Tittle: Elf

Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi

Genre: Supernatural, Crime,

Rate: T

Warning: OOC, OC (mungkin) figuran, Typo pake es, bahasa tidak sesuain EYD

Enjoy...

Chapter 3: Case 1, It's starting from...

(05.00 p.m.)

"Tet..su?"

"Eh?"

Sesaat mereka berdua terpaku di tempat masing-masing dengan Kuroko yang kebingunan dan wanita itu yang terlihat syok. Merasa tidak nyaman, Kuroko pun membuka suara.

"Maaf, apakah ini rumah Kouji?"

"Eh? I-iya. Saya Kouji, Kouji Yukino." Jawab wanita bernama Kouji Yukino itu. "Apa ada yang bisa kubantu, anak manis?" Tanyanya sambil ternsenyum lembut. Tidak lagi tampak wajah terkejut yang ia perlihatkan sebelumnya.

"Ano, Kouji-san. Kemarin malam kita bertabrakan dan anda menjatuhkan buku anda. Ini." Jelas Kuroko singkat sambil menyerahkan buku milik Yukino. Melihat buku yang ada di tangan Kuroko wanita berusia dua puluhan itu sedikit membelalakkan matanya.

"Ah! Ya ampun! Syukurlah... kupikir sudah hilang." Ucapnya sambil menerima buku itu. "Terima kasih ya, um..."

"Kuroko. Kuroko Tetsuya." Ucap Kuroko mengetahui Yukino ingin menanyakan namanya.

"Eh?" Sejenak ia kaget entah karena apa. Namun ia kembali tersenyum ramah. "Terima kasih Kuroko-kun. Kau mau masuk dulu?" Tawar wanita itu.

Sebenarnya Kuroko ingin menolak dan segera pulang, tapi mengingat buku yang baru dibelinya masih di tangan wanita ini, mau tidak mau ia harus mengiyakan. Kuroko pun memasuki apartemen tersebut dan ia langsung tahu bahwa wanita itu baru saja selesai jogging sekitar setengah jam yang lalu. Karena di teras depan ia melihat sepatu olahraga yang diletakkan sembarangan, sedangkan dari tubuh wanita itu sendiri menguar wangi shampo, menandakan ia baru selesai mandi.

.

"Jadi..." Yukino datang sambil menyuguhkan teh untuk Kuroko. "Kuroko-kun ini sekolah di SMP mana?" Tanya wanita itu sambil duduk di hadapan Kuroko.

Mendengar pertanyaan Yukino membuat pemuda baby blue ini sedikit kesal. Ayolah, sependek itukah dirinya? Selain itu pertanyaan tadi tidak biasanya ditanyakan kepada orang asing yang tiba-tiba datang bertamu.

Kuroko kemudian menegaskan tanpa mengubah ekspresi datarnya. "Maaf, tapi saya sudah kelas satu SMA, Kouji-san."

"E-eh? Ma-maaf ya.. haha.." Ucap Yukino sambil tertawa canggung.

"Tidak apa-apa, Kouji-sa.." Kata-kata Kuroko tiba-tiba terpotong ketika Yukino angkat bicara.

"Yukino, panggil Yukino saja."

"Hai. Yukino-san." Sesaat Kuroko memperhatikan sekeliling ruang tamu itu. Kemudian pandangannya berhenti pada sebuah foto yang terpajang di dinding dekat tempatnya duduk.

Di foto itu terlihat dua orang yang tersenyum sambil mengacungkan dua jari membentuk huruf v. Satunya Yukino, dan satu orang lagi seorang pemuda bersurai hitam dengan mata kelabu yang terlihat sebaya dengannya.

Melihat Kuroko yang terus memandang intens ke arah fotonya, wanita itu tersenyum simpul dan mulai berbicara. "Itu fotoku dan adikku. Dia seumuran denganmu. Namanya Tetsuga."

Mendengar penuturan Yukino, Kuroko mengalihkan pandangannya ke arah wanita beriris jamrud itu. Nama adiknya mirip dengannya.

"Kupikir dia mirip denganmu lho, Kuroko-kun. Karena itu aku salah mengira kau adikku. Apalagi nama kalian hampir sama. Aku sempat kaget waktu mendengarnya."

Setelah mengatakan hal itu Yukino seakan teringat sesuatu. "Ah, benar juga. Aku menemukan novel yang masih baru waktu kita bertabrakan. Apa itu milik Kuroko-kun?"

"Hai. Saya rasa buku kita tertukar saat itu."

"Sou ka? Kalau begitu tunggulah di sini sebentar. Akan aku ambilkan." Yukino kemudian beranjak menuju ruangan lain-yang diduga Kuroko sebagai ruang kerja.

.

Lima menit menunggu namun Yukino tidak kunjung keluar dari ruangan itu. Dilanda bosan, pemuda itu pun memilih untuk berkeliling melihat-lihat tempat itu.

Banyak foto terpajang di dinding dan lemari kecil, yang kebanyakan foto kakak beradik Kouji dan beberapa dengan orangtua mereka, sebagian lagi foto Yukino dengan seorang pria, mungkin pacarnya. Melihat foto keluarga itu membuat raut wajah Kuroko sedikit berubah. Kerinduan terpancar di matanya meski tak begitu kentara.

Kuroko kembali melihat-lihat dan pandangannya jatuh pada kalender yang digantung di samping foto keluarga. Disana terlihat beberapa tanggal yang dilingkari dan terdapat keterangan peristiwa di bawah bulannya berdasarkan tanggal yang ditandai.

"Orang ini perfeksionis." Komentar pemuda bersurai sky itu melihat keterangan yang dituliskan untuk setiap peristiwa begitu detail. Tapi ada satu tanggal yang menarik perhatiannya. Tanggal 2 bulan ini yaitu sekitar tiga minggu lalu hanya dilingkari, tanpa keterangan apapun.

Ada apa gerangan dengan hari itu? Apakah ada sesuatu, atau hanya lupa diberi keterangan?

Selain itu keterangan untuk tanggal-tanggal setelah hari itu tidak begitu jelas. Bahkan ada yang tidak diberi keterangan sama sekali seperti tanggal 2 tersebut.

"Maaf menunggu lama Kuroko-kun. Aku lupa meletakkan bukunya dimana." Suara Yukino mengalihkan perhatian Kuroko dari foto dan kalender. Sesaat pemuda itu mengerinyitkan alisnya heran meski samar.

"Tidak apa-apa." Kata Kuroko.

Mereka kembali duduk dan berbincang berbagai macam hal. Entah kenapa Kuroko ingin lebih lama ada di sini.

.

.

.

Few days later

(05.30 p.m.)

Selama beberapa hari terakhir Kuroko sering berkunjung ke rumah Yukino. Biasanya sepulang dari Maji Burger ia akan langsung ke apartemen wanita beriris jamrud itu, karena Yukino juga baru pulang jam segitu. Wanita itu sangat ramah dan entah kenapa memperlakukannya seperti keluarga sendiri sehingga membuat Kuroko nyaman. Ditambah lagi Divisi Seirin yang masih mengosongkan jadwal latihan dan Yoshiro yang belum menghubunginya sama sekali perihal kasus kemarin. Jadilah ia memiliki lebih banyak waktu luang. Selain itu ia juga bisa melupakan statusnya sebagai Elf untuk sesaat.

Yukino banyak bercerita tentang kehidupannya, seperti ia bekerja di perusahaan keamanan, hobi jogging tiap pagi dan sore, bahkan mengenai pacarnya – yang ternyata adalah LD. Tapi ia lebih sering menceritakan tentang Kouji Tetsuga, adiknya. Mendengar cerita wanita itu membuat Kuroko tercengang, mereka benar-benar mirip, seperti yang dikatakan Yukino. Dari wajah, hobi, dan sifat. Tapi ada satu hal yang tidak disangka-sangka pemuda sky itu.

.

"Maaf, boleh aku bertanya?" Tanya Kuroko memulai pembicaraan setelah Yukino kembali dari dapur. "Sebenarnya Tetsuga-kun ada di mana? aku tidak pernah bertemu dengannya."

Mendengar pertanyaan Kuroko membuat Yukino tertunduk. Raut wajahnya berubah menjadi sangat sedih, air mata pun mulai menggenang di kelopak matanya. Oh tidak, Kuroko telah membuat seorang wanita menangis.

"Ma-maaf, yang tadi lupakan saja."Kuroko panik mendapati raut wanita itu semakin sedih.

"Tidak apa-apa Kuroko-kun." Yukino mengusap air matanya sambil tersenyum, meski dipaksakan. "Aku akan menceritakannya padamu."

"Sebenarnya Tetsuga-kun sudah meninggal tiga minggu lalu karena penyakit jantungnya."

"Eh?" Kuroko sedikit kaget mendengarnya. 'Berarti tanggal 2 adalah hari itu?' Batinnya.

"Malam itu aku berjanji untuk menjemputnya dari kelas tambahan. Aku memintanya menunggu sampai pukul delapan. Tapi atasanku memberi pekerjaan lebih sehingga aku harus lembur dan baru selesai saat tengah malam. Ketika aku menjemputnya, Tetsuga-kun masih di sana. Tapi... dia tidak bergerak, penyakit jantungnya kambuh sebelum aku datang dan dia tidak terselamatkan." Jelasnya sedikit terisak samar. "Ini semua salahku, karena... aku tidak segera menjemputnya dan malah mementingkan pekerjaan." Ujarnya di sela isakannya.

Suasana menjadi suram setelah Yukino selesai bercerita. Ternyata wanita ini menanggung rasa penyesalan yang besar atas kematian adiknya.

"Ma-maaf ya, malah brecerita hal ini kepadamu." Ujar Yukino sambil menyeka air matanya.

"Tidak apa-apa, saya rasa dia adik yang sangat beruntung." Ujar Kuroko sambil tersenyum lembut. Yukino tercengang mendengarnya. "Tetsuga-kun memiliki kakak yang sangat menyayangi dan peduli dengannya, karena terus menghkawatirkan dirinya. Dia pasti merasa sangat bahagia memiliki kakak seperti Yukino-san."

Keheningan kembali tercipta di antara mereka, hanya saja atmosfernya sedikit berbeda dari sebelumnya. Hingga Yukino membuka mulutnya.

"Pergi.." Gumam wanita itu.

"Eh?"

"KUBILANG PERGI! PERGI DARI SINI!" Teriaknya tiba-tiba sambil mencengkeram bahu Kuroko dengan sebelah tangan dan menyeret pemuda yang lebih pendek itu keluar dari apartemennya.

"Yu-Yukino-san. Ada apa?!" Kuroko bertanya dengan nada bingung.

"PERGI DAN JANGAN PERNAH KEMARI!" Usir wanita itu kasar kemudian membanting pintu keras. Kuroko yang masih bingung hanya bisa berdiri mematung di sana.

Ketika Yukino mengusirnya tadi, yang dilihat Kuroko bukanlah amarah atau kebencian. Tapi seperti ketakutan dan gusar akan sesuatu.

Tidak mau ambil pusing, pemuda itu memilih pulang karena ia pikir wanita itu perlu waktu untuk sendiri. Sedangkan di balik pintu apartemen, Yukino sedang menangis sambil memeluk lututnya, juga sebelah tangannya memegang pisau dapur yang sejak awal disembunyikannya.

"Kumohon cepat pergi...! Jangan kamu..." Rintih Yukino di tengah tangisannya.

.

Dua hari setelah itu pemuda sky itu memilih untuk tidak mengunjungi Yukino. Yoshiro juga sama sekali tidak memberi kabar. Jadilah ia menjalani kehidupannya yang biasa. Ia juga lebih sering menghubungi Kise meskipun pada akhirnya ia harus rela mendengar ocehan pria kuning itu dengan volume yang berpotensi menulikan telinganya. Sejujurnya ia khawatir karena Kise masih dikuntit orang asing itu, sehingga ia rela mendengar celotehan Kise. Karena dengan begitu ia tahu temannya itu baik-baik saja nutuk saat ini.

.

.

.

(Time Skip)

(04.30 p.m.)

Rabu pagi, tepatnya pagi buta. Seorang pemuda bersurai beby blue sedang menikmati sarapan di meja makan di rumahnya sendirian. Jangan lupakan bed hairnya yang bahkan serupa dengan super saint saiya. Wajah pemuda bermarga Kuroko itu terlihat sedikit lesu karena dia bangun lebih pagi dari biasanya. Salahkan atasan sekaligus walinya yang seenak jidatnya menelepon di pagi buta hanya untuk menyuruh Kuroko ke kantor di sore harinya.

Tiga puluh menit waktu dihabiskan Kuroko untuk berpakaian dan bersiap ke sekolah (separuhnya dipakai untuk membereskan rambutnya). setelah semua dirasa siap, ia pun melangkah keluar kamar. Tetapi, sebelum keluar dari kamarnya, pemuda itu melangkah ke lemari kecil di samping ranjang dan membuka laci untuk mengambil sebuah cincin perak dengan garis biru bening di tengahnya, kemudian dimasukkannya cincin tersebut ke dalam tas. Sejenak Kuroko terdiam memandangi benda lain di dalam laci itu. Ia memandang enam buah kalung dengan liontin kristal berbeda warna yang tersimpan rapi di kotaknya masing-masing dengan ekspresi tak terbaca, serta dua kalung lain dengan liontin kristal berwarna hitam pekat yang berada di pojok. Sesaat kemudian pemuda sky itu menutup kembali lacinya dan melangkah keluar dari kamarnya.

Saat keluar dari rumah hari masih gelap gulita. Wajar saja, karena baru jam lima pagi. Tidak memedulikan hal itu, pemuda mungil itu mulai melangkah. Baru satu langkah dari depan pagar rumah, seseorang tiba-tiba menyapanya dengan suara cempreng.

"Ohayo Kurokocchi!" Sapa Kise, orang itu riang.

"Ohayo Kise-kun." Balas Kuroko datar. "Sedang apa Kise-kun di sini pagi-pagi?" Tanya Kuroko yang heran, karena rumah Kise cukup jauh.

"He? Biasanya kan aku juga berangkat pagi ssu." Jawab Kise masih dengan wajah ceria.

"Tapi tidak biasanya Kise-kun menjemputku." Balas Kuroko.

"Hehe.. aku kebetulan lewat sini. Jadi sekalian menjemput Kurokocchi." Kise membuat alasan, namun malah dihadiahi tatapan datar Kuroko yang seolah menuntut jawaban sejujurnya. Mengerti arti tatapan Kurkoko, Pemuda blonde itu pun menghilangkan raut cerahnya, menggantinya dengan wajah murung. Kise pun berujar sambil menatap tanah sembari berjalan kee sekolah.

"Sebenarnya... aku mengkhawatirkan Kurokocchi ssu." Jawabnya pelan. Kuroko yang mendengar penuturan temannya itu hanya bisa menatap heran. Kenapa Kise harus mengkhawatirkan dirinya? Bukannya Kise lah yang harus dikhawatirkan?

"Kenapa kau mengkhawatirkanku, Kise-kun?"

"Yah.. sebenarnya beberapa hari ini aku merasa ada yang mengikuti kita ssu. Kupikir mungkin cuma salah satu penggemar fanatikku (Kuroko langsung muntah mendengar kenarsisan Kise /Kise: Hidoi ssu, Kurokocchi~!). Tapi ketika aku berpisah dari kalian orang itu berhenti mengikuti. Lalu ketika aku ketemu Kurokocchi di Maji burger tempo hari perasaan itu ada lagi. Juga hari-hari setelahnya, padahal kalau sama yang lain aku nggak merasakan itu ssu. Makanya kupikir Kurokocchi diikuti orang jahat ssu." Jelas Kise panjang lebar.

Penjelasan Kise membuat Kuroko tertegun. Tumben ia salah menduga, dan kenapa selama ini ia tidak sadar kalau sedang diikuti? Selain itu ia kagum ternyata manusia biasa seperti Kise punya kemampuan mendeteksi bahaya. Tapi ia tidak mengatakan apa-apa dan tersenyum ke arah Kise.

"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Kise-kun. Tapi aku baik-baik saja."

.

.

.

(05.00 p.m.)

"Korban baru?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Kuroko ketika mendengarkan apa yang telah Yoshiro ucapkan sebelumnya. Ia agak terkejut karena ada korban baru dengan dugaan pelaku yang sama. Masalahnya, pelaku kali ini adalah Demon pemakan jiwa dan mereka tidak akan makan selama beberapa bulan setelah menghisap satu jiwa.

"Ya, ciri-cirinya mirip. Korban anak SMA, mati lemas, dan jarinya hilang. Hanya saja kali ini yang hilang adalah jari tengah dan matinya benar-benar lemas, bukan karena dimakan." Terang Yoshiro singkat sambil melihat dokumen di tangannya. Saat ini mereka tengah duduk di sofa ruang kerja Yoshiro dengan banyak kertas serta foto berserakan di atas meja.

"Benar-benar lemas? Jangan-jangan dia ditenggelamkan?"

"Tebakanmu tepat, Elf. Kepala korban dicelupkan di air mancur taman tengah kota pada waktu tengah malam, kemudian mayatnya diletakkan begitu saja di tepi kolam. Hanya saja kartu identitas dan barang-barang korban tidak hilang, malah tergeletak begitu saja."

"Bagaimana dengan identitasnya?" Tanya Kuroko sambil memperhatikan beberapa foto.

"Umm.. sebentar." Inspektur muda itu mencoba mencarinya di antara lembaran kertas di atas meja. "Namanya Kuzanagi Akio, tujuh belas tahun, SMA Kiriyama. Kemungkinan dia anggota klub seni di sekolahnya dilihat dari barang bukti berupa alat-alat melukis."

"Tapi kupikir pelaku benar-benar ceroboh." Ujar Kuroko sambil mengangkat selembar foto yang menampakkan sebuah botol berisi cairan bening yang isinya sudah tumpah ke tanah. Hanya saja isinya bukan minyak cat. Melainkan cat itu sendiri. Melihat foto barang bukti di tangan Kuroko membuat Yoshiro heran, karena ia kurang paham mengenai benda semacam ini.

"Ini cat fosfor." Pemuda datar itu menjawab kebingungan Yoshiro. "Cat yang akan memancarkan cahaya jika berada di dalam gelap, umumnya dipakai untuk pertunjukan karya seni bagi para seniman. Kemungkinan pelaku tidak sengaja menginjak cat ini karena warnanya yang terlihat bening. Namun sepertinya kita harus memeriksa TKP sekali lagi untuk memastikan."

"Kalau begitu akan aku periksa begitu hasilnya keluar. Kau bisa istirahat sekarang." Ujar Yoshiro setelah memberitahukan anak buahnya yang masih di TKP.

Waktu telah beranjak malam, dan sebenarnya Kuroko sudah ingin pulang. Hanya saja ada hal yang mengganggu pikirannya.

"Oji-san, apa kau pernah mendengar nama Kouji? Atau mungkin kasus yang berhubungan dengan itu?" Tanya Kuroko.

Sejenak Yoshiro mengingat hal yang berhubungan dengan nama yang disebutkan pemuda di hadapannya itu. "Sebentar." Ujarnya singkat seraya beranjak dari tempatnya dan kembali tidak lama kemudian dengan sebuah file.

"Kalau untuk nama itu kurasa ada. Baru-baru ini ada siswa SMU bernama Kouji Tetsuga tewas akibat penyakit jantungnya kambuh ketika sebuah mobil dengan sengaja membunyikan klakson dengan keras di dekatnya. Korban sempat mendapat pertolongan pertama, namun ia tidak terselamatkan. Diketahui pengemudi mobil itu adalah anak di bawah umur bersama seorang temannya. Kami ingin menyelidiki kasus ini lebih jauh lagi, tapi kakak korban malah ingin menyudahi kasus ini setelah kami beritahu siapa anak di bawah umur itu. Jadi penyelidikan dihentikan." Jelas Yoshiro.

Kuroko tidak menyangka jika kematian Tetsuga ternyata tercatat dalam laporan kepolisian. Selain itu penjelasan yang diberikan Yoshiro ternyata tidak jauh berbeda dengan apa yang dikatakan Yukino.

"Bisa kau sebutkan nama remaja yang di dalam mobil itu?" Tanya Kuroko lagi.

"Namanya Kasuga Haruhi, ia yang mengemudikan mobil. Sedangkan yang berada di bangku penumpang bernama Kento Imai—tunggu, ini kan...?" Yoshiro terdiam seakan menyadari sesuatu.

"Jadi, kasus ini berawal dari Kouji Tetsuga." Gumam Kuroko.

.

.

.

TBC

A/N:

Saya kembali...! *Krikk.

Hehe... gomen ne.. sekali lagi saya lambat banar updatenya. Sebenarnya pengen cepet-cepet, tapi apa daya, saya susah luangin waktu buat nulis. Soalnya kebanyakan tugas+makalah n saya lagi ngikutin program asrama. Jadinya waktu begadang saya terkikis deh.. (nggak ada yang peduli sama derita lo!). Sumpeh, sakitnya tuh di sini. #nunjuk kepala

Dan saya lagi senang, karena baru aja sembuh dari sakit bulanan saya (uhukbokekuhuk). Yeey! omedetto na, Juki..! #gakpenting

Sa, inilah chapter tiga. Mungkin reader-tachi sudah bisa menebak lanjutannya. Hehe.. saya kurang bisa bikin cerita misteri sih.. jadi yang simpel-simpel aja.

Kasus ini mungkin akan selesai di chapter depan. Sekalian perkenalan orang pertama. Dan di chapter-chapter setelahnya akan ada kasus baru dan pembongkaran identitas baru.

Akhirul kata..

RnR please...