Hai! Maaf, sudah nunggak banyak fic. Ijel harus ujian dan sebenarnya ada tugas semesteran yang harus diprioritaskan dulu. Tapi, berhubung ini sudah libur, ijel bakal nerusin hehe.

Aku harap kalian masih ingat jalan ceritanya hehehee… karena ijel aja harus balik baca dari chapter 3 untuk nerusin fic ini.

Lalu, ijel mungkin akan update lancar mulai dr chapter 4, ingatin aja kalau udah lebih dari 4 minggu, okey ;)

Chapter ini spesial bingiiit buat Yamanakavidi yang reviewnya buat ijel terharu. Semoga kamu suka! Nyehehehe. Dan untuk dibaca semuanya, tentu saja. :D

FAQ/S

Selamat selesai ujian, ijel! Awawa *blush. Thankyooooou. *peluk. Ditunggu lanjutannya. Maacihh banyak udah mau nunggu, minna. Apa hubungan gaara-hinata? Ada di chapter ini. Naruto masih suka sama Shion? Jawabannya masih iya dan tidak. Hahahaha. Hinata jadi lebih berani. Memang dasarnya Hinata itu ngga terlalu pemalu di cerita ini, tapi kalau dengan Naruto, dia agak canggung hehhee. Kelihatan sisi posesif dengan protektifnya Naruto. Horeee! Ijel kelas berapa? kelas 2 SMA hehehe Naruto mulai berubah haluan? *bibir dikunci* Sasuke itu ada perasaan sama Hinata? Hayu atuh ditebak sendiri. Shion kok engga muncul lagi? Lagi tenggelam kemarin. Hehee. Chapter ini muncul kook. Kenapa Rei harus salah manggil Hinata? Biar greget. Happy ending? Pasti! Happy ending naruhina. Naruto banyak cemburu buta. *angguk-angguk. Ijel buatnya yang deketin Hinata banyak, tapi kalau Naruto cuma shion doang. Konflik rame-ramean? TRUE! Imperfect akan penuh dengan konflik, jadi aku jamin fic ini akan sangat panjaaaaaaang.

Disclaimer : Naruto is Masashi Kishimoto's

Warning: emo, galau, nyesek, klise, idenya tiga seribu di pasar, alternateuniverse, alur acakkadul, typos as always, ooc-cold!Naru. Author tukang php janji update.

Don't like - Don't read - Don't judge.

Jadilah pembaca yang bijaksana. Kalau tau engga suka pair, alur, penulisan, konfliknya, atau apapun, yah back saja. Jangan menghakimi saya. Okey? *wink* *wink again* *tebar pesona* *gagal*

.

.

.

.

Suasana pesta ketika itu meriah dan penuh hiruk pikuk manusia yang berlalu-lalang, tak terdengar lagi oleh Hinata, ketika seluruh atensinya terperangah, melihat seseorang berambut merah yang tersenyum lebar padanya. Senyumannya begitu tampan, Hinata akui itu, namun senyuman itu mengingatkannya akan sesuatu, sesuatu yang buruk.

"Hinata?" Gaara tersenyum ramah dan atraktif, berbeda dengan dirinya yang beberapa saat lalu menganggap pesta untuk merayakannya ini terlalu mewah dan membosankan. Kehadiran Hinata membuatnya harus menarik kata-kata itu lagi. Ia sudah bertahun-tahun lamanya tidak bertemu dengan gadis itu. Sekitar 8 tahunan lebih.

"Gaara-kun?" Hinata membalas, dengan nada bertanya yang sama. Kaget. Ia tidak merasakan apapun, hanya saja ia terkejut mengapa dari sekian banyak manusia yang eksis di negaranya, ia malah bertemu dengan Gaara lagi.

Dunia begitu sempit.

Sang pemuda yang ia hadapi kini menjadi lebih dewasa, guratan-guratan khas pria berkharisma kentara terpeta dalam senyuman dan tatapan matanya. Senyum tipisnya membuat Hinata merinding, teringat sesuatu.

Rei tertawa-tawa, ia merangkul Gaara yang notabene adalah sang anak bungsu di sisinya. "Kau sudah kenal dengan Gaara, Hinata?" Tanyanya pada Hinata.

Hinata mengangguk pelan sambil tersenyum ramah kepada Rei. Sementara Naruto diam saja, tak ingin berkomentar. Ia merasa sedikit canggung dan tersinggung, seharusnya ialah tamu kehormatan di sini, bukan Hinata. Dan sekarang ia bahkan tidak diperkenalkan dengan Gaara oleh Rei. Eksistensinya terlupakan begitu saja.

Seseorang memanggil Rei dari kejauhan, membuat ia menunduk sebentar dan memisahkan diri.

Sepeninggal Rei, hanya ada Gaara, Hinata dan Naruto.

Gaara masih tetap menatap Hinata yang terlihat cantik malam itu, seakan tidak percaya seorang gadis yang sudah begitu lama tidak ia lihat sudah berubah, membuatnya sedikit menyeringai kecil.

Melihat Naruto yang berdiri sangat dekat dengan Hinata dan tidak kunjung menjauh, Gaara menunjuk Naruto dengan tatapan matanya. "Dia siapa?" Tanya kemudian.

"Aa, i-ini Naruto Namikaze, dia s-suamiku." Hinata akhirnya memperkenalkan Naruto, membuat pemuda itu tersenyum setengah tulus pada Gaara.

Gaara bahkan tidak mengacuhkan Naruto. Ia malah terlihat sangat kaget lalu mengguncang kedua lengan Hinata yang tertutup lengan jas Naruto. "K-kau punya suami?" Ia terlihat sangat kaget dan syok, membuat Naruto sedikit tersinggung. Entah kenapa. "Kapan kau menikah?"

Hinata menyebutkan sebuah nama bulan, sekitar empat bulan lalu. Gaara mengangguk-angguk. Ketika itu ia dan saudara-saudaranya masih berada di luar negeri. Sedikit ada rasa kecewa mencuat di hatinya, namun ia mati-matian menyangkalnya.

Hinata terdiam cukup lama, lalu mulai bergumam pelan. "Berarti, di-disini juga ada Sasori-kun?" Tanyanya dengan nada yang aneh, membuat Naruto penasaran sekaligus bingung.

"Ya."

.

.

.

Flashback.

Suara pintu depan yang terdengar dibuka mengagetkan Hinata kecil, ia segera berlari cepat dari dapur ke pintu depan. Senyum tak lepas dari bibirnya, menunggu kabar gembira yang sebentar lagi didengarnya.

"Jadi bagaimana?" Hinata menatap ke arah Neji yang baru pulang dari sekolahnya. Sedangkan sang kakak hanya tersenyum sebentar.

Neji menutup payung yang tadi ia kenakan, lalu memasukkannya ke dalam ember khusus payung dan tongkat.

"Adik kecil, kamu seharusnya berkata okaerinasai." Neji mengacak rambut adiknya, lalu duduk dan membuka sepatunya.

"Okaeri, Neji-nii."

"Tadaima, Hinata."

Hinata bergabung ikut duduk di samping kakak kandungnya itu, lalu dengan antusias menatap mata bulan yang serupa dengannya itu.

"Ada apa, sih?" Tanya Neji dengan nada pura-pura terganggu, lalu beranjak dari duduknya dan berjalan santai menuju meja makan yang berada di dapur.

Hinata mengikuti setiap pergerakan kakaknya itu, dan akhirnya ikut duduk di kursi meja makan di sebelah Neji.

"Bagaimana? Kakak lulus?" Hinata bertanya antusias sambil menyendokkan nasi ke mangkuk dan menuangkan air putih di gelas Neji.

"Tentu saja." Balas Neji.

Hinata terperangah, ia bersorak gembira dan memeluk Neji. "Selamat, Nii-san! Aku senang! Kau bisa pergi ke tempat impianmu sekarang."

"Aku kan tidak bilang aku akan pergi, Hinata." Kata-kata Neji membuat Hinata terdiam.

"Apa maksudnya?" Ia kembali terhempas duduk di tempatnya, setelah sebelumnya ia melompat-lompat kegirangan.

"Aku memang lulus beasiswa, tapi aku memutuskan tidak pergi ke sana." Neji mengambil mangkuk berisikan nasi yang disendokkan oleh Hinata tadi, lalu membuka tudung saji dan mengambil beberapa lauk.

"Ke-kenapa?" Hinata hanya bisa terdiam lagi, matanya mengerjap meminta penjelasan yang sejelas-jelasnya.

"Karena biaya untuk semester pertama tidak mereka tanggung, Hinata." Kali ini Neji mengambil sayuran hijau berbau sedap yang sudah direbus Hinata, dan menuangkannya di mangkuknya.

"Tabungan ayah dan ibu belum habis, kan? Itu pasti bisa membiayai hidupmu di sana, nii." Kata Hinata, membuat Neji menghentikan aktivitasnya dan menatap Hinata dalam.

"Hinata..."

"Kita bisa menjual rumah ini untuk biayamu berangkat ke sana."

"Hinata..."

"Lalu, kita bisa meminjam uang dari teman-teman ayah, kan?"

"Hinata..."

"Kalau belum cukup, a-aku akan bekerja sambilan, nii."

"HINATA!"

Hinata terdiam. Satu dua buah bulir air mata meluncur dari pelupuk matanya. Neji menghela nafas, membelai kepala sang adik yang akan masuk sekolah menengah atas itu.

"Hinata, maaf. Sepertinya aku memang tidak ditakdirkan untuk pergi ke sana." Neji tersenyum, lalu menghentikan belaiannya. Ia menatap foto keluarga yang terpampang di sebuah sisi dinding, dimana saat itu dunia adalah tempat kebahagiaan yang abadi. Kini, mereka harus memperjuangkan hidup mereka masing-masing.

"Tapi, kalau kita mencoba, kita pasti bisa,Nii-san." Kata-kata harapan dan penghiburan dari suara serak Hinata mengalihkan pandangan Neji dari pigura foto, membuatnya harus berpikir matang-matang sebelum memutuskan keputusan apapun.

"Lalu bagaimana denganmu? Kau juga harus sekolah, kan?" Sangkalan itu kembali keluar, perdebatan itu tak kunjung selesai. Neji benar-benar ingin melanjutkan sekolahnya di tempat impiannya, dan ketika ia sangat dekat dengan itu, ia harus memilih antara impiannya dan kehidupan adik semata wayangnya. Ia tidak boleh egois.

"Aku akan masuk sekolah yang paling murah." Namun adiknya memaksanya untuk egois. Ketika Neji bersikeras untuk tinggal dan kembali membanting tulang, Hinata malah menyuruhnya pergi mengejar impiannya, meninggalkannya sendirian dengan hal tak terduga yang kini menggerayangi pikiran Neji.

"Bagaimana bisa aku belajar di tempat termahal dan berkualitas tinggi di dunia sedangkan kamu belajar di sekolah termurah?" Fakta yang bahkan ia tidak sadari ketika meluncur dari mulutnya itu sungguh membuatnya terkejut. Bagaimana bisa ia berlaku egois seperti itu?

"Aku tidak apa-apa. Sungguh." Hinata memegang tangan Neji, berusaha mengubah pikirannya. Hanya satu hal yang ia inginkan, yaitu kebahagiaan Neji. Ia yang paling terpukul atas meninggalnya orang tua mereka.

"Tidak. Aku tidak akan pergi ke sana." Neji menghela nafas, memasukkan mangkuk berisi makan siangnya ke dalam tudung saji, berjanji akan makan setelah nafsu makannya kembali.

.

.

Saingan Neji adalah Sasori. Mereka bersaing dalam mendapatkan beasiswa tersebut. Mereka dua sahabat sekaligus rival, yang punya ambisi dan nafsu besar dalam membuat masa depan sesuai keinginan mereka masing-masing.

Sasori dan Neji sama-sama beruntung, hidup di lingkungan berada dan terjamin segala kebutuhan jasmani dan rohani mereka.

Namun keberuntungan pun punya umur, hidup Neji terbalik bak kehilangan gravitasi ketika mendengar orang tuanya mengalami kecelakaan fatal yang membuat mereka tewas di tempat. Beban Neji bertambah, tanggung jawabnya membludak. Hinata saat itu belum mengerti apa-apa, sedang ia harus mengurus semua masalah di keluarganya.

Uang sekolah Neji dan Hinata untuk tiga tahun telah lunas sejak awal mereka mendaftar, yang berarti Neji bisa lulus di SMA itu setahun lagi, dan Hinata bisa lulus SMP dua tahun lagi tanpa perlu mencemaskan biaya sekolah mereka.

Namun ketiadaan orang tua membuka mata Neji, membuatnya harus bekerja ekstra keras. Ia belajar keras sambil bekerja, berusaha mengejar pendidikan tanpa biaya di negara impiannya Inggris dengan beasiswa. Walaupun dicemooh dan digunjing teman-temannya karena jatuh miskin, ia tahu, ia tak pernah punya waktu untuk berfoya-foya lagi.

Ia punya tanggung jawab.

Hinata adalah tanggung jawab terbesarnya.

Belajar dan memenuhi kebutuhan keluarga adalah jadwalnya di hidup muda, dan menjadi orang tua untuk adik kecilnya adalah kewajiban di masa terbaik menjadi remajanya.

Hinata mengerti, Hinata paham. Yang paling kehilangan sosok ayah dan ibunya adalah Neji. Neji bisa saja menjadi figur ayah dan ibu untuk Hinata. Namun, ketika Neji jatuh dan kehilangan arah, siapa yang menjadi ibu dan ayah untuk Neji?

Karena itu ia membantu kakaknya, memberi sebisa mungkin apapun yang kakaknya inginkan, menjadi anak yang baik dan teladan, serta memanjatkan doa yang sama setiap hari agar kakaknya selalu bahagia.

Dan ketika kebahagiaan yang selalu Hinata doakan itu datang, sebuah beasiswa dan kelulusan ke tempat yang Neji damba, ia terpaksa harus merelakannya lagi demi Hinata.

Sungguh tak adil!

.

.

Berita pengunduran diri Neji tersebar luas di seluruh sekolah, ia menarik diri dan akhirnya Sasori yang maju untuk mendapatkan beasiswa tersebut.

Sasori adalah anak sang ketua yayasan yang berdiri di bawah naungan perusahaan besar. Belajar di Inggris dengan uangnya sendiri tanpa beasiswa atau apapun adalah hal yang gampang baginya dan keluarganya.

Dan ketika dahulu Neji digunjing karena miskin, sekarang ia kembali diperlakukan dengan hal yang sama, namun dengan titel 'sok jual mahal' oleh teman-temannya.

Ketika Neji dan wajah sok kuatnya lewat, tanpa ragu mereka akan berkata,

'Dia sok pintar, baru menang beasiswa saja sudah belagu.'

Dan,

'Sombong sekali dia, sudah syukur dapat beasiswa, tapi ditolak.'

Atau,

'Miskin, ya miskin saja. Sudah dapat gratisan masih ditolak juga.'

Neji hanya menghela nafas, menggumamkan nama Hinata yang masih sangat membutuhkannya. Ia hanya akan lewat begitu saja, tak sedetik pun mengarahkan mata indahnya pada mereka, menganggap eksistensi mereka tak ada.

Karena berita itupun menyebar, akhirnya sampai juga ke telinga Gaara, adik kandung Sasori. Ketika mendengarnya, ia membujuk Sasori untuk mempertimbangkan penerimaan beasiswa itu.

"Ayah, apa bisa kita berlaku tidak adil? Yang pantas mendapatkan beasiswa itu adalah Neji, bukan Sasori. Ayah tau sendiri perjuangannya, kan?"

Rei yang saat itu masih muda mengangguk, tersenyum pada si bungsu yang berhasil membuka pikirannya.

Akhirnya, beasiswa itu dikembalikan kepada Neji, dengan biaya keberangkatan yang ditanggung oleh yayasan, dan ia diberi sejumlah uang untuk biaya hidup.

"Gaara-san, terimakasih banyak." Pada waktu keberangkatan Neji, Hinata baru sempat bertemu dengan Gaara dan menyampaikan rasa terimakasihnya.

"Ah, berterima kasihlah pada yayasan. Bukan padaku."

"Ya, aku sudah melakukannya. Tapi aku juga harus berterimakasih padamu." Ujar Hinata sambil tersenyum. Gaara tersenyum balik pada Hinata, menyukai ketulusan dan kerendahan hati sang gadis.

"Hinata, kalau begini, mungkin kau bisa masuk ke SMA yang pertama kau pilih kemarin itu."

"Ya, Sasuke-kun."

Neji meletakkan barang-barangnya, dan menunduk untuk menyejajarkan tingginya dengan sang adik. Ia menatap Hinata lama, sebelum berujar, "Hinata, mulai sekarang kita akan benar-benar terpisah. Jadi kau harus berjuang untuk kehidupanmu, dan kakak akan berjuang untuk kehidupan kakak. Setelah semester ini, ketika kakak mendapat beasiswa dan uang jaminan hidup, kakak janji akan mengirimkanmu uang dan seterusnya. Kakak juga akan bekerja di sana."

Hinata mengangguk tersenyum, sebuah likuid bening lolos dari matanya. Neji menyekanya sambil ikut tersenyum. "Aku akan merindukanmu, nii-san." Hinata memeluk Neji erat, yang langsung dibalas oleh Neji.

"Aku juga, Hinata. Jaga dirimu. Gaara, Sasuke, aku titipkan Hinata pada kalian."

"Baik."

.

.

Namun akhirnya di tengah jalan uang dari yayasan itu habis, dan Hinata terpaksa menjual rumahnya dan membeli flat kecil karena kurs mata uang mereka berbeda jauh. Ia pun mulai bekerja sambilan di mana-mana untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Ia mengakui, masa-masa itu memang masa terberat dalam hidupnya.

Akibat itu jugalah Hinata harus mengubur dalam-dalam kemauannya untuk belajar di sekolah favoritnya dan akhirnya belajar di SMA biasa.

Namun akhirnya, oleh karena kesabaran dan kerja keras mereka, pada tahun kedua Hinata bisa pindah dari sekolah lamanyanya ke SMA yang pertama kali ia sukai. Ia juga sudah bisa memenuhi kebutuhannya dengan tepat waktu, dan mengurangi waktu bekerjanya.

Uang dari Neji selalu cukup, namun ia tetap bekerja dan menabung untuk kuliahnya.

.

.

.

.

"Itu Sasori, Hinata." Gaara menunjuk ke arah seseorang yang masuk pintu masuk, seseorang dengan penampilan kasual yang baru berjalan memasuki pesta.

Hinata berjalan mundur, menarik-narik Naruto dan mengajaknya menjauh, berusaha menghindari Sasori.

"Gaara."

Hinata terkesiap. Suara itu, suara yang sangat ia tak suka. Suara yang merendahkannya berulang kali. Suara yang membuatnya dikeliling mimpi buruk di malam kesendiriannya. Suara itu ia dengar dengan jelas di telinganya.

Sasori yang tak sengaja melihat Hinata, langsung berjalan ke arahnya dan mengguncang-guncang bahunya. "Hinata? Kau Hinata kan." Kemudian dengan sepihak memeluk erat gadis itu. "Bagaimana kau bisa kesini? Kau menggoda petugas keamanan? Atau kau jadi istri simpanan pengusaha kaya?"

"Lepas, Sasori." Hinata meronta di pelukan kasar Sasori.

"Tidak akan."

Naruto yang diam saja sedari tadi mulai gusar. Dengan perilaku yang sama ia menarik Hinata ke sisinya. Dengan kasar dan sepihak. "Hei, mau apa kau?" Sindirnya pada Sasori. Ia lalu menarik Hinata ke belakangnya.

"Siapa dia?" Tanya Sasori pada Hinata sambil menunjuk Naruto dengan ujung dagunya.

"Suaminya." Jawab Gaara.

"Suami? Apa? Kau sudah menikah?"

Naruto yang dari tadi tak diperhatikan pun mulai kesal, ia membentak Sasori, "Ya, dia sudah menikah. Mau apa kau?"

"Tidak mungkin ia menikah secepat itu. Dia sudah jadi milikku selamanya." Sasori balas membentak, dan memajukan badannya ke arah Naruto.

"Apa?" Naruto kaget, ia melirik Hinata sebentar lalu balik menghadang Sasori yang menatapnya garang.

"Na-naruto-kun, sudah."

.

.

.

Gaara sedang duduk di singgasana presdir, mengecek sebuah laporan ketika Sasori datang sambil menggebrak pintu.

Gaara meliriknya sebentar, lazuardi matanya mengikuti Sasori yang tak berhenti mondar-mandir seperti suami yang menunggu istrinya yang sedang bersalin.

Puas mondar-mandir, Sasori menghempas pantatnya di sofa ruangan Gaara.

"Aku tak menyangka Hinata adalah istri presdir perusahaan yang selalu dibanggakan papa itu."

"..."

Sasori menoleh heran kepada Gaara yang tak melepaskan pandangannya dari layar laptopnya, dengan sebelah tangan yang masih memegang laporan dan proposal. Kesal, Sasori berdiri dan beranjak dari sofa empuknya ke kursi yang ada di hadapan Gaara.

"Ah, ayolah. Aku tau kau juga menyukai Hinata."

"..."

Gaara merliriknya sebentar, lalu dengan tak acuh melanjutkan aktivitasnya.

"Kau, kan yang membuat Neji pergi dari Jepang supaya kau bisa mendekatinya, kan?"

Kini, Sasori berhasil mendapatkan atensi Gaara seutuhnya. Gaara menutup laptopnya dengan kasar dan menatap kakaknya itu nyalang.

"Tutup mulutmu."

"Aku tau itu, aku tau." Sasori mengibaskan tangannya dengan santai, lalu menyandarkan bahunya ke tumpuan kursi di belakangnya.

"..."

"Asal kau tau aja, aku sudah tak ada perasaan apa-apa terhadapnya. Kau bisa ambil dia." Sambungnya lagi.

"Dia sudah menikah." Gaara kembali mencari proposal dan laporan yang menjadi tujuan kerjanya tadi yang sekarang sudah hilang entah kemana.

"Dasar bodoh. Naruto menikah hanya untuk mendapat keuntungan kerjasama dengan perusahaan kita. Kalau tidak, mengapa ia tidak menolaknya." Sasori berkata enteng sambil mengecek smartphone-nya. "Lagipula, kata ayah, sebelum menikah, Naruto bilang nama calon istrinya Shion, bukan Hinata. Kata ayah sih, cetakan undangan yang salah, tapi mana mungkin percetakan bisa salah, kan?" Ketika ia menengadah, ia melihat Gaara yang menatapnya penuh antusias ingin tahu.

"Lalu?"

"Aku yakin Hinata itu menikah dengan Naruto akibat kerja sama." Sebelah alis Sasori naik cukup tinggi.

"Kerja sama?"

"Ya. Semacam perjanjian."

"Untuk?"

"Mendapatkan uang."

.

.

.

Sasuke berjalan menuju ke kantor Gaara untuk memberikan beberapa berkas. Di depan pintu presdir yang belum tertutup, ia mendengar sebuah percakapan. Dari kaca yang tidak tembus pandang, menampakkan seseorang dengan rambut merah sedang berposisi menelepon.

"Ya, aku sudah balas dendam dengan si jalang itu. Siapa suruh dia mencampakkanku begitu saja."

"Sekaligus reward untuk adikku. Biarkan dia mencicipi si jalang. Aku tau Gaara sudah lama suka padanya."

"Suaminya? Aku tidak peduli."

Suara yang bergiliran dan diucapkan dengan suara keras itu terdengar cukup jelas ditelinga Sasuke yang berdiri tidak terlalu dekat dengan pintu masuk ruangan presdir.

Sambil mengangkat alisnya dengan heran, Sasuke berlalu begitu saja, melupakan dan mengabaikan semua yang terjadi.

Setelah itu Sasuke berangkat menuju rumah Hinata, berniat mengembalikan hpnya yang tersimpan di mobilnya pada saat Hinata terkena insiden bola baseball.

Hinata menunggunya di luar gerbang, karena sebentar lagi ia dan Naruto akan keluar makan malam sekaligus untuk menemui Tou-san dan Kaa-san Naruto.

Mobil hitam Sasuke tampak dari kejauhan, membuat Hinata mendekat ke area bahu jalan. Kaca samping pengemudi terbuka, menampakkan Sasuke yang sedang mmebuka kacamata hitamnya. Tangan kanannya menyodorkan hp Hinata. "Ini dia, Hinata."

"Aa, terimakasih banyak, Sasuke-kun." Hinata mengambil hp yang disodorkan Sasuke, lalu menyimpan HP itu ke dalam saku celana pendeknya.

Sasuke memakai lagi kacamata hitamnya, lalu menoleh kearah Hinata yang masih berdiri di tempatnya. "Titip salam pada Minato-san dan Kushina-san, ya."

"Okay." Sasuke menunggu Hinata masuk ke dalam rumah, setelah itu dia langsung pergi.

Radio yang diputarnya memperdengarkan sebuah ramalan bintang yang tak sengaja didengarkan oleh Sasuke. Bosan, Sasuke mematikan radionya dan hanya fokus ke jalan. Sebuah mobil mewah yang digemari Sasuke lewat dan membuatnya melihat kea rah mobil itu. Ia berpapasan dengan sang pengemudi berambut merah dengan tato merah di keningnya.

Tak acuh, saat lampu jalan berubah hijau, Sasuke langsung tancap gas untuk kembali ke kantornya.

"Aku heran mengapa orang-orang belakangan ini begitu menggemari tattoo." Gumam Sasuke sambil mengganti gigi mobilnya.

Ia kemudian teringat dengan teman lamanya yang juga mempunyai tattoo yang berada di dahi, seorang pemuda kaya yang berambut merah dan juga menyukai Hinata. Persis dengan orang yang ada di mobil mewah tadi.

Persis dengan orang yang ada di mobil mewah tadi.

Pikiran Sasuke lalu bercabang kemana-mana, menduga-duga sang pengemudi tadi adalah Gaara yang sudah sangat lama tidak ia temui, yang harus ia pisahkan tali persahabatannya karena insiden tak mengenakkan hati.

Dan sang pengemudi yang ia temui tadi menuju kearah rumah Hinata.

"Sekaligus reward untuk adikku. Biarkan dia mencicipi si jalang. Aku tau Gaara sudah lama suka padanya."

Seketika matanya membelalak, lalu ia mengumpat kasar dan membanting setir untuk putar balik.

"Shit!"

"Hinata!"

Ia segera memutar balik menuju ke arah rumah Hinata. Tapi saat ia sampai, yang ia lihat mobil Gaara yang ada di luar gerbang. Berarti Gaara sudah masuk ke dalam. Ia merutuki sifat Hinata yang dengan mudah membuka pintu tanpa melihat sang tamu di intercom. Bel ditekan, namun tak berbunyi. Sasuke hanya bisa menggedor-gedor gerbang besar itu sambil terkadang mengumpat kecil.

.

.

Ketika berbalik untuk pulang, Naruto hampir menabrak seekor kucing hitam ketika perjalanan pulang. Seketika perasaannya berubah tak enak. Ia semakin cepat berjalan pulang. Menginjak pedal gas gila-gilaan, seakan ada setan besar mengejarnya di belakang.

Ia semakin heran dan cemas begitu melihat Sasuke yang terlihat sangat panik sambil menggedor-gedor gerbang rumahnya. Ketika melihat mobil Naruto, ia segera berlari kearahnya dan langsung mendesak Naruto untuk keluar.

"Naruto! Apa password rumahmu?!" Teriaknya begitu Naruto turun dari mobil.

"Kenapa?" Tanya Naruto yang kini ditarik-tarik Sasuke menuju ke interkom.

"Cepat buka!" Sasuke mulai panik, nada bicaranya tampak menunjukkan kegelisahan.

"Ada apa sih?" Melihat Sasuke yang panik, Naruto pun ikut panik. Namun ia tetap menuntut penjelasan.

"Cepat buka gerbang sialan ini!"

Naruto buka gerbang, lalu berlari mengikuti Sasuke ke dalam rumah.

"Lepas!" Teriakan Hinata mereka dengar teredam dari dalam rumah.

Alangkah terkejutnya Naruto dan Sasuke, ketika ia masuk dan tiba di ruang tamu, ia melihat Hinata yang meronta sambil menangis dengan kemeja yang sudah acak-acakan, sementara Gaara berada di atasnya, menindih wanita itu, dengan posisi mulut berada di leher Hinata dan tangan besarnya yang berada di payudara Hinata.

Sasuke langsung berlari memisahkan mereka, dan memukul Gaara bertubi-tubi. Ia baru berhenti saat melihat Gaara meminta ampun dan terlihat sangat kesakitan.

Sementara Naruto yang sejenak bingung, langsung berjalan ke arah Hinata, dan menyampirkan jasnya di bahu Hinata. Hinata kini terlihat sangat kacau dengan air mata tumpah di sekujur wajah putihnya, dan rambutnya yang acak-acakan.

Sasuke berjalan menuju mereka setelah puas memukul Gaara dengan beberapa kali tinju di perut pemuda itu. Hinata masih syok, namun ketika melihat Sasuke mendekat, ia langsung memeluk Sasuke dan membuat pria itu jatuh terduduk.

"Sasuke-kun." Ucap Hinata beberapa kali seperti sebuah mantra, sambil menangis ia meremas erat baju Sasuke. Sementara pria itu langsung menengangkan Hinata dengan mengelus-elus rambut dan punggungnya.

Naruto hanya bisa kaget dan terkesima melihat ini, entah kenapa dadanya seperti diremukkan berulang kali oleh palu besar melihat Sasuke yang meredakan tangis hebat Hinata. Ingin rasanya ia menggantikan posisi Sasuke sekarang dan menjadi satu-satunya pahlawan bagi Hinata.

Ia mengambil jasnya, yang terjatuh dari bahu Hinata ketika gadis itu berlari ke pelukan Sasuke. Yang ia rasakan saat itu hanya pilu.

.

.

.

.

TbC (tuberculosis)

.

Maaf, Gaara eksisnya cuma dikit, dikiiit banget. Setelah ini (mungkin) dia ngga bakal keluar-keluar lagi, atau kalau ijel lagi niat, mungkin dia akan keluar lain kali sebagai orang baik. Karena pihak pengganggu sebenarnya hanya shion. Hehehe.

Scene ini berguna ntar buat naruhina ke chapter depannya, karena Naruto akan-makin-sangat-banget dingin sama Hinata, *plak *dhuak *gedebuk, malah menyalahkan Hinata atas semua yang terjadi *plak *dhuak *gedebuk. Dan sebuah kesempatan bagus untuk memperkenalkan NEJI-NII-SAN!

Bagaimana menurut kalian? Aku harap kalian masih setia menunggu fic ini. Kalo sebel, tumppahin aja di review aja biar ijel semangat ngetiknya dan tepat waktu. Tapi jangan galak-galak yaaa.

Untuk reviewer yang log, akan ijel balas di pm masing-masing. Dan ini buat yang tidak log hehe

Uzunamiymbgmailcom, fitri anna, ifahara, fahira: thankyouu, aku menunggu review kalian lagi. Tunggu chapter 5 yaaaaaaa!

Lavender sapphires chan: haii, aku ngakak seriusan membaca review kamu. Sepertinya kamu benar-benar mengerti dan membaca fic ini dengan baik, dan aku suka itu. Kamu salah satu reviewe yang aku tunggu loh.

R08: iya ada gaaranya. Tapi gomeeeen, gaaranya aku buat terlalu terobsesi dengan hina, jadi kesannya jahat. Kwkw tenang, aja mungkin dia akan muncul lagi sebagai orang baik yang sudah bertobat hehehe.

Ayu: benarkaaaah? Seriussaaaan? Kwkwk. Bagus deh, aku juga super seneng dengarnya wkkww. Selamat sudah lulus smp ayuu! Wkwk bagaimana hasilnya? Ijel yakin pasti bagus dehh. Hehehe.

Hanazonorin444: haiiiii wkkw. Kalau makanan juga pasti abis juga say kalo diabisin, apalagi kalo makannya bareng ijel hahahaha. Iya, dia dilemma. Karena dilemma, dia jadi jahat sama hinata. Wkwkw tunggu lanjutannya yaaaaa

Divaa: iya, konfliknya masih segini segini aja, kalo untuk shion, porsinya akan membanyak di chapter depan. Wkwkwk tunggu yaaa

Mikuru12: hehehee, iyaa, shion nanti aja keluarnyaa, di chapter depan. Setelah chapter ini baru deh langsung panas. Wkwkwk, lalu untuk gaara, gomenn aku buatnya dia terlalu berkobar-kobar dengan hinata, jadi kesannya jahat deh. Padahal aslinya dia baik kook. Tunggu lanjutannya ya

2nd silent reader: wkkw pantau terus dehh, ingatin kalau ada yang agak aneh dan salah salah, atau mengecewakan yaa. Aku mengandalkanmuu.

Terimakasih banyak sudah mau baca. Ijel mengharapkan komentar kalian di review. Pembaca yang baik meninggalkan jejak. :p

See you at 5th!