Aku tahu itu
Gakupo's Side
Vocaloid © Yamaha, Crypton Future Media, Internet, etc.
Warning: typo, tata bahasa yang buruk, cerita yang terasa hambar ketika dibaca dan cukup terbelit-belit(?).
Special thanks: Untuk kalian yang sudah mau membaca, me-review, dan mem-favs serta follows cerita anehku ini.
Terimakasih sudah mau menemaniku sampai chapter 4 ini.
Aku adalah seorang pendusta.
Setiap untaian kata yang keluar dari bibirku, bukanlah kata-kata yang sesungguhnya terseru di dalam hatiku. Kau bisa menyebutku seorang pecundang, pengecut atau sesuatu yang mungkin bisa membuatmu puas untuk mengataiku.
Tapi, aku katakan padamu. Aku bukanlah seorang pengecut yang akan menipu ratusan—atau mungkin jutaan orang— dengan kata-kata bermakna ambigu yang dengan bangganya akan mereka lontarkan. Aku bukanlah seorang pecundang yang akan selalu berlindung di balik sekat tak terlihat yang bernama 'kasta' dalam dunia sosial manusia. Aku bukanlah orang yang akan bertindak seceroboh itu.
Dusta yang ku ucapkan selama ini, hanyalah suatu perwujudan akan ketidakpuasan, kekecewaan bahkan asa yang selalu membayangiku setiap malam. Apakah kau tahu tentang semua itu? Aku yakin kau akan menjawab tidak.
Aku tahu itu. Tepat sebelum fakta itu terkuak, aku akan menutupinya dengan sejuta dusta dari bibirku.
Aku merasa apa yang ku alami malam ini seperti sebuah mimpi. Mimpi dimana kau akan menemui seorang gadis yang sedang menangis sesenggukan di bawah pohon sakura saat sebuah festival sedang berlangsung. Benar-benar mimpi yang identik dengan cerita cinta masa anak sekolah menengah ke atas dalam sebuah light novel atau pun game.
Akan tetapi, bila mengingat bagaimana cara gadis itu menangis dengan hebatnya, membuatku harus segera mengenyahkan berbagai imajinasi aneh yang sempat terlintas dalam pikiranku. Mendekatinya hanya untuk sebuah modus? Jangan bercanda! Melihat bagaimana gadis itu tampak kesusahan menyeka air matanya saja membuat ulu hatiku terasa sakit.
Apalagi pandangan orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya. Mereka seolah menganggap keberadaan gadis itu hina dan tidak pantas di pandang mata. Terlebih lagi komentar dari mulut busuk mereka—yang secara frontal memang di tujukan kepadanya—terasa ikut menusuk hatiku.
"Hey, kalau aku tidak salah tebak. Gadis itu baru saja patah hati,bukan? Menyedihkan sekali."
Seperti sebuah de javu, aku merasakan sakit yang luar biasa di dadaku. Rasanya sangat menyesakkan, membuatku sedikit terhuyung ke belakang dan menimbulkan suara debaman tatkala tubuhku terjatuh begitu saja.
Gadis itu menolehkan wajahnya dengan cepat ke arahku. Masih nampak tetesan air mata yang mengalir menuruni setiap lekuk wajahnya. Melihatnya tampak sekacau itu, entah kenapa aku merasa harus segera melakukan sesuatu.
Persetan dengan rasa sakit yang terasa sangat menyiksa ini. Melihat gadis itu tersakiti justru membuat rasa sakit itu bertambah. Dan akan terasa lebih menyakitkan lagi bila aku hanya berdiam diri saja.
Tanpa mempedulikan konsekuensi yang kuterima bila melakukan hal gila ini, aku segera merengkuh tubuh gadis itu dalam dekapanku. Mencoba memberikan kehangatan dan kenyamanan padanya.
Tubuh mungilnya menegang dalam pelukanku. Mengetahui dirinya sedang di peluk oleh orang asing, gadis itu segera meronta dan mendorongku untuk menjauh. Dia bahkan sempat menginjak kakiku dengan sekuat tenaga. Aku sudah tidak mempedulikan rasa sakit yang kurasakan. Aku hanya ingin memelukmu, menenangkanmu dan bila perlu, aku akan menghapus jejak air mata di wajahmu.
"Tenanglah, nona kecil. Sekarang kau bisa menangis dengan tenang. Kau tidak perlu lagi merasa risau dengan pandangan mereka."
Aku berbisik lembut pada telinganya. Berusaha memberikan penekanan pada setiap kata yang keluar dari bibirku. Tentu saja, dengan beberapa dusta yang terselip di dalamnya. Aku justru tidak melindunginya, aku malah membuatnya menjadi pusat perhatian dengan memeluknya di tengah-tengah keramaian orang.
Kau bisa menyebutku orang mesum yang sedang mencari kesempatan dalam kesempitan, manusia tak tahu malu, atau mungkin hinaan yang lebih menyakitkan dari beberapa kalimat itu. Aku hanya akan merasa lebih terhina lagi bila membiarkannya menangis begitu saja.
Hanya itu saja.
Akhirnya usahaku membuahkan hasil. Gadis itu terdiam dalam pelukanku. Samar-samar bisa kurasakan bahunya bergetar hebat. Ah, sepertinya kau sedang menahan berbagai gejolak dalam hatimu gadis manis.
"Sstt, jangan menangis disini. Kau bisa jadi pusat perhatian lagi, loh. Bagaimana kalau kita pergi dulu?"
Gadis itu mendorong tubuhku kebelakang dengan perlahan. Bola mata aquamarine miliknya menatap lurus ke arahku. Seolah-olah sedang berusaha meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja selama dia bersamaku.
"Tapi... tapi... aku.."
Suaranya bergetar pelan. Tampak sedikit sisa kekacauan masih tertera dengan jelas dalam nada bicaranya. Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya. Perlahan aku mengelus puncak kepala gadis itu dengan lembut.
"Tidak apa-apa. Aku bukan orang yang jahat."
Mata gadis itu memancarkan sebuah keraguan. Apakah aku benar-benar tampak seperti orang aneh? Oh, ayolah. Bantu aku menyelesaikan drama picisan ini.
"Kalau kau tidak percaya, kau boleh membunuhku,kok. Tapi aku yakin, kau tidak akan melakukannya. Karena aku bukanlah orang yang akan mencuri kesempatan dalam kesempitan."
Bunuh aku sekarang nona kecil!
Bagaimana bisa aku melontarkan kalimat bermakna ambigu itu dengan lancar! Dan entah kenapa lidahku terasa kelu saat itu juga. Bayangkan saja! Bagaimana bisa aku mengucapkan kalimat yang jelas-jelas condong ke arah sesuatu yang berbau negatif seperti itu dengan lancar!
"Baiklah."
"Eh, apa? Bisa kau ulangi nona kecil?"
Gadis itu memutar bola matanya. Dengan ujung bajunya, dia menghapus sisa-sisa air mata di wajahnya. Aku buru-buru mengeluarkan sapu tangan dan memberikannya pada gadis itu. Untuk pertama kalinya, dia tersenyum ke arahku sambil mengucapkan terimakasih. Membuat dadaku terasa sedikit hangat.
"Pertama, jangan panggil aku nona kecil. Aku punya nama tahu. Namaku Miku Hatsune. Salam kenal tuan aneh."
Tuan aneh? Begitukah pandanganmu terhadap orang yang sudah menolongmu? Bagus sekali. Sekarang kelakuanmu tampak setara dengan anak sekolah dasar di mataku.
"Bukan hanya kau saja yang punya nama. Aku Kamui Gakupo. Salam kenal, err. Hatsune-san?"
Aku melonggarkan ikatan syal di leherku—yang terasa mencekikku dalam udara yang sungguh kelewat batas ini. Benar-benar dingin. Oh,ya. Gadis ini juga hanya mengenakan mantel saja. Apa dia tidak kedinginan?
"Panggil saja aku Miku. Ah, bolehkah aku memanggilmu Gakupo?"
Aku tersenyum sambil mengacak surai tealnya dengan lembut. Perasaan hangat kembali mengalir dalam dadaku. Sekarang aku merasa harus bersyukur karena bisa bertemu denganmu, nona kecil.
"Tentu saja, Miku."
Gadis itu—Miku— tersenyum dengan lebar ke arahku. Seolah-olah sedang memperlihatkan deretan giginya kepadaku. Oh, aku pikir kau sudah berhenti bertindak seperti anak sekolah dasar.
"Nah, selanjutnya. Aku ingin berterimakasih padamu. Berkatmu, aku bisa berhenti menangis. Aku benar-benar cengeng,ya. Menangis di tempat seperti ini. Memalukan sekali."
Benarkah begitu? Lalu, kenapa kau justru menundukkan wajahmu seperti itu? Apakah kau ingin menangis lagi? Aku mohon, jangan menangis lagi. Aku tidak sanggup melihat air mata mengalir di wajahmu,
"Tidak apa-apa,kok."
Aku melepaskan syal yang melingkar di leherku. Sebuah syal yang merupakan hadiah dari 'mantan' pacarku. Aku benar-benar egois, membawa benda seperti ini dalam sebuah festival. Panggil aku orang yang gagal move on.
Aku tersenyum kecil sambil memaikan syalku ke leher Miku. Dengan lembut aku merapikan untaian rambutnya yang tertutupi syal. Menyibakkan beberapa rumpun rambut yang menutupi sebagian wajahnya, membuat semburat merah tercetak di kedua pipinya.
Manis sekali.
"Sejujurnya aku juga sama sepertimu, Miku. Aku benar-benar ingin menangis saat ini juga. Tapi,yah. Apa kata dunia bila seorang pria menangis di hadapan wanita? Harga diriku bisa hancur lebur."
Aku berdusta kembali. Sesungguhnya, aku sudah tidak mempedulikan apa itu harga diri ataupun jenis kelamin. Kalaupun bisa, aku akan menangis saat ini juga—di hadapanmu—dengan air mata yang mungkin tidak akan habis dalam waktu cepat dan harus membuatmu membeku di bawah tiupan angin malam.
"Kalau kita menangis, bukankah orang yang akan kita sayangi juga akan menangis? Aku benar,kan, Miku?"
Aku tersenyum kembali. Sebenarnya, orang yang akan menangis itu adalah aku. Tapi Miku, hanya bisa tersenyum pahit mendengar perkataanku. Jemari mungilnya menggenggam tanganku dengan erat. Mencoba memberitahu apa yang dia rasakan saat ini.
Kita berdua, sama-sama tersakiti.
Awalnya kami memang hanya ingin berjalan-jalan mengelilingi festival saja. Yah, itu tadi merupakan satu-satunya cara yang terpikir untuk menghilangkan penat. Tapi, mengingat bagaimana kecocokan antara kami berdua, membuat acara pelarian malam ini menjadi ajang berbagi cerita.
Oke, bercerita tentang hal-hal pribadi pada orang asing tidaklah salah bukan? Toh, kami juga sama-sama menyamarkan tokoh-tokoh dalam cerita kami sendiri. Cukup sulit untuk menebak apakah cerita ini bualan semata atau memang curahan hati.
Tapi, aku sekarang sudah mengetahui segalanya. Tentang pemuda yang di cintai oleh Miku. Tentang pihak ketiga dalam kehidupannya. Juga tentang bayangan orang ke empat dalam hidupnya.
Seperti sebuah drama picisan, ke empat tokoh di pertemukan dalam sebuah panggung yang sama dan harus bermain peran dengan segenap jiwanya. Dan harus berusaha meruntuhkan tokoh lain untuk tetap bisa melanjutkan jalannya cerita.
Aku, si nona kecil, pemuda berambut biru ocean, dan juga seorang gadis berambut gulali di pertemukan malam itu juga. Ke empat tokoh utama dalam sebuah drama yang di pertemukan dalam keadaan yang sangat tidak menguntungkan.
"Miku... Gakupo.."
Aku bisa mendengarnya memanggil namaku. Aku berusaha mengacuhkannya. Tapi, tidak dengan Miku. Tatapan matanya tampak tertuju ke arah si pemuda berambut ocean. Bibirnya bergetar pelan. Genggaman tangannya pun mulai melemah.
Sepertinya kau akan menangis lagi, nona kecil.
Aku mempererat genggaman tanganku. Membuat tubuh Miku tersentak kaget. Aku tersenyum ke arahnya dan berbisik pelan kepadanya.
"Aku tahu, ayo kita pergi."
Miku mengangguk kecil tanpa setuju. Gadis itu melemparkan pandangannya sesaat ke arah si pemuda ocean itu lagi. Tampak sedang berusaha mengutarakan perasaannya kepada pemuda itu. Meskipun semua itu hanya di respon dengan sebuah tatapan penuh ketidakpercayaan pada si gadis.
Kau menyakitinya dasar bodoh.
"Ma-maafkan kami. Sepertinya kami mengganggu kalian."
Miku segera bertindak. Dia sudah tidak bisa berlama-lama lagi berada disini. Aku tahu itu. Makanya, setelah kami selesai berpamitan, aku segera menarik pergelangan tangan gadis itu dengan kasar. Membuatnya memekik kesakitan untuk sesaat.
"Gakupo! Sakit!"
"Maaf-maaf. Habisnya, kau memasang tampang menyedihkan lagi,sih."
Aku melihat ke belakang melalui ekor mataku. Tampak si gadis gulali terus menatap punggung kami dari kejauhan. Seolah-olah tidak ingin melepaskan pandangannya barang sedetik pun.
"Aku paham sekarang." Miku memiringkan kepalanya. Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah kekanakannya itu.
"Orang yang kita cintai, sudah tidak terjangkau lagi. Mereka sudah pergi di jalan yang sudah mereka pilih sendiri. Aku mengerti, Miku. Sangat mengerti."
Aku bisa merasakan aliran hangat mengalir dari sudut mataku. Membuat pupil aquamarine itu melebar tatkala melihatnya. Tangan mungilnya meraihku, berusaha memelukku sama seperti saat aku menenangkannya tadi.
Tapi aku tahu, bahunya ikut bergetar saat itu juga.
a.n:
Yosh! Chapter 4 selesai sudah! Maaf bila pembuatannya memakan waktu yang cukup lama.
Akhir-akhir ini cukup sibuk sih. Hehe
Nah, mungkin chapter kali ini feelnya tidak terlalu mengena.
Habisnya, sudut pandang dari Gakupo memang sulit kupahami,sih. Makanya, jadi acakadut begini.
Selain itu, kayaknya chapter ini yang paling panjang deh. Banyak typonya pula. Hehe
Err, sekian cuap-cuap author aneh ini.
Terimakasih sudah mau membaca.
RnR please!
