Readers, saya menyadari bahwa BANYAK KESALAHAN KATA MAUPUN TULISAN YANG SAYA KETIK DI CHAPTER 3! Sungguh, betapa bodohnya saya ini. Maklum, saya ng-edit-nya cuma sekali. Biasanya sampe tiga kali gitu. Saya itu sampe malu setengah mati! Tahukah Anda di mana letak kesalahan saya? Kalimat: Sakura memasukkan tas-nya ke dalam tas bla bla bla… Itu harusnya HP-nya yang dimasukin! Bukan tasnya! Ugh! Sungguh malu diriku, tahu? So, maafkan saya atas keteledoran saya yang sangat parah. Anda boleh mengejek saya. Anda boleh bilang kalo bodoh. Karena itu memang benar! Sekali lagi, saya minta maaf ya? *blush* Maap… Maap sekaliiii….. *bungkuk2* Saya janji akan lebih teliti lagi dalam mengetik.

Terima kasih buat yang sudah mengoreksi kesalahan2 yang ada di chapter 3. Terutama buat Rizuka Hanayuuki, yang sudah mengkoreksi kesalahan saya. Terima kasih, Rizuka-san… Berarti mata Anda lebih baik dari mata saya. Pertahankan mata Anda, karena mata Anda sangat sempurna dan indah pastinya. Dan kalau meng-edit jangan seperti saya yang cuma sekali. Oke? (Malah ceramah).

Selamat membaca… (ujung2nya gaje *plak*)

A Choice

Naruto by: Masashi Kishimoto

-Chapter 4: Kisah Baru Dimulai-

Sakura menatap dua permata indah yang ada di depannya, begitupun dengan Sasuke. Mereka berdua saling menatap, saling bertukar pandang, tentu saja dalam keheningan. Wajah Sakura sedikit memerah karena jarak antara wajahnya dengan wajah Sasuke cukup dekat. Dan kalau boleh author bilang, Sakura sempat terpesona juga melihat wajah Sasuke yang tampan dari dekat. Oh, tapi ayolah. Sakura kan sudah punya kekasih. Jadi, untuk apa ia terpesona dengan Sasuke? Seharusnya ia lebih terpesona dengan wajahnya Naruto, bukannya Sasuke.

"Maaf," kata Sasuke datar sambil membantu Sakura untuk berdiri dengan baik kembali, walaupun dengan terpincang-pincang.

"Iya, tidak apa-apa," jawab Sakura sambil merapikan pakaiannya yang terlihat sedikit berantakan. "Oh, ya, kalau tidak salah kau kan orang yang beberapa hari yang lalu menyerempetku itu, kan?" tanya Sakura memastikan.

"Hm," jawab Sasuke singkat.

"Kau sekolah di sini rupanya?"

"Hm," jawab Sasuke dengan singkat lagi. Hah, kalau perlu tidak usah menjawab sekalian. Dari tadi jawabannya hanya hm dan hm.

"Oh… Kau beruntung bisa bersekolah di sini. Sekolah yang besar. Ng, ya sudah, ya? Aku mau ke toilet dulu. Sampai jumpa."

Sakura berlalu meninggalkan Sasuke yang masih berdiri mematung di sana. Ia pergi menuju toilet untuk menuntaskan 'panggilan alam'nya. Dan setelah selesai, ia menuju ke wash truffle dan mencuci tangannya sampai bersih. Dihadapannya telah terpampang sebuah cermin yang besar yang terlihat begitu bersih dan mengkilap. Iapun mendongakkan wajahnya ke cermin dan menatap pantulan dirinya yang manis itu.

"Aku akan menjadi guru untuk anak tadi?" gumam Sakura pada dirinya sendiri, masih dengan menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. "Jadi, dia akan jadi muridku? Tapi kenapa sepertinya ada yang aneh, ya? Dia terlihat sebaya denganku. Apa jangan-jangan dia memang sebaya denganku? Ah, sudahlah. Kenapa aku jadi berpikir begitu? Aku tidak perlu memikirnya. Lebih baik aku segera kembali pada Ino atau aku benar-benar akan ditingalkan orang itu."

~A Choice~

Paginya, Sakura kembali datang ke Xerryone High School. Ia menuju ke ruang kepala sekolah dan berbincang-bincang sejenak dengan Maito-sama untuk mendapatkan pengarahan dari kepala sekolah berambut mangkok tersebut. Setelah selesai, barulah Sakura dan Maito-sama menuju ke kelas 3-7 yang berada di lantai paling atas dan paling ujung. Huft, cukup melelahkan juga untuk bisa sampai di kelas itu.

Maito-sama mengetuk pintu kelas 3-7 sebanyak tiga kali, kemudian masuk ke sana diikuti Sakura. Suasana tenang dan sunyi langsung menyelimuti kelas itu. Sakura dan Maito-sama berdiri di depan kelas dengan senyum tipis yang tersungging. Sebanyak 29 siswa di kelas 3-7 duduk dengan manis dan sopan mengetahui kepala sekolah mereka beserta seorang gadis asing masuk ke kelas mereka. Wajah mereka terlihat tegang, namun ada juga yang terlihat santai.

Sakura memperhatikan satu per satu wajah calon muridnya. Ada ayang wajahnya cantik, manis, tampan, menakutkan (?), ada yang culun, dan masih banyak lagi. Namun matanya berhenti memperhatikan wajah-wajah tadi ketika didapatinya sebuah wajah yang ia kenal dan ia tahu. Ia tak asing lagi dengan wajah itu. Sungguh, soalnya itu wajah Uchiha Sasuke. Wajah orang yang sudah menyerempetnya dan yang sudah menolongnya kemarin sewaktu ia hampir jatuh. Oh, bertemu lagi rupanya.

'Jadi, dihari percobaanku mengajar, aku akan mengajar dia?' tanya Sakura dalam hati.

"Selamat pagi, anak-anak," sapa Maito-sama, yang disusul jawaban keras dari murid-murid kelas 3-7. "Di jam pelajaran saat ini akan diisi bahasa Inggris. Nanti untuk lebih jelasnya nanti akan dijelaskan oleh wanita cantik di sebelah saya."

Sakura sedikit tersipu ketika dibilang cantik. Oh, tapi itu benar, kan? Sakura memang cantik. Itu sih menurut Maito-sama. Entah bagaimana menurut kalian.

"Baiklah," Sakura memulai, "sebelumnya perkenalkan, nama saya Haruno Sakura, umur 23 tahun dan tinggal di The Diamond Apartment. Sebenarnya saya tinggal di Amegakure, tapi saya ke Konoha untuk mencari pekerjaan. Sebelumnya, saya ingin memberitahukan bahwa sebenarnya saat ini saya hanya percobaan mengajar pada kalian karena saya melamar bekerja di sini dan harus melalui tes. Jadi, ini bukan hari pertama saya, tapi hanya sebuah tes. Kalau saya diterima, saya akan mengajar kalian untuk seterusnya. Itu saja yang bisa saya sampaikan. Ada yang ingin bertanya?"

Salah satu murid laki-laki langsung angkat tangan setelah Sakura bertanya apakah ada yang ingin bertanya. Murid itu terlihat bersemangat sekali ketika angkat tangan.

"Apakah Haruno-san sudah punya pacar? Kalau belum, mau jadi pacar saya? Saya orangnya setia, kok," tanya laki-laki itu, yang disambut tawa dari murid-murid yang lain. Namun ada juga yang bersorak 'hu' dengan suara yang keras. Sakura hanya bisa diam sambil senyum-senyum saja. Walaupun murid lain tertawa, tapi siswa berambut emo dari klan Uchiha yang duduk di barisan paling belakang itu diam saja dan tidak mempedulikannya. Wajahnya begitu datar dan ia duduk sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ia jadi lebih mirip dengan patung.

Sakura tersenyum tipis, lalu menjawab pertanyaan murid laki-laki itu, "Iya. Saya sudah punya pacar. Jangan patah hati, ya?"

Wajah murid laki-laki itu langsung merengut dan terlihat kecewa. Tapi Sakura hanya bisa (sekali lagi) tersenyum.

"Oke, saya tidak akan memanggil kalian semua anak-anak, tapi saya akan memanggil kalian teman-teman. Jadi, anggap saja kalau kita sebaya. Kita semua sama dan tidak ada yang berbeda, walaupun saya memang lebih tua dari kalian. Untuk memanggil, cukup panggil Sakura-san saja. Kalau panggil sensei juga tidak apa-apa. Tapi aku lebih suka dipanggil Sakura-san," kata Sakura panjang lebar.

"Baiklah, semuanya," Maito-sama ganti berbicara. "Sekarang kalian akan menikmati pelajaran bahasa Inggris kalian bersama dengan Nona Haruno Sakura untuk kali ini. Aku harap kalian semua bisa cepat akrab dengannya, ya? Jaga kelas dan jaga sikap kalian. Jangan ramai dan perhatikan terus apa yang dia ajarkan pada kalian. Mengerti?"

"Mengerti, Maito-sama," jawab murid-murid kelas 3-7 serentak, kecuali si Uchiha yang masih diam seperti patung itu.

"Oke, kalau begitu aku undur diri dulu. Mari, Haruno-san," Maito-sama undur diri pada Sakura, dan Sakura mengangguk pelan dengan sedikit membungkuk.

"Nah, teman-teman sekarang aku ingin agar kalian mengeluarkan buku tulis kalian," perintah Sakura pada calon muridnya itu. Murid-murid kelas 3-7 langsung mengeluarkan buku tulis mereka dengan serentak. Namun, pemuda Uchiha yang duduk di bangku paling ujung itu masih diam dalam posisi duduknya dan tidak bergerak sama sekali. Maito-sama yang memperhatikan dari luar kelas hanya bisa geleng kepala melihat tingkah si Uchiha itu.

"Hari ini saya akan menjelaskan pada kalian semua tentang Phrase. Saya tahu mungkin kalian semua sudah pernah diajarkan tentang phrase, tapi saya akan mengulangnya lagi pada kalian agar kalian ingat terus. Oke, jadi yang dimaksud dengan phrase adalah…"

Sakura berhenti berkata setelah ia melihat si Uchiha itu hanya diam dan tidak melakukan apa-apa. Mata onyx Uchiha itu memperhatikan langit biru yang cerah dengan asyiknya. Ia sama sekali tidak memperhatikan apapun yang dikatakan Sakura. Coba kalian tanya apakah yang akan diajarkan oleh Sakura hari ini, pasti dia tidak tahu. Si Uchiha itu memang memiliki sikap yang buruk. Pada orang tuanya saja dia berani, apalagi dengan guru yang umurnya muda seperti Sakura?

Sejujurnya, Sakura merasa sakit hati dengan sikap Sasuke yang kurang ajar begitu. Bagaimana mungkin tidak? Ia sudah bicara panjang lebar tapi tidak dihargai. Kalau kalian Sakura, kalian pasti juga sakit hati, bukan?

"Ehem…" Sakura berdehem, sebagai isyarat agar Uchiha Sasuke memalingkan wajahnya. Tapi percuma. Pemuda itu pura-pura tidak dengar walaupun ia dengar. Ia masih asyik menagumi langit biru yang indah dan cerah di pagi hari yang hangat ini.

"Anda yang duduk di bangku paling belakang dan paling ujung. Bisakah wajah Anda menghadap ke depan?" kata Sakura dengan penuh kesabaran. Sasuke menghela nafas sejenak dan mengalihkan wajahnya kepada Sakura. Ia menatap gadis berambut pink itu dengan tatapan mata datar. Dan dengan sangat tidak sopan, Sasuke menjawab, "Kau bicara padaku, ya?"

Sakura serasa dihantam batu yang besar. Ia malah berubah menjadi emosi ketika mendengar jawaban yang tidak mengenakkan di telinga dari Sasuke. Namun ia tetap mencoba untuk sabar dan mengontrol emosinya. Sabaaaaar. Ini kan masih percobaan. Jadi, emosinya ditahan dan disimpan terlebih dahulu. Kalau mau marah, besok saja kalau sudah diterima jadi guru.

"Tentu saja denganmu. Memangnya, aku berbicara dengan tembok?" jawab Sakura kesal. "Sekarang keluarkan bukumu dan catat hal-hal penting yang kukatakan. Cepat."

"Hah, tidak ada hal penting yang perlu kucatat. Semuanya tidak berguna."

Sakura semakin bertambah emosi, namun ia tetap berusaha untuk menahannya. Ia hanya tidak mau cepat tua hanya karena menghadapi orang macam Sasuke seperti itu. Sekali lagi ia akan mencoba dengan cara yang halus. Kalau dengan cara yang halus ia masih belum bisa diberitahu, terpaksa harus dengan cara yang kasar.

"Kalau malas, kau bisa keluar dari kelas ini sekarang juga. Aku tidak mau ada murid yang malas saat aku mengajar, terutama orang yang seperti kau," kata Sakura, sedikit mengancam.

"Oke. Tanpa kau suruhpun aku juga sudah akan keluar. Terima kasih sudah menyuruhku keluar. Aku bebas sekarang."

Sasuke berdiri dari bangkunya dan beranjak pergi dari sana. Ia berniat keluar kelas seperti yang dikatakan Sakura. Ketika ia berjalan melintasi Sakura, ia menyeringai tipis pada gadis itu. Seringaian yang lumayan menusuk. Dan setelah itu, ia benar-benar keluar dari kelas.

Sakura mendengus kesal dan melipat kedua tangannya di depan dada. Emosinya yang tadi menggebu-gebu kini semakin berkurang. Sabarlah, Sakura. Sabaaar, kata Sakura, menyabar-nyabarkan dirinya sendiri.

"Ng, sensei," panggil salah seorang murid perempuan berambut cokelat semu oranye panjang yang diketahui bernama Sasame.

"Iya?" jawab Sakura singkat.

"Kalau menurutku, lebih baik sensei jangan menyuruhnya untuk keluar dari kelas. Justru itu malah menguntungkan untuknya. Dia bisa bebas dan bolos. Sifat Uchiha Sasuke memang seperti itu."

"Ya, aku tahu. Sudah kelihatan sekali dari cara dia bersikap, berbicara, dan juga menatap. Tapi untuk saat ini aku ingin agar dia keluar daripada mengganggu pandangan mataku. Namun aku menghargaimu juga. Terima kasih banyak, ya?" balas Sakura.

Jadi namanya Uchiha Sasuke? Hm… Setahuku Uchiha itu sebuah klan yang sangat dihormati dan disegani di Konoha. Tapi kenapa sikapnya seperti itu?

"Oke, kita lanjutkan kembali pelajaran kita. Jadi, phrase adalah…"

Sakura kembali melanjutkan penjelasannya yang tadi sempat terputus karena melihat sikap Sasuke yang membuat mata sakit. Ternyata, gadis itu cukup semangat juga mengajar di kelas 3-7. Karena dia semangat, murid-murid yang diajarnyapun juga semangat. Tapi sesekali, Sakura juga marah-marah dan menegur beberapa orang murid yang ramai sendiri. Ah, namun tak apa. Toh suasana kelas juga sedikit berbeda ketika Sakura berada di sana.

~A Choice~

"Terima kasih untuk hari ini, Haruno-san. Saya senang sekali dengan cara Anda mengajar," kata Maito-sama pada Sakura ketika ia selesai mengajar. Saat ini mereka berdua sedang berada di kantor kepala sekolah, dan Sakura sedang menerima evaluasi dari si kepala sekolah.

"Iya, Maito-sama. Saya juga banyak berterima kasih karena boleh diberi kesempatan untuk di-tes sebelum akhirnya saya dapat mengajar di sini." Sakura sedikit membungkuk.

"Tentu saja, Haruno-san. Tapi lain kali kalau mengajar jangan galak-galak, ya? Tadi itu Anda terlalu keras menegur muridnya," tegur Maito-sama pada Sakura, karena tadi sewaktu mengajar Sakura terlihat galak dan sadis (?).

"Benarkah?" Sakura seperti tidak percaya. "Oh, kalau begitu saya minta maaf. Saya janji lain kali tidak akan segalak itu. Soalnya tadi saya terbawa emosi."

"Ya, tidak apa-apa. Saya bisa mengerti, kok."

"Jadi, bagaimana? Apakah saya diterima mengajar di sekolah ini?"

"Kalau untuk diterima atau tidaknya, bersabarlah sebentar. Nanti saya akan memberitahukannya pada Anda. Anda tidak perlu khawatir. Saya juga berharap Anda diterima. Hal ini akan saya rapatkan dulu dengan guru-guru yang lain."

"Iya, Maito-sama. Kalau begitu saya mau pulang dulu."

"Oh, iya. Hati-hati di jalan, ya?"

"Iya, Maito-sama."

Sakura berlalu meninggalkan ruangan Maito-sama dan menuju ke gerbang XHS untuk pulang dengan taksi dan menyetopnya dari sana. Namun sepertinya, ia tidak perlu melakukan hal merepotkan itu, karena tepat di dekat gerbang XHS, seseorang yang dengan gaya sok cool-nya sedang menunggu dirinya di bawah sinar terik matahari. Orang itu berdiri, bersandar pada pintu mobil sambil melipat kedua tangannya di depan dada, dan berpose dengan gaya keren dan memasang tampang sok cool yang kalau dilihat aneh sekali.

Sakura berjalan mendekati seorang pemuda yang menunggunya itu. Dan ketika ia dan pemuda itu sudah dekat, iapun menyapa sambil tersenyum, "Hai?" Dan kemudian ia bercipika-cipiki sebentar dengan si pemuda. "Ada apa kemari?" tanya Sakura.

"Memangnya aku ke sini untuk apa?" tanya orang itu.

"Aku tidak tahu. Mungkin saja kau ke sini untuk mencari keponakanmu atau saudaramu. Benar, tidak?" Sakura mencoba menebak. Tapi tebakannya salah. Oh, ayolah. Masa' dia tidak tahu apa maksud kedatangan orang itu?

"Hah, kau ini. Ternyata susah juga punya kekasih yang telmi seperti kau," gumam orang itu, menyindir Sakura.

"Kau bilang aku telmi?" teriak Sakura. Yeah, sekedar bercanda.

"Eh? Tidak, kok. Aku kan hanya bercanda. Kalau kau telmi, bagaimana mungkin kau bisa jadi guru di sekolah elit begini?"

"Hah, kau ini. Aku kan belum jadi guru. Masih dalam masa percobaan. Berarti, aku pintar, kan, Naruto?"

Oh, ternyata dia, Uzumaki Naruto, kekasih hatinya Haruno Sakura. Benar Uzumaki Naruto, atau yang biasa dipanggil Naruto, berutubuh tinggi, kulit putih, dan berambut pirang yang bentuknya aneh, yaitu mirip bentuk kulit buah durian. Ia adalah seorang manager di sebuah perusahaan besar yang dikelola oleh ayahnya sendiri. Kaya? Oh, sudah pasti.

Naruto dan Sakura sudah menjalin hubungan selama kurang lebih 8 tahun. Hubungan cinta mereka dimulai ketika mereka kelas 1 SMA. Asal readers tahu saja, dulu waktu SMA, Naruto dan Sakura lengket sekali. Mereka tidak bisa dipisahkan, bagaikan cat dengan temboknya. Kalaupun dipisahkan, mereka pasti akan menempel lagi. Sungguh, kedua orang itu memang mirip seperti amplop dengan perangko.

"Iya, iya. Kau pintar. Ya sudah, kalau begitu sekarang cepat kau masuk ke dalam mobilku. Aku akan mengantarmu pulang," kata Naruto.

"Pulang? Kau hanya mengantarku pulang?" ujar Sakura yang sepertinya ia protes terhadap perkataan Naruto. Ia terlihat tidak begitu puas dengan ucapan kekasihnya. Sepertinya ia meminta sesuatu hal yang lebih daripada sekedar pulang ke apartemen.

"Tentu saja pulang. Memangnya mau ke mana lagi?"

Sakura sedikit menggembungkan kedua pipinya. Dan dengan sedikit manja, ia menjawab, "Ya harusnya kau tidak mengantarku pulang. Kau kan bisa antar aku ke mall, ke restoran, ke taman, jalan-jalan, dan kita kencan bersama. Masa' kau hanya mengantarku pulang? Kan tidak romantis."

Naruto tertawa kecil setelah Sakura berkata demikian. Iapun mengusap-usap kepala Sakura dengan lembut. Sekalian saja, ia juga mengacak-acak rambut gadisnya itu. "Kau ini. Kupikir apaan. Jadi kau ingin agar aku mengantarmu ke mall? Oke, baiklah. Kalau begitu aku akan mengantarmu ke mall sekarang juga. Bagaimana? Kau senang, kan?"

"Eh? Kau benar-benar akan mengantarku ke sana? Naruto, aku hanya bercanda, kok. Aku tidak sungguhan," kata Sakura yang kemudian menolak untuk pergi ke mall. Ah, dasar Sakura. Jangan plin-plan dong.

"Tidak apa-apa. Lagipula kemarin aku juga baru gajian, jadi aku bisa belikan apapun yang kau mau. Sudah, sekarang cepat kau masuk ke mobil dan kita ke mall."

"Naruto, aku merepotkanmu, tahu?"

"Aku tidak merasa direpotkan. Sudahlah. Merepotkan atau tidak pokoknya sekarang aku akan mengantarmu ke mall. Ayolah, Saku-chan. Aku kan juga sudah jarang mengajakmu jalan-jalan begini," kata Naruto sedikit memaksa. Ingat, ya? SEDIKIT.

"Oke, oke. Kalau memang itu maumu, why not?" Sakura menyerah, dan menerima ajakan Naruto untuk pergi ke mall. Naruto tersenyum lebar, puas karena akhirnya bisa membujuk Sakura juga. Dan setelah itu, ia mempersilakan Sakura untuk masuk ke dalam mobilnya dan menuju ke mall ternama di Konoha, yaitu Xelantiqua Mall, sequel dari Xelantiqua Café.

Dan sementara itu, di kelas 3-7, murid-murid yang sebanyak 29 itu, sedang asyik membicarakan Sakura dan cara mengajarnya bersama dengan sang kepala sekolah, Yang Mulia Maito Guy. Antara kepala sekolah dan murid, mereka serius berdebat untuk menentukan apakah Sakura lulus uji coba atau tidak. Kalau misalnya lulus, maka Sakura bisa mengajar di sana. Kalau tidak, ya tetap tidak bisa mengajar dong.

"Menurutku, Sakura-san orang yang menyenangkan. Jadi kurasa tidak ada salahnya kalau dia diterima di sini. Soalnya aku jadi lebih mengerti tentang bahasa Inggris ketika dijelaskan oleh Sakura-san daripada guru yang lain," komentar salah satu murid perempuan yang ada di kelas 3-7, tentang Sakura.

"Iya, Pak Kepala Sekolah. Saya setuju. Soalnya, gurunya cantik. Nanti aku bisa tambah semangat mengikuti pelajaran bahasa Inggris!" sahut siswa laki-laki dengan penuh semangat, yang akhirnya mendapat sorakan 'hu' yang keras dari siswa yang lain, kecuali siswa yang duduk di paling belakang ujung kanan dekat jendela kelas yang kerjaannya dari tadi hanya diam saja sambil memandangi langit. Heran, apa dia tidak bosan setiap jam pelajaran memandangi langit terus? Apa dia benar-benar kagum dengan ciptaan Tuhan yang besar berwarna biru itu? Ckckck.

"Aku tidak setuju! Soalnya dia galak!" sahut yang lain lagi.

"Ia galak karena kau nakal," tambah yang lain.

Dan tiba-tiba, kelas berubah menjadi gaduh setelah 28 siswa (karena yang duduk di pojok belakang sana tidak ikut-ikutan) kelas 3-7 beradu argumen untuk menentukan apakah Sakura diterima mengajar atau tidak. Maito-sama yang merupakan kepala sekolah di sana merasa dianggap tidak ada oleh murid-murid. Ia malah dicuekin oleh murid-muridnya sendiri. Mereka masih sibuk ber-argumen, sibuk dengan pendapatnya masing-masing. Bahkan karena ada yang pendapatnya tidak digubris sama sekali, salah satu murid sampai membentak-bentak dan terbawa emosi. Waduh, terlalu berlebihan dia. Berlebihan abiez! Tidak hanya membentak-bentak, menggembrak mejapun sampai ada.

Maito-sama sebagai kepala sekolah yang merasa tidak dihargai langsung berkata dengan suara berat dan keras, "Diam dan tenanglah!" Dan sedetik kemudian, kelas menjadi sunyi senyap. Ke28 murid itu langsung duduk kembali di bangku mereka masing-masing dengan sopan. Hm, ternyata Maito-sama yang aneh itu bisa galak juga. Wajah murid-murid saja sampai terlihat tegang.

"Aku hanya meminta kalian untuk berkomentar bukan berdebat sendiri-sendiri. Kalian ini memalukan sekali. Apakah kalian tidak bisa tenang seperti Sasuke, hah?" kata Maito-sama, mencontohkan Sasuke sebagai contoh yang baik untuk ke28 murid itu. Padahal yang baik hanya sikap duduk manisnya, bukan sifat-nya.

"Kalau itu bukan tenang, Maito-sama. Tapi bisu!" sahut siswa laki-laki berambut merah. Sasuke yang merasa dirinya diejek, langsung melirik si rambut merah itu dengan tajam. Tatapannya benar-benar tajam, lebih tajam dari pisau. Dalam hati, ingin sekali rasanya si pemuda Uchiha itu untuk menghajar si rambut merah. Namun ia mencoba untuk sabar. Sebisa mungkin ia mengontrol emosinya. Tapi kalau ada yang mengejeknya lagi, mungkin kesabarannya akan habis dan ia benar-benar akan menghajar orang yang mengejeknya. Entah itu laki-laki maupun perempuan. Hi~ Sadis benar dia.

"Sasori, jangan bicara yang tidak-tidak. Kau tahu kan kalau ucapanmu itu tidak sopan?" Maito-sama menegur.

"Iya, sensei. Maafkan aku," kata siswa berambut merah itu dengan tidak ikhlas.

"Baiklah kalau begitu. Setelah mendengar debat kalian, aku cukup puas mendengarnya. Sebanyak 92 persen mengatakan setuju dan sebanyak 7 persen tidak setuju," Maito-sama menanggapi.

"7 persen? Lalu satu persennya ke mana?" tanya siswa lain yang bernama Tobi, yang dikenal sebagai anak baik di XHS.

"Satu persennya adalah Sasuke yang belum memberikan tanggapan apa-apa. Apa tanggapanmu tentang Haruno Sakura, Sasuke?" jawab Maito-sama, sembari mengalihkan pertanyaan pada Sasuke.

Sasuke yang kala itu masih duduk dengan tenang dengan mata yang terpaku pada langit, mulai mengalihkan perhatiannya pada Maito-sama dan menjawab, "Terima saja dia untuk mengajar di sini."

"Apa apalasanmu?" Maito-sama ingin tahu.

"Aku hanya ingin mempermainkannya. Aku ingin membuatnya kesal dan akhirnya ia mengundurkan diri dari sekolah ini. Kau tahu? Membuat orang lain kesal itu menyenangkan sekali," kata Sasuke dingin, masih dengan tatapan yang tajam. Tapi ujung-ujungnya ia menyeringai. Teman-temannya yang lain hanya bisa diam sambil bergidik ngeri. Pikir mereka, baru pertama kali ini mereka menemui murid yang seperti itu. Senakal apapun murid, tapi ia tidak perlu membuat gurunya frustasi dan akhirnya mengundurkan diri, bukan? Sungguh alasan yang aneh dan tidak logis. Di sisi lain, Sasuke memang menakutkan dan menjengkelkan, tapi di sisi yang lainnya ia juga tidak masuk akal.

"Aku harap kau bisa bicara yang lebih sopan di depanku, Uchiha Sasuke. Memang sudah banyak guru yang frustasi karenamu, bahkan sampai ada yang ingin mengundurkan diri. Jadi, alasanmu membuat mereka frustasi agar mereka mengundurkan diri, begitu? Kenapa tidak sekalian kau saja yang keluar dari sekolah ini?" tutur si kepala sekolah.

"Oh, tidak. Aku tidak mau keluar dari sini. Sekolah ini memberiku kesenangan yang luar biasa. Aku bisa membuat siapapun sebal terhadapku. Aku bisa membuat semua orang dongkol karena ku. Rumah hanya tempat pelampiasan kemarahan orang tua dan kakakku. Suara mereka membuat telingaku sakit. Aku tidak suka degan mereka. Aku hanya suka dengan tempat ini. Tempat di mana semua orang bisa kupermainkan," jawab Sasuke lagi, masih dengan jawaban yang tidak masuk akal.

Maito-sama tidak menanggapi perkataan Sasuke barusan. Ia hanya mengumpat dalam hati. Sungguh, berarti tujuannya di sini bukan belajar karena terpaksa, tapi karena ia ingin mempermainkan guru dan menyingkirkan mereka satu per satu. Ckckck. Entah setan mana yang berhasil mencuci otaknya sehingga dia bisa jadi Uchiha Sasuke yang seperti ini. Bukan yang baik, malah yang buruk.

"Baiklah, jawaban dari kalian semua akan aku tampung. Sisanya ada di tangan sekolah. Kita tunggu saja hasilnya."

~A Choice~

Sakura merebahkan tubuhnya di ranjang. Dan ketika punggungnya sudah menyentuh benda empuk itu, rasanya nyamaaaaaan sekali, soalnya seharian ini ia tidak pernah berhenti melakukan kegiatan. Semua aktivitasnya dari pagi hingga malam ini tidak pernah berhenti. Mau tahu apa saja kesibukan Sakura hari ini? Pertama, pagi-pagi ia sudah harus mandi, berdandan, berpakaian rapi, dan pergi ke Xerryone High School untuk percobaan mengajar. Kedua, selesai percobaan ia pergi ke mall bersama dengan Naruto, menghabiskan sebagian waktunya bersama dengan kekasih tercinta. Jalan-jalan dari pukul 09.34 dan pulang ke apartemen pukul 01.56. Ketiga, sampai rumah ia langsung bersih-bersih apartemen karena tadi pagi tidak sempat bersih-bersih karena percobaan. Keempat, pergi ke supermarket terdekat untuk membeli bahan makanan untuknya hari ini. Kelima, memasak. Keenam, membersihkan dapur yang berantakan. Ketujuh, barulah ia mandi. Kedepalan, membantuk tetangga sebelah untuk membantu mengerjakan PR bahasa Inggris. Kesembilan, barulah ia bisa membaringkan tubuh kecilnya saat ini. Ya, aktivitasnya berakhir pukul 07.21p.m. tepatnya adalah saat ini. Huft, capeeek.

"Ugh…" Tiba-tiba saja Sakura melenguh setelah mendengar perutnya berbunyi. Oh, ia lapar rupanya.

Sakura bangun dari tidurnya dan menuju ke dapur untuk mencari makan. Ia membuka tudung saji dan betapa kagetnya ia bahwa di balik tudung saji tersebut hanya ada sebuah ayam goreng di atas piring besar berwarna putih. Ya, sebuah ayam goreng di atas piring besar berwarna putih. Hanya itulah satu-satunya makanan di dunia yang ia punya.

Sakura mendesah kecewa karena menunya kali ini hanya ayam goreng satu potong dan nasi putih yang saat ini entah tersisa berapa banyak di rice cooker. Hal itu bisa dimaklumi mengingat kegiatan Sakura yang hari ini tiada henti yang membuat tangannya pegal-pegal dan tidak sempat masak banyak-banyak.

"Kalau hanya ayam goreng dan nasi rasanya kurang nikmat. Perutku mana bisa kenyang," gumam Sakura dengan setengah bersedih meratapi nasibnya yang hanya bisa makan ayam goreng dengan nasi. Namun kemudian…

"Aha!"

Di atas kepala Sakura baru saja muncul sebuah lampu bohlam dalam keadaan menyala yang tahu-tahu sudah nongol. Tiba-tiba saja, di otaknya muncul ide untuk beli makan di rumah makan yang ada di dekat apartemennya. Sebenarnya tidak dekat juga, sih. Cukup jauh. Kira-kira jaraknya 200 meter-an, dan letak rumah makan itu ada di gang kecil. Sakura langsung masuk ke kamarnya lagi dan mengambil jaket serta dompet dan hand phone-nya. Setelah itu dengan secepat kilat, ia pergi menuju ke rumah makan yang dimaksud dengan berjalan kaki. 'Daripada naik mobil, nanti malah buang-buang bensin. Kan jaraknya dekat,' begitulah prinsip hidup Sakura.

Gadis berambut pendek itu mulai berjalan keluar dari apartemen dan menyusuri jalanan yang ramai dan penuh sesak dengan berbagai macam kendaraan. Walaupun malam hari, tapi Konoha tetap ramai. Suara klakson yang terdengar sahut-menyahut menambah suasana semarak jalan raya di kota yang tak terlalu besar ini. Deruman mesin mobil maupun motor yang tedengar tak kalah nyaringnya dengan suara klakson. Asap kendaraan yang menyembur dari knalpot ratusan kendaraan itu membuat udara malam yang harusnya dingin menjadi agak panas.

Sakura memperhatikan setiap kendaraan yang melaju di dekatnya. Ia hanya geleng-geleng kepala melihat ratusan kendaraan itu. Ia cuma tak habis pikir, mengapa orang-orang sangat rela membuang bensin kendaraan mereka untuk berpergian. Apakah mereka tidak bisa irit? Lagipula kan enak jalan kaki atau naik sepeda. Atau kalau perlu gunakan saja fasilitas orang lain atau nebeng orang lain. Sama seperti apa yang telah dilakukan Sakura pada Ino. Orang-orang di dunia ini tidak bisa irit bahan bakar. Seharusnya mereka mencontohku yang selalu hemat dengan bahan bakar kendaraan, batin Sakura. Yah, kalau begitu sih namanya bukan hemat, tapi pelit.

Setelah sekian lama berjalan, akhirnya Sakura sampai di gang yang nantinya akan membawanya pada rumah makan yang dimaksud, dan matanya sudah mendapati sebuah tempat yang besar dan terang yang di dalamnya terdapat banyak sekali meja dan kursi. Sakura sudah tidak sabar untuk cepat-cepat sampai ke sana karena perutnya sudah paduan suara sejak tadi. Akhirnya, iapun mempercepat langkahnya agar bisa cepat sampai di tempat tujuan. Namun ketika ia baru saja berjalan beberapa langkah, ia malah berhenti berjalan ketika didapatinya seseorang yang dia kenal sedang nongkrong dengan asyiknya dengan beberapa orang temannya sambil menghisap rokok. Seseorang yang dikenalnya itu sesekali juga meminum minuman keras sampai beberapa teguk, setelah itu ia ganti merokok lagi.

Sakura tercengang dengan apa yang dilihatnya itu. Ia bahkan sampai sampai tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Mulutnya kelu dan sulit terkatup setelah ia tercengang. Tahu kah siapa orang yang dikenalnya itu? Uchiha Sasuke. Yeah, ia melihat Sasuke yang dengan asyiknya minum minuman keras sambil merokok dan tertawa keras-keras seperti orang gila. Sasuke terlihat sangat senang dan puas sekali, seperti tidak ada beban. Sakura yang kala itu merasa pemandangan yang dilihatnya tidak enak mulai menghampiri Sasuke. Ia berniat untuk menghentikan kegiatan Sasuke yang tidak sepatutunya dilakukan. Apakah ia akan berhasil?

"Uchiha Sasuke?" Sakura memanggil, dan seketika kegiatan Sasuke bersama kawan-kawannya yang lain terhenti.

Sakura memperhatikan teman-teman Sasuke yang semuanya terlihat menakutkan. Ada seorang lelaki bertubuh besar yang wajahnya seperti hiu, ada yang wajahnya penuh dengan tindik, ada yang berambut perak dengan tato besar di tangan kirinya yang bertuliskan 'Hidan', dan ada juga yang wajahnya tidak jelas karena separuh tubuhnya kulitnya berwarna putih dan hitam. Mereka semua terlihat brangasan*. Kenapa Sasuke bisa berada di tengah-tengah orang mengerikan seperti ini? batin Sakura lagi.

"Oh, kau rupanya?" kata Sasuke, yang kemudian menyerahkan botol minuman kerasnya kepada temannya yang bertindik. Kemudian dengan santainya, ia menghisap rokoknya.

"Apa yang kau lakukan di tempat seperti ini malam-malam? Dan kenapa kau merokok?" tanya Sakura dengan nada yang cukup tinggi.

"Memangnya kenapa? Aku sedang bersenang-senang di sini. Tidak boleh, ya?" balas Sasuke dengan begitu santai.

"Pulang ke rumahmu sekarang atau aku akan melaporkanmu pada kepala sekolahmu. Dan setelah itu kau akan mendapatkan hukuman!" ancam Sakura, namun Sasuke tidak berkata apa-apa. Ia malah berpandangan dengan teman-temannya dan kemudian tertawa bersama-sama. Mereka tertawa terbahak-bahak, menganggap apa yang barusan dikatakan Sakura itu lucu.

"Apanya yang lucu?" tanya Sakura dengan wajah yang sedikit memerah karena malu. Tapi ia berkata begitu bukan karena malu. Malu memang iya, tapi ia mengatakan hal itu karena dia emosi dengan sikap Sasuke.

"Hahaha. Dasar. Kau ini bodoh, ya? Untuk apa aku pulang ke rumah? Orang tua dan juga kakakku kan tidak pernah mempedulikanku. Pekerjaan mereka hanya marah dan marah saja padaku. Dan kalaupun kau memang mau melaporkanku pada kepala sekolah yang tolol nan aneh itu, laporkan saja. Aku sudah biasa mendapat hukuman. Iya, kan, kawan-kawan? Hahahahaha." Sasuke dan kawan-kawannya kembali tertawa dengan keras.

"Oke. Tidak masalah kalau kau memang tidak mau pulang. Tapi sekarang lebih baik kau ikut aku." Sakura merampas rokok yang akan dihisap Sasuke dan membuangnya, dan hal itu membuat tawa Sasuke beserta kawan-kawannya terhenti. Ia menginjak rokok itu agar asapnya mati dan menarik tangan Sasuke agar pemuda itu tidak bergerombol lagi dengan teman-temannya.

"Apa yang kau lakukan?" bentak Sasuke, tapi Sakura tidak peduli. Ia tetap membawa Sasuke pergi menjauh dari orang-orang tidak tahu diri itu walaupun Sasuke terus menolak untuk berjalan. Hingga akhirnya, Sasuke menepis tangan Sakura dengan kasar dan menamparnya.

Sakura kembali dibuat tercengang oleh perilaku Sasuke. Ia memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan Sasuke, dan matanya sedikit berair karena kesakitan.

"Kau berani padaku? Itulah akibatnya. Sebenarnya aku bisa memberikanmu tamparan yang lebih. Tapi karena aku masih bisa mengontrol gerak tanganku, kau beruntung kali ini," kata Sasuke lagi.

Teman-teman Sasuke yang tadinya hanya berdiri diam di sana mulai menyusul Sasuke dan sepertinya siap membantu Sasuke untuk melakukan hal buruk pada Sakura. Sakura yang menyadari bahwa keadaan semakin tidak aman untuknya mundur beberapa langkah dengan perasaan takut yang luas biasa. Ia ingin lari tapi kakinya terasa kaku. Ia sulit bergerak karena ia begitu takut.

"Kau takut, manis?" kata teman Sasuke yang bertatokan 'Hidan' sambil membelai dagu Sakura sekilas. Sakura hanya bisa diam dan tidak bisa melakukan apa-apa. Matanya yang semula hanya berair kini berkaca-kaca. Ia hampir menangis karena ketakutannya pada teman-teman Sasuke itu.

Sasuke menyeringai dan kemudian berjalan mendekati Sakura. Gadis itu kembali berjalan mundur dengan air mata yang sudah meleleh keluar dari kelopak matanya. Namun langkah mundurnya terhenti ketika Sasuke dengan lembut membelai pipi putihnya yang terasa begitu geli ketika ia merasakannya.

"Kau tidak perlu takut padaku, Haruno-sensei. Santai saja," ujar Sasuke, yang kemudian semakin mendekatkan dirinya pada Sakura, hingga akhirnya ia membawa Sakura ke dalam pelukannya. Aneh. Apa yang mau dilakukan Sasuke? Kenapa ia memeluk Sakura secara tiba-tiba setelah ia menamparnya? Apa tujuannya yang sebenarnya? Dan seseungguhnya, hal itu tidak sopan dan tidak wajar.

"Ingat, ya?" bisik Sasuke. "Jangan macam-macam lagi padaku. Mentang-mentang kau adalah guru, kau berkuasa atasku? Tidak, Haruno-sensei. Itu tidak benar. Kau hanya bisa memberiku hukuman dan tidak ada yang lain, tapi aku bisa memberikan sesuatu hal padamu yang lebih dari sekedar hukuman. Aku tidak akan pernah kapok sampai kau mau menghukumku beribu kali. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Aku bisa melakukan apapun padamu. Kalau kau bisa menghukumku untuk mengepel seluruh ruangan di sekolah, aku bisa memperbudakmu. Kau mau merasakannya?"

Air mata Sakura kembali tumpah dan kini semakin deras. Detak jantungnya begitu kencang dan rasanya ia ingin ambruk sekarang. Wajahnya sudah memucat saking ketakutannya. Ia sangat ketakutan, bahkan keringat dingin sempat menetes di sekitar pelipisnya. Ketakutannya sama seperti kalian ketakutan melihat hantu atau melihat apapun yang membuat kalian takut. Bahkan, tubuh Sakura sampai kaku dan ia tidak bisa berbuat apa-apa. Suaranya juga tertahan ditenggorokan. Ia ingin minta tolong namun ia tidak bisa. Ia merasa bahwa Sasuke sudah menghilangkan seluruh dayanya. Ia tidak bisa berteriak, tidak bergerak, dan hanya diam saja, semua itu karena Sasuke. Ya, semua itu karena Sasuke sudah mengengakang tubuhnya.

"Setakut itukah kau, Haruno-sensei? Aku bisa merasakan detak jantungmu yang begitu kencang. Bukankah aku sudah bilang kalau kau tidak perlu takut padaku?" Sasuke berbisik lagi, yang kemudian dengan isengnya, ia menghirup wanginya rambut Sakura. "Rambutmu wangi, Haruno-sensei."

"Sakura!"

Sebuah suara yang keras muncul di tengah-tengah keramaian kota di malam yang dingin ini. Sasuke yang mendengar suara itu langsung melepaskan pelukannya pada Sakura dan menjauh dari gadis itu. Ternyata yang memanggil adalah Naruto, kekasih Sakura. Naruto segera berlari menghampiri Sakura yang tubuhnya sudah benar-benar kaku dan wajahnya sudah memucat.

"Sakura? Sakura, kau baik-baik saja?" tanya Naruto panik sambil mengguncang tubuh Sakura dengan pelan. Namun entah mengapa, setelah Naruto mengguncang tubuh gadis itu, tiba-tiba saja tubuhnya melemas dan pandangannya mengabur. Dia, gadis beranama Haruno Sakura itu, tiba-tiba saja tak sadarkan diri . . . . .

-To Be Continued-

Emang ada ya orang ketakutan terus pingsan gitu? Aneh benar saya ini. Yah, gak taulah. Saya gak pernah takut yang berlebihan soalnya. Hehehe.

Jadi apa menurut readers tentang chapter 4 ini? Apakah masih terdapat kesalahan ketik yang sangat fatal? Ayo dong, readers, bilang sama saya kalo memang ada salah-salah ketik ato apalah begitu. Jangan diem aja. Readers gak perlu takut sama saya, saya gak akan makan readers, kok. Readers kan tinggal bilang apa aja kesalahan saya, sudah. Selesai, kan? Saya juga bisa terima kok.

Di chapter 3 readers bisa baca kalo memang banyak terdapat kesalahan ketik di sana. Dan kenapa readers yang membaca tidak bilang? Masa' yang mengadu ke saya cuma satu orang? Ayolah…

Waduh. Kok saya kesannya jadi memaksa begitu? Okelah, lupakan semua itu. Tapi yang jangan dilupakan adalah kritik, saran, dan koreksi Anda ketika Anda menemukan kesalahan-kesalahan di chapter ini. Oke? Review please…