Yieyyyy…
Akhirnya fic saia yang terlantar ini berlanjut juga. Hohohoho
Well, saia buru-buru melanjutkan chapter ini karena mendapat "gugatan" dari para readers tentang chap selanjutnya atas ke-seenak jidat-an saia dalam memotong adegan. Uhuhuhu… gomeeen…
Dan, tak lupa *jiah, formal amat nih* saia ucapin Arigato Gozaimasu untuk semua yang udah baca dan meninggalkan 'jejak' *jitaked* dikotak review. Heheheheh
Oke..karena sudah terlalu banyak cuap2 gaje, mending lanjut baca…
Don't forget to review.
Tapi saia tetap pegangin semboyan FFN…
DON'T LIKE DON'T READ.
BLEACH FANFICTION
Rated ; T
Indonesian
Adventure, Friendship, Romance.
AU, AT, OOC
Disclaimer ; Until the end, BLEACH always Kubo Tite's.
Chappie 4 of Love in Mission
Flashback of previous chap
Cowok itu tiba-tiba saja berjalan kearahnya, memperpendek jarak antara mereka. Sembil tersenyum licik, Ichigo terus maju mendekati Rukia.
"Mau apa kau?" Tanya Rukia sambil melangkah mundur. Bersiaga.
"Kau bilang aku brengsek kan?"
"Lalu kenapa?" bantah Rukia mencoba santai meski ia masih terus melangkah mundur. Dan….punggung mungil itu membentur dinding.
Ichigo berdiri di depan Rukia. Tersenyum licik.
"Kenapa tidak mundur lagi em?"
"Me..memangnya kenapa"
Ichigo benar-benar mempersempit ruang gerak Rukia, karena sekarang ia menumpukan tangan kirinya ditembok, tepat disamping kepala Rukia sambil menunduk. Menatap wajah mungil itu.
"Mau..apa kamu?" Tanya gadis itu dengan wajah yang mulai berwarna pink.
Ichigo nyengir dan kemudian tersenyum licik..
"Menurutmu?" justru ia balik bertanya. Tangan kirinya kini berpindah memegang leher belakang Rukia dan mulai mendekatkan wajah mereka.
Rukia merasa perutnya bergolak, pedang kayunya tergelatak dilantai dan kedua tangannya menahan dada bidang Ichigo yang mulai menghimpitnya.
"Mi..minggir…" katanya tak begitu jelas. Tapi cowok itu justru menarik kepala Rukia lembut, membuat gadis itu mendongak dan memiringkan kepala orangenya sedikit.
"Asal kau tahu midget..aku akan.."
"Ich..Ichigo..Ming..minggir…" Potong Rukia. " Minggmmmhhh…." Perkataan gadis itu tak terselesaikan. Karena merasakan bilah pedang kayu menekan lehernya, dan bibirnya terkunci oleh tangan Ichigo.
"Kau sudah mati, Nona Kuchiki…" kata Ichigo masih dengan senyum liciknya dan tetap menekan pedangnya ke leher jenjang Rukia.
"Siall.." gumam Rukia kesal. Ia menghela napas. "Jauhkan pedangmu…" perintah Rukia pada Ichigo.
Cowok bermata cokelat musim gugur itu menurunkan pedangnya.
"Dasar..tidak bisakah kau berkonsentrasi?" gerutu Ichigo sambil melangkah mundur. Meninggalkan Rukia yang sedang mengambil pedangnya.
"Memangnya siapa yang tak konsentrasi?" kata Rukia keras (baca: teriak) dengan nada kesal.
"Tentusaja kau, baka…" gumam Ichigo
"AKU TIDAK BAKA, BAKAAA….!" Teriak Rukia sambil berkacak pinggang.
Ichigo berbalik,
"Tidak bisakah kau berkonsentrasi, bahwa kita sedang berlatih seni pedang? Jadi aku tidak akan menciummu!"
"Memangnya siapa yang mengharap ciumanmu, jeruk busuk!"
"Bukannya tadi kau?" seringai Ichigo.
Rukia melemparkan pedang kayunya dengan brutal ke tubuh Ichigo, yang tentusaja ditangkap dengan sigap oleh cowok musim gugur itu. Nafas Rukia memburu karena kesal.
"Aku membencimu, Kurosaki!" katanya kesal. Menyambar tas kecilnya dan keluar dari dojo tanpa mengganti seragam putihnya.
Brakkk…
Suara pintu dojo yang terbanting keras membuat Ichigo hanya menghela nafas kecil.
Rukia POV.
Kulangkahkan kaki cepat-cepat dari dojo laknat itu, err maksudku dari dekat manusia brengsek bernama Kurosaki Strawberry.
Tak peduli dengan beberapa kakak tingkat yang menatapku heran. Masa bodoh..
Pintu asrama tertutup, yeah aku tahu..hari sudah sangat sore kan?
Aku benar-benar kesal dengan Kuro-jeruk brengsek itu, dipikirnya aku ini apa? Seenaknya saja…
Ohh..ayolah Rukia. Untuk apa marah-marah? Batinku kesal. Tapi toh orang itu benar-benar brengsek kan? Heeei..apa-apaan pikiranku ini.. huhhhh
Aku berlari menaiki tangga, terus dan terus. Kakiku serasa pegal dengan hal ini, dan aku mencela kakekku yang tak membangun lift, errr..atau minimal eskalator untuk asrama ini.
Pintu atap mansion didepanku…ku dorong perlahan. Dan seperti biasanya, lenggang..hanya ada bangku kecil yang biasa kududuki ada disana.
Kulempar tas kecilku begitu saja dilantai. Selanjutnya, yeah..rutinitas harianku…menumpukan lengan di pagar pembatas dan menatap sore diujung barat. Sewarna darah.
Aku menghirup napas dalam-dalam..merasakan angin sore membelai lembut wajahku. Seolah membawa kekesalan-kekesalan yang ada diotakku pergi.
Entahlah sejak kapan aku memiliki hobi semacam ini. Aku tak bisa mengingatnya.
Well…hari ini aku kesal.
Kenapa?
Jangan tanyakan itu padaku, karena aku sendiri tak mengetahuinya.
Entah…kupikir…..kupikir..aku...aku tak kecewa bukan? Ohh, bagus..berpikir saja sesukamu otak brengsek.
Kataku memaki sambil menarik rambut sebahuku.
Aku kesal..karena hari ini..aku kalah lagi olehnya. Dan, semua itu hanya karena sisi cewek mendominasi otakku. Arrrggghhhhh ..aku benci hal ini.
Dimana..dimana..jiwa bertarung yang selama ini diajarkan Jii-san..Dimana Rukia Kuchikiii?
Wuussssshhhhhhhhh….
Aku tersentak, kutolehkan kepalaku karena merasa angin menerpa keras.
Kosong, tak ada apapun. Haaahhh..mungkin aku memang lelah.
Kulangkahkan kaki menghampiri tas, menyambarnya dan mulai berjalan menuju pintu atap. Menarik handle dan melangkah keluar dari tempat favoritku itu. Perlahan, menuruni tangga dan melangkah menyusuri lorong mansion.
Pintu-pintu suite sudah tertutup meski aku bisa mendengar canda dari dalamnya.
Kuhampiri pintu suiteku, dan membuka kuncinya.
"Tadaima…" kataku sambil kembali mengunci pintu.
"Okaeri Kuchiki-saan…" jawaban itu terdengar dari ruang kecil disamping ruang tengah. Dapur mini.
Tampaknya Inoue sedang membuat sesuatu (baca: racun). Jadi buru-buru kulepas sepatu dan memakai selop kamar secepat kilat lalu melarikan diri kedalam kamar sebelum aku disuruh mencicipi racu..errr… maksudku makanan unik imajinatif-mengerikannya itu.
Aku melemparkan tasku, membuka almari dan menyambar hakama serta dress ungu chappy yang kusukai.
Merendam diri di bath-tube *yang hanya ada di suite ku, karena aku memaksa Jii-san untuk memasangnya*
Begitu selesai mandi, aku keluar. Duduk disofa ruang tengah.
"Kuchiki-san..?"
Aku menoleh. Inoue dengan pakaian santainya.
"Un..?"
"Ayo turun..nanti waktu makan malam terburu habis!" ajaknya. Aku hanya mengangkat bahu.
"Errmm..aku malas..kau pergilah sendiri. Aku..tidak lapar." Kataku.
"Aaah..Kuchiki-san..kenapa tak pernah ikut makan malam siih…Kuchiki-san tidak lapar?" tanyanya polos. Aku tertawa kecil.
"Aku bisa makan kue nanti. Tak apa..pergilah.."
"Ya sudah..aku pergi Kuchiki-san.." kata gadis cokelat itu sambil melangkah keluar dari suite kami.
Aku menyalakan televisi, mengganti channel-channel karena tak ada satu acarapun yang kusukai. Kulirikkan mata mengamati pintu yang ada disebelah kamarku.
Ngomong-ngomong..si jeruk itu sudah kembali belum yah?
Heeiii…untuk apa aku memikirkannya. Segera kukibaskan kepalaku berulangkali.
Tapi..errr..aku kan hanya ingin tahu. Mungkin ia sudah dikamarnya itu, atau mungkin sedang menemui Jii-san untuk membicarakan hal -yang selalu mereka tutupi dariku?-
Hell..yeah,, aku tahu..mereka menyembunyikan sesuatu dariku. Dan aku benar-benar kesal akan hal itu.
Krakk…kunyahan potato chip yang kugigit keras terdengar jelas. Sungguh..aku kesal.
"Sedang kesal?"
Degggghh…
"Aagghh…!" aku tersentak kaget, karena tiba-tiba saja si strawberry itu sudah duduk disebelahku.
"Kau….kau…dasar baka! Ucapkan salam sebelum masuk, bodooh…" umpatku kesal pada makhluk urakan itu. Manusia itu hanya mengangkat bahu kecil, menyambar potato chip dari tanganku dan mulai meng-eksplorasi isinya.
"Mungkin kau memang butuh alat bantu dengar. Aku sudah mengucap salam dan kau tetap tak mendengar!"
Aku mendengus mendengar jawabannya
"Oh bagus..mungkin aku memang tuli.." jawabku sinis sambil mengangkat lututku dari lantai dan memeluk keduanya.
End of Rukia POV.
Ichigo mem-pending suapan potato chip ke mulutnya. Ia terdiam, kemudian menatap gadis yang memeluk lutut disampingnya itu.
"Kau..kenapa marah?" tanyanya sambil meletakkan bungkus potato di meja. Sang gadis violet hanya bergumam kecil
"Tidak.." singkat. Lalu mulai beranjak bangkit dari sofa nyaman menuju kamarnya.
Blammm.. pintu berhias chappy tertutup rapat.
Rukia merebahkan dirinya di tempat tidur, menelungkup. Ia menarik liontin kalungnya, menatapnya, mengamati setiap detail leluk serpihan kristal bening itu.
Entah kenapa, blitz-blitz tentang ingatan masa lalu menghampiri otaknya.
Dan, sensasi dingin menakutkan yang terasa berasal dari lehernya juga mulai menyebar.
Rasa takut akan sesuatu mendominasi pikirannya.
Dingin..sakiit…sakit.
Perasaan itu mulai menyebar kesetiap sel yang ada ditubuhnya.
Napasnya tersenggal, keringat dingin bermunculan didahi dan telapak tangannya.
Gadis violet itu terburu-buru bangun, pergi kekamar mandi. Membasuh mukanya dengan air, terhuyung…
Lagi, ia membasuh mukanya. Tak peduli jika bajunya mulai basah..
"Arrhhhh…." Teriaknya sebelum kegelapan menguasai pandangnnya.
~ * bleach * ~
Rumah kayu itu terlihat sepi dari luar. Lagipula letak tempat itu memang tepi hutan. Hanya ada kurang dari sepuluh rumah lain yang menempati kawasan itu. Sangat terisolasi dari dunia luar. Letaknya yang memang diketinggian membuat semakin sulit akses menuju tempatnya.
Dirumah kayu itu, seoramg remaja berambut perak sedang bertarung dengan wanita muda berambut blonde. Benturan-benturan pedang logam terus terdengar dari rumah berpagar kayu tinggi.
Remaja berambut perak terus merengsek maju dengan pedangnya. Membuat lawan bertarungnya terdesak mundur, sedikit kewalahan.
"Stop..!" teriak wanita blonde yang membuat sang rambut perak menghentikan serangannya. Pedangnya menggantung diudara.
"Yah..saya percaya, anda memang benar-benar sudah berkembang pangeran… jadi bagaimana kalau kita sudahi saja latihan kali ini?" pintanya dengan mengedipkan mata menggoda.
"Cih..kau memang penakut, Matsumoto.." cibir sang remaja sambil berbalik. Menyarungkan pedangnya.
Wanita yang tadi dipanggil Matsumoto itu terkikik kecil, menyimpan pedang disarungnya. Menatap punggung lawan latihannya barusan yang mulai menjauh.
Clanggg…. Srakkkk..
Sebuah pisau terlempar menuju semak didekat mereka. Tinggal beberapa senti dari leher belakang remaja perak yang berjalan itu, kalau saja ia tak segera menangkis dengan pedangnya sendiri, tentu kini ia tinggal nama saja. Pisau tadi hendak mengancam lehernya.
"KAU mau membunuhku, matsumotoo….?" Geram remaja perak itu sambil berbalik dengan muka angker. Tiga tanda siku muncul dijidatnya.
Matsumoto hanya terkekeh
"Mana mungkin…hanya ingin tahu, apakah anda masih sigap seperti biasanya…." Jawabnya tanpa rasa bersalah.
"Kauuu…" geram remaja yang kini melangkah pergi dengan dagu terangkat. Kesal. Kalau saja ini di dunia manga, tentu akan terlihat back-ground api berkobar-kobar disekelilingnya.
Wanita berambut blonde yang kini merapikan rambutnya berdendang kecil.
"Sudah lama Kyoraku-san..?" tanyanya entah pada siapa, karena memang tak nampak satu orangpun dihalaman itu.
Namun, tiba-tiba dari balik pagar tinggi meloncatlah seorang laki-laki paruh baya berambut panjang hitam yang menutup kepalanya dengan caping. Jubah mencolok bertabur bunga warna-warni menutup tubuhnya.
Lelaki itu tersenyum.
"Kau tetap siaga…seperti biasanya, Matsummoto…." Kata lelaki itu.
"Terimakasiih.." sambung Matsumoto sambil membungkuk hormat.
"Bagaimana perkembangannya?"
"Seperti yang anda lihat..masih tetap jenius seperti biasanya, Kyoraku-san…"
"Bagus..dan jangan lupa, amati tindakannya. Jangan sampai bocah itu bertindak tanpa menunggu nymph …"
"Baik…"
"Bilang padanya, serpihan itu tak akan bisa diambil tanpanya, jadi percuma saja jika ia memaksa…"
"Dari mana anda tahu..?"
"Huh..ada banyak cara untuk mengetahuinya. Aku pergi.." katanya singkat dan tiba-tiba sudah lenyap dari pandangan.
Wanita pirang itu berjalan menuju rumah kayu, membuka pintunya,
"Pangeran?" sapanya. Tapi remaja yang diharapkannya ada ditempat itu sudah lenyap.
~ * bleach * ~
"Nghhh…"
Rukia, tubuh mungilnya yang terbungkus selimut tebal menggeliat perlahan. Ia membuka matanya, beradaptasi dengan kondisi cahaya kamarnya.
Sesaat kemudian ia terduduk. Selimut tebalnya ia singkirkan.
Memejamkan mata sesaat, mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi dan kenapa ia bisa berada di tempat tidurnya yang nyaman.
Terakhir kali yang diingatnya adalah teriakan samarnya dikamar mandi. Jadi, siapa yang memindahkannya? Pikirnya heran.
Gadis itu turun dari tempat tidurnya. Pening. Kepalanya terasa berat. Tapi ia memaksakan diri. Memakai selop kepala chappynya dan tertatih menuju pintu kamar.
Cklekk…ia membuka pintu kamarnya.
Hal pertama yang dilihatnya adalah warna orange. Rambut cowok tegap yang kini sedang duduk di sofa sambil menonton serbuah film action yang diputar di televisi.
"Mana buku itu…?" Tanya Rukia sembari berjalan menuju tempat Ichigo yang sedang duduk santai.
"Buku apa?" jawab Ichigo tanpa menoleh.
"Sudah kubilang….buku yang diberikan Yama-jii padamu! Mana?" sentak Rukia keras.
Ichigo menolehkan kepalanya.
"Aku tidak tahu apa maksudmu…."
Kata-kata itu menyengat telinga Rukia. Meski ia masih merasa pening dan kakinya tak begitu kuat, tapi cewek itu maju. Menerjang Ichigo. Bermaksud melancarkan pukulan tangannya.
Grepp..
Tangan mungilnya dengan mudah ditahan Ichigo. Cowok bermata cokelat musim gugur itu sudah berdiri tegap untuk menangkis serangannya.
Rukia menyentakkan tangannya. Gadis itu mundur selangkah menahan emosinya
"Kau pikir aku tidak tahu…Buku yang diberikan..hh..Yama-jii…buku yang ada diruang Yama-jii..aku pernah melihatnya. Dan aku tahu….hhh..jii-san..memberikannya padamu. Jadi jangan berpura-pura tak tahu apa-apa Ichigo Kurosaki…!" teriak Rukia. Menatap nanar pada orang yang ada dihadapannya kini. Tak peduli jika waktu sudah hampir tengah malam dan seluruh penghuni asrama sedang tertidur lelap.
"Lalu kenapa?" suara Ichigo yang tenang semakin menyulut emosi Rukia.
"Kau…kau…berikan buku itu…biarkan..hh…aku membacanya! Aku..hh..aku juga pemilik serpihan hougyoku…aku..berhak mengetahui apa itu hougyoku…. Aku berhak mengetahui sejarah..hhh hougyoko..aku sama berhaknya..sepertimu…" Suara teriakan Rukia memenuhi suite itu. Ichigo masih dalam sikap tenangnya. Tak mengeluarkan sepatah katapun. Wajahnya tetap datar seperti biasa.
"Beritahu….beritahu aku..Apa itu Hougyoku! Beritahu aku….!" lagi-lagi teriakan Rukia menggema.
"It's not my bussines…!" tukas Ichigo.
Belum lewat sedetik saat gadis violet itu mendaratkan tendangannya kelutut Ichigo(yang dihindari dengan sempurna)
"Aku…" Rukia bergerak kesamping kanan selangkah. Menyerang Ichigo dengan kepalan tangannya "berhak… " tapi lagi-lagi serangannya ditangkis sempurna oleh cowok itu. Mereka seakan lupa bahwa mereka berada dalam suite, bukan dojo karate. "mengetahui….." Rukia menendang lagi. Kali ini sasarannya perut Ichigo. "….semua tentang…" katanya saat kakinya hanya menyambar udara kosong "..hougyoku…!" tinjunya merengsek, berharap mengenai tubuh Ichigo.
Tangkisan sempurna lagi yang diterimanya. Lalu merasakan tangan kekar mencengkeram bahunya dan detik berikutnya ia sudah terbanting jatuh disofa lembut ruang santai itu dengan seorang cowok yang menunduk diatasnya. Menghentikan momentumnya.
Mungkin karena pengaruh kondisi tubuhnya. Mungkin juga karena otaknya tak berpikir jernih sehingga kini ia merasakan seluruh tubuhnya lemas, tak bisa bergerak. Yang jelas, gerakannya terkunci sempurna.
"Buku itu bukan untuk kau baca!"
"Aku….hhh…memiliki serpihan…hougyoku…. Sama…sepertimu! Jadi beri aku satu alasan bagus atau aku akan membunuhmu Ichigo Kurosaki…!" teriak Rukia lagi.
Ichigo menatap tajam pada mata violet Rukia yang ada dibawahnya.
"Dengar,…itu bukan….."
"Apa? Apa?...beritahu aku kau ini, apa yang aku bukan!" sentak Rukia. Berontak untuk bangun. Percuma. Ichigo masih mengunci gerakannya.
"Aku tak tahu!...dengar Nona Kuchiki…aku tak tahu apa alasan Yama-jii tak memberikan buku itu padamu! Jadi, kenapa tak kau tanyakan itu pada Jii-sanmu?" jawab Ichigo. Mata elangnya menatap tajam pada violet-amethyst Rukia. Mendengar napas memburu gadis itu.
Mata violet itu mulai mengendur. Memejam bersamaan dengan saat Ichigo melepaskan kunciannya pada tubuh Rukia.
Ichigo berdiri, membelakangi sofa tempat Rukia masih terlentang lemah.
"Setiap orang punya alasan untuk melakukan dan tidak akan sesuatu…" katanya sambil bergerak menghampiri remote televisi dan mematikannya.
Rukia menolehkan kepalanya, menatap punggung cowok bertubuh atletis itu.
"Dan aku bukan Tuhan…!" Ichigo berbalik. Menghadap Rukia. "Yang mengetahui alasan yang dipikirkan setiap manusia.." lanjutnya saat berjalan menghampiri Rukia.
Mengangkat tubuh mungil gadis itu ala bridal style dan membawanya menuju pintu kamar berhias kepala chappy.
Rukia tak mengatakan apapun. Tenggorokannya terasa kering dan matanya terasa panas saat cowok beraroma msim gugur itu meletakkan tubuhnya dengan lembut diatas tempat tidur, menarik selimut tebal untuk menutupi tubuhnya.
"Kau sakit! Jadi beristirahatlah, karena kita tak punya banyak waktu!" kata Ichigo saat meninggalkan Rukia yang sudah terbaring ditempat tidur.
Cowok itu melangkah keluar dari pintu kamar Rukia, tapi sebelum menutupnya kembali berbalik dan bicara.
"Dokter asrama berpesan, kau hanya butuh istirahat!" katanya dan..
Blammm..pintu itu tetutup sempurna. Menyisakan Rukia sendiri dalam kamar beraroma levender miliknya. Begitu menyadari ia sendiri, setitik mutiara mengalir dipipi putihnya. Ia tahu, ia gadis tangguh. Tapi tetap saja ia hanyalah remaja cewek biasa, dan menangis adalah pelampiasan kekacauan hatinya.
~ * bleach * ~
Waktu menunjuk pukul 07:30 pagi saat Rukia berjalan lesu menghampiri kulkas disudut dapur mini dalam suitenya.
Mengambil sekotak dingin jus strawberry. Menghampiri meja, dan menuang isi jus kotak itu dalam gelas bening kecil. Baru saja ia akan meminumnya ketika tiba-tiba sebuah tangan muncul dari sisinya dan menghentikannya meminum jus itu.
Rukia tertegun saat mendengar suara seorang cowok dibelakangnya.
"Kupikir meminum jus sepagi ini akan membuatmu makin sakit!"
Rukia berbalik dan mendapati seorang cowok berwajah tampan dengan rambut orange berdiri dihadapannya dengan jarak kurang dari lima centimeter.
"Makan ini. Sebentar lagi kelas mulai!" kata Ichigo. Tangan kirinya meletakkan segelas cokelat panas melewati samping kanan Rukia dan tangan lain meletakkan bento melewati samping kiri Rukia, diatas meja -tempat cewek itu bersandar- yang berada dibelakang Rukia. Bohong jika tak terjadi kontak tubuh dengan cewek violet itu, sebab Rukia merasakan gesekan lengan Ichigo ditubuh mungilnya.
Rukia bisa merasakan, aroma wangi musim gugur yang kemarin mengkontaminasi otaknya. Ia juga melihat, detail ke-bening dan teduhnya mata amber Ichigo.
Cowok orange itu berhenti dua detik lebih lama dari waktu yang dibutuhkannya untuk meletakkan sekotak bento dan segelas cokelat panas dimeja itu.
Ichigo menarik tangannya lagi. Mundur satu langkah dan meninggalkan Rukia yang masih berdiri dalam diamnya.
Langkah kaki Ichigo menjauh dari pendengaran Rukia.
Gadis violet itu bisa mendengar pintu suite yang menutup. Entah kenapa ia tak peduli pada waktu dan kelas yang akan segera dimulai.
Hanya saja, Rukia meraih kursi dan duduk menghadapi bento serta cokelat panas yang terletak diatas meja itu.
Tak ada keinginan untuk menyentuhnya. Sama sekali, sedikitpun.
Ia hanya meminum cokelat panas itu dengan perlahan, setengahnya. Dan meninggalkannya begitu saja.
Menyambar tas sekolahnya.
Ketika ia sedang memakai sepatunya, ia bisa mendengar bel sekolah yang mendengung.
Pertanda kelas-kelas sudah dimulai.
Saat menutup pintu suite dan menguncinya gadis itu merasakan suara Ichigo semakin merasuki pikirannya.
'Setiap orang punya alasan untuk melakukan dan tidak akan sesuatu…' perlahan ia melangkah. Menyusuri koridor yang sepi, karena semua penghuninya sudah berada di Karakura Academy.
'Jadi, kenapa tak kau tanyakan itu pada Jii-sanmu?'
Menuruni anak tangga satu persatu, suara Ichigo terus terngiang.
Ia mempercepat langkah. Melewati lantai demi lantai yang lenggang. Menyeberangi aula luas dan mnuju pintu keluar.
Gadis itu berlari, menyusuri halaman kecil yang menghubungkan asrama dengan mansion kakeknya. Tak memperhatikan bunga-bunga yang berjajar dikanan kirinya. Melambai dengan pesona mereka.
Hanya satu yang ditujunya, pintu mansion kakeknya.
Ketika ia menekan bel, ada pelayan yang membukakan pintu untuknya.
Ia menerobos masuk, mencari dimana kakek yang dihormatinya itu berada.
Ya, ia menemukannya. Sedang duduk sendiri didepan meja makan.
Baru saja gadis bermata violet itu mau membuka mulutnya untuk bertanya ketika sang kakek –tanpa menatapnya- bicara.
"Sudah kubilang padamu Rukia. Berulang kali! Itu takdirmu. Entah akan kau percayai atau tidak, kau hanya harus menjalaninya!"
Mendengar suara kakeknya, seluruh tanya yang tadi akan terlontar dari bibirnya menghilang. Memudar. Dan tak satupun yang tersisa.
"Yama-jii…." Katanya sembari mununduk.
"Kau sudah terlambat masuk kelas. Jangan sampai sensei-mu memarahi, Rukia!" kata Yamamoto-kuchou saat mengelap tangannya dengan tissue.
Rukia membungkukkan badan dan segera pergi.
Langkah gadis Itu semakin cepat. Menuju gedung Karakura Academy.
Bisa terdengar, suara kakak tingkatnya yang sedang berolahraga digedung samping. Tapi ia tak peduli.
Menyususri tangga, terus dan terus. Hingga pintu atap ada didepannya.
Barulah, gadis itu memperlambat larinya.
Perlahan, ia mendorong pintu dari besi itu.
Sinar matahari menyambutnya, terasa hangat.
Ia menjatuhkan tasnya dan bergerak menuju pagar. Menumpukan kedua tangannya di pagar pembatas.
Selalu, ketinggian menjadi tempat favoritnya.
Menatap halaman depan Karakura Academy dan tersenyum miris saat pandangan matanya jatuh didepan gerbang kompleks academy itu.
"Apa yang harus kulakukan Kaien-nii…?" bisiknya lirih.
Ia melewatkan waktu, berdiam diri menyandarkan tubuhnya dipagar pembatas. Tak ingin memikirkan apapun.
Entah sudah menit keberapa ia lewati, mungkin pula beberapa jam telah berlalu meniggalkannya yang masih terdiam.
"Sudah kuduga!"
Rukia tersentak kaget. Menolehkan kepalanya dan melihat sesosok cowok berdiri santai sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana, dengan bahu yang merendah dan menyandarkan tubuhnya dipintu atap –gaya khasnya-.
Rukia menolehkan pandangannya lagi, menatap halaman depan sekolahnya itu.
"Mau apa kau kemari?" gumam Rukia.
"Mencarimu?" lebih terdengar pertanyaan jawaban dari cowok yang berdiri santai itu.
"Bagaimana kau tahu aku disini?"
"Oh ayolah….nona Kuchiki. Bukankah hanya ketinggian yang akan kau tuju untuk mencari ketenangnan?"
Satu hal lagi yang membuat Rukia tertegun. Cowok itu mengetahui kebiasaannya hanya dalam seminggu pertemuan mereka.
Dan fakta itu membuat Rukia berpikir, sebegitu mudahkah ia ditebak, atau sepintar apa cowok itu sehingga bisa menganalisis pribadinya dengan tepat?
"Kelas sudah mulai sejak tadi!"
"Aku tak peduli.." jawab Rukia tanpa mengalihkan pandangannya.
"Benarkah?" suara cowok itu –Ichigo Kurosaki- sudah berpindah kesisinya.
Rukia tak menjawab, memejamkan mata. Merasakan dalam-dalam sinar mentari yang memeluknya dan memeberikan kehangatan pada tubuh mungilnya.
"Kenapa?"
"Eh..?" Rukia tak menangkap maksud pertanyaan Ichigo yang tiba-tiba itu.
"Kenapa sejak kemarin kau membeku begitu?"
"….." hening, tak ada jawaban dari Rukia. Sepatah katapun tak ada yang mengalir dari bibir cewek itu.
"Aku ….butuh…kejelasan.." Gumamnya.
"Tak ada…!" singkat. Tanpa ekspresi. Jawaban dari Ichigo.
"Kau bohong!" tukas Rukia. Kekesalan masih mendominasi pikirannya.
Tiba-tiba Rukia merasakan dirinya ditarik. Sepasang tangan membuatnya menatap cowok yang ada disampingnya itu. Ia merasakan lengan atasnya dipegang erat. Dan wajah cowok itu hanya beberapa senti dari wajahnya sendiri.
"Dengar! Aku benar-benar tak tahu apapun cerita tentang Hougyoku. Dan.."
"BOHONG…aku tahu kau berbohong KUROSAKI!" teriak Rukia memberontak.
"Rukia! Lihat aku, lihat mataku! Aku tak tahu apapun tentang itu. Buku dari Yama-jii tak menceritakan tentang sejarah hougyoku!" jelas Ichigo. Pupil mata hazelnya tak berubah sedikitpun. Hembusan napasnya teratur dan denyut nadinya normal. Rukia tahu itu…fakta itu hanya bercerita bahwa memang cowok didepannya itu berkata apa adanya. Tak ada kebohongan. Tapi otak Rukia tetap memberontak, tak mau mempercayai.
"Kau percaya padaku?" Rukia mendengar Ichigo mencondongkan diri dan berbisik ditelinganya. Napasnya terasa hangat menggelitik telinga Rukia. Jarak yang sangat-sangat dekat hingga sekilas terasa bibir cowok itu menyentuh telinganya. Ada rasa nyaman mengalir dalam tubuhnya kala itu.
Aroma musim gugur terasa jelas di indera penciuman Rukia.
Lalu ia merasakan tubuhnya tak lagi ditahan. Tangan cowok itu menjauh.
Rukia masih membeku. Berdiri diam ditempatnya saat ia melihat cowok yang sejak beberapa hari lalu menggoda dan mengusilinya itu mundur selangkah.
Meninggalkannya sendirian diatap academy.
Ia mendengar tapakan kaki cowok tadi ditangga.
Gadis violet itu mengambil tasnya yang sejak tadi tergeletak begitu saja. Keluar dari pintu atap dan menuruni tangga. Didepannya cowok tadi berjalan menjauh.
Ia melangkahi satu demi satu anak tangga.
"Kudengar Urahara-san hari ini akan memantau seni bela dirimu yang terkenal. Mau berlatih denganku atau semacamanya?"
Rukia mendongak menatap heran pada cowok yang berada agak jauh didepannya itu
"A.." ia masih heran dan belum berbicara.
"Oke..kuanggap itu sebagai jawaban ya! Kutunggu sore nanti didojo!" dan bayangan cowok tadi menghilang dibelokan koridor.
Rukia bergegas lebih cepat. Menuju kelasnya. Menyusuri koridor diantara kelas-kelas.
Menyusul cowok cakep yang tadi bicara padanya.
Tapi tak terkejar dan saat ia sampai dikelas, cowok itu sudah duduk tenang mendengar guru mengajar.
Jadi secepat apa cowok itu berjalan?
~ * bleach * ~
To be Continue on chappie 5
Uhuhuhuhu…..
Setelah berjuang mati-matian *plak*, akhirnya selesaaai!
Emmmmhhhh,,, chap kali ini sebagai permohonan maaf saia buad para reader karena sudah memotong chap kemarin seenak jidat tanpa berpikir . Gomenn…. *bungkukin badan 90 derajat*
Yah, itu aja.
Dan jangan lupa review yaah…
Kritik dan saran saia tunggu lhooo *blink2*
Terimakasiiiiihhhhhh…
