Disclaimer :

Inuyasha © Takahashi Rumiko

A Foolish Agreement © Riztichimaru

Title: A Foolish Agreement

Pairing : Inuyasha x Higurashi Kagome

Noto:

Kata di bold (kata dalam hati/penekanan kata tertentu)

Gomen kalau masih banyak typo dan ceritanya gaje

Maaf Updatenya lama cz Author aneh ini Sok Sibuk ngurusi tugas2 kmps..

Arigatou yang sudah RnR. Tolong Review ya!!

Honto ni Arigatou gozaimashita

STOP!!! Don't like Don't read



Chapter 4

Syarat Perjanjian

Hari ini, aku bergegas menuju taman Kota. Aku ada janji dengan si Kuping aneh itu. Aku tergesa-gesa karena aku sudah terlambat dari jam janjian kami akan bertemu. Kami memang tidak menentukan pukul berapa janjiannya tapi yang pasti dia akan menjemputku di taman itu. Mungkin kurang lebih sama seperti pertemuan minggu kemarin. Sekarang sudah pukul 09.00 a.m. Aku terus berjalan dan akhirnya sampai juga di taman itu.

Tidak ada si Doggy ditaman itu. Aku hanya melihat anak-anak kecil yang sedang bermain lempar bola. Tidak ada si Doggy bodoh itu, lalu kuputuskan untuk duduk saja di kursi panjang itu.

"Ah, kemana si bodoh itu. Kenapa tidak datang, bukannya dia yang menyuruhku menunggu disini? Dasar Doggy bodoh!" umpatku agak keras karena aku kesal padanya.

"Siapa yang Doggy, Enak saja Kau!!!"

Aku mendengar suara yang sudah tidak asing lagi ditelingaku, siapa lagi kalau bukan si bodoh itu. Aku menoleh kebelakang, kulihat dia muncul dari balik pohon di dekat kursi taman yang tidak jauh dari tempat aku duduk.

"Kau!! Bodoh kenapa baru datang? Aku kan sudah tergesa-gesa ke sini."

"Kau itu yang bodoh, aku sudah menunggumu satu jam lebih. Kau ini suka ngaret ya?"

"APPAAA!!! Kau sudah menunggu satu jam lebih, kenapa begitu?" tanyaku sedikit heran.

Kenapa orang bodoh ini menungguku sampai sejam begitu, bukannya aku tidak meyuruhnya datang lebih cepat. Dasar bodoh!

"Hei bodoh, kenapa menunggu selama itu???" tanyaku lagi padanya yang sudah duduk disampingku dan memperhatikan wajahku.

"Heii!! Kau dengat tidak Doggy!!!"

"Iya.. iya aku dengar kok, aku kangen saja sama kamu. Chuppss…"

Si bodoh itu mencium pipi kananku tiba-tiba, apa-apaan dia ini. Kenap sembarangan mencium orang, aku kesal dan berteriak padanya.

"Hei.. jangan sembarang mencium orang, tahu!!" teriakku ke kupingnya. Aku berdiri dan sedikit menjauhinya.

"He.. he.. he.."

Si doggy itu tertawa menyeringai seperti serigala tengik. Ingin rasanya aku melempar wajahnya dengan sepatuku. Tapi dia malah menarik tanganku dan aku terduduk lagi disampingnya bahkan hampir jatuh ke tubuhnya. Untung saja aku berhasil menjaga keseimbanganku.

"Hei… jangan sembarang menarik orang!!!" seruku kesal. Dia masih memegang tanganku dan memperhatikan wajahku lagi. Aku sudah terduduk disampingnya.

"Kau.. kau.. benar benar mirip dengannya, kenapa kau bisa mirip dengannya ya?"

"Apanya yang mirip, aku mirip siapa?? Doggy!" tanyaku penasaran padanya tapi dia malah menarik tanganku mengajakku bangkit dari dudukku dan berjalan kearah mobilnya.

"Sudahlah… kau tidak perlu tahu. Itu urusanku."

Aku lalu masuk kemobilnya dan memakai savety belt. Dia mulai menjalankan mobil. Mobil melaju perlahan dan kamipun berada dalam suasana hening di dalam mobil tersebut.

Hening.. tidak ada suara diantara kami. Aku terus memandangi pemandangan jalan dari kaca jendela mobilnya. Kulirik dia, dia masih serius menyetir mobil tanpa berkata-kata. Tiba-tiba dia memberhentikan mobilnya dan mendekatkan wajahnya kewajahku. Aku panik, dan Chupss…

Si bodoh itu mencium pipiku lagi. Lalu melanjutkan menyetir mobil. Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Apa yang sebenarnya diiinginkan si bodoh ini. Hari ini sudah dua kali dia mencium pipiku, mau apa sebenarnya dia ini. Aku jadi sedikit khawatir dan takut padanya. Jangan-jangan dia mau macam-macam padaku.

'Dasar otak mesum!!!" umpatku dalam hati padanya.

Dia masih senyam-senyum sendiri setelah mencium pipiku. Beberapa menit kemudian kami sampai di rumah yang waktu itu. Rumah dimana si Bodoh itu mengajakku –rumah dengan corak kembar. Aku keluar dari mobil dan mengikutinya sampai kerumah itu, dan tetap sama ketika aku melewati ruang TV tersebut, cowok-cowok itu masih memandangiku. Aku hanya tersenyum pada mereka.

Sesampainya kami di depan pintu kamar si cowok bodoh ini, aku takut untuk masuk jadi aku hanya tertegun di depan pintu tidak bergerak untuk masuk. Si Doggy itu sudah masuk dan berteriak dari dalam.

"Hei!!! Masuk! Ngapain kau diluar sana, masuklah!"

"Ehn…"

"Cepat masuk! Kau mau berapa tahun berdiri didepan pintu itu, hah!"

"Tapi… aku, aku tidak mau masuk. Aku mau pulang saja…"

"Kenapa lagi nih anak?!"

Aku masih tidak berkutik didepan pintu, si Doggy bodoh ini lalu mendekatiku dan menarik tanganku mengajakku masuk ke kamarnya. Dengan terpaksa aku masuk, tentunya masih takut jangan-jangan dia mau melakukan hal yang macam-macam seperti waktu itu –mengunci pintu-.

"Duduklah… aku akan ambilkan kau minuman dulu!" ujarnya lalu melangkah kearah pintu.

"Tidak! Tidak usaha mengambilkan minum untukku, aku tidak mau minum atau makan apapun yang kau berikan."

"Kau ini kenapa? aku kan tidak akan meracunimu. Dasar bodoh!"

"Sudahlah… kataku tidak mau ya tidak mau, bodoh!"

"Ya, okelah kalau begitu. Terserah kau saja, aku tidak akan tanggung jawab kalau kau dehidrasi atau mati kekeringan."

"Oke! Ayo cepatlah kita langsung ke inti permasalahan kenapa aku datang kesini."

"Maksudmu???"

"Belagak bodoh lagi, bukannya kau mengajakku kesini untuk membicarakan masalah perjanjian konyolmu itu." jawabku kesal.

"Ohh… jadi kau setuju dengan perjanjian itu!"

"Entahlah… mungkin juga iya."

"Yess… yesss… Chupss…"

"Astaga! Kau gila ya, kenapa mencium orang tiba-tiba begini? Dasar gila!"

Si bodoh Doggy itu, lagi-lagi mencium pipiku dengan tanpa aba-aba lagi.

'Menjijikan! Mau apa dia ini? Benar-benar mengerikan!' pikirku dalam hati.

Aku masih dalam posisiku –berdiri- lalu aku duduk dikarpet disamping tempat tidurnya. Dia mengambil kertas dari lacinya , mengambil notebooknya dan duduk disebelahku. Lalu meyerahkan selembar kertas yang sudah terisi beberapa kata-kata dan menyalakan notebooknya.

"Itu syarat perjanjianku! Mana syarat punyamu? Cepat baca syaratku itu!"

"Apa ini syaratnya? O ya, aku juga sudah buat."

Aku lalu mengambil kertas peranjian yang aku buat dan menyerahkannya pada si bodoh Doggy itu.

"Ini punyaku, baca!"

Aku membaca surat perjanjian itu milik si bodoh itu, dan aku berteriak. Kulihat dia masih serius membaca syarat perjanjian yang kubuat.

"APAAAA!!!! Apa maksud syarat poin ketujuh ini? Hah!!!"

"Kau bodoh ya, bisa baca kan. Ya itu isinya, bodoh!"

"Apa-apaan ini??? Memangnya siapa yang mau dicium oleh orang bodoh sepertimu, bisa-bisa aku rabies."

"Siapa yang rabies, aku kan hanya mencium pipimu. Dari mana bisa rabies?"

"Pokoknya poin 7 ini harus dihapus, aku tidak mau dicium oleh kau!"

"Hah.. ini anak! Tidak apa-apa, lagian aku juga gak mencium bibirmu. Iya, kan!"

"Iya, tapi kan kenapa ada kata 'semaumu'? Aku tidak mau, pokoknya aku tidak mau!!"

"Huft.. hei bodoh! Cium pipi itu, ciuman persahabatan. Kalau di bibir itu baru nafsu. Lagian siapa juga yang nafsu pada orang aneh sepertimu."

"Tapi kenapa harus pakai cium-cium segala sih. Di syaratku kan udah ketulis 'TIDAK ADA SENTUHAN FISIK SAMA SEKALI'. Kau sudah baca itu, kan?!"

"Ya, aku sudah baca itu semua. Ya, memang tidak ada sentuhan fisik sedikitpun, tapi untuk cium pipi. Boleh, kan???"

"Aku tidak mau. Titik!!!"

"Ya, sudah kalau gitu… perjanjian ini batal dan kau akan aku laporkan ke polisi."

"Mana bisa begitu???"

"Makanya kau harus mau, Kau kan cuma kucium pipi. Tidak yang lainnya. Apa kau mau yang lebih? Hah!" ujarnya meledekku dan mencubit pipiku lalu mengacak-acak rambutku.

"Auwww… sakit bodoh! Siapa yang mau lebih. Kau gila!" teriakku kencang sambil cemberut padanya.

"Gimana, setuju?"

"Okelah… terpaksa, tidak ada pilihan lain. O ya, apa masksudnya dengan 'Tetap menemaniku walaupun aku tertidur'?"

"Itu, ya… kalau aku tertidur kau tidak boleh pulang. Kalau kusuruh pulang, baru kau bisa pulang."

"Kau!!! Mana bisa begitu, masa aku harus menunggui orang tidur lama lagi. Itukan sama saja membuang-buang waktu percuma, aku kan masih banyak tugas-tugas kuliah yang harus aku buat."

"Kau kan bisa mengerjakan tugasmu itu disini."

"Hah! Ya sudahlah. Gimana syarat dariku, kau setuju?" tanyaku padanya yang mulai mengetik perjanjian yang dibuatnya dan juga yang aku buat. Dia berhenti mengetik dan menatapku lembut.

"Aku setuju, tapi poin 5 ini alasannya apa? Kenapa kau tidak mau makan dan minum pemberianku dan juga tidak mau menerima apapun yang aku berikan padamu, apa alasannya?"

"Tidak ada, aku hanya tidak mau. Itu saja," jawabku singkat.

"Ya, aku kan harus tahu! Cepat katakana alasannya!"

"Aku tidak mau! Kau juga tidak memberikan alasan kenapa kau harus mencium pipiku, aku kan bukan pacarmu."

"Oh.. itu, itu karena kau… Ah sudahlah, aku juga tidak bisa meberikan alsannya. Okelah tidak apa kalau kau tidak mau memberitahu alasannya."

"Oke! Setuju, mulai sekarang jangan bertanya-tanya tentang itu lagi. Cepat selesaikan mengedit perjanjiannya. Aku mau pulang, aku masih banyak urusan."

"Kau tidak boleh pulang. Sebenarnya kau punya urusan apa, kenpa harus cepat-cepat pulang."

"Aku mau tidur, aku ngantuk dan itu urusanku!"

"HAH!!! Tidur! Kau ini aneh, sukanya tidur saja."

"Suka-suka aku, kau tidak boleh mengatur-ngaturku."

"Terserah kau saja, tapi kau belum boleh pulang sebelum aku menyuruhmu pulang."

"Ya, sudahlah…"

Aku lalu menyandarkan kepalaku di dinding tempat tidurnya sambil memejamkan mataku. Aku benar-benar mengantuk, semalam aku membuat ulang syarat perjanjian ini sampai pukul 3.00 a.m. Aku lalu merasa ada yang mencium pipiku lagi. Hah… ini pasti si bodoh itu lagi. Aku tidak membuka mataku, aku malas berdebat dengannya. Aku mau pulang!

"Hei, jangan tidur dulu bodoh. Cepat tanda tangani perjanjian ini!" ujarnya sambil memegang pundaku. Aku tahu dia sudah menyelesaikan mengedit syarat-syarat itu dan mengeprintnya. Aku lalu membuka mataku.

"Oke! Mana?"

"ini," jawabnya sambil menyerahkan kertas surat perjanjian tersebut yang sudah ditempeli materai.

Setelah kubaca, aku menandatanganninya begitu juga dengan si bodoh itu. Isi perjanjian ini benar-benar koyol menurutku. Aku heran kenapa akau terjebak dalam kegilaan si bodoh ini. Isi perjanjiannya mengerikan dan konyol. Aku lalu membaca isi perjanjian kami sekali lagi. Bunyinya:

PERJANJIAN PERSAHABATAN ANTARA INUYASHA & KAGOME HIGURASHI

Perjanjian persahabatan ini adalah perjanjian untuk bersahabat saja, tidak ada hubungan lain selain itu. Perjanjian ini dibuat dengan tujuan untuk memastikan bahwa tidak ada salah satu pihak yang melanggar, jika melanggar sah/resmi yang melanggar akan dilaporkan kepihak berwajib dan diproses secara hukum atas tuduhan pengrusakan barang –notebook- milik Inuyasha. Pengrusakan yang dilakukan oleh Kagome Higurashi. Adapun syarat perjanjian ini berasal dari kedua belah pihak yaitu dari :

Kagome Higurashi

1. Tidak ada sentuhan fisik sama sekali. Kecuali mencium pipi, hanya pipi

2. Jangan memaksa-maksa aku seenaknya

3. Jangan menanyakan dan mencampuri urusan pribadi

4. Jangan menyukaiku

5. Aku boleh tidak makan dan minum dari pemberianmu serta jangan memberikan apapun padaku.

6. Jangan pernah menutup pintu kamarmu apalagi menguncinya dan jangan berbuat macam-macam padaku.

7. Tidak boleh datang ke kampusku dan berbicara pada teman-temanku

8. Aku boleh tidak datang kalau aku aada urusan mendadak atau sakit

9. Kalau sudah malam kau harus mengantarku pulang

10. Jika melanggar diadukan ke polisi.

Inuyasha

1. Jangan jatuh cinta padaku

2. Jangan menanyakan dan mencampuri urusan pribadi

3. Tidak boleh bertanya tentang masa laluku dan juga tentang cinta padaku

4. Tidak boleh cerewet

5. Jangan lebay dan bermanja-manja padaku

6. Datang secepatnya kalau aku memanggil, menelpon, sms, email

7. Mau kucium pipi semauku, hanya pipi

8. Tetap menemaniku walaupun aku tertidur, jangan pulang sebelum aku suruh

menuntutku menjemput-antar ketika aku memanggil. Kalau sudah malam, aku akan mengantar pulang

10. Jika melanggar diadukan ke polisi.

Tokyo, Maret 08 2010

Meyetujui,

Inuyasha

Higurasi Kagome

Ya… itulah isi perjanjian yang sudah kami buat dan sepakati. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah perjanjian ini. Tapi, kami sudah menyepakatinya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena sudah terikat perjanjian konyol ini.

"Chupss… terimakasih, Kagome."

Kami-sama, kenapa sibodoh ini mencium pipiku lagi. Ah… kenapa aku bisa terjebak seperti ini. Aku, aku tidak mau. Tapi mau bagaimana lagi, aku terpaksa.

"Kau ini!! Kenapa mencium lagi. O ya, jadi namamu inuyasha ya?" tanyaku padanya.

"ya, keren kan namaku?! Namamu Higurashi Kagome? Aku panggil kau Kagome saja ya?"

"Terserah kau saja."

'O ya. Jadi si doggy ini bernama Inuyasha. Aku baru tahu sekarang,'ujarku dalam hati.

Aku tidak menyangka kalau dia dan aku akan membuat perjanjian konyol seperti ini. Tapi, sudahlah… aku mau pulang. Aku lalu beranjak dari dudukku. Setelah memasukkan kertas perjanjian yang sudah kami tandatangani. Aku menyimpan satu lembar surat pejanjian tersebut kedalam tasku dan Inuyasha juga menyimpan satunya lagi ke laci lemarinya.

"Inuyasha… aku pulang dulu ya, aku beneran ngantuk banget. Bolehkan aku pulang?"

"APAA!!! Kau mau pulang, tidak bisa begitu. Nanti saja, pulangnya sore saja."

"Ayolah… sekali ini saja, aku beneran ngantuk. Aku baru tidur jam 3 pagi, tadi malam. Jadi aku ngantuk, aku boleh pulang ya? Please!"

"Yah…"

"Boleh ya?" tanyaku sekali lagi sambil menunjukkan wajah memelasku padanya.

"Oh… sudahlah. Sana pulang!"

"Oke! Arigatou Doggy."

"Hei… siapa yang Doggy!!! Kalau bilang doggy sekali lagi, kau tidak boleh pulang."

"Oke, oke deh."

Aku lalu melangkah kearah pintu tapi baru dua langkah aku berjalan, Inuyasha menarik tanganku. Aku menoleh, dan dia mencium pipiku lagi. Kemudian dia melepaskan tanganku. Aku lalu beranjak keluar kamarnya dan berjalan melewati koridor rumah tersebut juga melewati ruang TV tempat teman-temannya menonton TV tadi. Di ruangan tersebut, cowok-cowok itu masih menatapku dengan tatapan heran.

Aku melangkah keluar rumah tersebut dan melewati pos security, lalu berjalan kearah jalan raya. Tiba-tiba ada yang mengklaksonku ketika aku sudah mendekati jalan raya menuju halte bus.

Tin.. tin… tin…

"Hey! Cepat naik!"

Suara klakson milik siapa itu? Ya… itu suara klakson milik si Doggy. Inuyasha yang mengklakson dan menyuruhku naik ke mobilnya. Tapi aku belum beranjak masuk kemobilnya aku heran kenapa dia mengajakku masuk ke mobilnya.

"Hey!! Kenapa kesini? Kau mau apa, untuk apa aku masuk?"

"Masuk lah! Kuantar kau pulang."

"Antar??? Maksudnya?"tanyaku heran padanya. Bukannya dia tidak akan mengantarku. Tadi dia hanya menyuruhku pulang dan tidak ada niat untuk mengantarku.

"Ya, aku mau mengantarmu saja, tidak boleh?"

"Boleh, sih? Tapi kan…"

"Sudahlah. Cepat masuk!!!" teriakknya menyuruhku masuk ke mobilnya.

Aku lalu masuk ke mobilnya, kemudian mobil melaju lagi menuju jalan raya. Hening, aku terdiam dan Inuyasha pun diam saja. Hmm.. suasana hening begini membuatku jadi kikuk.

"Hey kagome… rumahmu dimana?" tanyanya memecah keheningan.

"Ano… tidak jauh dari taman tempat kita bertemu pagi tadi. 500 meter dari sana."

"Oh.. didekat kuil tua itu, bukan?"

"Ya, kuil itu dibelakang rumahku," jawabku singkat.

"ohh…"

Beberapa menit kemudian kami sampai di jalan didekat tangga-tangga tanjakan menuju rumahku. Aku keluar dari dalam mobil. Aku lihat Inuyasha juga keluar dari mobilnya.

"Aku masuk dulu, Inuyasha!" seruku lalu melangkah meninggalkannya.

"Hey, tunggu!"

"Ada apa lagi, hah??" tanyaku sedikit kesal padanya. Dia mendekatiku dan mencium pipiku lalu berbalik menjauhiku. Aku heran lagi, kenpa dia terus mencium pipiku hari ini.

'Ada apa dengan dia?" pikirku dalam hati.

"Kenapa mencium pipiku terus, Inuyasha?" tanyaku padanya.

Inuyasha hanya tersenyum padaku dan menyipitkan sebelah matanya lalu masuk mobil dan pergi menjauhiku. Aku ingat ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padanya, tetapi dia keburu kabur. Sayang sekali ya… kalau bertemu dengannya lagi, akan segeraku tanyakan. Aku penasaran lagi jawaban apa yang akan diberikannya.

To be continued….


Review lg ya... domo.