AN Semua lagu dan parodi di dalam chapter ini bukan milik saya!

Warning Cerita aneh, OOC. alay. Sebagian besar merupakan pengalaman nyata saat aktif teater.

Standard Disclaimer Applied


.

.

.

Saikyou Ichiban!

.

.

.

Gadis berambut pink itu menelusuri koridor sekolah dengan langkah ceria.

Mengecek jam, ia mempercepat jalannya. Latihan drama baru dimulai sejam lagi, tetapi Momoi ingin berlatih sendiri terlebih dahulu, agar latihan nanti ia terlihat oke. Biar mantap, sampai Akashi menangis terharu melihat perkembangannya. Lebih mantap lagi, sampai Akashi menangis terharu hingga memberinya Oscar.

Kemarin, Akashi memberinya pekerjaan rumah untuk satu adegan tertentu, yaitu berteriak.

Iya, berteriak. Di antara seluruh adegan yang akan dimainkan Momoi (memberi salam pagi dengan ceria, masuk kelas, lalu dibunuh tokoh utama pakai penggaris tiga puluh senti), dia malah terbentur pada akting semudah berteriak. Siapa sangka akting berteriak itu susah?

Momoi sendiri menganggap adegan itu sepele, sebelum Akashi menghilangkan kepercayaan dirinya semudah membuang kentut dalam air.

.

.

.

(FLASHBACK)

"AAAAAAAAAA!"

"Cut! Satsuki, itu teriakan ketemu hidung belang di malam hari."

"AAAAAAAAA!"

"Cut! Satsuki, itu teriakan melihat kecoa di kamar mandi."

"AAAAAAAAAA!"

"Cut! Satsuki, itu teriakan dipegang Daiki yang belum mandi."

Akashi sempat menghindari sabetan penggaris dari Aomine sebelum menyuruh adegan tersebut diulang.

"AAAAAA-OHOKOHOKOHOK!" Momoi terduduk memegangi lehernya, keringat menetes-netes dari wajahnya, air mata tumpah berderai. Kedengarannya dramatis, tetapi ia memang hampir menyerah. Sudah berulang kali dia berteriak sore itu. Untungnya mereka latihan di kelas yang sepi. Kalau di taman, pasti sudah ada yang panggil polisi dan Akashi diringkus dengan tuduhan penganiayaan.

"Satsuki," menyadari moral pemainnya itu sudah menurun, Akashi menghampirinya dengan ekspresi professional yang kebapakan, persis pelatih tim voli (kenapa harus tim voli, Akashi juga tidak mengerti), "sedikit lagi. Kau pasti bisa."

"Tetapi, dari tadi aku salah terus! Akashi-kun!" Momoi terisak. Yang lain duduk di lantai dan melihat dalam diam, entah karena simpati atau sekedar curi-curi istirahat. "Aku nggak percaya diri. Aku nggak mau drama ini gagal gara-gara aku."

"Satsuki." Akashi duduk di sampingnya sambil menatap matanya dalam, merah bertemu pink. "Aktingmu sudah bagus, hanya saja vokalmu tak punya jiwa."

"J-Jiwa?"

Jiwa adalah sesuatu yang serius, sama serius seperti cinta, perdamaian dunia, dan spageti Carbonara.

"Jiwa, Satsuki. Setiap vokal yang dikeluarkan pemain harus punya jiwa dan makna. Bukan pura-pura, tetapi langsung dari hati. Kamu harus membuat penonton percaya kalau kamu benar-benar berteriak, bukan sekedar mengeluarkan bunyi."

"Tapi, bagaimana caranya?"

"Satsuki." Akashi memegangi bahunya. "Kamu tahu adegan ini, kan? Ini adegan tokoh utama membunuh teman masa kecilnya."

Anak perempuan itu mengangguk. Adegan ini merupakan adegan pembunuhan pertama di drama ini. Si tokoh utama, yang berdelusi bahwa ia ada di neraka, membunuhnya memakai penggaris. Sampai sekarang tidak ada yang berani menanyakan Akashi bagaimana caranya membunuh manusia dengan penggaris tiga puluh senti.

"Ini berbeda dengan dibunuh penjahat yang tidak dikenal. Di sini, yang membunuhmu adalah temanmu sendiri."

"…"

Jeda dramatis.

"Apa reaksimu kalau Daiki tiba-tiba menyerangmu di ruang kelas?"

"Ambil cutter dan potong arteri di lehernya."

"…"

"…"

"…" Aomine keluar kelas.

"… Pokoknya." Akashi berdehem sebelum memandang Momoi lagi. "Selain kengerian, harus ada unsur ketidakpercayaan dalam suaramu. Tak percaya bahwa temanmu itu mau menyakitimu. Jadi, berbeda dengan bertemu penjahat tak dikenal."

Sejujurnya, Momoi masih kurang mengerti, tetapi dia mengangguk-ngangguk agar terlihat paham dan intelek. Perempuan harus punya harga diri, jangan mau terlihat bodoh di hadapan lelaki.

"Besok harus bisa, oke?" Akashi mengangguk sedikit, berdiri, lalu melihat anggota yang lain malah duduk-duduk sambil makan cemilan, baca komik, hingga mengupil (Murasakibara melakukannya dengan kelingking kaki untuk tantangan lebih lanjut). Mereka semua langsung dihukum lari 20 keliling dalam ruangan.

.

.

.

Dengan semangat yang agak naik, Momoi sudah berlatih semalaman di rumah. Ia berlatih berteriak di ruang tamu, kamar tidur, hingga toilet. Bahkan sebelum tidur, dia latihan imajinasi terlebih dahulu, bagaimana apabila Aomine mau membunuhnya. Akibatnya, dia mimpi dibunuh dan kasusnya dipecahkan Conan Edogawa.

Esok sorenya, selesai tugas piket, Momoi segera menuju ruang musik tempat mereka berlatih. Betapa kagetnya dia saat Kise dan Aomine sudah ada di dalam. Mereka duduk berjauhan dengan suasana muram yang tidak bisa diterangi lampu ruangan. Aomine memandang keluar jendela dan Kise memeluk lutut di atas kursi piano, seakan-akan mereka memutuskan untuk berpisah meskipun gedung resepsinya sudah dipesan.

Sampai-sampai Momoi bisa mendengar seseorang bernyanyi:

dengarkan dengarkan lagu…. lagu ini…. melodi rintihan hati ini…

kisah kita berakhir… di Januari…

"Ada apa, semuanya?" Momoi agak heran. Tumben-tumbenan Aomine yang raja telat sudah ada di tempat latihan, bahkan berduaan dengan Kise. Berbagai macam skenario langsung berkelebat di kepala Momoi, hasil membaca Nakayoshi setiap bulan.

"Sudah berakhir, Momoicchi." Kise memainkan tuts piano. Mungkin kalau bisa main piano, Kise sudah memainkan Mozart dengan air mata menetes. Sayangnya Kise lebih tahu soal keju Mozarella daripada Mozart. "Sudah berakhir, ssu…"

tring tring…

"Apaan sih, kalian?" Aomine perlahan menoleh ke arah teman masa kecilnya. Ada kesedihan dan kebingungan tercampur aduk di wajahnya. Saat ini, Momoi hampir yakin mereka sebenarnya sudah lama backstreet dan baru saja putus.

"Kami nggak bisa menyatu."

"T-Tak bisa menyatu? Kenapa?" Momoi terhenyak, lalu menghampiri Aomine dengan wajah tak percaya. Kenapa ini bisa terjadi? Kenapa Aomine dan Kise tak bisa menjadi satu?

"Ceritakan pada temanmu ini, Dai-chan!" Momoi meremas Aomine dengan lembut. Tangannya, maksudnya. "Aku akan selalu mendukungmu."

"Kami nggak bisa jadi satu."

"Kenapa?"

"Sudah berkali-kali dicoba, nggak bisa." Nadanya frustasi. "Sampai berkeringat, susah payah, tetap nggak bisa."

"Dicoba lagi."

"Nggak, sudah nggak bisa lagi."

"Mungkin kamu kurang lembut."

"Kurang lembut apa lagi? Aku sudah bersabar tiap kali melakukannya."

"Atau mungkin, kamu kurang bersemangat?"

"Kami sudah sangat bersemangat, tetapi tetap tak sesuai harapan."

Momoi meremas(tangan)nya Aomine sekali lagi, kali ini lebih kuat dan penuh determinasi. Dia mengerti. Dia sangat, sangat mengerti. Karena itu, Momoi menasihatinya dengan lembut. "Mungkin kamu harus pakai pelumas, Dai-chan."

"Hah? Pelumas? Memangnya adegan pegangan tangan itu ada properti pelumasnya, ya?"

Aomine bingung.

"…"

"…"

"Eh, maksudnya soal drama, ya?"

.

Setelah diceritakan, ternyata hal yang mereka bingungkan lebih polos dan suci daripada pikiran Momoi. Mereka membingungkan soal drama, lebih tepatnya, adegan klimaks dari drama tersebut. Momoi merasa kotor karena mengira itu adegan klimaks yang lain.

Adegan yang dimaksud mengharuskan mereka berdua untuk pegangan tangan. Karena sutradaranya adalah Akashi Seijuuro yang lebih banyak maunya daripada sutradara film Holywood, tentu saja itu bukan adegan berpegangan tangan biasa. Itu adegan berpegangan tangan super klimaks dan intens dan penuh perasaan yang meletup-letup, seperti buang air besar setelah ditahan penuh perjuangan di dalam kelas selama tiga jam penuh.

(Analogi buang air besar ini dibuat Murasakibara yang sudah makan asam garam kehidupan.)

Walaupun intens, yang membuatnya sulit adalah akting pegangan tangan ini dilakukan dalam adegan yang lambat. Semua serba slow, musik dihentikan, dan lampu sorot menghalau kegelapan. Penonton difokuskan pada Aomine, Kise, dan tangan mereka yang saling bertaut. Setiap gerak yang tersirat, setiap kerling yang menyampaikan sesuatu, semua akan sampai ke penonton mentah-mentah. Penonton harus dapat melihat gejolak suatu persahabatan yang mencapai batas.

Masalahnya adalah kedua pemain yang bersangkutan tidak bersahabat. Mereka lebih sering sabet-sabetan penggaris daripada bersahabat. Bahkan Aomine lebih bersahabat dengan bola basket daripada dengan Kise. Buktinya, kalau di lapangan basket ada Kise dan bola basket, yang akan disapa cuma bola basketnya.

"Selamat siang, bola basket! Betapa indah gema dribble-mu!"

"… Kok aku nggak disapa?"

"Bola basket, kok tadi ada suara cicak lewat?"

(lalu Kise membuat passing akurat ke muka Aomine)

Kalau seorang pemain professional yang memang digaji, hal ini takkan jadi masalah. Tetapi kedua pemain gratisan ini adalah amatiran yang baru tahu apa itu teater sebulan lalu.

Seperti Momoi, mereka juga diberi pekerjaan rumah oleh Akashi agar bisa berpegangan tangan seperti layaknya dua orang sahabat… di suatu cerita thriller bunuh-bunuhan.

.

.

.

(FLASHBACK)

"Cut!"

Sang sutradara melipat tangan di dada sebelum menghela napas panjang, lelah dengan kedua pemain utamanya. "Daiki, Ryouta, cara kalian berpegangan tangan seperti adu panco."

"Dia yang salah." Keduanya langsung saling menuding.

"Aku nggak bisa, Akashicchi. Tangannya lengket. Pasti dia nggak cuci tangan."

"Wanginya menyengat sekali, Akashi. Hidungku sampai mau bersin kalau dekat-dekat dia. Baunya nggak enak!"

Kise terhina. "Itu cologne! Lagipula itu wangi lavender, ssu! "

Yang lain menjulurkan lidah. "Terserah! Mau cologne lavender, mau baygon lavender, pokoknya bau!"

"Aku nggak bau!"

"Bau!"

"Nggak!"

"Sekali bau tetap bau! Kisebau!"

Muka Kise sudah merah. "Nggaaak!"

Ckris!

Semua hening, termasuk jangkrik di luar jendela. Satu-satunya suara yang ada hanyalah suara Kuroko main flappy bird dengan sangat seru di suatu pojokan. Akashi yang meminjaminya handphone agar tidak bosan. Sekarang dia sudah level 10.

"Jangan bertengkar. Kalian sama-sama salah." Akashi memandang keduanya bergantian, dari Kise ke Aomine. "Oke, Daiki, mungkin kamu lebih salah karena kamu hitam."

"…"

"…"

Aomine tahu dia hitam, tapi hati Akashi jauh lebih hitam.

"Besok. aku mau kalian lebih baik lagi. Aku tahu, mustahil meminta kalian bermain sempurna—" Akashi mengacak poninya hingga kepingan cahaya berjatuhan (bukan ketombe), "—tapi, paling tidak, bermainlah dengan baik. Minimal, lebih rukun."

"…" Mereka tidak berbicara apa-apa. Sama-sama keras kepala.

"Bermainlah yang baik." Cling. Gunting berkilau, tanda sering diasah. "Oke?"

.

.

.

"Oooh." Momoi menganggukan kepala tanda mengerti. "Jadi kalian sudah latihan habis-habisan, tetapi tetap saja terasa nggak pas?"

Mereka ikut mengangguk. Aomine melipat tangan dan duduk ala Indian di atas kursi kelas.

"Kami sudah hilang akal." Kise bercerita dengan sedih.

"Sebenarnya aku ingin membantu, tetapi aku juga sedang bingung." Momoi menghela napas, mengingat teriakannya yang gagal menggugah hati Akashi kemarin. "Aku sudah latihan, tetapi aku nggak tahu sudah cukup atau belum. Makanya, aku kemari mau latihan duluan."

"Soal teriakan kemarin, ya? Menurutku sudah bagus, kok."

"Nggak, kurang bagus!" Jilatan api berkobar di belakang Momoi. "Harus lebih bagus lagi sampai Akashi terpesona."

"Kenapa Akashi harus terpesona?" Aomine heran.

"Kalau Akashi terpesona kan asyik, seperti menaklukkan puncak Everest."

"Iya sih."

Mereka diam lagi, sampai salah satunya angkat suara:

"Ya sudah, mau latihan?"

.

Mereka pun berlatih bersama-sama di ruangan itu. Dialog-dialog Kise dan Aomine yang sendu semacam, "Kamu memang sahabatku." dan "Aku membencimu." pun ditemani dengan teriakan-bertemu-kecoa 'AAAAAAAAAAAAAAAAAAA!' dari Momoi. Aomine yang tidak bisa konsentrasi, melempari teman masa kecilnya dengan sandal sekolah. Momoi membalas dengan melempar kursi. Kursinya mengenai Kise. Mereka pun berakhir tawuran di kelas.

.

.

.

Setengah jam kemudian, Midorima membuka pintu, tangan kiri memegang satu kotak tisu. Di dalam ruang kelas musik itu, ketiga pemain tengah terkapar di lantai dengan gaya khas masing-masing. Momoi menghadap samping, Aomine telentang, dan Kise nungging. Seluruh kursi di ruangan itu acak-acakan, salah satunya malah terlempar keluar jendela.

"Bukannya aku peduli, tetapi kalian habis apa?"

"Latihan fisik." jawab Momoi sambil terengah-engah, tangannya masih memegang kaki kursi yang jatuh ke lantai. "Mengangkat kursi untuk pembentukan bisep dan trisep."

"Oh."

Cuek, Midorima membetulkan satu kursi dan duduk di samping jendela, menaruh tisunya, dan membaca suatu novel dengan gaya elegan. Gorden tipis tertiup angin membayangi sosoknya. Kalau Takao melihat hal ini, mungkin dia sudah bikin lagu lengkap dengan video klipnya. Sayangnya, Takao saat ini sedang interview di televisi.

.

.

.

(INTERVIEW)

Presenter (P):*duduk di sofa bersama STK48* "Takao-kun, kenapa kau terlihat lesu?"

Kimura (K): "Takao habis ditolak."

Para Penggemar Seseantro Jepang yang Ada di Studio (PPSJAS): *teriakan mengerang tak percaya*

P: "Ya ampun…" *bergeleng-geleng penuh penghayatan, lalu menepuk bahu Takao keibuan* " kamu nggak apa-apa, Takao-kun?"

Takao (T): "Nggak apa-apa, kok!" *tertawa ceria di luar, dalam hati dia menjerit* "Aku nggak apa-apa."

P: "Tetapi kenapa kamu ditolak?"

T: "Dia pikir kami nggak cocok."

P: "Nggak cocok? Kok bisa?"

T: "Katanya, zodiak kami nggak cocok."

P: "Jadi Takao-kun ditolak karena ramalan bintang? Perempuan seperti apa, itu?" *shock*

.

Di ruang kelas musik, Midorima bersin.

.

P: "Nggak apa-apa, Takao-kun. Pasti ada perempuan yang lebih baik untukmu."

T: "Walaupun begitu… Aku tetap sayang dia."*kerlingan pria tampan yang memancarkan kesedihan*

PPSJAS: *teriak, beberapa orang sampai pingsan dan butuh bantuan pernapasan*

T: "Sebenarnya aku sedang buat lagu baru, loh!" *tertawa*

P: "Waah, lagu untuk sang terkasih?"

T: "Ini lagu yang menggambarkan walaupun aku sudah ditolak, aku tetap sayang dia."

T: "Aku akan persembahkan lagu baruku untuknya."

P: "Wah, nanti akan dijadikan single baru nih?"

T: "Belum ada rencana, sih."

P: "Boleh nih kita dengarkan cuplikan lagunya bersama para Pemirsa?" *tersenyum akrab ke arah kamera, seakan si kamera dan presenter teman satu sma*

*Studio gelap dalam sesaat, lalu lampu menyoroti Takao yang tiba-tiba main piano dengan tuksedo (Takao bisa ganti baju dalam jeda lima detik di kegelapan)*

.

Aku tahu ku takkan bisa…

menjadi seperti yang engkau minta…

Namun selama, nafas berhembus

ku akan mencoba…

Menjadi seperti yang kau minta…

.

"Midorimacchi dari tadi bersin-bersin terus."

.

.

Kembali ke ruang musik.

Tak lama kemudian, Murasakibara datang dengan sebungkus penuh cemilan yang dia beli di Kombini, amunisi perang untuk latihan hari ini. Akashi sangat pelit dalam hal memberi izin keluar saat latihan (Aomine pernah disuruh pipis dari jendela). Oleh karena itu, Murasakibara menumpuk makanannya lebih dahulu. Bagi Murasakibara, menahan lapar lebih menyakitkan daripada menahan pipis. Lebih baik dia kena kencing batu daripada kelaparan sampai makan batu.

Kuroko, tidak ada yang tahu kapan dan bagaimana dia masuk ke ruangan tersebut. Tahu-tahu dia sudah ada di samping Midorima, minum susu vanilla dari botol yang disiapkan ibunya. Setelah minum susu, dia langsung sendawa lalu tidur. Jadi anak kecil memang asyik.

Tepat jam latihan, Yang Mulia Akashi datang dengan jaket berkibar di bahu. Semua siap siaga.

.

.

"KENAPA!?"

Midorima berteriak frustasi. Kalau ini syuting film, kamera sudah zoom in zoom out.

"Bagaimana bisa!?" Setelahnya ia berputar-putar sebentar mengelilingi panggung, memasang gestur layaknya seseorang yang terguncang. Saking hebohnya ia mengitari panggung, Midorima hampir saja membelakangi penonton, tetapi segera memperbaikinya sebelum Akashi berteriak 'Cut!'

Setelah mengitari panggung, sesuai dengan timing, ia menggeser kursi lalu terhenyak di sana. Wajahnya masih frustasi. Dengan suara lebih lirih, ia meringis menahan tangis, seakan hamsternya mati dimakan kucing, "Kenapa ini bisa terjadi?"

Mendekapkan kedua tangan ke wajahnya yang menunduk, bahu Midorima bergetar.

"Cut! Lampu mati!"

Lampu ruangan dimatikan dan dinyalakan kembali lima detik kemudian. Midorima menatap Akashi, gaya duduknya jadi rileks, dan wajahnya terlihat sebal.

"Shintarou, tadi suaramu pelan lagi di bagian terakhir."

"Kan, dialognya lirih." Midorima membela diri.

"Lirih bukan berarti tidak terdengar." Akashi tidak menerima pembelaan. "Memang nanti di panggung akan dipasang beberapa mic. Tapi suaramu tetap harus jelas, bulat, dan keras. Kamu masih latihan vokal, kan?"

"Kadang-kadang." Kenyataannya, Midorima latihan vokal tiap pagi demi menaklukkan hati Si Dia (baca: Akashi), tapi sampai mati takkan diakuinya. Di antara semuanya, suara Midorima memang yang paling pelan, sepelan kentut Murasakibara. Midorima tentu saja tidak terima suaranya disamakan dengan kentut.

"Nanti perbaiki, oke?"

Midorima tidak menjawab, hanya terlihat makin kesal dan berdecak diam-diam. Selalu saja ada yang salah di mata Akashi. Memangnya bagi Akashi dia cowok apaan?

"Selanjutnya, adegan Atsushi dan Satsuki di ruang kelas."

Lampu kembali dimatikan, dan keduanya bersiap di tempat masing-masing.

.

.

Selama istirahat dua puluh menit, pembicaraan mengenai drama tetap terjadi.

"Bagaimana dengan properti, kostum, latar belakang, dan lain-lain?" Momoi bertanya kepada Akashi sambil mengipas diri dengan naskah. "Sudah harus disiapkan, kan?"

Yang bersangkutan sedang mengetik di laptop, Kuroko main tetris sambil tiduran di paha kiri Akashi, sedangkan Kise tiduran di paha kanannya. Sepertinya yang bisa manja-manjaan di dekat Akashi hanya Kuroko dan Kise*.

.

*syarat dan ketentuan berlaku.

.

"Aku sudah minta tolong dengan anak-anak SD sebelah." jawab Akashi sambil memainkan rambut Kise. Kise mendengkur seperti kucing anggora mahal pada tuannya. Semua yang melihatnya serentak mengurut dada dalam hati, di mana harga dirimu… "Mereka akan datang besok untuk membicarakannya."

"Kok, mereka mau membantu kita?"

"Dibayar, tentunya."

"HAH!" Semua terhenyak. Akashi, calon bos yakuza yang hobinya mengancam orang, sekarang mendapatkan anak buah dengan jalan yang dibenarkan oleh hukum di Jepang.

"Tunggu, kenapa mereka dibayar dan kami tidak?" Aomine langsung bangkit dari tidur ayamnya dan melayangkan protes.

"Karena kalau kita menang, kita yang akan pergi ke Amerika, bukan mereka." Akashi menghela napas. "Bodoh."

"… Iya sih." Aomine merengut. "Tetapi itu kalau kita menang, kan?"

Ctak. Bunyi keyboard terdengar nyaring.

"Pasti menang."

"Tapi…"

"Pasti menang."

"Oh, oke. Apapun perintahmu, Akashi. Demi kamu kuterjang badai menghadang."

.

.

"CUT! CUT!"

Semuanya langsung diam, terutama dua orang pemain yang tadi sedang berakting.

"Kemarin, aku bilang apa?" Akashi bertanya dengan suara pelan. Kise meringis mendengarnya. Suara Akashi menjanjikan kematian yang menyakitkan. Kalau Akashi sudah murka, hubungan darah bukan jaminan.

"K-Katanya tidak usah sempurna…?"

"Setelahnya."

"H-harus bermain lebih baik?"

"Iya. Dan apa itu? Akting apa itu tadi?" Nada Akashi meninggi. "SAMPAH! KALIAN SEMUA SAMPAH!" Teriakan Akashi mengguncang ruangan kelas. Seluruh kaca pecah. Zoom in zoom out. Kise berlinang air mata sambil memeluk kaki Akashi, memohon agar dia jangan dibuang. Bayi di pelukannya menangis. Murasakibara jatuh terkena stroke.

Sang sutradara makin stress. Akting dua pemain utamanya buruk, malah lebih buruk dari yang kemarin. Mungkin karena mereka sama-sama memaksakan diri harus bagus. Biasanya, kalau memaksakan diri harus bagus malah jadi tak bagus. Semuanya terlihat terlalu palsu.

Akashi mondar-mandir sambil melipat tangan, mencari metode yang cepat dan tepat untuk mengatasi hal ini. Sudah banyak hari terlewat, tetapi belum juga ada kemajuan. Kalau begini, piala takkan sampai di tangan.

Akhirnya Akashi mengambil alternatif lain. Dia memerintahkan semua orang untuk pindah ruangan dan berlatih di tempat lain, kecuali Kise dan Aomine.

.

.

"HAH!?" Keduanya ternganga ketika ditinggal sendirian di dalam kelas.

"Kalian renungkan diri di sini dan perdalam persahabatan." Akashi berkata tajam di depan pintu, tas tersampir di bahu. Semua orang sudah pindah ke kelas lain. "Kalau belum akrab juga, besok kusuruh kalian kencan romantis di tepi pantai."

Aomine merinding membayangkan dia dan Kise suap-suapan es krim di tepi pantai.

"Kelas ini akan kukunci, biar kalian nggak kabur." Akashi bersiap mengunci pintu, merantainya, dan menggemboknya tiga lapis. "Tiga jam lagi akan kujemput."

"T-Tapi, Akashicchi! Aku mau pipis!" Kise mencoba bernegoisasi, tidak mau dikurung berdua dengan manusia daki.

Akashi memberi Kise botol aqua.

"Akashi! Aku mau buang air besar!"

Akashi memberi Aomine kantong plastik dan tisu basah, lalu mengunci pintu dari luar.

.

.

"…"

"…"

"Jadi kita benar-benar dikunci dari luar?"

"Sepertinya."

Mereka duduk saling berjauhan, sama-sama merengut. Jemari Kise pun memainkan tuts piano dengan asal, sementara Aomine pura-pura tiduran di lantai dengan tas sebagai bantal.

.

la la la, aku sayang sekaliii

doraeeee—

"Berisik!"

Kise merengut lagi sambil menutup piano. Padahal dia sedang masuk bagian seru.

"Habis, aku bosan!"

"Tsk."

"Ayo ngobrol." Kise menggeser kursi piano mendekati posisi Aomine. Aomine berguling di lantai menjauhi Kise.

"Aku nggak mau ngobrol."

"Kalau kita nggak akrab, Akashi bisa marah-marah lagi."

"Memangnya kita bisa akrab?"

"…"

...

Suara yang terdengar dari balik jendela adalah koakan gagak yang terbang membelah langit.

Mereka tak berbicara cukup lama sampai Kise memecah keheningan. Setelah memikirkannya beberapa saat, akhirnya dia bertekad untuk melakukannya demi Akashi.

"Oi, Aominecchi."

"Apa?" Aomine sewot.

"Ayo kita baikan."

"Hah?"

Kise mendekati Aomine dengan agresif. Yang belakangan mundur selangkah. Kise maju ke depan, Aomine mundur. Maju, mundur, maju, mundur. Aomine pun terpojok ke tembok. Dia berdoa pada bintang keberuntungannya agar tidak diapa-apakan.

"K-kenapa dekat-dekat, sih?"

"Ayo. Kita. Baikan."

"Baikan?"

Kise mengangguk. "Iya, baikan. Kita jadi teman. Lupakan saat kubilang kau berdaki dan kau bilang aku panuan. Kita mulai dari awal lagi." Sret, Kise memegang bahu Aomine. "Kita nggak bisa jadi teman sebelum berbaikan."

"Kenapa aku harus berteman denganmu? Apa kau tak punya harga diri?"

"Karena aku nggak mau dimarahi Akashicchi lagi."

"Memangnya kenapa dengan Akashi?"

"Soalnya aku paling sayang dia."

Oh, oke. Terlalu banyak informasi. Aomine memalingkan muka, lalu mendengus dari hidung. Geli, ih. Sesama sepupu kok mainnya sayang-sayangan.

"Kalau kamu baikan denganku, kau harus membaya—."

Cup.

Lalu, ia dapat merasakan sensasi lembut yang hangat di pipi kanannya dan belaian bulu mata Kise menggelitik kulit wajahnya. Sensasi sensasional yang membuatnya merosot ke lantai pantat duluan.

.

.

.

ERROR 404

ERROR 404

.

WINDOWS EXPLORER IS HAVING PROBLEM.

CLOSE THE PROGRAM?

.

"Satsuki, kok mousenya nggak bisa gerak?"

.

Saking shocknya, Aomine malah teringat pengalamannya bermain komputer.

.

.

.

"Ge-ge-ge-ge—" Aomine masih terduduk di lantai dan bergeser ke samping, menjauhi Kise. Mulutnya menutup dan membuka seperti cupang. Kise mendekat balik, ikut jongkok di lantai.

"Apa?"

"ge-ge-ge—"

"Gegege Kitaro? Aku belum pernah nonton."

"-ge-ge-geee—"

"Gee gee gee gee baby, baby, baby~?"

"-ge-ge-gee-gee—"

"Ge ge ge apa, sih?" Kise bingung, lalu bohlam di kepalanya menyala. "Oooh! Maksudnya, kamu mau yang kiri juga? Boleh." Kise bersiap mencium yang kiri.

"-ge-gee-GAAAAK!" Aomine akhirnya bisa merangkai alphabet dan huruf kapital dengan benar lagi. Dia mendorong Kise yang mendekat sebelum pipi kirinya ikut jadi korban. Kalau dia dicium lagi, Aomine harus hara-kiri untuk mempertahankan kehormatannya sebagai laki-laki.

"— KAMU NGAPAIN CIUM-CIUM? IH!!"

.

Setelah pulang nanti, Aomine bersumpah akan cuci pipinya enam kali pakai air dan sekali pakai tanah. Lalu dia akan bersujud memohon ampun pada Yang Kuasa karena kesuciannya telah ternoda.

.

"Eh? Tapi kata kakakku, kalau mau gampang berbaikan dengan laki-laki, harus cium pipi tanda berteman lagi." sahut Kise polos, sepolos yang dibisa seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun dan seharusnya sudah mengerti apa yang baik dan buruk.

"Kakakmu itu cewek atau cowok?"

"Cewek."

"Duh." Aomine menepuk jidat.

"Kamu segitunya nggak suka?"

Anak lelaki itu jadi layu. Aomine menelan ludah.

"Bukannya nggak suka—" Aomine agak memerah, tapi karena hitam, jadi tidak ada bedanya, "—tunggu, maksudnya, aku nggak suka kamu cium-cium, dan persahabatan antar lelaki itu nggak begitu."

"Persahabatan laki-laki itu baikannya seperti apa?"

"Gontok-gontokan dengan jantan, lalu saling berjabat tangan di bawah matahari terbenam." Aomine sudah diracuni shounen manga.

"Nah, itu matahari sudah terbenam."

"Eh?" Pandangannya mengikuti telunjuk Kise ke arah jendela.

.

Dari barisan jendela yang menghadap barat, langit sudah berwarna merah dan coklat, dan matahari tak lebih dari bola cahaya yang mengintip dari horizon. Meski agak tertutup pepohonan di samping sekolah, tetapi matahari memang sudah turun. Cahaya merah yang lolos dari rimbunnya daun berkejaran ke dalam ruangan.

Semburat emas mengelus pipi Kise, membuatnya bercahaya.

"…"

"… Kita nggak gontok-gontokan, tapi bisa baikan, kan?" Kise tersenyum. "Kan, di bawah matahari terbenam."

"…"

Aomine menghela napas.

.

"Aku menyerah, deh."

Mereka berjabat tangan, kali ini sebagai sahabat.

.

.

.

AN Halo, masih ada yang baca, kan?

Humor agak digeser sedikit untuk masuk ke plot hehehe. Saya yakin, pasti ada yang protes karena adegan Aokise entah kenapa lebih romantis daripada Midotaka. Tapi ini penting untuk plot, hehehe.

WOW 19 HALAMAN!

Edit Ada beberapa typo, plus kata-kata yang nggak enak. Saya nggak ngecek lagi sih orz

.

CUPLIKAN EPISODE SELANJUTNYA:

Anak-anak Seirin dan Kaijou bergabung dalam kehebohan mempersiapkan kostum dan barang-barang!

.

Akashi masih berteriak, "Cuuut!"

.

Pertemuan tak terduga berlatarkan hijaunya pepohonan!

.

(lagu Korea)

.

"Imayoshi-san?"

"Kasamatsu-san?"

(mereka pun saling memandang)

.

(lagu India)

.

"Moriyama-san..?"

"Izuki?"

(mereka pun saling memutar tiang)

.

To be continued.