Natsu-Koi
Disclaimer:Inazuma Eleven (c) Level-5
Warning:Crack Pair(s), AU, gaje, rusak, abal, kemungkinan typo, memuat korban genderbend
.
.
Begitu melewati gapura kuil, yang menyambut pengunjung adalah gemerlap lampion warna-warni. Menggelantung pada tali-tali yang membentang di atas kepala. Bersama suara tabuhan taiko, menegaskan suasana ramai festival musim panas.
Berbagai macam stan makanan berjajar. Mulai dari yang berlumur coklat seperti choco-banana, hingga yang berlumur saus macam takoyaki.
Kyouko mengerjap-ngerjap, lidaknya berdecak-decak, setelah satu gumpal masakan gurita itu melewati kerongkongannya.
"Kenapa? Tidak enak?"
"Bu-bukan, bukan begitu…. Cuma, karena sudah lama tidak makan ini, saya sampai lupa rasanya. Ternyata enak sekali…."
"Kalau mau, kau bisa pesan lagi. Aku yang bayarkan."
"Ti-tidak perlu," Kyouko menunjukan sisa lima bulatan berlumur saus merah di tangannya. "Ini juga sudah cukup."
"Baiklah," Shuuya menganggukkan kepala. "Kalau begitu, aku saja…," ia beranjak menghampiri satu stan permen apel.
Suapan Kyouko terhenti di udara. Aku nggak tahu, Gouenji-san suka yang manis-manis…
Usai puas mencicipi berbagai jajan, mereka mulai menjelajah masuk. Menyambangi deretan stan permainan.
"Mau coba yang mana?"
Kyouko menatap berkeliling. Stan menembak, sepertinya seru. Tapi hadiahnya kurang mengesankan baginya. Stan menangkap ikan agaknya lebih menarik, tapi …
"Akh!" seorang anak menjerit kesal. Ikan mas incarannya menghentak keluar, sekaligus merobek jaring kertas yang dia pegang. Si pemilik stan senyum-senyum, menawari anak itu untuk mencoba sekali lagi, yang dibalas dengan dengusan keras, meski tangan si anak kemudian menerima jaring berikutnya.
"Mau coba itu?"
Kyouko menggeleng. "Sepertinya susah."
"Mau kutangkapkan untukmu?"
Kyouko kaget, "Ja-jangan. Tidak perlu…, lagi pula di rumah tidak ada akuarium untuk memeliharanya."
"Bagaimana kalau stan menembak, Gouenji-kun?"
Satu tepukan mampir di bahu Shuuya, yang menoleh, dan kemudian memasang mimik terkejut begitu mengenali siapa yang menyapanya.
"Hm, berani juga kamu, ya…," komentar orang itu. Matanya jahil saat menyadari keberadaan Kyouko. "Baru ditinggal setahun, sudah dapat gandengan baru. Tapi, manis juga, sih…."
Kyouko menatap balik pemuda berambut panjang yang tampak sebaya dengan Gouenji-san itu, dengan sorot mata familiar, setengah bertanya-tanya.
"Bukan," Shuuya menjawab tenang. "Dia cuma penggemarku, kok. Jangan tuduh macam-macam," Shuuya beralih pada gadis di sampingnya, "Kyouko, kenalkan…. Dia Fudou Akiko, alias Fudou Akio yang—sebenarnya—juga pernah bermain dalam tim Inazuma Ja—"
"Fudou-san yang itu!?" Kyouko tak tahan untuk tidak terbelalak. Pantas ia merasa pernah mengenalnya
Fudou Akiko. Tidak banyak yang mengenal namanya. Tapi kenekatan gadis itu dulu—membotaki kepala, menjelmakan diri menjadi Fudou Akio, agar bisa bergabung dengan tim sepak bola nasional—sedikit banyak memengaruhi Kyouko hingga menjadi dirinya yang sekarang.
Ah, bukan sekarang…, teringat akan busana yang sedang ia kenakan, Kyouko terpaksa meralat. Tapi dulu….
"Kau mengenalku?" air muka Akiko takjub. "Padahal aku jarang main, lho, saat di timnas. Yah…, forever benched lah, istilahnya…"
Kyouko tampak tak peduli, "Tapi, satu kali saat Anda masuk, alur permainan tim langsung berubah. Saya tidak pernah lupa pertandingan itu, saya bahkan punya rekamannya. Permainan Anda sungguh hebat."
"Wow," Shuuya terkesan. "Penggemar pertamamu, ya, Akiko…?"
"Cerewet…," bibir Akiko mencebik. Namun sesaat kemudian, keduanya tertawa. Larut dalam cerita satu sama lain, melupakan keberadaan Kyouko sejenak. Tapi Kyouko tak keberatan. Dari obrolan dua pemain idolanya itu, ia bisa mendapat banyak informasi, seperti Fudou-san yang ternyata baru pulang dari Singapura, setelah satu tahun membimbing tim sepak bola wanita di sana.
"Namamu tadi, Kyouko, ya?"
Tiba-tiba Akiko menoleh ke kanan, menegurnya. Kyouko kaget, tapi kemudian mengangguk. "Iya. Tsurugi Kyouko."
"Nah, Kyouko-san, mau coba stan menembak? Tadi aku coba. Seru, lho?" Akiko menunjukan kotak karton berisi hadiahnya.
"Boneka? Bukannya kamu tidak suka begituan?" Shuuya bertanya heran.
"Mau bagaimana lagi?" Akiko mengangkat bahu. "Tadinya aku mengincar hadiah enam kaleng CocaCola, tapi malah meleset dan dihadiahi boneka Hello Kitty ini."
"Oh, jadi kamu bermaksud membujuk Kyouko mencobanya agar memenangkan CocaCola itu untukmu?"
Akiko tertawa, menyisir rambut panjangnya dengan jari. "Gouenji-kun langsung bisa menebak, ya?"
Tanpa disadari mereka berdua, Kyouko sudah berdiri di depan stan menembak. Mengangkat senapan, dan DOR!
Akiko dan Shuuya menoleh. Sekejap kemudian, gadis itu kembali, bersama hadiah yang diinginkan Akiko.
"He? Satu kali langsung kena? Hebat!" pujinya, takjub sekaligus girang. "Seandainya Kyouko-san main sepak bola, bisa jadi penembak yang baik, nih."
"Sebenarnya," ucap Kyouko pelan. "saya memang ikut klub sepak bola di sekolah…."
"Oh, ya?" Baik Akiko maupun Shuuya sama-sama membulatkan mata.
"Kenapa kamu tidak cerita soal itu?"
"Ma-maaf…, saya lupa…," Kyouko membungkuk sedikit ke arah Shuuya yang buru-buru mengibaskan tangan, menyuruhnya tegak lagi.
"Ah, tidak perlu minta maaf."
Malam makin tinggi, kuil main sesak.
Satu kali, Kyouko terdorong ke depan. Ke kedua tangan Shuuya yang tangkas menangkapnya, menjauhkannya dari gerombolan tubuh besar yang lalu lalang.
Kyouko tak berlama-lama menikmati posisinya. Aroma aftershave sang idola lebih dulu menyadarkannya.
"Ma-maaf!" kali kedua Kyouko mengucapkan kata itu. Bedanya, kali ini bernada kaget diiringi gerak refleks mundur.
"Ayo sini!" Akiko berjalan mendahului, menyela kerumunan. "Aku tahu tempat yang pasti tidak banyak orang."
"Di mana?"
"Di tepi rawa, yang tak jauh dari kuil ini," Akiko melempar cengiran ke belakang.
"Rawa?" Shuuya dan Kyouko bertukar pandang, bingung. "Tapi itu kan sudah keluar dari area festival?"
"Tak banyak yang tahu kalau di sana adalah titik yang paling bagus untuk melihat kembang api. Selain itu, sambil menontonnya, kita bisa sambil menikmati hadiah ini, kan?" katanya, merujuk pada CocaCola yang tadi dia ambil alih dari tangan Kyouko.
Shuuya dan Kyouko kembali berpandangan, meski akhrnya mereka tetap mengikuti langkah lebar Akiko.
.
.
.
"Soal pembicaraanku dengan Rika-san tempo hari—"
"Maaf," Yuuka berdiri. "Boleh pinjam toiletnya sebentar?"
Meski sempat heran karena permintaan izin yang begitu tiba-tiba, Yuuichi mengiyakan. Mungkin karena kopi tadi kali ya….
"Silakan. Toiletnya ada ujung lorong," katanya mengarahkan, tanpa beranjak dari dapur.
Mula-mula, hanya bermaksud kabur sebentar. Tapi begitu tiba di dalam, ternyata lumayan banyak isi yang harus dikeluarkannya. Cukup lama Yuuka di toilet. Selain urusan umum, ia juga mencipratkan sedikit air ke muka. Berharap bisa menghilangkan jejak gugup dalam ekspresinya.
Sebelum beranjak, sempat ia mengamati keseluruhan kondisi toilet itu. Tampak beberapa palang pengangga menempel di dindingnya.
Keluarga yang mendukung…. Yuuichi-san benar-benar beruntung.
Setelah merasa siap, Yuuka keluar. Dengan langkah seteratur mungkin kala melewati lorong.
Bruk! Satu bunyi aneh dari ruang tengah.
Tersentak, ketukan langkah Yuuka seketika berubah. Berburu dan menghentak cepat.
Sebuah kursi roda teranggur di dekat sofa. Agak jauh di depannya, satu tubuh tergeletak di atas lantai.
Bergegas Yuuka menghampiri, bermaksud memapah. Namun di luar dugaan, Yuuichi malah menepisnya.
"Jangan!"
Tangan Yuuka urung menyentuh. Matanya mengerjap bingung, bercampur dengan kecemasan yang hadir lebih dulu.
Yuuichi-san … marah…?
"Ah, maaf…." Yuuichi mengangkat kepala. "Tadi… nggak sengaja aku jatuh dari kursi roda. Kakiku kejang saat mau pindah ke sofa."
"Oh…" desah Yuuka, sedikit lega. Senyum yang tersungging di sana seketika menghapus prasangkanya. "Tapi, apa tidak apa-apa…?"
"Tidak apa-apa. Justru kalau aku berpindah sekarang, malah bahaya. Salah-salah, kita berdua malah terbanting. Lihat...," Yuuichi mengarahkan dagu ke kakinya yang bergetar tak keruan. "Tapi, jangan khawatir. Sebentar lagi juga reda, kok."
BLAM!
Lagi-lagi, terdengar suara mengagetkan. Kali ini dari luar, agak jauh. Tanpa berdiri, Yuuka berpaling ke arah jendela.
"Apa itu?"
"Oh, kembang api…."
"Kembang api?"
Kemudian, suara yang sama menyusul. Menciptakan rentetan bunyi letusan yang menyentak silih berganti.
"Kalau mau melihatnya, Yuuka-san bisa naik ke atas. Dari balkon lantai dua mungkin kelihatan…."
"Yuuichi-san sendiri?"
"Ah, aku kan tidak bisa naik tangga. Lagipula, mendengarkan suaranya saja sudah cukup, kok."
"Kalau begitu, saya juga tidak usah," Yuuka yang sedianya hendak bangkit, kembali melipat kaki.
"Lho, tapi…"
"Kalau saya pergi, siapa yang nanti bantu Yuuichi-san berdiri? Saya akan tunggu sampai kejangnya hilang."
Yuuichi mengerjap beberapa kali, lalu menggeleng. "Terima kasih, tapi… tidak perlu begitu. Aku bisa sendiri, kok."
"Tidak apa-apa. Sekali ini saja, biarkan saya membantu."
"Tapi kan…."
Yuuka mengulurkan tangan. Meraba tungkai Yuuichi yang terasa kencang akibat kejang. Dengan begini, ia harap pemuda itu mengerti kalau dia memang serius ingin membantu.
Yuuichi tahu persis bahwa otot-otot di kakinya memang tidak bisa dikendalikan. Jadi, pastilah gerakan menghentak saat Yuuka menyentuhnya tadi sama sekali berada di luar kendalinya.
Tapi…, kenapa debar jantungnya juga ikut menghentak-hentak?
"A-anu, Yuuka-san…?"
Entah cuma perasaan saja, atau wajah Yuuka memang mulai mendekat? Dimundurkannya kepala, demi mengembalikan jarak mereka hingga kembali seperti semula.
Namun, gerakan itu malah membuat lengan yang ia andalkan sebagai penopang posisi tegaknya goyah. Tak perlu waktu lama hingga kedua lengan itu tertekuk, mengirim tubuh Yuuichi telentang ke atas lantai.
Nyaris telentang, tepatnya. Karena saat itu pula satu lengan milik Yuuka menangkap bahunya lewat bawah leher. Menahan punggungnya sebelum sempat menyentuh bulu-bulu karpet.
Tatapan saling bertumpang. Embusan napas bersinggungan.
Untuk sesaat, keduanya terpana. Hanya rentetan bunyi letusan kembang api di kejauhan yang mengisi senyap.
Satu suara kuyu mengucap salam. Namun langsung terputus, begitu melihat posisi dua orang yang berada di ruang tengah.
Yuuka menoleh, dan nyaris menjatuhkan Yuuichi saking gugupnya.
Yuuichi sendiri menengadah dari atas lantai. Mencoba tersenyum guna menyembunyikan debar-debar jantungnya.
"Ah…, selamat datang, Ibu…"
.
.
.
Bertiga—Shuuya, Kyouko dan Akiko—duduk berderet di atas pagar rendah yang membatasi bentangan jalan dengan daerah rawa. Akiko mulai mengedarkan kaleng minuman, yang langsung diteguk oleh Shuuya dan Akiko masing-masing separuh. Kyouko membutuhkan waktu lebih lama untuk membiasakan diri dengan minuman yang sebenarnya merupakan pantangan keras bagi kakaknya itu.
Di seberang rawa, tampak kotak-kotak cahaya dari jendela beberapa rumah. Sebagian berjajar, sebagian lagi terpencar.
Tak lama, satu bunyi yang khas membuat tiga pasang mata itu mendongak.
Shuuuu~, BLAM!
Percik itu merekah, membentuk kelopak besar bunga teratai.
Disusul bentuk-bentuk lainnya.
BLAM!
Bunga botan, gumam Shuuya.
BLAM!
Bunga kiku, bisik Kyouko.
BLAM!
Aku tak tahu nama bunga, desis Akiko.
Sekalipun begitu, kesenangannya menikmati ragam kembang cahaya itu tetap tak terganggu. Begitupun Shuuya dan Kyouko. Mereka tidak berpaling sejak dimulainya kembang api pertama.
Bahkan, saat bagian bawah kimono Kyouko tersingkap karena posisi duduk yang kurang tepat, tak ada satupun yang menyadarinya.
Kembang api terakhir usai. Shuuya melemaskan leher ke kanan dan ke kiri, dan … menemukan pemandangan yang membuatnya harus memalingkan muka.
Suara cekikik dan arah mata Akiko menjawab keheranan Kyouko. Seketika, wajah putih itu jadi semerah saus takoyaki yang tadi ia makan.
"Ma-maaf!" Serabutan, Kyouko menutupi betis telanjangnya. "Maafkan saya!"
"Kyouko-san…," Akiko setengah menahan tawa setengah kasihan, "bisa tolong buangkan kaleng-kaleng ini? Aku malas bangkit, nih."
"Eh, i-iya! Baik!"
Tergopoh, Kyouko turun dari pagar. Ia celingukan sekilas, namun tak terlihat kotak atau tong yang bertuliskan tempat sampah. Terpaksa dia berjalan agak jauh, menyusuri lenggangnya jalan raya tepi rawa. Beberapa kali ia menengok, memastikan dirinya tidak terpisah terlalu jauh dari posisi Shuuya dan Akiko.
Sepuluh meter setelah berbelok sekali, Kyouko menemukan apa yang dia cari, dan segera mengelontor tiga kaleng kosong dalam pelukannya.
Setelah itu, ia pun berbalik untuk kembali. Tapi di ujung perempatan, langkahnya berhenti. Teringat kejadian memalukan sesaat sebelum ia pergi tadi, membuatnya terjongkok di tengah jalan. Dengan kedua tangan memegang kepala, dan kedua lutut menutupi merahnya wajah.
Dasar ceroboh! Bodoh! Memalukan! rutuknya pada diri sendiri.
Seekor kucing lewat dengan santainya. Tampak sama sekali tak ambil pusing pada sosok beryukata yang sibuk mendumal itu.
.
.
.
Di saat yang sama….
Shuuya mengibaskan tangan, mencoba menangkis asap yang berasal dari sampingnya. "Kukira kamu sudah berhenti merokok."
Akiko tak menjawab. Mulutnya sibuk menghembuskan sisa bola-bola putih.
"Sudah kukatakan, merokok itu tidak baik. Apalagi buat perempuan."
"Aku tahu…," jari tengah dan telunjuk Akiko kembali ke depan mulut. Menyesap rokok lebih lama. "Ini cuma sesekali, kok. Tidak sering."
Shuuya melompat turun dari pagar yang didudukinya.
"Mau pulang?" Akiko bertanya, tanpa memalingkan wajah. "Kembang api berikutnya masih ada, lho…"
"Tidak, tentu saja. Lagipula, Kyouko belum kembali," Shuuya melongokkan kepala ke ujung jalan.
"Kamu… suka sama anak itu?"
"Siapa? Kyouko?"
Akiko tidak mengiyakan. Membiarkan Shuuya sendiri yang menjawabnya
"Kan sudah kukatakan, dia cuma penggemar. Lagipula, dia baru kelas satu SMP."
Pernyataan itu membuat Akiko menoleh. "Kelas satu SMP? Yang benar? Kukira dia anak SMA…."
"Adikku yang memintaku berkenalan dengannya. Kebetulan Yuuichi, kakaknya Kyouko, adalah kenalan Yuuka."
"Oh, jadi karena Yuuka…." Akiko kembali meluruskan tatapannya ke seberang rawa. "Ngomong-ngomong, sudah lama juga tidak ketemu adikmu itu. Dia sehat?"
"Begitulah…," suara Shuuya ragu. "Tapi, sepertinya belakangan, Yuuka jadi sedikit pendiam."
"Ah, paling soal pacar. Waktu seumur mereka, kita dulu juga begitu.".
"Yuuka tidak punya pacar, Fudou," tekan Shuuya. "Dia bahkan belum pernah tertarik sama laki-laki."
"Oh, ya?" Akiko mematikan rokoknya. Bermaksud menyalakan yang kedua. Tapi, Shuuya keburu merebut pematik, membuat Akiko memberengut kesal.
"Memangnya kamu tidak pernah membujuknya, atau mengenalkannya dengan siapa… gitu?"
Shuuya menggeleng. "Aku tidak mau mencampuri urusan pribadinya. Lagipula dia kan sudah besar. Bukan gadis kecil lagi."
Sesuatu mengingatkan Akiko. "Lalu, bagaimana dengan kakaknya Kyouko itu? Siapa tadi namanya?"
"Yuuichi?" Shuuya tertegun. "…Jadi ... pacar Yuuka, maksudmu?"
"Boleh juga, kan?"
Shuuya menengadah. Fudou mengikuti. Kembalinya kembang api yang bermekaran, menarik perhatian mereka.
"Itu tidak mungkin," jawab Shuuya, setelah melewatkan beberapa suara letusan. "Karena kakaknya Kyouko itu…."
Akiko mendengarkan paparan rekan setimnya itu dengan seksama.
"Cacat?" ulangnya.
"Difabel," ralat Shuuya, menghaluskan istilah. "Different Ability. Kemampuan yang berbeda."
"Susah ah, nyebutnya," balas Akiko sekenanya. "Memangnya kenapa? Ada larangan di keluargamu untuk memacari orang cacat? Padahal ayahmu saja mengizinkanmu bertunangan dengan gadis yang pernah botak sepertiku. Walau dengan sedikit usaha, sih."
Sedikit usaha, katanya? Shuuya tersenyum tipis. Hampir terlupa, bagaimana gigihnya Fudou muda mengejar-ngejar dirinya, sekaligus menembus rintangan yang dibentangkan keluarga Gouenji. Mau jadi apa kamu, mengencani gadis botak?! sentak sang ayah, dulu.
Yah, itu masa lalu. Kembali ke masa sekarang.
"Bukannya tidak boleh. Tapi, kurasa tidak mungkin Yuuka bisa secepat itu suka sama seseorang. Mereka juga baru kenalan awal libur musim panas ini."
"Dari mana kamu tahu?"
Shuuya terpaksa kembali bertutur agak panjang.
Tanpa mereka sadari, di belakang, sekitar lima meter dari tempat dua insan itu duduk, satu sosok tinggi dan putih berdiri mematung, Kyouko.
Bukan. Bukan karena mereka sedang membicarakan kakaknya. Ia bahkan tidak mendengar sama sekali soal pembicaraan itu.
Karena, seperti ada yang melemparkan kembang api siap ledak ke arahnya, telinganya seakan menuli. Sejak menangkap kata 'bertunangan' meluncur dari bibir Akiko.
.
.
.
"Ooh…." sang ibu menarik napas panjang, seusai Yuuichi menceritakan duduk perkaranya. Wanita itu berpaling pada Yuuka. Yang masih diam berdiri di tempat insiden tadi, sementara Yuuichi sudah berhasil dipindah ke atas sofa.
Dipandang sedemikian rupa, Yuuka tertunduk rikuh. "Ma-maaf."
"Tidak apa. Justru bibi harus berterima kasih, kamu sudah membantu Yuuichi. Terima kasih, ya, Yuuka-san…."
"Ah, tidak…."
Yuuka mengangkat kepala. Napasnya langsung terhembus lega manakala melihat mimik Nyonya Tsurugi memang seramah nada bicaranya. Padahal ia sempat mengira, beliau akan menelepon polisi, melapor kalau ada gadis pink aneh yang bermaksud melecehkan anak lelakinya.
Suasana santai pun segera terjalin.
"Jadi, Yuuka-san ini adiknya Gouenji Shuuya itu?"
Yuuka mengangguk membenarkan.
"Wah," Nyonya Tsurugi berdecak kagum. "Kedua anakku sangat mengidolakan kakakmu, lho…"
Setelah mengobrol beberapa lama, Yuuka memutuskan undur diri. Yuuichi sedang di dapur. Jadi, Nyonya Tsurugi menawarkan untuk mengantarkan sampai pintu pagar.
"Sekali lagi, terima kasih, ya, Yuuka-san."
"Itu bukan hal besar, kok, Tsurugi-san," elak Yuuka. Merasa canggung menerima begitu banyak ucapan terima kasih, meski ia tidak melakukan apa-apa. "Yuuichi-san juga sudah banyak membantu saya di tempat kursus kemarin."
"Begitu, ya?"
Keduanya melangkah ringan melintasi halaman. Di depan pintu pagar, Yuuka sekali lagi membungkuk pamit, sebelum berbalik pergi.
"Yuuka-san!"
"Ya?" Yuuka menoleh, urung melangkah.
"Maaf, mungkin ini permintaan yang aneh, tapi…" Wanita itu membuat jeda sejenak, seperti mengatur susunan kalimat yang akan ia ucapkan. "Tolong, jangan dekati Yuuichi lagi."
.
.
.
(Bersambung)
.
.
Sudut coretan author:
Nah lho?
Lagi-lagi, saya bikin cerita masalah pembuangannya Nii-san… Tapi, karena nggak tega bikin dia mengompol, saya bikin jatuh aja, deh! (Ya, sama aja, dudul…=.='')
Crack fair dan gend bendnya nambah lagi, deh. GouFudou. dengan Si Fudou jadi cewek… eh.. Akiko. XD. Habis, pertama kali liat TYLnya Fudou di movie…, wau, si Fudou pake sampo apaan, sampai rambutnya jadi lebat panjang gitu? Tapi cantik, sih.
Terus, melihat dia bertiga sama Gouenji dan Tsurugi tadi, wkwk, jadi kayak keluarga aja. Gouenji + Fudou = Tsurugi
Ingat, kan, Tsurugi di episode awal, tingkahnya kayak si Fudou. Tapi setelah insaf(?) malah jadi kalem kayak Gouenji. Ungg, padahal saya kangen lho, sama Tsurugi yang rada Fudou-ish itu. Tsun-tsun nya itu loh, ga nahann! hashshsh
Ah, jadi ngaco, deh… oke sampai sini dulu, ya?
Ngomong-ngomong ada yang mau usul, nggak, soal nama ibunya Tsurugi? Terus terang, repot menulisnya sebagai Nyonya Tsurugi melulu XD
