Title : Kiss Note

Genre : Romance, Comedy

Rating : T

Disclaimer : Naruto belongs to MK-sensei, inspired by cosmetic commercial.

.

.

.

Chapter 4

Sepertinya ada yang salah dari Sasuke. Setelah permohonan maafnya waktu itu ia berubah menjadi sedikit melunak pada Sakura. Yang tadinya ia dingin dan tidak acuh, sekarang jadi sering mengajak Sakura berbicara. Tapi setelah diperhatikan sikapnya seperti itu hanya pada Sakura saja. Kalau dengan teman wanitanya yang lain sikapnya sama saja seperti dulu.

Saat ini Sakura berada di sebuah restoran yang tak jauh dari kampus. Bukan bersama Sasuke, melainkan bersama Ino. Tentu saja mereka membicarakan tentang sikap Sasuke yang berubah. Kenapa harus Ino? Karena Ino lebih berpengalaman soal percintaan dibanding dengan Sakura.

"Kurasa dia menyukaimu." Kata Ino enteng.

"Semudah itu? Mana mungkin hanya dalam waktu 2 minggu seorang Uchiha Sasuke yang terkenal tidak peduli pada orang lain bisa jatuh hati padaku. Kenapa kau tidak jadi novelis saja?"

"Hati seseorang bisa berubah, Sakura. Tidak selamanya seseorang bisa mempertahankan keangkuhan dan kesombongan di sepanjang hidupnya." Jawab Ino menatap kedua mata Sakura dalam-dalam. "Sesombong-sombongnya seseorang, dia butuh pendamping hidup. Dia juga manusia sama sepertimu."

"Tapi kurasa tidak mungkin dia berubah 180 derajat tiba-tiba tanpa alasan." Sakura memotong daging steak pesanannya. "Err... apa mungkin efek dari notes itu?"

"Mungkin saja. Saat namanya ditulis tubuhnya bergerak dengan sendirinya. Lalu saat kau kabur ia baru sadar dan bertanya-tanya apa yang telah terjadi diantara kalian. Itulah kenapa dia tidak bisa berhenti memikirkanmu." Ino tampak berpikir seolah-olah dia adalah pakar percintaan pribadi Sakura. "Ditambah lagi dengan perkataanmu padanya. Menurutku dia ingin menebus kesalahannya dengan meminta maaf dan memintamu untuk menjadi temannya."

"Tapi dia sama sekali tidak cocok untuk jadi temanku. Saat dia mengajakku ke perpustakaan bersama, dia berbicara seperti robot. Kata-katanya sangat kaku dan berbicara seadanya. Sangat berbeda denganku."

"Hmm dulu kau selalu memujanya seolah-olah dia adalah dewa yang harus kau sembah. Sekarang saat kalian sudah dekat, kau malah menilainya seperti itu."

"Ya setelah aku mengenalnya ternyata dia seperti itu. Aku tidak menyangka dia orang yang sangat kaku." Sakura meneguk minumannya sampai habis. "Jujur saja, aku sudah tidak memiliki perasaan padanya."

"Akhirnya kau sadar Sakura! Dari dulu aku sudah bilang dia tidak cocok denganmu."

"Ya ya kau benar. Sekarang beri aku solusi, pig. Aku ingin dia menjauh dariku. Aku ingin kehidupan yang baru."

"Bagaimana kalau kau mencoba menulis nama orang lain di notes itu? Mungkin saja kau dan orang itu akan menjadi sepasang kekasih. Kalau kalian menjadi sepasang kekasih otomatis Sasuke akan menjauhimu."

"Tapi siapa?"

"Carilah seseorang dari fakultasmu. Laki-laki di fakultasmu bukan hanya Sasuke, kan?"

"Hmm... kau benar. Baiklah akan aku pertimbangkan. Kau memang sahabatku yang paling baik." Sakura meraih tangan Ino dan menggenggamnya erat. "Sebagai hadiah, aku akan mentraktirmu kali ini."

Sakura membuka dompetnya untuk mengambil kartu atmnya. Namun ia tidak menemukannya dan hanya ada 2 lembar uang kertas 1000 yen yang tersisa.

"Err... Ino, bagaimana kalau kali ini kau yang traktir dulu? Lain kali aku janji akan mentraktirmu." Kata Sakura ragu-ragu. Ia tau benar kalau sahabatnya itu paling anti untuk mentraktir orang lain. Terutama pada laki-laki.

"Kenapa berubah pikiran? Aku tidak bawa uang lebih."

Skak mat! Matilah Sakura kali ini. Atmnya ketinggalan di rumah ditambah Ino tidak bawa uang lebih. Jarak dari restoran itu ke rumahnya pun lumayan jauh. Seketika wajah Sakura memucat.

"S-sebenarnya... k-kalau boleh jujur... atmku ketinggalan di rumah, pig." Seketika butir-butir keringat membasahi wajahnya yang sekarang memucat. Namun ia tetap memaksakan senyumnya. "Di dompetku tinggal 2000 yen."

"Tidak mau! Kau harus tanggung sendiri kecerobohanmu itu. Bye forehead. Selamat mencuci piring~" Ino segera berdiri dan membayar bagiannya. Kemudian ia segera keluar dari restoran itu. Sebenarnya Ino bawa uang lebih, tapi itu hukuman untuk Sakura yang selalu lupa menaruh barang-barangnya.

Tinggallah Sakura seorang diri yang sudah kehilangan cara untuk berekspresi. Akhirnya ia pasrah melakukan apa saja yang manajer restoran itu suruh lakukan agar cepat pulang. Sepertinya tiada hari tanpa kejadian konyol dan kesialan dalam hidupnya.

.

Keesokan harinya lagi-lagi Sakura melewatkan makan siangnya. Kali ini ia sangat malas untuk pergi ke kantin. Badannya masih pegal-pegal ditambah tangannya yang perih akibat mencuci setumpuk piring kotor dan mengepel lantai seharian di restoran itu. Ia menempatkan kepalanya diatas meja dan menutupnya dengan kedua lengannya. Ia hampir saja tidur nyenyak namun suara gaduh membangunkannya.

Sakura tidak beranjak dari posisinya. Ia hanya ingin mendengarkan suara pembicaraan teman-teman sekelasnya. Mereka sedang membicarakan mahasiswa baru yang rumornya tidak kalah tampan dengan Sasuke di fakultas yang sama dengan Sakura. Namanya Namikaze Naruto. Ia baru pindah dari Kyoto. Menurut gosip yang beredar, Naruto agak pendiam kalau belum mengenalnya. Tapi kalau sudah kenal dekat, ia berubah 180 derajat.

Memang Sakura belum pernah melihat anak baru itu, tapi apa salahnya mencoba menulis namanya tanpa melihatnya terlebih dahulu. Toh yang bilang anak baru itu tampan bukan satu atau dua orang, tapi hampir sekelas. Baiklah pulang kuliah nanti Sakura akan membuktikan rumor itu.

.

Kelas sudah selesai, kali ini Sakura tidak ingin cepat-cepat pulang. Ia masih penasaran dengan anak baru itu. Sakura berjalan ke taman belakang kampus. Tentu saja kali ini ia sudah tau jalan keluar dari taman itu jadi ia tidak perlu takut akan diperingati siapapun. Ia berhenti di tengah taman itu lalu membuka notesnya. Kemudian ia menuliskan nama anak baru itu. Namikaze Naruto. Hiragana untuk Namikaze dan katakana untuk Naruto. Yah bisa jadi. Naruto kan nama umum. Baiklah tinggal menunggu beberapa detik.

15 menit telah berlalu. Anak baru itu belum menampakkan wujudnya di depan Sakura. Tapi karena Sakura sudah niat untuk membuktikan kebenaran rumor itu memutuskan untuk tetap menunggu disana. Hingga satu jam berlalu tetap saja anak baru itu belum muncul. Sakura pikir mungkin buku itu sudah kehilangan fungsinya.

Akhirnya dengan berat hati ia memutuskan untuk pulang kerumah. Saat ia membalikkan badannya, tiba-tiba ada sepasang tangan berwarna tan memegang kedua lengannya.

Emerald bertemu safir, merah muda bertemu kuning. Kedua mata mereka bertemu, kedua bibir mereka pun ikut bertemu. Debaran jantung mereka berdetak sangat kencang hingga hampir terdengar oleh satu sama lain. Ciuman itu terasa seperti sengatan listrik. Singkat namun berkesan. Ciuman itu memiliki arti sendiri bagi kedua insan itu. Pasalnya ciuman itu adalah yang pertama bagi mereka berdua.

Lelaki yang memiliki garis-garis di kedua pipinya itu menatap kedua bola mata berwarna emerald dihadapannya. Namun setelah sadar apa yang ia lakukan, ia berlari keluar dari taman itu.

Sakura mencoba memanggil anak baru itu dengan sebutan 'hei' agar ia tidak dicurigai, tapi yang dipanggil malah terus berlari hingga tidak terlihat lagi. Jadi itu yang namanya Naruto. Ternyata benar apa yang teman-temannya bicarakan. Dia benar-benar tampan. Tapi... kenapa ada guratan-guratan di pipinya? Apa dia jelmaan rubah berekor sembilan? Oh Sakura, kau terlalu banyak baca komik akhir-akhir ini.

Sakura terus tersenyum di sepanjang jalan menuju gerbang luar kampusnya. Ia terus memikirkan ciuman pertamanya itu. Ternyata seperti itu rasanya. Seperti tersengat ribuan lebah dan jutaan kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya. Belum sampai di gerbang, langkahnya terhenti oleh suara bass yang sangat ia hafal.

"Kalian sudah kenal dekat?" Tanya Sasuke dengan posisi melipat kedua tangannya dan bersandar pada dinding.

"Eh... S-Sasuke-kun. B-belum. K-kenapa?" Jawab Sakura yang masih belum percaya kalau Sasuke ada disana untuk menghentikannya.

"Hn. Aku hanya merasa curiga apakah anak baru itu merasakan yang aku rasakan." Sasuke menatap langit yang cerah.

"M-maksud Sasuke-kun ap-apa?"

"Apa kau pakai guna-guna?" Sasuke menyipitkan matanya curiga pada Sakura.

"Ha?! Guna-guna? Maksudmu?" Sejak kapan Sasuke tau soal guna-guna?

"Hn. Lupakan. Mungkin hanya pemikiranku saja." Sasuke berjalan mendahului Sakura yang masih membeku ditempatnya.

'Guna-guna? Perasaan Sasuke-kun dan anak baru? Apa maksudnya?'

.

Pikiran-pikiran mengenai pertanyaan Sasuke terus berputar di kepala Sakura yang sedang berjalan menuju kampusnya. Letak kampus dari stasiun kereta cukup dekat jadi setiap harinya ia cukup berjalan kaki dari stasiun. Ia berjalan lurus tidak mempedulikan jalan. Sampai-sampai ia tidak sadar sudah menabrak tiang listrik dan terjatuh. Hari itu memang sedang hujan, tapi untungnya tidak terlalu deras. Payung yang Sakura gunakan terpental ke belakang. Seharusnya air hujan terus membasahi tubuhnya. Tapi seluruh tubuhnya kering, hanya rambutnya yang terkena basahan air hujan sedikit.

Sakura yang heran segera menolehkan kepalanya keatas. Ia melihat si anak baru yang menciumnya kemarin berdiri memayungi dirinya. Sakura melongo melihat anak baru itu. Ia tidak menyangka akan bertemu dengannya disitu.

"Hai. Err… Namaku Namikaze Naruto. Kau boleh memanggilku dengan Naruto saja." Ia tersenyum memamerkan gigi-giginya pada Sakura lalu menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Ia merasa canggung baru berkenalan dengan gadis itu setelah apa yang ia perbuat kemarin. Kemudian ia mengulurkan tangannya.

Sakura awalnya terpana melihat kebaikan Naruto. Tapi ia harus membalasnya dengan sikap yang berbeda. Ia memukul tangan Naruto dan berusaha untuk berdiri sendiri. Sakura mengambil payungnya dan berjalan mendahului Naruto. Tidak peduli seberapa cepat Sakura melangkah, Naruto akan mengejarnya.

"Aku minta maaf atas apa yang aku lakukan kemarin." Sakura menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Naruto. Ia merasa sedikit kelewatan padanya. "Sungguh, aku tidak tau apa yang terjadi. Tapi tubuh ini bergerak dengan sendirinya."

"Maksudmu? Mana bisa seseorang menggerakkan tubuhnya sendiri tanpa keinginannya?" Sakura harus bersikap seperti ini agar tidak dicurigai.

"Maafkan aku, Sakura-chan. Aku tidak…"

"Tunggu, bagaimana kau tau namaku? Ah jadi begitu. Kau stalker, ya kan?" Tanya Sakura menatap mata Naruto dengan tajam. Berakting memang bukan bidang Sakura. Tapi apa boleh buat?

"B-bukan begitu. M-maksudku setelah kejadian kemarin aku segera mencari tau namamu lewat teman-teman sekelasku. Karena kau adalah satu-satunya wanita yang memiliki rambut berwarna merah muda di kampus, jadi semuanya mengenalmu." Ia terdiam sebentar. Lalu melanjutkan pembicaraan lagi. "Kau tidak merasa aneh? Kita bahkan belum saling kenal tapi aku sudah menciummu. Kau tidak merasa kesal?"

Sakura tersentak mendengar omongan Naruto. Apa aktingnya kurang bagus? Baiklah ia harus menambah aktingnya.

"Tentu saja, Baka! Siapa kau tiba-tiba datang dan menciumku padahal kita belum sama sekali kenal? Berani sekali kau mencuri…" Belum selesai ia selesaikan kata-katanya, Naruto sudah menunjukkan cengiran godaannya. Wajah Sakura pun berubah jadi sangat merah seperti sedang sauna. "Lupakan!"

"Sakura-chan! Maaf maaf, aku tidak akan menggodamu lagi." Naruto kembali mengejar Sakura dari belakang. Dipegangnya tangan Sakura dari belakang agar ia berbalik dan melihat wajahnya. Jantung Sakura berdetak sangat kencang. Baru kali ini ada seorang lelaki yang mengejarnya. Baru kali ini juga seorang lelaki memegang tangannya dengan lembut selain Kaoru. "Aku minta maaf. Tapi tidak apa kan kalau aku jadi temanmu?"

Sakura menatap Naruto. Tampaknya anak baru itu memang tulus ingin berteman dengan Sakura. Sakura awalnya tersenyum, namun untuk menutupinya ia melepaskan tangannya secara paksa. "Terserah kau sajalah." Ia berjalan meninggalkan Naruto.

"Sakura-chan, t-tunggu!"

Dalam hati Sakura sangat senang dengan sikap Naruto yang begitu lucu disaat ia berakting. Tapi di sisi lain, ia masih memikirkan kata-kata Sasuke. Apa sebenarnya perasaan Sasuke yang ia bicarakan? Apa ia cemburu melihat momen dimana Naruto mencium Sakura?

.

TBC

Author's note :

Halo semuanya! Terima kasih udah mau mampir dan udah mau baca ff ga jelas ini. Makasih juga udah ngasih review walaupun ada beberapa yang ga enak dibacanya :D aku mau minta maaf baru bisa update sekarang, aku lagi sibuk ngurus ini itu. Ditambah lagi internet aku abis, trus mau pake bolt ternyata ffnet di block. Dan aku baru tau -,- . Untuk chapter selanjutnya aku juga gak bisa update cepet-cepet karena minggu ini banyak banget urusan. Oiya, aku mau jawab pertanyaan2 dulu.

* Kok Sasukenya jadi kelewat OOC? Udah aku jawab tuh di chapter ini lewat Ino. Rasanya gak seru kalo jawab pertanyaan ini lewat Author's note atau lewat PM.

* Narutonya mana sih? Lama banget munculnya! Udah muncul tuh di chapter ini. Alur ff ini emang agak lama. Dan aku memang gasuka sama fanfic yang gampang ditebak kayak sinetron. Jadi untuk kedepannya sabar-sabarin yah :D

* Endingnya Sasusaku atau Narusaku nih? Hmm… gimana yah? Biar waktu ajalah yang menjawab *halah*. Aku belum bisa jawab pertanyaan ini, maaf ya :D

* Masih banyak typo, nih! Iya, aku tau aku gak sempurna. Dan lagi aku author baru, masih belajar juga. Fanfic yang aku tuangin ke word juga baru ini kok (padahal di otak banyak ide tapi males nulisnya wkwk).

* Update kilat ya! Iya, insya Allah aku update cepet kalo ada waktu. Tapi ga janji buat chapter depan :D

Oiya thanks buat zorroranger yang act as if she's an auditor for this fanfic lol XD

Sampai jumpa di chapter depan~!