Wohoo.. Sorry guys, updatenya lama banget. Masih ada masalah dengan internet blah blah blah.

Well, sebenarnya gak mau panjang-panjang tapi kemarin aku baru baca sebuah fiksi dan ceritanya cukup menarik, sayang, authornya memutuskan untuk menyinggung seseorang yang aku cintai, Kristen. Ceritanya menyinggung kehidupan RobSten dan…sang author percaya dengan sangat sama apa yang diberitain media selama ini. Yeah, aku tau kita semua berhak untuk berpendapat, mempercayai dan tidak mempercayai tapi kalau itu keterlaluan? I mean, mind your own business. Kita itu tidak tau dengan apa yang sebenarnya terjadi jadi jangan mengasumsikan sesuatu dan menyebarluaskannya, apalagi asumsi itu tidak diketahui kebenarannya. Iya, ini memang dunia fiksi tapi hormati orang lain juga lah. Jangan menghakimi orang lain karena kehidupanmu bermasalah, jangan berbicara manis tentang orang lain didepan temanmu dan ikut mengolok-olok orang lain itu karena temanmu yang lain tidak suka dengan orang itu, karena dia tidak ikut menyumbang masalah dalam hidupmu, kamulah yang memutuskan ada atau tidaknya masalah dikehidupanmu itu. *sigh*

Oke, aku rasa cukup aku menyampaikan uneg-unegku (untuk saat ini) ;). Terima kasih juga buat reviewnya, senang ada yang tertarik dengan ceritaku, meski ceritanya masih amatiran. So, enjoy! =D


Visiting

BPOV

Hari ini aku sudah boleh pulang. Bosan rasanya ada di rumah sakit terus, tidak bisa bebas tetap saja, gip ini masih belum boleh di lepas.

Satu hal yang sangat membuatku penasaran, kenapa dia tidak datang menjengukku? Ed. . .Tony.

Berat rasanya mengakui kalau dia bukan Edward. Dari cerita Alec, dia memang bukan Edward. Buktinyapun sudah ada. Tapi kenapa hatiku masih mengatakan kalau dia itu Edward? Tidak mungkin aku salah mengenali Edward, Edward yang paling aku kenal di dunia ini.

Uncle Caius menjemputku di rumah sakit, Aunt Athe tidak ikut menjemputku, dia menunggu dirumah bersama si kembar. Tidak butuh waktu lama untuk sampai dirumah, hanya butuh waktu kurang dari tiga puluh menit sudah sampai.

Kami langsung di sambut oleh Aunt Athe dan si kembar Felix dan Demetri. Aku sangat rindu pada mereka, mereka selalu bisa membuatku tertawa.

Belum apa-apa aku sudah disuruh untuk istirahat di kamar—menjengkelkan—tapi terpaksa tetap harus kuturuti.

Tok tok tok.

Pintu sedikit terbuka dan kepala Aunt Athe muncul. "Hei, kau sudah tidur?"

"Belum." Kataku sambil berusaha duduk.

"Boleh aku masuk?"

"Tentu." Ada apa ini.

"Sayang, bukan maksud Aunt untuk mencampuri urusanmu, tapi. . .kenapa kau tidak mencoba untuk melupakannya dan memulai kehidupan baru?"

Ini lagi. "Aku. . .aku tidak bisa dan tidak mau mencoba. Setiap kali alu dipaksa untuk melupakannya setiap kali itu pula rasa ini padanya semakin besar. Aku juga tidak tau kenapa bisa begini. Hanya saja hatiku tidak mau melepaskannya." Aku menghirup nafas panjang. "Rasanya seolah-olah separuh hidupku ikut bersamanya, jantungkupun berdetak karena memang harus berdetak. Dalam hatiku aku meyakini bahwa dia masih ada disini, bahwa dia belum meninggal. Sekeras apapun kalian memaksaku untuk percaya bahwa. . .Edward sudah meninggal, sekeras itu juga hatiku percaya bahwa Edward belum meninggal."

Aunt Athe membelai kepalaku, "Sayang, Aunt hanya memberikan saran, semua keputusan ada di tanganmu. Aunt tidak akan memaksakan apapun padamu." Aku tersenyum sendu. "Sudah malam, sebaiknya kau tidur sekarang. Selamat malam, sayang."

Setelah memberiku kecupan selamat malam, Aunt keluar dari kamarku. Aku memikirkan sejenak perkataannya. Memang hidup harus tetap berjalan, tapi tanpa Edward, hidup tidak ada artinya untukku.

Tony POV

Sudah hampir tiga hari semenjak kecelakaan itu dan aku belum punya kesempatan untuk menjenguknya sendiri. Aku tau dari rumah sakit kalau Bella sudah pulang kemarin, tapi pekerjaanku tidak bisa ditinggalkan.

Aku berencana untuk menjenguknya hari ini saat jam makan siang, lagi pula pekerjaanku sudah selesai. Ingin sekali aku mengajak Jane, tapi dia baru berangkat ke paris untuk menghadiri pembukaan butik barunya di sana.

Jam makan siang akhirnya datang juga, ku kemudikan mobilku menuju rumahnya. Well, rumah pamannya sebenarnya. Untung aku sudah bertanya pada Alec dimana mereka tinggal, jadi aku tidak perlu repot-repot mencari alamatnya.

Dijalan aku melihat toko bunga, aku berinisiatif untuk membelikannya bunga sebagai permintaan maaf juga. Tapi aku bingung bunga apa yang harusnya aku berikan padanya.

Setelah cukup lama berpikir bunga apa yang akan aku berikan untuknya, aku melihat bunga yang sangat indah—bunga freesia dan lavender. Otakku langsung memutuskan bahwa aku akan memberikan bunga ini padanya. Sesuatu pada bunga-bunga ini mengingatkanku padanya. Aku juga mampir ke toko buah-buahan, kubeli sekeranjang buah apel. Mudah-mudahan Bella menyukainya.

Tunggu, kenapa aku jadi repot-repot begini? Aku bahkan belum pernah memberikan bunga untuk Jane. Kugelengkan kepalaku saat kembali memasuki mobil dan bergegas mengendarainya.

Menemukan rumah mereka tidak terlalu sulit. Ku ketuk pintu rumahnya. Tak lama terdengar seseorang berjalan mendekati pintu dan pintu akhirnya terbuka. Ternyata Alec.

"Hai, Alec." Sapaku.

Alec terlihat terkejut dengan kedatanganku. "Oh, hai Edw, um maksudku Tony. Kenapa kau kemari?"

"Aku ingin menjenguk Bella. Aku belum punya kesempatan untuk meminta maaf secara langsung padanya. Dan aku juga baru punya waktu kosong, jadi sekalian saja aku menjenguk Bella. Bagaimana keadaannya?"

"Um. .sudah lumayan baik." Kata Alec, singkat.

"Well, apa aku boleh masuk?" Tanyaku saat Alec diam saja.

"Oh, tentu. Ayo masuk." Alec membuka pintu lebih lebar agar aku bisa masuk. Rumah ini terlihat sangat sepi.

"Kenapa sepi sekali?"

"Iya, paman masih di kantor dan bibiku pergi menjemput si kembar." Jelas Alec.

"Si kembar?" Tanyaku bingung.

"Well, pamanku punya dua anak kembar."

"Oh." Hanya itu yang keluar dari mulutku. Aku membayangkan punya saudara, pasti akan sangat menyenangkan. Tapi dimana Bella? Aku belum melihatnya sama sekali. "Dimana Bella?"

"Dia masih dikamarnya. Setelah aku paksa dia untuk minum obat, akhirnya dia tidur juga."

Aku terkejut dengan ucapan Alec. "Kau memaksanya?"

"Yeah, kalau tidak di paksa pasti Bella tidak mau minum obat. Dia paling benci minum obat. Mungkin gip di kakinya juga akan dilepas kalau kami tidak mengawasinya. Dia paling benci diberi perhatian atau menjadi pusat perhatian. Hanya Edward saja yang bisa membuat Bella tidak mengeluh. . ." Tiba-tiba Alec berhenti berbicara lalu mengambil nafas dalam-dalam beberapa kali. "Maaf, aku jadi bicara panjang lebar."

"Oh, tidak masalah." Aku jadi semakin penasaran siapa sebenarnya Edward. Kenapa dari kemarin yang selalu Alec bicarakan selalu berujung pada seseorang yang bernama Edward?

Tapi sebelum aku melontarkan sepatah katapun pada Alec, terdengar jeritan dari lantai atas. Jeritan itu sangat memilukan, aku bisa merasakannya sampai ke tulang-tulangku.

"Oh, jangan lagi." Kata Alec langsung berlari kelantai atas. Akupun secara reflek mengikuti Alec ke lantai atas.


Uh oh. Apa yang terjadi? lol

Review please?

Love,

B