Naruto by Masashi Kishimoto

.

.

Dae Uchiha present

H E—Different

Untuk Semua Reviewers yang minta sekuel, terutama Ana n Malini...

©2011

.

.

Warning: AU, OOC—parah!, Perusakan Image dan Karakter, Typo(s), Miss-typo, dst.

.

.

Enjoy it!—kalau ada perbedaan karakter dengan di Animanga asli, itu adalah kesengajaan... ;)

.

Chapter 3—Orang Baru

.

Semua berawal dari keriuhan fans club Gaara saat melihat pangeran mereka datang dengan seorang gadis. Catat ini: SEORANG GADIS. Dan gadis yang menurut fans club itu beruntung bukan Hinata.

Melainkan seorang gadis cantik yang berambut pirang, bermata violet, dengan kulit porselen dan tampilan yang modis. Gadis itu turun dengan anggun dari motor sport Gaara, menunggu sang pemuda memarkirkan motor, kemudian tanpa malu menggenggam tangan Gaara dan menarik pemuda itu menuju ruang kepala sekolah.

Dan Gaara tidak menolak.

Beberapa pasang mata melotot, membuat mata itu terlihat nyaris keluar dari kelopaknya saat sang Sabaku balas menggenggam tangan gadis itu. Termasuk Sakura. Gadis dengan helaian rambut pink itu langsung berlari menuju satu arah—kelas Hinata—bahkan tanpa mempedulikan sang kekasih yang berjalan di sebelahnya.

Terengah, Sakura memberitahu kabar ini pada Hinata.

Hinata yang seketika merasa hatinya telah jatuh saat mendengar satu kalimat tuduhan dari Sakura—"Gaara selingkuh?"

Oke, Hinata tahu Gaara dan dia tidak pacaran, namun 'selingkuh' berarti Gaara bersama gadis lain, dan KEMUNGKINAN terburuknya adalah Gaara bersama gadis yang diceritakan Matsuri tempo hari.

Panjang umur, pemuda yang kebetulan mengambil kelas yang sama dengan Hinata—matematika—itu datang, bersama gadis yang tadi.

Hinata tertegun beberapa saat, airmatanya hampir mengalir saat sadar bahwa lima menit lagi sensei mereka akan datang, dan menangis akan memperburuk aura hitam yang ditebarkan Sakura karena menganggap pacar sahabatnya berselingkuh. Hinata menahan tangan Sakura, menggeleng pelan, kemudian menarik gadis itu untuk duduk disebelahnya.

.

.

.

Itu hanya awal kecil. Kejadian-kejadian yang lain semakin menyiksa Hinata.

Seperti saat pertama gadis itu menghampiri Hinata—masih menggenggam tangan Gaara—tersenyum manis dan menyodorkan sebelah tangannyaa.

"Salam kenal. Aku Shion, mohon bantuannya ya!" gadis itu ceria dan ramah, berbanding terbalik dengan Hinata yang gugup dan pendiam.

"Um, ya, aku Hinata Hyuuga," Hinata tersenyum juga, menyambut uluran tangan Shion. Kemudian ia memandang Gaara meminta penjelasan siapa-gadis-yang-begitu-dekat-denganmu-ini, namun Shion tersenyum lagi dan berkata, "maaf ya, Hyuuga-san, aku dan Gaara-kun akan pergi ke kantin," saat Gaara membuka mulut.

Tanpa persetujuan, gadis manis itu menarik Gaara menjauh.

Hinata tak bisa menggambarkan bagaimana hatinya saat itu. Gadis itu bahkan tak ingat bahwa ia membawakan Gaara bento, karena BIASA-nya mereka makan siang bersama di tangga menuju atap, atau duduk di koridor menuju gudang.

Yang ada dipikirannya hanya:

Gaara tak menolak Shion.

Begitu pula saat bel pulang berdering. Hinata membereskan bukunya, kemudian seperti BIASA-nya ia melangkah menuju atap, mencari Gaara dan mengajak pemuda itu pulang. Namun, lagi ia harus menelan pahit karena saat membuka pintu atap, ia melihat Gaara tidur seperti biasa, tapi kali ini di pangkuan Shion, sementara gadis itu membungkukkan badan untuk mencium bibir Gaara.

Ukh.

Hinata membanting pintu atap dengan keras, kemudian gadis itu melangkah menjauh dengan perasaan kecewa.

Sebenarnya apa hubungan Gaara dengan Shion?

Esoknya, seperti BIASA-nya, Hinata menunggu Gaara di depan rumahnya, karena pemuda itu yang selalu mengantar-jemputnya setiap hari.

Namun ketika Hinata melirik arlojinya untuk kesekian kali, memastikan bel di sekolah akan berbunyi limabelas menit lagi, mendadak ia mendapat e-mail dari Gaara.

From: Gaara

Maaf Hinata, aku tak bisa menjemputmu untuk berangkat sekolah.

E-mail yang singkat, namun sukses membuat Hinata terbelalak sejenak, melirik arloji sekali lagi, kemudian berlari-lari menuju halte untuk naik bus, dan hampir terlambat.

Dan sekali lagi gadis itu harus menelan pahit karena saat ia berlarian menuju gerbang sekolah, sebuah motor sport merah yang sangat ia kenal melewatinya dengan cepat, namun Hinata bisa melihat helaian pirang Shion yang memeluk Gaara.

Sayangnya, sikap yakin Hinata bahwa tindakan Gaara itu hanya sekedar penyambutan biasa dari seorang teman lama—menurut gosip yang ia dengar, Shion adalah teman masa kecil Gaara—sangat kuat.

Namun, kesabaran manusia ada batasnya, bukan?

Dan yeah, Hinata lelah. Lelah selama sebulan membawa bento dua, namun selalu Kiba yang memakannya. Lelah setiap hari menuju atap, dan menemukan mereka berdua berciuman. Lelah setiap hari menunggu Gaara, namun pemuda itu tak kunjung datang. Lelah karena setiap jadwal mereka nonton film bareng, Gaara tak pernah datang. Lelah karena setiap Hinata menunggu sekedar e-mail dari Gaara, namun Gaara seakan melupakannya.

Sikap yakin itu meluntur, seiring dengan berjalannya tiap detik. Hanya Sakura, sahabat gadis itu yang selalu memberi semangat pada Hinata, walau sepertinya sang gadis pinky-pun ragu, melihat betapa dekat Gaara dan Shion.

Hinata akhirnya berhenti, berhenti mencoba mengerti sikap Gaara yang berubah. Selama satu bulan ia sudah menunggu, dan ia capek. Satu bulan selanjutnya Hinata mulai menjauh, bersikap biasa saat bertemu Gaara—yang herannya selalu bersama Shion—dan membalas e-mail cowok itu seadanya.

Hinata lelah, dan ia menjauh meski hatinya sakit.

.

.

.

.

.

.

Hari ini, Namikaze Naruto menjalani harinya yang seperti biasa. Bangun pagi, menggosok gigi dan mencuci mukanya, memakai seragam sekolah, kemudian menyisir rambut seadanya. Pemuda itu turun dan menyapa ayah-ibunya, memakan sarapan tanpa protes—diselingi candaan dengan sang ayah—mengecup pipi sang ibu dan mengambil kunci motor sport berwarna orange miliknya, siap berangkat ke sekolah.

Jalanan yang ramai membuatnya harus sangat berhati-hati—tanpa mengurangi kecepatan. Ia memilih mengambil jalan gang tikus, melewati kompleks perumahan—untuk pertama kalinya lewat sana, mencoba se-ngebut mungkin melewati jalanan yang sepi.

Maka dari itu ia amat sangat terkejut ketika seorang gadis berlari di perempatan gang, memotong jalur motornya.

Suara decitan rem dan motor yang berbentur aspal.

"Ck, shit!"

Naruto meringis, mencoba bangun, kemudian melepas helm. Ia mengabaikan motor kesayangannya, menghampiri gadis yang jatuh-hampir-ditabrak-motornya.

"Kau tidak apa-apa?" Namikaze muda itu mengulurkan tangan, menarik sang gadis lembut hingga berdiri. Thanks to Namikaze Kushina, ibu yang selalu mengajarkan sang anak menjadi seorang gentleman.

"Umm... sepertinya begitu," gadis itu mengerjap sekali, kemudian meringis saat merasakan daerah di atas lututnya yang terluka.

Blue ocean Naruto tampak cemas, ia menaikkan rok gadis itu tanpa malu, kemudian mengernyit saat melihat luka yang dialami sang gadis. "Umm, sepertinya sedikit parah," ia mengambil saputangan dari kantong celananya, membalut luka sang gadis seadanya. "Kuharap di sekolahmu ada ruang kesehatan."

Gadis itu mengangkat alis, heran dengan kalimat pemuda di depannya. Di setiap sekolah pasti ada ruang kesehatan kan? Apakah pemuda ini bercanda? Tapi mengapa nadanya begitu serius?

Naruto blushing sendiri saat ia sadar ia sudah menyingkap rok gadis yang tak dikenalnya, hingga menampakkan pertengahan paha sang gadis. "Ah, maaf," Naruto mengangkat kedua tangannya, nyengir dan mengusap tengkuknya, kebiasaan ketika gugup. "Lebih baik kau kuantar ke sekolah, kau tak mungkin bisa berjalan dengan kaki yang sakit."

"Baiklah," gadis itu berjalan tertatih, sementara Naruto mengambil motornya yang sempat terabaikan. Untung saja motornya tak apa-apa, hanya sedikit tergores saat terbentur aspal. "Naiklah," ia berkata pada gadis yang terlihat ragu itu, meyakinkan sang gadis dengan senyum. "Ah, SHS ya? Kebetulan aku tahu. Ayo!" lanjutnya ketika melihat badge seragam yang dipakai Hinata.

Tak seperti kebanyakan gadis yang Naruto kenal, yang biasanya canggung untuk naik motor sport, gadis ini naik dengan mudah meski kakinya sedang terluka.

Naruto tak ambil pusing, ia langsung memacu kecepatannya. Sekolahnya adalah Konoha Gakku, cukup jauh dari sekolah sang gadis, maka dari itu sang pemuda harus cepat jika ia tidak ingin terlambat.

.

.

.

Ckitt!

Suara decitan rem yang lumayan mengganggu pendengaran membuat beberapa orang anak yang sedang berjalan di sekitar gerbang menoleh. Namikaze Naruto, yang dasarnya memang cuek, sama sekali tak memperhatikan pandangan heran yang ditujukan padanya. Ia membiarkan gadis itu turun, berdiri di samping kiri Naruto dengan wajah menunduk.

"Um, terima kasih," ucap gadis itu.

Naruto menyeringai. "Tidak perlu berterima kasih, aku yang salah sudah menabrakmu." Pemuda berambut kuning itu berpikir sejenak, "ah, aku tahu cara berterima kasih yang lebih baik," ujarnya sambil tersenyum kecil. "Nona, kemarilah!"

"Eeh?" gadis itu mengangkat kepalanya, melangkah mendekati Naruto.

Satu kecupan di bibir.

Naruto menyeringai semakin lebar saat gadis itu menundukkan kepalanya malu, sementara wajahnya sudah semerah apel yang ranum. "Sama-sama, Nona," kata pemuda itu santai, menghidupkan mesin motornya, kemudian menggas motornya dan melesat pergi.

.

.

.

Hyuuga Hinata tak pernah mendapati Sabaku Gaara semarah ini sebelumnya. Well, ia tahu pemuda itu emosinya cepat tersulut, namun Gaara selalu bisa menjadi terkendali saat bersama Hinata. Bahkan ketika seorang preman mencoba mengganggu Hinata yang berada tepat disampingnya, Gaara terdiam, kemudian tanpa basa-basi menghajar preman itu.

Gaara tak pernah menggunakan verbal untuk menyalurkan emosinya—kecuali saat di atap, kejadian yang tak ingin Hinata ingat lagi. Ia sudah cukup mendengar bentakan Gaara yang berbahaya.

Namun kini, saat gadis itu—sekali lagi—terpojok, lagi-lagi dalam kurungan lengan kekar Gaara, Hinata kembali merasakan ketakutan itu, dalam ukuran yang lebih besar.

Seorang Hinata Hyuuga untuk pertama kalinya yakin, ia belum mengenal Sabaku Gaara sepenuhnya.

"Siapa orang itu?" bisikan Gaara yang berbahaya sekali lagi memasuki genderang telinganya. Napas mereka beradu, Hinata yang memburu karena takut, dan Gaara yang entah kenapa napasnya meliar.

Tak mendapat respon, Gaara menggeram. "Jawab aku, Hyuuga Hinata!" ia membentak. "Atau—"

"A-aku t-tak tahu," Hinata menyahut, mencoba menyembunyikan getar pada suaranya, "sungguh, Gaara, a-aku tak t-tahu..."

Gaara mendecih, "jadi kau ingin bilang kau berciuman dengan orang yang tak kau kenal? Hah! Tak kusangka kau serendah itu!"

Hinata terpukul. Kata-kata Gaara yang seolah mengatakan ia gadis paling rendah di dunia sangat menyakitkan hatinya. Mati-matian ia menahan likuid yang tergenang di kelopak matanya. Tak mengertikah Gaara arti kata-kata itu bagi seorang Hyuuga Hinata?

"Dia memang tak tahu, Sabaku," suara datar lainnya menyahut, "berhenti mendesaknya seperti itu."

Tak mempedulikan Hinata, Gaara menoleh dan melihat Uchiha Sasuke berdiri, bersandar di pintu gudang dengan kedua tangan terlipat di depan dada, sikap angkuhnya seperti biasa.

"Jadi, apa pedulimu, Uchiha?"

Sasuke mengangkat bahu, "aku pasti tak peduli jika saja bukan sahabatku yang mencium Hinata tadi."

Gaara mendecih, "sahabatmu, eh? Pantas saja ia sama brengseknya denganmu, berani mencium bahkan saat ia tak mengenal orang itu?"

"Setidaknya ia lebih baik darimu, yang meniduri murid baru itu," Sasuke mengecam pedas Gaara, tak mempedulikan kemarahan cowok itu.

"Masalahku dan Shion bukan urusanmu!"

"Dan masalah Hinata dan Naruto juga bukan urusanmu, Sabaku-san."

Sementara kedua pemuda itu beradu mulut, Hinata merasakan badannya makin menggigil. Takut, kecewa, semua perasaan menyeruak di dadanya, membuat gadis itu sesak. Gaara yang sudah meniduri Shion? Ukh. Kenyataan yang baru diketahuinya ini membuat Hinata semakin merasa sakit. Kepala gadis itu berkunang-kunang, dan Hinata merasakan semuanya menggelap.

.

.

.

Seorang pemuda berambut merah tampak gelisah dalam tidurnya. Pemuda itu mencoba memejamkan mata, namun kelopak matanya menolak untuk ditutup.

"Sial!" pemuda itu mendesis pelan. Ia membenahi posisinya hingga duduk dan bersandar di tempat tidur, mengabaikan hawa dingin yang menusuk langsung dadanya yang topless. Diacaknya rambut merahnya, dan ia berdecak pelan.

"Ngghh..." geliatan kecil yang berasal dari sampingnya membuat pemuda itu kembali memasang topeng yang selama ini ia pakai.

Sang pemuda sedikit terperanjat saat orang disampingnya memeluknya, dan saat ia merasakan helaian rambut pirang sang gadis yang bersandar di dadanya.

"Kau kenapa?" bisik sang gadis. Gadis itu merapatkan selimut yang menutupi tubuh mereka, kemudian merangsek duduk di pangkuan sang pemuda. Memeluk leher pemuda itu, menyesapnya dalam-dalam. Mengabaikan sentuhan kulit mereka yang begitu nyata.

Pemuda itu hanya diam, tak merespon sentuhan sang gadis. Jemarinya membelai rambut halus gadis itu, "tidak. Aku tak apa-apa."

"Ayolah, aku tahu kau ada masalah." Gadis itu menaikkan ciumannya hingga ke bibir sang pemuda yang merah alami. Mengecup bibir itu berulang kali, melumat bagian atas dan bawahnya bergantian.

"Aku tidak apa-apa, Shion." Pemuda itu menyahut lagi, mulai membalas ciuman yang diberikan sang gadis.

Tidak. Pemuda itu berbohong. Ia tidak sedang baik-baik saja. Meskipun gadis ini yang berada dalam dekatnya, entah kenapa pikirannya selalu pada gadis lain. Padahal sang pemuda sangat yakin, ia memang menginginkan gadis bernama Shion ini. Tapi gadis itu...

Sang pemuda menghela napas tak kentara. Untuk pertama kalinya ia merasakan perasaan seperti ini. Ia... bingung.

Mengabaikan rasa bersalah dan aneh yang terbit di hatinya, pemuda itu meneruskan ciumannya ke leher sang gadis. Membaringkan gadis itu ke tempat tidur, menikmati setiap sentuhannya pada gadis itu.

.

.

.

Hinata menghela napas. Gadis itu mengerjap lagi. Sinar mentari mendadak menyilaukan gadis itu, membuat Hinata harus membiasakan matanya.

Sudah pagi.

Sekali lagi, gadis itu menghela napas berat.

Sehari lagi, satu hari tanpa Gaara.

Seharusnya, ia sudah mulai terbiasa. Ya, seharusnya Hinata mulai terbiasa dengan absennya pemuda itu disampingnya.

Namun, ia tak menyangka akan sesulit ini. Hinata sudah terbiasa dengan kehadiran Gaara. Tanpa ia sadari, ia sudah terlalu membutuhkan Gaara.

Ia perlu Gaara yang mengerti semua kecanggungannya.

Ia perlu Gaara yang mengerti semua kegugupannya.

Ia perlu Gaara yang mengerti dirinya.

Pikiran gadis itu beralih pada kejadian kemarin. Saat ia pingsan di gudang sekolah, dan terbangun di ruang kesehatan, dengan Sakura yang menatapnya cemas. Gadis itu berkata kalau Sasuke yang meneleponnya, mengatakan kalau Hinata pingsan.

Lalu... kemana Gaara?

Apa pemuda itu benar-benar tak peduli?

Tanpa berbicara, gadis berambut indigo itu melaksanakan kegiatan hariannya. Membereskan tempat tidur, mencuci muka dan menyikat gigi, memakai seragam SHS-nya, menyisiri rambut indigo sepinggangnya, memakai sepatu, menyantap sarapannya, kemudian berjalan menuju sekolahnya.

Satu hari yang biasa, tanpa kehadiran Gaara.

Maka dari itu, Hinata sangat terkejut saat sepulang sekolah, ketika gadis itu sedang berjalan sebuah motor sport orange berhenti tepat di depannya. Pemiliknya membuka kaca helm yang ia kenakan, kemudian dengan cengiran khasnya ia menyapa Hinata.

"Hai."

Mengangkat alis, Hinata membalas sapaan itu, "umm... Hai?"

Pemuda yang ia ketahui bernama Naruto itu tersenyum lebar, "aku Namikaze Naruto. Bolehkah aku berkenalan denganmu, Nona?"

Cara perkenalan yang aneh. Namun Hinata membalas perkataan cowok itu, "t-tentu. Aku Hyuuga Hinata. S-senang berkenalan d-denganmu, Namikaze-san."

Cowok berambut spike itu meringis, "Naruto saja," ucapnya. "Kau ada waktu? Bagaimana kalau kita berjalan-jalan sebentar?"

Adakah pemuda yang baru saja berkenalan dengan seorang gadis, langsung mengajak gadis itu pergi? Seingat Hinata tidak. Bahkan Gaara tak pernah mengajaknya secara langsung seperti ini. Sepertinya pemuda itu terbiasa untuk membawa Hinata ke tempat yang ingin ia kunjungi tanpa meminta persetujuan sang gadis.

Namun anehnya, Hinata mengiyakan ajakan itu.

.

.

.

Dan disinilah mereka sekarang. Di Konoha Land, taman bermain dimana Hinata selalu bermain disini saat ia masih kecil. Gadis itu menikmati semua permainannya bersama Naruto. Bagaimana mereka bermain gelembung sabun, makan bananasplit berdua, menaiki wahana-wahana di Konoha Land berdua, dan diakhiri dengan melihat matahari terbenam di tempat yang menyerupai bukit.

Masih dalam euforia kebahagiaan, Naruto mengantar gadis itu pulang. Langit sudah gelap, dan dengan alasan tak ingin membiarkan seorang gadis pulang sendirian, ia mengantar Hinata. Menurunkan gadis itu tepat di depan rumahnya, Naruto melepas helm dan mematikan motor sportnya.

Hinata tersenyum. "A-arigatou, Naruto-kun." Gadis itu membungkukkan badan, kemudian hendak berbalik ketika sebuah lengan mencengkramnya.

"Sepertinya kau melupakan sesuatu, Hinata-chan."

"A-apa?" Hinata berbalik, dan ia langsung terbelalak saat merasakan bibirnya ditekan benda yang lembut dan basah.

Naruto menciumnya lagi. Kali ini lebih dalam dan intens. Hinata bisa merasakan bibir pemuda itu, menekan bibirnya, mengecup bibir mungilnya—kecupan singkat yang berulang kali.

Wajah Hinata benar-benar merah padam. Ia menunduk, menyembunyikan semburat merah itu, "Lain kali i-ingatkan a-aku untuk t-tidak mengucapkan terimakasih p-padamu, Naruto-kun," ucap gadis itu pelan.

Naruto menampilkan cengiran lebarnya, "tapi lain kali aku yang akan berterimakasih padamu, Hinata."

Belum sempat Hinata mencerna kalimat Naruto, motor orange itu melesat menjauh, meninggalkannya sendiri.

Menghela napas, Hinata memutuskan masuk.

.

.

TBC

.

.

Next Chapter:

Tanpa Hinata sadari, bulir-bulir bening menghiasi wajahnya. "Ini tidak adil, Gaara..." bisikan gadis itu bergetar, "kau... t-tidak bisa seenaknya berbuat seperti i-itu padaku..."

.

"Suatu saat, kau harus memilih, Hinata, atau Shion."

.

"Aahh... aku mengenalmu!" pemuda itu menepukkan tangannya. "Kau ketua geng Sand kan?"

"Hn."

"Ada apa kau menghampiriku? Kau... ingin mengajakku balapan?"

.

A/N: Chapter terakhir yang ku-update sebelum hiatus untuk ulangan umum. Gimana? Udah ketebak kan siapa cewek itu? ;)

Special Thanks to:

Lollythan-chan (udah update, sankyuu reviewnya), uchihyuunagisa (haha *ketawa garing* disini ada 'sedikit' SasuHina kan?), kwacchi (udah update!), zoihyuuga (makasih kalau fic ini kerasa hurt-nya! :D sengaja bikin Hime menderita. Alurnya pas? Makasih ya, aku kira kecepetan ;D), keiKo-buu89 (Iya, Hime masih dalam masa sedih, #plakk), (noname) (makasih, jangan panggil senpai, dae aja!), merychan (Iya, kasihan Hinata... hehe), TheAmethystHime (pertanyaanmu udah kejawab kan?), Shyoullavaen (Iya, Gaara plin-plan ya! #hoi, siapa yang bikin Gaara kayak gitu?), dolchu (kyaa... seme-ku... kapan kamu bikin akun, Sayang? :D), Dhinieminatsukiamai (udah! ^^b), uchihayoichi (Itu bukan pacar Gaara kok! Makasih kalau kamu suka!), OraRiHinaRa (thanks ya, semua pertanyaanmu udah kejawab kan?).

Review, please?