Chain of Love
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Title: Chain of Love
Cast: Park Chanyeol & Kim Jongdae
Genre: Romance, Crime, Action
Summary: Jongdae hanya seorang guru TK biasa menjalin hubungan dengan Chanyeol, seorang detektif polisi. Semuanya berjalan dengan indah. Sampai seseorang dari masa lalu hadir kembali ke dalam hidupnya dan mengacaukan semuanya.
WARNING! Banyak flashback, kenangan si Chan dan Chen :3
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chanyeol berjalan perlahan sambil terus memperhatikan setiap sudut apartemen Jongdae. Dia mengamati dengan cermat, mencatat setiap hal yang mencurigakan. Chanyeol cukup sering mampir ke apartemen Jongdae, dia mengingat dengan baik letak-letak benda yang ada didalamnya.
"Chanyeol, kenapa ada vas bunga di atas lemari?"
Chanyeol melihat ke arah Baekhyun yang berdiri di dekat lemari kaca yang sedikit bergeser dari tempatnya. Di dekat kakinya terdapat sebuah vas bunga buatan yang pecah.
"Jongdae yang meletakkannya disana, dia bilang kehabisan tempat." Chanyeol mendekati Baekhyun, dia melihat isi lemari kaca yang terlihat agak berantakan. Mungkin terdorong saat Jongdae berusaha melawan. Tiba-tiba saja dia merasa seperti di timpa batu besar, Jongdae pasti ketakutan dan berusaha mati-matian melawan, sialnya dia terlambat datang.
Chanyeol menghela nafas perlahan, dia menyentuh kaca yang menutupi lemari, matanya menangkap foto seorang pemuda berkacamata mengenakan seragam sekolah menengah atas tersenyum malu, di sebelahnya seorang pemuda dengan seragam yang sama dan berpipi chubby tersenyum lebar menampakkan gummy smile. Dia ingat foto ini, sebulan yang lalu Jongdae mengenalkan seseorang yang ada di foto itu.
.
.
.
.
.
.
'Jongdae, siapa anak ini?'
'Siapa yang kau maksud?'
Jongdae keluar dari kamarnya, dia sudah berpakaian rapi. Chanyeol menjemputnya untuk pergi kencan. Chanyeol sedang memperhatikan lemari kaca yang menghiasi ruang tamunya, foto-foto berjejer rapi, foto yang dia ambil sendiri dengan kamera digital tuanya. Foto itu berisi tentang masa kecilnya hingga saat ini, juga foto saat dia tinggal selama hampir tiga tahun di Jepang.
'Itu foto sahabatku saat di Jepang, namanya Minseok, dia orang Korea yang lebih lama tinggal di Jepang. Kami hanya selisih satu tahun, dia yang mengajariku banyak hal.' Jongdae tersenyum saat mengingat kenangan manis bersama sahabatnya.
'Tapi dia pindah setahun setelah aku tinggal di sana. Entah apa alasannya.' Jongdae cemberut saat mengingat hal itu.
'Sebenarnya yang mengambil foto itu adalah Luhan hyung.'
'Ah, laki-laki dari cina yang sering kau ceritakan itu?'
'Iya, padahal waktu itu dia sudah terlambat masuk kuliah, tapi menyempatkan diri untuk memotret kami berdua. Dia terlalu baik dan memanjakan kami.'
'Kau selalu menceritakan tentang sahabatmu itu, tapi belum pernah sekalipun aku melihatnya.'
'Aku tidak punya fotonya, Luhan selalu menolak jika aku memintanya untuk berfoto bersama.'
'Begitu...' Chanyeol menatap foto seseorang bernama Minseok itu, kemudian dia menatap kekasihnya yang berdiri di sebelahnya. Dipandanginya Jongdae dari kepala hingga kaki, kemudian tersenyum puas melihat penampilan Jongdae yang keren dan terlihat segar di hari yang cerah.
'Wae?' Tanya Jongdae, dia terkekeh melihat reaksi aneh Chanyeol.
'Aniyo, ayo pergi, nanti lipstikmu luntur.'
'Aku tidak pakai lipstik.'
'Bibirmu merah.'
'Ini alami, tahu.'
'Masa? Sini aku coba.'
'Jangan macam-macam!'
.
.
.
.
.
.
Siapa yang tahu itu adalah hari terakhirnya mengajak Jongdae jalan-jalan keluar, karena setelahnya dia harus sibuk dengan tugasnya.
"Baek, kau tidak menemukan cincin di dalam apartemen Jongdae?" Tanya Chanyeol, Baekhyun menggeleng singkat.
"Tidak, di atas meja nakas hanya ada enam buah gelang, peniti, sekotak jarum, gel rambut, sun block, parfum, juga sebuah bandul kalung yang rusak." Baekhyun mengucapkan benda-benda yang dilihatnya tadi secara lengkap, ingatannya yang kuat sangat berguna di beberapa hal.
"Hanya itu?"
"Iya, hanya itu. Lemarinya hanya berisi pakaian dan dokumen. Dia juga punya banyak sun block, kekasihmu aneh sekali, sekarang masih bulan maret." Baekhyun terkekeh saat dia mengingat isi lemari Jongdae yang terdapat delapan botol sun block.
"Kulitnya sensitif, kulitnya akan memerah jika terkena matahari terlalu lama."
"Kau mengenalnya dengan baik."
"Tentu saja, dia...calon pengantinku..." Mata Chanyeol berubah sendu, dia menatap foto saat Jongdae merayakan ulang tahunnya yang ke 17 bersama teman-temannya di Jepang. Baekhyun mengelus pundak sahabatnya simpati.
"Kita pasti akan menemukannya, kau harus yakin." Baekhyun tersenyum kepada Chanyeol, berusaha memberinya semangat. Chanyeol tersenyum tipis, dia harus tetap percaya dan berusaha.
"Chanyeol!"
Chanyeol dan Baekhyun berbalik secara bersamaan. Suho tersenyum lebar dengan ponsel ditangan kanan berdiri tidak jauh di dekat mereka.
"Mereka menemukan rekaman orang yang menculik Jongdae!"
Chanyeol tersenyum lebar dan berlari mengikuti Suho yang lebih dahulu keluar, Baekhyun mengikutinya di belakang.
Chanyeol hampir terpeleset saat mencapai ruang monitor, dia yang paling pertama sampai, Suho dan Baekhyun bahkan tertinggal jauh di belakang. Dia melihat seorang pria berkacamata yang duduk di salah satu kursi. Beberapa petugas keamanan dan polisi berdiri memperhatikan puluhan monitor yang menampilkan gambar dari berbagai sudut gedung apartemen.
"Detektif Park, ternyata saat kejadian sistem telah di retas sehingga tidak terlihat oleh petugas." Ucap salah satu petugas yang ada disana. Chanyeol mendekat ke monitor, matanya memperhatikan satu monitor yang menunjukkan pergerakan.
"Saat kejadian ada beberapa komputer mengalami masalah hingga layar menjadi hitam beberapa saat." Pria berkacamata yang duduk di kursi mengotak-atik laptop yang berada di hadapannya. "Lihat monitor yang ini." Pria itu menunjuk salah satu monitor yang sedang diperhatikan Chanyeol.
Monitor itu memperlihatkan beberapa orang yang berjalan di salah satu lorong, lalu layar menghitam hanya sedetik, kemudian menampilkan lorong kosong.
"Saat itulah penculiknya beraksi, sepertinya orang ini tidak bekerja sendiri. Setidaknya harus seorang hacker profesional yang mampu menggunakan virus Midnight Man untuk menghambat kemampuan komputer." Ucap pria itu datar. "Laptopku hampir saja dimasuki oleh virus itu."
"Tadi aku di beritahu kalian mendapatkan rekaman kejadian itu." Ucap Chanyeol, keningnya berkerut bingung, hal seperti itu bukanlah bidangnya. Disaat yang bersamaan Suho dan Baekhyun baru sampai dengan nafas yang tersengal-sengal. Lari dari lantai 3 ke lantai dasar memang bukanlah hal yang sering mereka lakukan. Itu hal yang Chanyeol lakukan setiap hari.
"Belum, tapi sebentar lagi. Aku hampir selesai." Pria itu menekan tombol keyboard dengan cepat, Chanyeol hanya melongo melihat layar laptop yang terlihat aneh baginya. Ada puluhan, ratusan folder yang menghilang satu persatu, hingga hanya tersisa satu buah folder yang terdapat tanda segitiga merah.
"Dapat." Ucap pria itu dengan monoton, namun dia tersenyum dengan wajah bosan. Pria itu melakukan sesuatu, entah apa, lalu folder itu sudah terlihat normal.
"Aku berhasil mengambil rekaman yang di kacaukan oleh virus itu." Pria itu mengambil handycam yang baru disadari Chanyeol berada di samping laptop. Dia membuka folder yang berisi beberapa file, semua yang ada di ruangan menatap layar kecil itu.
"Aku akan memanipulasi data ini menjadi video, tapi tidak akan bertahan lama. Dalam beberapa menit data ini akan rusak karena virus itu akan kembali mengambil alih. Satu-satunya cara adalah merekam kembali video ini." Pria berkacamata itu masih dengan wajah datarnya menyalakan handycam dan memberikannya pada Baekhyun tepat berada di sebelah kirinya. Baekhyun hanya menatap bingung.
"Rekam." Ucapnya singkat.
"Kenapa harus aku?!" Protes Baekhyun, namun tiga detik kemudian Baekhyun mengambil handycam itu dengan cepat.
"Baiklah, tentu saja." Baekhyun mengkeret setelah pria itu menatapnya dengan wajah-akan-kulempar-wajahmu-dengan-meja-ini-jika-kau-protes-yang diakuinya cukup menyeramkan.
'Imut-imut tapi galaknya minta ampun.' Keluh Baekhyun di dalam hati.
Akhirnya mereka menghabiskan waktu di ruang monitoring sambil memeriksa setiap detail dari rekaman sebelum akhirnya rekaman itu rusak. Mereka dapat mengetahui bahwa penculiknya keluar dari kamar apartemen yang berbeda satu lantai dengan Jongdae. Suho sudah mengantongi nama pemiliknya.
"Apartemen itu di sewa atas nama Kim Minseok sejak satu bulan yang lalu." Ucap Suho saat Chanyeol menanyakan informasi yang sudah di dapatkan.
"Apa? Kim Minseok?" Chanyeol mengerutkan keningnya, sepertinya dia pernah mendengar nama itu.
'Itu foto sahabatku saat di Jepang, namanya Minseok, dia orang Korea yang lebih lama tinggal di Jepang.'
"Sepertinya Jongdae pernah menyebut nama itu, saat masih di Jepang, dia bersahabat dengan seseorang yang bernama Minseok."
"Kalau dia mengenal Jongdae, justru ini semakin menambah bukti. Sayang sekali kita tidak dapat mengidentifikasi wajah penculiknya karena rekaman itu terlalu buram. Tapi setidaknya ini cukup." Suho membolak-balik kertas yang sedang di pegangnya, membaca dokumen tebal itu dengan teliti. Sementara Chanyeol masih terdiam di tempatnya, instingnya mengatakan ada hal yang aneh.
"Baekhyun, bagaimana?" Suho langsung mengangkat teleponnya di dering pertama saat ponselnya berbunyi.
'Kosong, tidak ada tanda-tanda orang yang menggunakan ruangan ini selama tiga hari terakhir.'
"Berarti dia pergi begitu menculik Jongdae."
'Sepertinya begitu, lalu kita harus apa sekarang?'
"Geledah tempat itu, cari sesuatu, petunjuk, catatan, barang, atau apapun itu."
'Aye-aye sir.'
Suho menghela napas panjang dan memijat pangkal hidungnya yang terasa penat.
"Ada apa hyung?" Tanya Chanyeol.
"Baekhyun tidak menemukan apapun di dalam apartemen Kim Minseok, apartemen itu ditinggalkan sejak Jongdae di culik."
"Baekhyun memeriksa apartemen Kim Minseok? Kenapa kau tidak memintaku? Kenapa malah menyuruhku kembali ke kantor?" Protes Chanyeol, seharusnya itu adalah tugasnya.
"Oh ya? Kalau begitu kau boleh menyusulnya. Baekhyun dan Kai tidak akan keberatan jika kau membantu mereka." Ucap Suho santai.
"Eh...aku berubah pikiran, aku ikut denganmu saja."
"Kalau begitu jangan banyak protes." Suho melempar kunci mobilnya ke arah Chanyeol yang langsung ditangkapnya dengan mudah.
"Kau temani aku untuk menemui seseorang bernama 'Kim Minseok' ini."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jongdae duduk di kasur. Dia terbangun di malam hari yang sangat tenang hingga terasa aneh. Ruangan yang dia tempati selama dua hari ini memang sangat sepi. Tetapi hari ini terasa sangat aneh.
Jongdae berjalan ke arah pintu yang tertutup, di perhatikan baik-baik pintu berwarna cokelat itu. Entah dorongan darimana, Jongdae membuka pintu yang anehnya tidak terkunci. Tetapi dibalik pintu itu bukanlah lorong berlapis karpet merah seperti yang dilihatnya terakhir kali. Melainkan sebuah ruangan berdinding hitam dan berlantai putih.
"Tempat apa ini?" Jongdae berjalan ke tengah ruangan, dia menemukan setangkai mawar berwarna merah, bahkan sebagian batangnya juga merah. Aroma mawar itu sangat kuat dan harum, Jongdae mengambil mawar aneh itu dan diperhatikan baik-baik, hingga akhirnya ia sadar bahwa warna merah itu bukanlah merah yang biasanya.
Itu adalah darah yang kering.
Jongdae membuka matanya. Itu adalah salah satu mimpinya yang aneh. Jongdae menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Kamar membosankan yang menjadi temannya, juga aroma mawar yang mulai terasa ke penjuru ruangan. Tunggu? Mawar? Jongdae menolehkan kepalanya ke samping.
"Gege sudah bangun?"
Duak
Jongdae menatap horor seorang pemuda yang sedang merintih kesakitan sambil memegang wajahnya. Tangan kanannya mengepal erat di depan dada, dia beringsut menjauhi pemuda itu perlahan.
"Gege, kenapa Tao dipukul? Sakit tahu..." Pemuda itu menangis, tetapi Jongdae tahu bahwa airmata itu palsu.
"Kau siapa?"
Pemuda itu memanyunkan bibirnya. Wajahnya memang sedikit menakutkan, matanya sangat tajam seolah-olah mengatakan aku akan menusukmu dari belakang jika kau tidak hati-hati. Jongdae menduga anak ini baru memasuki masa remaja. Sekitar empat belas tahunan atau lebih.
"Namaku Zitao, panggil saja Tao. Tao adiknya Luhan gege." Pemuda itu berucap ceria, walaupun bahasa koreanya terdengar aneh.
"A...adiknya Luhan...?" Ucap Jongdae tidak percaya. Dia tidak ingat Luhan punya seorang adik.
"Iya, Luhan gege memanggil Tao panda, karena mata Tao seperti panda. Kata Luhan ge ini hadiah dari ibu, tapi Tao tidak pernah bertemu dengan ibu."
Jongdae mengerutkan keningnya mendengar ocehan panjang dari pemuda yang duduk bersila di kasurnya. Jongdae memperbaiki posisinya hingga menghadap Tao, tetap menjaga jarak yang aman.
"Kata Luhan ge ibu Tao sudah pergi ke surga. Terkadang Tao iri dengan Luhan ge yang punya ibu, ibu Luhan ge cantik, tapi ibu Tao pasti juga cantik."
Jongdae hanya bisa diam mendengar setiap kata yang diucapkan oleh anak aneh ini, dia terlihat sangat semangat bercerita hal yang sebenarnya sangat penting dengan entengnya. Sepertinya ada yang salah dengan anak yang satu ini.
"Nama gege Zhongda kan? Gege mau menemani Tao? Luhan gege sibuk, Tao tidak tega mengganggu Kris gege tidur, Lay gege sedang sibuk di laboratorium, Tao tidak punya teman bermain, gege mau menemani Tao kan?"
Jongdae terdiam, tidak tahu apa yang harus diucapkannya. Perlahan senyuman Tao memudar, sorot matanya kosong.
"Gege tidak mau...?" Bisik Tao, dengan gusar kedua tangannya meremat ujung bajunya. Tao seperti menahan sesuatu, sesuatu yang buruk. Perlahan Jongdae melihat sorot mata Tao menggelap, Tao terlihat kesal, marah, tapi dia menahannya. Atau setidaknya, berusaha menahannya.
"Gege mau!" Ucap Jongdae tiba-tiba, "Gege mau menemani Tao." Lanjutnya. Sebuah senyuman tercipta di wajah Tao, wajahnya kembali cerah.
"Yaaay! Gege suka bunga mawar tidak? Tao punya banyak di kamar, sudah tidak ada durinya, kok. Kapan-kapan Tao akan membawakannya untuk gege."
Kalau saja Jongdae tidak menyukai anak-anak, mungkin dia akan merasa bosan mendengar ucapan Tao. Jongdae dengan sabar mendengar setiap cerita Tao dan sesekali menanggapinya. Jongdae senang mendengar anak-anak menceritakan sesuatu padanya. Tao bukan anak-anak sih, tetapi remaja berusia lima belas tahun yang mengalami gangguan mental. Sepertinya dia mengalami masa kecil yang buruk karena dia sama sekali tidak menyinggung tentang ayahnya. Jongdae tahu dia tidak perlu ikut campur.
"Tao?!"
Dua orang yang duduk berhadapan di atas kasur itu menoleh ke arah pintu. Di sana ada Luhan dan dua orang yang di lihatnya kemarin.
"Gege!" Tao melambaikan tangannya ceria ke arah tiga orang itu.
"Tao, apa yang kau lakukan di sini? Kenapa tidak tidur?" Luhan mendekati mereka dengan perlahan, matanya terlihat awas.
"Tao tidak bisa tidur, jadi Tao main ke kamar Zhongda gege."
"Tao, ini sudah malam, biarkan Jongdae istirahat." Luhan berujar dengan lembut, tidak ingin melukai perasaan Tao.
"Tapi besok Tao boleh main lagi, kan?" Tanya Tao dengan wajah berbinar.
"Iya, tentu. Kau boleh bermain ke sini, iya kan, Jongdae?" Jongdae terkejut saat Luhan tiba-tiba menyebut namanya. Jongdae hanya bisa mengangguk.
"Baiklah, besok kita ngobrol lagi ya!" Tao beranjak dari kasur dan keluar dari kamar Jongdae. Pria yang paling tinggi menemani Tao keluar.
"Kenapa dia bisa masuk?" Luhan berbisik dalam bahasa china kepada pria berkacamata yang dilihatnya dua hari yang lalu. "Kau tidak memberikan kuncinya pada Tao kan?"
"Tidak, tentu saja tidak. Mungkin dia mengambilnya dari kamarku saat aku sedang di klinik." Jawab pria itu.
Luhan mendesah lelah, pria menawan itu menatap Jongdae, "Tao tidak melakukan hal yang aneh kan?" Luhan bertanya ambigu.
"Tidak, memangnya...kenapa?" Tanya Jongdae bingung.
"Anak itu mengidap bipolar." Jawab Luhan, dia menyisir rambutnya ke belakang dengan jarinya. "Walaupun usianya masih lima belas tahun dia sudah cukup berbahaya."
Jongdae terdiam, itu cukup menjelaskan sikap aneh Tao. Luhan duduk di kasur, jaraknya cukup dekat dengan Jongdae. Jongdae langsung menjatuhkan pandangannya ke tangannya sendiri, berusaha untuk tidak menatap pria menawan dihadapannya.
"Aku akan kembali ke klinik." Ucap pria berkacamata sebelum ia keluar dari ruangan. Meninggalkan Jongdae yang panik karena ditinggal sendiri dengan Luhan yang menatapnya seperti serigala buas.
Ruangan itu hening, Jongdae hanya menundukkan kepalanya. Tangannya bermain-main dengan selimutnya. Dia merasa tidak nyaman dengan tatapan Luhan yang seakan menelanjanginya. Luhan mengulurkan tangannya, Jongdae tersentak saat Luhan memegang rambut hitamnya.
"Kau tidak banyak berubah, rambutmu masih halus seperti dulu." Bisik Luhan. Jemari Luhan semakin turun.
"Mata yang berbinar indah."
Semakin turun.
"Pipi tirus yang menawan."
Jongdae menutup matanya saat jari itu mencapai bibirnya.
"Bibir yang cantik..."
Suara Luhan merendah, dia sedikit memajukan tubuhnya. Matanya tidak lepas dari wajah Jongdae yang tidak pernah bosan dipandangnya. Luhan mendekatkan wajahnya, semakin dekat hingga bibir mereka hampir bersentuhan. Jongdae memalingkan wajahnya ke samping. Luhan terdiam melihat reaksi Jongdae. Tangannya terkepal erat disamping tubuhnya.
BRAK
Jongdae terpaku. Keheningan terpecah oleh suara tangan Luhan yang memukul dinding di sebelah kepalanya.
"Kenapa...?" Luhan menggeram di depan telinganya. Jongdae merasa bulu kuduknya berdiri seketika. Luhan terdengar menakutkan dan berbahaya.
Keheningan kembali mengambil alih. Jongdae hanya bisa terdiam, tangannya bergetar takut. Luhan sangat menyeramkan baginya. Luhan yang melihat Jongdae ketakutan di bawahnya hanya bisa menggeram kesal. Dia berdiri dan berjalan menuju pintu.
Jongdae berjengit saat Luhan membanting pintu dengan keras. Airmata yang ditahannya sejak tadi akhirnya lolos begitu saja.
"Hyung...sejak kapan kau berubah..." Lirihnya pelan.
Jongdae menggenggam cincin pemberian Chanyeol. Dia menangis dalam diam.
"Chanyeol...aku ingin pulang..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To be continue...
