Happy reading yeoreobun... ^^,
.
.
.
GS, No Bash please ^^,
Sorry for typo
.
.
.
I hope you'll like my story
ChikinChikin
Cast : Kim Jongin & Do Kyungsoo (GS)
CHAPTER 4
Already begin?
Previous chapter
Jongin yang diminta Kyungsoo untuk menutup restorannya sampai semua pelanggannya selesai makan tak juga sampai di rumah. Kyungsoo yang khawatir terjadi sesuatu di restorannya lalu menyusul Jongin. Ternyata Jongin sedang asik memakan ayam pedas manis di dalam restoran Kyungsoo yang Jongin kunci dari dalam. Kyungsoo yang akan pulang diminta oleh halmeoni untuk pergi ke supermarket membeli bahan-bahan makanan dan keperluan dapur yang sudah mulai habis. Disana, Jongin menceritakan kenapa ia begitu takut pada halmeoni.
.
.
.
.
"Jangan cerita lagi. Jika kau cerita seperti itu kita seperti berteman".
"Memang selama ini aku tidak menganggapku teman?".
"Tidak. Tidak sama sekali".
.
.
.
.
Kyungsoo sudah di rumah, Jongin mengantarnya tepat sampai depan rumah sesuai perintah halmeoni.
"Kyungsooya, kau sudah makan? Ibu akan hangatkan makanan, ya", ibunya berbicara dari luar kamar Kyungsoo. Kyungsoo membuka pintu kamarnya.
"Tidak perlu eomma, aku sudah makan. Eomma istirahat saja".
Kyungsoo sebenarnya lapar, karena tadi saat makan malam di tempat halmeoni Kyungsoo tidak benar-benar mengisi perutnya. Kyungsoo terlanjur malas dengan komentar Jongin tentang dia yang kurang suka ayam. Tapi Kyungsoo membiarkan ibunya masih harus berkutat di dapur. Lagi pula Kyungsoo sudah terlalu malas untuk menelan makanan. Ia ingin tidur saja. Handphone Kyungsoo berbunyi, ada pesan masuk. Nama 'Kamjong', tertulis di layar handphonenya. Kamjong, nama yang Kyungsoo beri untuk Jongin.
"Untuk apa dia mengirimku pesan". Kyungsoo mempouting bibirnya setelah membaca isi pesan dari Jongin.
'Chikin... besok masaklah yang enak. Kau pasti belum tidur karena membayangkan wajah tampanku, kan'
"Harusnya aku tidak perlu membaca apa isi pesannya", gerutu Kyungsoo. Kyungsoo tak membalas pesan Jongin. Karena jika ia balas tidak akan pernah selesai.
Kyungsoo membaringkan tubuhnya. Memutar mp3 di handphonenya. Lagu Beast - I'm Sorry mengalun. Mata Kyungsoo mulai berat, akhirnya Kyungsoo tertidur.
Suara alarm berbunyi dengan nyaring. Sampai ibunya yang sedang di dapur bisa mendengar suara alarm Kyungsoo. Berkali-kali ibunya mengetuk pintu Kyungsoo untuk mematikan alarmnya dan segera bangun. Tapi Kyungsoo tidak juga mematikan alarmnya dan tetap terpejam seperti putri tidur. Alarm Kyungsoo akhirnya berhenti berbunyi. Kyungsoo meregangkan otot-otonya, menarik tangan dan kakinya masih dalam posisi tidur. Kyungsoo memeriksa handphonenya. Ada 5 panggilan tak terjawab dan pesan masuk. Siapa yang meneleponnya sepagi ini hingga beberapa kali. Kyungsoo memeriksa siapa yang menghubunginya. Halmeoni? Kamjong? Ada apa mereka menelepon pagi-pagi. Begitu pikir Kyungsoo. Kyungsoo terdiam, menatap dalam-dalam layar handphonenya.
"Astaga! Aku terlambat". Kyungsoo langsung bangkit dari ranjangnya. Sudah pukul 7 pagi dan dia baru membuka matanya. Pantas saja halmeoni menghubunginya.
Dengan terburu-buru Kyungsoo langsung pergi menuju rumah halmeoni. Sampai ia lupa untuk pamit pada ibunya. Kyungsoo akan meminta maaf nanti saat pulang ke rumah. Jika seperti ini Kyungsoo ingin memiliki sepatu turbo yang bisa membuatnya berlari sangat kencang. Atau Kyungsoo memiliki kekuatan teleportasi seperti Kai EXO. Kyungsoo berlari dengan kencang, berharap sesegera mungkin bisa sampai di rumah halmeoni. Kyungsoo akhirnya sampai rumah halmeoni dengan nafas yang hampir habis.
"Halmeoni...", sapa Kyungsoo terngeah-engah.
"Aigu, akhirnya kau datang".
"Maafkan aku, aku terlambat bangun. Padahal aku sudah memasanf alarm".
"Tidak apa-apa. Kau pasti lelah kemarin sampai tidurmu begitu nyenyak. Tapi lain kali beritahu aku jika kau akan telat".
Kyungsoo mengangguk, mengiyakan perkataan halmeoni. Kyungsoo berbicara dalam hati.
'Halmeoni ada-ada saja, hari ini aku telat karena terlambat bangun. Bagaimana aku tahu kalau aku akan terlambat bangun esok harinya', Kyungsoo tersenyum dalam hati.
"Ohh... kau sudah datang", ujar Jongin yang sedang turun dari kamarnya.
Pagi yang buruk bagi Kyungsoo jika sudah bertemu Jongin. Bahkan Kyungsoo belum sempat mengatur nafasnya untuk kembali normal. Dalam hatinya Kyungsoo berdoa, semoga hari ini berjalan tanpa harus berurusan dengan Kamjong. Kyungsoo tidak menanggapi Jongin ia langsung ke dapur untuk memasak dan menyiapkan sarapan. Beruntung halmeoni tidak memarahinya, jika halmeoni sampai marah dan memintanya berhenti bagaimana cara Kyngsoo pinjam untuk membayar kerusakan mobil Jongin. Kyungsoo ingat belum memberikan uang itu pada Jongin. Jongin sebenarnya tidak memberi batas waktu dan dirinya pun tidak menagih. Jadi Kyungsoo selalu lupa untuk memberikan uangnya. Halmeoni bilang sudah mengirim uangnya ke rekening Kyungsoo. Kyungsoo selesai memasak, makanan sudah siap di meja makan. Lagi-lagi halmeoni menyuruh Kyungsoo untuk ikut makan bersama mereka. Tapi kali ini, Kyungsoo menolak. Kyungsoo harus ke restoran, sudah waktunya buka.
Di jalan menuju restoran, Kyungsoo terpikir sesuatu. Ia ingin pulang. Tidak usah membuka restorannya. Kyungsoo memutuskan untuk tidak membuka tokonya hari ini saja. Sebelum pulang ke rumah Kyungsoo pergi ke bank untuk mengirim uang ke rekening Jongin. Karena nomor rekening ini Kyungsoo berhutang 10 pizza pada Jongin. Jongin tidak mau memberikan nomor rekeningnya, ia ingin Kyungsoo memberinya uang cash. Tapi Kyungsoo bersikeras ingin mengirimkan saja ke rekening Jongin. Alhasil, setelah mereka saling berdebat masalah nomor rekening, Jongin mau memberikannya pada Kyungsoo dengan syarat, Kyungsoo mau membelikan Jongin pizza jika ia ingin. Total pizza yang Kyungsoo harus belikan 10 pizza. Jumlah pizza ini pun juga hasil berdebat antara mereka.
Kyungsoo selesai dengan urusan uang untuk membayar kerusakan mobil Jongin. Selesai membayar, bukan berarti Kyungsoo tak akan bertemu Jongin lagi. Masih panjang hari, minggu, dan bulan Kyungsoo harus bertemu Jongin karena bekerja di rumah halmeoni. Tapi mau bagaimana lagi, ini harus Kyungsoo jalani. Kyungsoo sampai di rumahnya. Ada ibunya di rumah.
"Kau tidak ke restoran?", tanya ibunya yang sedang melipat pakaian.
"Hari ini restoran tutup", jawab Kyungsoo berjalan menuju kamarnya.
"Kenapa? Kau sakit?".
"Tidak, eomma. Aku hanya ingin diam di rumah hari ini". Kyungsoo masuk ke dalam kamarnya.
"Kau mau makan?", tanya ibunya dari ruang tengah.
"Nanti saja, eomma", sahut Kyungsok sedikit berteriak dari dalam kamarnya.
Kyungsok membaringkan tubuhnya. Hari ini Kyungsok ingin bermalas-malasan. Ia pergi hanya untuk ke rumah halmeoni saja siang nanti. Sekarang Kyungsoo hanya fokus pada kasur dan gulingnya. Kyungsoo membaringkan tubuhnya yang terasa tak ada tenaga. Mp3 player di handphone seperti biasa menemani Kyungsoo. Lagu Big Baby Driver-A Stranger mengalun lembut di telinga Kyungsoo. Masih ada waktu 3 jam lagi sampai nanti Kyungsoo harus ke rumah halmeoni. Jendela kamarnya sengaja Kyungsoo buka, agar angin bisa masuk kemarnya. Saat-saat seperti ini Kyungsoo selalu suka. Ketenangan Kyungsoo buyar begitu saja saat lagu di handphonenya berhenti. Ada telepon masuk. Astaga, siapa yang merusak suasananya sekarang. Dengan malas Kyungsoo mengambil handphone yang ia simpan di atas lemari kayu kecil setinggi ranjangnya. Kyungsoo langsung mengerutkan keningnya saat membaca 'Kamjong' tertulis sangat jelas di layar handphonenya.
'Ya tuhan, kenapa tidak kau biarkan aku tenang dari anak ini sebentar saja', ujar Kyungsoo dalam hati.
"Halo, chikin...", sapa Jongin dari telepon. Sekarang Jongin sering memanggil Kyungsoo seperti itu. Lagi-lagi Kyungsoo ingin protes, tapi Kyungsoo malas berdebat dengan Jongin.
"Salah sambung", tukas Kyungsoo malas.
"Lalu ini siapa?".
"Tiffany SNSD". Sekarang Jongin tertawa mendengar jawaban Kyungsoo.
"Ohh, Tiffany. Aku bisa bicara dengan Kyungsoo?".
'Astaga, kenapa dia malah menanggapi jawaban asalku', ujar Kyungsoo dalam hati.
"Kyungsooya... ada telepon untukmu. Kau mau terima atau tidak?", ucap Kyungsoo yang sedang memerankan dirinya sebagai Tiffany SNSD.
"Kyungsoo bilang dia tidak mau menjawab teleponmu".
Jongin tertawa mendengar apa yang dikatakan Kyungsoo yang sedang menjadi Tiffany SNSD.
"Nanti siang halmeoni bilang tidak perlu masak".
"Jadi aku tidak perlu pergi kesana?".
"Kau tetap ke rumah. Kau bawa saja ayam pedas manis dari restoranmu".
"Hmmm. Baiklah".
"Sudah selesai, kan? Tiffany harus kembali ke panggung. Sampai nanti".
Percakapan antara Tiffany SNSD dengan Jongin selesai. Kyungsoo kembali membaringkan tubuhnya di ranjang empuknya. Lagu Big Baby Driver yang tadi sempat berhenti mengalun, kembali memanjakan telinga Kyungsoo. Kyungsoo tertidur, tak terasa alarm di handphonenya sudah nyaring membangunkan Kyungsoo. Kyungsoo harus bangun, menyiapkan ayam pedas manis untuk ia bawa ke rumah halmeoni. Setelah selesai Kyungsoo langsung pergi ke rumah halmeoni, meski Kyungsoo masih memiliki waktu untuk diam di rumah. Lebih cepat, lebih baik. Begitu pikir Kyungsoo.
Saat Kyungsoo sedang membuka pintu pagar, Jongin pun tiba.
"Ohh... kau pegang kunci pagar?", tanya Jongin. Kyungsoo tak menjawab. Kyungsoo biarkan pertanyaan Jongin hanya lewat di telinganya.
Di depan pintu rumah Kyungsoo memencet password rumah, dengan menempelkan tubuhnya rapat. Agar Jongin tidak bisa melihat apa password rumahnya.
"Ohh, kau juga tahu password rumah? Halmeoni benar-benar. Aku yang jelas-jelas adalah cucunya tidak ia beritahu sama sekali".
Kyungsoo lagi-lagi tidak menanggapi omelan Jongin. Ia langsung masuk, menuju dapur untuk menyiapkan ayam pedas manisnya. Halmeoni keluar setelah mendengar suara ribut Jongin yang langsung menyrtel lagu keras-keras di kamarnya begitu ia datang. Kyungsok tahu sekarang ini Jongin pasti sedang kesal pada neneknya.
"Aigu, anak ini. Untung saja telingaku sudah biasa mendengar suara keras seperti ini". Senyum Kyungsoo tersimpul mendengar perkataan halmeoni.
"Kenapa kau datang cepat sekali, Kyungsooya?".
"Tidak apa-apa, halmeoni".
"Memang restoranmu sepi?".
"Restoran sepi sejak pagi, halmeoni. Hari ini restoran tutup".
"Heh? Kenapa?".
"Tidak ada apa-apa. Sepulang dari sini pagi tadi aku pulang ke rumah. Tubuhku seperti tidak ada tenaga".
"Kau sakit?".
"Tidak, halmeoni. Aku baik-baik saja".
"Jika kau merasa sakit, kau katakan saja. Jangan paksakan untuk bekerja".
Halmeoni sudah duduk di meja makan. Jongin masih belum turun. Padahal tadi dia yang meminta Kyungsoo untuk membawa ayam pedas manis dari restorannya. Kyungsoo naik ke lantai atas menuju kamar Jongin. Kali ini halmeoni tidak menyuruhnya, Kyungso sendiri yang naik. Kyungsoo langsung membuka pintu kamar Jongin. Jongin sedang menari. Dengan ukuran kamar dua kali dari ukuran kamar Kyungsoo, Jongin bisa menari dengan bebas di kamarnya. Kaos berwarna biru tua yang dipakai Jongin sudah terlihat basah dibagian belakang karena keringat.
"Ya! Halmeoni menunggumu di meja makan". Jongin menghentikan gerakan dan musik yang ia setel dengan volume keras. Ia turun dengan mengalungkan handuk kecil di lehernya. Jongin duduk di kursi tempat biasa ia duduk di meja makan. Wajahnya ia lipat karena kesal.
"Ada apa? Wajah tampanmu hilang jika seperti itu", tanya halmeoni.
"Halmeoni, kenapa aku juga tidak diberikan kunci pagar dan diberitahu password rumah. Kenapa dia tahu aku tidak", protes Jongin sambil menunjuk Kyungsoo.
"Aku tidak membiarkanmu pulang malam dan pergi sesuka hatimu. Jadi khusus untukmu biar nenekmu ini yang menyambu5 dan mengantarmu pergi".
"Halmeoni...", rengek Jongin.
"Sudah, hentikan rengekanmu. Itu tidak membuatku berubah pikiran. Makan dan diam".
Sebelum halmeoni menyuruhnya makan, Jongin sudah lebih dudu mengambil potongan ayam pedas manis di piringnya. Kyungsoo tidak ikut makan bersama halmeoni dan Jongin. Ia menunggu sampai mereka selesai makan di halaman belakang rumah halmeoni. Duduk di atas ayunan besar yang ada di sana. Ia pasang earphone di kedua telinganya. Menyandarkan tubuhnya, memejamkan mata. Sedikit menikmati sinar matahari yang lumayan menyengat. Tiba-tiba Kyungsoo merasa ayunan yang ia duduki bergoyang. Ada yang duduk di sampingnya, dan Kyungsoo tahu siapa itu.
'Astaga, tidak bisakah aku menikmati waktu santaiku sebentar saja', geming Kyungsoo dalam hati dengan mata yang masih terpejam. Kyungsoo mengehela nafas panjang, membuka matanya, dan melirik ke sampingnya. Orang di sampingnya sedang tersenyum lebar padanya sekarang. Tapi tidak mau membalasnya.
"Ada apa? Selesaikan makanmu".
"Aku sudah selesai".
"Secepat itu? Aku baru menempelkan pantatku di sini belum satu menit".
"Kau tidak ingin ditemani olehku?".
"Kau pandang baik-baik wajahku. Apa ekpresi wajahku bilang kalau aku ingin ditemani olehmu?", ujar Kyungsoo sambil menunjuk wajahnya sendiri.
Kyungsoo menatap wajah polos Kyungsoo. Sesekali keningnya mengekerut seperti berpikir. Jongin memajukan tubuhnya. Sekarang Kyungsoo yang menjauh. Jongin semakin mendekat, dan Kyungsoo semakin menghindar sampai posisinya hampir berbaring.
"Ya! Apa yang kau lakukan?!", bentak Kyungsoo sambil mendorong tubuh Jongin yang terlalu dekat dengannya.
"Tidak. Tidak ada ekpresi di wajahmu yang bilang kau ingin ditemani olehku".
"Bagus. Kalau begitu kau masuk dan tinggalkan aku sendiri".
Sebelum Jongin pergi halmeoni sudah berada di pintu menuju halaman belakang memanggil Jongin.
"Ahh... halmeoni sudah memanggil. Berarti dia sudah selesai makan".
Kyungsoo belum sempat menikmati waktu tenangnya bahkan lima menit pun belum. Karena Jongin yang sudah datang lebih dulu menganggunya. Kyungsoo berdiri meninggalkan Jongin di ayunan itu.
"Ya! Tadi kau aku temani dudu disini. Jangan lupakan itu...". Kyungsoo berpura-pura tidak mendengar perkataan Jongin, dia terus melangkah masuk ke dalam.
Saat Kyungsoo masuk, halmeoni sedang mencuci piring bekasnya makan. Kyungsoo lalu buru-buru mendekat menyuruh halmeoni berhenti melakukannya.
"Halmeoni, biar aku saja".
"Sudahlah, hanya ini saja".
"Baiklah, tapi hanya kali ini. Nanti jika halmeoni seperti ini aku akan marah".
"Kau mengancam nenek tua hanya karena dia mencuci piring?". Kyungsoo tersemnyum menanggapi perkataan halmeoni.
Itulah yang Kyungsoo suka dari halmeoni. Halmeoni tidak pernah marah, selalu menganggap Kyungsoo seperti cucunya sendiri, bisa Kyungsoo ajak bercanda, dan selalu Kyungsoo suka adalah wangi khas halmeoni. Kyungsoo mengambil sling bagnya.
"Kalau begitu aku akan pulang, halmeoni. Nanti sore aku kembali ke sini untuk memasak makan malam".
"Kau tidak perlu pulang, menunggu di sini saja".
"Kalau dia pergi denganku boleh tidak?", tanya suara yang tiba muncul.
"Itu lebih baik. Kau ajak Kyungsoo pergi. Kyungsooya, pergilah dengan Jongin, ajak dia berkeliling Seoul. Dia hanya tahu jalan dari rumah menuju kampus saja", jelas halmeoni.
"Heh? Tapi halmeoni...-"
"Sudahlah, pergi saja. Tidak apa-apa".
Jongin mendorong tubuh Kyungsoo berjalan keluar. Kyungsoo berusaha menahan tapi gagal, karena tenaga Jongin lebih besar. Jongin membuka pintu mobilnya. Menyuruh Kyungsoo masuk dengan paksa lalu buru-biru ia menuju masuk agar Kyungsoo tidak bisa kabur.
"Ya! Kau mau membawaku kemana?".
Ý
"Duduklah yang manis dan tenang".
"Bagaimana aku bisa duduk tenang jika aku pergi denganmu".
"Aku pakai kupon pizzaku".
"Ahh... pizza? Baiklah. Aku iyakan bukan karena aku ingin pergi denganmu. Tapi karena aku ingin membayar lunas hutang pizzaku". Jongin hanya tersenyum lebar.
Kyungsoo memperhatikan jalan. Ada yang aneh. Kenapa dia belum juga sampai ke restoran pizza. Padahal sejak tadi mereka beberapa kali melewati restoran pizza. Kyungsoo lalu melihat ke arah Jongin.
"Ya! Kau mau makan pizza dimana? Sejak tadi kau tidak lihat kita melewati restoran pizza?".
"Kita akan makan pizza di tempat yang jauh", jawab Jongin santai.
"Heh? Jauh? Kemana?".
.
.
.
.
Wait for next chapter reader... sorry for late update. Jeongmal... jeongmal mianhae... *bowing*
Selalu tunggu review kalian reader , apalagi silent readernya..
Thank you for read my story, apalagi sampai suka ^^,
So, please wait for next chapter... annyeong ~~
Kamsahabnida *deep bow*
