.

.

.

"Angin itu tak terlihat, tapi bisa dirasakan. Karena itulah, jangan mudah percaya pada matamu, tutuplah matamu dan rengkuhlah…maka kau akan merasakannya."

.

.


.

"Masa Kini, Masa Lalu, dan Masa Depanku"

.

Rate: T

.

Pairing(s): Gumiya x Gumi slight Gakupo x Gumi

.

Warning(s): Typo(s), Ejaan Yang Diragukan, alur cepet, kejanggalan-kejanggalan jika ada, diksi mepet, galau(?)

.


.

.

.

"Chapter 03: Masa Lalu ~Luka Terdalam~"

.

.

.

Gumi, ibu dan ayah mendapatkan hadiah tiket gratis liburan ke Okinawa selama dua minggu. Jaga rumah yang baik dan jadilah anak pintar ya. Juga, jaga kesehatanmu dan sampai jumpa dua minggu lagi sayang~

Ibu & Ayah

PS: Oh, jangan membawa laki-laki ke rumah kalau dia bukan calon suamimu ya~


Wajah Gumi langsung merah padam setelah membaca pesan singkat yang ditinggalkan oleh ibunya di meja makan. Astaga, sekarang dia mengerti kenapa Gumiya dengan santainya masuk dan bertingkah seperti rumah Gumi adalah rumahnya sendiri. Gumi akhirnya menghela napas pasrah, ia melirik jam dinding yang sekarang menunjukkan pukul enam sore.

"Gumiya-kun, kau ingin makan malam apa?" tanya Gumi, Gumiya yang tengah dengan santainya duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi itupun mengecilkan volume televisinya sebentar.

"Terserah kau saja, aku tidak pilih-pilih makanan kok!" balas Gumiya, Gumi kembali menghela napas. Tapi ia cukup mengerti kalau bertanya pada Gumiya lagi malah akan membuang waktunya sia-sia. Jadi ia segera membuka kulkas dan mengamati apa yang ada di dalamnya.

"Uwah, ibu benar-benar baru belanja ya tadi? Semua bahan di kulkas lengkap sekali," gumamnya, akhirnya Gumi memutuskan untuk membuat tempura dan sup miso. Dengan keputusan itu, Gumi segera memakai celemeknya dan mulai memasak.

Tidak butuh waktu lama untuk Gumi menyelesaikan masakannya, ia segera menata meja makan sambil menunggu nasinya matang. "Gumiya-kun, sudah waktunya makan!" seru Gumi dari dapur, Gumiya yang mendengarnya pun langsung mematikan televisinya dan berjalan ke meja makan.

Melihat Gumiya sudah mendudukan diri di meja makan, Gumi menyunggingkan senyumnya dengan sendirinya. "Kau masak apa?" tanya Gumiya setelah ia sudah duduk di salah satu kursi meja makan. Gumi yang baru saja mematikan rice cooker itu pun menatap Gumiya sebentar dan menjawab,

"Aku memasak tempura dan sup miso, itu yang paling cepat matang. Kukira Gumiya-kun kelaparan, jadi aku membuat sesuatu yang bisa cepat kau makan."

Gumiya hanya ber-ooh-ria dan segera memakan nasi yang baru saja diambilkan Gumi, Gumi yang sedikit heran dengan perubahan Gumiya yang tiba-tiba menjadi diam itupun hanya menautkan kedua alisnya, tapi ia memilih tidak ikut campur dan hanya mengangkat bahunya. Ia kemudian mengambil tempat di seberang Gumiya dan mulai memakan makanannya sendiri.

.

.

~Gumi Point of View~

.

.

Haaaah, aku benar-benar tidak mengerti orang ini…

Sekali waktu dia baik detik berikutnya dia sudah kembali menjadi seorang pemaksa yang menyebalkan. Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikirannya…

Aku melirik ke arah Gumiya-kun yang sedang dengan tenang memakan tempuranya, kenapa dia diam saja ya? Apa masakanku tidak enak? Atau enak? Apa dia menikmatinya? Kenapa sih dia tidak berkomentar dulu!? Mou, aku sebal!

Aku mengerucutkan bibirku sedikit, refleks karena kesal. Dengan cepat aku memakan nasiku dan menyumpitkan tepuraku dengan kesal. Dia benar-benar menyebalkan! Kenapa sih dia yang harus menjadi pengabul doaku? Apa tidak ada malaikat lain apa? Dan lagi, kenapa aku juga harus berharap pada hari itu dan detik itu? apa aku tidak bisa melakukannya lain kali? Mou, atashi no baka!

"Kalau kau makan cepat-cepat begitu kau akan tersedak, Gumi." Peringat Gumiya-kun tiba-tiba.

Gumi...

Mendengar namaku dipanggil seperti itu membuat wajahku menghangat, dadaku berdegup tidak karuan dan aku seperti sesak napas. "Uhuk, uhuk, uhuk..." Dan yah, pada akhirnya aku tersedak makananku sendiri.

"Sudah kubilang jangan makan cepat-cepat kan, kau selalu tidak mau mendengarkanku sih," ucap Gumiya, dia berdiri dan menepuk-nepuk punggungku serta memberikanku segelas air. Aku langsung menyambar gelas air yang disodorkannya dan meminumnya dengan cepat.

"Haaah, akhirnya..." aku langsung menghela napas lega, syukurlah aku tidak mati tersedak. Tidak lucu kalau aku mati gara-gara tersedak kan? Nggak elit banget. "Ah, arigatou, Gumiya-kun." Ucapku, Gumiya-kun hanya mengangguk sebagai tanggapan atas ucapan terima kasihku.

Gumiya-kun segera kembali duduk di tempatnya dan menghabiskan makanannya, aku pun akhirnya memaklumi sikap diam Gumiya-kun dan melanjutkan acara makanku sendiri.

.

.

.

"Gochisousama deshita," salam kami berdua bebarengan, aku sedikit terkejut dengan timing kami yang begitu selaras, sampai-sampai aku tidak tahan untuk tertawa. Gumiya-kun pun terkekeh pelan di seberang.

"Tumben kita pas," komentarnya, aku menghentikan tawaku sebentar dan mengangguk, pertanda aku setuju dengan komentarnya. "Kau boleh istirahat, biar aku yang membereskannya." Ucap Gumiya-kun, ia menumpuk piring-piring dan mangkok-mangkok kotor yang baru saja kami gunakan.

"Eh? Tidak usah," aku mencoba mencegahnya, namun Gumiya-kun tidak mendengarkanku dan membawa kumpulan perkakas makan kotor itu ke tempat mencuci piring. Aku yang tidak punya kerjaan pun hanya menatap Gumiya-kun menyelesaikan aksi cuci piringnya.

Kalau dipikir-pikir kenapa aku dan Gumiya-kun seperti pengantin baru saja ya? Aku memasakkan untuknya dan dia yang mencuci piringku, apalagi kami satu rumah berdua saja ... Astaga! Tidak, tidak, tidak! Apa sih yang kau pikirkan Nakayama Megumi!? Apa kau gila, hah!?

Aku segera menghapus pemikiran tidak jelas itu dan beranjak dari posisiku, "Gumiya-kun, kau bisa tidur di kamar tamu. Letaknya ada di lantai atas tepat di samping kiri tangga, aku mau ke kamarku dulu." Ucapku sebelum aku meninggalkan meja makan.

.

.

.

Segera setelah aku sampai di kamarku sendiri, aku segera membanting tubuhku ke atas tempat tidur. Aku meringkuk dan memikirkan hal-hal yang terjadi hari ini... aku bertemu dengan malaikat–yang jika aku bilang pada siapapun mereka pasti menganggapku tidak waras, aku bisa berbicara lancar dengan Gakupo-kun, orangtuaku pergi berlibur tanpa memikirkan anak semata wayangnya, dan sekarang aku harus tinggal berdua dengan pemuda jelmaan malaikat yang menyebalkan itu.

Menyebalkan...

Apa memang Gumiya-kun itu menyebalkan? Iya sih, dia itu pemaksa, mulutnya pedas, tak tahu perasaan orang, labil, suka terburu-buru, misterius... tapi kenapa aku tidak bisa membencinya? Ya, kuakui aku sebal tapi aku tidak bisa membencinya... apalagi, memangnya dia bisa kusebut menyebalkan? Dia melakukan semua itu untukku kan? Untuk kebaikanku kan? Lalu kenapa aku terus mengeluh?

Aku menghela napas, tidak mengerti dengan keadaanku sendiri. Selain itu, aku kan menyukai Gakupo-kun, tapi kenapa sekarang yang ada di pikiranku hanyalah Gumiya-kun? Kenapa aku berdebar-debar jika di dekatnya? Kenapa aku merasa sesak napas saat ia menyebutkan namaku? Kenapa aku merasa wajahku memanas melihat senyumnya? Kenapa sekarang aku malah memikirkannya? Kenapa aku tidak bisa memikirkan Gakupo-kun sama sekali?

Aku tersentak kaget menyadari bantal yang kupeluk sembari meringkuk terasa dingin, permukaannya telah ternodai titik-titik air yang berasal dari mataku. Kenapa aku menangis? Apa yang kutangisi? Kenapa dadaku terasa sakit? Apa sebenarnya yang terjadi padaku?

.

.

~Gumi Point of View—END~

.

.

Di sisi lain, Gumiya yang sedang berada di balik pintu kamar Gumi itupun terdiam, mendengar isakan halus Gumi membuatnya bergeming. Ia mendongak, di tengah kesunyian isakan Gumi memberi warna pedih pada batinnya. Ia juga tidak tahu mengapa, tapi ia merasa pilu mendengar isakan Gumi.

Tiba-tiba cahaya hitam muncul dari jantung Gumiya, menyebabkan pekikan tertahan dari pemuda hijau. Gumiya memegangi dada kirinya, tempat cahaya hitam itu mucul, rasanya jantungnya sedang terikat rantai yang kian lama makin erat. Jantungnya seakan bisa hancur kapan saja.

Tak lama, cahaya hitam itu hilang, meninggalkan Gumiya dengan napas terengah-engah di depan kamar Gumi. Gumiya menghela napas panjang dan mencoba berdiri, berusaha tidak menimbulkan suara sedikit pun agar Gumi tidak menyadari keberadaannya. Bertumpu pada dinding yang ada di sebelahnya, Gumiya menahan tubuhnya sendiri. Kepalanya terasa pening dan jantugnya terasa sakit, ia terus mencoba menormalkan sistem pernapasannya dan dengan sempoyongan kembali ke kamar tamu–kamarnya sendiri di rumah Gumi.

.

.

.

~xXx~

.

.

.

"Hari ini akan kubuat banyak kesempatan agar kau bisa mengobrol dengan Gakupo itu, kuharap kau tidak menyia-nyiakannya, Gumi." Peringat Gumiya, Gumi yang sedang memakan omelet rice-nya itu pun tersentak sedikit.

"Eh? Lagi? Dan juga, kenapa kau tidak meminta persetujuanku dulu Gumiya-kun!?" protes Gumi, sedangkan yang diprotes hanya terus berjalan sambil bersiul tanpa dosa. Gumi menggembungkan pipinya dan mempercepat langkahnya agar mendahului Gumiya. Gumiya pun hanya diam melihat Gumi berjalan cepat melewatinya, malah sebuah senyum melengkung di paras tampannya.

Saat sekeliling mereka mulai sepi, Gumiya mengeluarkan sebuah bulu dari kepalan tangannya. "Saa, tunjukkan padaku kalau kau benar-benar bisa melakukannya..." bisiknya kepada bulu di tangannya. Sedetik kemudian, bulu itu diselimuti cahaya putih dan hancur berkeping-keping.

Gumi berhenti melangkah tiba-tiba, ia merasa jantungnya sempat berhenti sejenak tadi... tapi tentu saja hal itu tidak mungkin bukan?

"Apa yang kau lakukan dengan berdiri disitu seperti orang bodoh, Baka?" ucap Gumiya tak peduli saat ia melewati Gumi yang sedang membatu. Sebuah perampatan kemudian muncul di pelipis Gumi.

"Jangan panggil aku bodoh! Tidak sopan!" protes Gumi, yang tentunya tidak diindahkan oleh pengguna marga Nakajima di depannya.

"Lebih baik kau berjalan agak cepat biar kita tidak terlambat," kata Gumiya masih tak acuh. Gumi menghela, entah sampai kapan ia akan bisa bertahan dengan makhluk hijau itu.

.

.

.

~xXx~

.

.

.

"Oh, itu Gakupo." Ucap Gumiya datar, Gumi langsung jantungan mendengarnya. Ia dengan cepat menoleh dan menemukan Gakupo sedang berjalan dengan santai sambil membaca buku. "Uwah, aku kagum dia tidak tertabrak apapun dengan cara jalan seperti itu," puji Gumiya datar.

Gumi mendelik, "Daripada memujinya seperti itu bukannya lebih baik kau menghentikannya sebelum sesuatu terjadi padanya, Gumiya-kun!?" bentak Gumi, Gumiya menatap gadis bermanik klorofil itu datar.

"Kau yang akan melakukannya, kau akan berusaha bukan?" peringat Gumiya, sekujur tubuh Gumi langsung tegang mendengarnya. Gadis itu kemudian mengangguk ragu.

"U-um, ganbarimasu..." semangatnya pelan, Gumiya langsung mendorong punggung Gumi agar gadis itu lebih dekat dengan Gakupo, oh tidak, Gumiya mendorongnya terlalu keras sampai Gumi menabrak punggung kepala terong itu.

"A-ano, ohayou Gakupo-kun. Tumben ya kita ketemu di gerbang?" salam Gumi walaupun agak terpatah di awal, Gakupo segera memasukan buku yang sedari tadi dibacanya dan membalas sapaan Gumi.

"Ohayou. Hmm, mungkin karena aku kepagian hari ini. Tumben juga nih, Megumi-chan yang menyapaku duluan. Ada angin apa?" gurau Gakupo, wajah Gumi langsung memerah.

"Um, tidak... apa tidak boleh?" tanya Gumi malu-malu, Gakupo berkedip beberapa kali dan tertawa.

"Tentu saja boleh, kenapa tidak?" balas Gakupo, Gumi menyunggingkan senyum manisnya—

"Arigatou,"

—yang membuat Gakupo hampir saja mengeluarkan cairan hangat nan kental berwarna merah dari hidungnya.

.

.

.

Gumiya menyangga dagunya seraya melihat ke luar jendela. Sudah sepuluh menit dia duduk di bangku kelas dan seorang Nakayama Megumi belum juga mneunjukkan batang hidungnya.

Pemuda hijau itu akhirnya mengalihkan pandangnnya ke pintu kelas ketika mendengar tawa halus Gumi, 'Ah, kelihatannya dia berhasil.' batinnya. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya, namun entah mengapa ada pula sedikit perasaan kecewa di dadanya. Gumiya segera menggelengkan kepalanya beberapa kali, sepertinya terlalu lama di dunia manusia memang membuatnya dan otaknya agak gila.

Saat istirahat dimulai pun Gakupo sudah mulai bergerak untuk mengajak Gumi makan siang bersama, '...oh, jadi kepala terong itu benar-benar menyukai Gumi ya? Yah, semuanya jadi mudah deh kalau gitu.' pikir Gumiya. Gumi pun menerima ajakan Gakupo, ah tentunya dengan mengajak Gumiya ikut serta. Alasannya sih karena ia jarang makan bersama cowok, apalagi Gakupo dan Ted adalah idola sekolah. Kalau dia tiba-tiba makan siang dengan mereka berdua sendirian pasti timbul gosip yang tidak-tidak. Padahal Gumiya tahu ini hanya akal-akalan Gumi karena dia masih berdebar-debar kalau di dekat Gakupo. Gumiya akhirnya menyetujui permintaan Gumi, walapun ia bilang hanya sekali ini saja. Dan tentunya Gumiya mendapatkan satu aura pembunuh entah darimana.

Hari-hari mulai berlanjut damai seperti biasa, Gumi sudah mulai terbiasa dengan Gakupo berada di sekitarnya. Gadis itupun sudah lancar berbicara di depan pemuda bermanik amethyIst itu. Kasane Ted pun sudah mulai bergerak, menodong Gakupo untuk menyatakan perasaannya, begitupula dengan Gumiya yang pada dasarnya adalah orang yang tidak sabaran.

.

.

.

~xXx~

.

.

.

"Kenapa sih kau masih berkata belum siap untuk menyatakan perasaanmu!? Apalagi yang kurang?" todong Gumiya Gumi hanya menunduk mendengarkan omelan Gumiya.

"Gomennasai," balasnya. Empat buah siku-siku pun muncul dengan indahnya di kepala Gumiya.

"Gomennsai? Sudah kubuat banyak kesempatan untukmu dan kau masih memberiku sebuah kata maaf!?" hardik Gumiya, "Oh ayolah, ini sudah lebih dari seminggu aku di sini. Apa kau ingin tidak membuat progress apa-apa?" lanjutnya. Ia mendudukkan dirinya di sofa ruang keluarga itu sambil memijit keningnya. Gumi menuduk semakin dalam.

"Baiklah, sudah cukup aku memarahimu. Sekarang, apa yang kau inginkan?" tanya Gumiya. Ia menghela napas panjang dan menatap lurus pada Gumi.

"Maafkan aku Gumiya-kun, aku tidak bermaksud menyia-nyiakan usahamu. Tapi aku..." Gumi terisak pelan. Ia menunduk semakin dalam. Gumiya melemaskan bahunya yang tegang sebentar dan mendekati Gumi yang duduk di seberangnya.

"Baiklah aku minta maaf. Sudah jangan menangis, kau membuatku terlihat seperti iblis jahat kan sekarang," keluh pemuda itu, "Mau kubuatkan coklat panas? Mungkin itu bisa membuat perasaanmu lebih baik." tawarnya. Gumi mengangguk pelan sambil mengusap kedua matanya. Gumiya akhirnya menepuk pundak Gumi pelan dan berlalu ke dapur.

Tak lama, pemuda itu kembali dengan dua cangkir coklat panas berbusa. Ia memberikan satu cangkir untuk Gumi dan gadis itu terdiam mengamati isi cangkir di tangannya.

"Ini... coklat panas kan?" tanya Gumi, Gumiya mengangguk. "Bagaimana Gumiya-kun membuatnya? Apalagi dengan busa ini? Memangnya Gumiya-kun bisa memasak?" tanya Gumi.

"Tidak sopan, err... yah, aku tidak bisa memasak, tapi aku punya beberapa resep minuman dari klienku yang dulu. Dia penggemar coklat dan sering membuatkanku yang seperti ini. Aku memasukan coklat batang dan sedikit gula lalu memblendernya," Jelas Gumiya, Gumi mengangguk mengerti. Gadis berambut hijau itu meniup sedikit permukaan cangkirnya agar tidak terlalu beruap dan mencoba satu tegukan.

"Eh? Oishii, aku tidak menyangka Gumiya-kun pandai membuat minuman seperti ini." Puji Gumi, Gumiya tersenyum tipis.

"Sudah merasa baikan?" tanya pemuda itu, Gumi mengangguk semangat. "Syukurlah kalau begitu," lanjutnya.

Dan kembali, untuk kesekian kalinya jantung Gumi berdegup lebih kencang saat melihat senyuman Gumiya. Wajahnya terasa panas dan dadanya terasa sesak.

"Baiklah, lebih baik kita cukupkan sampai di sini dulu. Aku harap kau cepat siap Gumi, kau tahu bukan? Aku tidak bisa terus ada di sampingmu." Saran Gumiya setelah ia menghabiskan seluruh isi cangkirnya. Gumi kembali menunduk.

"Nee, kenapa Gumiya-kun tidak bisa terus mendukungku? Kenapa Gumiya-kun tidak bisa terus di sampingku?" tanya Gumi, Gumiya terbelalak. "Kau tahu, seminggu ini aku bisa berbicara pada Gakupo-kun dengan lancar. Aku bisa berteman dengan Kasane-san, rasa gugupku berkurang sedikit demi sedikit, aku mulai bisa mengemukakan pendapatku tanpa terbata, aku mulai bisa melakukan semua hal yang dulu tidak pernah terpikirkan olehku akan berhasil kulakukan. Aku pikir itu semua karena Gumiya-kun mendukungku, kau selalu mengawasiku dari jauh. Walaupun aku tidak tahu dimana dirimu, tapi aku tahu kalau kau pasti sedang mendukungku. Lalu bagaimana kalau kau sudah tidak ada di dekatku? Apa semuanya akan berjalan lancar seperti sekarang?"

Kini giliran Gumiya yang menunduk menutupi kedua manik zamrud-nya dengan poninya. "Gumi, kau bisa melakukannya senidiri. Walaupun jika aku tidak ada, kau pasti baik-baik saja. Kau harus percaya itu," nasehat Gumiya. Ia menepuk pelan puncak kepala Gumi dan berlalu ke dapur.

"Percaya? Apa aku bisa?" gumam Gumi, ia merasakan air mata kembali terkumpul di pelupuk matanya, namun segera ia seka dengan cepat. "...aku harus percaya, tidak perlu mengkhawatirkan aku bisa atau tidak, Gumiya-kun sudah percaya bahwa aku akan berhasil kan? Lalu kenapa aku ragu? Kenapa aku gelisah sekarang? Apa yang terjadi padaku?" gerutu Gumi. Ia memejamkan matanya, mencoba berpikir baik-baik. Mencari jawaban sebenarnya atas perasaan yang ia rasakan sekarang.

'Aku tidak mengerti, sebenarnya apa yang sekarang kurasakan? Aku menyukai Gakupo-kun kan? Lalu dengan semua bantuan Gumiya-kun ini, kenapa aku masih saja ragu? Aku juga sudah tidak pernah berdebar-debar saat dekat dengan Gakupo-kun, apa sebenarnya yang kurasakan saat ini? Apa aku ingin menjadi kekasihnya? Ataukah aku hanya ingin jadi temannya? Sebenarnya apa yang waktu itu kuminta pada Gumiya-kun? Aku meminta untuk bisa menyatakan perasaanku pada Gakupo-kun bukan? Lalu sebenarnya perasaan apa yang ingin kusampaikan? Apa aku menyukainya sebagai seorang pria? Atau aku menyukainya sebagai seorang teman? Atau seorang kakak? Atau apa sebenarnya perasaanku selama ini hanyakah kekaguman? Atau ... sebenarnya perasaanku pada Gakupo-kun hanya khayalanku saja?' pikir Gumi, ia merasakan kepalanya pening. Ia bingung, namun ia harus memutuskannya.

"Gumiya-kun!" teriak Gumi, ia langsung melesat ke dapur dan menerjang gumiya yang sedang mencuci piring bekas makan malam dan cangkir mereka berdua tadi. Gumiya yang kaget hampir saja menjatuhkan piring yang baru saja ia lap, untungnya ia bisa mempertahankan keseimbangannya walaupun kini Gumi tengah memeluknya dengan erat dari belakang. "Aku akan menyatakan perasaanku pada Gakupo-kun besok!" ucap Gumi mantap.

Gakupo terbelalak kaget, "Apa katamu!?" ia mencoba berbalik namun Gumi memeluknya semakin erat, tidak membiarkan pemuda itu berbalik.

"Aku akan menyatakan perasaanku pada Gakupo-kun!" ulang Gumi, suaranya tidak bergetar seperti tadi. Jadi Gumiya menyimpulkan bahwa Gumi serius dan yakin akan perkataannya.

"Jaa, ganbatte..." dukung Gumiya, ia kembali mengelap cuciannya yang tadi sempat tertunda. Gumi berkedip beberapa kali.

"Eh? Gumiya-kun tidak menanyaiku apa-apa?" tanya Gumi, ia melepaskan pelukannya terhadap Gumiya. Gumiya menghela.

"Tadi aku bilang aku akan membiarkanmu mengambil keputusan sendiri bukan? Jadi kenapa sekarang aku harus menanyaimu macam-macam kalau kau sudah yakin?" balas Gumiya, ia meletakkan lap yang barusan ia pakai dan berbalik menghadap Gumi.

"Nee, Gumiya-kun... menurutmu cinta itu apa?" tanya Gumi, Gumiya sedikit terkejut dengan pertanyaan dadakan itu.

"Kenapa tiba-tiba tanya begitu?" tanya balik Gumiya, Gumi menggeleng.

"Hanya ingin tahu saja," jawabnya. Gumiya meletakkan telunjuknya di dagu memasang pose berpikir.

"Kau tanya pun percuma ... aku ini malaikat, aku tidak mengerti apa itu cinta." Jawab Gumiya, Gumi ber-eeh-ria.

"Hee? Walaupun kau malaikat cinta?" tanya Gumi lagi, Gumiya mengangguk.

"Aku tidak pernah menanyakan pada klienku sebelumnya seperti apa rasanya jatuh cinta itu. dan juga mereka tidak pernah bertanya padaku. Sepanjang ingatanku hanya kau yang menanyakan hal konyol itu padaku, kau memang klien yang merepotkan ya..." jelas Gumiya, Gumi mengerucutkan bibirnya.

"Walaupun aku merepotkan kau masih tetap membantuku kan?" gerutunya, Gumiya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Itu karena kalau aku tidak membantumu, aku tidak akan bisa kembali ke khayangan." Jawab Gumiya simpel. Gumi mendengus kesal dan beranjak menjauhi Gumiya.

"Mou, baiklah. Terserah," balas Gumi, ia segera berlalu ke kamarnya meninggalkan Gumiya di dapur.

Gumiya tersenyu miris, "Kau bertanya padaku apa itu cinta? Konyol. Aku memang tidak mengerti apa itu cinta, karena malaikat tidak diciptakan mengenal rasa cinta ataupun benci... tapi selama aku membantu klienku dan aku disini terdampar di dekatmu, aku mengerti ... apa yang dimaksud klienku selama ini... bagaimana sulitnya mencintai seseorang yang bukan jangkauan kita. Seperti bumi dan langit, seperti punuk merindukan bulan. Yah... karena aku sekarang sedang merasakannya." Gumamnya pelan.

.

.

.

~xXx~

.

.

.


HOT NEWS: NAKAYAMA MEGUMI DAN NAKAJIMA GUMIYA

Halo penduduk Sakura Gakuen~

Apa kabar?~

Ah, ini sih bukan waktunya untuk basa-basi, ada HOT NEWS!

Yup, seperti judulnya ini HOT news tentang Nakayama-san dan Nakajima-san, aih, ternyata mereka serumah loh~

Dan bukan itu aja, dirumah Nakayama-san ternyata sedang tidak ada siapa-siapa, orang tuanya sedang liburan, jadi mereka berduaan saja di rumah?

Yep! Tepat! Mereka berduan, ini dia buktinya!

Aih, mereka udah ngapain aja ya? Dasar, memang Nakayama-san itu tipe penggoda ya, ckckck.


"A-apa ini!?" guman Gakupo tidak percaya, sebuah selebaran besar bertuliskan berita itu tertempel hampir di seluruh mading sekolah. Mata ungu itu membulat, ia segera menyuruh klub mading mencopoti berita itu sebelum banyak yang melihatnya. Gakupo meremas kertas berita itu geram. 'Apakah berita ini benar? Apakah foto ini asli? Tapi, kenapa? Megumi-chan bukan gadis seperti itu!?' pikir Gakupo. "Lebih baik aku tanyakan langsung pada Megumi-chan."

.

.

.

"Megumi-chan!" panggil Gakupo, Gumi yang sudah menunggunya sedari tadi pun tersenyum cerah.

"Ah, Gakupo-kun! Syukurlah, kupikir kamu tidak akan datang." balasnya, Gakupo menggeleng.

"Bisa kita kesampingkan dulu hal yang ingin kau sampaikan?" tanya Gakupo, Gumi sedikit terkejut, ia mengangguk ragu. "Apakah berita ini benar?" tanya Gakupo to the point.

Gumi membaca artikel berita itu dengan cermat dan kemudian matanya membelalak sempurna. "Kenapa...?"

"Apa ini benar Megumi-chan!?" bentak Gakupo, tubuh Gumi bergetar. Ia takut melihat tatapan Gakupo yang marah besar padanya. Air mata kembali menumpuk di pelupuk mata Gumi. "Jawab aku Megumi-chan!? Aku tidak percaya kau orang yang seperti itu, jadi tolong berikan aku bukti bahwa pendapatku tentangmu tidaklah salah!" nada suara Gakupo meninggi, ia mencengkram kedua bahu Gumi erat.

Gumi terpaku, mulutnya hanya bisa terbuka dan tertutup tanpa ada sepatah kata pun yang keluar. Tenggorokannya seperti tersumbat, suaranya terkunci. Perlahan, air mata yang sedari tadi terkumpul mulai memperoleh jalannya menuruni pipi Gumi. Gadis itu segera menggeleng dan melepaskan diri, ia kemudian berlari sekuat tenaga ke luar sekolah. Dadanya sakit, walaupun cengkraman Gakupo juga terasa sakit, ia lebih merasakan sakit di dadanya.

Gumiya yang mengawasi tingkah mereka berdua dari atap pun memicingkan matanya ketika Gakupo mulai mencengkram bahu Gumi. Ia segera turun tangga dan pergi ke tempat Gumi dan Gakupo. Namun baru saja ia sampai di tempat tujuan, ia bersimpangan dengan Gumi. Air mata Gumi terbawa angin dan Gumiya memelototkan matanya terkejut. Ia ingin mengejar Gumi, tapi sepertinya tuan muda di sana lebih membutuhkan pukulan penenang pikiran dan ceramah darinya daripada Gumi.

"APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN PADANYA, BODOH!?" teriak Gumiya, ia melayangkan satu pukulan dan telak mengenai pipi kiri Gakupo. Gakupo terpental beberapa langkah dan memagangi pipinya yang memar.

"APA MAKSUDMU!?" teriak Gakupo tidak terima, ia mencoba berdiri dan membalas pukulan Gumiya. Namun Gumiya menghindarinya dengan cepat dan kembali melayangkan satu pukulan lagi.

"KAU BODOH YA! DIA! GUMI SUDAH BERUSAHA MENGUMPULKAN SELURUH KEBERANIANNYA UNTUK HARI INI! DIA BERNIAT MENYATAKAN PERASAANNYA PADAMU! TAPI APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA! DIA BAHKAN TIDAK MENGATAKAN APAPUN!" teriak Gumiya lagi, ia terengah-engah akibat terlalu banyak menggunakan energinya. Gakupo membelalak.

"Tunggu! Maksudmu—"

"DAN SELAMAT ANDA TELAH MENGACAUKANNYA TUAN MUDA!" bentak Gumiya, "Aku tidak mengerti apa yang ada di otak kecilmu itu, tapi asal kau tau saja. Aku memang tinggal di rumah Gumi untuk sementara, orangtua kami bersahabat, jadi aku dititipkan di sana. Orangtua Gumi sendiri kebetulan sedang liburan karena mendapat tiket gratis, jadi tidak ada yang bisa kami lakukan. Sekarang dinginkan kepala panasmu itu dan cobalah berpikir dengan jernih!" jelas Gumiya.

Dan dengan itu pemuda berkepala seperti padang rumput itu meninggalkan pemuda ungu. Dia segera mencari Gumi yang sekarang mungkin tengah meringkuk di kamarnya.

.

.

.

~xXx~

.

.

.

"Sudah merasa baikan?" tanya Gumiya, ia menyodorkan segelas coklat panas kepada Gumi yang baru saja membuka matanya.

"Eh? Gumiya-kun? Kenapa kau ada di sini?" tanya Gumi kaget, ia langsung terduduk dan mundur sampai menempel di dinding kamarnya. Gumiya hanya bisa tertawa melihat tingkah Gumi. "AH! Maaf! Maaf! Sekarang Gumiya-kun pasti mau protes padaku kan? Karena aku tidak bisa menyatakan perasaanku!? Maaf! Sekarang... Gumiya-kun jadi tidak bisa kembali ke khayangan..." lanjut Gumi. Gumiya menghela.

"Jangan bicara sembarangan," ucap Gumiya, Gumi mengangkat kepalanya dan menatap Gumiya yang sedang dengan tenang menyesap coklat panasnya.

Tatapan Gumi berubah menjadi sendu, "Nee, Gumiya-kun... khayangan itu seperti apa? Apa aku juga bisa ke sana?" tanya Gumi dengan suara agak lemah. Gumiya membelalak kaget.

"Hei, hentikan omongan bodohmu itu–!" tapi sebelum Gumiya sempat menceramahinya, Gumi kembli memotong ucapan Gumiya.

"Aku ingin mencoba ke sana, bisa tidak ya? Pasti enak di sana, tidak perlu merasakan kesedihan seperti ini. Pasti tempatnya juga indah ya..." puji Gumi, ia meraih bantalnya dan memeluk bantal itu erat.

Gumiya yang tidak tahan dengan tingkah aku Gumi itupun menaiki kasur Gumi dan menarik gadis itu jatuh ke pelukannya. "Kubilang hentikan, omonganmu itu kan Gumi? Apa kau mau bunuh diri hanya karena masalah ini? Kau masih punya banyak waktu," nasehat Gumiya, air mata Gumi kembali mengalir.

"Tapi aku sudah tidak kuat... selalu seperti ini pada akhirnya, selau saja aku yang jadi bahan olokan mereka, selalu saja aku yang ditindas. Aku sudah lelah Gumiya-kun, aku lelah..." isak Gumi, Gumiya merasakan jantungnya seperti tersayat, rasanya pedih melihat Gumi seperti ini.

Gumiya akhirnya membenamkan kepalanya di puncak kepala Gumi, "Kau tahu Gumi, ada satu cara lagi agar aku bisa kembali ke khayangan..." ungkap Gumiya. Gumi mendongak, menatap wajah Gumiya yang sudah melonggarkan pelukannnya. "Jika kau ikut denganku, maka aku juga bisa kembali ke khayangan." Lanjutnya. Gumi tersentak kaget, Gumiya kemudian melepaskan pelukannya pada Gumi dan mengulurkan tangan kanannya. "Jadi... apa kau mau ikut denganku, Gumi?" tanyanya.

Gumi menatap uluran tangan Gumiya itu dalam diam, isi pikirannya sedang saling tumpang tindih, perasaannya bergejolak tidak karuan... 'Apa aku ingin ikut bersama Gumiya-kun?' batin Gumi. Ia memejamkan matanya sejenak, ia sudah akan mengulurkan tangannya mengambil uluran tangan Gumiya. Namun suara handphone-nya yang berdering mengurungkan niatnya itu. Gumi segera berranjak dari kasurnya dan mengangkat handphone-nya yang terletak di meja belajar.

"Lama sekali, dasar bodoh..." gumam Gumiya, ia tersenyum lemah. Miris tepatnya, ia merasa aneh dan tifak seperti dirinya yang biasanya.

"Maaf menelponmu malam-malam, begini... apa aku bisa bertemu denganmu sekarang? Aku berada di sekitar kompleks rumahmu, tapi aku tidak tahu yang mana rumahmu... aku ingin mengatakan sesuatu." Ucap Gakupo dari seberang telepon, Gumi langsung membelalakkan matanya kaget, ia segera menoleh ke arah Gumiya yang memberinya senyuman dukungan.

"Un, aku akan ke sana. Un, baiklah." Respon Gumi. Gumi menoleh sekali lagi pada Gumiya yang masih memberikan senyuman yang sama. "Ano ne, Gakupo-kun..."

"Apa?" tanya Gakupo, Gumi menarik napasnya dalam-dalam dan memejamkan kedua matanya.

"Aku... aku menyukai Gakupo-kun," ucap Gumi.

'SRET!'

Sayap putih Gumiya kembali muncul. Gumiya menatap Gumi yang baru saja menyelesaikan teleponnya itu dengan senyum lemah. "Kenapa kau kaget?" tanyanya.

Gumi menggeleng pelan, "Apa kau sudah mau pergi Gumiya-kun?" tanya Gumi, ia merasa ada lubang besar di hatinya.

Gumiya tersenyum kecil, "Tugasku sudah selesai, kau juga harus bertemu dengan Gakupo kan? Kau tau, selama ini yang kau butuhkan hanyalah satu hal... kalau kau bisa mencapainya, artinya tugasku sudah selesai..." ucapnya, Gumi memiringkan kepalanya tidak mengerti.

Gumiya mengeluarkan bulu terakhir yang ia bawa dan melemparkan bulu itu ke arah Gumi, "Sebuah keberanian. Sudah sana cepat pergi," ucapnya lagi.

Gumi merasakan air mata berkumpul di pelupuk matanya lagi, namun ia segera mengangguk dan bersiap untuk keluar dan Gumiya membuka jendela kamar Gumi lebar-lebar. "Nee, Gumi... ada satu hal yang ingin kukatakan sebelum aku pergi." Ucap Gumiya, Gumi meghentikan aktivitasnya sejenak dan menatap Gumiya penasaran.

Gumiya langsung berlari ke arah Gumi dan mendaratkan satu kecupan singkat di pipi kiri gadis itu. "Aku sepertinya sudah mengalami apa yang namanya cinta itu... dan aku... jatuh cinta padamu," ungkap Gumiya. Ia tersenyum lemah. "Sayonara..." dan dengan itu Gumiya mengepakkan sayapnya.

Gumi kembali bimbang, ada sebuah lubang di hatinya. Ia merasa kepergian Gumiya malah lebih banyak menrenggut sesuatu daripada menggapai sesuatu. Ia tidak terlalu mengerti... namun ia merasa hidupnya agak hampa.

'Ah, aku masih harus menemui Gakupo-kun, aku harus cepat.' Pikir Gumi, ia segera berlari keluar rumah dan menyusuri jalan kecilnya. Saat di persimpangan, ia tidak menyadari bahwa sebuah mobil dengan kecepatan tinggi sedang melaju... dan sebuah kejadian berdarah kembali terjadi. Gumi menutup matanya, namun ia tidak merasakan sakit sama sekali.

Begitu ia membuka mata, Gumi sudah tergeletak di pinggir jalan. Gumi langsung membuka matanya lebar-lebar, ia melihat sekelilingnya dan menemukan ... bercak darah.

"Kenapa?" pekiknya tertahan, ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, matanya membulat dan pupilnya mengecil. Gumi segera berusaha berdiri, ia dengan cepat menghampiri korban yang tergeletak. "Kenapa kau masih di sini Gumiya-kun!?" teriak Gumi.

Ia segera meletakkan kepala Gumiya di pangkuannya, air mata kembali mengalir dari manik klorofilnya.

Kelopak mata Gumiya bergetar, menampilkan manik klorofil yang setara dengan milik Gumi. "Ah, Gumi. Kenapa kau masih di sini?" ucap Gumiya, walaupun terpatah-patah. Gumi menggeleng.

"Kau sendiri yang kenapa masih di sini Gumiya-kun, apalagi kenapa kau menyelamatkanku? Dan kenapa sayapmu hilang lagi?" omel Gumi, ia menunduk dan meremas rambut Gumiya. Gumiya tertawa lemah.

"Aku sudah tidak bisa kembali, aku malaikat yang sudah cacat Gumi. Dan dari awal memang aku sudah ditakdirkan untuk menghilang," jelas Gumiya, "Hora, lihat..." Gumiya menunjukkan tangan kanan berlumuran darah miliknya yang mulai menghilang.

Gumi membelalak, air matanya mulai turun dengan deras. Ia tidak peduli sudah berapa kali ia menangis hari ini. Ia sudah tidak peduli kalau matanya akan kering. Ia sudah tidak peduli.

"Hei, sudahlah jangan menangis... aku sudah bilang kalau wajah menangismu itu jelek kan? Kau tidak boleh menangis..." ucap Gumiya, ia berniat mengusap air mata Gumi namun rasa sakit yang tiba-tiba menyerang jantungnya kembali membuatnya mengerang kesakitan.

"GUMIYA-KUN!" teriak Gumi, Gumiya kembali tersenyum lemah. Gumi mgenggeleng dan memeluk kepala Gumiya erat.

"Aku ada permintaan Gumi, bolehkah aku menciummu? Aku tau ciuman pertamamu seharusnya untuk orang yang kau sukai, tapi ini permintaan terakhirku... bisakah kau mengabulkannya?" tanya Gumiya, Gumi segera melonggarkan pelukannya dan mengambil jarak.

"Aku akan mengabulkannya," ucap Gumi mantap, ia masih berlinangan air mata namun kilatan keseriusan dalam matanya sudah tak tergoyahkan.

"Arigatou," ucap Gumiya, ia segera berusaha mengangkat kepalanya agar bisa mencapai bibir Gumi, namun Gumi dengan cepat menempelkan bibirnya sendiri ke bibir Gumiya. Merasakan lembut bibir pemuda itu yang terasa manis dan getir karena bercampur dengan darah. Gumi tidak melepasan bibirnya, begitupula dengan Gumiya. Mereka merasa seperti dunia hanya milik berdua.

'PYASH!' dan kemudian Gumiya hancur berkeping-keping. Seperti hati Gumi yang terasa hancur berkeping-keping.

Gumi meringkuk, memeluk dirinya sendiri dan berteriak pilu. Rasa sakit di dadanya terlalu rumit untuk diungkapkan, bahkan ia tidak mengerti kenapa air matanya tidak bisa berhenti mengalir.


.

Arti bulu pertama adalah 'Permulaan'

.

Arti bulu kedua adalah 'Berusaha keras'

.

.

Dan arti bulu ketiga adalah sebuah 'Keberanian'

.

Ketiga hal itu adalah hal dasar dalam berusaha menyatakan perasaan, jika kau sudah memiliki ketiganya pasti kau bisa mengungkapkan perasaanmu yang sebenarnya.

.


A/N:

YAY! Chapter terakhir dari masa lalu udah beres~

Yup, gomen ne ngga bisa ngasi lebih detailnya, detailnya silahkan reader imajinasiin sendiri ya~ #dor

Btw, Marry Christmas~

Padahal sebenernya saia mau apdet kemarin, kan kemarin christmas eve... =_=
Kan kalo di anime-anime, christmas eve itu malem berdua-duaan~ jadi biar yang jombo baca cerita saia aja~ #
woy

Sayang aja di sini bukan di anime... TAT *pundung* #plak

Ah udah ah, nanti malah bahas macem-macem...

Pokoknya minna-san, stay tune terus baca MKMLMD ya! Tinggal satu chapter lagi kok! .w. #plok

Selamat menikmati libur panjang dan Otanoshimi ni~~


Mind to Review?