ATAS NAMA CINTA
Hai aku kembali lagi! Kali ini aku akan membawakan cerita yang sedikit lucu. Semoga kalian semua suka!
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto
Prolog :Kisah cinta tragis dan bahagia
CHAPTER 4 : DIARY PLAYBOY YANG KETIBAN SIAL
Perkenalkan namaku Jiraiya, Aku seorang playboy, Namun aku tidak dilahirkan sebagai playboy sekali lagi aku tidak dilahirkan sebagai playboy! Sewaktu muda aku sangat menghargai perempuan. Terutama first loveku yaitu Tsunade Cintaku Sayangku Manisku Genitku. Ia sangat cantik dimataku. Sayang, nasib baik tidak berpihak pada kami (Tsunade :Kami?Kamu saja kali!).
FLASHBACK
Ditaman Konoha yang indah,seorang gadis galak maaf gadis cantik bermain ayunan sambil bernyanyi. Aku segera menghampirinya dengan membawa kamboja sebagai tanda cintaku kepadanya. Tsunade terkejut mengetahui kehadiranku.
"Kamu mau ziarah ya?"
"Tidak. Aku mau nembak kamu. Mau tidak kamu jadi pacarku?"
PLAAK! Sebuah tamparan mendarat di pipiku yang manis (halah). Tsunade merasa tersinggung karena dia tidak suka kamboja.
"Dasar bodoh! Masa' bunga kematian kamu kasih ke aku? Memangnya aku mau mati apa?"
"Err! Maaf Tsunade soalnya bunga di pasar yang paling murah Cuma kamboja. Yang lain mahal semua."
"Makanya cari uang dong! Jangan Cuma buat fict nggak jelas seperti author kita itu!"
Taunade berlalu meninggalkanku. Hatiku hanvur seperti besi yang dilindas truk lalu dilindas kereta api. Alhasil kamboja yang sudah menghabiskan jatah uang jajanku untuk 2 hari kukubur karena sayang kalau dibuang. Beberapa hari kemudian,Tsunade dikabarkan sekarat gara-gara dicekik author (Author :Makanya kalau ngomong itu dijaga jangan sembarangan!)
OFF!
Karena itulah,aku berubah menjadi playboy. Aku tidak percaya dengan cinta sejati yang menurutku hanya omong kosong disini. Aku kemudian menjadi liar dan akhirnya aku seperti buaya yang memangsa daging-daging segar. Tapi aku disini memangsa gadis-gadis muda.
Oh ya karena aku tidak tahan miskin,aku berhenti menulis fict gaje dan merintis karir sebagai pengusaha setelah menjual seluruh aset milik mendiang keluargaku. Hasilnya cukup sukses. Aku berhasil mengembangkan usaha penginapanku sehingga aku sudah bisa mempekerjakan lebih dari 20 karyawan. Aku sekarang talah jadi orang kaya.
Suatu hari,sekretarisku bernama Kakashi Hatake membawa seorang gadis cantik kehadapanku. Aku terpana ketika melihat kecantikan gadis itu. Kakashi memang pintar memilih-milih gadis yang cantik untuk dijadikan karyawati dan ada beberapa yang kujadikan pemuas nafsuku. Gadis itu tersenyum padaku.
"Siapa Nona ini?"tanyaku.
"Dia adik temanku. Namanya Sabaku Temari. Dia kesini mau melamar jadi karyawati."jawab Kakashi.
Aku senang bukan main karena gadis bernama Sabaku Temari itu ternyata mau menjadi karyawatiku.
"Berapa usiamu Nona Sabaku?"
"19 tahun Tuan."
19 TAHUN? Wah ini mangsa yang paling kucari-cari! Pasalnya rata-rata gadis yang kutiduri berusia 19 tahun. Apalagii Nona Sabaku ini cantik dan sesuai criteria mangsaku.
"Jadi kamu mau benar-benar bekerja disini?"
"Ya Tuan. Saya mau jadi apa saja asalkan saya diterima disini."
"Ah tidak perlu begitu. Kamu sekarang langsung saya terima sebagai karyawati disini,. Kamu sekarang langsung bekerja disini."
"Terima kasih Tuan Jiraiya."
Aku gembira karena kelihatan Nona Sabaku ini lugu. Sejak itu,Nona Sabaku mulai bekerja di penginapanku. Nona Sabaku begitu seksi. Lekuk tubuhnya membuatku semakin tidak tahan. Tapi Nona Sabaku tidak menghiraukan lirikanku selama bekerja di kantor. Walaupun Nona Sabaku belum masuk perangkapku,tapi setidaknya tetanggaku sudah terperangkap. Namanya Yamanaka Ino. Mala mini,dia kuajak tidur seranjang denganku. Aku senang sekali bisa menikmati tubuhnya tanpa diketahui orang tuanya karena orang tuanya sedang pergi ke luar kota. Setelah meniduri Nona Yamanaka,kini giliranku untuk menjebak Nona Sabaku.
AWak bulan,adalah hal yang paling dicari oleh karyawan karena hari ini mereka kubayar. Nona Sabaku mengantri untuk mendapatkan gaji. Ketika memberikan slip gaji,aku berbisik padanya.
"Tolong kamu tunggu saya di lobi. Nanti saya akan temui kamu disana. Tapi kamu harus menunggu saya sendirian disana."
"Baik Tuan."
Lalu Nona Sabaku pergi. Aku membayangkan kebahagiaan semalamku bersama gadis lugu itu. Tidak lama kemudian,aku mendapat telepon dari okaasan geisha. Ia mengajakku untuk bertemu karena dia ingin mengenalkan seorang geisha baru di okiyanya. Aku langsung mengiyakan tapi kukatakan aku tidak bisa hari ini dan aku beralasan kalau aku llelah hari ini. Setelah selesai menggaji karyawan,aku menemui Nona Sabaku. Tanpa basa-basi terlalu banyak,aku mengajak Nona Sabaku ke kafe untuk makan siang.
"Saya sudah lama sendiri. Usia saya sudah 38 tahun tapi sampai sekarang masih perjaka. Saya sedang mencari calon istri sekarang."
"Saya juga sudah lama sendiri Tuan. Saya sampai sekarang belum memliki kekasih."
Aku memegang kedua tangan Nona Sabaku. Nona Sabaku tersenyum manis. Aku senang karena dia sudah ada di dalam perangkapku. Tiba-tiba,okaasan geisha meneleponku lagi. Aku jadi kesal. Ah tidak tahu kalau orang sedang senang-senang disini! Dasar pelacur. Namun ternyata yang meneleponku bukan induk semangnya melainkan geishanya langsung. Aku berubah sumringah.
"Tuan,kita bisa tidak bertemu besok?"
"Bo…Boleh. Tapi saya kerja dulu ya. Bye."
Aku senang karena 2 malam ini aku bisa menikmati malamku dengan damai. Usai makan siang,aku mengantar Nona Sabaku pulang. Aku berpesan padanya bahwa aku akan menemuinya lagi. Dirumah,aku mengkhayalkan kalau malam-malamku tidak akan sepi dengan perempuan-perempuan cantik. Apalagi okaasan geisha mengatakan kalau geisha itu geisha baru dilantik sehingga keperawanannya tidak perlu diragukan. Aku pun menjemput Nona Sabaku untuk bermalam bersamaku. Usai makan malam,tibanya saatnya untuk mengambil keperawanan gadis lagi. Belum sempat kulaksanakan,sudah ada yang menekan bel gadis berpakaian kimono dan mengenakan bedak putih tebal menyambangiku. Aku terheran-heran karena aku tahu dia adalah geisha.
"Selamat malam Tuan."sapa geisha itu.
"Aduh kenapa kamu datang malam ini? Saya kan sudah bilang besok saja."
"Tapi saya disuruh teman saya kesini."
"Teman?"
"Iya,"
"Ya dia sebenarnya adalah adik sepupuku Tuan Jiraiya."
Aku terperanjat kaget hampir jatuh karena ternyata Nona Sabaku berhubungan dengan geisha itu. Aku benar-benar dalam petaka yang besar dalam hal ini. Nona Sabaku mengancamku jika aku tidak mau reputasiku jatuh karena mereka,maka aku harus sanggup menjadi 'danna' mereka dan tidak bolah pretes terhadap permintaan mereka. Terpaksalah demi nama baikku aku menuruti kehendak mereka. Sial! Benar-benar sial hidupku. Lalu kedua perempuan laknat itu pulang dari rumahku. Ternyata bukan Nona Sabaku yang terperangkap tapi aku yang terperangkap. Aku stress sampai-sampai aku mandi shower malam-malam seperti remaja galau.
"Oh Tuhan mengapa hidupku begini?"teriakku seperti di film-film sinetron.
Angin berhembus kuat berkibar seperti bendera yang baru saja ditegakkan tiiang. Tiada seorang yang menemaniku malam ini. Semua ini karena kesalahanku sendiri.. Aku merintih karena rencanaku gagal. Lalu aku melihat bintang dari kamarku. Aku tahu kalau aku akan tekor gara-gara kedua perempuan itu.
Karena aku tidak mau namaku tercemar,terpaksalaha aku membiayai kedua orang pelacur ini. Aku tidak boleh hanya mendatangi salah satu diantara mereka harus kedua-duanya kalau aku tidak mau malu. Ternyata mereka mata duitan juga. Uang dikantongku hampir tak bersisa lagi jika aku mengajak mereka jalan-jalan. Benar-benar sial nasib hidupku.
"Tuan,aku mau baju yang itu!"
"Aku mau yang itu!"
"Ya sudah,kita beli semuanya."
Maka aku membeli semua yang disukai mereka. Ah dompetku tipis sekali. Dan siang ini aku lapar karena aku belum makan. Setelah membayar semua pesanan mereka,aku langsung mengambil langkah kabur. Karena terburu-buru,aku menabrak seorang office girl yang sedang mengepel di mall itu. Aku meminta maaf padanya. Tapi hatiku senang karena office girl itu cantik. Aku segera menaiki mobilku dan meninggalkan kedua pelacur bangsat itu. Mereka berteriak-teriak dari kejauhan memanggilku. Aku tidak peduli.
Malam hari,aku pergi ke okiya geisha di Distrik Gion. Aku tidak pergi ke geisha di Distrik Kyoto lagi karena kecewa dengan geisha baru yang disodorkan oleh okaasan geisha Distrik Kyoto. Ternyata okaasan geisha Distrik Gion sudah tua. Tapi dia memiliki geisha yang cantik-cantik dan aku diperbolehkan untuk melihat rupa asli mereka. Namun aku trauma untuk berhubungan dengan geisha gara-gara saudara sepupu Nona Sabaku itu. Apalagi aku sudah jatuh hati pada office girl yang kutabrak mala mini kupuaskan dengan seorang geisha terbaik dari Distrik Gion. Ternyata,membayar geisha lebih murah daripada mentraktir kedua perempuan jalang itu.
Keesokan harinya,aku berpapasan dengan Nona Sabaku. Aku tahu dia marah padaku.
"Kenapa Tuan meninggalkan saya dengan saudara saya di mall?"
"Saya malas mengantar kalian soalnya kalian membuat saya kehilangan semangat hidup."
"Oh begitu ya. Jadi Tuan mau reputasi Tuan jelek?"
"Saya menegaskan satu hal yang tidak kamu ketahui.. Saya tidak bisa selalu memberikan uang saya kepadamu karena harta saya terbatas. Saya tidak masalah memiliki kalian berdua. Tapi saya sungguh tidak tahan dengan cara hidup kalian yang materialistis. Saya juga punya rencana untuk masa depan."
"Masa depan apa? Masa depan suram? Ayolah Tuan Anda tidak usah banyak bicara! Saya sudah tahu Anda sudah ratusan kali berhubungan dengan gadis dan tidak ada satupun yang cocok dengan Tuan."
"Karena belum ada yang pantas untuk saya. Jadi jangan dipikir playboy seperti saya tidak memiliki hati."
Nona Sabaku mendengus kesal dan melengos pergi. Aku tertawa mengingat keserakahannya padaku. Kemudian aku terbayang office girl yang ada di mall itu. Aku ingin sekali bertemu dengan office girl itu. Siapa tahu dia tertarik padaku. Pulang bekerja,Nona Sabaku mendekatiku lagi. Ia meminta maaf padaku atas perbuatannya tadi. Namun aku mengacuhkannya karena dia sudah membuatku pergi maal untuk melihat office girl itu. Ternyata dia sedang mengepel di depan mall.
"Hai dari kemarin saya lihat kamu sendiri saja."
"Iya memang sendiri bekerja …"
"Kalau begitu,saya boleh tahu namamu?"
"Nama saya Hinata,Tuan."
Aku merasa bahagia sekali sangat bahagia sekali karena aku bisa tahu namanya. Aku pun menawarinya untuk jalan-jalan disuatu hari. Gadis bernama Hinata itu tersenyum. Aku pulang ke rumahku. Tidak lama kemudian,saudara sepupu Nona Sabaku datang ke rumahku. Aku rada malas meladeninya.
"Kenapa kamu kesini?"
"Saya merindukan Anda,Tuan Jiraiya."
"Saya ingin kamu pergilah."
"Eh kenapa sepert itu?"
"Karena saya sudah benci kepada kalian!"
Mendengar itu,saudara sepupu Nona Sabaku marah padaku. Ia menganggapku mempermainkannya. Aku memberikan alasan yang masuk logikanya kalau aku playboy dan aku tidak peduli perasaan perempuan. Akibatnya dia pergi meninggalkanku dengan penuh amarah. Aku tersenyum senang karena aku bisa lepas dari kedua perempuang bangsat itu. Kini aku merindukan Hinata yang menggoda seleraku. Ia laksana ikan asin yang baru saja dibeli di pasar. Dan aku bagaikan kucing yang mengincarnya.
""Oh Hinata! Betapa indahnya engkau. Meskipun kamu rendah,tapi kelihatan kamu berhati mulia."gumamku.
Aku jadi ingin bertemu Hinata Lagi. Tapi keinginanku baru sampai beberapa hari kemudian setelah aku memccat Nona Sabaku dan berhenti menghubungi okiya geisha lagi. Aku menghabiskan malamku sendiri mengingat bayangan Hinata. Aku siap dengan segala resikonya jikalau HIinata tidak mau bersamaku.
"Hmm Hinata! Kita makan di restoran yuk."ajakku.
"Tapi maaf Tuan saya tidak punya uang."
"Ah tenang saja. Saya yang traktir kamu."
Hiinata dengan kelembutan hati mau berkencan denganku setel;ah menyelesaikan pekerjaannya. Kami makan di restoran bintang lima. Hinata hanya memesan domburimono saja dan aku langsung beranggapan kalau dia sosok yang pantas untuk dimangsa.
"Kamu tinggal sendirian."
"Tidak Tuan, Saya tinggal bersama suami saya."
"Apa?Kamu sudah punya suami?"
"I…iya."
"Never mind! Saya tetap senang mengenalmu."
Aku tetap akan mendekati Hinata dan tidak peduli kalau Hinata sudah bersuami. Lalu aku mengantar Hinata pulang. Setelah itu,aku kembali ke rumahku. Aku terus terbayang wajah Hinata. Aku berdendang ceria. mengingat Hinata.
Aku berjumpa lagi dengan Hinata di depan rumahnya. Aku rasanya pernah melihat rumah Hinata. Tapi aku tidak peduli. Aku mengajaknya untuk menemaniku berdanza di acara pesta pernikahan Kakashi Hatake. Aku dan Hinata saling bertatapan. Aku senang bisa berlama-lama menatap mata Hinata. Selepas pesta,aku mengajak Hinata ke rumahku. Kami berdua didalam kamar. Aku sebenarnya tidak tahan lagi untuk segera memangsa Hinata. Tapi aku luluh melihat matanya. Tidak lama kemudian,ada orang mengetuk pintu rumahku. Aku dan hinata segera keluar kamar. Ternyata pamanku yang bekerja di Tokyo bernama Sarutobi
"Hai bagaimana kabarmu?"
"Baik Paman."
Hinata pun menyusulku keluar rumah. Pamanku langsung terlonjak kaget seperti melihat ular.
"Eh kenapa dia ada disini?"
"Kenapa memangnya Paman?
"Ini bibi barumu yang pernah Paman ceritakan itu padamu!"
"APA?!"
Ternyata,Hinata yang kukenal adalah bibiku sendiri. Aku begitu patah hati setelah tahu kenyataan ini. Tapi untungnya aku belum sempat memangsanya sehingga aku tidak berbuat dosa pada pamanku. Lalu Hinata pulang bersama pamanku. Hatiku hancur lagi. Benar-benar menderita playboy sepertiku. Sudah 2 kali (mungkin 3 kali) aku dibuat sedih oleh perempuan. Tapi sayang aku tetap saja playboy. Meskipun aku seringkali merintih tapi aku tetap saja memangsa dan terus memangsa gadis-gadis yang mau denganku. Kalian juga boleh tidur bersamaku asal kalian mau.
8998FANS-UZUHINA :Enak aja meski aku perempuan,aku ogah sama lu Jiraiya!
Jiraiya :Aku juga ogah sama lu gara2 lu buat gue sedih mulu!
Naruto ::Rapopo author! Jarang2 juga ngeliat Jiraiya-sensei nangis!
Jiraiya :Alah lu malah seneng ngelihat guru lu nangis. Dasar banyak bacot lu!
Hinata : Sudahlah yang penting ceritanya selesai.
8998FANS-UZUHINA :Iya dari pada kelamaan mending aku bilan REVIEW sama para readers. Oh ya kalau ada author yang fictnya lucu tolong dong kasih aku ide biar seterusnya gak garing kayak gini. Arigatou Kudasai. Ja nee!
