Disclaimer: i own nothing but the plot

a/n: thank you for all of your reviews :D


Find The Truth

by neesh


Road to Australia


Harry POV

Hari demi hari berlalu dengan cepat dan akhirnya hari penting ini tiba. Hari ini adalah hari persidangan bagi keluarga Malfoy, Kingsley memintaku dan Hermione datang sebagai saksi.

Aku menatap diriku sendiri di cermin, ingatan tentang Narcissa Malfoy di Hutan Terlarang, ucapan Dumbledore tentang Draco Malfoy, semuanya berputar di benakku. Aku berpikir, apa sebaiknya aku mengungkapkan semuanya di pengadilan nanti? Seandainya aku mengungkapkan semuanya, apa mungkin hukuman untuk Narcissa dan Draco akan dikurangi? Aku tidak peduli tentang Lucius, tapi aku tidak bisa memungkiri bahwa aku memang sedikit peduli pada Narcissa dan Draco.

"Harry?"

Aku menoleh, melihat sahabatku sudah berdiri di balik pintu, tersenyum padaku. Dia selalu tersenyum padaku, tapi entah kenapa, kali ini aku merasa senyumnya berbeda. Atau reaksiku yang berubah?

"Kau sudah siap?" tanya Hermione.

Aku mengangguk, "Andromeda dan Teddy tidak ikut?"

Hermione menggeleng, ia mendekatiku dan merapikan dasiku yang terlihat agak miring. "Tidak, Andromeda merasa ia tidak perlu datang. Sepertinya dia memang tidak ingin datang," Hermione tersenyum puas melihat dasiku yang kini terlihat rapi.

"Kau sudah tau apa yang mau kau katakan di depan pengadilan nanti?"

"Tentu. Kurasa. Bagaimana denganmu?"

Aku menimbang-nimbang, aku tidak pernah menceritakan tentang kejadian di Hutan Terlarang pada siapapun termasuk Hermione. mungkin sebaiknya Hermione tau. Ya, dia pasti tau apa yang sebaiknya aku lakukan.

"Narcissa Malfoy menyelamatkanku,"

Hermione terkejut, "Apa? kapan? Kenapa kau tidak pernah menceritakan apa pun padaku?"

Aku menghela nafas berat sebelum mulai menceritakan segalanya pada Hermione. segalanya, tanpa menyisakan apa pun. Termasuk keraguanku tentang apa aku harus menceritakan tentang itu di pengadilan nanti.

Hermione tersenyum lembut, "Tentu kau harus menceritakan itu Harry. Dari apa yang kudengar darimu, aku rasa Narcissa dan Draco hanya mengikuti keinginan Lucius. Kurasa mereka berhak mendapatkan kesempatan kedua. Lagipula—" Hermione menyentuh kedua pipiku dengan lembut "—berkat Narcissa kau masih berada di sini," Hermione mengecup pipiku dengan lembut dan lama.

"Aku tunggu di bawah," ujarnya sebelum keluar dari kamarku, meninggalkanku yang masih agak terkejut dengan sikapnya.

.

Aku, Hermione, Luna, Ollivander dan beberapa anggota keluarga Weasley (Arthur, Molly, Ron, Ginny dan George) adalah saksi yang dipilih untuk pengadilan keluarga Malfoy. Lucius, Narcissa dan Draco duduk di tempat yang pernah aku duduki beberapa tahun yang lalu.

Keluarga Weasley adalah saksi pertama yang diminta bicara di pengadilan itu, disusul dengan Luna, Ollivander, Hermione dan hingga akhirnya, aku. Aku sempat bertatapan dengan Narcissa sebelum aku mulai berbicara, aku bisa melihat Narcissa berharap padaku.

Sesuai dengan saran Hermione, aku menceritakan segalanya. Dari pendapat Dumbledore tentang Draco, bahwa Draco tidak pernah membunuh siapa pun, tentang bantuan Narcissa di Hutan Terlarang dan segalanya, termasuk pendapat Hermione yang mengatakan bahwa mereka berhak mendapatkan kesempatan kedua.

Setelah aku selesai mengungkapkan apa pun yang harus aku katakan, aku melihat bahwa semua orang di ruangan (kecuali Hermione yang sudah pernah mendengar itu sebelumnya) memandangku tidak percaya. Bahkan mulut Ron terbuka lebar. Narcissa tersenyum padaku, mengucapkan terima kasih tanpa suara. Draco, untuk pertama kalinya, tersenyum tulus padaku.

Di akhir persidangan, akhirnya hanya Lucius yang mendapatkan ciuman dari dementor, sementara Narcissa akan mendekam di Azkaban beberapa tahun karena bantuan yang telah ia berikan pada Pangeran Kegelapan selama ini, tapi aku bisa melihat bahwa Narcissa bersyukur ia tidak mendapatkan ciuman dari dementor dan terlihat lega ketika pengadilan memutuskan Draco tidak bersalah. Aku yakin Narcissa akan bertahan di Azkaban, dia memiliki alasan untuk tetap waras. Seperti Sirius dulu.

Kingsley segera memanggilku dan Hermione setelah persidangan selesai.

"Kami menemukan orangtuamu," ujarnya dengan wajah berseri-seri.

Hermione memekik pelan, ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, matanya berkaca-kaca. "Baga—bagaimana—dimana—" Hermione terbata-bata.

Aku mengalungkan lenganku di bahu Hermione. "Dimana kau menemukan mereka?" tanyaku menggantikan Hermione yang jelas tampak terlalu terkejut dan bahagia.

Kingsley tersenyum, "Aku meminta bantuan Kementrian Sihir Australia dan mereka menemukan orangtua Hermione di sebuah kota kecil di selatan Australia. Mereka membuka sebuah restoran di pinggir pantai dan rumah mereka berada di lantai atas restoran itu,"

Kingsley mengeluarkan secarik perkamen dan menyerahkannya pada Hermione yang menerimanya dengan tangan gemetar. "Itu alamat mereka sekarang. Kapan kalian berencana berangkat? Mungkin aku bisa membantu kalian membuat Portkey Internasional," lanjut Kingsley lagi.

"Kami berencana berangkat secepatnya. Tapi Hermione ingin menggunakan pesawat saja, dia tidak terlalu suka Portkey," ujarku, mempererat pelukanku di bahu Hermione.

Aku tidak mengerti mengapa Kingsley begitu berseri-seri melihatku dan Hermione. Tapi cengirannya bertambah lebar ketika Hermione berbalik dan memelukku erat-erat. "Kurasa sebaiknya aku pergi sekarang. Jangan lupa mengirim burung hantu untuk Minerva, dia ingin tau apa kalian mau melanjutkan sekolah di Hogwarts," Kingsley berbalik dan pergi meninggalkan kami, masih dengan wajah berseri-seri.

"Hermione, kau tidak apa-apa?"

Hermione menggeleng, ia memelukku semakin erat. Aku tersenyum simpul dan balas memeluknya erat. Aku tau Hermione merasa sangat senang karena ia bisa bertemu dengan kedua orangtuanya lagi dan aku juga tau Hermione merasa cemas. Takut kalau ia mengembalikan ingatan orangtuanya, mereka justru akan menolaknya karena Hermione sudah melanggar janjinya untuk tidak menggunakan sihir pada kedua orangtuanya.

"Hey Hermione, apa kau mau kembali ke Hogwarts?" tanyaku, "Kurasa tahun ini akan menyenangkan dan santai. kita bisa benar-benar memikirkan tentang NEWT tanpa perlu mengkhawatirkan Voldemort atau apa pun,"

Hermione tertawa kecil. Ia mendongakkan wajahnya yang basah karena airmata. "Tidak perlu mengkhawatirkan apapun? Kau yakin? Kau, Potter, selalu menemukan cara untuk membuatku khawatir," katanya dengan suara serak.

"Benarkah?" aku menaikkan kedua alisku, "Kukira setelah Voldemort mati, aku tidak akan melakukan tindakan apapun yang akan membahayakan nyawaku,"

"Quidditch," Hermione mencibir begitu mengucapkan kata itu.

Aku nyengir, "Ah Quidditch. Aku merindukannya,"

Hermione mendengus. Aku terkekeh.

"Ayolah Hermione, ini akan menyenangkan. Kita bisa belajar bersama untuk NEWT, kau bisa membantuku belajar, mengunjungi Hagrid dan aku bisa memberimu sesuatu untuk dikhawatirkan,"

Hermione memutar matanya, namun akhirnya ikut tersenyum juga. "Aku pikir itu akan menyenangkan. Tapi berjanjilah padaku kau tidak akan melakukan manuver-manuver membahayakan lagi,"

Aku mengangkat tangan kananku sebagai tanda sumpah dan dengan nada seserius mungkin aku berkata, "Aku bersumpah aku tidak akan terlalu banyak melakukan manuver berbahaya lagi,"

Hermione memukul bahuku, "Harry!"

Aku tertawa, "Okay, aku berjanji,"

Hermione menatapku tidak percaya. Perlahan senyumnya menghilang bersamaan dengan matanya yang terlihat melebar.

"Ada apa?" tanyaku khawatir.

"Ron," jawab Hermione, "Dia menuju kemari," suaranya terdengar semakin pelan dan dia terlihat ingin menghindari Ron.

Aku menoleh dan melihat Ron sudah tinggal beberapa langkah di dekat kami. Ron memandangiku dan Hermione bergantian dengan tatapan aneh, terlihat cemburu.

"Apa yang kalian lakukan di sini? Dan apa yang Kingsley mau dari kalian?" tanya Ron.

"Kami hanya mengobrol, Kingsley memberitau kami dimana orangtua Hermione sekarang juga mengingatkan kami untuk mengirim surat untuk McGonagall,"

"Oh, aku sudah memutuskan tidak akan kembali ke Hogwarts. George memintaku untuk mengurus tokonya. Apa kau akan pergi Harry?" lalu Ron menoleh pada Hermione, "Aku tidak perlu bertanya padamu, kau pasti pergi," Ron kembali memusatkan perhatiannya padaku.

Hermione sepertinya sudah masuk dalam mode-debat. Jadi sebelum ia berkata apapun yang akan membuatnya dan Ron terlibat adu mulut lagi, aku segera menjawab pertanyaan Ron. "Sebenarnya aku memutuskan untuk pergi. Aku ingin mengalami satu tahun di Hogwarts tanpa mimpi buruk dari Voldemort atau sejenisnya,"

"Apa? Kenapa? Kau bisa langsung menjadi Auror tanpa perlu pelatihan!" kata Ron.

Hermione memutar mata, "Karena dia bukan kau Ron. Harry peduli pada pendidikannya,"

Ron mendelik pada Hermione.

"Jadi!" ujarku setengah berseru ketika merasakan perubahan atmosfer yang jelas dari Ron dan Hermione, "Sebaiknya kami segera pergi dan mempersiapkan perjalanan kami ke Australia," aku segera menarik tangan Hermione menjauh.

"Tunggu," seru Ron, aku dan Hermione berhenti. "Kami? Kau ikut dengan Hermione?"

"Umm—yeah. Bukankah berbahaya jika Hermione pergi sendirian?"

Mata Ron menyipit, "Kenapa kalian tidak mengajakku?"

Aku dan Hermione saling melirik, terlihat tidak nyaman dengan situasi ini.

"Begini Ron. Harry berpikir—kita berdua berpikir—" Hermione menggigit bibirnya "—kami pikir Mrs Weasley tidak akan mengijinkanmu pergi. Dia bahkan bertengkar dengan Charlie ketika Charlie ingin kembali ke Rumania,"

Ron diam, ia menatapku dan Hermione tajam.

"Mrs Weasley butuh semua anaknya berada di dekatnya sekarang. Kehilangan Fred membuatnya dua kali lebih khawatir pada anak-anaknya. Karena itu kami memutuskan tidak memberitaumu," tambahku.

Ron mendengus, "Aku tidak peduli. Aku akan ikut denganmu,"

"TIDAK!" teriakku dan ternyata Hermione juga meneriakkan hal yang sama.

"Kami tidak ingin kau bertengkar dengan Mrs Weasley untuk ini," lanjut Hermione.

"Itu benar, Ron. Mrs Weasley membutuhkanmu, begitu pula dengan Mr Weasley," ujarku.

"Kalian tidak ingin aku ikut kan?" hardik Ron tajam.

"Tidak!" jawabku dan Hermione, agak terlalu cepat sebenarnya. Melihat mata Ron yang semakin menyipit aku segera menambahkan, "Maksudku—maksud kami—kami ingin kau ikut—tapi—tapi—"

"Mereka membutuhkanmu Ron, ibumu tidak akan sanggup jauh dari anak-anaknya," tambah Hermione. aku mengangguk-angguk setuju.

Ron mendengus kesal, ia mengangkat tangannya, menunjuk aku dan Hermione. mulutnya terbuka, sepertinya ia ingin meneriakkan sesuatu. Tapi akhirnya ia menghempaskan tangannya dan berbalik pergi meninggalkan kami.

"Dia marah,"

"Sangat marah,"

.

Aku dan Hermione berangkat dua hari kemudian. Kami sibuk mengurus kepergian kami ke Australia sehingga kami tidak sempat menghubungi Ron atau keluarga Weasley lainnya. Hanya Andromeda, Kingsley dan Minerva yang tau tentang kepergianku bersama Hermione.

Sehari sebelum keberangkatan kami mengirim surat pada Minerva menggunakan burung hantu milik Andromeda. Kami bersedia kembali menjadi siswa di Hogwarts. Hermione terlihat sangat bersemangat.

Sekarang, setelah berjam-jam berada di dalam pesawat, akhirnya kami sampai di bandara. Langit terlihat seakan terbakar ketika aku turun dari pesawat, aku melihat jam bandara, sudah hampir malam.

"Setelah ini kita harus naik kereta lalu disambung lagi dengan bus," kata Hermione yang sedang membaca petanya.

"Ini sudah hampir malam, apa tidak sebaiknya kita pergi besok?"

Hermione menggeleng, "Kita pergi ke stasiun sekarang, mungkin kita bisa mengejar kereta terakhir ke sana jadi kita bisa tidur di kereta dan menghemat biaya penginapan,"

Aku hanya mengangguk dan menyetujui rencana Hermione. aku sama sekali tidak tau apa-apa tentang Australia.

Hari sudah gelap ketika kami sampai di stasiun. Syukurlah, kami datang tepat sebelum kereta terakhir berangkat.

Hermione langsung terlelap begitu kereta berangkat, kepalanya menempel di pundakku. Aku tersenyum, menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajahnya dan mengalungkan tanganku di bahunya, membuatnya lebih nyaman. Wangi khas Hermione langsung menusuk hidungku dan itu membuatku nyaman. Fakta bahwa Hermione berada di sampingku membuatku tenang.

Tunggu. Apa aku—

Tidak.

Tidak mungkin. Tapi—

Aku tidak tau.

Aku menghela nafas berat. Akhir-akhir perasaanku semakin tidak karuan di sekitar Hermione. Mirip dengan perasaan yang kurasakan ketika aku menyukai Cho atau Ginny, tapi juga berbeda. Perasaan ini tidak mengintimidasiku seperti sebelumnya. mirip tapi berbeda.

Semua ini terlalu memusingkan untukku.

.

Kami tiba saat fajar menyingsing. Aku dan Hermione langsung pergi ke terminal terdekat dan memesan tiket ke tempat tujuan kami. Aku mengajak Hermione memasuki sebuah restoran untuk sarapan, toh bus-nya baru akan berangkat satu jam lagi, kami masih punya banyak waktu.

"Kau harus makan Hermione," bujukku untuk kesekian kalinya, melihat Hermione tidak menyentuh sarapannya sama sekali.

Hermione mendelik sarapannya dan kembali membuang muka, memandang keluar dengan tatapan kosong. "Aku tidak lapar," tolaknya lagi. Dahinya berkerut dalam, tanda ia sedang khawatir atau sedang memikirkan sesuatu.

Aku mendesah pelan, lalu bangkit dari kursiku dan duduk di sampingnya. "Hermione, mereka orangtuamu, mereka pasti akan menerimamu kembali," bisikku.

Sontak Hermione menoleh, "Bagaimana kau—"

Aku tersenyum kecil, "Aku tau kau Hermione. terkadang kau berpikir terlalu banyak dan terlalu jauh,"

Hermione menatapku lama sebelum menghela nafas dan menunduk menatap meja. "Bagaimana kau tau Harry? Aku berjanji pada mereka aku tidak akan menggunakan sihir pada mereka. Tapi aku melanggarnya, aku mengkhianati kepercayaan mereka,"

"Dan kenapa kau melakukan itu?"

Hermione menggigit bibir, "Untuk melindungi mereka,"

"Tepat sekali," aku meraih dagu Hermione dan mengangkatnya, membuat matanya menatap mataku. "Kau melakukan ini karena kau menyayangi mereka. Kau tidak akan bisa kehilangan mereka, kau melakukan ini untuk keselamatan mereka, untuk melindungi mereka. Aku yakin mereka mengerti,"

"Bagaimana jika—"

"Mereka akan marah jika kau tidak makan sekarang. Nah, ayo makan," aku kembali menyorongkan piring itu di depan Hermione.

Hermione memutar matanya, "Ini tidak ada hubungannya dengan sarapan Harry,"

"Tentu ada," ujarku keras kepala. "Kau tambah kurus Hermione! Mereka akan mengira kau tidak mengurus dirimu dengan baik dan menyalahkanku karena sudah menyeretmu menjadi seperti ini. Jadi, habiskan ini dan jangan membantah," aku mengambil garpu, menusukkannya pada daging asap dan menyodorkannya pada Hermione.

Hermione memandang garpu itu dan aku bergantian. Lalu tersenyum simpul, "Aku bisa makan sendiri Harry," Hermione mengambil garpu itu dari tanganku.

Aku bisa merasakan wajahku merona. "Umm—yeah—tentu—err—aku harus pergi sebentar," aku melompat bangun dari kursi dan pergi ke toilet. Aku bisa mendengar Hermione terkikik.

.

Cafe yang terletak di sisi pelabuhan itu terlihat ramai. Banyak orang-orang setempat atau turis yang datang untuk makan siang sembari memperhatikan barisan kapal mewah yang mengambang di atas lautan.

"Tenang Hermione," ujarku sambil menyeruput kopi yang kupesan dan menyomot kentang goreng dari piringku.

Hermione hanya mendelikku sekilas lalu kembali menebar pandangannya, bukan ke arah kapal atau pemandangan indah lainnya di luar jendela, tapi pada kedua sosok manusia yang berada di balik bar. Itu adalah Helen dan William Granger. Atau untuk saat ini, Steve dan Karen Brennan, pemilik Brennans'.

"Sebaiknya kita kembali nanti malam," usulku, menelan potongan kentang terakhir.

Hermione menghela nafas, "Mungkin kau benar,"

Saat aku dan Hermione menghampiri kasir untuk membayar semua yang kami pesan, gadis yang berdiri di belakang kasir itu mendadak berlari ke arah kamar mandi, meninggalkanku dan Hermione terbengong-bengong. Dan tebak siapa yang menggantikan gadis itu?

Benar. Helen Granger.

Helen menggeleng-geleng, ia terlihat geli. "Gadis itu sedang hamil muda, jadi aku minta maaf karena reaksinya tadi," ujarnya lembut sembari tersenyum. Dan aku menyadari dari mana Hermione mewarisi senyumnya itu.

Aku bisa merasakan Hermione menggenggam tanganku erat-erat. Aku mengerti dia sedang menahan urgensi untuk melompat ke pelukan ibunya sekarang.

Tiba-tiba Hermione menghempaskan tanganku dan berlari keluar sebelum aku sempat mencegahnya.

"Ada apa dengan pacarmu?" tanya Helen heran.

"Dia tidak apa-apa ku—hei, dia bukan pacarku,"

Helen mengangkat kedua alisnya, "Bukan? Kalian terlihat seperti itu," Helen mengangkat bahu, "Kalian juga terlihat manis bersama. Sayang sekali,"

Aku terdiam. Aku sering mendengar tentang itu dari orang orang di sekitarku, termasuk Nyonya Gemuk dan Nick Si-Kepala-Nyaris-Putus yang pernah bertanya padaku 'mana pacarmu Miss Granger?'. Tapi mendengar hal yang sama dari ibu Hermione terasa sangat berbeda.

Dan kali ini, aku tidak membantahnya.

"Terima kasih," ujarku cepat.

"Nak!" panggil Helen sebelum aku sempat mencapai pintu. "Jaga gadis itu baik-baik, aku tau kau sangat peduli padanya,"

Aku mengangguk cepat dan berbalik.

"Nak!"

Mengeluh pelan, aku kembali menoleh.

"Katakan padanya tentang semua yang kau rasakan. Gadis itu merasakan hal yang sama,"


thank you for reading :)