Chapter 4. Identify of Sender
Pagi datang dengan cerah seperti biasanya. Namaku Narumi Naruto, 17 tahun. Aku adalah penulis manga dari School Touble dengan genre Rom-Com, nama penaku adalah Imo-Sarada. Beberapa kali aku menerima kesulitan dalam pengerjaan managaku dan berulang kali juga aku dimarahi oleh Editorku yang berbahaya.
"Uahm" aku menguap di pagi hari dan berusaha untuk menyemangati diriku di pagi hari ini.
'Halo selamat pagi dunia. Aku yang selalu sial bangkit sekali lagi' aku kemudian membuka tirai kamarku dan membuat cahaya matahri sepenuhnya masuk kedalam kamarku. Saat silau matahri menyirani mataku aku menggunakan kedua tanganku untuk menghalangi cahaya matahari yang sangat terang.
Lalu aku berjalan menuju meja belajarku dan melihat tanggal hari ini. '13/April. Sudah beberapa hari sejak aku masuk kedalam OSIS' aku kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku.
Musim panas sebentar lagi akan datang terlihat dari cuaca yang perlahan mulai memanas. Saat aku selesai mandi dan mengganti pakaian aku segera menuju dapur untuk masak sarapan pagi. Kemarin malam itu sangat menyenangkan sekali, tidak aku sangka jika Ayah Mihiro masih sangat baik pada kami setelah semua hal yang merepotkannya.
'Aku harus bekerja di keluarga Miyase sebagai balas budi nanti' aku kemudian memasak dengan tenang pikiranku kemudian mengarah kejadian kemarin dimana computer OSIS dalam status kemasukan virus.
'Sudah aku duga jika aku pernah melihat susunan skrip itu' aku kemudian mendesah ketika menebak siapa pelaku sebenarnya dari semua kejadian kemarin.
Aku memang tidak bisa menggunakan computer dengan baik. Tapi aku bagaimana menguraikan susunan skrip dari sebuah progam, berkat bantuan dari software Visual Basic.
"Onii-chan apa sarapan sudah siap" Adik perempuanku datang dengan wajah lesu, ia kemudian duduk di kursi meja makan dengan wajah sangat malas sekali.
Aku kemudian menyiapkan beberapa masakan yang sudah selesai di sebuah piring lalu menyiapkannya di meja makan. "Kau terlihat sangat lesu sekali, apa yang terjadi?" aku menatap adik perempuanku yang masih tidak memberikan tatapan bersemangat.
"Aku kehabisan tenaga untuk menunggu event pertempuran selanjutnya" lalu adik perempuanku mengambil sebuah PS Vita dan menatap layar dimana ia main game Online RPG.
Belakangan ini game Elder Tale adalah online RPG yang sedang populer di kalangan para gamers. Dan tentu saja adik perempuanku tidak mungkin melewatkan game seperti itu. Aku duduk di sebelah toad an menatap layar PS Vita miliknya.
"Sudah level berapa kau bermain itu?"
Toa kemudian tersenyum dan menatap kearahku. "Aku sudah level 79 dengan rank S"
Aku langsung terkejut "Apa kau sungguh-sungguh? Game ini masih rilis seminggu lalu dank au sudah level S"
Toa menyeringai dan menunjukkan harga dirinya sebagai gamer "Onii-chan aku tidak mungkin kalah dari orang lain dengan sangat mudah"
Entah kenapa setiap kali melihat adik perempuanku yang bertindak seperti ini membuatku tersenyum karena ini adalah percakapan ternormal bagi kami berdua.
Lalu adik perempuanku menatapku dengan wajah bersinar. "Onii-chan aka nada event penarikan hadiah yang akan di mulai sekitar 3 jam dari sekarang"
Aku membalas tatapannya dengan wajah bingun. "Lalu ada apa?"
"Aku ingin kau membawa gameku ke kelasmu"
"Tunggu dulu! Apa maksudmu Toa? Apa kau bermaksud untuk meminta onii-chanmu untuk membawa game konsol ke dalam kelas?"
Dan toa memberikan anggukan kepala dengan senyuman kesenangan. "Aku tidak ingin melewatkan kesempatan itu apapun itu yang terjadi. Tapi persayaratan pengambilan hadiah itu diperlukan koneksi data yang stabil"
Aku kemudian mendesah padanya. "Jadi kau berniat untuk menggunakan Wi-Fi di kelasku agar kau tidak melewatkan itu?"
Dan lagi-lagi adik perempuanku memberikan anggunakan kepala tatapannya masih bersinar tanda ia sangat mengharapkanku untuk mengambulkan permintaannya. Sejujurnya aku tidak mengerti nafsu dari seorang gamer. "Aku tidak bisa melakukannya" aku menjawab dengan tenang.
"Eh… kenapa Onii-chan?"
Dengan wajah kecewa Toa menatapku dengan wajah meminta penjelasan sekaligus wajah marah di saat yang sama.
"Apa kau bercanda. Bagaimana jika ada sensei yang melakukan pemeriksaan tas, maka image dari OSIS akan hancur"
"Onii-chan kau selalu sibuk dengan pekerjaanmu sebagai penulis manga dan anggota OSIS, Mihiro juga belakangan ini sibuk dengan tugasnya di OSIS. Itu sangat menyebalkan sekali"
Lalu toa memberikan wajah tidak menyenangkan dan membaringkan wajahnya di meja "….. "
Aku kemudian menghela nafas "Jadi itu sebabnya kau menulis email itu?"
Toa melebarkan mata terkejut lalu mengangkat wajahnya dari meja dan menatapku "….."
Aku kemudian meletakkan tanganku di dagu lalu berpikir sebentar. "Aku tidak yakin kenapa, tapi ketika aku meneliti mengenai E-main dari Iwakuma-sensei buka…. Aku yakin jika itu kau yang membuatnya, apa aku salah?"
Toa kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain "Apa yang kau bicarakan"
Aku tahu dengan pasti jika Toa tidak akan mau mengaku tapi percuma aku sudah tahu jika yang membuat virus itu adalah Toa. Aku dapat mengenali susunan dari skrip itu dengan baik, di awal paragraph isi dari E-mail itu berisi proposal dengan sangat rapi namun ketika masuk ke perihal semua tulisannya terlihat seperti orang malas
Bahkan susunan skrip itu dibuat dengan sangat berantakan sekali namun jumlahnya sangat banyak dan satu-satunya yang mampu membuat susunan skrip sebanyak itu hanyalah adik perempuanku yang mempu melakukannya.
Dan siapapun itu yang menulis skrip yang tidak memperhatikan bagaimana huruf kapitalisasi dan cara penulisan yang baik karena banyak sekali huruf yang tidak teratur dengan benar. Dan juga dalam E-mail itu memiliki gaya penulisan diama huruf di tengahnya memiliki garis bawah dengan bukti seperti itu aku sudah bisa membuat kesimpulan tanpa salah sedikitpun
"Aku sudah tahu jika aku pernah melihat pola seperti itu sebelumnya, dan kau tidak bisa menipuku kali ini" aku membuat senyuman kemenangan ketika melihat adikku yang masih diam di tempat
Lalu adik perempuanku menatapku dengan mata penasaran "Kau tahu bagaimana pekerjaanmu, tapi bagaimana mungkin kau bisa mengetahui bagaimana aku bekerja seperti itu hingga mengenali caraku menulis E-mail. Aku tidak mengingat jika aku pernah menunjukkannya padamu"
"Hah….. kau mungkin tidak sadar, tapi Onii-chan selalu mengawasimu setiap saat, dan ketika kau mulai mengerjakan sesuatu yang tidak biasa tentu saja aku khawatir"
Toa kemudian membuat mata melebar sedikit kemudian mengalihkan wajahnya kearah lain dengan senyuman kecil terbentuk di pipinya. "Begitu…"
Toa mulai memutar-putarkan rambutnya dengan tangan kiri dan aku merasa jika aku sepertinya berhasil membuat adik perempuanku bahagia untuk pagi ini.
"Jadi apa kau mengakui jika kau yang mengirim e-mail itu?"
Toa kemudian menatapku dengan pipi sedikit merah dan bibirnya terbentuk senyuman "Hmm Entahlah siapa yang tahu" lalu adik perempuanku berdiri dan kembali ke kamarnya.
'Aku sungguh tidak mengerti adik perempuanku sedikitpun' aku merasa jika adik perempuanku sedikit aneh namun aku tidak mengerti bagaimana perasaan perempuan sama sekali jadi apa yang bisa aku lakukan. Kemungkinannya adalah tetap diam dan berpikir sendiri.
Kemudian aku mencuci piring dan bersiap untuk berangkat ke sekolah tidak lama aku mencuci piring aku mendengar suara bel dari luar rumah.
"Hai, aku datang" aku kemudian menuju pintu rumah dan melihat melalui lubang kaca di pintu. 'Karen…'
Aku membukakan pintu rumah dan terlihat perempuan cantik berambut merah diikat ponytail tersenyum kearahku. "Naruto-kun, Ohayou"
Aku tersenyum kembali padanya "Ohayou, silahkan masuk dulu Karen" aku mempersilahkan dia masuk kedalam rumah.
Saat Karen duduk di kursi meja makan aku kembali mencuci piring. "Kau tahu, kau tidak perlu mengunjungiku setiap hari Karen. aku merasa malu sudah merepotkanmu terus"
Karen tersenyum lalu menggelengkan kepala "Tidak apa-apa. Kalian juga sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Jadi jangan seperti itu Naruto-kun"
Setelah aku selesai mencuci piring aku mengambil tas sekolahku dan menatap kearah Karen. "Ayo kita pergi"
"Koouki-kun, dimana adik perempuanmu?"
'Oh iya aku hampir lupa' aku kemudian menuju kamar Toa. Saat aku sampai di kamar toa aku membukanya dan aku melihat Toa masih bermain game konsolnya.
"Toa aku dan Karen akan berangkat. Jadi jaga rumah selagi aku berangkat"
Lalu jari toa berhenti dari bermain game dan ia segera menatapku. "Karen ada disini?"
Aku mulai menatap kearah adik perempuanku dengan wajah bingung. "Ia, apa ada masalah?"
Toa kemudian berdiri dan berjalan menuju pintu kamarnya. "Jangan pergi sebelum aku selesai mengganti pakaian" Toa kemudian mengusirku keluar dari kamarnya.
'Apa yang sebenarnya Toa inginkan?' aku tidak mengerti dengan adik perempuanku sama sekali. Awalnya ia menginginkan untuk tinggal di rumah dari pada pergi kesekolah. Dan sekarang ia mau ikut pergi kesekolah hanya karena aku mengatakan padanya jika Karen datang.
Aku mengangkat bahu kemudian berjalan menuju Karen
"Bagaimana Naruto-kun. Apa Toa mau berangkat sekolah?"
Aku menganggukkan kepala pada Karen. "Entah kenapa tiba-tiba Toa mau pergi sekolah"
Karen kemudian tersenyum padaku 'Bukankah itu bagus. Kita bisa berangkat bersama-sama jika seperti Ini"
Lalu setelah itu adik perempuanku keluar dari kamar setelah selesai mengganti seragam sekolah. Namun tatapan wajahnya masih seperti orang malas dan aku tidak tahu apakah harus senang atau tidak dengan sikap adik perempuanku yang seperti ini
0000000000000
Saat kami sampai di sekolah kami kemudian mengganti sepatu di loker, lalu aku merasakan jika seragamku di tarik-tarik oleh seseorang.
"Onii-chan ini bawa" Toa menyerahkanku game konsolnya padaku.
Dan aku tentu tidak mengerti apa yang ia inginkan "Apa maksudnya ini Toa?"
Toa tersenyum dengan wajah berbinar "Aku tidak ingin melewatkan event itu apapun itu yang terjadi, dengar Onii-chan aku tidak mau kau menghilangkannya karena aku sudah bersusah payah menaikkan level gameku hingga level 71"
"Apa kau mendengarkanku!" aku sedikit menaikkan nadaku ketika adik perempuanku tidak memberikan jawaban, malahan Toa yang memberikanku perintah.
Oke aku sedikit mengerti apa yang Toa mau. Dia ingin aku membawa game konsolnya kedalam kelas dan membiarkan game itu melakukan download data pada saat jam 10. Tapi itu akan sangat sulit sekali terlebih lagi saat jam 10 Homeroom Iwakuma-sensei akan mengajar.
"Jaa, aku pergi dulu Onii-chan" Toa pergi setelah menyerahkanku dua game konsol PS Vita dan aku sendiri heran bagaimana Toa menyembunyikan game ini dengan sangat baik?
'Dan dia pergi' aku menatap Toa yang dengan santai menuju kelas tanpa memperdulikan onii-channya akan mengalami kesulitan saat Iwakuma-sensei mengajar.
Aku kemudian berjalan menuju kelas setelah game konsol itu aku sembunyikan di dalam buku milikku. Aku harus mencari cara bagaimana menyembunyikan game konsol tanpa mengubah kelas atau berpindah lokasi yang terlalu jauh
"Senpai!"
'Oh tidak ini gawat' aku merasakan sebuah ancaman datang. Dan ketika aku melakukan respon seperti itu aku melihat wanita dengan rambut merah muda datang kearahku dengan wajah ceria.
Aku kemudian berbalik badan dan berjalan menjauh. 'Aku harus cepat atau aku dalam masalah' aku mempercepat langkahku namun semuanya berantakan ketika aku merasakan cengkraman dari seorang gadis di tangan kananku.
"Mou Senpai, kenapa kau mengabaikanku" Mihiro menggembungkan pipinya dengan wajah marah.
Aku menghela nafas padanya. "Apa yang kau inginkan mihiro?" lalu aku berbalik badan dan menatap kerah Mihiro yang masih memasang wajah marah padaku.
"Senpai, apa kau tidak tertarik denganku? Oh jangan-jangan kau sedang malu-malu ya" Mihiro kemudian menarik tanganku hingga menyentuh dadanya. Ia tersenyum main-main dengan sangat ceria membuatku heran 'apa Mihiro tidak punya malu dengan membiarkan laki-laki merasakan ini?'
"Mihiro, bisa lepaskan aku?" aku mulai berkeringat ketika merasakan jika pelukan Mihiro di tanganku mulai menguat.
"Senpai…"
'Kouhaiku ini sedang mabuk apa?' aku mendesah
Skip
"Baiklah kalian semua. Saatnya pemeriksaan tas, Letakkan semua tas kalian di meja"
Iwakuma sensei mengatakan hal itu dengan wajah menyeramkan sekali. Aku sudah berkeringat gugup ketika tidak menyangka jika hal ini sangat cepat sekali datangnya.
"Apa kau bercanda!" aku mulai berteriak dengan panik, apa kau serius kenapa harus secepat ini. Aku melihat kearah jam yang menunjukkan pukul 09.00
Iwakuma sensei menghela nafas lalu menatapku "Sudahlah, Narumi. Tas letakkan di meja. Dan jangan sentuh tasmu"
Aku mulai gugup "H…Hai"
Iwakuma sensei kemudian memeriksa setiap tas dari depan dan untungnya aku berada di paling belakang sehingga aku memiliki beberapa waktu untuk berpikir dengan cepat. 'Apa yang harus aku lakukan. Apa aku harus permisi keluar?' aku kemudian berpikir dengan wajah panik.
Satu persatu tas murid di kelasku di periksa. Beberapa murid laki-laki ketahuan membawa beberapa barang seperti Airsoft, game konsol, dan beberapa barang yang aku sendiri tidak tahu apa itu yang mereka bawa.
Lalu sensei menuju meja Watanuki Karen. saat ia memeriksa tas watanuki ia tersenyum pada Ketua kelas. "Watanuki… Tidak ada masalah disini"
Ketua kelas kemudian membalas senyuman sensei "Saya adalah ketua kelas. Apa yang mungkin saya bawa selain sesuatu yang berhubungan sekolah"
Sensei kemudian menganggukkan kepala "mm.. Aku bangga padamu, sekarang, Ikari.." Sensei menatap kearah masato yang duduk tepat di sebelah ketua kelas. Masato memberikan wajah menyesal pada Sensei.
"… maaf tapi yang aku bawa hanya buku" jawaban dari Masato membuatku terkesan padanya mengingat ia memiliki selera mengenai perempuan yang gemuk.
Namun Sensei nampaknya tidak menyukai apa yang di dalam tas Masato, Iwakuma-sensei kemudian mendesah dan menatap kearah Masato. "Manga eh? Aku tidak terlalu bangga denganmu Ikari"
Aku terkejut ketika mendengar respon dari Iwakuma-Sensei mengenai apa yang di bawah oleh Masato. Masato sendiri memberikan wajah tersenyum bangga. "Tapi 'DosuKoi' adalah sebuah kemewahan. Itu adalah kisah diantara Heroine Sumo dan pendeta gemuk…"
Iwakuma-sensei menggelengkan kepala ketika melihat selera masato yang sangat aneh. "Sudah cukup itu, aku tidak peduli" Iwakuma sensei melanjutkan inspeksi di tas berikutnya.
Panik adalah sikap yang sangat berbahaya karena sikap seperti ini di kondisi dan di situasi seperti ini akan membahayakan keselamatanku. Sejujurnya jika game konsol ini adalah milikku sendiri aku tidak keberatan jika di sita oleh sensei. Tapi ini adalah milik adik perempuanku aku tidak mungkin membiarkan sesuatu seperti itu terjadi.
'Apa yang bisa aku lakukan' aku berkeringat dengan deras. Lalu mataku melebar ketika menyadari sesuatu.
'Sialan, buku manuskripku ada di dalam tas. Bagaimana jika sensei melihatnya, lebih buruk lagi bagaimana jika mereka semua melihatnya' aku memikirkan dengan keadaan semakin genting.
"Sarukawa apa yang kau bawa ini!" Iwakuma-sensei memeriksa tas Sarukawa dengan wajah marah. Namun Sarukawa memberikan wajah senyuman dengan binar-binar di wajahnya.
"Ini adalah perhiasan untukmu Kuma-tan" Dengan tanpa rasa takut Sarukawa mengambil sebuah kalung lalu berusaha untuk memberikan pada sensei.
Iwakuma-sensei langsung berubah menjadi mode pembunuh ketika melihat Sarukawa menuju kearahnya. Dengan cepat Iwakuma membuat kepalan tangan lalu (Sfx pukulan) Iwakuma sensei memukul perut Sarukawa hingga membuat tubuh Sarukawa terpental cukup jauh menghantam tembok.
Sebelum Sarukawa pingsan Sarukawa masih sempat memberikan wajah puas. "Ah… ini adalah hadiah terbaik" lalu Sarukawa pingsan menuju alam dimana ia harus berada.
Aku membuat pose berdoa untuk Sarukawa. 'Semoga kau tenang di alam sana' aku memberikan penghormatan terakhir untuk sarukawa. Lalu aku tidak menyadari jika jarak sensei kearahku semakin mendekat.
'Sialan, jika aku terus menunggu maka aku akan hancur' aku kehabisan akal bagaimana menyembunyikan game konsol ini
Tanpa aku sangka Iwakuma-sensei sudah berdiri di depanku. "Kau berikutnya Narumi" Iwakuma-sensei menatap tasku dengan matanya yang bertindak seperti sebuah mesin scanner. Dan ini sangat mengancam keselamatanku jika aku membiarkan ini terjadi.
Satu-satunya yang memberikanku tekanan adalah buku manuskripku dan game Konsol yang ada di dalam buku itu. Dengan cepat aku mengambil buku manuskripku dengan game konsol aku selipkan di dalam buku itu. Lalu aku menggenggam buku Manuskripku di dadaku dengan membuang harga diriku sebagai pria aku segera membuat wajah memohon.
"Sensei aku mohon, apapun itu jangan buku ini!"
Aku kemudian menggunakan apapun itu metode yang bisa aku gunakan untuk melakukan negoisasi agar bukuku dapat di ampuni. "Sensei bisa memeriksa tasku sepuasnya, tapi jangan buku ini"
Satu kelas tertuju padaku karena suaraku yang cukup keras. Sensei Iwakuma menjadi tertarik terhadap buku yang aku pegang lalu ia memejamkan mata dengan nafas mendesah sekali lagi dan ini menjadi entah berapa kalinya dalam sehari sensei mendesah.
"Oh?" lalu Iwakuma sensei menaikkan sebelah alis matanya lalu menatapku dengan wajah curiga, lalu Iwakuma sensei mendekat kearahku dengan wajah semakin penasaran mengenai buku Manuskripku.
"Ada apa? Apa ada sesuatu yang mencurigakan di dalam buku itu?" Sensei Iwakuma kemudian mendekat kearahku lagi. Lalu aku mengambil langkah mundur secara perlahan dan tanpa aku sadari aku sudah menyentuh dinding belakang kelas.
"Jika begitu biarkan aku mengintip apa itu." Sensei kemudian memegang bukuku dengan tenaganya yang sangat kuat sekali.
"ti..tidak, apapun selain buku ini. Aku mohon apapun itu…" kami berdua saling beradu tarik menarik dimana bukuku menjadi media untuk tarik-menariknya.
Dengan wajah tersenyum menyeringai dan menambah tenaganya di bukuku. Iwakuma sensei menarik bukuku dengan tenaga ekstra. "kau jelas-jelas menyembunyikan sesuatu" kami saling adu tarik dengan kekuatan 50:50 aku tidak akan membiarkan Sensei membuka bukuku apapun itu yang terjadi. Demi harga diri seorang Abang laki-laki dan demi harga diri seorang Mangaka aku tidak akan kalah.
'Tunggu itu dia!' aku memiliki sebuah ide dimana aku bisa menjadikan event seperti di manga untuk media penyelamatku. "Ouch!" aku secara sengaja membiarkan tanganku terlepas dari genggaman bukuku menyebabkan buku yang kami perebutkan menjadi berserakan di lantai.
Sekarang yang perlu aku lakukan adalah menjaga harga diri seorang kakak laki-laki bukan sebagai mangaka, karena jika aku mencoba mempertahankan keduanya maka aku akan kehilangan keduanya di saat yang sama. Lalu ketika semua kertas manuskripku berserakan di lantai Sensei kemudian menatap lantai dimana kertas gambaranku berserakan.
'Bagus ini Chanceku' aku melihat sensei focus pada kertas di lantai dan dengan segera aku memasukkan game konsol kedalam saku celana sekolahku. Seisi kelas tertuju pada Manuskripku yang berserakan di lantai tanpa memperdulikan jika aku tadi menyembunyikan sesuatu dari hadapan mereka.
"ini?" Iwakuma sensei terkejut ketika membaca dari manuskripku dan aku harus bersiap untuk kemungkinan dimana identitasku sebagai penulis mangaka akan terbongkar namun nampaknya hal seperti itu tidak terjadi karena aku melihat mereka semua tertuju pada konten yang ada di dalam manuskripku
"Whoa… jangan lihat!" aku berusaha berakting jika aku panik akan hal seperti ini agar mereka tidak mencurigai jika aku menyembunyikan sebuah benda rahasia yang tidak mereka ketahui.
Iwakuma sensei melebarkan mulut dengan mata ikut terbuka karena terkejut. "Manga itu…."
Aku sudah siap menanggung bagaimanapun itu tanggapan yang mereka ataupun sensei berikan padaku aku tidak memiliki alasan dan celah untuk mengelak selain mengatakan sejujurnya. "Lihatkan apa yang aku katakan sensei…. Aku tidak sengaja membawa manga ini bersamaku"
'Walau ada kemungkinan besar aku ketahuan menjadi seorang penulis bukan artinya aku akan mengaku dengan muda seperti itu' aku dari dalam mental sangat berharap jika mereka menerima alasanku dimana aku mengatakan hal yang mengisyaratkan jika aku seorang pencinta manga.
Sensei Iwakuma kemudian mengalihkan pandangannya ke kanan dan kekiri lalu wajahnya memerah tatapan matanya tidak bisa teratur karena ia malu akan sesuatu. Aku langsung menggelap di daerah mataku ketika membuat beberapa kesimpulan 'Oh tidak, jangan katakan jika sensei melihat menuskrip di bagian erotic….'
Lalu setelah menatap tidak tahu entah kemana Sensei kemudian menatap kearahku dengan mata masih ragu-ragu. "manga yang kau suka itu… ano… eto… tapi it adalah….. Ecchi manga, benarkan?"
'Sudah aku duga' aku mulai berkeringat di kepala bagian belakangku ketika melihat respon Sensei. Sensei yang di kenal sebagai sensei paling kejam di kelas kami sekarang bertindak seperti gadis Shoujo 16 tahunan yang baru saja mengerti tentang Ecchi. Lalu aku menarik nafas sedikit dan mulai memberikan penjelasan sebaik mungkin mengenai manga ini.
"Tidak. Ini publikasikan ke dalam majalah mingguan dengan batasan usia semua umur" aku berharap jika penjelasanku seperti ini mengurangi tatapan menjijikkan dari para siswi yang saat ini memberikanku pandangan jijik.
Sensei kemudian menggoyangkan kepalanya dan menunjukkan jarinya kearah manuskrip di tanganku. "Tapi di dalamnya terdapat beberapa gadis telanjang"
Aku langsung membuat wajah tidak terima. Jadi maksudnya apa yang aku buat ini adalah manga Hentai. "Ini hanya sebuah judul bawaan!" aku menaikkan nadaku dengan cukup keras dan bentakanku membuat Iwakuma-sensei mundur beberapa langkah.
"O..Okay…. ehm, yah… kalian para laki-laki pasti tertarik akan sesuatu seperti itu….. hanya saja jangan sampai terlalu gila. Apa itu baik-baik saja?" Iwakuma sensei memberikan wajah cemas dan di pipinya masih memerah karena isi dari Mangaku. Lalu Iwakuma-sensei berjalan menjauh dariku dan entah kenapa tas milikku tidak di periksa sama sekali.
"Ka…Kalian belajar sendiri… sensei ke ruangan guru!" pintu kemudian di tutup dan sensei keluar dari ruangan sepenuhnya
'Aku selamat' aku mendesah lega ketika aku melihat Iwakuma-sensei berjalan menuju pintu keluar dengan ekspresi masih gugup. Aku lupa jika sebenarnya Iwakuma-sensei masih Shoujo, maka normal baginya untuk memberikan respon seperti itu.
Namun setelah satu masalah selesai sekarang masalah baru datang lagi kearahku.
"Wow, aku sekarang bisa mengatakan jika kau adalah seorang pria, Narumi. Tidak pernah terpikirkan olehku jika kau tertarik akan manga seperti itu" Masato datang ke mejaku setelah Iwakuma-sensei keluar dari kelas.
Karen juga datang ke mejaku ia memberikanku wajah sedikit jijik ketika manatapku "Naruto-kun…. Aku tahu itu, jika kau sangat menyukai Pantsu perempuan"
Lalu beberapa siswa laki-laki memberikanku wajah tersenyum "Narumi, aku bersedia menukar minuman denganmu!"
"Hoah!" Siswa laki-laki lainnya ikut menjawab dengan setuju dan semua teman kelasku langsung berubah pandangan kearahku. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan lagi, tapi yang jelas aku bisa menyelesaikan masalah ini dengan cepat dan tidak membuatku terjebak dalam situasi lain
Skip
Setelah sekolah
Toa menerima game konsolnya lalu memberikanku senyuman di wajahnya "Kerja bagus." ia kemudian segera mengaktifkan gamenya dan melihat status dari game itu. Setelah melakukan check dari gamenya ia tersenyum lebih ceria dan memberikanku sebuah cap jari jempol.
Namun respon yang dapat aku berikan padanya hanyalah sebuah desah lelah karena aku mengalami banyak sekali hal gila. Bayangkan saja selama 2 jam Iwakuma-sensei tidak kembali ke ruangan kelas dan ia di temukan di kamar UKS sedang tertidur dengan wajah memerah.
Aku jadi merasa sedikit bersalah dengan sensei. "aah.. tadi itu sangat gila sekali. Aku tidak menyangka jika aku harus membuang harga diriku tadi" aku menggaruk kepalaku dengan wajah frustrasi. Lalu aku duduk di kursi ruangan OSIS dan menenangkan pikiranku untuk sementara.
Toa kemudian memberikan ku tatapan simpatik "Onii-chan, karena kau berhasil mempertahankan game tercintaku. Kau bebas melakukan apapun itu yang kau inginkan dengan Mihiro" setelah Toa mengatakan hal itu Mihiro langsung bangkit dari tempat duduknya dan menuju kearahku dengan senyuman.
"he..he..he.. aku akan melayanimu dengan sepenuh hati"
Namun sebelum Mihiro membuat langkah mendekat kearahku aku harus membuat pilihan dengan cepat. Apakah aku harus menerima tawaran Mihiro atau menolaknya lalu mengalihkan pandangan. "Tidak, aku tidak ingin" aku memilih menolak mihiro lalu mengalihkan pandanganku kearah lain.
'Kenapa kau sangat senang sekali ketika dirimu dijadikan hadiah Mihiro? Aku malu mellihatmu seperti ini' aku kemudian mendesah dan berpikir mengenai ide selanjutnya untuk manga yang akan aku kerjakan. Dan akhirnya aku mengeluh dengan keras karena aku masih teringat kejadian di kelas tadi. "Man, tadi itu menakutiku hingga mau mati. Aku bersumpah aku tidak akan mau lagi membawa sesuatu seperti itu di lain hari"
Lalu Toa memberikan wajah tidak menyenangkan padaku. "Aww… ayolah Onii-chan, banyak orang-orang menggunakan jaringan di sekolah. Jadi aku ingin kau membawanya lagi nanti"
"Hentikan itu!" aku menjawab dengan kesal karena aku tidak ingin keberuntungan seperti tadi menjadi sia-sia. Karena tidak mungkin ada kesempatan kedua. Aku saja heran, bagaimana bisa mereka tidak melihatku memegang game konsol padahal aku menjatuhkannya setelah buku manuskripku sengaja aku jatuhkan.
Namun aku tidak perlu memikirkannya, yang terjadi maka akan terus beralu jadi semua itu tidak akan terjadi untuk kedua kalinya.
"… apa-apaan yang kalian bicarakan" Sakuragi mulai terganggu ketika mengerjakan beberapa dokumen. Lalu matanya kearah kami yang sejak tadi membuat beberapa keributan di ruangan OSIS.
"Ah… tidak ada, hanya jangan khawatirkan mengenai itu" aku sedikit gugup untuk mengatakan jika kami membahas mengenai masalah yang tidak penting sama sekali.
Sakuragi kemudian membuat wajah penasaran dengan alis mata sedikit menaik "Sungguh?" lalu ia memberikan kami sebuah wajah curiga.
Setelah beberapa saat menatap kami bertiga Sakuragi kemudian tersenyum padaku "jika kau memiliki waktu untuk membicarakan hal tidak penting. Kau pasti sudah menyelesaikan semua tugasmu…"
'Oh sialan, aku melupakannya' aku mulai berkeringat sedikit "Ah…"
Wajahnya semakin tersenyum ceria padaku "Itu luar biasa. Jadi aku bisa memberikanmu banyak tugas lainnya, Narumi-kun. Aku senang jika kau bisa bekerja dengan sangat cepat" Sakuragi menganggukkan kepala dengan senyuman.
Lalu Sakuragi menyerahkanku banyak sekali tumpukan dokumen yang harus aku kerjakan. 'Oh sialan, aku mengacaukannya' aku keringat menetes ketika melihat banyaknya dokumen ini.
Kaoruko-san kemudian berdiri dan berjalan menuju mejaku dengan wajah khawatir ia menatapku dan tumpukan dokumen ini yang harus aku kerjakan. "Naruto-kun, apa kjau baik-baik saja. Apa perlu aku membantumu"
Aku ketika melihat wajah Kaoruko-san yang sangat khawtir seperti ini membuatku tidak tega untuk mengatakan padanya jika aku kesulitan "Ah, tidak. Aku baik saja. Aku bisa menyelesaikan ini tanpa banyak waktu selama aku focus" aku membuat wajah keyakinan padanya agar ia yakin aku bisa mengerjakan hal ini.
Lalu Kaoruko-san tersenyum padaku 'ah.. aku sekarang sangat hancur'
Aku melihat Toa dan Mihiro memberikanku wajah mengejek seolah-olah mengatakan padaku 'Hahaha.. lihat apa yang kau lakukan. Rasakan akibatnya"
Aku kemudian mendesah lalu membuat wajah bersemangat seolah-olah api datang kearahku "Yosh.. apapun itu ayo kita kerjakan ini dengan cepat!" aku kemudian mengerjakan semua dokumen dengan cepat. 'Aku harus fokus'
Banyak dari dokumen aku baca beberapa sangat mudah di baca, satu membutuhkan argument panjang, satu membutuhkan ijin dari Guru… aku terus membaca dan mensortir setiap dokumen yang ada. 'Aku mulai terbiasa' aku tersenyum ketika aku bisa mengerjakan ini dengan cepat
Lalu dari tumpukan dokumen itu aku melihat sebuah surat dari setiap dokumen. Surat biasa itu membuat tanganku berhenti bekerja. Lalu tertulis nama di surat itu. 'Kepada Narumi Naruto?'
'itu aku' aku merasakan sebuah perasaan buruk ketika melihat surat itu. Normalnya ketua OSIS dan wakil ketua adalah subjek dari pertanyaan di setiap kotak suara. Namun ini sangat aneh kenapa aku mendapat sebuah surat dari siswa?
Lalu aku melihat ke kanan dan ke kiri dimana aku melihat Toa, Mihiro, Sakuragi, Kaoruko-san saling bercerita satu sama lain 'Ini bagus, mereka tidak melihatku' aku kemudian membuka surat itu dan membacanya. Aku mengharapkan isi surat itu adalah sesuatu yang bagus, namun nampaknya aku sangat salah.
'kepada Narumi Naruto-kun. Aku tahu Rahasiamu' pesan singkat itu langsung membuat jantungku berhenti sejenak dan wajahku langsung berkeringat ketika memikirkan hal yang aku takutkan.
Aku tidak memiliki rahasia kecuali sebagai penulis manga. Apakah maksud dari surat ini adalah rahasia mengenai aku adalah penulis manga. Dan jika itu benar maka aku dalam masalah besar. 'Apa salah satu rekan di kelasku mengetahui aku siapa sebenarnya ketika mereka melihat manuskripku?'
Tapi ketika aku berpikir lagi, aku rasa tidak. Karena sepanjang waktu mereka tidak memberikan banyak perhatian seolah-olah mereka menganggap itu semua adalah hal biasa.
"Naruto-kun, apa kau baik-baik saja? Kau terlihat panik?" Kaoruko-san menatapku dengan wajah perhatian aku dengan cepat menenangkan diri karena ini akan menjadi masalah serius jika aku mengatakan apa yang aku alami.
"Tidak, aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit kesulitan dalam mebaca laporan ini" aku membuat alasan agar aku tidak terkena beberapa masalah
Untuk saat ini aku harus tetap tenang dan menyelesaikan semua permalasahan ini dengan pengirim surat ini siapapun itu orangnya.
Lalu waktu berjalan dengan cepat.
Aku, Toa, dan Mihiro kami sekarang di gerbang sekolah setelah jam sekolah selesai. Sakuragi mengatakan ada beberapa urusan sehingga ia harus pulang lebih awal. Lalu ketika sampai di gerbang sekolah aku berhenti. "Toa, Mihiro. Kalian pulang duluan, aku punya beberapa urusan yang harus di kerjakan"
"Baiklah, karena aku tidak membantu toko hari ini. Jadi aku akan menginap saja"
Toa kemudian memberikanku wajah sedikit marah. "Belikan aku Cola saat kau pulang nanti Onii-chanb" aku menjawab dengan menganggukkan kepala kearah Toa. Mihiro dan toa kemudian berjalan menuju rumahku. Lalu aku berbalik badan dan menatap sekolah.
'Baiklah, mari kita selesaikan ini' aku kemudian berjalan menuju lapangan sekolah dimana di surat itu ia mengatakan padaku untuk bertemu di lapangan sekolah setelah jam klub berakhir.
Aku kemudian berjalan dengan berusaha menenangkan diri. Dan ketika lapangan sekolah terlihat aku melirik kekanan dan kiri untuk mencari dimana sang pengirim surat ini. Ketika aku berjalan sesosok bayangan manusia terlihat dari kejauhan. Bayangan itu sedang berdiri di bawah pohon dekat ruangan GYM.
'apakah itu dia' aku membuat kesimpulan mengenai siapapun itu yang menunggu disana.
Aku memejamkan mata sebentar lalu menarik nafas untuk tetap tenang. Kemudian aku berjalan mendekat kearah bayangan itu sedang menunggu. Aku berjalan perlahan dan dengan harapan aku tidak mengalami hal aneh setelah in
Saat aku sampai di lokasi perlahan bayangan itu menampilakan sosok perempuan dengan rambut kuning emas dengan model twin-tail. Aku tahu wajah itu, lalu ketika wajah kami saling menatap gadis itu mendekat kearahku.
"Aku menunggumu, Narumi-kun"
"Saku…ragi" aku terbata-bata ketika melihat perempuan yang mengirimiku surat itu adalah wakil ketua selama ini? Sulit di percaya tapi ini memang kenyataan Sakuragi Ashe menunggu di tempat dimana pengirim surat itu menyuruhku untuk datang
Aku kemudian mengeluarkan surat itu dari dalam saku celanaku "Apa kau yang menulis ini?"
Lalu Sakuragi menganggukkan kepalanya "ya itu benar"
"Tapi kenapa kau menulis surat ini" aku memberikan pertanyaan yang menggangguku. Sakuragi kemudian memejamkan mata dengan wajah sedikit memerah
"Bisa jelaskan padaku apa tujuanmu mengirimiku surat seperti itu?"
Sakuragi kemudian menghadap kearahku dengan senyuman geli "Aku ingin tahu bagaimana reaksimu setelah mendapat surat tidak di kenal"
"Dan seperti aku duga, kau menyembunyikan sesuatu. Dan aku tahu rahasiamu dimana kau tidak ingin membiarkan orang lain mengetahuinya"
Jantungku berdetak sangat kencang lalu aku mulai menelan ludah karena aku sudah panik dan gugup untuk menerima respon yang akan datang selanjutnya.
Sakuragi melipat tangan lalu memejamkan mata. "Aku selama ini sangat curiga sekali…." Lalu ia membuka matanya dan menatapku dengan wajah curiga.
"Bagaimana mungkin seseorang sepertimu masuk kedalam OSIS dengan mudahnya, dan itu selalu membuatku kepikiran sepanjang waktu."
Aku mulai berkeringat dengan deras ketika melihat wajah curiga dari Sakuragi. Ia semakin menatapku dengan tatapan inten
"Kaoruko tidak mungkin mengajakmu masuk kedalam OSIS hanya karena ia mengundanmu. Pasti ada alasan tersembunyi mengenai itu"
Lalu sakuragi tersenyum sombon padaku dengan ekspresi sangat yakin akan jawabannya "Kau dan Kaoruko pasti sudah saling mengenal satu sama lain dengan sebuah hubungan.. oleh karena itu ia mengajakmu. apa aku salah?"
"…Apa?!" Sakuragi Ashe, aku tidak mengharakannya untuk mengetahui hal ini. Dan sepertinya aku sedang dalam masalah serius.
"Fufufu… melihat dari reaksimu aku bisa mengatakan jika aku sangat benar… jangan menutupinya lagi. Aku sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian berdua"
Sakuragi semakin membuat senyuman sombong padaku dengan menelan ludah aku sudah panik
"Rahasia diantara kalian berdua adalah…"
Dan sejak kapan ini berubah menjadi kontes dimana penentuan siapa yang akan masuk kedalam final. Aku memikirkan hal itu di dalam kepalaku. Namun itu tidak penting lagi.
Saat itu juga Sakuragi menarik nafas bersiap untuk memproklamasikan mengenai aa yang ia ingin katakan. "Kau pasti Aniki Kaoruko-san yang lama sekali hilang!"
Aku langsun terdiam di tempat ketika mendengar perkataan ini. "HA?"
Sakuragi tersenyum padaku dengan cara sombong "Fufufu… kau pasti sangat terkejut benar, karena aku membuatmu tidak bisa berbicara sama sekali"
'Jujur aku sangat terkejut akan informasi aneh ini.
"Ada apa Narumi-kun…. Jangan khawatir informasimu aman bersama denganku"
Aku kemudian memegang dahiku "Tunggu sebentar… kau sangat salah mengenai itu! Bahkan itu sedikitpun tidak benar hingga aku sangat sulit untuk mempercayainya!"
Sakuragi langsung melebarkan mata dengan mata berubah menjadi spiral karena terkejut. "Tunggu, maksudmu itu bukan itu?"
"Tentu saja tidak! Bahkan tidak mendekati kata benar!"
Sakuragi kemudian menghadap kearah lain dengan senyuman tidak jelas. "a..aha..aha… itu sudah aku duga"
'Kau pembohong! Aku bisa melihat dengan jelas di wajahmu'
"Yah… itu tadi hanya pemanasan.. iya hanya pemanasan. Mungkin kau dan Toa menemukan beberapa kelemahan Kaoruko-san dan…"
"Kau sudah sangat salah!" aku membalas dengan nada frustrasi ketika melihat arah pembicaraan kami yang sudah kelewat aneh
"Aku hanya bercanda, aku yakin orang tua kalian sudah menikah satu sama lain sejak lama dan kemudian kalian terpisah"
"Bagaimana mungkin kau membuat kesimpulan seperti itu!"
Sakuragi kemudian membuat wajah kesal dengan tubuh bergetar dari ekspresinya aku berani bertaruh, Sakuragi masih tetap akan membahas ini hingga ia lelah.
10 menit kemudian
Sakuragi membuat wajah menangis karena sudah frustrasi karena semua tebakannya tidak ada yang tepat. "Jadi apa itu…." Sakuragi terduduk di tanah memeluk lututnya dengan tangisan masih aku dengar.
"Jadi.. kau sama sekali tidak mengetahui mengenai rahasia mengenai apapun"
Sakuragi menjawab dengan menganggukkan kepala. "Hai.."
Ia kemudian menatap kearahku "Aku sudah bertanya pada semua teman kelasmu. Tapi tidak ada yang mengetahui apapun mengenai dirimu"
"Ya itu sudah pasti!" aku menaikkan nadaku karena sangat aneh sekali jika ada orang lain mengetahui mengenai keluarga kami. Tapi tunggu dulu. Keluarga Watanuki dan keluarga Miyase sebenarnya mengetahui mengenai keluarga kami dan aku berani bertaruh jika Karen tidak memberitahukan apapun pada Sakuragi
"Jadi bisa jelaskan padaku. Kenapa kau melakukan ini, dan kenapa ini sangat penting sekali"
Sakuragi menatap kearah lain lalu kembali menatapku dengan wajah marah. "Aku tidak ingin menjadi satu-satunya di tinggalkan di ruangan OSIS. Kau punya rahasia dengan Kaoruko-san dan itu sangat tidak adil!"
"Ha?... dari sudut mana itu tidak adil?" aku memiringkan wajahku dengan bingung apa yang dimaksudkan oleh Sakuragi
"Kau dan Kaoruko-san membagikan rahasia sau sama lain. Berarti kalian sangat dekat sekali" Sakuragi menatap wajahku dengan mata di penuhi rasa cemburu.
'jika aku pikirkan kembali ketika kami berada di OSIS. Benar juga, Sakuragi satu-satunya yang tidak mengetahui mengenai pekerjaan kami dan akhirnya ia menjadi tersudut sendirian'
'Sebenarnya aku yakin jika memberitahukan Sakuragi mengenai kebenaran adalah jalan terbaik. Namun setelah pertemuan pertama kami…' aku mengenang dimana aku tidak sengaja melihat tubuh Sakuragi ketika ia mengganti pakaian
'Jika ia mengetahui kami mengerjakan manga yang sedikit ero maka aku sangat yakin ia akan mengatakan aku adalah orang hentai.
Jadi apa yang harus aku lakukan. Haruskah aku mengujinya mengenai kebenaran sedikit, atau mengalihkan cerita dengan alasan lain.
"Sakuragi apa kau…"
"hm?"
Sebelum aku menyelesaikan kalimatku sebuah bola menggelinding di antara kami berdua. "Ada apa dengan bola ini?" lalu aku melirik siapa yang menggelindingkan bola ini.
Dan tidak aku sangka jika ada siswa di sana "Maafkan aku tapi bisa berikan bola itu" Siswa laki-laki itu nampaknya tidak mengetahui pembicaraan kami.
Aku kemudian melemparkan bola itu padanya "Terima kasih" ia kemudian bergerak menuju ruangan olahraga.
"Ah…. Bisa kita pulang sekarang?" aku menatap Sakuragi dengan wajah lelah.
Sakuragi juga memberikan wajah lelah padaku "baiklah, aku juga tidak mood lagi untuk membahas apapun untuk saat ini" Sakuragi kemudian berjalan menjauh menuju gerbang sekolah.
'Akhirnya aku terselamatkan oleh sebuah bola' pilihanku untuk mengalihkan pembicaraan dan tidak membahasnya lebih jauh nampaknya berhasil namun aku merasa sedikit bersalah pada Sakuragi mengenai kebenaran yang aku sembunyikan.
'Mungkin nanti aku bisa memberitahukannya ketika saat itu tiba'
Aku kemudian berjalan menuju gerbang sekolah karena aku sudah sangat lelah sekali sekarang bagaimana caraku untuk menghadapi Sakuragi besok? Maka jawabannya adalah aku akan memikirkannya ketika saat itu datang
Next: A boy more feminine than any gil (Toa Route)
