Auhtor : Oh Zhiyulu
Genre : Sad, Romance, Yaoi, Shounen- ai, Boy X Boy, Genderswitch, OOC
Ratting : T+ Sometime M #evilsmirk
Cast : Oh Sehun
Xi Luhan
Other member EXO
Disclaimer : Sehun milik Luhan dan Luhan milik sehun. Kecuali cerita ini asli dari otak Fujoshi Hunhan saya.
Hyaaaaaaa...
Anyyeong yeorobun! Ini chap tiganya udah aku up date. Chap ini bakalan panjang. Soalnya chap - chap sebelumnya aku bkin kependekkan. Semoga kalian ga bosen sama fanfic aku.
Happy Reading! ^_^
If you don't like Yaoi, you can go from this story!
~~ To Be Your Private Guard ~~
"Ternyata kau seorang perkerja keras yah? Sayangnya aku tak tertarik sama sekali dengan tawaranmu." Balas Sehun dengan nada yang datar. Ia pun melangkahkan kakinya keluar toilet tersebut dan menghilang dibalik pintu.
Sedangkan Luhan? Ia hanya mampu mendesah kecewa dengan penolakan Sehun. Ia pun menyandarkan berat tubuhnya dengan tangan sebelah kanannya pada sebuah dinding . Ia bingung dengan dirinya sendiri, kenapa ia bersikap seperti seorang wanita ketika berhadapan dengan Sehun. Kemana sifatnya sebagai seorang pangeran ketika bertatapan dengan iris yang menyejukkan itu?
Ia memijat pelipisnya yang terasa sangat sakit sambil membuang gumpalan kain yang bersarang didada sebelah kirinya. Tidak lucu jika ia menyamar menjadi wanita dengan hanya memiliki dada sebelah kiri yang menonjol. Biarlah. Ia akan meminta bantuan Jong In bila kedoknya ketahuan. Setelah membuangnya ketong sampah, ia pun berjalan keluar toilet tersebut.
Namun tiba - tiba langkah kakinya dihalangi seseorang bertubuh kekar. Pria tersebut menyeringai dengan begitu mengerikan ketika mendapati ekspresi Luhan yang ketakutan.
"Ma,,, mau ap,, apa kau?" ketakutan itu tak terbendung lagi ketika pria itu menariknya menuju sebuah ruangan yang terdapat dilorong tersebut.
"Yaaa! Lepaskan aku!" terit Luhan ketika pria itu mulai menggrayangi tubuh mulus milik Luhan.
"Kau pikir semudah itu bisa kabur dariku. Kau sudah menggodaku manis, dan kau harus bertanggung jawab dengan adikku yang mulai terbangun dari tidur nyenyaknya."
"Andawe! Lep—eummmpphh,,,ashemmphhtt,,"jerit Luhan tertahan tatkala pria itu membekap mulut Luhan dengan bibir nistanya. Luhan terus memberontak didalam dekapan pria itu yang berusaha melumat bibirnya yang mungil. Namun tiba - tiba gerakan bibir pria itu terhenti dan sekujur tubuhnya membeku menyadari suatu hal yang ganjil pada tubuh Luhan. Kesempatan itu tak disia - siakan oleh Luhan. Ia segera mendorong tubuh pria itu agar menjauh darinya.
"Ka,,, kau namja?" tanya pria itu shock dengan mata berbelalak kaget. Mata namja itu meneliti setiap lekuk tabuh Luhan dari atas sampai bawah. "Kenapa dadamu rata seprti seorang namja?" tanyanya dengan penuh selidik.
"Ak,,, aku,,, emmm,,,"
"Kau harus ikut aku!" sentak pria itu sembari menarik tangan Luhan.
"Lep—"
Braaaakkk
Brukk
Kini berganti mata Luhan yang terbelak kaget melihat sosok itu kembali berdiri dihadapannya. Oh Sehun. Ia memukul pria itu menggunakan sebatang kayu hingga jatuh pingsan.
"Ikut aku!" ucap Sehun sambil menarik tangan Luhan menuju jendela yang ada diruangan tersebut.
"Heiii,,, tunggu dulu! Maksudmu apa? Kita akan melompat kebawah? Kau jangan gila Oh Sehun!" pekik Luhan sambil melepas cengkraman tangan Sehun pada pergelangan tangannya.
"Jadi kau mau dari mana? Lewat dari pintu dan membiarkan semua orang melihatmu menyamar menjadi seorang wanita tapi tidak memiliki payudara?"
"Yaa! Itu semua karenamu! Akan lebih aneh lagi jika aku berkeliaran dengan dada yang besar sebelah!"
"Kau mau keluar dari sini atau tidak? Kau hanya perlu melompat dan aku akan menangkapmu dari bawah." tanya Sehun dengan nada datarnya plus tatapan mata yang dingin dan tajam, seolah mengintimidasi. Luhan hanya mengangguk patuh saat merasa aura disekitarnya sangat menyeramkan.
Sehun pun melompat dari jendela tersebut yang terletak dilantai dua. Dan dengan mulusnya ia mendarat dilantai satu. Luhan pun bersiap - siap akan melompat. Namun, ketakutan itu menguasai hatinya. Apa lagi seperti yang kita ketahui, Luhan phobia dengan ketinggian.
"Palliwa!"
"Kundae,,,"
"Yaaa! Paliiii!" Sentak Sehun penuh emosi.
"NDE!" balas Luhan. Lalu dengan segenap hatinya, ia pun melompat dari lantai dua dengan memejamkan matanya erat - erat. Setelah beberapa detik ia melompat, ia tak merasakan sakit apapun disekujur tubuhnya seperti yang ia bayangkan.
"Haishhh,,,! Buka matamu! Kau berat." rutuk Sehun. Luhan pun membuka kelopak matanya dan melihat Sehun dihadapannya. Ia tepaku pada sosok dihadapannya yang nyaris sempurna. Luhan bisa dengan jelas mencium aroma maskulin yang menguar dari tubuh Sehun, membuat fikirannya nyaman berada sedekat ini dengan Sehun. Tatapan ma—
Bruuukkk,,,
"Awww,,, appoyo!" rintih Luhan ketika bokongnya mencium permukaan tanah dengan mesranya. Ia pun memberika death glarenya kepada Sehun yang malah terlihat imut. Hilang sudah semua khayalan Luhan tentang Sehun.
"Kau pikir ini tidak sakit hah? Kau tak pantas melakukan itu padaku? Aku ini pangeran"
"Kau pikir kau tak berat hah? Untuk apa aku menggendongmu lama - lama seperti tadi? Seperti homoseksula saja. Aku masih normal. Apa jangan - jangan kau homoseksual makanya kau memintaku menjadi pengawal pribadimu dengan latar belakangmu sebagai pangeran? Aku tak mempan Pangeran. Aku tak menyangka kau seorang maniak."
Ada sebersit rasa kekecewaan dihati Luhan ketika mendengar kata - kata Sehun. Bagaikan sebuah belati yang menusuk tepat diulu hatinya berkali - kali. Namun ia cepat - cepat mengalihkan fikirannya.
"Kau tunggu saja disini. Jong In akan datang sebentar lagi" Ucap Sehun dingin lalu berbalik dan berlalu pergi dari hadapan Luhan. Namun jeritan Jong In yang tiba - tiba datang mengintrupsi gerakan tungkai kakinya.
"Kau tak apa pangeran?" tanya Jong In sambil membantu Luhan berdiri.
"Haishhh,,, ini sakit sekali. Si bodoh ini enak saja menjatuhkanku."
"Kau saja yang lemah. Kau seorang pangeran tapi tak punya ahli bela diri apapun. Kau ini pangeran atau putri?" sindir Sehun
"Sudahlah Sehun! Makanya aku mohon dengan sangat agar kau menjadi pengawal pribadinya. Ahli bela dirimu sangat tinggi. Aku yakin dia akan aman bila bersamamu." Mohon Jong In
"Kkamjong, kau tahukan kalau aku tak suka diatur atur, Jadi jangan memaksaku untuk menyetujuinya. Bahkan aku lebih tertarik dengan meja judiku alih - alih melindunginya. Kau pikir aku homoseksual?"
"Sehun-ah... juseoyo"
"Anio!"
"Ya! Sehun! Dari pada kau menghabiskan waktumu dengan hal yang tak berguna, lebih baik kau berkerja diistana. Hidupmu akan terjamin"
"Aishhh,,, aku fikirkan dulu!" rutuk Sehun lalu ia pun melenggang pergi dari hadapan mereka.
"Apa dia memang seperti itu?"
"Yahh begitulah dia. Keras kepala. Emmm… Xiao Lu, ini sudah sangat larut. Kita harus pulang sebelum ada pengawal yang tahu kau pergi dari istana"
"Iya,,, iya! Aku tahu"
~~ To Be Your Private Guard ~~
"Maaf pangeran, ada yang ingin bertemu denganmu." ucap salah seorang pengawal kepada Luhan yang tengah duduk ditaman istana.
"Suruh saja ia kesini!" ucap Luhan datar tanpa menatap pengawal tersebut. Jelas ini bukan kebiasaannya. Ia tidak bersemangat untuk menjalani aktivitasnya hari ini. Entahlah, mungkin kejadian semalam yang membuatnya uring - uringan. Ia pun berdiri dari duduknya hendak menemui tamunya yang sudah lima menit ia tunggu, namun tak muncul juga. Ia pun membalikkan tubuhnya, hingga detik itu juga ia merasakan detak jantungnya berhenti.
Oh Sehun...
Sosok itu tengah berdiri dihadapan Luhan dengan tatapan yang masih sama. Dingin seolah - olah mengintimidasi. Luhan hanya berharap agar orang itu tak dapat mendengar detak jantungnya yang saling berlomba untuk memompa darah disekujur tubuhnya.
"Emm,, K-kau mau apa menemuiku?" tanya Luhan gugup sambil memandang Sehun, lebih tepatnya memandang keningnya. Terlalu menghanyutkan –menurut Luhan- bila menatap matanya. Seolah menjeratnya.
"Aku setuju menjadi pengawal pribadimu"
"M,,,mwo? Jinjja?" Tanya Luhan antusias dengan pernyataan Sehun. Sedangkan Sehun membalas ucapan Luhan dengan tatapan andalannya. Dingin dan mengintimidasi.
Luhan pun menetralkan sikapnya. Ia tak mau dibilang maniak lagi oleh sosok yang ada dihadapannya. Ayolah,,, Luhan hanya mengaggumi ketampanan seorang Oh Sehun, dia bukan homoseksual seperti yang dikatakan pria itu padanya. Iya,,, Luhan yakin dirinya masih straigh. Ia hanya ingin seseorang yang benar benar lihai bela diri, agar nyawanya aman. Bukan karena ia menyukai apalagi mencitai Oh Sehun. Bukan!
"Baiklah. Aku akan menyuruh Jong In untuk memberikanmu pakaian, kamarmu dan tugasmu disini. Aku mau tidur dulu." ucap Luhan sesantai mungkin lalu berjalan perlahan menuju kamarnya. Ia memasukkan tangannya dikedua saku celananya, agar terlihat lebih gentle. Bukan maniak seperti yang difikirkan Sehun.
Ckleeek...
Blaaam...
"Yeeeeeeeeyyyyyyyy!"
Lihat! Apakah pantas seorang pangeran berprilaku seperti itu? Berprilaku seperti seorang gadis yang baru saja dilamar oleh seorang perjaka tangguh. Jika saja ruang kamar ini tidak kedap suara, sudah pasti semua penghuni istana akan menutup telinga mereka karena terikan Luhan yang maha dahsyat.
Selama lima menit itu hanya ia habiskan untuk melompat dan mejerit tidak jelas mengekspresikan kebahagiaannya. Hingga akhirnya ia terduduk ditepi ranjang King Sizenya setelah tenaganya terkuras. Tepalak tangannya ia tangkupkan dikedua pipinya. Ia merasakan kehangatan yang menjalar dikedua pipinya.
"Haisshhh... aku masih stragih! Aku bahagia karena akhirnya aku menemukan pengawal yang aku yakin bisa melindungiku dari ancaman. Bukan karena aku menyukainya. Aku inikan namja yang manly." Ucap Luhan meyakinkan dirinya sendiri.
~~ To Be Your Private Guard ~~
"Kekeke... aku tak menyangka akhirnya kau mau menjadi pengawal pribadi pangeran. Kenapa? Kau punya masalah yahhh?"
"Itu bukan urusanmu!"
"Ya! Bisakah kau tidak mempertahankan sifat dinginmu itu? Ingat! Kau sudah berkerja disini sebagai pengawal pribadi pangeran, aku tidak mau kau bersikap dingin padanya. Kau harus bersikap sopan dihadapannya!" Jelas Jong In panjang lebar. Sedangkan Sehun hanya memutar bola matanya.
"Ya ya ya! Sudahlah, kau banyak bicara. Mana bajuku dan apa saja tugasku?"
"Tugasmu itu terus berada disamping pangeran untuk melindunginya dan menuruti semua kemauannya." ucap Jong In sambil membuka sebuah lemari. "Ini pakaianmu." lanjutnya sembari memberikan beberapa tumpuk baju khas kerajaan kepada Sehun.
"Seperti homo saja tugasku."
"Aishhhhh!" Decakkan frustasi itu dilontarkan Jong In sambil mengusak rambutnya "Kau iu bodoh atau apa? Namanya juga pengawal pribadi, yah kau harus selalu didekatnya."
"Dan satu lagi, jangan terus menyebutkan homoseksual disini. Nanti kau termakan ucapanmu sendiri." goda jong In
"Cihhh! Kau fikir aku namja macam apa? Perlu kau catat, aku ini masih suka yeoja dan akan tetap menyukai yeoja!"
"Jinjja?" Tanya Jong In dengan nada menggoda.
"Kalau aku berbohong, aku bersedia kepalaku dipenggal dihadapan semua rakyat Phoenix!"
"Baik,,, baik. Aku pegang omonganmu. Kau seorang pria sejati. Jadi,,, tepati janjimu."
"Apa aku pernah melanggar janjiku?" Ucap Sehun sembari menyunggingkan smirik andalannya. Seolah - olah bendera perperangan telah berkibar saat itu juga.
"Ak-"
"Kau pengawal baru,,, Panglima Yunho menyuruhmu kelapangan" ucap seorang pria bertubuh tegap menyela perkataan Jong In.
"Baiklah, aku akan segera kesana." Balas Sehun lalu pria itu pun membungkukan tubuhnya yang juga diikuti Jong In dan Sehun membungkukkan tubuhm mereka.
"Mana kamarku? Aku mau ganti baju"
"Darawa!"
~~ To Be Your Private Guard ~~
Terlihatlah Luhan yang sedang duduk disinggasananya sambil menyesap teh hangat dengan dua orang pengawal yang berdiri setia disampingnya. Kini ia tengah berada disebuah ruangan yang berhadapan langsung dengan sebuah halaman yang diperuntukan untuk para pengawal yang sedang melatih kemampuan mereka.
Fokus matanya terarah kepada seorang pria bertubuh tinggi tegap yang sedang memainkan pedang ditangannya dengan sangat sempurna. Berbutir peluh mengalir dipelipisnya yang membuat ia semakin sempurna dibawah teriknya matahari.
Kenapa ia hanya terfokus pada pria itu sedangkan dilapangan itu banyak pengawal lain yang melatih diri mereka?
Karena pria itu adalah Oh Sehun
"Jauh dari yang kubayangkan." ucap seorang pria yang berdiri disebelah kanan Luhan. Ia memiliki banyak pilar yang terbuat dari besi disekitar bajunya, dibandingkan pengawal disebelah kirinya.
"Maksudmu apa Panglima Yunho?"
"Kemampuan bela diri dan material artnya sangat mengaggumkan. Kurasa tanpa latihan pun ia sudah sangat pantas untuk menjadi pengawalmu pangeran. Pantas saja kau sangat menginginkannya menjadi pengawal pribadimu." Jelasnya dengan ekspresi wajah yang sangat puas akan kemampuan Sehun.
Luhan hanya tersenyum mendengar pujian itu. Padahal pujian itu bukan diperuntukan baginya. Tidak ada yang bisa menggambarkan arti dari senyuman itu. Entah senang, bangga atau mungkin,,, kagum? Entahlah, hanya ia dan tuhan yang tahu.
~~ To Be Your Private Guard ~~
"Ohhh... ayolah Jong In, aku baru dua hari menjadi pengawal disini, kenapa aku sudah langsung bertugas. Kan syaratnya setelah seminggu berlatih aku baru bisa bertugas."
"Itu salahmu sendiri yang begitu ahli dalam bela diri dan meterial arts." balas Jong In sambil terus berjalan tanpa melihat Sehun yang sedang berjalan dibelakangnya.
"Aishhhh... itu tid-"
"Apanya yang tidak bisa Oh sehun? Mereka yang mendapat pelatihan selama seminggu karena kemampuan mereka belum mencapai standart. Sedangkan kau... kau bahkan melebihi batas standart. Jadi, untuk apa latihan lagi?"
Kedua pria itu hanya terdiam saat Panglima Yunho pengintrupsi perdebatan yang terjadi diantara mereka berdua.
"Dasar anak muda! Kau pergilah Sehun, pangeran akan segera pergi. Dan kau Jong In, pergilah membeli kebutuhan dapur bersama kepala koki!" ucap Yunho dengan sebuah senyuman yang terus terpatri diwajahnya yang mulai menua namun tetap memancarkan aura muda.
"Baiklah." ucap mereka berdua lalu membungkuk kepada Yunho dan berlalu pergi. Namun, dapat kita lihat perbedaan ekspresi yang sangat kentara diwajah mereka berdua. Sehun dengan wajah poker facenya dan Jong In dengan senyuman lima jari yang terus terpajang diwajahnya
Bagaimana ia tidak tersenyum, jika ia ditugaskan untuk menemani sang Kepala Koki membeli kebutuhan dapur istana. Itu artinya ia memiliki waktu yang lebih lama bersama sang kepala koki. Yaaa... kalian pasti tau kan maksudku, siapa si kepala koki. Yuppp,,, Kyungsoo. Si gadia bermata bulat dengan gestur tubuh tinggi langsing semampai dan jangan lupakan senyuman yang begitu manis diwajahnya ketika ia tersenyum. Bahkan semut pun lebih memilih Kyungsoo alih - alih satu kilo gula tebu asli.
"Dasar gila." Umpat Sehun sebelum ia dan Jong In berpisah dibelokan lorong. Jong In kedapur sedangkan sehun kehalaman depan.
It's KaiSoo time...
Jong In terus menelusuri lorong - lorong beratap tinggi tersebut. Sepanjang jalan ia disambut lukisan - lukisan berkelas yang entah apa artinya.
Setibanya disana, ia pun mendorong sebuah pintu besar yang langsung terhubung kedapur utama istana tersebut.
"Maaf,,, apakah anda sudah akan pergi ke pasar? Yang ditugaskan menemani anda kepasar kali ini adalah saya." ucap Jong In dengan bahasa formal kepada seorang gadis yang menggunakan pakaian putih merah khas koki restauran.
"Oh jadi kau yang menemaniku? Baiklah,,,, kajja!" Ajak gadis itu lalu ia pun berjalan keluar dapur utama dengan diikuti Jong In dibelakangnya.
~~ To Be Your Private Guard ~~
"Ini" ucap gadis tersebut sambil menyerahkan beberapa koin pada penjual tersebut. "Kamsahamnida ahjussi" balas gadis tersebut sambil menerima sebuah bungkusan besar dari penjual itu.
"Pegang!" Titah gadis tersebut sambil menyerahkan bungkusan itu pada seorang pria yang ada dibelkangnya. Siapa lagi kalau bukan Jong In.
"Aisshhh Kyungie, ini terlalu banyaaaak. Beraat." Keluh Jong In kepada gadis tersebut. Kyungie. Tunggu,,, bukankah tadi percakapan mereka sangat formal, tapi kenapa jadi semanja ini. Ahhh,,, iyah aku lupa. Gadis itu adalah Kyungsoo, kekasih Jong In. Mereka menggunakan bahasa formal saat di istana agar tak ada yang mengetahui hubungan mereka. Seperti yang kutakan sebelumnya, tidak ada staf istana yang boleh berpacaran. Tapi sayang, Luhan telah mengetahui hubungan mereka. Berdoa saja agar Luhan tak mengatakan itu pada raja dan ratu.
"Itukan tugasmu Jongie" ucap Kyungsoo sambil tersenyum kepada Jong In. Hingga rasanya ada beribu kupu - kupu yang berterbangan bebas diperutnya. Namun dengan mudahnya ia menutupi perasaannya dengan ekspresinya yang tenang.
"Tak ada yang gratis didunia ini" sebuah senyuman yang -sesungguhnya- lebih mirip seringai terpampang diwajahnya yang rupawan. Siapapun yang melihat seringai itu pasti tahu, ada maksud lain dibalik itu semua.
"Ma,,,maksumu?" Kyungsoo pun melangkah mundur menjauhi Jong In ketika ia mengetahui dengan jelas apa dibalik senyuman -mengerikan- itu.
Cupp...
"Kau pasti tahu maksudku"
Sebuah semburat merah muda muncul secara perlahan dikedua pipinya. Hingga semakin lama semakin jelas. Bahkan tubuhnya pun kini menegang kaku saat bibir -tebal- nan sexy miliki Jong In menempel begitu pas dibibirnya yang ranum. Seolah - olah kedua bibir itu memang ditakdirkan untuk bersama. Sedangkan Jong In hanya tersenyum sambil terus berjalan mendahului Kyungsoo.
"Oh tuhan,,, kenapa aku selalu begini." Rutuk Kyungsoo sambil meletakkan telapak tangan kiri dan kanannya didepan kedua pipinya.
~~ To Be Your Private Guard ~~
Luhan dan beberapa pengawalnya sedang menelusuri hutan untuk menuju Kerajaan Unicorn untuk membahas kerjasama diantara kedua kerajaan tersebut. Sedangkan Sehun berada diposisi paling depan. Yahh,,, bisa disebut ia sebagai pemimpin perjalanan tersebut.
"Berhenti!"
Dan seketika itu, semua rombongan kerajaan langsung berhenti. Tatapan kebingungan langsung terarah padanya.
"Hari mulai senja. Aku rasa kita harus cari tempat peristirahatan. Akan sangat berbahaya kalau kita meneruskan perjalanan dimalam hari." Jelas Sehun dengan masih mempertahankan ekspresi dinginnya. Dan semua pengawal pun menyetujui pendapat sang ketua.
"Ada apa?" Tanya Luhan yang sedang menyembulkan kepalanya dari balik pintu kereta kudanya.
"Pemimpin bilang kita istirahat saja dulu. Hari mulai gelap." Ucap salah seorang pengawal dan dibalas anggukan kepala oleh Luhan.
"Kita istirahat disana saja." Tunjuk Sehun kearah sebuah lapangan yang lumayan luas dengan dikelilingi oleh semak belukar.
Sraaaaaang
Sraakk
Sehun pun mengeluarkan sebuah pedang dari sarungnya dan menebas beberapa tumbuhan liar tersebut sehingga memungkinkan mereka untuk melewatinya. Setelah jalan terbuka, mereka pun membangun sebuah tenda yang cukup untuk sang pangeran.
"Emmm... lalu bagaimana dengan kalian?" Tanya Luhan kepada mereka yang sebenarnya lebih menujuk pada Sehun.
"Kami akan berjaga diluar." Balas Sehun dan -lagi lagi- Luhan hanya menganggukan kepalanya lalu berjalan masuk kedalam tenda tersebut.
~~ To Be Your Private Guard ~~
Tiba - tiba saja ketenangan tidur Luhan terganggu ketika sang alam memanggilnya. Ia menyingkirkan selimut yang bertengger ditubuhnya dan merangkak keluar dari tendanya.
"Kenapa mereka semua tidur? Di mana dia?"
"Kenapa mencariku?"
Luhan langsung terlonjak kaget tatkala sebuah suara mengintrupsi kegiatannya yang tengah mencari Sehun.
"Eungg... percaya diri sekali kau? Aku tidak mencarimu. Dan lagi, kenapa mereka semua kau biarkan tidur?"
"Mereka manusia yang juga perlu istirahat."
"Lalu apa bedanya dengan kau? Kau tak ingin istirahat?"
"Lalu kau mau berjaga disini selagi aku tidur?"
"Tidak"
"Yasudah, masuklah ketenda dan kembali tidur." Suruh Sehun lalu Luhan membalikkan tubuhnya dan berjalan memasukki tendan dengan menghentak - hentakkan kakinya. Hingga gerakkannya tiba - tiba terhenti diambang pintu saat ia menyadari tujuannya keluar tenda.
"Apa lagi?"
"Aku mau buang air kecil"
"Isshhhh... kau menyusahkan saja!" Rutuk Sehun lalu ia mengeluarkan pedang miliknya dari sarungnya dan berjalan mendahului Luhan
"Heiii tunggu! Itu kan memang tugasmu! Heii,,, berhenti!"
~~ To Be Your Private Guard ~~
Sreeet
"Hahhh... leganya." Ucap Luhan lalu ia merapikan celananya dan berjalan mencari keberadaan Sehun.
Ia menyerengit heran ketika mendapati Sehun tengah berjalan mengendap - endap dengan sebuah pedang panjang nan runcing yang bersiaga ditangan sebelah kanannya.
Plaaak
"Heiii,,,"
"Yaaaa..."
Brukkkk...
"Awwww...!"
Luhan merasa bingung sendiri saat ia tak merasakan sakit apapun disekujur tubuhnya. Malah sebaliknya, ia merasakan nyaman dengan posisinya sekarang. Padahal, seingat Luhan, tadi dia menepuk pundak Sehun sehingga secara refleks Sehun langsung menghantam tubuhnya hingga ia oyong dan terjatuh. Kenapa ia merasa nyaman seolah - olah ia jatuh diatas tubuh seseorang. Sependengarannya, tadi ada seseorang yang mengerang kesakitan. Tapi ia yakin itu bukan dari dirinya. Apa mungkin Sehun menangkap tubuhnya saat ia tahu bahwa yang ia hantam adalah Luhan?
Ia pun membuka kelopak matanya secara perlahan. Hingga akhirnya ia menemukan obsidian kecoklatan milik Sehun yang mampu membuat sekujur tubuhnya membatu. Begitu tenang dan menyejukkan.
Kesunyian itu pun menyelimuti mereka berdua. Kedua obsidian itu saling menghanyutkan satu sama lain. Menghantarkan sebuah perasaan yang sulit dicerna oleh fikiran mereka. Begitu nyaman dan memabukkan.
Deg,,, deg,,, deg,,,
Deg,,, deg,,, deg,,,
Bisa kalian dengar? Sepertinya asal suara detak jantung itu bukan berasal dari satu orang saja. Suara detak jantung itu saling bersahutan. Sepertinya Sehun mulai merasakan sesuatu yang lain terhadap Luhan. Bahkan kini suara detak jantungnya hampir menyamai suara detak jantung Luhan.
Pandangan mata mereka hanya terkunci pada objek yang ada didepannya. Saling menikmati perasaan aneh yang mulai menjalar ditubuh mereka.
"Pangeraaaaaaannn!"
Bruuuukkkk
"Awww... appo!"
Ketika mendengar suara jeritan itu, Sehun langsung mendorong tubuh Luhan kesebelahnya hingga terdengar bunyi jatuh yang sangat kentara. Sungguh, pengawal itu telah berhasil mengganggu moment mereka berdua.
"Cepat bangun!" Ucap Sehun sambil mengulurkan tangannya kepada Luhan.
"Aku bisa sendiri!" Balas Luhan tanpa memperdulikan uluran tangan Sehun. Ia pun bangun lalu membersihkan pasir - pasir yang menempel dipakaiannya.
"Ayo kembali! Mereka mencari kita." Sehun melanjutkan jalannya tanpa memeperdulikan Luhan yang tengah memberikan berbagai sumpah serapah kepadanya
To Be Continue...
Gimana? Yang chap ini udah panjang bangetkan? Aku juga udah selipin KaiSoo moment. Trus mungkin bakalan ada Baekyeol moment di chap selanjutnya. Maaf yah ini ga bisa aku jagiin Mpreg. Kalau jadi M (pasti) bisa. Mpreg itu kan yang ukenya hamil kah?
Ohhh... aku setuju banget sama kalian semua. Semua HunHan sama sama rindu dengan HunHan moment. Terutama aku setuju banget sama kamu DiraLeeXiOh aku kadang lebih suka Sehun sama Kai atau Tao. Aku kesel banget sama Luhan yang lebih dekat sma Xiumin. Kadang aku sering bilang gini "HunHan? Masih adanya tuh couple. Bukanya udah terhapus dari sejarah yah". Tapi sekesal kesalnya aku sama HunHan aku ga bisa benci sama HunHan. Aku sayang banget sama ntuh couple. Bahkan aku sampe nangis karena mereka menjauh. #pundung
Aku rindu banget sama HunHan moment kayak yang di Star Olympic. Semoga HunHan bisa kayak dulu lagi #amin. #tahajutanBarengHunHanShipper
Makasih banget yang udah bersedia menuliskan tulisan indah penuh makna kalian dikotak review. Semoga satu karakter yang kalian tulis di review dibalas 10x lipat #amin. Juga makasih buat silent reader yang udah memberikan pahala anda kepada saya. Kan kalau kita berbuat dosa kepada seseorang, maka pahala kita akan dipindahkan kepada dia. Kalian suatu saat juga akan merasakan apa yang saya rasakan. Oke?
Big thanks to :
Yeollipop | VirXiaoLu | DiraLeeXiOh | Lisnana1 | Younlaycious88 | HyunRa | YeoSyeo | Hunhanminute | CuteManlydeer | OH Luhan | | Guest
Jangan bosen yah buat baca epep aku. I Love You My reader... Thalanghaeyeo... #buingbuingbarengYehet
REVIEW JUSEYOOOO... ^_^
