Disclaimer: bukan punya saiaaaaaaaaa~! *lari sebelum sempat nyolong street sign (?)* Kingdom Hearts itu punya Square Enix yang indah (?), dan lagu Kokoro - Kiseki itu punya Kagamine Len yang berasal dari Vocaloid yang merupakan milik Yamaha Corporation! Aaaaaaaa! *nyolong street sign (?)*
Warning: Mengandung zat atom dan molekul (?) yang berbahaya *dipentung Shizuo* err, bukan, maksudku mengandung double character death (opojal?) dan plot asal ngawur ngalor ngidul nggak jelas asal ngikutin lirik lagu, yang nggak suka silakan pencet tombol back dengan senang hati (?).
Lirik yang di-italic itu punya Len, yang diitalic dan dalem kurung [...] itu punya Rin~
Sora POV
Bagiku, keajaiban pertama adalah ketika kau terlahir ke dunia ini dengan selamat. Dan bagiku, keajaiban kedua adalah hari-hari yang kulalui bersamamu, Roxas.
"Ichidome no kiseki wa kimi ga umareta koto
Nidome no kiseki wa kimi no sugoseta jikan"
("The first miracle was that you were born
The second miracle was the time spent with you")
Err, ah, perkenalkan semuanya, namaku adalah Sora, seorang profesor. Orang-orang di kotaku dulu menyebutku sang 'Profesor ajaib'. Ya, dulu. Err, kalian mau tahu kenapa aku bilang 'Dulu'?
Yah... Karena penduduk kota ini selain diriku telah tewas setelah gempa besar yang melanda kota ini saat aku sedang pergi untuk menimba ilmu di Inggris. Ironis. Aku meninggalkan mereka, lalu mereka meninggalkanku. Yah, tapi aku tetap ingin berada di sini. Ini adalah tanah kelahiranku. Aku tidak mau pergi dari sini.
Namun, kadang kala aku berfikir untuk pindah. Aku merasa kesepian. Tidak ada orang lain yang bisa mengisi hidupku. Yah, kenapa penduduk kota lain tidak ke sini? Haha, mana mungkin? Bangunan-bangunan besar maupun kecil di kota ini sudah runtuh semuanya-dan bertabrakan. Mana mungkin ada orang yang mau menghuni kota mati ini?
Ah ya. Sebenarnya aku juga mempunyai penyakit paru-paru. Sebenarnya ini penyakit keturunan sih... Jadi saudara-saudaraku banyak yang meninggal dalam usia muda karena penyakitnya yang makin parah. Untung aku masih bisa hidup sampai umur 20. Bravo.
Aku termenung sejenak, memutar otak. Apa yang harus kulakukan supaya aku tidak merasa kesepian lagi? Aku berfikir-sampai akhirnya aku menemukan ide itu.
Kenapa tidak membuat robot yang menyerupai manusia saja? Robot yang mempunyai perasaan...
Mungkin di mata orang lain itu mustahil. Tapi bagiku-sang Profesor Ajaib, segala eksperimen yang bersifat mustahil akan berhasil dengan satu kunci.
Keajaiban.
Kodoku na kagakusha ni
Tsukurareta ROBOTTO
Dekibae wo iu nara
"Kiseki"
(A lonely scientist
Developed a robot
The result was said to be
"Miracle")
Akhirnya robot itu lahir. Robot itu kunamai "Roxas". Hmm, dengan sedikit mengacak huruf-huruf yang ada pada namaku dan menambahkan huruf "X", jadilah. Kreatif, bukan? Hehehe.
Memang, robot itu berhasil. Dia pintar. Aku membuat sistemnya seperti otak manusia. Bahkan Roxas tidak terlihat seperti robot-tapi menyerupai manusia. Hm, menyerupai. Ada yang kurang.
"Sora, kubuatkan kopi, ya?" Roxas menghampiriku tiba-tiba. Aku menoleh, menatap kedua bola matanya yang seakan menatap ke tempat kosong. Aku diam, lalu mengangguk pelan. Roxas lalu berjalan ke dapur. Aku mendesah lagi.
Ya. "Hal" itu belum selesai-atau bahkan tidak akan bisa selesai selamanya. Program itu. Program yang menyimpan hal-hal yang berkenaan dengan perasaan manusia. Perasaan marah. Perasaan sedih. Perasaan senang. Perasaan bingung. Perasaan kesepian. Perasaan kecewa. Segalanya.
Roxas berjalan masuk sambil membawa segelas kopi panas yang asapnya masih mengepul. Kulihat lagi ekspresinya. Masih sama, flat. "Sora, kopinya kuletakkan di sini ya."
"Ya." jawabku pendek. Aku kemudian memalingkan wajahku kembali ke layar komputer. Mengerjakan kembali program yang kubuat khusus untuk Roxas. Program 'ajaib' yang membuat Roxas mengerti, paham dan merasakan apa itu namanya "Perasaan".
Ya, program itu. Program "Hati".
Dakedo mada tarinai
Hitotsu dake dekinai
Sore wa "Kokoro" to iu PUROGURAMMU
(But it wasn't yet sufficient
There was just one thing he wasn't able to do
And that was the program known as "Heart")
Aku ingin dapat mengajarinya... Segalanya. Semua tentang 'Perasaan' yang tersimpan di dalam program 'Hati'. Perasaan senang. Perasaan sedih. Segalanya yang meliputi perasaan yang hangat maupun dingin dalam tubuh dan perasaan manusia. Segalanya yang terdapat dalam 'Hati'.
Tapi, semua itu tidak akan berarti apabila program 'Hati' ini belum selesai. Dia-Roxas tak akan mengetahui apa-apa kalau program itu belum selesai. Sama saja dengan sia-sia, bukan?
Aku terus belajar, bekerja dan terus menyempurnakan program itu. Bahkan sampai lupa istirahat. Sampai-sampai seringkali aku tertidur di depan komputer besar yang memuat segala dara tentang program 'Hati' milik Roxas. Beruntung komputer itu sudah kusistem auto-save setiap 30 menit sekali-jadi kalau misalnya tanpa sengaja rusak, datanya sudah disave... ... Tidak penting.
Seringkali Roxas membangunkanku kalau sudah pagi. Huh, aku jadi merasa bodoh. Tapi... Sebagai robot, Roxas tak pernah tidur, jadi wajar kan?
Tiba-tiba suara Roxas merambat ke telingaku. "Sora, kau tidak mau istirahat?"
Haah, lebih baik aku terus mengerjakan ini daripada istirahat, Roxas.
"Hn." jawabku singkat tanpa mengalihkan pandanganku maupun bergerak dari 'singgasana'-ku.
"Kalau begitu, cepatlah istirahat."
"Hn." jawabku lagi, tetap serius menatap komputer. Yah, sebenarnya aku tidak mendengarkan Roxas, sih.
"... Sora, kau tidak mendengarkanku, kan?"
Hah? Tunggu. Suaranya seperti kecewa... Aku tidak salah, kan?
"... Sora, istirahatlah. Kau bukan aku, kau manusia. Tubuhmu bisa lelah."
Ah, sial. Aku yang manusia dinasihati oleh robot buatanku sendiri? Hee, aku sedikit menyesal telah menciptakan Roxas dengan otal secemerlang manusia. Tapi yah... Aku tak peduli. Dia benar, kok.
Sunyi. Aku bertaruh saat ini Roxas sudah berada di kamarnya-atau di dapur untuk memasak sesuatu. Aku terus mengetik.
Aku... Berharap. Aku berharap supaya program ini cepat selesai. Aku ingin melihat Roxas bisa tersenyum-ingin sekali. Biarkan ini jadi harapan terakhirku.
Ah, bicara apa aku? Seperti mau mati saja.
... Tapi, yah. Aku benar-benar merasa 'waktu'ku makin dekat. Rupanya waktu itu berjalan cepat dan cepat habis, ya? Rasanya baru kemarin aku kembali ke kota mati ini.
Aku mendengar suara nyanyian sayup-sayup dari kamar sebelah. Itu pasti Roxas-aku bertaruh dia sedang berlatih lagu yang kuberikan kemarin.
Tapi, bisa menyanyi saja tak ada artinya.
Kalau tanpa 'Hati', semua jadi terasa hambar.
"Oshiete agetai... Hito no yorokobi kanashimi..."
Kiseki no kagakusha wa negau
Kunou wa tsudzuki toki dake ga sugite yuku
Okizari no utagoe no kono 'Kokoro'
("I want to be able to teach her... The joy and the sadness of a person..."
The miracle scientist wishes
With his agony continuing, time was only slipping away
The singing voice of desertion and this 'Heart')
"Sora, makanlah dulu."
Aku berbalik, menatap lurus ke arah Roxas yang berdiri di belakangku. Aku terus menatapnya, lalu menatap matanya yang kosong dan sedikit mencerminkan bayangan diriku.
Sungguh, Roxas... Memang saat ini kau menatapku. Tapi... Apa artiku untukmu? Apakah arti keberadaanmu di sini, di depan ini, bagimu? Apakah... Yang kau pikirkan tentangku?
Kumohon, Roxas. Jawablah.
Tapi tidak. Sebelum program itu selesai, aku yakin dia tak akan bisa menjawabnya.
Roxas, Roxas, Roxas. Tahukah dirimu, aku menciptakanmu untuk menemaniku di dunia yang fana dan sepi ini?
Tahukan dirimu, aku menciptakanmu untuk bisa kuberi tanggung jawab-kunci menuju 'Keajaiban'?
Tahukan dirimu... Apa perasaanku saat ini?
Asal kau tahu, Roxas. Waktu itu terbatas. Kalau kau hanya bisa menatapku dalam diam seperti ini, waktu akan habis, dan aku pasti akan meninggalkanmu sendiri di sini. Jadi... Kalau kau hanya diam dan menatapku kosong seperti itu, jujur. Rasanya sakit-sangatlah sakit.
Aku tahu, kau tidak akan mengerti ini kalau kukatakan.
Tapi Roxas... Kumohon, pandanglah aku sedikit lebih baik...
Tes
"Sora, kenapa kau menangis?"
"Sono hitomi no naka utsuru boku wa
Kimi ni totte donna sonzai?"
Aa,
Kare ni totte jikan wo mugen ja nai
Demo kanojo ni wa mada, wakaranai
["Anata no naze ni naku no?"]
("Reflected inside those eyes, for me
What kind of existence is there to you?"
Time for him is not infinite
But she doesn't understand that yet
"Why are you crying?")
Roxas POV
Aku bingung. Bingung. Hati itu membingungkan. Dan aku jauh lebih bingung lagi ketika Sora meneteskan air mata seperti itu-jujur, rasanya aneh. Aneh sekali melihat Sora yang biasanya ceria dan enerjik menjadi seperti itu-bahkan menangis. Aku bingung. Tiba-tiba dia menggenggam tangan kananku dan meletakkannya di depan dadanya. Ah... Jadi seperti ini manusia? Hangat dan... Ada detakannya.
"Roxas, kau tahu..? Di dalam hati ada perasaan... Perasaan bahagia, dan bagiku itu sama seperti saat kau lahir ke dunia ini." kata Sora sambil menghapus air matanya dengan lengan jas laboratoriumnya. Hah..? Sora, aku tidak mengerti.
"Dan... Kau tahu..? Di dalam hati ada perasaan lain yang tidak menyenangkan... Yang disebut perasaan sedih. Rasanya sangat menyakitkan... Seperti saat aku kembali ke sili saat pulang dari Inggris..." lanjutnya, dan air mata kembali menetes dari kedua bola matanya. Sora... Aku bingung.
"Sakit..? Seperti apa? Apakah berdarah, dan... Ada obatnya tidak?" tanyaku. Kulihat Sora malah tertawa. Hah? Yang kukatakan salah, ya? Aku tidak mengerti. Ini terlalu membingungkan.
"Nanti suatu saat kau akan mengetahuinya." katanya sambil mengacak rambutku yang dari dulu berantakan.
"Sora... Aku bingung." gumamku pelan. Sora tersenyum, lalu berjalan menjauh ke meja makan.
"Sudahlah, jangan terlalu banyak berfikir, sistemmu bisa rusak nanti. Nanti... Kau akan tahu." katanya sambil terus berjalan.
... Sungguh, aku bingung. Aku tak mengerti. Sama sekali tak mengerti. Hati itu membingungkan dan... Tak terbatas. Ini bahkan... Melampaui pengetahuanku.
Dan aku ingin tahu.
[Fushigi kokoro kokoro fushigi
Kare wo hanashita yorokobu koto wo
Fushigi kokoro kokoro fushigi
Kare wo hanashita kanashii koto wo
Fushigi kokoro kokoro mugen
Watashi no rikai wo koete iru...]
(Mysterious, heart, heart, mysterious
He told me there are things to be happy about
Mysterious, heart, heart, mysterious
He told me there are thing to grieve about
Mysterious, heart, heart, infinite
It exceeds my understanding...)
Sora POV
"Sakit..? Seperti apa? Apakah berdarah, dan... Ada obatnya tidak?" Aku tertawa mendengar pertanyaannya. Heh, aku geli sekaligus kecewa, asal kau tahu. Tapi... Lucu juga. Roxas yang selama ini terlihat dewasa rupanya masih punya sosok polos juga. Tidak, ini kelewat lugu-untuk ukuran manusia.
"Nanti suatu saat kau akan mengetahuinya." kataku sambil mengacak rambutnya. Kulihat dia semakin bingung. Aah, membuatku makin semangat mengerjainya saja.
"Sora... Aku bingung." gumamnya sambil terus menatapku dengan kedua bola mata safir kosong itu. Aku tersenyum.
"Sudahlah, jangan terlalu banyak berfikir, sistemmu bisa rusak nanti. Nanti... Kau akan tahu." kataku sambil meninggalkannya ke meja makan. Roxas kemudian mengikutiku, diam tanpa kata di belakangku.
Roxas, maaf ya. Kau bingung, kan? Tapi... Sudahlah, kau pasti akan tahu setelah program itu selesai.
Aku lalu duduk di meja makan. Roxas duduk di depanku. Kami berdua makan dalam diam-yap, Roxas bisa makan. Kubuat sistemnya seperti itu.
Kulihat Roxas diam-diam. Sungguh, bagiku ini adalah keajaiban yang... Berbeda? Entahlah.
Setelah kami berdua selesai makan dalam diam, aku kembali ke ruang komputer dan Roxas mengikutiku.
Roxas, asal kau tahu... Keajaiban pertama yang ada bagiku adalah saat kau terlahir ke dunia ini. Keajaiban pertama yang bagiku tak ada duanya.
Keajaiban kedua adalah ini... Hari-hari yang kita lalui bersama, segala hal yang kita lalui bersama sampai hari ini. Semuanya yang kita lalui bersama, hanya berdua.
Keajaiban ketiga... Belum selesai. Belum...
Ngiiiing...
Tiba-tiba sistem Roxas berbunyi, menandakan ada sesuatu. Aku berbalik, menatap Roxas yang matanya memancarkan... Sesuatu... Yang berbeda...?
"Pesan diterima. Sumber pesan dari... Aku… Di masa depan...?"
Receiving message...
From the future...
"Ichidome no kiseki wa kimi ga umareta koto
Nidome no kiseki wa kimi to sugoseta jikan
Sandome wa mada nai... Sandome wa mada..."
[... MESSEEJI wo...junshin shimasu...
...! ..hasshin moto wa... Mirai no...
...watashi...?]
("The first miracle was that you were born
The second miracle was the time we spent together
The third miracle has not yet... The third miracle still..."
[... Receiving...message...
...! ...The transmission source is...the future...
...me...?])
Aku terkejut ketika Roxas mengatakan itu. Roxas juga terlihat terkejut. Aku kemudian berbalik, menatap ke arah layar komputer yang kini sudah terpenuhi oleh tulisan [ありがとう。].
Aku terkejut. Bingung, terharu sekaligus senang.
Akhirnya, setelah sekian lama menunggu dan bertahun-tahun telah terlewati, "Dia" mengirimkanku pesan dari masa depan. Pesan yang membuatku menitikkan air mata sekali lagi.
Roxas...
Malaikatku...
Ikuhyaku no toki wo koete todoita MESSEEJI
Mirai no tenshi kara no "KOKORO" kara no utagoe
(Time passed by hundreds and a message was received
From the angel of the future's singing voice of the "Heart")
Nyanyian itu meluluhkan hatiku. Energi ini begitu besar-bahkan aku bisa melihat Roxas di masa depan, Roxas yang sudah mendapatkan "Hati" tersebut. Kulihat dia menitikkan air mata, lalu tersenyum menatapku.
"Sora, terima kasih... Terima kasih sudah membawaku ke dunia ini."
Aku terhenyak. Suara "Roxas" sangat berbeda dengan yang biasanya. Aku kemudian menatap Roxas yang berada di belakangku. Dia sedang menutup mata. Oh, apakah dia sedang bertukar kesadaran dengan "Dia" di masa depan?
Tiba-tiba aku merasa sepasang tangan hangat menyentuh pipiku. Aku mendongak, menatap ke arah "Roxas", yang sangat berbeda dengan Roxas yang sekarang. Matanya memancarkan sinar-dan senyumnya hangat bagaikan matahari.
"Sora, terima kasih... Atas hari-hari yang kita lalui bersama-senang maupun sedih."
Sungguh. "Roxas" yang ini sangat berbeda dari Roxas sekarang. Suaranya begitu lembut, hangat dan... Meluluhkan. Aku merasa air mata mulai menuruni pipiku lagi. "Roxas" menurunkan tangannya, kini kedua tangannya ada di belakang tubuhku.
"Sora... Terima kasih... Atas segala yang kau berikan padaku..." gumamnya sambil memelukku. Air mataku tidak dapat tertahan lagi-keluar dan membanjiri wajahku. Aku terharu. Senang dan... Bangga. Kurasakan air mata "Roxas" mulai membasahi bahuku.
"Terima kasih... Aku akan bernyanyi... Selamanya..."
Dan dengan itu, "Dia" lenyap. Aku kembali meneteskan air mata, lalu berbalik, menatap Roxas yang kini sudah sadar sepenuhnya. Aku kemudian berlari memeluknya.
Ya, inilah keajaiban ketiga. Keajaiban ketiga adalah ketulusan hati yang kudapat dari kau yang berasal dari masa depan. Keajaiban keempat... Tidak perlu ada. Karena tiga sada sudah cukup.
Aku mengeratkan pelukanku pada Roxas. Aku yakin dia kebingungan saat ini, tapi aku tak akan peduli. Biarlah seperti ini. Roxas...
"Terima kasih..."
Dan semuanya menjadi gelap.
"Ichidome no kiseki wa kimi ga umareta koto." ["Arigatou..." Kono yo ni watashi o unde kurete]
"Nidome no kiseki wa kimi to sugoseta jikan." ["Arigatou..." Issho ni sugoseta hibi wo]
"Sandome no kiseki wa mirai no kimi kara no 'MAGAKORO'." ["Arigatou... Anata no watashi ni kureta subete]
"Yondome wa iranai yondome wa iranai yo." ["Arigatou..." Eien ni utau...]
("The first miracle was that you were born." ["Thank you..." For bringing me to this world]
"The second miracle was the time we spent together."
["Thank you..." For the days we spent together]
"The third miracle was the 'sincere heart' from the future you." ["Thank you..." For everything you've given me]
"The fourth miracle does not exist. There is no need for a fourth." ["Thank you..." I'll sing for eternity]
[ありがとう 。。。]
The third miracle is two miracles had occurred at the same time.
One is a sudden communication from the future.
Another one is a program modification.
Her song corrected her own mind.
It is a correction that becomes a chance that she obtains Kokoro.
His life ended.
He gave her the inheritance of solitude.
And he entrusted her, the key to the miracle.
Author footnote: Rampung juga dah. Saia terharu sendiri pas ngetik ini. Kasian Soranya deh QAQ Roxas bego ah, masak ganyadar apa-apa sih? *dikeyblademati*
Dan... Saya sedang terjangkit virus Tron~! ( *digamparClulangsungmati*)
Eniwei, bagi yang mau tau gimana nasibnya si Roxas ama Sora, silakan baca Omakenya~ (omakenyamahslightshoailol *digepukmati*)
AND 'DUN FORGET FOR REVIEW!
Omake
Normal POV
Di suatu tempat nun jauh di sana, suatu tempat yang tak bisa diraih manusia biasa, datanglah 'Seorang' robot yang diyakini bernama Roxas. Dia menoleh ke kanan-kiri, dan mendapati bahwa di sana hanya ada hamparan hijau-rerumputan.
"Di mana ini?" gumamnya pelan. Dia melihat ke sekeliling, mencari makhluk hidup selain dirinya. Nihil, tak ada apa-apa.
Roxas kemudian berjalan, melewati hamparan hijau yang luas itu. Dia terus berjalan, sampai akhirnya dia menangkap suati bayangan manusia yang berambut coklat dan berbaju putih.
"Ah..." gumamnya lagi. 'Apa itu Sora? Tak mungkin...' batinnya. Dilihatnya sosok itu bergerak, lalu menoleh ke arahnya. Kedua mata Roxas membulat, dan kemudian mulai basah oleh air mata.
"Hei, Roxas! Lama sekali. Aku lelah menunggu, asal kau tahu." kata orang itu sambil menyeringai iseng.
Ya, hanya satu orang yang mengetahui keberadaan Roxas. Sora, sang pencipta Roxas. Roxas menitikkan air matanya, lalu berlari memeluk Sora.
"Sora...!"
Dan mereka hidup bahagia selamanya, tanpa ada yang mengganggu ketentraman mereka.
Omake-Owari.
Next Track: Kagamine Len - Servant of Evil
