Disclaimer:
Semua trademark dalam fanfic ini dimiliki oleh pemegang copyright masing-masing (Shokugeki no Soma oleh Yuuto Tsukuda et al.), kecuali plot dan hasil pemikiran penulis. Fanfic ini dibuat hanya untuk hiburan semata dan tidak dimaksudkan untuk mendapatkan keuntungan material apapun.
Peringatan Pengarang:
Fic ini mengandung retcon, info yang diciptakan, dan hal yang tidak canon secara umum. Membaca fic ini dapat menyebabkan bingung mana yang canon dan mana yang bukan, memiringkan kepala, facepalm, dan dalam kasus ekstrim dapat menimbulkan rasa sakit di bagian-bagian tubuh tertentu. Kehati-hatian pembaca sangat dianjurkan. Resep dan cara memasak dalam cerita ini tidak seratus persen akurat.
Food Wars: Gyakushuu no Sarpin
A Shokugeki no Soma fanfiction
Chapter 4: Dadar Lawan Bintang
"Bagaimana, Daimido-san?" tanya Souma sambil tersenyum.
"Hehe, kau lulus," balas sang orang tua sambil tersenyum sambil menyerahkan sebuah kunci kamar pada Souma. "Kamarmu nomor 303 di lantai paling atas. Ada satu kamar mandi di setiap sayap, tapi di lantaimu hanya ada satu. Dalam setiap kamar ada peraturan asrama yang digantung di dinding, baca baik-baik."
"Siap," ucap Souma sambil menerima kunci kamar miliknya itu.
"Oh, nampaknya aku terlambat?" ucap sebuah suara dari pintu depan dapur asrama itu.
"Hei, Sarpin!" balas Souma sambil melambaikan tangan. "Ini temanku yang ingin tinggal di sini juga, Daimidou-san. Selama ini ia tinggal bersamaku di rumah…"
"Ah, ya… kau menyebut ayahmu itu punya murid di luar Jepang," balas Fumio sambil mengelus dagu saat Sarpin menaruh tas sekolahnya dan sebuah plastik belanjaan di atas meja masak. "Kupikir orangnya lebih tua, ternyata seumuranmu ya."
"Perkenalkan, saya Yuuki Takemon tapi panggil saja Sarpin," ucap Sarpin sambil menawarkan jabat tangan. "Saya sekelas dengan Ryouko Sakaki dan Yuuki Yoshino. Mereka yang bilang kalau ada tes memasak sebelum saya bisa masuk asrama ini, jadi saya belanja bahan dulu."
"Haaa! Curang kau, Sarpin!" seru Souma sambil menuding Sarpin.
"Oh? Seseorang yang mau mendengarkan," ujar Fumio selesai menjabat tangan Sarpin. "Menarik. Jadi bahan apa yang sudah kau beli? Mini market sekolah ini lumayan lengkap…"
"Pilihannya cukup untuk beberapa macam makanan yang terpikir oleh saya, tapi akhirnya saya memutuskan untuk membeli ini saja," ucap Sarpin sambil mengeluarkan beberapa barang dari dalam plastik belanjaannya.
"Tahu, ya…" ucap Fumio sambil memandang bahan yang dibawa sang siswa. "Selain itu, ada cuka dan gula coklat. Nampaknya sesuatu yang pernah kau masak sebelumnya, hmm?"
"Dengan sedikit penyesuaian," balas Sarpin sambil tersenyum. "Souma, ada yang bisa kupakai di sini?"
"Ada terigu, telur, daun bawang, dan setengah bawang bombay," Souma menjawab pertanyaan Sarpin. "Bahan pendukung dan bumbu ada banyak sih."
"Semoga cukup deh…" ujar Sarpin sambil meminggirkan tas dan blazer sekolah miliknya, lalu mengambil sebuah celemek dari gantungan di dinding. "Mari kita mulai."
Sarpin pun memulai proses memasaknya. Tahu yang ia bawa ditiriskan, lalu dicacah dengan cepat sebelum dibiarkan mengering. Ia kemudian mengambil tepung terigu yang ada, sebelum mencampurnya dengan garam dan sedikit minyak lalu menguleninya sambil menambah air sedikit-sedikit hingga adonannya lentur. Adonan itu kemudian dibulatkan lalu dimasukkan Sarpin ke dalam minyak, lalu sang siswa beranjak memotong daun bawang dan bawang bombay.
"Hmm… cara memasaknya tidak biasa," komentar Fumio yang mengambil sebuah kursi untuk duduk. "Ini sudah pasti bukan masakan Jepang. Mungkin masakan India."
"Dia punya banyak trik dan cara memasak, Daimido-san," timpal Souma sambil tersenyum. "Sebulan aku tinggal bersamanya, tapi nampaknya ia masih punya rahasia."
Sementara kedua penonton berkomentar, Sarpin terus memasak. Adonan yang telah menyerap minyak ditiriskannya, sementara tahu cacah yang sudah cukup kering digoreng hingga garing menyerpih. Di panci lain, Sarpin mencampur gula cokelat, cuka, dan bubuk cabai untuk membuat saus cair berwarna gelap. Gerakan Sarpin begitu cepatnya, hingga mata juru masak berpengalaman seperti Fumio Daimidou dan Souma Yukihira pun sulit mengikuti.
"Gerakannya sama seperti gerakanmu, Yukihira," ucap Fumio sambil tertawa kecil.
"Ya… Ia memang bukan orang asing dalam melayani tamu," balas Souma tenang.
Kini, Sarpin sedang meratakan segumpal adonan tepung ke atas meja dapur yang sudah bersih dan diperciki minyak. Sejenak Sarpin meninggalkan gumpalan itu untuk mengecek rasa saus gelap miliknya, kepalanya terangguk sejenak tanda rasanya sudah pas di lidah. Setelah mematikan api yang ia gunakan untuk memasak saus, Sarpin pun kembali ke adonan yang sedang duduk di atas meja itu, sebelum berhenti sejenak untuk mengukur keadaan. Segera setelah itu, sang pemuda Indonesia itu mengambil wajan terbesar yang bisa ia lihat, menaruhnya di atas kompor berapi besar, lalu menuang sejumlah besar minyak ke dalamnya.
"Deep-frying ya… nampaknya temanmu ini akan menyajikan semacam masala dosa?" ucap sang pengurus asrama sambil mengelus dagu saat api mulai memanaskan minyak.
"Masala… dosa?" balas Souma heran.
"Makanan India, terbuat dari telur dan tepung seperti itu. Masala-nya dihidangkan dalam roti dosa yang dilipat," ujar Fumio sambil memperhatikan Sarpin menipiskan adonan tepungnya ke atas meja. Adonan itu dilempar dan diputar ke udara dengan penuh keahlian oleh tangan lincah Sarpin.
"Ah, bukan. Ini sepertinya pernah ia masak untuk acara penutupan restoran Yukihira," tukas Souma sambil memukulkan kepalan tangan kanannya ke telapak tangan kirinya yang terbuka. "Ia menyebutnya… mutaba? Murutaba?"
"Murtabak? Hoo, pantas…" ucap Fumio sambil terkekeh. "Jarang-jarang ada yang memasak makanan Arab ini di Jepang… sudah beberapa tahun sejak aku terakhir memakannya."
"Begitu… kupikir ini makanan populer dari Indonesia," balas Souma sambil bersandar di meja dapur lain dan menggaruk dagu.
"Bila melihat kedekatan budaya antara jazirah Arab dan Indonesia, aku tak heran. Konon pedagang Arab berdagang ke Indonesia sejak dahulu kala, tak heran kalau makanan bercorak Arab populer di sana," ujar Fumio saat Sarpin menuang campuran telur, bawang bombai, daun bawang, bumbu, dan serpihan tahu goreng kering ke atas adonan tepung tipis di atas minyak panas. Dengan tangkas sang pemuda pun melipat kulit tepung yang mulai mengeras terkena panas minyak hingga adonan telur di tengahnya tertutup sempurna. Beberapa puluh detik di atas panci kecil, Sarpin pun dengan tangkas memindahkannya ke dalam panci besar berisi minyak panas. 'Amplop' adonan itu pun digoreng Sarpin dengan panas tinggi sambil dibalik-balik.
"Ini cara yang berbeda dengan yang pernah ia tunjukkan…" komentar Souma sambil menggaruk dagu lalu beranjak pergi. "Yah, tapi apapun hasilnya, aku yakin dia bisa masuk asrama ini. Aku mau mandi dulu."
"Tak menunggu temanmu selesai memasak?" tanya Fumio sambil memandang Souma yang keluar lewat pintu depan dapur.
"Aku sudah tahu hasilnya," balas Souma sebelum ia menghilang di balik pintu.
Sementara itu, Sarpin yang sudah selesai menuang saus ke dalam sebuah mangkuk pun mengangkat martabak yang sudah matang itu dari dalam minyak panas. Setelah meniriskan lalu mengeringkan minyak berlebih di permukaan martabak, Sarpin pun memotong martabak itu menjadi dua belas potongan yang sama besar.
"Sudah selesai?" tanya Fumio sambil bangkit dari duduknya.
"Sudah, silahkan dicicipi," jawab Sarpin sambil menuangkan saus kental di atas 3 potong martabak yang disusun di atas piring datar. "Martabak vegetarian dengan saus a la Kubang. "
...
Wilayah Perdagangan Khusus Dejima, 1637.
Seorang gadis muda berambut abu-abu berjalan cepat, menembus keramaian. Kalau bukan karena nama keluarganya yang cukup terkenal, tak mungkin sang gadis bisa berjalan bebas di dalam wilayah khusus ini. Langkah-langkah cepatnya membawanya ke sebuah toko yang nampaknya menjual rempah-rempah. Seorang lelaki berjenggot nampak berjaga di sana.
"A-adura-san!"
"Ah, Nona Daimidou. Apa yang Abdullah ibn Hudzaifah Al-Attas ini bantu?"
Hening sejenak. Sang gadis melangkah setengah langkah ke belakang, bak terbentur dinding tak terlihat.
"M-mengapa tiba-tiba… kau begitu jauh?"
Abdullah hanya memandang sayu pada gadis yang bingung itu, sebelum meneriakkan serangkaian frasa bahasa Arab ke arah dalam toko. Sejenak kemudian, seorang pemuda lain dengan jenggot yang tidak setebal Abdullah datang dan mengangguk. Sang pria yang lebih tua pun beranjak ke dalam bangunan toko sambil mengisyaratkan pada sang perempuan untuk mengikuti.
Di dalam area penyimpanan, terkepung kotak-kotak dan tong-tong kayu yang lamat beraroma harum rempah, sang lelaki pun berhenti. Sang gadis pun tak menyia-nyiakan kesempatannya, segera mendekap sang lelaki dari belakang.
"Fumiyyun… maafkan aku. Pemerintah kalian terus menerbitkan peraturan baru, lalu menaikkan pajak dan bea. Abi sedang mengirim kabar pada paman di Campa dengan kapal cepat, tapi kami sudah mengerti jawabannya…"
"Aku… mengerti. Otou-sama masih berusaha melindungi kalian, tapi posisinya tak cukup kuat untuk menahan keshogunan lebih lama lagi…"
"Begitukah…"
Tangan sang lelaki pun menyentuh lembut tangan sang gadis.
"Demi Allah… matahariku, bulan di langit malamku. Berkenanlah engkau aku nikahi?"
...
"…Jadi?" tanya Sarpin sambil memandang sang ibu kos yang mengunyah pelan martabak buatannya, nampak tenggelam dalam kenangan.
"Kau… lulus," ucap Fumio sambil menghela nafas. Sang manajer asrama pun menarik sebuah kunci dari dalam kantong celemeknya. "Kamarmu ada di sayap utara, lantai dua. Kamar mandi lantai itu ada di ujung lorong. Dalam kamar ada peraturan yang musti ditaati. Peralatan masaknya ditinggal saja, nanti kubereskan."
"Terima kasih, nyonya," ucap Sarpin sambil membungkuk hormat. Tak berapa lama, sang pemuda sawo matang itu keluar dari dapur.
"Hebat juga mereka," ujar seorang pemuda berambut kemerahan yang masuk dari pintu belakang.
"Oh ternyata kamu toh yang menguping, Isshiki," ucap Fumio sambil terkekeh pelan. "Bagaimana? Mereka berdua lulus dalam percobaan pertama, lho."
"Keduanya jelas bukan orang asing dalam hal memasak di dapur restoran. Gerakan mereka sangat terukur dan efisien," ujar Satoshi Isshiki sambil tersenyum. Tangan kanannya mengambil sepotong martabak buatan Sarpin. "Dua masakan yang sama sekali berbeda, tapi disajikan dengan level kemampuan yang sama. Si rambut merah dengan inovasi bahan, si sawo matang dengan masakan langka."
"Menurutmu bagaimana?" ucap sang ibu kos sambil memotong kecil-kecil bestik buatan Souma.
"Keduanya berpotensi sangat besar, dengan usaha sedikit saja mereka bisa saja jadi ranking teratas bulan depan," ucap sang siswa tahun kedua sambil mencuci lidah dengan segelas air sebelum merasakan steik Hamburg buatan Souma. "Mmh! Hebat sekali. Kutarik ucapanku tadi, mereka sudah pasti selangkah di belakang sang putri raja."
"Hmm. Erina Nakiri… permata yang cemerlang, walaupun kilaunya belum maksimal," ucap sang ibu kos sambil melipat tangan. "Jadi, pesta kalian malam ini mau pakai tambahan apa?"
"Mm, kebetulan lobak panenan kemarin bagus-bagus… bagaimana kalau lobak rebus kecap asin?" balas Satoshi sambil tersenyum.
…
Sarpin berbaring di tempat tidur, menikmati hawa musim semi yang baru mulai menghangat. Matahari masih belum bersinar pas dua belas jam, seperti di kampung halamannya di Indonesia. Jarum jam menunjukkan pukul delapan lebih. Sepi di udara.
"Bagaimana kabar Uni Wita, ya?" ucap Sarpin pelan sambil menghela nafas. Terakhir kali ia bertemu perempuan kelahiran Payakumbuh itu saat ia meninggalkan Indonesia. Perempuan itu memberinya satu toples bumbu rendang yang sekarang tinggal satu tempat kecil. Sarpin harus mengimpor kalau ia butuh memasak
"Takemon-san…"
Telingaku nggak salah dengar, kan? pikir Sarpin sambil menoleh ke kanan dan kiri. Masa… ada yang memanggil namaku?
Beberapa detik berlalu diiringi suara papan yang bergeser. Suasana semakin mencekam.
"Lho… bukaannya di sudut ya?"
Seketika itu juga, muncul sebuah kepala di langit-langit di pojok ruangan.
"MEMEDI ANJEEEEEENG!"
Saat itulah lahir legenda baru Asrama Bintang Kutub, Dia yang Mengutuk dalam Bahasa Asing.
…
"Aku minta maaf, Takemon-kun!" ucap Isshiki sambil membungkuk. "Aku tidak mengira kau akan ketakutan seperti itu!"
"S-saya maafkan, senpai," balas Sarpin sambil balas membungkuk. Air mukanya masih agak pias.
"Wahahahahah! Cowok sombong kok takut hantu, ada-ada saja!" ucap Yuuki sambil tertawa-tawa.
"Diem kamu pawang bebek," gerutu Sarpin dalam bahasa Indonesia sambil melotot ke arah Yuuki, yang membalas dengan menjulurkan lidah.
"Permisi…?" ucap seorang gadis berambut biru sambil membuka pintu.
"Ah, Megumi-chan. Tepat waktu," ucap Isshiki sambil tersenyum.
"Senpai, ini jus nasinya," ucap Ryouko yang berjalan di belakang Tadokoro. "Oh, dan ada teh botol juga… sedang diambil Yukihira dan Satou di bawah."
"Ooh, bagus~" balas Isshiki sambil "Ayo, kita tuang dulu saja. Lumayan buat kudapan… ayo Takemon, minumlah! Sambil menunggu Ibusaki."
"Hmm…" ucap Sarpin sambil menerima lalu mengendus minuman di gelas kertas itu. "Oh, baunya seperti di kampung…"
"Kampon…?" ucap Megumi heran.
"Oh, itu istilah bahasa Indonesia… artinya kurang-lebih kota kelahiran," jawab Sarpin sambil tersenyum. "Perkenalkan, saya Yuuki Takemon dari Indonesia. Panggil saja Sarpin."
"Saru-pin? Kedengarannya lucu…" ucap Megumi sambil menerima jabat tangan Sarpin. "Eh… saya Megumi Tadokoro, salam kenal."
"Megumi sekelas dengan Yukihira," timpal Ryouko sambil duduk di sebelah Megumi. "Aku dan Yuuki sekelas dengan Takemon. Dia hebat lho, hari pertama kelas pertama sudah dapat nilai tertinggi."
"Oh, jadi kamu yang dimaksud Souma-kun? Murid ayahnya dari luar negeri itu?" ujar Megumi sedikit kaget.
"Yap," ujar Sarpin.
"Oh, katamu minuman ini ada di kota kelahiranmu ya Sarpin?" tanya Ryouko sesudah menyesap minuman dari gelasnya sendiri.
"Iya. Kalau di sana namanya air tape, atau kadang juga disebut badeg," jawab Sarpin setelah menyesap minumannya. "Beras kaya pati dibersihkan lalu ditanak, lalu dicampur ragi dan dibiarkan selama sekitar tiga hari. Rasanya sedikit beda dengan ini… mungkin karena beda ragi."
"Begitu ya? Tak kusangka di tempat seperti Indonesia ada minuman fermentasi beras juga," ujar Ryouko yang penasaran.
"Mm, hasil utamanya sebenarnya dimakan, bukan diminum. Lama fermentasinya juga hanya tiga sampai empat hari, jadi rasa sebagai minuman beralkohol juga tidak sempat berkembang," ucap Sarpin meneruskan penjelasannya. "Karena di Indonesia mayoritas beragama Islam, maka pembuatan fermentasi beras sebagai minuman beralkohol jadi terbatas terutama di Indonesia Barat."
"Wah, Sarpin-san tahu banyak ya," ucap Megumi kagum.
"Ah, tidak… salah satu pamanku senang meneliti minuman beralkohol Indonesia," ucap Sarpin merendah.
"Tehnya datang!" ucap seorang pemuda sambil membuka pintu. Souma masuk tak lama sesudahnya, membawa krat kedua.
"Oooh, semuanya sudah di sini!" ucap Isshiki sambil mengambil sebuah botol lalu mengetuknya dengan pulpen. "Perhatian, semuanya!"
Seisi kamar pun berubah tenang, menunggu sang kepala suku berbicara.
"Malam ini asrama kita mendapat dua penghuni baru. Mereka lulus ujian Daimido-san dengan sempurna!" seru Isshiki antusias. "Asrama kita akan semakin kaya dengan kemampuan yang mereka punya! Selamat datang, Souma Yukihira-kun dan Yuki Takemon-kun! Kanpai!"
"Kanpai!" balas para penghuni asrama, satu suara.
A/N:
Apdet satu aja makan waktu 3 tahun #HEH Kebetulan lagi ngecek dokumen, eh ndilalah kok ternyata chapter ini udah mau selesai. Yaudah post aja #HEH
