Disclaimer: Harry Potter punya J.K. Rowling. Saya tidak mengambil keuntungan materil apapun dari penulisan fanfiksi ini.

Warning: maybe OOC, uncommon pair, etc.

.

Kata Kingsley Shacklebolt, ia sudah memindahkan keluarga Dursley kembali ke rumah mereka di Privet Drive Nomor Empat, dan disinilah Harry berada sekarang. Ia berdiri di depan rumah yang ditinggalinya sejak berumur setahun itu dengan campuran antara bimbang dan mantap. Bimbang karena ia tidak begitu yakin keluarga Dursley akan menyambutnya dengan hangat, dan mantap untuk memberitahukan pada keluarga Dursley bahwa ia baik-baik saja, bahwa ia selamat dari dahsyatnya perang di Hogwarts. Setidaknya kemantapannya dipengaruhi oleh kejadian sebelum ia meninggalkan rumah ini. Sepupunya, Dudley, mulai menampakkan tanda-tanda kalau sebenarnya ia tidak membenci Harry. Lagipula, Harry merasa bahwa sudah sepantasnya ia pulang ke rumah Dursley walau hanya sebentar.

Suasana di luar rumah terlihat sepi, walaupun jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Harry mencoba menekan bel beberapa kali, namun tak ada yang membukakan pintu untuknya. Ia lalu membuka pintu rumah keluarga Dursley yang ternyata tidak terkunci.

"Bibi Petunia?" panggil Harry. "Paman Vernon? Dudley?"

Suasana dalam rumah terlihat lebih sepi daripada di luar, namun keadaannya tetap bersih, bahkan lebih bersih dari kunjungannya yang terakhir. Rumahnya sudah terisi kembali oleh perabotan, bahkan ada yang dipindah posisinya dari sebelumnya. Harry yakin bahwa penghuni rumah ini sudah kembali, sebab jika belum, rumahnya tidak akan sebersih ini karena Bibi Petunia sangat peduli kebersihan. Perabotan juga pasti tidak bakalan ada.

Harry mencoba mencari ketiga orang itu di seluruh ruangan yang ada di lantai satu, namun tidak ada siapa-siapa. Tak mungkin tak ada orang di rumah, sementara pintu tidak terkunci. Bibi Petunia tidak akan mengharapkan itu terjadi. Harry mengambil tindakan kalau ia harus menuju ke lantai atas.

Ruangan yang langsung ditengoknya ketika berada di lantai dua adalah kamarnya. Ketika dibukanya pintu kamar, ia langsung melihat sosok Bibi Petunia sedang membungkuk di depan susunan kotak laci, memunggunginya.

"Bibi Petunia?" panggil Harry.

Bibi Petunia tidak menoleh. Ia sedang berlutut sambil mengusap-usap sesuatu. "Bibi Petunia?"

Mungkin Bibi Petunia masih bersikap sama seperti dulu, tak acuh kepadanya. Harry memutuskan untuk memandangi kamarnya yang juga tampak lebih bersih dari beberapa hari yang lalu, walau barang-barang yang ia tinggalkan disana masih ada. Sebagian besar tak berubah posisinya. Pena-bulu rusak di dalam tempat pensil di atas meja, bendera Gryffindor di tembok, dan… sebuah foto?

Foto dua gadis kecil yang tersenyum senang terpajang di tembok, tepat di sebelah bendera Gryffindor. Foto yang tidak pernah dipajangnya. Bahkan ia belum pernah melihat foto itu. Seorang diantara gadis kecil itu berambut hitam dan berperawakan kurus, dan seorang lagi berambut merah gelap. Sepertinya Harry mengenal mereka…

"Sudah kuduga kau akan datang," ucap Bibi Petunia mengagetkan Harry. "Kau anak baik."

"Bibi Petunia?" kata Harry.

Bibi Petunia menoleh, sekarang menatap Harry. "Instingku benar, kau pasti kesini."

Yang tidak dimengerti Harry, Bibi Petunia sama sekali tidak menunjukkan lagak sebal kepadanya. Yang terlihat hanyalah ekspresi Bibi Petunia yang tidak pernah ditujukan pada Harry sebelumnya. Ekspresi yang memancarkan kelembutan dan… penyesalan.

"Bibi Petunia?" kata Harry lagi sambil mendekati bibinya.

"Ya. Ini aku, Bibi Petunia-mu."

Setelah didekati, Harry bisa melihat bahwa Bibi Petunia seperti baru menangis. Ia sedang memangku sebuah album foto yang didapat Harry dari Hagrid ketika liburan musim panas setelah ia menempuh tahun pertamanya (Harry meninggalkannya di kamar terakhir kali ia kemari). Halaman yang terbuka tepat menunjukkan foto dimana Lily, James, dan bayi Harry sedang melambai ke arah kamera. Halaman itu agak basah dan ada bekas tetesan air yang sepertinya sudah sering menetes di situ. Tetesan air mata, simpul Harry, ketika ia melihat Bibi Petunia mengusap tetes air matanya yang terakhir.

.

XxX

Sepanjang siang itu, Harry menjadi pendengar yang baik bagi bibinya. Ia setia menyodorkan tisu atau bahkan mengusapkan jari-jarinya sendiri pada wajah Bibi Petunia yang berkali-kali basah oleh air mata. Bibi Petunia sebenarnya sudah menjadi lunak sejak perpisahan mereka sebelum Harry berangkat memulai petualangannya. Rasa itu memuncak ketika seseorang yang bernama Severus Snape mengirimi Petunia surat, mengabarkan bahwa Harry akan baik-baik saja. Snape yakin bahwa Petunia akan menjaga Harry dengan baik setelah semuanya berakhir.

"Snape sudah meninggal," kata Harry.

Bibi Petunia tampak terkejut. Ia terlihat merasa bersalah lagi, kemudian berkata, "Dia teman Lily. Pastilah dia orang yang sangat baik. Dia menginginkan yang terbaik untukmu. Dia bilang, akulah orang yang paling bisa diandalkan untuk menjagamu setelah Lily tiada. Tapi… tapi... aku bukanlah orang seperti itu. Aku merasa bersalah pada Lily… benar-benar merasa bersalah," kata Bibi Petunia mulai menangis lagi.

Ya.. Severus Snape memang orang yang baik, pikir Harry.

"Aku tidak bisa berhenti memikirkan kalian—kau dan Lily. Aku bahkan berusaha mencari informasi tentang keadaan dunia sihir—Harry heran Bibi Petunia mengucapkan ini—hanya untuk memastikanmu benar-benar aman. Aku mendapat kesan bahwa kau akan menghadapi bahaya besar sebelum kita berpisah waktu itu."

Bibi Petunia bercerita, bahwa ia benar-benar yakin kalau Harry aman setelah orang-orang Kementerian memindahkan kembali keluarga Dursley ke rumah mereka yang lama dan berkata bahwa Harry baik-baik saja dan mungkin akan mengunjungi mereka. Bibi Petunia berkata bahwa setiap hari ia berharap Harry akan mendatanginya. Ia selalu memasakkan makanan yang enak setiap hari. Membersihkan seisi rumah, termasuk kamar Harry, untuk membalas rasa bersalahnya yang sangat besar.

"Lily tak akan memaafkanku kalau terjadi sesuatu padamu," kata Bibi Petunia, kemudian membuang ingus dengan tisu. "Aku kira kau tidak akan mau ke sini lagi."

Hari itu Paman Vernon dan Dudley sedang mengunjungi Bibi Marge. Bibi Petunia tetap tinggal di rumah untuk berjaga kalau-kalau Harry akan pulang.

Bibi Petunia meminta Harry untuk tinggal di rumah Dursley malam itu. Ia menelepon suaminya dan berkata dengan bahagia bahwa Harry telah kembali. Dari ekspresi Bibi Petunia, bisa ditebak bahwa Paman Vernon juga senang Harry kembali.

Setelah menutup telepon, Bibi Petunia berkata, "Pamanmu akan kembali besok pagi bersama Dudley dan Marge. Dudley dan Vernon akan senang bertemu denganmu, sementara Marge, walaupun belum sepenuhnya, sudah mulai mau bertemu denganmu."

"Yeah, itu perubahan yang sangat bagus," kata Harry nyengir.

Bibi Petunia tersenyum. Ia tersenyum sama banyaknya dengan ia menangis hari ini. Malam itu mereka bercerita macam-macam. Tampaknya Bibi Petunia sudah benar-benar pulih dari kealergiannya terhadap dunia sihir. Entah bagaimana prosesnya bisa secepat itu.

Percakapan mereka benar-benar menyenangkan, sehingga membuat Harry menemukan sosok ibu lain selain ibunya sendiri dan Mrs Weasley. Inilah yang Harry harapkan, menerima kasih sayang pengganti ibunya bukan dari orang lain, melainkan dari bibinya sendiri, saudara kandung ibunya. Ia bahkan tidak risih ketika Bibi Petunia memperlakukannya seperti anak kecil. Menyuapinya makan, menyelimutinya, mematikan lampu kamar, hingga memberinya kecupan selamat tidur. Ia yakin semua orang akan menertawakannya jika mereka tahu. Ia bahkan bisa membayangkan Ron tertawa terbahak-bahak bercampur jijik dan heran melihat pemandangan seperti itu.

Keesokan paginya Bibi Petunia tidak membangunkan Harry yang bangun agak kesiangan. Dengan tergesa-gesa Harry turun dari tempat tidurnya lalu turun ke dapur. Dengan takut-takut ia mengintip bibinya yang sedang memasak.

Bibi Petunia, yang sadar ada orang lain di dekatnya, berkata tanpa membalikkan badannya, "Kau sudah bangun rupanya."

Harry terheran-heran sendiri, kemudian ia sadar kalau ia bukan lagi Harry si 'anak yang tidak diinginkan'. Ia lupa kalau bibinya sudah berubah. Ia sudah begitu terbiasa dengan kewaspadaan menghadapi amarah Bibi Petunia yang bisa meledak bahkan hanya dengan melihat wajah Harry.

"Maaf, kukira—"

"Aku yang minta maaf, Harry," kata Bibi Petunia, sekarang menghadap Harry. "Aku selalu membangunkanmu dengan kasar dan memaksamu membantu pekerjaanku di dapur. Tak kusangka kalau itu akan membuatmu begitu ketakutan bahkan sampai hari ini."

Wajah Bibi Petunia terlihat sedih lagi seperti kemarin. "Entah apa yang harus aku perbuat untuk menghilangkan trauma psikismu."

"Tak usah berlebihan, Bi," kata Harry menangkan bibinya. Ya, jujur saja tindakan Harry tadi memang refleks. Ia terbiasa bangun tidur terburu-buru jika kesiangan lalu segera turun ke dapur untuk membantu bibinya. Kalau sampai terlambat, ia bisa mendapat omelan dari tiga orang sekaligus.

"Kau duduk saja," suruh Bibi Petunia. "Sebentar lagi sarapan sudah siap, kok."

Harry duduk dengan kikuk di meja makan. Biasanya di pagi hari Paman Vernon dan Dudley-lah yang duduk berleha-leha menanti sarapan matang. Harry mengambil koran yang tersedia. Koran yang biasanya akan dibaca pamannya.

"Jadi," kata Bibi Petunia menyambung kembali pembicaraan, "akan tinggal dimana kau setelah ini?"

Walau Bibi Petunia menatap penggorengan dan memunggunginya, Harry mendapat kesan kalau bibinya setengah berharap Harry akan kembali lagi ke rumah ini. Rupanya hal ini luput dari perhatian Harry. Pikirannya sudah terlalu lama kacau hingga ia akan tidur dimanapun tempat ia singgah. Sebelum pergi ke Privet Drive, ia sudah tinggal di The Burrow selama berhari-hari. Orang-orang di sana juga tak mengungkit akan tinggal di mana nanti Harry, seakan-akan The Burrow-lah rumah Harry yang seharusnya.

"Err—" jawab Harry kikuk.

"Hanya itu saja? 'Err'? itu jawabanmu?"

"Aku—aku mungkin tinggal di Grimmauld Place, rumah yang diwariskan Sirius padaku," jawab Harry asal. "Atau kembali ke rumah masa kecilku. Aku bisa merenovasinya. Atau aku akan membeli rumah sendiri."

Bibi Petunia mendesah. Harry tak tahu apa artinya itu. Yang tidak diketahuinya, sebenarnya Bibi Petunia sedikit kecewa Harry tidak menyebut rumah Dursley ini sebagai tempat tinggalnya nanti. Dan apa itu 'membeli rumah sendiri'? Harry memang tidak sekaya kelihatannya selama ini. Selain dari uang jajan terbatas yang diberikan keluarga Dursley, Harry tidak punya uang lagi. Setidaknya uang Muggle. Namun Bibi Petunia yakin keluarga Potter punya banyak uang yang diwariskan untuk Harry. Belum lagi warisan dari orang yang bernama Serious itu—kedengarannya seperti itu—kalau tak salah. Ia masih ingat kunjungan Dumbledore ke rumah Dursley dua tahun lalu, memberi kabar bahwa Harry adalah seorang pewaris.

"Kau akan tinggal di duniamu, kalau begitu?" tanya Bibi Petunia.

"Aku rasa begitu. Dimana lagi aku harus tinggal? Duniaku memang sudah seharusnya di sana."

"Baiklah. Hanya saja," Bibi Petunia berhenti sejenak, tapi sayangnya ia tidak melanjutkan kalimatnya. Harry yang masih memegang koran jadi penasaran. Tapi belum sempat Harry bertanya, terdengar suara mobil di luar. Suara mobil yang amat dikenal Harry. Disusul orang-orang yang keluar dari mobil dan langkah-langkah berat mereka memasuki rumah.

"Mana Harry?"

Dudley yang pertama kali masuk dan pertama kali bersuara. Ia terlihat lega sekali ketika melihat Harry dan berniat memeluknya. Harry sudah menahan napas ketika baru disadarinya Dudley tidak segendut dulu. Dudley memang besar, tapi tidak obesitas. Rupanya ia berhasil membentuk badannya jadi lebih ideal.

Dudley tidak mengatakan apapun. Ia hanya memeluk Harry walau terasa sedikit canggung. Paman Vernon memeluknya sekilas tanpa bicara. Sebagai gantinya ia hanya tersenyum. Sementara Bibi Marge hanya memberi senyum tipis. Harry tak bisa menyalahkan mereka. Walau kata Bibi Petunia mereka sudah berubah, tapi mereka pasti masih canggung.

"Si Arabella Figg itu masih disini rupanya," kata Paman Vernon lantang sambil menarik kursinya. "Ketemu dia tadi di jalan belokan."

"Dan apa yang dia katakan, Mum? Apa kau tahu?" ujar Dudley sambil nyengir, kemudian beralih pada Harry. Bibi Petunia tersenyum. Tampaknya ia tahu apa maksud Dudley. Sungguh ikatan ibu dan anak yang kuat.

"Ternyata dia punya kerabat yang sekolah di tempat Harry!" Dudley menjawab sendiri pertanyaannya. "Kukira dia sama dengan kita."

Mereka menyambut itu seakan itu bukan kenyataan yang menjijikkan. Harry bersyukur karenanya, tapi kemudian Dudley melanjutkan:

"Katanya sih, namanya Hannah. Cantik, katanya. Rambutnya pirang sepertiku."

Harry nyengir. Perasaannya tiba-tiba jadi tak enak.

"Kau tenar juga, ya, rupanya," sambung Dudley. "Aku pikir teman cewekmu cuma Hermione."

Harry tidak bertanya darimana Dudley bisa tahu soal Hermione. Rasanya ia tidak pernah cerita.

Pagi itu mereka sarapan bersama. Bibi Marge, Paman Vernon, dan Dudley yang sudah sarapan sebelumnya jadi sarapan lagi. Yang baru diketahui Harry adalah, Dudley makan sedikit saja. Harry tahu kalau sebelumnya Dudley sudah sarapan, tapi rasanya Dudley yang sebelumnya tak akan menolak makanan walau sudah cukup kenyang.

Tapi tidak seperti Bibi Petunia, ketiga Dursley yang lain seperti tak ingin membahas kelakuannya pada Harry di masa lalu. Harry senang-senang saja, sebab tak perlu menangis atau memohon-mohon untuk membuat Harry memaafkan mereka. Lagipula mereka tampak ingin memulai semuanya lagi dari awal, jadi Harry dengan otomatis sudah bisa memaafkan mereka tanpa diminta.

Selepas sarapan, Dudley tidak langsung nonton TV atau main game atau pergi ke temannya seperti yang dulu biasa dilakukan. Ia mengajak Harry berjalan di sekitaran Privet Drive.

Apakah dia akan minta maaf? Batin Harry dalam hati, seiring mereka berjalan bersama dalam diam. Pikirannya itu membuatnya ingin tertawa (Dudley minta maaf pada Harry?) sekaligus membuat jantungnya berdebar.

Tapi Dudley tak mengatakan apapun. Setidaknya sampai mereka tiba di taman tempat Harry dulu merenung menjelang tahun kelimanya di Hogwarts. Tempat ia duduk sendirian di ayunan sebelum bertemu Dudley yang akhirnya membawa mereka pada Dementor.

Mereka duduk di ayunan yang sama dengan ayunan tempat Harry duduk dulu. Pandangan Dudley menerawang ke depan. Harry mengira Dudley mungkin 'bernostalgia' dengan kenangan tentang Dementor itu. Tapi setelah beberapa saat begitu, tiba-tiba Dudley merogoh saku celananya dan memberikan sesuatu pada Harry.

"Hm?" Harry heran ketika Dudley memberikannya pin berbentuk huruf 'J'. Warnanya memang sudah banyak yang pudar dan pin itu kelihatan tua, tapi Harry masih bisa melihat warna emasnya.

"Ini punyamu?" tanya Harry. Ia merasa ajaib orang seperti Dudley bisa menyimpan barang hingga begitu lama. "Tapi apa maksudnya huruf 'J' ini?"

"Itu punyamu," jawab Dudley, suaranya berat. Harry lalu mencoba mengingat, tapi gagal. "Aku mencurinya darimu, belasan tahun lalu."

Hebat! Bahkan Dudley masih bisa ingat di samping masih bisa menjaga pin itu.

"Tapi aku nggak ingat apapun," ujar Harry, sedikit merasa bodoh. Tapi memang kenapa pula ia punya pin dengan bentuk huruf J? Ia benar-benar tak ingat.

"Ingat seorang gadis kecil di sekolah dulu? Dia yang memberimu ini," Dudley coba menjelaskan. "Aku melihatnya. Lalu di rumah kuambil itu dari tasmu. Aku bilang kalau Harry punya pacar. Dad dan Mum kelihatan sangat nggak suka."

Lalu kemudian Dudley tertawa. Sementara Harry tidak tahu lucunya dimana karena ia sama sekali tidak ingat.

Kemudian Dudley berdiri. Ia lalu menepuk pundak Harry dan meninggalkannya di taman sendirian. Tapi sebelum Dudley jauh, pemuda itu berkata pada Harry, "Gadis itu aneh sekali. Tak tahu jelasnya gimana, tapi waktu itu aku melihat kalian berdua mirip. Yang kuingat dari dia hanya rambut pirang sebahunya, dikuncir dua. Dan dia tampak—" sejenak Dudley berhenti, "—ketakutan."

Harry memandangi Dudley yang berjalan menjauh tanpa menoleh padanya lagi. Baru kemudian ia memusatkan perhatian pada pin itu.

Siapa, ya? Siapa gadis itu? Dan kenapa ia memberiku ini? Tak ada yang mau repot memberiku sesuatu, pikir Harry. Rambut pirang... aneh... ketakutan... Siapa? Apa anak itu 'korban' kekuatan sihir Harry yang belum terkontrol dulu? Bahkan Harry susah mengingat teman-teman sekolahnya dulu.

J. Huruf J. Harry menggali ingatannya tentang teman perempuannya di sekolah dulu. Siapa yang nama depannya J? Atau nama keluarganya J? Masih tak berhasil. Tapi jika anak itu ketakutan, kenapa dia bisa memberikan pin itu padanya? Bukannya seharusnya anak itu menjauh darinya?

Harry memeriksa kantong celananya. Tak tahu sejak kapan ada uang Muggle di sakunya, tapi Harry lega karenanya. Ia langsung bangkit dan mencari bus yang membawanya ke sekolah dasarnya dulu.

.

XxX

Seingat Harry, terakhir kali ia berada di situ waktu ia lulus sekolah, kira-kira tujuh tahun lalu. Masih ingat jalan dan bus yang bisa membawanya kesana saja sudah cukup menakjubkan baginya.

Sekolah itu tampak sepi dari luar karena para murid sedang belajar di dalam. Harry duduk di taman depan sekolah, mencoba menggali ingatannya. Tapi terlebih dulu ia mengamati sekelilingnya: adakah orang yang kira-kira mengenalinya? Seorang guru barangkali? Setelah dirasa aman, Harry kembali merenung dan mengingat-ingat. Disaat seperti itulah Harry berharap bisa memakai Remembrall punya Neville. Tapi bahkan Remembrall-pun tidak bisa memberitahu apa telah dilupakan.

Harry terus mengingat siapa kira-kira teman sekolah yang dimaksud itu. Seingatnya, ia tak pernah benar-benar punya teman akrab di sekolah ini, apalagi perempuan dan memberinya sebuah pin. Ia benar-benar tak bisa mengingat siapa teman yang dimaksud itu. Yang rasa-rasanya aneh di sekolah ini hanyalah dirinya.

Jadi ia pulang saja.

Ia sempatkan membeli lolipop rasa stroberi yang dulu sering dibeli Dudley di toko depan sekolah. Ia tak peduli kalau dirinya bukan anak kecil lagi. Sekarang hidupku bebas, batin Harry.

Sepanjang perjalanan pulang Harry terus menatap pin itu. J... Siapakah J? Yang ia ingat hanyalah nama tengah ibunya, nama tengah Hermione, dan... nama tengah Umbridge. Harry tiba-tiba merasa kesal. Untung saja wanita itu sudah dipenjara di Azkaban. Tapi kemudian ia berpikir, apakah J, yang mungkin nama anak perempuan itu, adalah seorang... penyihir? Dudley bilang anak itu aneh mirip dirinya, kan? Tapi masa ada anak penyihir di lingkungan penuh Muggle seperti ini? Ada! Harry sendiri contohnya.

Harry memutuskan untuk tak memikirkannya lebih lanjut, apalagi ketika ia pulang Bibi Petunia menyampaikan sebuah surat untuknya. Surat dari Kementerian. Pelatihan Auror-nya akan segera dimulai.

.

.

.

.

Bersambung