Shizune roboh bermandikan darah.
Kepala Tsunade menggelinding.
Tawa sadis Kakuzu.
"TIDAAAAAAK!!!"
Jeritan Sakura membelah kesunyian malam.
"TIDAAAAAAK!!! TIDAAAAK!!! NONA TSUNADE!!! KAK SHIZUNE!!!"
Di sampingnya, Lee dan Chouji—yang segera terbangun mendengar jeritannya itu—menatap prihatin. Sudah beberapa hari ini teman mereka itu tidak pernah bisa tidur pada malam hari. Dia terus-terusan mengeluarkan jeritan-jeritan yang menyiksa, pertanda bahwa mimpi-mimpi buruk yang dialaminya betul-betul bukan sekadar mimpi buruk.
Keringat bercucuran di dahi Sakura, air matanya mengalir deras. Dia belum berhenti berteriak meskipun matanya masih terpejam.
"Panggilkan Guru Kakashi, Chouji," pinta Lee tanpa mengalihkan pandangan dari Sakura. Chouji mengangguk, lalu buru-buru keluar. Dia kembali bersama Kakashi tidak sampai sepuluh detik kemudian.
"Sakumo..." Kakashi mendesah panjang melihat kondisi muridnya itu. Dia berjalan mendekatinya dan mengguncang bahunya pelan, "Bangun, Sakumo. Buka matamu..."
Perlahan, jeritan Sakura mereda. Dia membuka matanya, lalu langsung terduduk di atas futonnya. Bibirnya bergetar hebat.
"Gu... Guru Kakashi..."
Tangisnya meledak. Tangisan menyayat penuh raung kesedihan yang dalam. Keadaannya pada saat itu begitu mengenaskan, sehingga Chouji sampai membuang muka karena tidak tega melihatnya. Sementara Lee menggumamkan sesuatu tentang 'akan ke dapur untuk mengambil air' sebelum pergi keluar.
Kakashi menghela napas berat. Dia sangat memahami betapa beratnya beban yang harus ditanggung Sakura sekarang. Selama beberapa hari ini Sakura tidak pernah menyentuh makanan sama sekali, dan sepanjang hari hanya melamun saja kerjanya. Seringkali dia tiba-tiba menjerit-jerit sendiri dengan ekspresi kepanikan yang luar biasa, lalu disusul dengan tangisan panjang.
Sang pembuat senjata pun mendekap muridnya itu.
"Tenanglah, Sakumo. Tenangkan dirimu! Aku mengerti perasaanmu, tapi kau tidak boleh seperti ini terus..."
Sedikit demi sedikit, getar di tubuh Sakura mereda. Kini dia sesenggukan di dalam pelukan gurunya.
"Nona Tsunade... Kak Shizune..."
Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Sakura berulang-ulang. Kakashi mempererat dekapannya, lalu berkata di dalam hati,
Mulai sekarang, aku yang akan menjagamu, Sakumo...
Disclaimer: Kishimoto Masashi-sensei
Setting: Alternate Universe
Warning: CHAPTER INI JUGA MENGANDUNG KEKERASAN
.
~Camelia Putih~
Chapter 4
.
.
Hingga seminggu kemudian, Sakura masih dalam kondisi seperti itu. Sia-sia saja usaha-usaha Kakashi, Lee, maupun Chouji untuk menghiburnya. Akhirnya pada hari kedelapan, Kakashi memutuskan bahwa hal ini harus segera dihentikan.
"Kalian tentunya tahu, tidak mungkin Sakumo dalam kondisi begini selamanya," Kakashi membuka percakapan enam matanya dengan Lee dan Chouji. Untunglah siang itu Sakura tertidur karena kelelahan setelah menangis sepanjang malam. "Kita harus mencari cara agar dia kembali melanjutkan hidupnya."
"Tapi bagaimana?" Lee menggelengkan kepalanya putus asa. "Segala cara sudah kita coba."
Chouji mengangguk setuju.
"Selama Kakuzu belum mati, mungkin Sakumo akan terus seperti itu," kata si Gendut dengan suaranya yang dalam. Kali ini dia nampak begitu prihatin.
"Ah! Itu dia!" seru Lee. "Bagaimana kalau kita membunuh Kakuzu?"
"Tidak," bantah Kakashi tegas. "Lupakan cara itu."
"Tapi setidaknya dendam Sakumo bisa terbalaskan! Mungkin dia akan menjadi sedikit tenang karenanya!" Lee berusaha memberi argumen.
"Kita tidak akan membunuh siapapun, Lee, meskipun orang itu adalah orang terjahat di dunia. Titik."
"Tapi—"
"Lee!" Kakashi menatap muridnya tajam. "Sudah berapa lama kau berguru kepadaku? Apakah aku pernah mengajarkan untuk membunuh?"
Lee tidak berkata apa-apa.
"Jangan pernah bicarakan itu lagi. Pasti ada cara lain," Kakashi menutup topik itu. Lee dan Chouji berpandangan, kemudian Lee mengangkat bahu. Mereka hanya bisa menurut.
Tetapi pembicaraan mereka selanjutnya sama sekali tidak menuai hasil.
###
Ternyata, Sakura sendiri yang berhasil menemukan cara untuk mengatasi keterguncangannya.
Pada saat makan malam yang dilakukan dalam diam, tiba-tiba saja Sakura meletakkan kedua sumpitnya di sebelah mangkuk nasinya. Tentu saja tiga orang lainnya langsung menatapnya.
"Aku ingin mengatakan sesuatu."
Kini aktivitas makan malam itu benar-benar terhenti. Kakashi, Lee, dan Chouji memfokuskan perhatian mereka sepenuhnya kepada Sakura yang terlihat sangat serius. Dia nampak sangat tenang dan terkendali, sesuatu yang selama ini hilang darinya sejak tragedi itu.
Mungkin... ini pertanda bagus.
"Bicaralah, Sakumo."
Sakura menatap mereka.
"Aku sudah memutuskan," raut wajahnya mengeras, "aku... akan membunuh Kakuzu."
Hening.
Kakashi menatap Lee. Lee langsung menggelengkan kepalanya segera, menyatakan bahwa dirinya sama sekali tidak terlibat dan tidak tahu-menahu mengenai perkataan Sakura ini.
"Aku sudah banyak berpikir," Sakura melanjutkan. "Sekarang, hanya itulah satu-satunya alasan hidupku. Aku harus membalaskan dendam Nona Tsunade dan Kak Shizune dengan membunuh Kakuzu. Aku harus membunuhnya dengan cara yang sama menyakitkannya—tidak, lebih menyakitkan—daripada ketika dia membunuh Nona Tsunade dan Kak Shizune."
Mata Sakura kini terpancang ke arah Kakashi.
"Karena itulah, aku mohon kepadamu Guru Kakashi... tolong ajari aku semua ilmu bela diri yang kaukuasai. Aku membutuhkannya untuk membunuh Kakuzu dan anak buahnya."
Kakashi balas menatap Sakura selama beberapa saat, kemudian dengan santai melanjutkan makannya.
"Tidak."
Sakura terperangah.
"Maaf?"
"Kubilang TIDAK, Sakumo. Sudah jelas bukan?"
Dahi Sakura berkerut.
"Kenapa? Kenapa tidak? Kalau kau butuh bayaran, aku akan mencari uang!"
Kakashi tidak menggubris. Dia terus makan seolah tidak terjadi apa-apa.
"Guru Kakashi!!!"
Sikap Kakashi tidak berubah.
"Guru Kakashi, aku mohon!!!"
Kini Sakura menjatuhkan diri di lantai kayu sambil menundukkan kepalanya. Lee dan Chouji melirik-lirik Kakashi dan Sakura bergantian dengan cemas.
"Apapun yang kaulakukan tetap tidak akan mengubah pendirianku. Kutegaskan lagi, Sakumo: TIDAK."
Tubuh Sakura bergetar. Lee sudah khawatir tangisnya akan meledak lagi, namun dia salah. Sakura berdiri, kemudian menggebrak meja makan dengan penuh amarah. Membuat mangkuk dan piring yang berada di atasnya bergoyang-goyang.
"Baiklah! Baiklah! Aku memang salah minta tolong kepadamu. Ini masalahku, sudah seharusnya aku melakukannya sendiri!"
Kini telunjuknya menuding Kakashi.
"Aku akan buktikan kepadamu... aku pasti akan membunuh Kakuzu dengan tanganku sendiri!!!"
Dia berlari meninggalkan meja makan. Teriakan Lee tidak dihiraukannya.
"Guru Kakashi..." lirih Chouji sambil memandang Kakashi. Ekspresi gurunya saat ini betul-betul tidak bisa ditebak.
###
Sakura benar-benar mewujudkan kata-katanya. Setiap hari dia berlatih keras sendirian setelah pada pagi harinya membantu Lee dan Chouji di gudang pembuatan senjata. Dia tidak berhenti kecuali untuk makan dan ke kamar mandi. Dan dia mogok bicara kepada Kakashi, membuat suasana rumah itu menjadi tidak nyaman kembali.
Kakashi sendiri juga tetap pada pendiriannya. Dia meladeni sikap Sakura yang mengabaikannya dengan santai, bahkan terlihat tidak peduli sama sekali. Dia biarkan saja Sakura berlatih sendiri sepanjang hari, sementara dia kembali pada gaya hidupnya semula yaitu bermalas-malasan membaca buku Icha-icha Tactics kesayangannya.
Semua upaya Lee dan Chouji untuk mendamaikan mereka sama sekali tidak menemui titik temu.
"Mereka berdua sama-sama keras kepala," keluh Lee pada sahabat gendutnya ketika mereka sedang bekerja berdua di gudang pembuatan senjata. Saat itu sudah sekitar sepuluh hari Kakashi dan Sakura saling mengacuhkan. "Ini lebih parah daripada yang dulu."
"Ya," sahut Chouji sambil menempa besi. "Apa sebaiknya kita biarkan saja?"
Lee memandang keluar, di mana Sakura sedang berlatih memainkan pedang sendirian. Gerakannya lincah menebas musuh bayangan di hadapannya.
"Aku heran, mengapa Guru Kakashi bersikeras tidak mau membunuh Kakuzu," kata Lee, tidak menjawab pertanyaan Chouji. Pandangannya masih ke arah Sakura, yang kini berdiri terengah-engah. "Padahal Kakuzu itu sudah begitu kejam membunuh Nona Tsunade dan murid tertuanya."
"Aku juga tidak mengerti," sambung Chouji.
"Mungkin kita harus... Sakumo!!!" omongan Lee terputus oleh seruannya sendiri ketika melihat Sakura roboh ke tanah.
###
Sakura membuka mata. Kepala dan seluruh tubuhnya terasa sangat berat. Dia menoleh ke samping saat merasakan ada yang dingin di bagian atas wajahnya.
"Kau terlalu lelah."
Rupanya itu adalah Kakashi yang sedang menyeka dahinya dengan kain basah. Mengetahui hal ini, Sakura segera memalingkan muka dan membalikkan tubuhnya membelakangi Kakashi.
"Kau terlalu memaksakan diri," lanjut Kakashi, berusaha meneruskan apa yang sedang dilakukannya sebelum Sakura menepis tangannya. "Cara latihanmu salah."
"Masih berani bicara begitu," gerutu Sakura. "Apa pedulimu? Kau kan menolak mengajariku!"
Terdengar helaan napas Kakashi.
"Kau ini betul-betul keras kepala, Sakumo."
Sakura diam saja. Dia makin merapatkan selimut ke seluruh tubuhnya.
"Tidak mungkin aku tidak peduli padamu. Nona Tsunade sudah menitipkanmu kepadaku, kau tahu? Aku sudah berjanji padanya untuk melindungimu."
Sakura langsung duduk dan menatap Kakashi garang.
"Kalau begitu kenapa kau tidak mau membantuku!?" teriaknya. "Kenapa kau malah membiarkanku bersusah payah sendirian, sementara kau sendiri hanya bermalas-malasan saja!? Memangnya yang seperti itu bisa disebut peduli!?"
"Kau tidak mau bicara padaku kan?"
"Itu karena kau menyebalkan!!!" Sakura kembali memunggungi Kakashi, membuat pria itu menarik napas lagi.
"Aku punya alasan."
"Apa!?"
"Aku tidak akan mengizinkanmu membunuh siapapun, Sakumo."
"Kakuzu pantas dibunuh," sahut Sakura dengan suara penuh kebencian.
"Memang. Tapi aku tidak mau kau yang melakukannya."
"Kenapa!?"
"Karena dia juga manusia."
"Dia bukan manusia!!! Dia setan!!!" teriak Sakura. Air mata mulai mengalir di pipinya.
"Sakumo—"
"KAU TIDAK MENGERTI PERASAANKU!!!" raung Sakura, menoleh marah pada gurunya. "Kau tidak akan mengerti rasanya melihat dua orang yang paling kausayangi dibunuh dengan kejam di depan matamu... dan... dan..."
Sakura terisak keras. Emosi yang selama ini berhasil dikendalikannya mendadak merembes keluar lagi begitu saja.
Di luar kamar, Lee memberi isyarat pada Chouji untuk menjauh dan melanjutkan pekerjaan mereka di gudang. Tidak sepatutnya mereka menguping di sini. Biarkanlah Guru Kakashi menangani Sakura sendiri.
"Aku mengerti, Sakumo—"
"TIDAK, KAU TIDAK MUNGKIN MENGERTI!!!"
"Sakumo, dengarkan—"
"KAU BILANG BEGITU HANYA UNTUK MENGHIBURKU, PADAHAL KAU TIDAK MENGERTI SAMA SEKALI!!!"
"AKU MENGERTI, SAKUMO!!!" kali ini Kakashi ikut berteriak. Sakura sampai terdiam karena terkejut. "Aku mengerti..." suara Kakashi berubah lunak dan lirih. "Aku sangat mengerti, Sakumo... karena... ayahku juga dibunuh di depan mataku."
Kakashi menelan ludah.
"Oleh Kakuzu."
Hening.
Lama.
"Ja... jadi..." Sakura berbisik serak, "ayahmu... Hatake Sakumo..."
Kakashi mengangguk.
"Dia meninggal karena Kakuzu membunuhnya."
Sakura terdiam lagi.
"Itu kesalahpahaman," desah Kakashi. "Kakuzu mendengar kabar bahwa Orochimaru, pengkhianat dalam organisasi kriminal yang diikutinya, memesan senjata terhebat kepada ayahku. Padahal tidak—itu hanya kabar burung yang pasti disiarkan oleh orang yang iri kepada pesatnya bisnis Ayah. Lalu ketua organisasi itu mengutus Kakuzu untuk menghabisi Ayah."
###
Kakashi kecil sedang berjongkok menjemur ikan di halaman depan sambil bersenandung riang. Hatinya sudah tidak sabar menunggu ikan-ikan ini dimasak oleh ayahnya. Pasti rasanya akan lezat sekali.
"Hei, anak kecil!"
Kakashi mengangkat wajahnya. Dia melihat tiga orang dewasa di depannya. Dua orang membawa pedang dengan wajah yang tidak menyenangkan, sementara satu orang lagi—yang di tengah—memiliki mata berwarna hijau-merah yang tidak lazim. Hanya matanya itu yang terlihat, karena bagian lain wajahnya tertutup selubung.
"Mau apa kalian?" tanya Kakashi curiga seraya berdiri.
"Mana Hatake Sakumo!?" salah seorang dari mereka balik bertanya dengan kasar.
"Untuk apa kalian mencari ayahku?" dengan berani Kakashi membalas.
"Bukan urusanmu!" orang yang di sebelah kanan mendorongnya hingga jatuh, menimpa nampan berisi ikan yang sedang dijemur. Kemudian tiga orang itu berjalan mendekati rumah.
Kakashi buru-buru bangkit dan mengejar mereka.
"Hei! Jangan seenaknya masuk ke rumahku!"
Dia berhasil menarik pakaian orang yang di sebelah kanan. Kontan, orang itu langsung marah besar.
"Beraninya kau, anak kecil!"
Pedangnya bergerak cepat. Kakashi tidak bisa melihat gerakannya. Yang dia tahu, beberapa detik kemudian mata kirinya terasa panas. Otomatis, bocah itu menjerit kesakitan.
"Kakashi! Ada apa?" tergopoh-gopoh, Hatake Sakumo berlari dari gudang pembuatan senjata. Dia berhenti ketika melihat tiga orang itu.
"Ayah..." Kakashi mendekati ayahnya. Tangan kirinya menutup matanya yang terluka, dan darah merembes dari sela-sela jarinya. Mengucur terus tanpa henti.
"Kalian apakan Kakashi!?" bentak Hatake Sakumo kepada ketiga orang itu. Tapi mereka sama sekali tidak menjawab.
"Kau Hatake Sakumo?" orang bermata aneh yang memakai selubung itu membuka mulut.
"Ya, aku Hatake Sakumo. Kalian pengecut! Kalau kalian punya urusan denganku, kenapa kalian harus lukai anakku!?" Sakumo berteriak marah.
"Benarkah kau membuat senjata untuk Orochimaru?" si Mata Aneh bertanya lagi, sama sekali tidak menggubris kata-kata Sakumo.
"Siapa itu Orochimaru!? Jangan mengalihkan pembicaraan! Kalian harus membayar atas apa yang sudah kalian lakukan kepada putraku!" Sakumo berlari menerjang. Tapi tangan si Mata Aneh lebih cepat. Dia mencekik leher Sakumo dengan kekuatan yang mengerikan.
"Ayah!!!" pekik Kakashi.
"Sekarang kau menyesal karena membuat senjata untuk Orochimaru," bisik Kakuzu kejam. Kemudian orang yang di sebelah kiri menusukkan pedangnya ke perut Hatake Sakumo.
"Ayah..." tubuh Kakashi bergetar. "AYAAAAAAH!!!"
###
Kakashi mengangkat bahu.
"Begitulah."
Hening lagi.
"Aku sangat tersiksa selama hari-hari pertama setelah kematian ayahku," Kakashi melanjutkan. "Aku tinggal sendirian di sini, setiap hari hanya menangis dan memanggil-manggil nama ayahku. Saat itu ibuku sudah lama meninggal. Aku benar-benar tidak punya siapa-siapa."
Sakura menatap sang pembuat senjata. Ternyata... orang ini juga mengalami hal yang sama denganku...
Simpatinya langsung muncul begitu saja.
"Jadi... bekas luka itu..."
"Ya," Kakashi mengusap bekas luka melintang di mata kirinya. "Ini akibat dari kejadian itu."
Kakashi menepuk punggung muridnya.
"Kau masih lebih beruntung karena Kakuzu tidak melukaimu secara fisik."
Sakura memejamkan mata sejenak. Benar juga.
"Apakah... tak pernah terpikir olehmu untuk membunuh Kakuzu?" tanyanya. Mendengar itu, Kakashi tertawa datar.
"Pikiran itu menguasaiku sejak aku menyaksikan Kakuzu dan anak buahnya meninggalkan ayahku yang bersimbah darah begitu saja," ujarnya. "Tapi aku tidak melakukannya."
"Kenapa?"
Mata Kakashi memandang langit-langit.
"Sakumo, kenapa kau belajar ilmu pengobatan?" bukannya menjawab, Kakashi malah menanyakan pertanyaan lain.
"Tentu saja untuk mengobati dan menolong orang yang sakit," jawab Sakura bingung. "Kenapa kau menanyakan hal itu?"
"Kau bukan belajar ilmu pengobatan untuk membuat racun, kan?" lagi-lagi Kakashi balik bertanya.
"Tentu tidak!"
"Sama seperti ilmu bela diri," Kakashi menatap Sakura serius. "Ilmu bela diri dipelajari untuk mempertahankan dan melindungi diri sendiri, bukan untuk membunuh orang lain."
Sakura terdiam. Sekarang dia mengerti arah pembicaraan ini, sepenuhnya mengerti.
"Karena itulah, aku menolak mengajarimu jika kau berniat memakai ilmu itu untuk membunuh Kakuzu," akhirnya Kakashi sampai kepada intinya. Kemudian dia membiarkan Sakura memikirkan kata-katanya sejenak.
"Kau benar..." kata Sakura lambat-lambat. "Tapi..."
"Tapi apa?"
"Bagaimana caranya kau bisa mengatasi dendammu kepada Kakuzu?" dahi Sakura berkerut heran. "Dan bagaimana caranya kau menyembuhkan luka hatimu?"
Kakashi tersenyum.
"Dua sahabatku datang kemari dan tinggal bersamaku. Merekalah yang memberiku kekuatan untuk melanjutkan hidup. Mereka jugalah yang berulang kali mengingatkan aku bahwa membalas dendam hanya akan membuat diriku sama rendahnya seperti Kakuzu," senyum Kakashi melebar. "Aku sungguh berterima kasih kepada mereka yang telah membantuku melewati masa-masa sulit itu."
"Lalu, di mana mereka sekarang?" tanya Sakura penasaran. "Dua sahabatmu itu."
"Aku menyuruh mereka pindah setelah beberapa tahun. Kubilang pada keduanya untuk melanjutkan hidup mereka sendiri karena aku sudah baik-baik saja. Kuminta mereka mengejar impian mereka dan membangun keluarga. Tidak perlu mengkhawatirkan aku lagi, karena aku sendiri sudah tahu apa yang akan kulakukan, yaitu melanjutkan usaha ayahku membuat senjata."
Pandangan Kakashi menerawang, pertanda dirinya sedang mengenang masa-masa itu. Tanpa sadar, senyum Sakura mengembang melihat gurunya. Hatinya terasa hangat karena berbicara dari hati ke hati dengan Kakashi seperti ini.
"Kalau Lee dan Chouji? Kapan mereka datang kemari dan menjadi muridmu?"
Kini Kakashi tergelak.
"Segera setelah mereka berumur sepuluh tahun," katanya. "Mereka berdua adalah anak dari kedua sahabat baikku itu. Lee anak Gai, sedangkan Chouji anak Asuma."
Mulut Sakura membulat. Oh... rupanya begitu! Pantas saja Guru Kakashi sangat menyayangi Lee dan Chouji.
"Kau sudah mengerti kan, Sakumo?" Kakashi mengacak-acak rambut muridnya itu. "Mulai sekarang, lanjutkan hidupmu. Lupakanlah Kakuzu, lupakanlah dendammu, hapuslah masa lalumu perlahan-lahan dan bukalah lembaran baru. Ingat, kau tidak sendirian. Meskipun Nona Tsunade dan Shizune sudah meninggal, tapi masih ada aku, Lee, dan Chouji yang akan menemanimu."
Kemudian Kakashi tersenyum lagi dan menyuruh Sakura beristirahat, sebelum meninggalkan ruangan itu.
###
Tengah malam.
Sakura berdiri di depan rumah reyot yang sudah dia anggap sebagai rumahnya sendiri. Dia sudah berpakaian lengkap, pun buntalan yang berisi barang-barangnya sudah dia pegang erat-erat.
"Maafkan aku, Guru Kakashi..." dengan lirih, Sakura berbisik. "Aku mengerti sekali semua yang kaukatakan padaku tadi siang. Aku paham, sangat paham. Tapi aku tidak bisa..."
Dia menunduk sebentar, kemudian mengangkat kepalanya lagi dan menatap rumah itu lekat-lekat. Sinar tekad memancar dari matanya.
"Aku tidak bisa mengambil pilihan yang kausebutkan itu. Aku tidak bisa melanjutkan hidup dengan melupakan apa yang telah Kakuzu lakukan kepada Nona Tsunade dan Kak Shizune. Aku akan tetap membawa dendam ini sampai Kakuzu mati... atau aku yang mati."
Kini Sakura membalikkan tubuhnya membelakangi rumah tersebut.
"Aku telah bersumpah untuk membunuh Kakuzu dengan tanganku sendiri. Dan aku akan melakukannya. Karena itu, aku tidak bisa terus tinggal di sini. Mulai sekarang, aku akan menapaki jalanku sendirian."
Sebutir zat cair bening jatuh dari mata Sakura.
"Maafkan aku karena tidak bisa langsung berpamitan kepada kalian, Guru Kakashi, Lee, Chouji..." dia tercekat. "Terima kasih, dan... selamat tinggal."
Kemudian kakinya mulai melangkah pergi, menjauhi rumah itu. Menyongsong jalan kelam yang sudah dipilihnya.
TBC
#
#
A/N: Harap maklum, saya sengaja menelantarkan chap 4 ini karena ingin fokus untuk ujian praktik dulu seminggu ini. Sekarang semuanya udah beres dan saya udah libur, jadi mudah-mudahan chapter-chapter selanjutnya bisa digarap dengan cepat. Makasih bagi yang baca, lebih makasih bagi yang ripyu! ^_^
