Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : AU, typo, OOC, etc...

.

.

.

Enjoy The Love

Chapter 4

.

.

.

Hinata menghampiri Gaara yang telah membuka pintu.

Sebenarnya dulu pada awalnya Hinata bingung, harus memanggil tamunya dengan sebutan apa. Hinata tahu umur mereka tidak beda jauh, Hinata juga tidak ambil pusing mengenai Gaara yang mempunyai ibu tiri yang hanya selisih 3 tahun dengannya. Saat pernikahannya, Gaara tidak terlihat menyapa ibu tirinya sedikitpun.

Hinata mengira, mungkin Gaara belum siap ayahnya memiliki istri lagi, apalagi istri yang seumuran dengannya. Gaara memang tidak menceritakan alasan mengapa dia menerima perjodohan in, Gaara bukanlah orang yang suka menceritakan masalahnya kepada orang lain.

Setelah menikah, Hinata memberanikan diri memanggil Sakura dengan sebutan Ibu, kalau seumpama Sakura merasa risih, maka Hinata akan mengganti dengan panggilan lain yang mungkin akan membuat Sakura senang, Kakak misalnya. Tetapi sepertinya Sakura tidak risih.

Lalu untuk apa pagi-pagi begini, Sakura datang ke rumah mereka?

"Kau tidak mempersilakan Ibumu ini masuk, Gaara?" ucap Sakura dingin namun dengan senyum tipisnya, yang membuat Gaara ingin muntah seketika.

Hinata yang mencairkan suasana "Ah, silakan masuk, Kaa-san..."

Hinata mempersilakan Sakura duduk di sofa, Sakura duduk dengan anggunnya. Sakura tahu di sini Hinata adalah orang yang bodoh, dalam artian Hinata tidak tahu apa-apa tentang hubungannya dulu dengan Gaara. Sakura yakin Gaara tidak menceritakan hubungannya dengan Sakura dahulu kepada Hinata.

Jujur Gaara terlihat tampan dan err...menggoda dengan kimono handuk itu dan rambutnya yang basah, Sakura tersenyum, salah satu sudut bibirnya terangkat.

Gaara dan Hinata masih berdiri, Sakura melihat-lihat sekeliling rumah yang ditempati oleh Gaara dan Hinata "Rumah kalian kecil ya,..." Sakura mengusap rambutnya dan Gaara menjawab "Setidaknya ini nyaman."

Sakura tidak percaya Gaara merasa nyaman tinggal di rumah yang jauh lebih kecil dibanding rumah besarnya.

Hinata mencairkan aura panas pada mereka "Aku akan mengambilkan minum untuk Kaa-san." Hinata baru saja akan beranjak pergi. Namun Gaara menahan pinggangnya "Tidak usah, dia hanya sebentar, iya kan Kaa-san?" Gaara menekan kata "Kaa-san".

Sakura meremas tas kecil mewah di pangkuannya, bukan karena ucapan Gaara. Namun Gaara yang memeluk pinggang Hinata, dan lagi setelah diperhatikan baik-baik, Sakura tahu apa yang terdapat pada leher Hinata, bekas kissmark yang sepertinya masih baru, yang baru semalam dibuat. Itulah yang membuat Sakura kesal.

Namun Sakura tetap berusaha tenang dan tersenyum kemudian berbicara lembut dan riang "Iya Kaa-san hanya sebentar kok, tidak perlu repot. Kalian tidak mengunjungi rumah kami setelah pulang bulan madu. Itu tidak sopan loh. Makanya Kaa-san mengunjungi kalian."

Apa? Rumah kami? Itu rumahku, rumah Tou-san. Gaara mendecih.

Ya Gaara dan Hinata memang tidak mengunjungi rumah Gaara. Mereka memang mengunjungi rumah Hinata, bukannya Hinata tidak menanyakan mengenai kenapa mereka tidak mengunjungi rumah Gaara? Namun Gaara hanya berkata, "Tidak perlu."

Hinata membungkuk "Maafkan kami, Kaa-san." Hinata meminta maaf karena telah berlaku tidak sopan. Gaara tidak suka Hinata meminta maaf seperti itu kepada Sakura.

"Tidak usah seperti itu, Menantu!" Sakura merasa geli sendiri mengucapkan kata "menantu" pada Hinata, padahal dia senang Hinata berbuat seperti itu. Licik...

"Sebenarnya Kaa-san lebih senang kalau kalian bisa tinggal bersama kami."

Gaara langsung menanggapi "Kami lebih suka di sini." Hinata menyikut perut Gaara "Gaara..." sebagai isyarat kalau Gaara jangan seperti itu.

"Bukannya kau hanya sebentar di sini?" ucap Gaara lagi pada Sakura. Sementara Hinata merasa Gaara tidak sopan sekali. Walaupun bagaimana, Sakura adalah ibunya, ibu tiri sekalipun.

Ya kalimat itu adalah secara tidak langsung Gaara mengusir Sakura dengan halus. Bukannya Sakura tidak geram, tapi Sakura kembali tersenyum "Oh ya Kaa-san hanya sebentar kok, sudah ada janji dengan teman."

.

.

Setelah sarapan, Hinata bangkit berdiri karena akan membereskan piring-piring kotor bekas makanan. "Ahh" namun Gaara menarik tangannya dan membuat Hinata terduduk di pangkuannya.

Gaara memeluk pinggang Hinata. Hinata jadi malu "Gaara, lepas! Aku mau mencuci piring."

Gaara enggan melepas pelukannya, justru membelai rambut indigo Hinata "Jangan dekat-dekat dengan si Pink itu!"

"Si Pink?" ah, Hinata mengangguk-angguk "Maksudmu Kaa-san?"

"Hn" Gaara mengiyakan. Hinata menangkup pipi Gaara dengan sebelah tangannya "Kaa-san terlihat baik, dan..." Hinata tersenyum "ceria."

Gaara memegang tangan Hinata yang digunakan untuk menangkup pipinya "Jangan percaya apapun yang dikatakannya! Jangan dekat-dekat dengannya! Dia licik..."

"Tapi..." Hinata tetap tidak menemukan hal yang aneh dari Sakura. Gaara menutup mulut Hinata dengan ciumannya sebelum Hinata sempat melanjutkan kata-katanya. Gaara memperdalam ciumannya, menjilat bibir Hinata. Tadinya Hinata akan membuka bibirnya, namun Gaara melepaskan ciumannya.

"Percaya saja padaku!"

Hinata mengangguk, tidak berani menatap Gaara akibat ciuman yang diberikan oleh Gaara tadi. Hinata malu sekali, untung tadi dia belum membuka mulutnya, kalau tidak Gaara akan mengejeknya.

.

.

"Aku pikir kau tidak akan datang." ucap Sakura yang tadi sedang mengaduk-aduk lattenya dengan sendok kecil. Sakura sudah menunggu Gaara sekitar setengah jam lalu di cafe ini.

Gaara mengambil tempat duduk di depan Sakura, "Katakan apa maumu?" Gaara to the point. Pasti ada tujuan tertentu kenapa Sakura memintanya datang ke sini. Sebenarnya Gaara malas datang, tapi dia tetap datang kalau tidak, pasti Sakura akan mengganggunya terus sampai dia datang.

Sakura tersenyum, Gaara memang orang yang tidak suka berbasa-basi "Kau masih mencintaiku kan?" tanya Sakura. Gaara mendecih.

Sakura kembali tersenyum "Aku tahu kau masih mencintaiku, aku tahu kau menerima perjodohan itu karena kau marah, kau cemburu." Sumpah demi Tuhan, wanita di depannya ini pedenya minta ampun. Sakura mengira Gaara tidak tahan akan kemesraan ayahnya dan Sakura kalau Gaara melihatnya di rumah, makanya Gaara memilih tidak tinggal lagi di rumah itu.

"Kau terlalu percaya diri." ucap Gaara sarkatis.

"Kenapa? Apa aku salah?" Sakura meminum lattenya.

Memang Gaara marah karena ternyata Sakura memutuskannya demi menikah dengan ayahnya. Saat itu Gaara tidak tahu alasan tepat kenapa Sakura memutuskannya. Tapi saat ayahnya memperkenalkan Sakura sebagai calon istri ayahnya, saat itu pula Gaara tahu penyebabnya. Gaara tahu Sakura bekerja sebagai sekretaris ayahnya dan ayahnya tidak tahu kalau Sakura adalah kekasih Gaara. Jadi di sini bukan ayahnya yang salah, bukan tipe seorang ayah yang mengambil kekasih putranya. Tapi Sakuralah, ini menguatkan pendapat orang kalau sekretaris suka mengganggu para bossnya. Ya memang tidak semua seperti itu, karena apa yang terjadi, membuat Gaara berpikir kalau semua sekretaris seperti itu.

"Aku tahu aku memilih ayahmu karena dia punya segalanya, dia punya kekuasaan dan uang. Bagi orang sepertiku..." yang tadinya Sakura mengalami penderitaan hidup miskin dan ingin juga merasakan kekayaan dan kekuasaan "hidup di duniamu adalah impian yang sulit untuk diraih..." dunia Gaara, kemewahan, kekuasaan. "Ayahmu adalah jalan pintas terbaik menuju impian itu."

Padahal kalaupun Sakura memilih Gaara, maka dia juga bisa merasakan kekayaan tapi ya mungkin kekuasaannya tidak sebanding dengan posisinya sekarang. Gaara masih terlalu muda, masih suka bermain-main, itulah yang dipikirkan Sakura.

"Aku kira dengan mendapatkan kekuasaan dan kekayaan maka aku akan merasa puas, tapi..." Sakura tersenyum lemah "aku salah, saat kau tidak tinggal lagi bersama kami, aku sadar..." Sakura menatap lekat-lekat wajah Gaara "aku tidak puas, harta dan kekuasaan seolah tak berarti, aku menginginkanmu."

Omong kosong...

"Tinggalkan perempuan lemah itu dan kembalilah padaku...!" seenaknya saja dia menyuruh-nyuruh Gaara.

Gaara tersenyum, Sakura kira Gaara akan menyetujuinya "Kau licik, seenaknya menyuruhku, aku tidak akan meninggalkannya."

Hinata bukanlah perempuan tipe Gaara, lemah, manja, terlalu baik, itulah yang dipikirkan Sakura "Jangan bilang kau mencintainya?" nada bicara Sakura agak meninggi. "Kau hanya tidak mau kalah kan? Kau hanya ingin membuatku cemburu kan?" saat Gaara memegang pinggang Hinata dan tanda kissmark itu pasti Gaara tidak melakukannya karena cinta. Sakura mengira Hinata hanyalah pelampiasan Gaara.

Gaara mendengus "Terserah apa katamu."

"Aku tidak mau lagi semua ini, aku hanya mau dirimu. Aku akan meninggalkan ayahmu, ayo kita melarikan diri dan hidup berdua ya?"

Ya ampun wanita ini pedenya setengah mati "Apa kau tuli?" Sakura terkejut "Aku sudah bilang, aku tidak akan meninggalkannya. Aku harus pergi, Hinata menungguku."

Gaara bangkit berdiri dan berbalik, namun Sakura berkata dan terdengar oleh Gaara "Aku akan membuatmu kembali padaku." Gaara pergi meninggalkannya, berusaha tidak memedulikannya.

.

.

Gaara terkejut melihat ponsel canggihnya, tepatnya terkejut karena gambar dan isi pesan yang dikirimkan oleh si pengirim kepadanya. Gambar Hinata yang sedang memilih pakaian di mall, dan isi pesannya adalah...

Istrimu sedang bersamaku...

Gaara segera menaiki motornya dari kampusnya menuju Konoha Mall.

Awalnya Hinata agak ragu dan terkejut kenapa ibu tiri Gaara datang ke kampusnya dan mengajaknya jalan-jalan ke mall. Hinata ingat pesan Gaara, tapi bagaimana Hinata mau menolak kalau Sakura sudah repot-repot datang ke kampusnya dan membujuknya. Hinata itu orangnya tidak enakan, makanya dia menerima ajakan Sakura.

Tujuan Sakura mengajak Hinata adalah untuk mengatakan kepada Hinata "Gaara itu mantan kekasihku."

Hinata tersedak juice yang sedang diminumnya di sebuah cafe di mall "Uhuk..."

"Ya ampun, kau jadi tersedak. Gaara tidak cerita padamu ya?" Sakura berpura-pura tidak tahu.

Hinata menggeleng, Sakura menggenggam tangan Hinata. "Aku butuh bantuanmu."

"Apa itu?" Hinata masih belum pulih dari keterkejutannya.

"Tolong kembalikan Gaara kepadaku!"

Sakura yakin, perempuan seperti Hinata akan luluh dengan cara lembut seperti ini. Lagipula pernikahan mereka bukan karena cinta. Sakura tidak percaya, Gaara tidak mungkin jatuh cinta secepat ini kepada orang lain.

Gaara berkata kalau Hinata tidak boleh percaya kepada Sakura, Hinata ingat itu. Selama ini Hinata mengira kalau Gaara tidak suka kepada Sakura karena belum siap mempunyai ibu tiri, ternyata Gaara marah karena Sakura adalah mantan pacarnya. Jadi Gaara menyuruh Hinata untuk tidak percaya kepadanya karena itu.

Hinata yang tadinya menunduk, mengangkat wajahnya. Sakura kira Hinata akan setuju "Apa hak Anda memerintah saya mengembalikan Gaara? Anda tidak punya hak apa-apa terhadap Gaara, Anda hanya ibu tiri. Gaara adalah milik saya, saya yang punya hak, dan dia milik saya, bukan Anda."

Hinata tidak percaya dia mengatakan itu semua, dia tidak mau terlihat lemah. Gaara benar, Sakura begitu licik. "Kalau begitu, saya permisi." Hinata pergi meninggalkan Sakura.

Hinata akan menuruni eskalator, namun ada yang mendorongnya, "Ahhhhh" Hinata terguling-guling jatuh dari eskalator.

.

.

Gaara yang baru saja tiba di Konoha Mall, melihat orang-orang yang sedang berkerumun. Gaara menghampiri kerumunan itu dan ternyata yang didapatnya adalah seorang perempuan manis yang bersimbah darah. Gaara sangat mengenal siapa dia...

Istrinya, Hinata

Gaara langsung menggendong Hinata di punggungnya. Berharap istrinya masih hidup, Gaara tidak mau menunggu ambulans datang, dia lebih memilih naik taksi membawa Hinata.

Tidak ada hal yang dipikirkan Gaara saat itu, Gaara sangat panik. Yang ada dipikirannya hanya satu, semoga Hinata masih hidup...

Gaara berlari di lorong rumah sakit dengan Hinata yang terbaring lemah di punggungnya, Gaara tidak peduli kalau di rumah sakit itu jangan berisik. Dia berteriak-teriak "DOKTER...!"

"DOKTER...!"

Aku mohon selamatkan dia...doa Gaara

Gaara hanya bisa menyender ke tembok dan dia merosot ke bawah, Gaara masih khawatir. Sebenarnya apa yang dilakukan dokter di dalam kepada Hinatanya? Gaara tidak sabar menunggu. Kenapa dia tidak boleh masuk?

.

.

Gaara menemui Sakura di tempat yang sama di cafe "Kau lihat, aku bisa melakukan apa saja agar kaukembali kepadaku."

"Kau menang, baiklah aku kembali padamu." ucap Gaara.

.

.

.

TBC

.

.

Thank You Minna

.

.

Ryu