Judul : Matahariku

Chapter 4 :

Author : Kakashy Kyuuga

Disclsimer : Naruto punya om Masashi ^_^

Rate : T

Genre : hurt and romance.

Pairing : Naruhina

Angin berhembus pelan menerpa wajah sepasang pemuda pemudi yang tengah berteduh di bawah pohon, Suasana romantic melatar belakangi mereka. wajah si gadis terlihat merona dan tersipu sementara si pemuda hanya cengar-cengir tanpa alasan.

"Na-Naruto-kun," panggil si gadis agak canggung.

"Iya, ada apa, Hinata-chan?" balas si pemuda tanpa melepas senyum di wajahnya.

"Arigatou, karena telah menahanku untuk tidak bunuh diri," lanjut Hinata.

Sambil tersenyum Naruto memegang tangan Hinata, "Kau tak perlu berterimakasih padaku, kita telah ditakdirkan untuk bertemu malam itu."

"Apa yang Naruto-kun lakukan semalam di atap?" Tanya Hlnata.

"Aku hanya ingin mencari suasana berbeda," jawab Naruto tanpa ragu Hinata tak akan percaya padanya.

"Aku pikir Naruto-kun, mau bunuh diri juga," lanjut Hinata takut-takut.

"Hahaha_, kau ada-ada saja," jawab Naruto dengan santainya.

"Yang semalam itu adalah nii-sanmu?" Tanya Naruto mengalihkan pembicaraan mereka.

"Hu um, dia satu-satunya keluarga yang aku punya di dunia ini. Ayah, ibu beserta adik perempuanku meniggal karena kecelakaan dua tahun yang lalu_, aku,_." kata-kata Hinata tertahan, dia tak sanggup bercerita tentang keluarganya, lubang di hatinya seakan terbuka kembali.

"Pasti itu sangat berat bagimu," ucap Naruto yang memahami perasaan Hinata.

"Aku mulai hilang arah, apalagi saat Neji nii-san sibuk bekerja memenuhi kebutuhan hidup kami," Hinata berhenti sejenak, dia menghela napas panjang.

Naruto terdiam mendengar curahan hati HInata. Kemudian dia memegang tangan Hinata dan memberikan senyumnya yang terindah.

"Tapi sekarang ada aku bersamamu, Hinata. Aku tak akan meninggalkan mu sendirian, aku janji," entah dia sadar atau tidak telah membuat janji yang mustahil dia lakukan, tapi bukan Naruto namanya jika dia membiarkan Hinata larut dalam kesedihan. #Itu mah, hanya dalam imajinasi si author!#

"Gomen nasai, Naruto-kun. Aku selalu membuatmu repot," sela Hinata malu, dia dapat merasakan wajahnya mulai memerah.

"Hehehe, kau tak merepotkanku. Kau sendiri yang terus berusaha bertahan. Aku suka orang yang seperti dirimu," balas Naruto dengan cengiran khasnya.

Blush. Wajah pucat Hinata makin memerah total di puji oleh Naruto.

"He eh? Kau kenapa Hinata-chan? Apa penyakitmu kambuh?" Naruto jadi kalang kabut melihat wajah Hinata sudah seperti tomat.

"Eto, aku, hanya merasa kepanasan," jawab Hinata pelan, dia menundukan wajahnya menyembunyikan rona merahnya dari Naruto. "Sepertinya Naruto tidak peka," batin Hinata lemas.

"Baiklah, kalau begitu. Sebaiknya, kita kembali ke kamarmu saja," kata Naruto seraya berdiri dan mendorong kursi roda Hinata.

Hinata hanya pasrah saja, padahal dia masih ingin bercerita banyak dengan Naruto. Tapi dia pun tak bisa menolaknya, dia hanya menunduk membirakan rambut panjangnya menutupi wajahnya yang cemberut. #Dasar! Naruto no BAKA! Gak peka banget sih jadi orang!

Sepanjang perjalan melewati lorong-lorong rumah sakit menuju ruangan Hinata mereka saling berdiam diri. Hinata sepertinya lagi ngambek, Cuma Narutonya gak peka. Akhirnya sebuah lampu Philips tornado 18 watt menyala di atas kepala Hinata.

"Na-Naruto-kun, bagaimana kalau kita menjenguk teman Naruto-kun bersama-sama?" tawar Hinata tertawa licik di balik helaian rambutnya.

"Temanku tak ada yang sakit," tanpa sadar Naruto membuka kebohongannya.

"Tadi Naruto-kun bilang ingin menjenguk teman yang sakit," sela Hinata tak menyadari kebohongan yang dibuat Naruto.

Tangan Naruto tiba-tiba berhenti mendorong kursi Hinata, langkahnya pun ikut berhenti. "Apa aku tidak salah dengar? Apa yang aku dengar Hinata ingin menjenguk temanku?_ Temanku? Temanku?" otak Naruto masih mengolah informasi yang diaterima.

"Bukannya pagi tadi Sai sudah pulang!" setelah seratus tahun berpikir dan Hinata mengering di kursi rodanya Naruto baru menyadari kesalahannya!

"Eto,maksudku. Temanku memang ada yang sakit, dia sudah pulang," jawab Naruto cengengesan..

"Benarkah?" Hinata tampak ragu-ragu.

"Iya," Naruto mencoba meyakinkan Hinata.

"Kapan-kapan akan kubawa Hinata pada ke teman-temanku."

Yah, sudah. Hinata percaya aja kebohongan Naruto, dia bahkan tidak tahu saat ini dia sedang melewati ruang VIP Matahari.

"Naruto-kun, apa kita akan bertemu lagi?" tanya Hinata kemudian membuat Naruto mengehntikan jalannya.

"Tentu saja, aku akan datang menjenguk mu setiap hari di sini," jawab Naruto seraya memegang pundak Hinata mencoba meyakinkannya bahwa dia tak pernah meninggalkannya.

Hinata hanya tersenyum berat men dengar jawaban Naruto. "Aku pun berharap begitu".

"Hinata, hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu. Aku ingin membuat mu tersenyum bahagia selagi bisa membuatnya," inner Naruto seraya mendorong kursi Hinata menuju ruangan dia dirawat.

Hari kini berganti malam, kemudian berganti pagi lagi. Terus seperti itu setiap harinya. Semenjak hari itu, Naruto tak pernah datang menjenguknya seperti apa yang dia janjikan pada HInata. Sudah empat hari ini Naruto tak pernah menunjukan batang hidungnya, mendengar kabarnya pun tidak apalagi melihatnya.

Apa Naruto telah melupakan janjinya? Apa dia merasa terbebani dengan penyakit Hinata? Apa dia merasa jenuh?

Kenapa? Kenapa Naruto bisa seperti itu?

Hinata menatap sedih lapangan rumah sakit yang sepi, sinar matahari menyinari hampir seluruh lapangan. Angin yang bertiup menerbangkan dedaunan dan helaian surai indigonya, memperlihatkan seraut wajah sendu miliknya.

"Apa Naruto telah melupakan janjinya?" tanya Hinata pada helaian dedaunan yang berterbangan di depannya.

Hanya kesunyian dan desiran suara angin yang menjawab pertanyaan Hinata dengan jawaban abstrak.

"Naruto, kenapa aku merasa kesepian saat kau tak ada? Seperti ada lubang di hatiku yang terbuka bersar saat kau tak ada, saat hariku tak di isi dengan tawamu. Naruto, aku merindukan tawamu. Aku merindukan saat-saat kau bercerita, sungguh menyenangkan."

Sunyi, hanya itu yang Hinata dapat dari curahan hatinya. Tanpa ada yang menjawab atau menanggapi curahan hatinya.

"Naruto, kau bagai matahari yang menyinari hari dan memberikan energi kehidupan pada semua mahluk di bumi. Kau adalah Matahari bagiku, karena kau telah menyinari hari-hariku yang gelap dan sunyi, kau telah menyalurkan energi kehidupan padaku melalui tawamu. Dan saat kau tak ada aku merasa tak berdaya."

Lagi, kali ini entah pada siapa dia bercerita. Yang pastinya dia mencoba bercerita pada siapa saja dan apa saja yang ada di dekatnya, dengan begitu dia berharap ada yang mendegarnya dan memberitahukan apa yang dia rasakan saat ini pada Naruto.

Naruto tak tahukah betapa Hinata sangat cemas menunggumu berdiri di depan pintu kamarnya? Kemana kau selama ini, apa benar kau telah mengingkari janjimu?

….

Dari balik pintu kamar Hinata di rawat, Sakura berdiri terpaku mendengar curahan hati Hinata. Sakura menatap sedih pada kotak obat yang ada di tangannya, saat ini perasaannya bercampur antara marah, sedih dan sesal.

Dia marah karena Naruto tega membuat Hinata berharap seperti ini, dia sedih karena di sisa-sisa hari yang tinggal menunggu waktu Hinata merasa merindukan seseorang yang belum pasti menepati janjinya, dia menyesal karena di saat terakhirnya dia tak bisa merasakan yang namanya cinta.

"Apa yang bisa aku lakukan sebagai temannya?" batin Sakura.

Hari ini pun berlalu seperti hari-hari sebelumnya, dimana hari ini berlalu dengan penantian yang sama. Menanti seseoran yang belum tentu datang, menanti seseorang yang telah berjanji padanya. Hari ini genap sudah lima hari orang yang dia tunggu-tunggu tidak datang, mungkin dia benar-benar telah melupakan janjinya.

Mungkin hari ini adalah hari terakhir dia berharap orang yang dia harapkan datang, mungkin hari ini adalah bukti dari janji palsunya. Jadi, apa besok dia akan tetap menunggu orang itu? Tergantung!

Hinata melangkah pelan menuju ranjangnya dan memberingkan tubuhnya, matanya memerah dan membengkak. Sepertinya dia habis menangis, tapi kenapa dia menangis? Apa dia merasa menyesal karena terlalu percaya pada orang itu?

Sejak awal dia masuk rumah sakit tak ada seorang pun yang datang menjenguknya, tidak ada. Hanya Sakura seorang yang selalu datang menemaninya dan itu pun kalau dia tengah tugas, jika tidak Hinata akan menghabiskan harinya di dalam kesepian.

Namun semuanya berubah saat dia bertemu dengan orang itu, pemuda bersurai pirang dengan tiga goresan kembar di kedua pipinya. Pemuda itu datang seolah membawa separoh sinar matahari dan menyinari serta memberikan kehangatan di harinya yang sepi dan kelam.

Namun sepertinya, Hinata harus kembali menghentikan impian dan harapannya. Terlalu cepat dia percaya pada pemuda itu, seharusnya dia tidak percaya begitupada pemuda yang baru dia temui. Karena bisa jadi dia hanya berpura-pura baik di awalnya, atau bisa jadi dia hanya mencoba menghibur dan setelah itu dia tak peduli.

Ah, sakit jika memikirkannya. Sakit jika terus membayangkannya, dan akan semakin sakit jika itu benar terjadi. Kini, mataharinya mulai meredup. Mataharinya akan benar-benar tenggelam dan menyisahkan kegelapan.

Bhuk! Bhuk! Bhuk!

Hinata tersentak kaget dari pikirannya, dia segera bergerak bangun dari ranjnganya saat dia mendengar suara jendelanya di ketuk.

"Hinata!"

Hinata memandang takut pada sosok bayangan hitam di luar jendela kamarnya.

Bhuk! Bhuk! Bhuk!

"Hinata!" lagi suara itu terdengar pelan memanggil namanya.

Hinata masih duduk di ranjangnya sambil meramas selimutnya. Siapa yang malam-malam begini mengetuk jendela kamarnya?

"WOI, Hinata! Ini aku, Naruto!"

Apa? Naruto? Itu Naruto? Apa tidak salah dengar?

"Hinata, apa kau sudah tidur?"

Tapi, suara itu memang mirip dengan suara Naruto, apa dia benar-benar Naruto? Atau hanya imajinasinya saja?

Hinata memberanikan diri mendekati jendela, dia berdiri cukup lama di dekat jendela. Dia mencoba memastikan dirinya untuk membuka jendela itu dengan segala kemungkinan konsekuensinya.

Drrreeeettt!

HAP!

"Kyaaaaa! Hhmmmppph!"

"Ssssstttthhhh!"

"Hmmmppphh!"

"Jangan berteriak!"

"Hhmmp!"

"Aaaaakkkkhhh!"

Hinata segera melepaskan dirinya dari rangkulan sosok yang tiba-tiba melompat masuk saat jendela kamarnya di buka. Matanya nanar melihat sosok yang saat ini tengah meringis kesakitan karena tangannya di gigit oleh Hinata.

"Na, Naruto-kun?!" Hinata tampak terkejut luar binasa melihat sosok berkaos hitam dengan gambar pusaran air di tengahnya, sosok yang selalu dia pikirkan selama lima hari ini berdiri di depannya.

"Ternyata gigitanmu sakit juga," suara itu, senyum yang riang itu sungguh bagai hujan di musim kemarau seabad (?). senyum yang dia rindukan.

"Go, gomen," kata Hinata salah tingkah seraya menunduk.

"Hahaha_. Tak apa Hinata, kau tak usah canggung seperti itu. Aku hanya bercanda," lanjut Naruto seraya berjalan mendekati ranjang Hinata dan duduk di sana. "Ayo, duduk sini," panggil Naruto seperti ayah memanggil anaknya untuk duduk di dekatnya.

Hinata menatap heran pada naruto.

"Kenapa kau malah bengong seperti itu!" akhirnya karena tak sabar Naruto sendiri yang menarik Hinata dan mendudukannya di sampingnya. Kemudia dia duduk menghadap Hinata dan menatapnya dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya. Tentu saja, Hinata menjdai malu jika di pandang seperti itu oleh naruto, karena itu dia membuang wajahnya dari Naruto.

"Kenapa tak masuk saja lewat pintu, itu lebih baik dari pada lewat jendela. Kau terlihat seperti sedang melarikan diri dari sesuatu," akhirnya Hinata mengeluarkan suaranya.

"Aku merindukanmu, Hinata. Selama lima hari tak melihatmu serasa ada yang tak lengkap dalam hariku."

"Ih, anak ini! aku tanya lain kenapa dia malah menjawab lain?" batin Hinata sedikit dongkol karena pertanyaannya di abaikan namun dia tetap senang karena jawaban naruto membuat dia makin melayang.

"Apa kau tak merindukan ku?"

"Apa lagi ini? kata siapa aku tak merindukan mu, baka! Aku bahkan hampir mati karena terus memikirkanmu!" inner Hinata yang sudah siap dengan byakugannya.

"Ak, aku pikir naruto-kun sudah melupakan aku," jawab Hinata terdengar pelan namun masih bisa di dengar Naruto.

"Karena itu, sekarang aku berada disini. Aku sengaja datang kemari untuk menemui mu, Hinata," kata naruto seraya membaringkan tubuhnya di ranjang Hinata.

Hinata ingin berteriak pada naruto tapi entah mengapa suaranya tertahan di tenggorokannya.

"Aku capek, boleh kan aku tidur disini bersamamu?"

Apa? apa yang kau bicarakan Naruto?! Apa kau tidak sadar dengan kondisi Hinata yang harus banyak istirahat!

"Bo, boleh kok. Naruto," ah, Hinata! Kenapa kau malah membiarkan si baka itu mengambil tempatmu, terus kamu akan tidur dimana?

"Ini ku sisahkan tempat untukmu" kata Naruto seraya menggeserkan tubuhnya hingga menyisahkan sedikit ruang di ranjang Hinata.

Hinata menatap kaget pada sisa ruang yang di berika Naruto padanya. Apa maksud naruto menyisahkan tempat untuknya adalah untuknya tidur? Apa? tidur bersama di satu ranjang dengan Naruto?!

Entah, Hinata bingung. Apa dia harus senang atau takut.

"Apa kau tak ingin tidur disampingku?" hah! Baka, apa ini adalah siasatmu?!

"Bu, bukan seperti itu. Aku hanya merasa itu tidak baik,"

"Aku tak akan apa-apakan dirimu. Anggap saja ini sebagai permintaan maafku karena tak datang menjengukmu selama lima hari ini," kata Naruto di sela-sela kegiatan menguapnya.

Sepertinya dia memang benar-benar capek, iris biru safirnya saja sudah memerah, kantung matanya pun menghitam.

"Baiklah kalau begitu, aku tidur duluan yah," ucap naruto seraya menutup matanya dan tak lama kemudian bahkan dalam hitungan detik dia sudah tertidur.

Hinata tertawa lucu melihat aksi Naruto, dia terlihat lucu dan menggemaskan saat tertidur. Hinata mendekati ranjang dan duduk diatasnya, dia memeriksa napas naruto yang sudah tertatur menandakan dia benar-benar telah hilang dalam dunia mimpi.

Jadi, apa yang bisa kau tarik dari kejadian ini. apa kau akan tetap menaruh harapan dan impianmu pada pemuda baka ini, Hinata? Atau kau tetap pada pendirianmu untuk tidak terlalu percaya padanya.

Malam ini dia membuktikannya, bahwa dia merindukanmu selama lima hari ini tak melihatmu. Dan lagian dia pun datang dan menginap di kamarmu. Apa kau akan tetap mengharapkan kehangatannya? Atau mengabaikannya?

Hinata kembali menatap Naruto, kali ini dia ikut berbaring di samping Naruto dan menatap wajah berwarna tann itu.

Naruto, terimakasih telah kembali. Terimakasih karena tetap menjadi matahariku, terimakasih karena kau tak melupakan janjimu.

Tapi, kemana kau selama lima hari ini tanpa ada kabar berita sama sekali.

Suara cicit burung menghiasi ruang pendengaran hinata, matahari menyeruak masuk menerpa pandangannya. Tubuhnya yang dingin tiba-tiba terasa hangat dan dia mencium aroma obat-obatan kimia tepat di depan wajahnya.

Suara erangan di ikuti tubuhnya bergerak maju karena ditarik membuat dia terbelak terbuka dan betapa kagetnya dia saat dia menemukan wajahnya dan wajah Naruto hanya berjarak beberapa centi.

"Na-naruto-kun," suara Hinata terdengar pelan masuk kedalam telinga Naruto. Eh, bukannya bangun naruto malah makin mengencangkan pelukannya.

Aduh, Naruto! Bagaimana kalau Sakura datang dan melihat kalian seperti ini? Apa pun yan terjadi, dia harus bisa membangunkan naruto sebelum Sakura datang.

"Naruto, bangun!" serius, kali ini Hinata tak pakai tatakrama lagi dia mendorong tubuh Naruto dan mencoba melepaskan tangan Naruto dari pinggangnya.

Setelah melakukan banyak pergerakan akhirnya Naruto terbangun juga.

"Ohayou, Hinata~~~~."

Bruk!

"Ittai!" rintih Naruto saat tubuhnya menubruk lantai. "Kenapa mendorongku Hinata?"

"Go, gomen Naruto. Aku tak sengaja mendorongmu karena kau memelukku terlalu kuat," kata Hinata penuh penyesalan.

"Habisnya aku kira kamu gulingku," kata Naruto seraya bangkit berdiri.

"Apa? jadi semalaman dia menggap ku sebagai gulingnya?!" batin Hinata pundung.

Tap, tap, tap.

Suara langkah berhenti tepat di depan pintu kamar Hinata. Naruto segera berlari ke arah jendela, sementara Hinata hanya terheran-heran melihat Naruto berlari seperti tengah terburu-buru.

"Arigatou, Hinata. Makashi atas tumpangannya," kata Naruto seraya melempar senyum mentarinya sebelum dia melompat keluar jendela kamar Hinata.

Senyum itu, senyum itulah yang selalu dia harapkan dari Naruto. Senyum yang mampu membuat dia tenang, senyum yang mampu mengusir kegalauannya selama beberapa hari ini. Hinata pun membalas senyum Naruto dengan senyumnya yang terindah miliknya, meski Naruto tak sempat melihatnya.

Tepat di saat itu pintu kamar Hinata terbuka dan Sakura masuk menemukan Hinata terpaku menatap jendela kamarnya yang terbuka lebar.

"Apa yang menarik dari melihat jendela itu, Hinata?"

Sontak Hinata membelokkan badannya dan melihat Sakura tersnyum lucu padanya, dan menatap heran pada ranjang Hinata yang berantakan.

"Apa semalam tidurmu nyenyak?" tanya Sakura.

"Iya, sangat nyenyak," jawab Hinata tersipu malu.

Kembali lagi Sakura di buat kaget dengan ekspresi Hinata, bukannya kemarin dia terlihat murung dan tak bersemangat? Tapi hari ini dia terlihat bahagia.

"Syukurlah, kau sudah terlihat ceria kembali, Hinata."

Matahari makin meninggi, cuaca di luar terlihat cerah. Matahari bersinar dengan teriknya, saat-saat seperti ini memang menyenangkan beristirahat di dalam ruangan. Begitu pun Hinata, dia menyandarkan punggungnya di kepala ranjang sambil membaca buku.

Hinata sedikit terganggu dengan cerita Sakura tadi pagi, dia tak habis pikir bagaimana bisa ada orang seperti itu di dunia ini.

"Semalam se isi rumah sakit gempar, ada pasien yang kabur sesaat sebelum di lakukan operasi."

Sungguh, kata-kata Sakura sanggat mengganggunya. "Kenapa dia seperti itu? Bukannya itu akan membuatnya sembuh, apa dia tidak tahu ada banyak orang yang berharap bisa sembuh. Tapi kenapa dia malah kabur?"

"Jika itu aku, aku akan sangat senang dan tak sabar menunggu saat-saat itu," Kata Hinata pada dirinya sendiri, mencoba mencari alasan mengapa dan kenapa? Namun dia tetap tak menemukan jawabannya.

Dia membuang pandangannya ke jendela yang terbuka lebar memberi ruang pada angin mengisi kamarnya. Dia kemudian tersenyum sendiri, semalam memang menggeparkan.

"Aku juga merasakan kegemparan malam itu, karena kedatangan Naruto yang tiba-tiba lewat jendela pula. Dia membuat ku gempar dengan memintaku tidur di sampingnya, apa itu tidak gila?"

Naruto, Naruto. Kau memang sulit di tebak!

Tok! Tok! Tok!

Hinata tersentak dari pikirannya saat dia mendengar suara pintu kamarnya di ketuk.

"Masuk," kata Hinata mempersilahkan masuk. "Sasuke-san?" Hinata sedikit kaget mengetahui Sasuke yang mengetuk pintunya.

Begitu Sasuke masuk iris onyxnya mulai berkeliaran menyusuri seisi ruangan tempat Hinata di rawat.

"Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Hinata merasa aneh dengan kehadiran Sasuke di kamarnya.

"Apa Naruto ada disini?" tanya Sasuke menatap intens pada iris amethyst Hinata.

"Naruto? Dia tidak ada di sini, ta—," entah Hinata merasakan ada yang salah dengan pertanyaan Sasuke, seolah ada yang menahannya untuk memberitahukan kejadian semalam pada Sasuke.

"Selama lima hari ini kami tidak bertemu."

"Baiklah, kalau begitu," balas Sasuke masih tetap meneliti seisi kamar Hinata. "Jika dia datang padamu, tolong hubungi aku," lanjutnya seraya meninggalkan kartu nama di atas meja.

"Baik."

"Terimakasih, sebelumnya," ucap Sasuke seraya pamit pergi.

Apa, apa ini? Kenapa Sasuke tiba-tiba mencari Naruto? Apa ada sesuatu yang terjadi pada Naruto? Bukannya semalam dia baik-baik saja, atau dia memang punya masalah?

Hinata kembali membaca buku yang sempat dia lupakan, mencoba mengusir kekacauan di pikirannya.

Tok! Tok! Tok!

Lagi, Hinata menghentikan kegiatan membacanya. Kali ini dia mulai merasa terganggu dengan suara ketukan itu, siapa lagi yang mengetuk pintu kamarnya, semoga saja dia tidak datang membawa berita yang tak mengenangkan lagi.

Dreeeetttt!

TBC.