"Sasuke-kun," panggil Shion manja kepada Sasuke yang sedang menyetir.

"Hn, ada apa?" tanya Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya.

"Ne, tadi aku bilang pada Naru-chan kalo kita pacaran," ujar Shion dengan tidak berdosanya.

"Kau, apa?" akhirnya perhatian Sasuke teralihkan. Ia memelankan kecepatan mobilnya dan menoleh kearah Shion.

"Kau tidak dengar? Aku bilang, aku bilang pada Naru-chan kalo kita pacaran." Shion masih bicara dengan polosnya.

"Apa yang kau pikirkan? Dasar menyebalkan," gerutu Sasuke. ia memfokuskan kembali perhatiannya pada jalanan.

"Karna aku suka melakukannya. Ayolah, sekali ini saja. Lagian aku juga sudah mendapat 'incaran' disini. Kumohon, jadi jomblo itu tidak menyenangkan," Shion mengatupkan kedua tangannya, ia menatap Sasuke dengan mata yang berkaca-kaca.

"Tidak, aku tidak mau ada kesalahpahaman." Jawab Sauke tegas. Wajah memohon Shion sangat mirip dengan Naruto –menurutnya. Entahlah, Sasuke menganggap Shion yang meminta atau dia menganggap itu Naruto.

"Salah paham? Siapa? Naru-chan? Aku tahu kau suka dengan Naruto-chan," sekarang suara Shion menjadi serius –sedikit.

"Jangan berkata seolah kau tahu semuanya," ujar Sasuke datar.

"Baiklah kalau begitu, akan kukatakan pada Gaara, Naruto bisa kau dapatkan sekarang." Shion berkata sembari menatap atap mobil dan telunjukknya yang berayun diudara.

"Terserah," maksudku jangan.

Tak ada perubahan ekspresi yang mendadak dari Sasuke. Hanya ada matanya yang membulat sesaat dan tak berlangsung lama –bahkan untuk dilihat Shion.

"Ck, ekspresimu itu tidak meyakinkan. Aku jadi ingin ikut campur masalah 'percintaan'mu," cicit Shion kesal.

"Diam atau kuturunkan ku disini," ancam Sasuke dengan nada menyakinkan.

"Dirimu sensitif sekali, Sasuke. Berarti memang benar kan kau suka sama Naru-chan?"

"Ck, urusai." Shion merasa menang dengan perkelahian 'adu mulutnya'. Senyum kemenangan mengembang diwajahnya.

"Setiap ada kata Naru-chan kau sedikit lama menjawabnya," goda Shion. Sasuke menghela nafas, dia tak tahu lagi apa yang ingin dikatakannya oleh teman berambut pirang disebelahnya. Poor Sasuke..

Naruto © Masashi Kishimoto

This fic © Cha Yami no Hime

Genre : Romance, & Friendship

Rate T

Pair : SasuNaru, GaaNaru, slight KibaHina

Warning : AU,Typo(s), FemNaru, tanda baca berantakan & ide pasaran

Don't like don't read

Have enjoy ^_^

You will always be My Moon #chapter 4

Naruto`s PoV

"H..hai teme," aku tersenyum kikuk. Baiklah, imajinasiku terlalu tinggi sampai yang ada dibayanganku Sasuke merangkul pinggang Shion. Hah, Naruto apa yang terjadi padamu.

"Naru-chan, kau tidak menyapaku?" tanya Shion dengan wajah cemberutnya.

"Hai Shion-chan," aku sudah bisa mengendalikan emosiku sekarang, walaupun jantungku masih berdetak cepat.

"Oi dobe, ada apa kau kemari?" tanya Sasuke tajam.

"Hei, bersikap sopan sedikit dengan tamumu, tahu" omelku. Aku menatapnya tajam dan tidak terima. "Aku mau mengambil kurama. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Kau tidak berbuat apa-apa dengannya kan?" baiklah, aku sudah terlalu menguasai diriku.

"Kurama? Siapa Naru-chan?" tanya Shion yang hanya setengah tubuhnya kelihatan, setengah lagi bersembunyi dibalik pintu.

"Sepedanya," jawab Sasuke singkat. Eh? Kapan dia tahu nama sepedaku Kurama?

"Teme, kau tahu darimana?" tanyaku penasaran.

"Memang kau harus tahu, dobe? Sepedamu ada di garasi." Jawab Sasuke dan kemudian berjalan masuk kerumahnya.

"Apa-apaan itu, dasar chikenbutt sialan," gerutuku ketika Sasuke tidak ada lagi dihadapanku. "Shion-chan, bisa temenin aku kesana?"

^SasuFemNaru^

"Naru-chan, yakin nggak mau masuk dulu?" tawar Shion.

Naruto mencoba berfikir, "Um.. gomen ne, Shion-chan. Aku sudah janji ama Nee-chan," tolak Naruto sambil menggaruk belakang kepalanya.

"Oh sokka, daijoubu," ujar Shion memasang wajah kecewanya.

"Naruto-chan?" panggil Itachi yang baru saja keluar dari rumahnya.

"Itachi-nii? Hisashiburi !" teriak Naruto sambil memeluk Itachi.

"Kalian terlihat akrab sekali, kenapa tidak ngobrol didalam?" tanya Shion yang sedikit bingung dengan Itachi dan Naruto dan juga alasan agar ia punya teman cewek di kediaman Uchiha ini.

Itachi melepas pelukannya dan menatap Naruto. "Ha.. ide bagus,ayo Naru-chan kita masuk dulu. Kau tidak rindu padaku hah?" tanya Itachi menarik lengan Naruto dan berjalan kedalam.

"Tapi nii-chan..."

"Baiklah, aku bingung," ujar Shion berjalan masuk.

"Jadi kenapa kau dan Shion berdiri didepan pintu?" tanya Itachi.

"Aku sedang membujuknya main disini, bersama kalian duo Uchiha itu mengerikan tahu," timpal Shion mendudukkan dirinya disebelah Naruto. "Mana ba-san lagi nggak ada dirumah,"

"Aku tidak bertanya padamu," ujar Itachi ketus.

"Ano.. nii-chan, itu benar." Kata Naruto.

"Iya kan,kau saja yang tidak percaya padaku Itachi," Shion menatap sinis Itachi. Sekarang, giliran Naruto yang sweatdrop. "Ne, Naru-chan ayolah temani aku yah,"

"Aku takut nee-chan marah nanti. Lagian pamitnya cuma mau jemput kurama," tolak Naruto.

"Memang ada apa?" tanya Itachi.

"Aku janji makan malam sama-sama dengan Nee-chan," jawab Naruto innocent. Seringaian muncul di wajah Uchiha sulung ini.

"Benar kata Shion, kau disini saja. Biar nii-chan yang nemenin Deidara. Ada urusan juga sedikit,"

'Firasatku nggak enak' batin Naruto melihat Itachi yang tersenyum mengerikan.

"Kalo nee-chan nanti marah gimana?"

"Nii-chan yang tanggung jawab. Kamu dirumah aja Naru, jagain mereka berdua," kata Itachi menunjuk Shion.

"Aku? Hey Itachi, ada apa denganku?" teriak Shion geram.

'Double nggak enak,' batin Naruto lagi.

"Akhirnya aku punya temen cerita dirumah ini," ujar Shion bahagia –mungkin.

'Triple nggak enak' rutuk Naruto dalam hati.

^SasuFemNaru^

"Dimana aniki?" tanya Sasuke. Duo gadis berambut pirang dengan kecerahan yang berbeda itu menatap Sasuke –dengan kompak.

"Dia pergi," jawab Shion singkat.

"Kemana?"

"Kencan mendadak," jawab Naruto tak kalah singkat.

"Baka no aniki," gumam Sasuke pelan dan duduk nyaris disebelah Naruto, dengan sofa yang berbeda.

"Kuso," gumam Naruto, mungkin ikut-ikutan Sasuke. Naruto memejamkan mata dan merasakan detak jantungnya.

"Naruto, ada apa?" tanya Shion.

"Tidak apa-apa," jawab Naruto sambil tersenyum.

'Kenapa jantungku berdebar lagi?'batinnya. Naruto mencoba melirik Uchiha bungsu yang sedang menonton acara televisi –yang pastinya sangat membosankan bagi Naruto-. Tidak bertahan lama karena ketika pandangan mereka bertemu, Naruto langsung mengalihkan wajahnya.

"Baka dobe," gumam Sasuke yang mengetahui gerakan aneh Naruto.

Naruto bergerak gelisah. 'Ayolah Naru, ada apa denganmu?' tanya Naruto pada dirinya sendiri.

"Naru-chan, tehnya diminum dong," ujar Shion kecewa. Yah, ini pertama kalinya bagi Shion membuatkan minuman untuk tamunya. Dan karena itulah Sasuke menjauhkan cangkirnya, jaga-jaga kemanisan. Entar Sasu jadi tambah manis, kasihan tempat fansnya dong yang mau buat fans club.

"Ahh, iya" Naruto mendekatkan cangkir itu kebibirnya. Dan seketika ada perasaan aneh pada Naruto. Satu teguk lolos ketenggorokannya. Dan selamat Sasuke, kau benar tentang teh yang kemanisan itu.

"Ada yang aneh ya, Naru?" tanya Shion dengan tampang innocentnya.

"Etto.. tidak ada apa-apa kok," jawab Naruto bohong. Terlalu tidak tega untuk mengatakan sejujurnya pada Shion.

"Jadi Shion rumahmu dimana?" kata Naruto berbasa-basi. Sekedar untuk mencairkan suasana yang hanya diisi oleh pembawa acara yang ditonton Sasuke.

"Sudah kuduga kau pasti bingung. Kau juga pasti bertanya kenapa aku ada disini kan, Naru-chan?" tanya Shion balik. Dengan wajah bahagia dan berseri-serinya.

"Ya, sedikit" jawab Naruto dengan nada yang melemah. Ia menundukkan wajahnya, imajinasinya sudah terbang kemana-mana.

"Ternyata aku benar dengan kekuatan cenayangku,"gumam Shion bersemangat. Sasuke mendengus kecil, Naruto terkekeh.

"Dan jawabannya adalah aku tinggal disini," sorak Shion.

"Nani?" Naruto menegakkan kembali kepalanya dengan mata membulat sempurna dan mulutnya sedikit terbuka.

"Ekspresimu berlebihan dobe," ujar Sasuke. dengan bosan dia memutar bola matanya.

'Rencanaku berhasil,'

"Dan kurasa sampai aku menyelesaikan SMAku," lanjut Shion. Naruto membulatkan matanya lagi.

'Itu berarti mereka tinggal serumah, dan—' Naruto tidak bisa membayangkan apa yang mereka akan lakukan dibenaknya. Diperparah dengan asumsi teman-temannya yang meyakinkan bahwa mereka pacaran. 'Kami-sama!' teriak Naruto –dalam hati.

"Naruto, kenapa diam?" tanya Shion dengan polosnya pada Naruto.

"Tidak, aku hanya kaget. Hanya saja, jangan bosan melihat wajah dan sikap Sasuke jika kau tinggal selama itu," apa ini bisa disebut pengalihan?

"Tenang Naruto, aku sudah menghadapinya sejak dia masih SMP. Tapi kau benar dengan wajahnya," kata Shion berbisik pada Naruto.

"Urusaii," kata Sasuke ketika insting 'Uchiha'nya mengatakan dia sedang dibicarakan.

"Dia sangat sensitif kan?" tanya Shion masih berbisik pada Naruto. Tersenyum getir, Naruto mengiyakan pendapat Shion.

Sebenarnya Naruto sangat tidak fokus. Karena pikirannya yang entah jauh kemana. Sampai, ada sesuatu yang bergetar dikantong celananya. Naruto mengambil ponselnya. Ada satu pesan masuk dan Naruto sadar siapa yang mengirimnya pesan.

Dari nee-chan

Hei Baka! Mengapa kau belum pulang? Dan kenapa kau biarkan Itachi kemari? Cepat pulang atau akan kuambil buku biru kesayanganmu. Hayaku!

Salam, nee-chan terjahatmu

Naruto menghela nafas. Apanya yang bertanggungjawab? 'Kan pasti aku yang dapat bagian tidak enaknya.

"Shion-chan, teme aku pulang dulu ya," Naruto mengambil jaketnya dan meminum teh penyebab diabetes itu seteguk lagi. Juga, tanpa menatap Sasuke.

"Kenapa buru-buru Naru-chan?"

"Karena dirumah sudah siaga satu. Oh ya pesanku kalian jangan sering bertengkar. Jadilah sepasang kekasih yang akur," Naruto langsung berlari tanpa melihat kebelakang, tanpa babibu dan untungnya dia tidak melupakan kurama.

Shion tersenyum aneh ketika mendengar kalimat terakhir Naruto. Bukan karena kalimatnya, tapi karena deathglare Uchiha bungsu ketika mendengarnya.

"Sasuke-kun, aku hanya bercanda. Aku tidak mengatakan itu pada Naru-chan," "H..hei mana kutahu darimana dia berfikir kita pacaran."

"Kau yang tanggung jawab,"

"Nani? Aku? Kenapa tidak kau saja?" "Kau yang suka dengannya,"

"Terserah,"

"Hei Sasuke-kun, seharusnya kau berterima kasih padaku. Kau tidak lihat wajah terkejutnya, dia tidak rela kalau aku disini," omel Shion panjang lebar dengan kedua tangan yang tersilang didepan perutnya.

"Hn,"

"Tapi aktingnya bagus sekali. Naru, kenapa harus ditutupi. Kau juga Sasuke" omelnya lagi.

"Kenapa aku?"

"Pikir saja sendiri," Shion memalingkan wajahnya dan berjalan sambil menghentakkan kakinya kelantai 2. Cukup untuk seorang Uchiha merasa bingung. Hey, pantasnya dia yang marah bukan? Kau harus mengakui kalau pemikiran wanita itu sulit, bung.

^SasuFemNaru^

"Forehead, coba lihat dia," kata Ino menunjuk Naruto dengan siku tangannya.

"Tumben dia melamun, tidak biasanya" gumam Sakura.

"Sapa gih,"

"Kenapa harus aku?"

"Kau bisa membalas semburannya. Ayolah, aku takut dia kenapa-napa," ujar Ino. Sakura mendengus sebal.

"Hey Naruto-chan, kau kenapa?" tanya Sakura sambil melambaikan tangannya didepan wajah Naruto.

"Tidak ada apa-apa," jawab Naruto ketus. Ia meminum jus jeruknya sedikit dan kembali melamun.

"Aku tebak, masalah cowok," timpal Ino yang duduk dihadapan Naruto.

"Tidak, koleksi animenya mungkin," ujar Sakura.

"Bagaimana dengan latihan basketnya?" kata Hinata yang baru bergabung dengan mereka. Hinata duduk disamping Naruto, dengan segelas jus anggur ditangannya.

"Tidak mungkin, kapten kita ini pasti sedang galau," sahut Ten-ten.

"Ha.."

"Sasuke!" ucap semua teman-teman Naruto dengan kompak –kecuali Hinata.

"Hey kalian! Bisa tenang tidak?! Merusak suasana saja," gerutu Naruto hampir menggebrak meja. Naruto berdiri dengan wajah kusutnya dan berjalan menjauhi teman-temannya. Ino, Sakura dan Ten-ten tercengang, Hinata tersenyum kikuk.

"Kurasa Naru-chan sedang dapet," gumam Hinata ketika Naruto pergi.


Naruto's PoV

Baiklah, apa ini namanya cemburu? Tapi kenapa aku harus cemburu? Aku 'kan bukan siapa-siapanya. Kalian pasti tahu siapa yang aku bicarakan. Yah dia, Uchiha Sasuke. Aku tahu aku hanya temannya, teman lamanya malah. Jadi kenapa aku cemburu ketika Shion datang kemari? Kami-sama, ada apa denganku? Dia sahabatku dan punya pacar secantik Shion, kenapa aku merasa cemburu, harusnya 'kan aku merasa bahagia. Setidaknya pacarnya tidak senorak fansgirlnya. Tetapi tetap saja, sejak itu aku tidak berani menatap matanya. Jantungku juga berdetak ketika bersamanya. Jangan bilang aku suka padanya. Hell no! Aku tidak mungkin suka dengan Chikkenbutt itu.

Aku mengadahkan kepalaku keatas. Menatap langit sayu. Kurasa baru ini aku galau karena cowok. Apa kata nee-chan nanti jika dia tahu aku galau hanya karena cowok. Aku masih tidak siap mental menghadapi ejekannya yang bisa bertahan 7 hari 7 malam.

Untuk saat ini setidaknya angin sepoi-sepoi bisa sedikit membuatku tenang. Jangan tanyakan aku ada dimana, karena aku tidak akan menjawabnya. Oke oke, bercanda. Aku sedang duduk dibawah pohon yang rimbun dibelakang sekolah. Daripada nanti temen-temen mikir kalo aku punya sisi yami yang mengerikan, lebih baik aku berdiam diri. Sendirian, menyimpan masalahku sendiri. ahh! Aku butuh teman curhat!

"Kami-sama," gumamku sambil menutup mataku. Ini kelewatan Naru, kau terlalu berlebihan menanggapi Sasuke. uhm perkenalkan, itu sisi yami-ku.

"Ya, aku nggak boleh galau gara-gara cowok," aku meluruskan punggungku yang sebelumnya kusandarkan kebatang pohon. Dan jangan lupakan tanganku yang terkepal .

Hah, ternyata semangatku tidak bertahan lama. Aku kembali menyenderkan punggungku kepohon dibelakangku. Imajinasi ku berjalan jauh lagi, ketika semuanya bilang Shion itu pacar Sasuke, ketika aku menemukan Shion dirumah Sasuke, dan ketika Shion bilang dia tinggal dirumah Sasuke. Hah, semuanya membuatku pusing.

Aku mengerinyitkan keningku, menutup mataku dan membiarkan angin sepoi-sepoi menyentuh wajahku. Suasana belakang sekolah memang selalu damai, memang cocok buat tidur siang. Mungkin aku bisa melupakan sejenak masalahku.

"Hah, aku bingung harus menyebutmu apa lagi dobe," ada suara Sasuke difikiranku. Ah! Mengapa harus suaranya?

"Ayolah Naru, jangan pikirkan dia lagi," gumamku. Aku mendengar kekehan sesorang dan ada sesuatu yang berat dibahu kananku.

"Benar-benar dobe," aku membuka mataku dan menoleh kasamping. Kami-sama! Kenapa Sasuke ada disini?!

"K..Kenapa kau ada disini teme?" tanyaku gugup dan secara reflek membuat jarak dengannya.

"Ck, kau hampir membuatku jatuh," Sasuke menatapku sebentar dan duduk bersandar disampingku lagi.

"Gomen," ujarku pelan.

"Kau berubah," pernyataan Sasuke membuatku membulatkan mataku. Ada apa dengannya?

"Nani?"

"Sejak Shion disini, kau berubah," nada suaranya memang tidak berubah, dingin seperti biasa. Itu yang membuatku bingung menanggapinya.

"Aku tidak berubah kok. Aku masih temanmu kan? Kalo aku berubah jadi musuhmu baru namanya aku berubah. Teme, sepertinya kau tertular virus 'baka'ku." Aku berusaha menormalkan keadaan yang ada. Aku tahu maksudnya apa. Aku mencoba mengelak untuk sekedar menghibur diriku sendiri.

"Jangan bercanda dobe, kau pasti tahu maksudnya apa," ujar Sasuke lagi. Untung kami tidak saling berhadapan. Aku ingin menangis rasanya.

"Ada maksud yang lain ya?" Coba kutebak,"

"Naruto, berhenti bercanda" Sasuke langsung beranjak menghadapku, walaupun dia harus duduk bersimpuh.

"Aku tidak bercanda, teme" sudah kubilangkan aku takut menatap wajahnya, apalagi matanya. Aku mencoba menatap rumput.

"Keras kepala," gumamnya. Aku masih menunduk. Aku bersyukur aku punya poni yang cukup panjang, sehingga ketika aku menunduk, poniku bisa menutup sebagian wajahku. Jangan menagis Naru. Memang apa yang kau tangiskan?

Sasuke memegang daguku dan menariknya perlahan agar aku menatap wajahnya. "Ada apa denganmu?"

"Tidak ada apa-apa," jawabku singkat. Aku masih tidak bisa menatap wajahnya.

"Kau berbohong,"'

"Kenapa aku harus berbohong?"

"Menyebalkan,"

"Kau harusnya tahu aku memang begitu dari dulu,"

"Kau bukan Naruto yang kukenal,"

"Itu karena kau," gumamku.

"Apa karena kau cemburu dengan Shion?" Sasuke mendekatkan wajahnya. Haruskah aku mendapat posisi tersudut berkali-kali?

"Ti..tidak," jawabku gugup –lagi. Ah, sepertinya virus Hinata yang tertular padaku.

"Pembohong,"

"Apa katamu, teme?" aku menggembungkan pipiku dan menatap wajahnya. ck, Naru kau kekanakan sekali.

"Pembohong," ujar Sasuke sekali lagi. Telingaku panas sekarang.

"Kau menarik kesimpulan sendiri, dasar Chikenbutt!" makiku.

"Kalau begitu katakan kau tidak cemburu sekali lagi,"

"Aku tidak cemburu," aku berbohong dengan sukses.

Sasuke menarik daguku lagi."Tatap mataku, dobe."

Tidak! Aku menatap matanya! Dan rasanya semua badanku lemas.

"Kau cemburu kan?"

"Aku.. aku.." aku memutar bola mataku, mencari pengalihan agar aku tidak berkata yang sejujurnya.

"Naruto," panggilnya lembut? Aku menatap Sasuke. memastikan jika yang sedang duduk didepanku Sasuke, bukan alien yang menyamar menjadi Sasuke.

"Iya baka! Seharusnya kau mengerti perasaan cewek," jawabku ketus. Aku membulatkan mataku dan menutup mulutku. Apa yang barusan kukatakan?

"Keh, memang menyebalkan." Rutuk Sasuke melepaskan pegangannya dari daguku. Aku menunduk dan hanya merasakan detak jantungku yang terlalu cepat berdetak. Huah! Itu sama saja aku mengatakan aku suka padanya! Apa tadi aku bilang aku suka pada Chikenbutt itu? Kuso!

"Arigatou leluconnya teme" "Seharusnya aku sudah melakukan ini dari tadi,"

Aku berdiri, membersihkan belakang rokku. Tanpa kata apapun, aku melangkah pergi dan sekarang aku bingung apa yang kurasakan. Aku hanya bisa memegang dada kirikudan berharap jantungku cepat berdetak normal.


Sasuke hanya menatap punggung Naruto yang semakin lama semakin kecil dan menghilang. Dia memegang belakang kepalanya.

'Tidak seperti yang kuharapkan,' batin Sasuke.

"Sasuke-kun!" teriak Shion um.. geram. Ia keluar dari semak-semak tempatnya bersembunyi tadi.

"Hn" jawab Sasuke dengan trademark andalannya.

"Sasuke, aku bingung denganmu," ujar Shion duduk dihadapan Sasuke.

"Aku juga bingung padamu,"

"Kupikir kau ingin menyatakan perasaanmu,"

"Jangan mulai lagi," gumam Sasuke bosan. Ia menggeser duduknya menjadi disebelah Shion.

"Sulit punya ego yang tinggi itu kan, Sasuke? Kau tidak sadar, Naruto berkata dia menyukaimu –walau tidak langsung?" tanya Shion.

"Aku tidak ingin tahu,"

"Nande? Kau harus berusaha mengetahui perasaannya." Nasehat Shion. Author rasa, Shion sudah seperti tempat konsultan Sasuke –walaupun Sasuke merasa tidak butuh-

"Urus urusanmu sendiri,"

"Sudah. Dan kurasa Gaara menyukai Naru-chan. Hiks,"

"Kurasa Gaara mengira kau pacarku,"

"Memang aku ingin punya pacar, tapi bukan kau Sasuke. Jadi bagaimana, masa aku harus saingan ama gebetan temanku sendiri? tidak!"

"Jangan berlebihan,"

"Aku tidak mau mendapat peran antagonis disini,"

"Terserah,"

"Ne? Ini jepit siapa?" tanya Shion mengambil jepit berwarna biru dengan hiasan kupu-kupu diatasnya.

"Ini punya Naruto," jawab Sasuke enteng dan merebut jepit itu dari tangan Shion.

"Aku tidak tahu kau begitu perhatian ama Naru-chan, kau tahu dari mana?"

"Aku yang membelikannya," lagi-lagi Sasuke menjawab dengan enteng.

"Nani?! Kau romantis sekali Sasuke!" teriak Shion.

"Tutup mulutmu," perintah Sasuke. "Aku pinjam kakimu, aku mau tidur." Sasuke meletakkan kepalanya dipaha Shion, menjadikannya bantal untuk tidur siang.

"Seharusnya yang kau pinjam itu kaki Naruto, bukan kakiku," protes Shion setengah menggoda Sasuke. Sasuke menatap keatas, menatap Shion tajam ditambah deathglarenya.

"Baiklah, aku akan diam," kata Shion menutup mulutnya.

"Bagaimana keluargamu?" tanya Sasuke. Wajah Shion menjadi murung. Dia tahu kemana pembicaraan ini mengarah kemana.

"Jangan bicarakan mereka. Bahkan sampai sekarang dia tidak menelponku untuk sekedar bertanya kabarku,"

"Memang tidak bisa dibicarakan baik-baik?"

"Aku sudah muak menunggu mereka pulang. Sebenarnya anak mereka siapa sih? Aku atau perusahaan dengan cabang-cabangnya itu? Apa mereka tidak tahu anaknya butuh pertolongan? Apa mereka aku baik-baik saja sendirian? Apa mereka tidak tahu akibatnya apa? Orang tua macam apa mereka? meninggalkan anaknya hampir seminggu lebih tanpa pulang, baiklah itu terlalu singkat. Sampai berbulan bulan, aku hanya ditinggalkan dengan pembantu. Mereka pikir aku butuh pembantu banyak? Yang aku butuhkan kan cuma mereka. Dan mereka masih tidak mengerti itu? Aku sudah melakukan banyak cara agar mereka melihatku. Dari mendapat peringkat dikelas, sampai masuk BP. Dan mereka masih belum mengerti? Yang benar saja," Shion mengeluarkan semua yang ia pendam sendiri. sampai nafasnya pun tersengal-sengal.

"Kau membutuhkannya," ucap Sasuke sambil menyodorkan saputangannya. "Aku tidak ingin wajahku basah karena airmatamu,"

"Arigatou. Aku masih bingung orang tua macam apa mereka? untung saja kau ada disana. Untung saja Mikoto ba-san sangat baik. Dan untungnya kalian bisa menerimaku. Jika kalian tidak ada disana, pasti aku sudah ditelan kegelapan. Aku tidak akan menjadi gadis yang seperti ini. Itulah aku nekat kabur daripada aku di Suna, sendirian. Bisa-bisa aku minum racun disana,"

"Mau menangis menangis saja," seketika, tangis Shion pecah. Setidaknya akan habis waktu yang lama untuk ini.

"Arigatou Sasuke," kata Shion disela-sela isakannya. Sasuke tidak menggubrisnya, dia hanya menutup mata dengan lengannya.

'Dan bagaimana denganmu?' batin Sasuke sambil memerhatikan jepit biru yang ia pegang.

^SasuFemNaru^

30 menit berlalu dari jam pulang sekolah. Namun, Naruto masih betah duduk ditempat duduknya. Bersama Hinata yang ada disampingnya, menemaninya dari tadi. Harapan Naruto untuk punya teman curhat sepertinya terkabul. Terbukti dengan Hinata yang mau mendengarkan curhatannya dari tadi.

"Aku pikir kau menyukainya, Naru-chan" komen Hinata. Naruto menghela nafas panjang.

"Aku masih tak mempercayainya," elak Naruto.

"Dari caramu membicarakan Sasuke-san, kau menyukainya. Percayalah, tidak banyak orang yang masih mengenal teman lamanya dan menjadi dekat seperti biasanya. Sasuke-san juga begitu kan?"

"Iya, tapi Hinata-chan. kalau begitu, bagaimana dengan Shion-chan? Cukup buatku berfikir aku hanya teman biasa dimatanya," ujar Naruto dengan nada melemah.

"Itu baru perkiraan kita kan? Kita belum pernah mendengar baik Sasuke-san ataupun Shion-chan berkata begitu," Hinata mencoba menyemangati Naruto, itu usaha yang dilakukannya dari tadi.

"Perbuatan mereka menjelaskan semuanya," gumam Naruto. Cukup kuat untuk ditangkap oleh indera pendengaran Hinata.

"Maksudnya, Naru-chan?"

"Saat istirahat, aku pergi melarikan diri dari kalian ketaman. Aku tidak tahu bagaimana Sasuke bisa ada disana. Aku yakin aku menjauh darinya, itu karena aku tidak mau terjatuh lebih dalam. Kukira awalnya, Sasuke memberikan harapan, tapi anggapanku salah. Dia berdua dengan Shion ditaman . Sasuke tidur dikaki Shion," Naruto menceritakan semua yang ia alami ditaman belakang sekolah. Dengan terbata-bata dan jeda yang cukup lama di setiap kalimatnya.

Hinata mengelus punggung Naruto. Ia tetap melakukannya hingga dirasanya Naruto sudah cukup tenang.

"Sudahlah, lebih parah jika kau tidak menyampaikan perasaanmu." Saran Hinata. "Walaupun keadaannya begini,"

"Aku tidak mau,"

"Nande? Kau mau menyimpannya sendirian, Naru? Kalau begitu siap-siap kau kehilangan dia,"

"B..bukan begitu, aku mau dia menyadarinya sendiri." jawab Naruto sambil menundukkan kepalanya. semburat merah tercetak jelas di kedua pipinya.

Hinata tersenyum melihat Naruto. Yang pasti Hinata pernah merasakannya. Sekarang juga masih, sama dengan apa yang dirasakan oleh Naruto.

"Ya sudah, kalau begitu kau harus siap menunggunya. Kau yang tau persis sikapnya, dan kau pasti tahu berapa lama kau akan menunggunya," kata Hinata. Naruto mengangguk. Yah, soal Shion masih mengganggu pikirannya.

"Naruto, ingin kukabarkan berita baik?" tanya Hinata. Naruto mengerutkan keningnya.

"Apa Hina-chan? Kau jadian sama Kiba?"

"B..bukan itu! Tapi Naru-chan, selama hampir 2 bulan ini kau tidak pernah berantem lagi!"

"Ne? Sou desu ka?" tanya Naruto sambil berfikir. "Haha, benar juga ternyata" Naruto tersenyum lebar.

"Aku bisa begitu rupanya," Baiklah, kebiasaan buruk Naruto sudah bisa berkurang sekarang.

"Ja, ayo kita pulang Hinata-chan," kata Naruto bersemangat. Untung saja yang ada disebelahnya Hinata, setidaknya Hinata sudah sering menghadapi perubahan ekspresi Naruto yang sangat cepat.

"Ne Hinata-chan, arigatou gozaimasu,"

^SasuFemNaru^

"Sasuke-kun," panggil Shion cukup keras. Sasuke mendengus kesal dan langsung membekap mulut Shion ketika gadis dengan mata berwarna ungu itu mendekat. Shion memberontak, hingga bekapan dimulutnya terlepas.

"Ada apa?" tanya Shion setengah berbisik.

"Diamlah," Sasuke melanjutkan kegiatan awalnya. Berdiri didepan kelasnya sendiri. sebenarnya bukan itu yang ia lakukan, tetapi...

"Nande? Kau mau menyimpannya sendirian, Naru? Kalau begitu siap-siap kau kehilangan dia,"

"B..bukan begitu, aku mau dia menyadarinya sendiri."

... ini. Menguping pembicaraan kedua orang gadis yang ada didalam kelas. Siapa lagi kalau bukan Naruto dan Hinata.

Shion terus memperhatikan Sasuke. Sebuah senyuman tulus hadir diwajahnya. Senyuman yang jarang sekali terlihat diwajah stoic Uchiha bungsu itu.

"Ahh.. kau menguping, Sasuke-kun? Dasar kau ini. Kenapa tidak bilang sekarang saja? Nanti Naruto keburu diambil Gaara loh," Shion masih berkata setengah berbisik. Memanas-manasi Sasuke memang kegiatannya yang senang ia lakukan, walaupun dia akan mendapat balasan...

"Urusaii" dari Sasuke. Shion hanya terkikik setiap Sasuke berkata seperti itu.

"Sasuke, apa kita tidak apa-apa seperti ini?" tanya Shion yang baru sadar dengan posisi mereka. Tembok, Shion dan Sasuke. Dengan tangan Sasuke yang memagari kepala Shion dan kepala Sasuke yang mendekati tembok –supaya kegiatan mengupingnya lancar.

"Kenapa?" tanya Sasuke.

"Sasuke-san?" panggil Hinata. Mereka baru saja keluar dari kelas dan mendapat pemandangan yang bisa salah diartikan.

"Sasuke, jangan menoleh" perintah Shion berbisik.

"Ayo Hinata kita pulang," ajak Naruto dengan pandangan lurusnya.

"B..baiklah," Hinata menarik Naruto agar berjalan lebih cepat.

"Mati kau Sasuke," gumam Shion dengan wajah panik.

^SasuFemNaru^

"Naruto-chan, hentikan! Tanganmu sudah memar!" teriak Hinata. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan lagi. Hinata sudah terlalu panik melihat Naruto yang hanya diam dari tadi dan hanya meninju pohon dibelakang rumahnya. Hinata tahu masalahnya apa, ia hanya tak ingin membuat Naruto terluka –secara fisik.

"Naruto-chan, jangan begitu terus! Aku takut kau kenapa-kenapa," teriak Hinata lagi. Naruto berhenti, ia mengepalkan kedua tangannya dan menundukkan kepalanya. Nafasnya terengah-engah.

"J..jadi aku harus bagaimana Hinata-chan? a..aku harus bagaimana?" tanya Naruto dengan suaranya yang serak. Naruto berbalik, masih menundukkan kepalanya.

"K..kau bisa melampiaskannya dengan airmatamu, jangan siksa dirimu begitu Naru-chan," ucap Hinata. Naruto meringsut duduk. Isakannya terdengar cukup jelas.

"Sudah, keluarkan saja apa yang ingin kau keluarkan," kata Hinata duduk disamping Naruto sambil mengelus punggungnya.

"Aku hanya tidak kuat melihat mereka begitu didepan mataku,"

"Aku tahu Naruto. Tapi, tolong jangan lukai dirimu," kata Hinata lembut. Hinata masih duduk disana hingga tangisan Naruto berhenti.


"Ah, gara-gara menangis mataku jadi sakit," gumam Naruto. Ia berdiri didepan kaca besar dikamar Hinata. "Mana jadinya bengkak lagi," gerutunya lagi.

"Bagaimana tanganmu Naruto-chan?" tanya Hinata. Naruto menatap tangannya yang sudah diobati oleh Hinata, bekas memarnya terlihat jelas, apalagi diruas tangannya.

"Aku menyesal memukul pohon itu," jawab Naruto sambil mengangkat tangannya.

"Tanganmu jadi sakit 'kan?"

"Bukan. Nanti kalo pohonnya marah trus balik mukul aku gimana?" Hinata tertawa kecil mendengar pertanyaan Naruto.

"Itu tidak mungkin terjadi, Naru-chan"

"Memang sih. Tapi Hinata-chan, rasanya sakit" ujar Naruto meniup bekas memar yang sayangnya ada dikedua tangannya.

"Masih mau mukulin pohon lagi?" tanya Hinata. Naruto duduk ditepi ranjang disebelah Hinata duduk.

"Kalau sakitnya nggak separah itu sih aku mau lagi," jawab Naruto polos dengan cengiran rubahnya.

"Kau ini,"

"Aww, ittai Hinata-chan" ringis Naruto ketika pipinya dicubit oleh Hyuuga sulung yang juga teman baiknya itu.

"Jadi memar ama bengkaknya masih lama hilangnya?" tanya Naruto.

"Tidak untuk bengkaknya tapi, iya untuk memarnya," jawab Hinata.

"Perlu perban nggak?"

"Kalo kamu mau,"

"Mau! Tapi besok aja ya Hinata-chan,"

"Oke,"

Entah apa yang dipikirkan oleh Hinata tentang teman pirang disebelahnya. Moodnya yang mudah berubah. Kadang ia marah, sedih kemudian senang seakan tak ada yang terjadi sebelumnya. Dan kadan Hinata juga bingung, bagaimana Naruto menyembunyikan perasaannya serapih itu.

^SasuFemNaru^

Naruto`s PoV

"Aku nggak yakin bisa nulis kalo kayak gini," ujarku. Kedua tanganku sudah diperban oleh Hinata. Rasanya sakitnya lumayan menghilang, tapi rasa kakunya datang.

"Ah, gomen Naruto. Apa terlalu kuat perbannya?" tanya Hinata khawatir.

"Bukan, bukan perbannya. Tapi, tangannku sakit kalo ditekuk," jawabku sambil memegang belakang kepalaku.

"Sokka, jadi bagaimana?" tanya Hinata lagi.

"Um.. dipaksain nulisnya. Lagian salah aku juga kan," ujarku mengangkat bahuku. Jadi nggak enak ama Hinata-chan. Dari pagi tadi ngerepotin mulu. Jadinya, Hinata yang merapikan rambutku. Dia membuat rambutku jadi tersanggul dan masih menyisakan poniku.

"Ne, Hinata-chan. Nggak ad pr kan hari ini?"

"Nggak ada kok," jawab Hinata. Dan kamipun sampai dikelas. Masih sedikit yang datang. Hinata-chan terlalu rajin mungkin datang pagi-pagi.

Aku duduk ditempat dudukku. Mengeluarkan mp3 player beserta lagu mungkin kegiatan yang cocok pagi ini. Aku menoleh kesebelah tempat dudukku. Ah, aku melupakan sesuatu. Sasuke duduk disebelahku.

Aku tersenyum getir. Sudah hampir 2 minggu Shion-chan berada disini dan sejak saat itu aku juga tidak berani lagi menatap Sasuke. Bicara padanya juga tanpa tatap mata. Ada-ada saja yang kualihkan agar aku tidak lama-lama bicara padanya.

Dan sekarang bagimana? Setelah kejadian kemaren. Aku tidak bisa berkata Sasuke dan Shion sedang berbuat sesuatu yang macam-macam kemaren. Tapi kalau benar bagaimana? Apa aku harus selalu menghilang dihadapannya agar aku tidak menangis lagi? Entahlah, aku tidak ingin memikirkannya.

End of Naruto`s PoV


Sasuke`s PoV

"Jadi bagaimana dengan Naru-chan?" tanya Shion.

"Entahlah," jawabku. Aku masih mengingat nada bicaranya yang dingin, itu baru pertama kali aku dengar.

"Ini semua salahku, iya 'kan?" tanyanya lagi. Aku menoleh kearah Shion.

"Tidak sepenuhnya," jawabku singkat.

"Jadi kita harus bagaimana?"

Sebenarnya ini semua salahku. Aku membiarkan isu itu berkembang dan juga aku hanya memendam perasaanku. Kesalahpahaman ini karena aku.

"Lihat itu, Sasuke-kun" Shion menunjuk kearah tempat dudukku. Ah bukan, siapa yang duduk disebelahku. Ya, itu Naruto. Dalam hati aku hanya tersenyum. Apa karena aku dia kurang tidur sampai dia tertidur? Baiklah, aku mulai berharap terlalu jauh.

"Kau bisa mengucapkan maafkan? Ayo sekarang minta maaf," kata Shion mendorong punggungku.

Dia pikir aku apa? Aku tidak sesombong itu sampai tidak bisa meminta maaf. Perlahan, aku berjalan kearahnya. Wajahku masih saja bisa datar, tapi sebenarnya jantugku sedang berdetak cepat. Kemungkinan terburuk yang terjadi adalah, Naruto tidak mau lagi menganggapku teman.

Aku meletakkan tasku dimeja dan menggeserkan bangkuku mendekat kearah Naruto. Sama seperti pertama aku melihatnya. Aku mendekatkan wajahku kearahnya. Satu bagian headsetnya sudah terlepas. Dengkuran halus yang kudengar. Dia benar sedang tetidur. Aku mencoba mengelus tengkuknya. Tumben rambutnya tidak diikat. Melihat ada pergerakan –mungkin dia terganggu aku mengembalikan posisi bangkuku dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.

Naruto terbangun. Ia menguap sebentar dan mengangkat tinggi-tinggi kedua tangannya.

"Huah, aku tertidur. Baiklah, kenapa ada list lagu galau disini?" gumamnya sambil menunjuk-nunjuk mp3 playernya. Aku terkekeh, sikapnya benar-benar konyol. Tapi itulah salah satu bagian yang membuat aku menyukainya. Dia baru menyadariku ketika dia menoleh kearahku. Benar-benar gadis ini.

"Sekarang jam berapa? Sudah masuk makan siang?" tanyanya polos. Aku menyentil hidungnya dan dia meringis.

"Sekarang baru jam setengah 8, dobe" jawabku. Dia mengangguk dan meregangkan otot-otot lehernya. "Baka dobe," gerutuku.

"Ada apa dengan tanganmu?" tanyaku memengang tangannya yang diperban. Baikalh, ada apa dengan tangannya? Jangan bilang dia habis berkelahi.

"T..tidak ada apa-apa," jawab Naruto gugup. Wajahnya terlihat panik, dan aku yakin dia menyembunyikan sesuatu.

"Dobe, ada apa dengan tanganmu?" tanyaku lagi. Aku tidak bisa menahan rasa panik dan khawatirku.

"Aku hanya memar ketika olahraga," nada suaranya terdengar melemah. Ayolah, jangan buat aku tambah panik.

"Itu tidak mungkin dobe. Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi!" kataku dengan nada memerintah. Jika memang dia berkelahi, akan kupastikan lawannya mendapat bagian yang lebih parah.

"Itu benar, teme. Kau tidak percaya?" tanya Naruto balik. Ia melepaskan tangannya. Dan berjalan keluar dari kelas.

Yah, ini yang kutakutkan. Dia salah paham dan menjauhiku.

End of Sasuke`s PoV

^SasuFemNaru^

"Naruto, ada yang ingin kubicarakan. Bisa ikut denganku keatap?" pinta Gaara. Semua teman-teman Naruto tersenyum menggoda –kecuali Hinata.

"Baiklah. Ino, tolong bayarkan ramenku yah. Aku tidak minta traktir loh," kata Naruto.

"Aku pergi dulu minna," kata Naruto dengan senyumnya.

"Ciee yang mau jadian," goda Sakura.

"Dasar," gerutu Naruto.

..


"Mau menungguku atau kau langsung keatap?" tanya Shion.

"Aku keatap saja," jawab Sasuke. Shion mengangguk.

"Mau nitip sesuatu?"tanyanya lagi. "Ck dasar," gerutu Shion ketika sang lawan bicara sudah melarikan diri.

Shion berjalan dengan gerutuannya sampai ia berhenti di papan mading.

"Wah wah, ada prom night? Pesta topeng? Dan pasangan? Baiklah, kelihatannya menarik sekali," gumam Shion. Ia kembali berjalan kekantin.

"Itu pacar Sasuke? memang dia cantik sih, tapi dia sombong,"

"Dia mengambil Sasuke dari kita," kata salah satu fans Sasuke yang terdengar oleh telinga Shion.

"Cih, aku sudah tidak tahan,"

..


"Hwa.. langitnya bagus banget. Anginnya juga sepoi-sepoi," ujar Naruto. Gaara tersenyum. Memang memulai itu menyusahkan –pikirnya.

"Langitnya benar-benar cerah," lanjut Gaara.

"Seharusnya aku tidur disini, bukan dikelas" gumam Naruto

"Naruto sebenarnya ada yang ingin kukatakan padamu," kata Gaara.

"Yah, silahkan. Kau mau bilang apa?"

"Begini,"

...


"Hey semuanya dengarkan aku!" teriak Shion. Ia menaiki meja yang kosong dikantin. Perbuatannya pasti membuatnya menjadi pusat perhatian dikantin.

"Aku sudah muak dengan kalian semua yang menuduhku sembarangan. Ah, aku bingung dengan kalian. Enak saja menyimpulkan sesuatu," geram Shion. Semuanya beralih melihat Shion, tak terkecuali Hinata, Sakura, Ino dan Ten-ten.

"Aku ingin bilang kalau aku bukan pacar Sasuke! Cam kan itu baik-baik!" teriak Shion. Fans girl Sasuke berteriak histeris. Banyak siswa-siswa yang tersenyum karena kesempatannya terbuka untuk mendapatkan Shion.

"Jadi mulai sekarang jangan pernah mengatakan aku pacaran lagi dengan Sasuke! Enak saja menyimpulkan tanpa bukti,"

..


Sasuke lagi-lagi menuping pembicaraan Naruto. Sayang kali ini Naruto bersama Gaara, bukan Hinata.

"Begini. Uhm, selama ini aku suka padamu. Kau mau jadi pacarku?" kalimat Gaara yang terdengar oleh Sasuke dari luar.

Sasuke menggeram kesal. Ia masih menunggu apa tanggapan Naruto, sudah beruntung pintu atap itu tidak hancur oleh Sasuke.

"A..apa? Kau bilang apa Gaara?"

"Kau mau jadi pacarku?" Sasuke mengepalkan kedua tangannya, amarahnya tidak bisa ia bendung lagi.

"Sasuke ada apa?" tanya Shion pelan. Ia menjauhkan jaraknya ketika merasakan aura Uchiha bungsu yang begitu gelap dan juga ketika ia menatap mata onyx yang menyiratkan kemarahan.

"A... ano..."

"Aku mau..."

"Kita pergi dari sini," ujar Sasuke dingin. Ia mencengkram tangan Shion kencang dan pergi dari pintu atap.

"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Shion

To Be Continue

Moshi-moshi minna!

Alhamdulillah banget bisa update. Update disaat-saat mau masuk sekolah. Haha..

Gomennasai minna-chan, Cha baru bisa update. Cha belum bisa beradaptasi dengan kehidupan SMA yang ternyata lebih sibuk,

Gomen juga ceritanyajadi begini. Minna-chan masih inget aja, Cha udah bersyukur banget.

Apa tanggapan Minna-chan ama chappi 4 ini? Pantas dilanjutin?

Mudah-mudahan minna-chan nggak bosan ama cerita ini, apalagi ama panjangnya. Mudah-mudahan juga chappi ini nggak ngecewain ya..

Baiklah, Cha mau bales review dari minna yang nggak log in dulu. Seperti biasa, yang log in, Cha bales lewat pm

Kiha : chappi ini udah ketauan kan? Pasti deh, sasunarunya bahagia ^^. Mind to review again?

Resha : makasih pakek banget ^^ nih udah update. Review lagi ya...

Waw :kenapa reviewnya banyak? *plakk. ne, panggil Cha aja.. belum pantes buat dipanggil senpai. Ini udah dilanjutin. Review lagi ya..

Hyuuga Dewa ET : jangan hyuuga-san, Cha aja bingung :3*plakk* review lagi nyo~

Ymd : ini udah dilanjutin, udah tau kan Shion siapa? Review lagi please.. :3

..

Nyahaha.. udah ah cuap-cuapnya. Arigatou yang udah baca, review dan jadi silent reader. Makasih banget udah buang waktunya buat baca fic Cha.

So, Cha pamit dulu.. jangan lupa review ya minna-chan..

Jaa ne.. sampai jumpa di chappi selanjutnya ^^

Kitten 'Cha'