Dindahatake : thanx.. oke kapan2 kalo dah ada ide bakalan Fire bikin fic dgn pairing SasuHina
SoraHinase : iaa happy ending tapi ada sedikit konflik di antara mereka..
Arukaschiffer : haha..makasih reviewnya
Haze : bales2an nya waktunya gak tentu, Senpai..
Nah!
Selamat menikmati!^^
16 Desember 2009, 07.45 a.m
Hinata sedang duduk termenung di bangku hitam kesayangannya itu. "Bilang begitu pun, aku nggak tahu harus mencarimu kemana..", gumamnya. Tiba-tiba..
SRAAAK!
Hinata menoleh ke arah sumber suara berisik itu. Dan dia membelalak melihat sekumpulan burung merpati terbang turun. Hinata entah kenapa berdiri dan berkeinginan untuk mengikuti ke mana burung-burung itu mendarat.
Tak jauh dari situ, burung-burung tersebut mendarat di atas salju. Hinata hanya memandanginya dari balik pohon. Seulas senyum kecil terukir di wajahnya yang cantik. Matanya menangkap satu sosok yang sedang berdiri di tengah-tengah kumpulan burung itu. Walau agak jauh, Hinata bisa melihat sosok yang membelakanginya itu seorang laki-laki berambut merah yang melebihi kerah jaketnya. Dia memakai jaket merah marun dan celana jeans biru tua.
Hinata tiba-tiba tergerak untuk mendekati pria itu, sekedar untuk ngobrol sedikit saja. Dia keluar dari persembunyiannya dan mendekati pria itu.
"Hai.", sapanya.
Pria itu menoleh.
Saat Hinata menatap pria ini, Hinata membelalak. Pria itu masih muda, kira-kira seumuran dengannya. Wajahnya sangat tampan, meskipun dia tak beralis. Di sekeliling matanya ada lingkaran hitam. Di kening kirinya tertulis kanji 'Ai'. Dan yang paling indah menurut Hinata adalah mata pria itu yang berwarna turquoise bening. Melihat kanji 'Ai' di kening kiri pemuda itu, Hinata teringat Ai.
"Hai.", sapanya lagi. Pemuda itu tetap bungkam. Namun matanya melebar seakan ketakutan melihat Hinata. Pemuda itu menggigit bibir bawahnya. Bahu pemuda itu gemetar.
"Ah, kau tak apa-apa?", Hinata mencoba mendekatinya, namun pemuda itu menjauh. "Hei! Kau kenapa?", Hinata mendekatinya, berusaha menyentuhnya, namun pemuda itu memalingkan mukanya dan berbalik hendak pergi. "Tunggu!", Hinata meraih tangan pemuda itu.. dan..
Hangat.
Hinata berhasil memegang tangannya.
Seketika, rasa hangat yang sangat dikenalnya mengalir melalui kulit tangannya.
Namun saat Hinata sedang berpikir, pemuda itu menyentakkan tangannya dengan sangat keras, menyebabkan Hinata terjengkal.
"Kyaaa!", Hinata hampir menyambut tanah, namun saat kepala Hinata hampir membentur tanah, sepasang lengan yang kokoh melingkar di pinggangnya, menahannya agar tidak jatuh. Hinata menoleh. Jarak antara wajahnya dan wajah pemuda itu hanya seinci.
Dan saat itulah..
Aroma wangi bunga mawar.
Tangan yang hangat.
Pemuda itu..
"Ai..?", mata Hinata berkaca-kaca. Pemuda itu membuka mulutnya kemudian menutupnya lagi. Matanya tampak aneh.
"Ai.. ini kamu, kan?", Hinata menangkupkan tangannya di pipi pemuda itu. Airmata mengalir menuruni pipinya. Pemuda itu tampak kalut dan ketakutan.
"Ai! Jawab aku, Ai! Ini kamu, kan?", Hinata tersenyum bahagia sambil menangis. Pemuda itu menelan ludah dengan keras. Matanya tak bisa dibaca. "Kau memintaku memanggilmu Ai karena tatomu ini, kan?", Hinata menyentuh tato Ai yang ada di kening kiri pemuda itu.
"Ai!", Hinata merangkul laki-laki itu erat. Laki-laki itu terdiam. Tanpa Hinata sadari, pemuda itu sedang berjuang keras menahan agar airmatanya tidak tumpah. Dia menarik napas panjang kemudian dia mendorong Hinata sekuat-kuatnya.
BRUK!
Hinata terempas ke atas salju. Kepalanya membentur batu. Darah mulai mengalir keluar dari kepalanya. Hinata berusaha bangkit. Dilihatnya pemuda berambut merah yang tadi mendorongnya itu berlari menjauh.
"Ai..", Hinata menggumamkan nama itu. Tangannya terulur ke arah pemuda yang semakin mengecil jauh di sana itu. Tiba-tiba, jantungnya terasa amat sangat sakit sekali. Dia hanya bisa pasrah selama beberapa detik sebelum dunianya menjadi gelap.
16 Desember 2009, 22.30 p.m
"Maafkan kami, Tuan Hiashi. Kami sudah berusaha sebisa kami. Jantung putri Anda sudah tak mampu bertahan lagi. Putri Anda sudah takkan bisa tertolong lagi. Bisa dipastikan saat bulan Desember berakhir, hidupnya juga akan berakhir. Perkiraan kami dia masih bisa bertahan sampai bulan Februari, tapi saat kami mengetes kembali, entah kenapa denyut jantungnya makin lemah.", jelas dokter bersama Asuma yang menangani Hinata itu kepada Hiashi. Ino yang ada di samping Hiashi saat itu menutup mulutnya. Airmatanya mulai membanjir. Hiashi hanya bisa diam namun airmatanya meluncur di pipinya.
Setelah mendengar penjelasan dari Asuma, Ino dan Hiashi membuka pintu kamar Hinata.
BRUAK!
Sebuah kursi menabrak dinding, untung saja Ino dan Hiashi sempat menghindar. Mereka menoleh.
Kamar yang semula rapi itu kini bagaikan dilanda topan. Hinata sedang berdiri di samping kursi yang terbalik. Rambutnya yang selalu rapi itu kini acak-acakan. Darah mengalir dari sudut bibirnya. Matanya tampak seperti mata binatang liar.
Saat itu Hinata menghadap dinding dan mulai berteriak dengan suara yang amat sangat serak,
"AKU BENCI KAMU, AI! SAMPAI AKU MATI AKU AKAN TERUS MEMBENCIMU! TEGA SEKALI KAU MENINGGALKANKU! KAU KIRA HATIKU INI TERBUAT DARI BESI, HAH? SEHINGGA TIDAK BISA HANCUR? AKU BENCI KAMU, AI! LEBIH DARI APAPUN!"
"Hinata!", seru Ino. Hiashi tak kalah kaget. Mereka berdua berlari ke arah Hinata. Hinata mulai memukul-mukul tembok di depannya itu dengan tinjunya. Darah mulai mengucur dari tangannya yang terus memukul-mukul dinding dengan sekuat tenaga.
Ino segera merangkul sahabatnya itu. "Hinata! Tenang! Tenanglah, Hinata!"
Hiashi ikut memegang putrinya yang terus menerus meronta-ronta seperti orang gila itu. "Nak, tenanglah! Hinata!"
Akhirnya Hinata perlahan berhenti. Bahunya bergetar dengan sangat keras. Dia menangis menjadi-jadi, membuat Ino dan Hiashi ikut menangis melihat keadaan Hinata yang sangat mengenaskan itu.
"Hiashi-sama, maaf.. tolong tinggalkan kami..", kata Ino di sela-sela tangisnya. Tanpa banyak bicara, Hiashi pun keluar dari kamar.
Hinata dan Ino terduduk di lantai.
"Hinata.. Hinata..", Ino memeluk Hinata yang masih terus menangis itu.
"Ino.. Ino.. aku sudah bertemu dengan Ai..", kata Hinata. Ino melebarkan matanya.
"Tapi.. Tapi.. dia mendorongku dan.. dan.. dia berlari pergi.. dia.. Ai.. Ai menolakku, Ino!", teriak Hinata.
Tangisan Ino makin parah saat mendengar kalimat terakhir Hinata. "Bersabarlah, Hinata..", katanya dengan maksud menenangkan.
"Ino.. aku hanya ingin bertemu dengannya.. aku hanya ingin melihatnya sekali lagi.. sekali lagi.. sebelum aku mati..", kata Hinata dengan sangat sedih. Tangannya mengepal begitu erat hingga mulai mengeluarkan darah.
"Aku dengar pembicaraan Ayah.. saat bulan Desember berakhir, aku juga akan berakhir.. sebelum saat itu tiba, aku hanya ingin melihat Ai sekali lagi.. walaupun hanya sebentar.. aku ingin agar bisa memeluknya lagi.. bisa mencium wangi mawarnya.. bisa merasakan kehangatan tubuhnya.."
Ino speechless. Dia tak mampu mengatakan apapun lagi, hanya bisa menangis, sembari membiarkan Hinata menumpahkan semua kesedihannya.
"Ino.. jika Ai muncul hanya di saat aku buta.. apa aku harus buta lagi untuk membuatnya mengunjungiku lagi?", tanya Hinata getir.
Ino tak bisa menjawab. Airmatanya makin membanjir saat dia mendengar pertanyaan sahabatnya barusan.
"Kalau memang iya, menjadi buta selamanya aku rela..", sambung Hinata.
Tangis Ino makin menjadi begitu dia mendengar kalimat Hinata barusan.
"Kalau memang demikian, kau rela menjadi buta selamanya hanya supaya kau bisa merasakan kunjungan Ai? Hinata, sebesar itukah cintamu pada pemuda bisu yang bahkan tidak kau kenal itu?", batin Ino dengan penuh iba.
"Ino.. cinta sejatiku.. bersama dengan malaikat itu.. sudah pergi.. maka hidupku pun sudah tak ada artinya lagi..", kata Hinata. Per kata suaranya melemah. Tubuhnya dingin.
"Hinata..", Ino mulai cemas saat merasakan tubuh Hinata mulai lemas.
Tak ada jawaban.
Ino segera menunduk.
Mata Hinata terpejam.
Darah mengalir deras dari mulutnya yang terkatup.
Ino memegang nadi di leher Hinata.
Denyutnya nyaris tak terasa..
Kekhawatiran Ino mencapai puncaknya.
"HINATA!"
20 Desember 2009, 21.15 p.m
Ino duduk di kursi di sebelah ranjang Hinata yang di atasnya Hinata sedang tertidur. Lebih tepat disebut koma.
Mata Ino sembab. Akhir-akhir ini dia terus menangisi nasib sahabatnya itu. Sejak 4 hari yang lalu, Ino terus menjaga Hinata di rumah sakit, siang dan malam. Dan tak sesaat pun mata Hinata yang indah itu terbuka.
Mata Ino nyaris tertutup karena kantuk yang menyerangnya, ketika tiba-tiba terdengar suara pintu yang dibuka. Disusul suara langkah-langkah kaki yang berat. Ino malas menoleh, maka dia berkata, "Selamat malam, Hiashi-sama.". Suara langkah kaki berhenti. Tak ada jawaban.
Ino kemudian menoleh dan matanya melebar.
Di pintu berdirilah seorang pemuda tampan yang mengenakan jaket merah marun dan berambut semerah mawar. Bola matanya bening dan berwarna turquoise. Pemuda itu tak beralis, di sekeliling matanya terdapat lingkaran hitam. Di kening kirinya terdapat tato berbentuk kanji 'Ai'. Matanya memancarkan kesedihan dan penyesalan yang sangat dalam.
Alis Ino bertaut. Dia berdiri dari kursinya.
"Kau.. Ai?", tanyanya dengan sorot mata benci. Pemuda itu terdiam sejenak, kemudian mengangguk pelan.
"Untuk apa kau kemari?", tanya Ino dengan nada suara kasar. Dia mengambil kertas yang ada di meja beserta pena Hinata, kemudian berjalan ke arah Ai dan memberikan kertas dan pena tersebut padanya.
Ai menuliskan sesuatu di kertas itu kemudian menyerahkannya pada Ino.
'Aku datang untuk menjenguk Hinata.'
Ino menghela napas panjang, kemudian..
PLAAK!
Wajah Ai menoleh ke samping. Poni merahnya menutupi matanya. Nafasnya memburu-buru. Pipinya terasa panas dan sangat sakit. Tangannya tak terangkat untuk memegangi pipinya yang sakit.
Ya, Ino telah menampar Ai.
Perlahan, Ai menoleh menghadap Ino, yang balas menatapnya dengan tatapan benci yang amat sangat. Mata Ai menyiratkan kesedihan dan penyesalan yang lebih dalam lagi.
"Untuk apa kau menjenguk Hinata? Belum puaskah kau setelah menyakiti hatinya?", tanya Ino. Nada suaranya meninggi. Mata Ai tampak sangat menyesal.
"Di mana perasaanmu? Dia itu.. Hinata itu..", Ino mulai terisak. Airmata mulai menuruni pipinya. Ai menatap Ino dengan tatapan penuh tanya.
"Hinata itu sangat mencintaimu, tahu!", suara Ino meninggi. Tangisnya pecah. Mata Ai membulat.
"Hinata itu mencintaimu.. sangat mencintaimu! Walau tubuhnya semakin melemah karena digerogoti penyakit, dia nekat keluar di hari yang bersalju hanya untuk mencarimu! Hanya demi kamu! Dan kau dengan bodohnya malah menolaknya!", seru Ino dengan nada menyalahkan.
Ai hanya terdiam, namun sebutir airmata menuruni pipinya.
"Kau tahu? Saat bulan Desember berakhir..", Ino terhenti, seakan tak mampu mengucapkan pernyataan yang sangat menghancurkan hatinya itu. Dia menarik napas panjang, kemudian menatap Ai tepat di matanya dan melanjutkan..
"Hidup Hinata juga akan berakhir."
Mendengar itu, Ai bagai disambar petir. Matanya membelalak lebar.
"Karena penolakanmu terhadapnya, jantungnya melemah. Hidupnya makin memendek karena apa yang telah kau lakukan. Dan kenapa kau baru datang sekarang? Sudah terlambat, bodoh! Dia sudah empat hari koma!", teriak Ino di sela-sela tangisnya.
"Hinata sebelum pingsan dan jatuh koma berkata padaku, jika kau hanya datang padanya di saat dia tak bisa melihat, maka dia rela selamanya menjadi buta hanya agar dia bisa merasakan kau di sisinya..", kata Ino.
Mendengar itu, Ai melebarkan matanya dengan sangat terkejut.
"Dua hari lagi ulang tahunnya.. dia berharap agar saat dia berulang tahun dia mendapatkan cinta sejatinya..", Ino menghapus airmatanya.
"Dia berpikir bahwa kaulah malaikat itu.. dia berpikir bahwa kaulah cinta sejatinya.. namun kini kau malah menghancurkan hatinya! Menghancurkan setiap keping harapannya yang tersisa! Menghancurkan jiwanya!", Ino marah. Tangannya menampar-nampar udara.
"4 hari yang lalu, setelah kau menolaknya, aku dan Tuan Hiashi menemukan Hinata dalam keadaan setengah gila di dalam kamarnya.. dia menghancurkan kamar ini.. dia meneriaki tembok dengan kata-kata yang mengatakan bahwa dia membencimu sampai mati..", kata Ino. Mendengar cerita Ino, Ai membelalakkan matanya lebih lagi.
"Apa kau ingin agar dia buta kembali hanya supaya kau mau mengunjunginya?", tanya Ino. Ai menggeleng cepat.
"Sebelum Hinata menutup matanya, dia mengatakan bahwa karena malaikat dan cinta sejatinya sudah pergi, maka hidupnya pun sudah tak berarti lagi.", lanjut Ino.
Ai sangat terkejut mendengarnya.
Tiba-tiba, Ino menjatuhkan diri dan berlutut di hadapan Ai, membuat pemuda itu heran dan bingung.
"Tolong! Aku minta agar kamu mau menerima Hinata! Janganlah menolak dia! Dia sudah sangat menderita! Jangan tambahi penderitaannya dengan menolaknya! Hidupnya sudah tidak lama lagi! Dia sangat mencintaimu.. dan aku tahu.. kau juga mencintainya sebesar cintanya padamu, kan?", kata Ino sambil mencucurkan airmata.
Ai menatap Ino, airmatanya membanjir. Dia mengangguk.
"Kumohon! Sebagai sahabatnya, aku memohon padamu, tolong jagalah dia! Cintailah dia! Setidaknya sebelum dia meninggal, dia bisa tersenyum karena ada kau di sampingnya! Kumohon!", seru Ino dengan nada memohon yang amat sangat.
Ai perlahan berlutut di depan Ino. Dia menuliskan sesuatu di kertas yang tadi kemudian menyerahkannya pada Ino. Senyum kecil mengembang di wajah Ino.
"Terima kasih.. Ai.", gumamnya pelan, sambil melihat ke atas kertas yang bertuliskan..
'Aku berjanji.'
Thx atas semua review nya minna-sama..
How about this chapter?
I hope you like it!
Read 'n Review please
