anko Mitarashi akan pulang dengan dijemput seseorang."
"Baiklah. Kerja kalian bagus. Sekarang, cepat kalian semua pergi. Dari sini, biar aku yang urus sendiri."
"Baik, Reira-sama…" telepon di tutup. Reira memasukkan ponsel barunya ke dalam tas mahalnya dan mengembangkan payung hitam besar dengan pegangan kayu itu dan melangkah keluar.
Dengan mantab Reira mengayunkan kakinya menyusuri trotoar yang lengang menuju ke tempat restoran itu berada. Dia tidak peduli sepatunya yang indah dan berharga selangit itu jadi kotor karena hujan. Dia tidak peduli bagaimana angin sudah berulang kali menerbangkan rambutnya. Yang dia inginkan sekarang hanya menemukan Kakashi dan menyeretnya kembali ke kantor. Entah kenapa dia tidak lagi ingin mencakar wajah wanita itu.
Ketika Reira sampai di sana, mobil sedan yang menjemput Anko Mitarashi datang. Dia sempat melihat wanita itu bersama dengan kakashi. Terlalu dekat hingga rasanya ingin sekali Reira melemparnya dengan sesuatu dari sana agar mereka menjauh –agar Anko menjauh. Dan kenapa Kakashi harus repot-repot memberinya tempat berteduh selama dia menunggu? Seharusnya dia dibiarkan saja kedinginan dan kehujanan di luar sana.
"…" Reira yakin gadis itu sempat bertemu mata dengannya tapi langsung mengalihkannya saat mobil itu berhenti dan sopir di dalam mobilnya keluar.
Lalu hal itu terjadi. Wanita itu dengan sebuah senyum malu-malu yang murni dibuat-buat, mengecup pipi Kakashi di hadapan matanya. Dan Kakashi mengeluarkan ekspresi yang tidak diduga Reira. Dan itu semua memicunya melakukan semua yang telah dilakukannya pada Kakashi sore itu. Di bawah langit mendung dan guyuran hujan.
.
End of Flashback
.
"Aku akan membalasnya. Lihat saja nanti, Mitarashi Anko. Aku akan…!"
Kruuukk~
"Ah… mungkin setelah aku makan…" gadis itu segera memoles wajah cantiknya lagi dengan lipstick dan sedikit perona wajah di pipinya agar tidak terlihat pucat, "…aku tidak tahu kantor ini beitu dingin sampai hari ini..." sambil menggosok-gosok kedua lengannya sendiri, gadis itu melangkah keluar.
"Asataga!" dan begitu membuka pintu, yang dilihatnya pertama kali adalah Kakashi. Berdiri di depan pintunya dengan kedua tangan di dalam saku coat abu-abu gelapnya yang masih basah dan rambut yang disisir dengan jari ke belakang masih menempel satu sama lain karena basah, dengan wajah yang tertunduk.
Kakashi segera mengangkat kepalanya mendengar lengkingan suara gadis itu barusan.
"Mau sampai kapan kau berdiri di situ? Minggir!" Dengan wajah yang masih belum berubah lembut sejak kepulangannya ke kantor tadi, gadis itu memaksa Kakashi minggir dari tempatnya berdiri.
"Aku… ada yang ingin kukatakan…" kata Kakashi sambil memegang lengan gadis itu untuk menghentikannya.
Reira melepas tangan Kakashi, "Kalau itu permintaan maaf, aku tidak menerimanya. Kau tahu berapa banyak pekerjaan minggu ini? Dan pergi membuang-buang waktumu yang berharga dengan wanita itu? Kau tahu mana yang lebih penting, kan? Kau seharusnya–"
"–Aku dijodohkan."
"..." Reira seketika diam, dan tertawa kecil dengan wajah yang sama sekali tidak terliht terhibur sambil menatap Kakashi. Diam-diam berharap semua itu hanya lelucon untuk membuat kemarahan Reira mereda, seperti yang biasa dilakukannya.
Tapi sayangnya wajah Kakashi serius. Tak ada tanda-tanda gurauan di matanya.
"Apa…?" dan Reira, tentu saja tidak bisa menerima semua itu begitu saja. Otaknya mendadak beku tak bisa mencerna informasi yang baru saja didengarnya.
"Aku dijodohkan… Dengan Mitarashi Anko."
.
.
.
.
.
Bersambung
Halooo, mina-san...
lama sekali kita tidak berjumpa.
pertama tama ijinkan saya mengucapkan Selamat Tahun Baru 2015 dan selamat ulang taun buat yang berulang tahun di bulan Januari ini :D (FYI, authornya juga ulang taun di bulan Januari ini XD)
kedua, tentu saja, tidak lain dan tidak bukan...
MOHON MAAF YANG SEBESAR BESARNYA UNTUK KETERLAMBATAN TIADA TARA DI FANFICT SATU INI (sujud sedalam-dalamnya)
Ketiga, TERIMAKASIH BANYAK untuk reader, silent reader, semua jenis reader yang pernah, sedang membaca dan tengah menantikan kelanjutan Fanfict ini. terlebih lagi untuk yang sudah sudi membuat fict ini jadi fanfict favorit dan juga bagi yang sudah mem-follow. Kalian sungguh membakar semangat saya untuk menulis lanjutan Fanfict ini. tapi karena satu dan banyak hal akhirnya malah tertunda selama ini dan baru bisa dipublish sekarang :') (author berlinangan air mata bahagia)
saya sempet nggak tau harus gimana karena sempat beberapa bulan tidak bisa diakses lewat komputer karena selalu masuk ke internet positif indonesia itu, yang katanya websitenya mengandung SARA lah pornografilah apalah... mungkin ada dari mina-san yang mengalami hal yang sama? Cuma saya? oke, nggak papa. tapi syukur akhirnya sudah bisa diakses dengan lancar dan normal lagi sekarang :'D
Di chapter ini author mencoba menjelaskan apa yang sebenernya terjadi, semoga nggak membuat bingung mina-san yang membaca. dan semoga cukup mengobati rasa penasaran mina-san.
Dan doakan saja semoga kelanjutan ceritanya bisa saya publish secepatnya sebelum saya mulai kuliah lagi.
well, terimakasih sudah menyempatkan waktu membaca fict ini, kalau ada kritik dan saran, komentar dll, dll boleh lho langsung ke kolom review di bawah :)
Salam,
VioletUngu.
