Previous Chapter: Ternyata yang dimaksud Kyuhyun dengan meminta tubuh Sungmin adalah untuk menjadi kekasihnya.
"Jadilah pacarku, DJ Ming."
"APA?!" Sungmin berteriak tertahan. Tangannya langsung menghempaskan tangan Kyuhyun yang mengunci tubuhnya. Ia mundur beberapa langkah.
"Kau ini tuli atau apa? Apa aku harus mengucapkannya sampai tiga kali?" tanya Kyuhyun sebal.
Sungmin menggeleng-gelengkan kepalanya. "Apa aku tadi membenturkan kepalamu? Sepertinya otakmu korsleting atau semacamnya."
"Enak saja kau bicara! Kalau bukan karena kekacauan yang kau timbulkan, mungkin hari ini Yoona yang sudah kuminta menjadi pacarku."
"Cih, kau pikir aku akan termakan bujuk rayumu?!"
"Aku tidak sedang merayumu. Aku sedang memintamu untuk bertanggung jawab atas segala perbuatanmu. Atau..."
"Jadi kau sedang mengancamku?" Potong Sungmin cepat.
Kyuhyun menaikkan sebelas alisnya. "Hmm... Bisa dibilang seperti itu."
"Kalau aku tidak mau, bagaimana?" tantang Sungmin.
"Mudah saja. Setelah dari sini, aku akan ke rumah sakit dan melakukan visum. Setelah itu aku akan ke kantor polisi untuk membuat laporan. Kau akan segera ditangkap dengan tuduhan pembunuhan karakter, penghasutan, perbuatan tidak menyenangkan, dan penganiayaan. Setidaknya kau akan mendekam dalam tahanan minimal sepuluh tahun," ujar Kyuhyun tentang rencana 'indah' yang akan dijalankannya.
Sungmin nyaris kehilangan kata-kata. Ia tidak mungkin membiarkan dirinya masuk ke dalam penjara selama sepuluh tahun. Bagaimana dengan keluarganya kalau sampai Sungmin masuk penjara?
'Tidak, tidak. Aku tidak boleh sampai masuk penjara,' Sungmin memberi perintah pada dirinya sendiri.
Sungmin tampak menimbangkan sesuatu. "Tidak bisakah dengan cara lain? Misalnya membujuk yeoja itu untuk kembali padamu dan menjadi pacarmu?" Sungmin mencoba menawarkan jalan damai yang lain.
Kyuhyun melipat kedua tangannya di dada. Dagunya terangkat dan menampakkan arogansinya sebagai laki-laki yang teguh pendirian.
"Terlambat. Yoona bahkan tidak mau bicara lagi padaku," jawab Kyuhyun. "Lagipula aku hanya memintamu menjadi pacarku sampai akhir bulan saja."
"Mwo?" Sungmin benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Kyuhyun. "Kenapa hanya sampai akhir bulan saja?"
Kyuhyun menarik salah satu sudut bibirnya. Senyum sinis dan meremehkannya begitu melekat menjadi ciri khasnya. "Jadi kau ingin menjadi pacarku selamanya lalu menikah denganku, begitu?"
"Your wish."
"Keras kepala sekali," sindir Kyuhyun. "Sudahlah, siapkan saja pengacaramu. Dan sampai jumpa di pengadilan," ujar Kyuhyun sambil bersiap bangun dari tempat tidur meskipun sedikit kesulitan.
"Pengacara? Pengadilan? Shireo!" Sungmin menahan tangan Kyuhyun yang sudah membelakanginya.
Tanpa Sungmin tahu, Kyuhyun sedang tersenyum dengan sinisnya. Lalu Kyuhyun berbalik dan kembali menatap Sungmin dengan tatapan angkuhnya.
"Hanya sampai akhir bulan saja kan?" tanya Sungmin.
Kyuhyun mengangguk, menggantikan jawaban 'ya'.
"Setelah itu kau tidak akan menuntutku kan?" Sungmin bertanya untuk memastikan bahwa setelah bulan berganti ia akan terbebas dari jeratan hukum atau tuntutan apapun.
"Tergantung."
"Wae? Kau bilang jadi pacarmu hingga akhir bulan?"
"Masa depanku bisa saja lebih dari satu bulan. Dan kau akan tetap kutuntut kalau terjadi apa-apa 'padanya'," ujar Kyuhyun penuh penekanan pada kalimatnya terutama kata yang terakhir.
Kyuhyun maju selangkah, dan itu membuat Sungmin mundur satu langkah. Sungmin menelan ludahnya. Membasahi kerongkongannya yang kering.
"Bagaimana, chagiya?" tanya Kyuhyun, ia masih tetap berjalan mendekati Sungmin.
Langkah Sungmin terhenti, ia sudah tersudut di dinding ruangan yang dingin.
"Ha… hanya sampai akhir bulan. Dan jangan ditawar lagi…" Sungmin mengulurkan tangan kanannya untuk mencapai kesepakatan dengan Kyuhyun. "… juga tidak ada tuntutan apapun."
Kyuhyun melihat tangan Sungmin yang mengambang di udara. Mempertimbangkan tawaran itu. Seakan tidak punya pilihan lain, Kyuhyun akhirnya menyalami tangan Sungmin. "Baiklah, mulai saat ini, sampai lima belas hari ke depan…"
CUP.
Kyuhyun mengecup punggung tangan Sungmin yang ada dalam genggamannya. "… kita berpacaran."
Sungmin mematung dengan mata yang terbuka lebar.
"Minnie?" suara Yunho membuat Sungmin dan Kyuhyun menoleh.
Yunho dan Sungmin sedang menunggu obat untuk Kyuhyun di apotek yang ada di klinik tersebut. Sedangkan Kyuhyun sedang ke kamar mandi. Kesempatan itu digunakan Sungmin untuk bercerita pada Yunho bahwa mulai sekarang ia dan Kyuhyun berpacaran.
"Minnie, kau tidak salah?" Yunho berdiri dari duduknya. Kemudian ia berjongkok di hadapan Sungmin untuk melihat wajah Sungmin yang tertunduk. Wajah Sungmin terlihat kusut.
"Rasanya aku tidak punya pilihan lain, Yun," keluh Sungmin. "Dia mengancam akan melaporkan aku ke kantor polisi dengan banyak tuduhan. Aku bisa dipenjara. Aku tidak bisa membayangkan kalau sampai aku harus mendekam di dalam penjara."
Yunho menggengam tangan Sungmin erat. "Kau tahu aku tidak akan membiarkannya. Aku pasti akan membantumu."
"Ehem." Suara deham itu berhasil menginterupsi Sungmin dan Yunho. Yunho berdiri dan menatap Kyuhyun tidak senang. Kyuhyun malah memalingkan wajahnya pada Sungmin.
"Apa obatku sudah bisa diambil?" tanya Kyuhyun pada Sungmin, ia sedang mengacuhkan keberadaan Yunho.
Sungmin menggeleng. "Aku akan mengambilnya," ujar Sungmin.
Tapi ia tertahan, Yunho menahan lengan Sungmin. "Biar aku saja, Minnie."
Sungmin baru saja akan protes, tapi Yunho buru-buru pergi menuju loket pengambilan obat.
"Kan dia yang mau mengurusnya. Kenapa begitu saja direbutkan sih?" Kyuhyun tampak mencibir.
Sungmin memandang Kyuhyun sebal. "Ini semua kan gara-gara kau."
Kyuhyun balas memandang Sungmin lebih tidak suka lagi. "Kau bilang siapa? Semua gara-gara aku? Apa aku harus mengulang deretan dosa yang sudah kau lakukan padaku?"
Suasana tegang itu kembali terasa. Mereka tidak seperti pasangan yang baru saja mengikat janji, mereka malah lebih cocok disamakan dengan kucing dan tikus. Jika digambarkan dalam sebuah komik, kedua mata Sungmin dan Kyuhyun sudah mengeluarkan aliran listrik yang siap menyengat satu sama lain.
"Ini obatmu!" Yunho memberikan kantong plastik putih berisi obat dengan kasar di dada Kyuhyun. "Ayo, Min. Biar kuantar kau pulang," ajak Yunho pada Sungmin.
"Hei, hei! Tunggu dulu," Kyuhyun menahan kepergian mereka.
"Apa lagi sekarang?" Yunho yang bertanya.
"Mobilku ada di kantor radio kalian. Kau harus membawaku ke sana dulu," Kyuhyun memberitahu permasalahannya barunya. Sungmin dan Yunho memang membawa Kyuhyun ke klinik dengan mobil Yunho, dan keduanya tidak tahu bahwa Kyuhyun membawa mobil juga.
Yunho dan Sungmin diam saja tidak menanggapi Kyuhyun. Mereka saling pandang, kemudian pergi begitu saja.
"Hei!" Kyuhyun yang sedang kesulitan berjalan berusaha menyusul mereka.
Saat di parkiran klinik, Sungmin baru saja akan membuka pintu penumpang yang ada di samping kemudi, tapi Kyuhyun malah menutupnya dan menahannya agar Sungmin tidak membukanya lagi. Yunho yang sudah berada di dalam mobil, menurunkan kaca mobil yang untuk melihat ulah apa lagi yang sedang diperbuat Kyuhyun.
"Duduk bersamaku di belakang." Kyuhyun meminta dengan nada memerintah.
"Wae? Kau saja sendiri. Aku tidak mau Yunho duduk sendirian, memangnya kau pikir Yunho itu supir?"
"Ya Tuhan, banyak tingkah sekali orang ini," desis Yunho tidak terdengar.
"Temani aku duduk di belakang atau…" Kyuhyun menggantung ucapannya, karena ia sendiri yakin Sungmin sudah tahu kelanjutannya.
Sungmin memelototi Kyuhyun sebelum melihat Yunho dari jendela mobil yang terbuka. "Yun, aku…"
"Ne, Minnie. Aku mengerti," Yunho menyela kalimat Sungmin. Rupanya Yunho mendengar keributan kecil barusan.
Sungmin pasrah. Kemudian ia mendorong tubuh Kyuhyun yang menghalangi pintu mobil dan dengan terpaksa mengikuti perkataan Kyuhyun untuk duduk di belakang. Sementara Kyuhyun? Senyum penuh kemenangan dari sudut bibirnya itu tidak sempat terlihat Sungmin.
Sungmin baru saja tiba di kantor Radio Sapphire saat seseorang dari arah belakang merangkul pundaknya. Dengan gesit Sungmin menarik tangan itu dan memelintirnya ke belakang hingga orang yang seperti tamu tidak diundang itu meringis kesakitan.
"Ini aku. Lepaskan, lepaskan," rintihnya.
"Kau?" Sungmin melepaskan tangan itu saat menyadari sang pemiliknya adalah 'namjachingu' jadi-jadiannya. Kyuhyun cemberut melihat aksi merangkulnya ditolak Sungmin. Sesuatu yang baru pertama kali baginya.
Sungmin meneliti kehadiran Kyuhyun setelah kemarin ia resmi membuat perjanjian tidak tertulis dengan bersedia menjadi kekasih Kyuhyun hingga akhir bulan. "Wae kau ada di sini?" tanya Sungmin galak.
"Tentu saja mengunjungi pacarku yang sedang bekerja. Memangnya apa lagi? Apa kau pikir aku ke sini untuk beramah-tamah dengan produsermu?" Kyuhyun balas bertanya.
Sungmin yang malas menanggapi Kyuhyun meneruskan langkahnya masuk ke dalam kantor Radio Sapphire. Dengan santainya Kyuhyun kembali mengalungkan tangannya di pundak Sungmin. "Jauhkan tanganmu!" perintah Sungmin.
Kyuhyun menjauhkan tangannya dari pundak Sungmin. "Yaa! Bukankah memang seharusnya sepasang kekasih seperti itu?" Kyuhyun bertanya sambil mengimbangi Sungmin yang berjalan cepat, bukan apa-apa, kecelakaan kemarin membuat kaki-kaki Kyuhyun yang panjang jadi sia-sia karena ia tetap kesulitan berjalan. Dan tatapan penuh tanya dari rekan sekantor Sungmin mengiringi langkah mereka.
"Hei, apa kau akan mengikutiku terus?" tanya Sungmin saat ia sudah sampai di depan ruang kerja Yunho. Ia harus briefing dulu sebelum siaran.
"Memangnya tidak boleh?"
Sungmin menggeleng tegas. "Tidak." Sungmin kemudian masuk dan menutup pintu tepat di depan wajah Kyuhyun yang hendak mengikutinya. Dari dalam, Sungmin langsung mengunci pintunya.
Yunho yang sudah menunggu Sungmin, menatapnya heran.
"Ada apa, Min?" tanya Yunho, tidak biasanya Sungmin mengunci pintu padahal mereka hanya ingin briefing sebelum siaran.
Sungmin berjalan mendekati kursi yang berada di tengah ruangan, di mana Yunho menunggunya dengan kertas-kertas bahan materi siaran.
"Orang itu muncul lagi," sahut Sungmin kesal. Ia sedikit membanting tubuhnya ke kursi karena emosi.
Yunho mengerutkan dahinya. "Orang itu? Maksudmu?"
"Dia. Yang kemarin itu."
"Cho Kyuhyun?" Yunho menyebutkan nama yang enggan didengar dan disebut Sungmin itu. "Bukankah dia sudah menjadi namjachingu-mu?"
"Ayolah, Yun, kau tahu aku melakukannya dengan terpaksa." Level kekesalan Sungmin bertambah karena Yunho mengingatkan bahwa Kyuhyun adalah kekasih terpaksanya. "Dan aku tidak mau membahas itu, karena lima belas menit lagi kita harus masuk on air," Sungmin segera mencegah Yunho yang hendak berbicara.
"Hei DJ Ming, seharusnya kau memberi saran seperti tadi. Bukan jalan yang sesat seperti saran yang kau berikan pada Yoona," ujar Kyuhyun begitu Sungmin keluar dari pintu ruang siaran.
Sungmin hampir loncat karena tidak menyangka Kyuhyun masih menunggunya bahkan mendengarkan siarannya. Padahal sebelum siaran tadi, Sungmin sudah mati-matian mengusir Kyuhyun. Tapi ternyata namja itu menunggunya dan mungkin mendengarkan siaran Sungmin melalui ponselnya, earphone-nya bahkan masih menggantung di pundaknya.
Sungmin baru saja ingin membalas ucapan Kyuhyun, tapi Yunho muncul dari balik pintu yang sama dengan Sungmin tadi keluar. Yunho memandang Sungmin dan Yunho bergantian.
"Apa dia mengganggumu, Minnie?" tanya Yunho menunjuk pada Kyuhyun.
"Mengganggunya? Tentu saja tidak. Aku ini sedang menunggu kekasihku selesai bekerja dan aku di sini untuk mengantarkan kekasihku pulang." Kyuhyun yang tidak ditanya malah menjawab. "Jadi DJ Ming, ucapkan sampai jumpa pada prodesurmu," Kyuhyun beralih pada Sungmin.
Sungmin menggeleng pada Yunho. Berusaha memberi tahu Yunho bahwa yang dikatakan Kyuhyun tidak benar. "Aku tidak akan pulang bersamanya."
Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya. "Apa maksudmu? Kita akan pulang bersama."
Kyuhyun menggenggam tangan kanan Sungmin, hendak menariknya agar mengkuti langkahnya. Tapi di saat yang bersamaan Yunho menggenggam tangan kiri Sungmin.
Kyuhyun menatap tidak suka pada Yunho yang menghalanginya membawa Sungmin. Yunho balas melakukan hal yang sama. Sungmin bingung, kedua tangannya digenggam dua orang namja, benar-benar seperti sebuah adegan drama.
"Sudah jelas bukan? Lee Sungmin mengatakan tidak akan pulang bersamamu," ujar Yunho tegas.
TBC
