CHAPTER 4

Sebuah pena dengan lincah menari-nari di jemari Baekhyun. Baekhyun melipat kakinya dan bersenandung senang. Sudah beberapa hari ini ia tidak mendengar kata "Aku ingin bertemu dokter" dari mulut Chanyeol. Baekhyun merasa bahwa Chanyeol sudah sepenuhnya menyerah.

Tiba-tiba, ia merasakan aura yang gelap memenuhi ruangan klinik. Ia berbalik dan terkejut menatap Jongin. Jongin memasuki klinik dengan aura membunuh di sekitarnya.

"Kenapa? Sesuatu yang buruk terjadi?" Tanya Baekhyun khawatir.

Jongin menggelengkan kepalanya lemah, perlahan berjalan ke arah kamarnya dan membanting pintunya keras.

Baekhyun sedikit khawatir kali ini. Setiap Jongin pulang ke klinik, ia pasti melakukan beberapa kesalahan, dan Baekhyun sudah terbiasa dengan itu. Namun, kali ini berbeda. Sudah dua jam Jongin mengurung diri di kamar. Baekhyun mengetuk pintu kamar Jongin perlahan. "Kkamjong, ada apa? Keluarlah, mari kita bicara."

Tidak ada respon.

"Jangan sedih! Keluarlah cepat! Tidak apa menangis, lalu tegaklah kembali!" Baekhyun benar-benar khawatir kali ini.

Jongin berkata lirih, "Tidak apa-apa."

Pasti ada apa-apa! Ujar Baekhyun kesal dalam hati. Baekhyun ingat bahwa ia memiliki kunci cadangan semua ruangan di klinik ini. Dengan cepat, ia mengambil kunci itu dan berniat membuka pintu.

"Dokter Baekhyun, cepatlah kesini dan bantu kami untuk menghentikan luka hyungnim. Lengannya terluka oleh pecahan beling!" teriak Chen, suruhan Chanyeol.

Baekhyun mendongak dan bertanya, "Dimana dia?"

Sosok yang familiar tiba-tiba muncul di pintu klinik Baekhyun, sosok yang tinggi dengan telinga lebarnya, melihat ke arah Baekhyun dengan senyum hangat dan tebar pesonanya. Selain itu, tangannya berdarah, sebelah tangannya memegang luka itu saat darah mengucur dengan deras. Seketika, bau amis darah memenuhi ruangan klinik.

Baekhyun berdiri diam, dia terkejut dengan keadaan Chanyeol.

Chen menyadarkan Baekhyun dan berkata, "Aku bilang, Dokter Baekhyun, cepat tolong dia! Itu darah sungguhan, kau tidak menyembuhkannya dan membiarkannya mati?" Lalu Chen meletakkan segepok uang di atas meja kerja Baekhyun.

Baekhyun segera berjalan ke meja peralatan medis dan menyiapkan beberapa alat medis.

Chen berbisik tepat di telinga Chanyeol, "Apa yang kubilang? Sekarang, siapa yang tidak membutuhkan uang? Kau tetap memperlakukannya seperti berlian."

Chanyeol tidak merespon, dia sibuk menekan lukanya.

"Masuklah ke ruangan dan berbaringlah, bersiaplah untuk disuntik." Ucap Baekhyun tenang.

Chen segera menuntun Chanyeol menuju ruangan, namun di tolak keras oleh Chanyeol. Sesampainya di ruangan, Baekhyun terkejut oleh pemandangan yang di suguhkan di depannya. Terlihat Chanyeol sudah tidak mengenakan celananya dan penisnya mengacung gagah disana.

Seketika pipi Baekhyun merona, segera ia alihkan pandangannya, "Berbaliklah!"

Chanyeol menatap Baekhyun tepat pada matanya, ia tidak bergerak.

Baekhyun menekan suntikan, obat bius keluar dari jarum suntik, "Jika kau menginginkan jarum ini menusuk penismu, aku tidak masalah."

"Baekhyun-ssi, kau sungguh berani," ucap Chanyeol.

"Sekarang pergilah dari hadapanku jika kau terus memamerkan punyamu!" Baekhyun kesal.

Sambil berbalik, Chanyeol terus menggerutu kesal.

"Arrgghhh…!" Sial bagi Chanyeol, ia disuntuik di bagian bokong.

Chen terkejut, "Fuck, klimaks begitu cepat?"

Seketika ruangan menjadi hening.

Chen segera masuk ke ruang periksa sambil berteriak, "Chanyeol, ibumu telepon. Ia bilang ada keadaan yang genting." Chanyeol tidak berani membantah ibunya, ia langsung berdiri dan menuju pintu klinik.

Dengan kecepatan maksimal…

Segepok uang mengikuti Chanyeol dan melayang ke arah pintu, dan beberapa recehan mengenai tubuh Chen. "Itu kukembalikan uangmu." Ucap Baekhyun santai.

Chanyeol melirik ke arah Chen dengan tatapan ingin memangsanya saat itu juga, Chen hanya berdiri diam ketakutan.

Setelah Chanyeol keluar, Baekhyun mengalihkan matanya ke arah kamar Jongin, ia terkejut melihat Jongin yang sudah berdiri diam di depan pintu menatap Baekhyun lurus-lurus.

Baekhyun seketika merasa malu, "Sudah berapa lama kau berdiri disitu?"

Jongin tidak menjawab, melangkah menuju Baekhyun dan duduk tepat di depan meja kerjanya. Jongin menatapnya misterius, membuat Baekhyun keringat dingin. Keadaan hening sesaat, kemudian Jongin membuka mulutnya.

"Bagaimana kau melakukannya?"

"Huh?" Baekhyun menatap Jongin bingung.

Jongin kemudian menjelaskan, "Dia menyukaimu, kan? Dia rutin datang kesini untuk melihat dokter karena dia ingin mengejarmu, kan? Luka di tangannya juga taktik untuk mendekatimu, kan?"

Baekhyun menatap Jongin tidak percaya. Ia mengira keadaan Jongin membuat lelaki itu menjadi sedikit tidak waras. "Kau salah sangka, aku dan dirinya−"

"Ajari aku!" Potong Jongin, kemudian dia meraih tangan Baekhyun dan menggenggamnya antusias.

Baekhyun semakin bingung, "Mengajarimu?"

"Teach me how to catch (seduce) a man." Kata Jongin mantap.

Baekhyun kira ia salah dengar. Ia bertanya lagi pada Jongin, "Catch a man?"

Mata Jongin seketika berkobar, ia menarik tangan Baekhyun ke dalam kamarnya dan menceritakan apa yang terjadi padanya hari ini.

"That woman is a bitch!"

Jongin melanjutkan, "Aku memikirkan tentang itu, daripada menyakiti satu orang, aku lebih memilih menyakiti keduanya! Ini terlalu sulit untuk menggugah hati Krystal, walaupun aku menang, lelaki itu akan mencari perempuan lain. Tapi ini berbeda jika aku menggodanya, Krystal akan sedih, kan? Dia akan sedih ketika mengetahui kekasihnya selingkuh darinya, kan…?"

"Tunggu sebentar." Baekhyun mengangkat tangannya menghentikan omongan Jongin, "Bukankah ini lebih sulit untuk menggoda lelaki itu daripada mengubah hati Krystal?"

"Siapa bilang aku akan menggoda lelaki itu?" Jongin mengeluarkan smirk nya, "Aku akan mengeluarkan daya tarikku, dan membiarkan dia yang mengejarku."

Fuck, dude, you are very ambitious! You just changed from a wimp to a god! Ucap Baekhyun dalam hati.

"Kau tahu, jika suatu saat lelaki itu berubah menjadi seperti Chanyeol, ia akan datang kepadaku dengan darahnya yang bergelinang tanpa aku minta. How sweet my revenge will be!"

Baekhyun hanya menatap Jongin tidak percaya, "Master, jangan bercanda denganku. Aku harus beres-beres dan pulang ke rumah." Baekhyun kemudian berdiri dan hendak mengambil langkah.

Jongin segera meraih tangan Baekhyun, kemudian menjatuhkan Baekhyun kembali ke kasurnya. Senyum di wajah Jongin sudah menghilang, digantikan dengan wajah seriusnya. "Baek-hyung, aku tidak bercanda. Aku serius! Jika kau tidak merasakan seorang perempuan yang telah kau pacari selama tujuh tahun mencium mesra lelaki lain, kau tidak akan mengerti bagaimana sakitnya diriku sekarang!"

Baekhyun berkata dalam hati, Your little pain is considered as a fucking small feather? Tahun lalu aku hampir terjun ke sungai Han karena di selingkuhi kekasihku!

Baekhyun menghela napas panjang. "Kau tahu tentangnya?"

Jongin menggeleng, "Aku hanya tahu namanya, Sehun. Aku tidak tahu marganya apa."

Baekhyun kembali menghela napas. "Baiklah, kita akan melakukan penyelidikan terhadap orang itu selama dua minggu, termasuk kehidupan pribadi, kehidupan masa lalunya, ketertarikkannya…"

.

.

.

Dua minggu telah berlalu, Jongin sudah mengumpulkan semua tentang Sehun. Dua puluh delapan tahun, ayahnya Oh Manse, pemimpin partai negara. Gemar memelihara ular akhir-akhir ini, dikenal dengan 'snake man', ular favoritnya adalah green tree python, bernama Tao. Sangat mahir dalam hal seks, dia tidak mempermasalahkan perempuan atau laki-laki.

"Dilihat dari foto, lelaki ini memiliki wajah yang tampan, rambut hitam legam, rahang yang tegas, mata yang tajam, badan yang atletis dan tegap, terlebih jari tengahnya yang panjang…Semua tanda ini memiliki arti bahwa dia memiliki nafsu yang besar, berfungsi dengan baik, organ seksual yang terlihat bagus, bisa dikatakan buas diantara lelaki lain." Ucap Baekhyun menganalisa.

Jongin dengan serius mencatatnya dalam laptopnya.

Baekhyun menatap Jongin, "Sehubungan ini, apa pendapatmu?"

Jongin hanya menatap sekilas dan menjawab, "Tidak buruk."

Baekhyun merengut, "Hanya itu?"

"Lalu?"

Berhadapan dengan orang seperti Jongin terkadang membuat Baekhyun sulit untuk berkata-kata. "…tentang hal ini… Bagaimana aku menjelaskannya? Lihatlah, dia adalah lelaki yang berpikir bahwa cinta adalah suatu permainan, dia tidak akan menolak siapapun yang datang kepadanya asalkan orang itu agresif mendatanginya. Menurutku, kau masih memiliki kesempatan untuk mendapatkannya, walaupun hasilnya akan buruk. Kau tahukan maksudku?"

Jongin menatap Baekhyun tidak mengerti.

Baekhyun menghela napas, "Jika kalian berdua akhirnya bersama, atau ada kesempatan untuk berduaan dan memungkinkan adanya kontak fisik, kau pikir kau akan menjadi dominant dan menekannya?"

Jongin menatap Baekhyun khawatir, "Itu sulit untuk dikatakan."

"Bagaimana dengan ini," Baekhyun mengetuk meja, "Mari kita temui dia, kita telah membuntutinya selama ini, kita harus melakukan sesuatu."

Segera mereka mengganti baju dan pergi.

.

.

.

Hari ini special untuk Sehun, dia ditemani oleh Suho mencari ular Tibetan untuk melengkapi koleksinya.

Tiba-tiba mobil Sehun yang dikendarai oleh Suho berhenti, Sehun yang duduk di belakang segera melihat kedepan dan mendapati sepeda berisi begitu banyak barang menghalangi mobil Sehun.

Suho yang takut Sehun akan marah segera mengklakson untuk menyuruh orang yang bersepeda agar minggir.

Sehun mengeluarkan kepalanya lewat jendela, melihat jelas apa yang ada di depannya. Sepeda itu berusaha melewati tanjakan di depan, namun sepeda itu tetap pada posisinya. Suho terus mencoba untuk mengklakson. Apa yang dilakukan Suho mampu membuat penyepeda terjatuh karena syok. Suho tidak peduli, asalkan ia bisa jalan maka ia akan jalan.

Mobil Sehun perlahan jalan melewati sepeda itu. Seketika, Sehun menyuruh Suho untuk berhenti.

Suho sangatlah mengabdi pada Sehun, apa yang di suruh Sehun, maka ia akan lakukan.

Mata Sehun terfokus keluar jendela saat ia melihat Jongin. Jongin mencoba menyingkirkan kakinya yang tertindih oleh sepeda. Ia terlihat kesulitan. Jongin mengambil napas dan mencoba menendang-nendang sepeda itu dengan sebelah kakinya yang bebas, kali ini ia berhasil.

Sehun bukanlah orang yang baik dan dengan gampang membantu orang lain, dia tidak peduli dengan orang lain dan hatinya sangatlah dingin, tapi hari ini ia membuka pintu mobilnya dan turun.

Bibir Jongin berkedut menahan senyum.

Sehun tidak bermaksud membantu Jongin, dia hanya berjalan menuju Jongin, menatap lurus kearahnya.

"Kepala besi?"

Jongin hampir terjatuh lagi ketika ia mau berdiri mengangkat sepedanya yang berat.

"Kau panggil aku apa?" Tanya Jongin kesal.

Sehun mengeja dengan penekanan, " . .si."

Mata Jongin mengeluarkan aura kebencian, namun segera di tepisnya. Baekhyun sudah mengingatkan pada Jongin. Kepala besi, kepala besi, lebih baik daripada ia melupakanku. Ujar Jongin dalam hati.

Dia mencoba mendorong sepedanya lagi dengan sekuat tenaga, sungguh sepeda ini sangat berat.

Sehun memandang Jongin, "Kau tidak punya kekuatan untuk mendorongnya?"

Jongin hanya mendengus kesal.

"Kau bilang kau tidak menginginkan apapun…, kau merasa senang dengan kehidupanmu yang seperti ini?"

Jongin menggeram kesal, "Minggirlah dari sana jika kau tidak mau membantu." Kemudian dia kembali mencoba mendorong sepedanya melintasi tanjakan itu.

"Minggir!" Ucap Sehun tiba-tiba.

Jongin tidak mendengarkan Sehun, ia melanjutkan usahanya. Sehun mendorong tubuh Jongin dan mengambil alih sepeda itu. Dalam lima detik, sepeda itu sudah melewati tanjakan itu. Sehun menepuk kedua tagannya, seolah membersihkan debu yang menempel disana. Tanpa melihat Jongin, ia berjalan masuk ke mobilnya lagi.

Jongin syok, ia mengira Sehun hanya bercanda, ia tidak akan membantu. Siapa yang berpikir lelaki itu akan benar-benar menolongnya.

Beberapa saat kemudian, Baekhyun keluar dari tempat persembunyiannya.

"Apa kau melihatnya dengan jelas?" Tanya Jongin tidak percaya.

"Couldn't be any clearer."

Baekhyun tidak pernah mencampuri urusan orang lain selama hidupnya, saat bersembunyi tadi Baekhyun tidak sengaja melihat selangkangan Sehun. Kaki panjang itu dan benda oversize di antara kaki itu, tenggorokan Baekhyun tiba-tiba menjadi kering.

"Apa yang kau pikirkan?" Jongin bertanya, "Apa aku bisa menekannya?"

Ketika Baekhyun melihat di foto, ia masih memiliki sedikit harapan. Namun, setelah melihatnya secara langsung, semua harapan itu hilang dalam sekejab.

"Just obey and follow the changes."Baekhyun menepuk pundak Jongin, prihatin.

.

.

.

Hari ini, Sehun mendapat shift malam. Ia menuju rumah sekitar pukul sepuluh malam. Sehun keluar dari mobil, dia melihat siluet di tengah lapangan basket dekat apartemennya, tidak ada yang tahan dengan udara Seoul ketika malam hari, orang-orang pasti sudah bergelung nyaman di kasurnya masing-masing.

Pa (bounce) – pa (bounce)

Suara bola yang memantul tertangkap oleh telinganya.

Sehun menajamkan penglihatannya, namun tidak terlihat jelas karena penerangan yang pudar di tempatnya berdiri saat ini. Ia menatap postur tubuh orang yang sedang bermain basket disana, celana basket yang pendek, orang itu sedang membungkuk, bokongnya yang penuh terlihat mencondong ke arahnya. Sehun dengar, jika laki-laki memiliki bokong yang padat maka ia memiliki libido yang besar.

Sehun menuju ke lapangan basket itu, dengan perlahan meloncati pagar besi dan berjalan ke arah orang itu.

Jongin memang tidak pandai bermain basket, namun setidaknya dia bisa bermain dengan baik.

Bola basket memantul beberapa kali di lapangan, hingga berpindah ke tangan orang lain.

Jongin berteriak, "Lemparkan bolanya kesini!"

Sehun berjalan dengan bola di kedua tangannya, Jongin mncoba untuk merebutnya, Sehun berlari sambil men-dribble bola dan melakukan dunk dengan sempurna. Jongin mendengus iri. Karena tinggi badan yang jauh dari Sehun, ia tidak akan bisa melakukan dunk sesempurna itu sehebat apapun ia melompat. Jongin menantang Sehun berduel dengannya.

Sehun melempar bola ke arah Jongin, Jongin berbalik dan men-dribble bola. Bokongnya secara tidak sengaja menempel pada selangkangan Sehun. Sehun memblokir Jongin dengan tangannya yang panjang dan merebut bola dari Jongin, dengan santai mengarah ke three point-line, bola basket melayang dan dengan sempurna masuk ke ring.

Bola basket menggelinding keluar lapangan, ketika Sehun mengambil bola, Jongin menunduk untuk mengikat tali sepatunya yang lepas.

Saat Sehun kembali, dia terkejut melihat Jongin menengadahkan bokongnya. Dia menggunakan tangannya untuk melempar bola, dengan akurat mengenai dua bongkah daging itu. Jongin hampir terjatuh akibat dorongan bola itu. Segera ia menyeimbangkan kembali tubuhnya. Jongin menegakkan tubuhnya dan memandang Sehun tepat di kedua matanya.

Malam ini, mata Jongin seperti cermin, menirukan hatinya dan bersinar dengan terang.

Bola itu kembali ke tangan Sehun. Smirk muncul di bibir Sehun, ia jalan ke belakang Jongin dan melempar bola itu lagi tepat di bokong Jongin, kali ini lebih keras.

Jongin mencoba untuk mengendalikan amarahnya, dia tidak mengutuk setelah dilempari bola, dia mengambil bola itu.

Kau memukul bokongku? Aku akan memukul 'burung'mu! Maki Jongin dalam hati.

Dia mengangkat bola tinggi-tinggi, dia masih tidak ingin melempar bola itu ketika tiba-tiba ia merasa ada yang menyengat sakit dari belakangnya.

Bagaimana ia tidak tahu ketika Sehun beralih ke belakangnya? Tangan besarnya seperti cakar harimau di bokong Jongin, meremas kuat dua bongkah daging itu, dan menggigit leher Jongin hingga memerah.

"Katakan, apa yang terjadi akhir-akhir ini?"

Jongin berusaha keras melepaskan cengkeraman Sehun. "Apa? Apa yang terjadi?"

"Bermain-main denganku?" Tangan Sehun semakin mencengkeram erat, hampir merobek bongkahan daging itu.

Jongin mengalihkan tangannya mencoba melempar bola mengenai muka Sehun, ia menunggu kesempatan untuk menggigit lengan Sehun.

"Lepaskan! Lepas!"

Hidung Sehun dipenuhi dengan aroma Jongin. Baunya begitu natural, harum vanilla yang mampu membangkitkan gairah, sangat cocok dengan kepribadian Jongin.

Sehun terus berkonsentrasi dengan harum Jongin. Kesempatan itu digunakan Jongin. Segera Jongin mendorong Sehun setelah ia melayangkan sikunya tepat di perut Sehun. Membuat petahanan Sehun hancur seketika. Segera Jongin berlari menuju tempat duduk dimana tas nya berada. Ia mengambil air minum dan meminumnya, melihat Sehun yang berjalan ke arahnya. Jongin mengeluarkan kaleng Red Bull dari tas nya dan melemparnya ke arah Sehun.

Jari Sehun segera membuka kaleng itu, dan meneguknya brutal, selesai dalam dua kali tegukan.

Jongin diam sejenak, dan dengan lirih berkata, "Thanks."

Sehun menatap Jongin tepat dimatanya, "Kau memberiku minum dan mengucapkan terima kasih?"

"Terima kasih karena telah menolongku beberapa hari yang lalu, itu adalah makanan vitamin. Bos ku menunggu makanan itu, tidak ada yang salah karena kau menolongku."

Sehun memutar bola matanya, "Kau menunggu beberapa hari hanya untuk mengucapkan terima kasih kepadaku?"

"Sebenarnya aku ingin pergi setelah mengucapkan terimakasih, tapi aku teringat bagaimana kau terus menangkapku, jadi aku merasa tidak perlu menghargaimu…"

Sehun tiba-tiba meraih tangan Jongin. Secara perlahan, Jongin maruh sesuatu di celana Sehun tapi disadari oleh Sehun. Sehun kira, Jongin ingin mencuri ponselnya, namun ternyata tidak.

Sehun mengambil sesuatu di saku celananya dan menemukan dua kupon gratis bubble tea di salah satu kafe. "Bagaimana kau tahu jika aku suka bubble tea?" Sehun menaikkan alisnya dan mengeluarkan smirk andalannya, kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah Jongin, "Kau ingin mengajakku kencan, ya?"

Jongin menatap Sehun dengan tatapan tidak percayanya kemudian bangkit berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Sehun.

.

.

.

Saat ini hampir mendekati tengah malam. Baekhyun mengendarai mobilnya menuju ke klinik, ia mengalami insomnia. Ia berharap obat di klinik dapat membantunya.

Saat sampai di klinik, ia melihat kamar Jongin yang masih menyala. Ternyata Jongin belum tidur. Baekhyun mengambil langkah menuju kamar Jongin dan mengetuk pintu yang sedikit terbuka. Ia melihat Jongin telanjang hanya menggunakan underware-nya. Baekhyun terkejut melihat bagian bokong Jongin yang tersingkap. Ia melihat kemerahan di bokong Jongin.

Jongin tahu bahwa itu Baekhyun, maka ia membiarkan keadaannya. "Kenapa kau kembali?"

"Apa yang terjadi dengan bokongmu?" Baekhyun mengelus pelan bokong Jongin.

Jongin melupakan kejadian dimana Sehun mencengkeram bokongnya dengan kedua cakar harimaunya.

"Berbaringlah, akan aku obati." Jongin menurut dan segera berbaring tengkurap di ranjangnya sedangkan Baekhyun keluar mengambil obat untuk Jongin.

Ketika melihat dengan seksama, Baekhyun menemukan love bite di leher Jongin. Kemudian Baekhyun mengalihkan pandangannya ke arah Jongin dan menatapnya curiga. "Kalian berdua…berkembang dengan cepat."

Dengan cepat Jongin berkata, "Apa yang kau pikirkan? Dia menyerangku saat aku bermain basket. Itu hanya untuk mengancamku agar mengatakan apa yang terjadi akhir-akhir ini, karena aku selalu berada di dekatnya."

Baekhyun segera mengoleskan obat yang dibawanya, "Oh…dengan tangannya…walau dengan tangannya, tapi ini tetap salah!" Baekhyun mengerutkan alisnya, "disini banyak sekali area yang bisa ia serang, kenapa harus di bokongmu? Pasti terjadi sesuatu di antara kalian. Bukankah kau kenal dengannya dalam beberapa hari ini? Dan dia telah melakukan touchy-feely!"

"Bachon, tidakkah kau merasa bangga terhadapku?"

Baekhyun hanya tersenyum getir. Bangga? Dalam dasar apa aku senang? Bokong ini telah aku impikan selama setengah tahun, kenapa aku membiarkan orang lain menyentuhnya duluan? I haven't even touched it!

Setengah jam kemudian…

Jongin masih berbaring di ranjangnya dan berkata kepada Baekhyun, "Belum selesai mengobatiku?"

Baekhyun sudah meremas kedua bokong Jongin selama sepuluh menit, namun dirasanya itu belum cukup.

"Belum, memijat seperti ini akan membantumu melancarkan peredaran darah, mempermudah obat untuk bekerja."

.

.

.

TBC

.

.

.