ChanHun fic
EXO © SM Entertainment
EXO's members © Their parents
Warning: AU, OOC, Typo(s), Weird, Failed, etc
.
.
Don't like, don't read
.
.
"Jadi kenapa kau kembali lagi pada kebodohanmu?"
Sehun mengernyitkan dahi, lalu menoleh untuk menatap wajah Jongin, "Memangnya kau harus tahu semua yang terjadi di hidupku ya?"
Jongin menggebrak meja; lumayan keras sampai anak-anak di kelas mereka menoleh ingin tahu, "Bukankah sudah kubilang padamu untuk lepaskan saja dia? Kau ingin kehilangan apa lagi, Hun-ah? Waktumu terbuang sia-sia oleh dia, dan kenapa hal itu terjadi?" mata Jongin nyalang menatapnya, "Karena kebodohanmu! Kau selalu membiarkan dia melakukan semuanya, selalu diam seperti orang dungu demi dia," Jongin membuang muka dan mendecih tak suka, "kau menyedihkan, dan aku sebegitu bodohnya ingin menyadarkanmu yang sudah terlalu buta."
Dan Sehun hanya bisa terdiam di tempat duduknya, tanpa berkata-kata. Semua kata mengejek yang sering di dengar olehnya terangkum dalam setiap kalimat yang diucapkan Jongin tadi.
"Kau tenang saja, Jongin. Aku juga berpikir seperti itu, sebenarnya," matanya memandang lurus ke depan, jari tangannya memainkan pulpen yang bertengger di sana, "aku kadang berpikir, kenapa bisa aku terperangkap seperti ini?"
"Lalu kau temukan jawabanmu?"
"Tak ada jawaban, Jongin. Hanya detakan jantungku saja yang terus berpacu karenanya."
"You're sick!"
"Yes, I am."
Namun apakah semuanya berubah lebih baik?
Sehun rasa, iya.
Walau teman-temannya masih merutuki keputusannya yang dianggap sangat bodoh dan tanpa dasar. Dia bisa apa? Kekuatan cinta itu begitu besar, dan jika tak dituruti akan semakin membesar dan membunuhnya secara perlahan.
FLASHBACK
"Jadi kau mau tinggal lagi di apartemen bersamaku?"
Dia tersenyum, "Maaf, untuk saat ini tidak bisa," ujarnya pelan, "ada beberapa hal yang menjadi pikiranku, dan hal itu tidak berpusat padamu."
Sweet liar.
Sehun mengusap belakang kepalanya, lalu tertawa tanpa beban, "Lagipula mungkin ada temanmu yang ingin menginap di apartemenmu, aku tidak enak jika mengganggu. Akan lebih baik jika aku tinggal di rumah bersama dengan orang tuaku," maju satu langkah, dia mengecup pelan bibir Chanyeol, "Selamat malam, mimpi indah. Sampai bertemu nanti, Hyung."
Sehun tersenyum kecil, lalu berjalan melewati pagar rumahnya. Menutupnya perlahan, dengan sebelah tangan melambai ke arah Chanyeol yang diam di tempat.
Ah, lumayan menyakitkan ternyata.
"Apa tidak ada yang ingin kau katakan padaku, Hyung?"
"Apa kau hanya bisa diam dan melihatku dalam kepura-puraan semu ini?"
"Aku mencintaimu, karena itu aku selalu memilihmu. Tapi apakah hanya aku yang harus berusaha?"
Memasuki rumahnya, dia mulai terdiam dalam lamunannya. Senyum yang diperlihatkannya pada Chanyeol sejak tadi menghilang. Sehun memikirkan semuanya, memikirkan kelanjutan dari hubungan yang sebelumnya dia akhiri sepihak namun kembali terajut dengan kusut.
END OF FLASHBACK
Terkadang Sehun melihat sekitar, namun dia tak menemukan Chanyeol di manapun. Dia hanya bisa tersenyum, tak tahu harus berpikir seperti apa. Yang jelas, dia tak berpikiran positif soal hal ini.
"Aku tak tinggal di apartemen miliknya lagi, apa yang kuharapkan? Tentu saja dia lebih memilih membawa orang-orang itu ke apartemennya; lebih private dan jauh dari gunjingan orang lain."
"Lalu kenapa aku menolak tinggal dengannya?"
"Ah, ya, suara-suara itu; menyakitkan."
Dia melangkahkan kakinya dengan berat. Namun ditahannya agar tak ada ekspresi sedih di sana. Semua orang akan senang melihatnya terpuruk, bahkan mungkin Chanyeol pun akan ikut senang. Tiap hal yang dilakukan laki-laki itu selalu meremukkan hatinya, walau dia sendiri selalu memasang ekspresi riang gembira.
Malam itu masih terpatri jelas dalam ingatannya, saat dia berdiri di ruang tamu yang gelap gulita sendirian, menyaksikan sebuah interaksi yang membuat dirinya kebingungan, tak tahu apa yang mesti dilakukannya. Laki-laki yang membawa Chanyeol dan Chanyeol sendiri datang dengan bibir saling bertaut dalam, tak merasakan dunia sekitar mereka. Tangan Chanyeol meraba-raba ke dalam baju yang dipakai laki-laki itu, lalu setelah bibir itu terlepas membisikkan kalimat-kalimat mesra yang tak terdengar di telinga Sehun. Namun entah kenapa dirinya bergejolak, melihat pipi laki-laki yang dibisiki itu bersemu kemerahan.
Sampai pagi, mereka tak keluar. Namun Sehun mendengar semuanya. Dia diam, dan melangkahkan kakinya ke dapur apartemen mereka.
"Aku harus tetap diam."
"Aku tak boleh terdengar."
Napasnya memburu cepat, matanya panas. Namun dirinya seakan tak berdaya, sampai pagi menjelang. Baru jam 7 pagi, dia bisa memaksa tubuhnya untuk bergerak dan keluar dari apartemen mereka berdua.
Masih terngiang jelas apa yang dikatakan Jongin kala itu padanya.
"Kalau begitu lepaskan saja dia."
Sehun memandang ke atas, lalu tertawa kecil, "Ternyata memang tidak bisa, Jongin," dia berbisik pada dirinya sendiri, "aku begitu mencintainya. Untuk saat ini, aku masih perlu waktu."
Lalu matanya kembali memandang lurus ke depan. Dia berjalan ke rumahnya dalam kesunyian yang menyenangkan, sejenak melupakan kehidupan percintaannya yang telah kembali dan menjadi semakin rumit.
"Aku pulang!"
"Oh, hey!"
Dia tertegun di tempat saat pandangannya tertuju ke arah seorang laki-laki yang sedang duduk di ruang tamu rumahnya dengan sebelah tangan memegang gelas dan satu tangan lagi melambai ke arahnya.
"Atur ekspresimu, Sehun. Kau tidak boleh menampakan semuanya, terlebih pada Chanyeol-hyung!"
"Chanyeol-hyung?" dia tersenyum, lalu matanya memandang wajah laki-laki itu yang kembali tampan seperti biasanya; tanpa kejanggalan yang terlihat beberapa hari sebelumnya, "Kau tampak hebat, ada keperluan apa? Bukannya kau sedang sibuk ya?"
"Aku merindukanmu," mata Chanyeol masih bertaut dengan miliknya, "kau benar-benar tidak ingin tinggal bersama denganku?" laki-laki itu lalu berdiri dari tempat duduknya, menuju ke arah Sehun, "suaramu, tingkah lakumu, semuanya membuatku kesepian memikirkannya tiap kali aku bangun dan tak menemukanmu disampingku."
Sehun tertawa kecil, "Oh, right. You're so cheesy, ingatkan aku lagi seberapa cheesy-nya dirimu saat kita tinggal bersama."
"Tapi itu kenyataannya, Hun-ah," tangan kanan Chanyeol merayap ke pinggangnya, "tidakkah kau merasa begitu? Bangun tanpa ada aku disampingmu."
Sehun menahan napas.
"Tapi bukan hanya aku 'kan yang pernah tidur di sampingmu, Hyung? Kau dan bualan manismu."
"Ada beberapa hal yang masih ingin kulakukan sendirian, Hyung," Sehun tertawa kecil, sedang tangannya melepaskan pegangan Chanyeol dari pinggangnya, "aku juga baru menyadari kalau aku sangat merindukan kedua orang tuaku."
"Berapa lama kau akan tinggal di rumah orang tuamu?"
"Aku juga belum tahu. Mungkin setelah rasa rinduku berkurang?"
Chanyeol tersenyum, lalu mengecup pipi Sehun pelan, "Aku akan selalu menunggumu."
"Thanks, Hyung."
"I love you," bisik Chanyeol pelan di telinganya, "aku harap kau tetap mengingatnya."
Sehun tertegun, lalu menyunggingkan senyum manis.
"Aku harap kau benar-benar serius mengatakannya, Hyung."
"Aku tahu, dan aku tak akan pernah lupa."
Tapi hubungan yang mereka jalani tak sama seperti sebelumnya lagi. Jarang sekali komunikasi antara mereka berdua terjalin, bahkan hampir dapat dikatakan tidak ada jika Chanyeol tidak mengambil inisiatif untuk menghubungi Sehun terlebih dahulu. Sehun seakan menjaga jarak dengannya; namun saat mereka bertemu secara langsung jarak itu seakan tak ada.
"Aku sampai bingung dibuatnya. Dia tak berkata apa-apa, kami tak punya masalah. Tapi kenapa dia seakan menghindariku?"
"Kau tahu Sehun, dia memang pendiam 'kan? Lagipula dia sendiri bilang padamu kalau dia sangat merindukan keluarganya, mungkin saja dia menghabiskan waktu dengan keluarganya; sampai lupa untuk menghubungimu."
"Kau yakin begitu?"
Nada ragu Chanyeol tertangkap oleh telinga Jongdae, dia menaikkan satu alisnya keheranan, "Kau bilang kalian tak ada masalah, namun ekspresimu memperlihatkan hal yang berbeda. Kau jujur saja, ada masalah apa sebenarnya antara kau dan Sehun?"
Chanyeol menghela napas, terlalu malas untuk menceritakannya, "Aku tak tahu detail-nya, yang jelas sebelum dia pergi dari apartemen kami dia menatap sangat dalam padaku untuk sesaat, lalu entah darimana pikiran putus dariku sudah bersarang di otaknya."
"Sudah kau tanyakan padanya?"
"Jongdae-ya, kau tahu seberapa takutnya aku?" Chanyeol mengusap rambutnya dengan gusar, "Apa kau yakin pikirannya untuk putus dariku tak akan kembali?"
"Memangnya apa yang terjadi sebelum ini?"
Chanyeol menundukkan kepalanya, merasa malu untuk bercerita.
"Kau bermain lagi?"
"Aku bersumpah kalau aku tidak sadar, Jongdae-ya. Yang kulihat saat itu adalah Sehun, dan aku terus memanggil namanya sepanjang malam. Tapi—"
"Bukan Sehun yang ada di sebelahmu?"
Menghela napas sebentar, "Ya, dan aku sungguh menyesal! Aku mencari Sehun di setiap sudut ruangan saat itu, dan dia tidak ada dimana pun," dia menutup matanya dengan telapak tangannya, "aku yakin Sehun tak melihat apa pun, tak mengetahui apa pun. Dia pulang ke apartemen kami jam 9 pagi."
Dengan bisikan kecil, Chanyeol menambahkan, "Lalu kenapa tiba-tiba jadi seperti ini?"
"Kau tak menyesal, Yeol?" Jongdae menatap punggung Chanyeol dengan wajah tak suka, "Apa kau memberi tahu Sehun tentang hal ini? Dari ceritamu saja aku bisa menangkap kalau kau masih belum berhenti menjadi seorang brengsek."
"Aku tak bisa memberi tahunya."
"Kau memangnya yakin dia benar-benar tak tahu?"
Chanyeol meneguk ludah, tenggorokannya terasa kering, "Kau tahu seberapa brengseknya aku dulu 'kan?"
"Kau masih tetap brengsek, Yeol, kau tidak bisa memungkiri," Jongdae tak bisa menahan diri untuk tak memutar bola matanya, "kau bermain dengan orang lain berapa lama? Hampir 4 tahun hubunganmu dengan Sehun, setengah waktumu kau habiskan untuk menggoda orang lain!"
"Aku berusaha, Jongdae. Aku berusaha!"
Jongdae geleng-geleng kepala, "Satu hal yang aku tak habis pikir," ujarnya dengan keras, "kenapa Sehun bisa tak tahu tentang hal itu, di saat semua orang tahu. Itu rahasia umum…."
Chanyeol terdiam.
"Kenapa dia malah memilih pecundang sepertimu di saat ada seorang Kris dengan segala kesempurnaannya bertekuk lutut di hadapannya?"
Dia masih tak bisa berkata-kata. Apa yang dikatakan Jongdae memang benar. Hampir 4 tahun, dan dia masih belum berani mengambil langkah serius dengan hubungannya dengan Sehun. Hampir 4 tahun, dan tak terhitung berapa kali dia bermain belakang dengan orang lain.
"Tidak kah kau menyesal?"
Chanyeol mengangkat kepalanya, berusah menjelaskan, "Aku menyesal! Sangat menyesal, tapi—"
Jongdae hanya bisa tertawa, miris, "Kau tidak menyesal 'kan?" geleng-geleng kepala, ia berdiri dan mengambil soda yang berada di dalam lemari es miliknya, "Tapi apa? Kau masih belum siap? Wajahmu masih laku di luaran sana? Banyak orang yang bertekuk lutut padamu untuk kau jamahi?" lalu tawa kembali hadir, "Kau tahu apa, Yeol? Putuskan Sehun, kalau kau masih mencari-cari alasan; mencari sebuah pembenaran, karena dia begitu mencintaimu."
"Kau tahu aku tak bisa."
"Banyak orang lain yang bisa menjaga Sehun selain kau," dia meminum sodanya, dan mengernyit saat merasakan soda itu menggelitik lidahnya, "hanya mengingatkan, sebenarnya."
Langit terlihat tak bersahabat, dengan dikelubungi oleh banyaknya awan yang berwarna kehitaman. Saat itu Sehun tak membawa payung, dan dalam hati dia berdoa agar tak turun hujan.
Namun hujan tetap turun. Membasahi kepalanya dengan rintik-rintiknya, sebelum akhirnya berhenti dengan tiba-tiba.
"Kau sendirian, Sehun-ah? Mana Jongin?"
Matanya mengerjap terkejut, sebelum menoleh ke samping dan menemukan Kris di sebelahnya tersenyum dengan tangkai payung menghalangi seluruh wajahnya terlihat.
"Dia ada kegiatan klub, jadi aku pulang lebih dulu."
"Oh ya? Pantas saja kau sendirian."
Lalu keheningan menyertai mereka berdua. Berjalan dalam diam yang menyesakkan, Sehun tak tahu harus membicarakan apa. Sudah berkali-kali dia menolak Kris, dan kali ini mereka malah dihadapkan pada situasi canggung dimana Sehun sendiri tidak bisa lari jika tak ingin basah kuyup.
"Ah, ya, kau akan belok ke sana 'kan? Kalau begitu nanti aku berhenti di mini market itu saja untuk membeli payung sebentar."
"Hm? Tidak perlu," ujar Kris, matanya tetap mengarah ke depan, "biar kuantar sampai rumahmu."
"Tapi—"
"Aku baik padamu bukan berarti aku ingin mengambil hatimu, Hun-ah. Aku sudah dengar dari Jongin kalau kau kembali dengan Chanyeol, tenang saja."
Sehun menundukkan kepalanya, "Aku hanya tak ingin merepotkanmu."
"Bicara apa sih?" Kris tersenyum kecil, lalu mengusap rambut Sehun dengan lembut, "Sudahlah, ayo jalan. Hujannya semakin deras."
Sehun tersenyum kecil, dan tanpa berkata-kata mereka berjalan beriringan berdua.
TBC
