+JUST BE FRIENDS~ANOTHER+ ©3plusC
Chapter #04 + Just Be Friends?
+WARNING+
Luka POV, Crack- Pairing (?), Alur cepet (?), serba ?, mendadak serius alert!
+DISCLAIMER+
Vocaloid dkk. Bukan milik saia...==
Tengah malam ketika aku mendengar suara Tante datang, kubuka pelan mataku. Aku telah tidur cukup lama. Sigh, perlahan kunyalakan lampu, mengambil bungkusan 2 hari lalu, bungkusan yang membuatku tahu dengan siapa benangku terhubung.
Red String of Fate. Aku membacanya penuh penghayatan. Buku itu tak terlalu tebal, hanya saja aku tertarik pada puisi yang ada di bagian belakang buku.
Kemanakah kita tatkala kehidupan dijungkirbalikkan,
semudah membalik telapak tangan?
Seandainya aku bisa melihat benang merah yang terpaut diantara jari- jariKU?
Aku akan tenang.
Seandainya aku bisa melihat benang merah yang terpaut diantara jari- jariMU?
Aku tak akan bilang.
Seandainya aku bisa melihat benang merah yang terpaut diantara jari- jari KITA?
Dan tanpa adanya bongkahan air mata penuh cinta,
kemanakah kita tatkala kehidupan dijungkirbalikkan,
semudah membalik telapak tangan...
Aku menyerah, bagaimana denganmu?
Buku ini terjatuh ketika aku sedang membereskan perpustakaan keluarga Hatsune, itu terjadi saat dua minggu lalu, dimana terakhir kali aku mengunjungi rumah itu sebelum kemarin. Semua sangat terencana….Kami- sama memang paling hebat ==b
Tok, tok.
"Luka.."
Seseorang mengetuk pintu, dengan malas aku membukanya. Tepat seperti dugaanku, itu Tante Meiko.
"Len dan Rin sudah tidur. Tumben?" tanyanya.
"Tante juga. Tumben nggak mabuk?" Aku bertanya balik. Dia tertawa kecil. "Ada sesuatu yang ingin kubicarakan padamu, Luka. Ini mengenai kakak."
"Ya, dia tadi meneleponku tanpa rasa bersalah. Apa sih maunya pria tak bertanggung jawab macam di-"
"He- hei, jaga bicaramu. Dia yang membiayai hidupmu sejak kecil, dia membangun rumah ini, dia memberikan apa saja apa yang kau butuhkan."
"Kecuali...kasih sayang."
Tante dan aku saling diam. Saling menatap. Dia membelai lembut kepalaku. "Apa kau punya masalah akhir- akhir ini? Dua adikmu tadi dengan cemas meneleponku, bertanya soal dirimu. Ya, mereka saja tak tahu apalagi aku. Mereka bilang kau aneh hari- hari ini.."
Aku tak menjawab. Hanya menghela napas panjang.
"Apa ini berhubungan dengan benang merah?"
Aku menunduk.
"Ne, jadi kau sudah menemukan pasangan hidupmu?"
Aku membelalakkan mata. Segera kuhilangkan ekspresi kagetku, aku tak ingin tante ta-
"Sudahlah, aku mengerti."
Tante Meiko memelukku dengan lembut, meraih buku yang baru kubaca, membuka- bukanya, lalu berkata, "Kau tahu, Luka? Sebenarnya bukan hanya kau saja yang dapat melihat benang merah."
Eh?
"Keluarga kita begitu spesial, entah sejak kapan..." Muka tante begitu teduh, tak pernah kulihat sebelumnya..Aku mulai menenangkan emosiku, membalas pelukannya dengan child-ish.
"Kakakku. Ayahmu itu, dia juga bisa melihatnya. Tapi..ini rahasia, lho." *wink*
"..Benar? Kenapa dia tak pernah memberitahuku?"
Tante tersenyum, "Sejak Ibumu meninggalkan rumah ini, kakak menutup hatinya. Semua surat- surat diantara mereka dibakarnya. Sejak kecil, dia diberitahu masalah ini dan itu, mengenai benang merah. Tapi sayangnya, karena selama ini tak ada masalah dengan keluarga, jadi ia hanya tahu mengenai hal yang baik- baik saja. Ia sama sekali tak tahu masalah perpisahan, perceraian, kematian...yang ia bayangkan hanyalah..benang merah...selalu membawa kebahagiaan.."
Apa itu sebabnya tak ada yang mau menjelaskanku masalah indera keenamku ini?
Hh, tetap saja dia payah, semakin payah malah.
Aku menutup mata, kejadian malam itu terulang lagi.
Ibu tidak akan kembali, Luka. Bilang pada Ayah.
"Jadi..?"
"Iya, aku telah mengetahui dengan siapa benangku terhubung. Tapi..aku tidak menyukainya. Cenderung membencinya malah. Dan sahabatku yang sangat menyukainya. Aku tidak ingin melukai siapapun.."
"Hn? benci, ya...Yah, itu pernah terjadi pada masa nenek. Dia bilang tidak percaya bahwa kakek yang dia benci adalah jodohnya. Kemudian nenek dengan sengaja melukai kepalanya, kabur, dan tak pernah bertemu dengannya lagi. Namun, sepuluh tahun kemudian nenek dipertemukan dengan seorang pemuda tampan..yang membuatnya 'hitomebore', dan saat nenek menyadari luka di kepalanya, ia menyadari bahwa pemuda itu adalah anak sepuluh tahun lalu yang sangat dibencinya." Tante Meiko bercerita dengan semangat, mengenai kisah- kisah pasangan di masa lalu, ini pertama kalinya. Pertama kalinya.
"Bagaimana jika aku membunuh orang yang menjadi jodohku?" Aku bertanya. Tidak serius. Tapi muka tante berubah menyeramkan dalam sekejap. "Kau juga akan mati.." Tak lama, dia menggelitik pinggangku, seperti yang ia lakukan saat aku kecil. Aku tertawa, dia tertawa. "Yah, itu sih kalau kau siap dipenjara seumur hidup. Sekarang bukan zamannya dramatis seperti itu"
Perasaan campur aduk yang mendiami pikiranku perlahan memudar. Menyisakan senyum dalam kalbu. Ya, aku mengerti inti dari semua ini, jangan memikirkan soal jodoh yang telah kau ketahui sekarang. Tetap fokus pada hidupmu. Jika dia sahabatmu, bersikaplah seperti biasa. Jika dia orang yang kau kenal, tetaplah menjadi teman baginya. Jika dia orang yang kau benci, akan tiba saat dimana kau jatuh cinta pada..
...nya?
*Flashback kejadian sepulang sekolah*
"GYAAAAAA-!"
"Hei, hei, Luka, tenanglah sedikit! Ini tengah malam! Huff, padahal kupikir kau sudah agak mendingan..==a"
.
.
Januari 29
Aku keluar dari kediamanku, aku tak mau naik limo. Titik. Jarak rumah dan sekolah tak sejauh itu! Namun agak susah mengajak kedua adikku berangkat on- foot seperti ini. Perjalanan, aku berhenti sebuah rumah kecil yang supersimple. Seorang gadis kecil berambut hitam berkuncir dua, keluar dari rumah, dan tersenyum manis padaku. Dia Yuki, adik Miki, anak berusia sekitaran SD yang pernh jadi target penguntitan si pedo (aku melihat dengan mata kepalaku sendiri! O3O)
"Kakaaaak~ ada Luka nee-chan, lho!" Teriaknya seraya masuk ke dalam. Tak lama, Miki muncul dengan wajah cerianya.
"Ayah~ Ibu~ Aku berangkaaaaat~!"
Miki berlari menyambutku, dan memelukku, sukses membuatku kehabisan napas sejenak.
"Semoga hari ini lebih baik dari yang kemarin.." Dia berdoa. Seperti biasa. Aku menepuk pundaknya.
"Hari ini ada jamnya Kiyo- sensei, ya~?" Ujarnya kemudian. Aku tak bereaksi. Memang sih sudah cukup tenang, aku mencoba untuk tidak menghubungkan sosok itu dengan benang merah.
"Lukaa..apa kau masih berpikir Kiyo- sensei itu pedofil?"
"Hah. Tentu saja. Lihat saja, serapat apapun rahasia itu ia simpan, pasti akan terungkap esok hari. Pasti!"
Miki mengeluarkan sesuatu dari tasnya, sebuah pesawat kertas. Hng?
"Apa itu?" Tanyaku penasaran.
"Jika aku tidak bisa jika berdekatan dengan Kiyo- sensei, apalagi berbicara dengannya, maka aku berencana mengirim surat untuknya. Aku memang baka, kenapa tidak terpikirkan sejak dulu..dan ini, surat pesawat kertas ini, akan menyampaikan segala perasaanku, bagaimana menurutmu, Luka- chan?"
Aku menelan ludah. Cantik, sih...romantis...
"Bagaimana kau menyerahkannya? Menerbangkannya, atau diam- diam menyelipkannya dalam tas sensei?"
"Nah, karena itu..."
Aku punya firasat buruk,
"...Karena itulah, aku minta bantuanmu, Luka- chan."
"TIDAK AKAN PERNAH!" Aku melipat tanganku dan memasang tampang premanku.
"Kau harus bisa menyerahkannya sendiri, Miki!"
Miki menunduk, "Sebenarnya aku ingin...sangat ingin...tapi aku tidak punya kemampuan untuk melakukan hal itu.."
"TIDAK MAU! Aku tidak sudi berhadapan dengannya!"
"Hm? Siapa yang meminta Luka- chan menyerahkannya secara langsung? Aku cuma ingin Luka- chan menemaniku memberikan surat ini, secara diam- diam.."
"Pada orangnya langsung?"
"Tidak! Aku pasti pingsan! Tentu ke tempat dimana sensei bisa menemukannya!"
...Aku menggaruk kepalaku bingung, "Itu..surat cinta?"
Miki blushing berat. "Bi- bisa dibilang begitu..ta- tapi..aku..eh..um."
Aku tersenyum nakal. Kau tidak pernah berubah, Miki- chan.
.
Setelah melewati jam- jam pelajaran yang menyenangkan, tiba saatnya jam Kiyoteru-sensei...tapi, sensei yang dikenal rajin itu...tumben tidak muncul- muncul =.= Syukurlah kalau dia tidak masuk.
"Ketua kelas, tolong selidiki keberadaan sensei!" Sahut salah seorang teman sekelas. Yang lain mengacungkan jempol.
Memangnya aku detektif? =3=
Tapi, karena aku bertanggung jawab sebagai ketua kelas, aku pun melaksanakan amanat. =w=
Kutelusuri lorong, menuju ke ruang guru. Ketika melewati laboratorium kimia, aku menoleh sesaat, namun ternyata, orang yang kucari ada di dalamnya, membuka buku- buku tebal di sampingnya. Heh? Kenapa guru matematika ada di laboratorium kimia?
Greeek...kubuka pintu laboratorium, sosok itu menyadari keberadaanku.
"Oh, Megurine- san? Sudah waktunya, ya?" Dia membenahkan kacamatanya, dan merapikan buku- buku yang baru dibacanya.
"Apa yang Sensei lakukan disini?" Aku bertanya dengan sewot. "Tidak ingat apa punya murid."
"Ah, kau selalu sewot begitu, Megurine- san..Apa ada yang salah dengan diriku ini? Aku hanyalah seorang mahasiswa yang tidak punya banyak pengalaman mengajar para remaja. Jadi, maklum saja.."
Oh, baru ingat kalau sensei ini masih kuliah. Tapi sudah mengajar di sekolah elit. Hebat juga *grin*
"Itu karena sensei lebih menyukai anak- anak daripada remaja, bukan?" Aku berbicara dengannya, tanpa menatap langsung mukanya, atau mukaku bakal blushing mengingat kejadian kemarin. =3=
Kiyoteru- sensei terdiam sesaat. Kemudian tertawa kecil, "Tau, ya? Ya..memang aku sangat menyukai anak- anak, mereka polos, lucu, dan menyenangkan ^^"
Huh, dasar tak tau malu. Ternyata kau benar- benar pedo-
"Tapi bukan berarti aku terobsesi dengan anak- anak. Aku hanya tak ingin melihat anak- anak bersedih.."
Aku jadi teringat cerita Mikuo soal sensei.
"Lagipula, aku..."
Dia tidak meneruskan kalimatnya. Mendadak ritme jantungku berubah.
"Sudah, ayo Sensei, jamnya nanti terbuang banyak, lo."
Aku mengalihkan pikiranku tentang masalah itu. Dengan sewot (lagi) aku berjalan mendahuluinya.
"Megurine- san.."
"Ya?"
"Kamui tidak melakukan apa- apa padamu, kan, kemarin? Apa dia pacarmu? Apa kau malu karena kalian ketahuan melakukan itu olehku?"
Hah. Mukaku memanas. A- apa maksudnya menanyakan hal seperti itu? Apa gara- gara aku berteriak 'doushite' seolah telah ketahuan melakukan perbuatan yang tidak pantas ==''
"Ti- tidak! M- mana mungkin.." Jawabku terbata- bata. Sebisa mungkin aku menyembunyikan mukaku karena aku yakin sekarang pasti merah parah.
"Oh, syukurlah kalau begitu ^^"
Syu, syukurlah? Aku menutup mukaku. Ritme jantungku semakin tak karuan. Tu, tunggu...ada yang salah...ADA YANG SALAAAAH~!
.
Dan jadilah, jam pelajaran Kiyo- sensei kulewati tanpa tertidur. Karena aku blushing tiap detik. Kami- sama, ada yang salah dalam diriku. Harusnya aku..harusnya...
KENAPA JADI BEGINI?
.
.
"Luka- chan. Ayo, inilah saatnya.."
Miki mengguncang tubuhku, saat istirahat makan siang.
"Err..bisa kau melakukannya sendiri, Miki? Aku lagi nggak mood, nih."
"Yah, Luka- chan..nggak boleh jadi orang moody seperti itu! Ayo bantu aku~ pleaseee~"
"Besok aja kenapa nggak?"
"Aku tidak tahu…tapi firasatku mengatakan aku harus menyerahkkan surat ini sekarang. Ayolah, Luka- chaaaa~n"
Aku terdiam. Miki bukan penggila ramalan macam Rin. Tapi..? =A=''
"Okelah."
Dan..jeng- jeng- jeng…tak lama, kami sukses menjalankan misi menyelipkan surat berbentuk origami pesawat ke dalam meja pribadi Kiyo- sensei di ruang guru, saat dia hilang di tempat. Tapi…
"Hayo, kalian ngapain?"
Glek, suara Shion Kaito- sensei, wali kelasku. Dengan senyum nakal nan menggodanya (?) =='' dia menatap kami dengan genit. "Apa kalian adalah penggemar rahasia Kiyoteru, ne? Ahaha~ tak apalah~ untuk kenang- kenangan~"
Eh? Kenang- kenangan? Aku dan Miki bertatapan.
"Lho, belum tahu, ya? Yah..dia itu memang sedikit tertutup.. Hm, besok Kiyoteru bakal berangkat ke Inggris, dia dapat scholarship ke Oxford loh~ Dia itu multitalent memang~ dia itu anak farmasi, tapi mengajar matematika, sudah begitu, suaranya keren~"
Aku tidak memedulikan segala pujian Shion- sensei. Yang kupedulikan saat ini adalah Miki. Dia tampak shock. Berat.
"Firasatku benar, kan, Luka- chan?" Dia mencoba tersenyum. "Yah..biarlah tetap menjadi unrequited love. Aku akan tetap mencintainya dalam hatiku..^^"
DEG. Tiba- tiba ada ganjalan besar di hatiku yang merasa resah. Bukan karena Miki. Aku tersadar dan menepuk pipiku. INI SALAH!
Miki berlalu dengan muka sendu.
"Miki, tung-"
"Luka- chan..aku mau ke toilet dulu, ya ^^ Kau kembali saja duluan"
...Begitulah
Setelahnya aku melihat Miki yang masuk kelas dengan mata yang sembab. Begitu pula saat pulang sekolah,
"Miki...sudahlah...kau bilang tidak apa- apa.." Aku menegurnya.
"Iya, aku tidak apa, kok^^"
Senyum yang saaangaaat terpaksa. Miki tak pernah bisa berbohong dengan perasaannya.
Bagaimana denganku?
.
.
Tiba dirumah, aku mendapati sesosok pria...
Mudah ditebak, aku berlari ke kamar, dia mengejarku, dan berhenti setelah aku berteriak kencang:
"JANGAN PERNAH MELANGKAHKAN KAKIMU KE DALAM SINI!"
.
.
.
+TO BE CONTINUED+
+A/N+
Hie? TBC macam apa ini?
Tapi, sudah dapat ditebak memang bahwa pada akhirnya Ayah Luka alias bang Rook *plak* bakal kembali...==a
