Terimakasih kepada:

utsukushii02,wonkyuhae, Silviana, aniaani47, Deer and Buns, ayumKim, BluePrince14, PS, aninda, pikachuu, flamintsqueen, kikikyujunmyun, Keefbeef Chiken Chubu, askasufa, Putrifibrianti96, , banzaianime80, , hunkai shipper, miyuk, , Adhel, Xiuxiu Lu, Sayakanoicinoe, niiiiin, LM90, QIP, Jung Ha Ki, exthflyly, nhaonk, , Jongin48

.

.

.

Back in Love

.

HunKai

.

Warning:

YAOI, OOC, Typo's, Gaje, dll

.

.

.

Chapter 4

Tao melangkah dengan tergesa ketika ia sudah sampai didepan gedung apartement mewah milik sepupunya, ia akan memastikan kalau sepupunya itu baik-baik saja. Ia begitu khawatir tadi anak itu bahkan tidak sekolah, ia takut terjadi apa-apa dengan sepupunya itu. Namun langkahnya terhenti ketika melihat mobil seseorang terparkir dengan cantiknya tidak jauh dari posisinya sekarang, ia mengenali mobil tersebut.

Luhan?

Ia bisa melihat dengan jelas itu Luhan tidak salah lagi apa yang ia lakukan disini? Darimana ia tahu Kai ada disini? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya, hingga ia mengingat sesuatu.

"Kai, kau tahukan kalau aku masih menyukainya."

"Aku menyukai keduanya, meskipun kau menghalangiku untuk dekat lagi dengan Kai aku tidak peduli. Akan kulakukan apapun untuk mendapatkannya lagi, Tao."

Jangan-jangan mereka… tidak Tao menggeleng keras ketika ia memikirkan hal yang tidak-tidak itu.

Tidak lama Luhan memasuki mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan sedang, Tao melanjutkan langkahnya.

"Kai!" gumamnya pelan, ia segera melanjutkan lagi langkahnya yang sempat tertunda tadi. Dalam pikirannya sekarang ia hanya ingin cepat bertemu dengan Kai, memastikan kalau dia baik-baik saja.

Sementara di didalam sana, Kai tengah asyik menonton TV ditemani dengan setoples kue kering dan coklat hangat. Matanya tertuju pada TV itu namun pikirannya entah dimana.

"Kai biarkan aku ber ego beberapa menit, please dengarkan penjelasanku?"

Kai menatap nanar TV yang kini tengah menayangkan drama romance itu, pikirannya melayang kembali pada beberapa waktu yang lalu.

"Jonginnie, aku mencintaimu, pukul aku Kai, bunuh aku saja karena aku memang pantas mendapatkannya."

"Jonginnie, kau memaafkan aku kan? Kita…"

Menggigit bibir bawahnya ketika mengingat perkataan Luhan, dimana ia mengatakan ia masih mencintainya, menginginkan dia kembali padanya. Tangannya bergerak mencoba meraih ponselnya yang terletak diatas meja dalam keadaan mati. Meraihnya dan memutar benda persegi itu sambil memikirkan sesuatu menimbang-nimbang keputusan apa yang akan ia ambil setelah ini.

"Tapi maafkan hatiku ini Kai-ah, yang tak bisa membuka untuk kau isi dengan cintamu. Sekali lagi maafkan gege yang tak bisa meneruskan hubungan ini lagi."

Dan perkataan Luhan beberapa tahun yang lalu kembali memenuhi kepalanya, dimana saat itu Luhan memintanya untuk mengakhiri hubungan mereka. Mengigit bibir bawahnya kuat tidak peduli akan sakit yang dirasakan fisiknya, sebelah tangannya yang tidak memegang ponsel ia gunakan untuk meremas dadanya. Sakit, mengapa sakit sekali rasanya? Di sinilah yang sakit dibagian dadanya, tepatnya hatinya.

Mengapa ia masih belum bisa melupakannya setelah sekian lama? Kenapa rasa sakit itu selalu muncul? Dan kenapa Luhan kembali dalam hidupnya?

"Sejak awal. Aku tahu ini terlalu cepat, setiap kali aku berada didekatmu aku merasa jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, aku sering memperhatikanmu tanpa kau menyadarinya. Aku merasa nyaman jika sedang berada didekatmu."

"Sehun," gumaman lirih terdengar ketika ia mengingat malam itu, dimana Sehun mengiranya akan bunuh diri. "Apa yang harus kulakukan?" katanya, matanya menatap ponselnya yang masih dalam keadaan mati.

"Dan kau tidak ingin terluka lagi, aku tahu. Kalau kau mau aku bisa membantumu melupakannya, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, dan aku akan membuatmu hanya akan menatapku bukan yang lain."

Kai menggeleng keras ketika mengingat lagi ucapan Sehun yang terakhir. Ya, dia tidak ingin terluka lebih dalam lagi. Dengan cepat ia menekan tombol power guna menghidupkan ponselnya yang mati dari kemarin sepulang sekolah, tidak lama ponselnya bergetar menandakan ada pesan masuk namun ia tak membukanya ia bisa menebak siapa yang menghubunginya. Tao, sepupunya, Baekhyun dan mungkin Luhan.

Ting Tong…

Bel apartementnya berbunyi, menghembuskan nafas lelah siapa yang datang malam-malam begini?

Ting Tong Ting Tong

Namun sepertinya orang diluar sana sudah tidak sabar menunggu, akhirnya ia beranjak mendekati kearah pintu tanpa melihat layar intercom ia langsung saja membuka pintu itu. Dan ia tidak heran ketika mendapati sepupunya tengah berdiri disana, melipat tangannya didada dengan mata menyipit.

"Kalau kau tidak akan masuk lebih baik pulang saja," katanya sedikit ketus. Tao tidak menjawab ia melenggang masuk melewati sang tuan rumah, dan tanpa permisi menjatuhkan tubuhnya disofa.

Kai hanya meliriknya sekilas sebelum ia berjalan menghampiri sepupunya itu juga mendudukkan tubuhnya disebelalahnya.

"Kau baik-baik saja?" tanya Tao, ia mengambil kue kering dan memakannya begitu saja. Seolah melupakan apa yang tujuannya kesini.

"Ya." Tao menelan kunyahannya ia menghadapkan tubuhnya ke Kai memandangnya intens dan itu membuat Kai risih. "Apa?"

Bukannya menjawab Tao malah balik bertanya, ia memandang Kai khawatir sekarang, dilihatnya wajah Kai yang seperti biasanya, dingin—ah dia terlalu pandai memnyembunyikan wajah mendungnya. "Kau membuatku khawatir, kenapa tidak sekolah? Aku menghubungi ponselmu tapi mati, telpon rumah juga tidak ada yang mengangkat. Sebenarnya kau kemana saja?" tanya Tao bertubi-tubi.

"Ponselku mati karena kehabisan daya dan baru kuhidupkan tadi sebelum kau datang, aku ada sedikit urusan." Kai mencoba menjelaskan, namun Tao malah menyipitkan matanya, setelahnya ia menghembuskan nafas lelah.

"Urusan dengan Luhan?" dan sepertinya Tao benar karena Kai tak bergeming ditempatnya setelah mendengar penuturannya. "Kau masih mencintainya?" lanjutnya.

"Bukan urusanmu," Kai berujar dingin dan datar tanpa menoleh pada sepupunya yang masih memperhatikannya dari sebelah tempat duduknya. Ia beranjak menuju dapur.

"Apa yang kau harapkan darinya? Bahkan dia sudah menyakiti dan meninggalkanmu demi namja lain" Kai menghentikan langkahnya dia berhenti didepan kulkas, membukanya dan mengambil air minertal dari sana, mungkin saja dapat menyegarkan kembali kepalanya yang sudah terasa panas. Memikirkan segala masalah yang dihadapinya dan ditambah kehadiran Tao yang membahas itu lagi jujur saja itu membuatnya semakin panas saja, dan juga…

...sakit.

"Aku tahu. Dan namja lain itu sahabatmu bukan?"

Tao diam, lebih tepatnya tidak tahu harus berkata apa. benar, namja 'itu' yang telah membuat sepupunya seperti ini. Namun itu juga bukan kesalahnya karena memang dasarnya Luhan mencintai namja 'itu'.

Back in Love

Baekhyun memasuki kamar rawat ibunya, ia melihat ayahnya yang tengah duduk disebelah rangjang rawat sambil membelai kepala sang istri sayang.

"Appa," panggilnya Tuan Byun menoleh, "Sebenarnya eomma sakit apa? Dari kemarin eomma belum sadar juga," tanyanya. Ia menghampiri ranjang ibunya dimana disana sang ibu tengah tertidur, Baekhyun duduk disisi lainnya berlawanan dengan Tuan Byun, sang ayah. Ia mengusap tangan sang ibu lembut.

Tuan Byun tersenyum lembut, "Eomma hanya kelelahan saja." Jelasnya.

"Sebaiknya appa pulang saja, eomma biar aku yang menjaganya. Appa pasti lelah kan?" Baekhyun berujar sambil terus mengusap tangan sang ibu.

"Kau yakin?" tanyan Tuan Byun, Baekhyun mengangguk. "Baiklah, appa pulang. Kalau terjadi sesuatu beritahu appa." Tuan Byun beranjak dari duduknya ia melangkah keluar dari ruang itu, menutup pintu perlahan tidak mau mengganggu sang istri yang tengah tertidur.

.

.

Sehun, pemuda tampan itu memasuki rumahnya dengan langkah cepat. Entah apa yang terjadi bahkan ia tak sadar ketika kakinya melangkah membawanya kerumah ini rumah orang tuanya dan juga rumahnya. Ia berjalan begitu saja melewati bulter yang bertugas mengurusi rumahnya dan juga beberapa maid yang membungkuk—hormat—padanya.

Memasuki kamarnya yang sudah lama tak ia tinggali—mengingat ia lebih sering berada diapartemen Luhan sepupunya—tidak dipungkiri ia begitu merindukan tempat ini, tempat dimana ia biasanya menghabiskan waktunya seorang diri, merenung kenapa hidupnya selalu datar-datar saja. Meski banya teman dan sahabatnya yang selalu menemaninya namun hatinya masih terasa sepi, ia butuh waktu dengan keluarganya. Namun apa mau dikata orang tuanya memang sibuk dengan urusan masing-masing, dan disaat seperti inilah ia mengingat satu nama.

"Jongin, Kai," nama yang berbeda namun dengan orang yang sama. Sehun selalu mengingat nama itu dan ketika menyebutkan nama itu bibirnya tertarik keatas membentuk kurva, seulas senyum manis menghiasi wajah tampannya, senyum yang teramat jarang ia tunjukkan pada orang lain. Namun hanya dengan menyebut nama itu senyumnya terkembang begitu saja.

Andai saja fans-fans nya mengetahui mungkin mereka sudah menjerti histeris, apalagi senyum itu menambah kadar ketampanannya.

"Aku akan melakukan apapun untukmu, agar kau dapat melihatku bukan yang lain." Katanya masih dengan senyumnya. "Setidaknya membuatmu tersenyum lagi," lanjutnya.

Tok tok

Ia menoleh kearah pintu dan berkata, "Siapa?"

"Ini bulter Park," jawab orang diluar sana. Sehun bangkit meraih knop pintu dan membukanya.

"Ada apa?"

"Tuan menunggu diruang makan,"

Sehun mengangguk, "Aku akan turun sebentar lagi," katanya

"Baik, Tuan Muda."

.

Makan malam saat ini terasa canggung padahal keluarga ini sudah lama tidak berkumpul apalagi dapat makan malam bersama seperti ini. Suasana kali ini cukup berbeda mereka makan dalam diam, kalau saja sang ibu yang seharusnya menjadi ibu rumah tangga tidak berdehem, mencoba mencairkan suasana canggung yang melanda.

Tuan Oh melirik sang istri, sebelum bersuara. "Bagaimana sekolahmu?" tanyanya pada sang putra. Sehun menghentikan makannya.

"Biasa saja," ujarnya datar. Sedangkan Nyonya Oh hanya menggelengkan kepalanya mendengarnya, Nyonya Oh tahu betul bagaimana sikap sang putra sematawayangnya itu—datar dan dingin—mungkin sifatnya itu diturunkan dari sang ayah.

Tuan Oh mengangguk mengerti, "Sehun-ah sebenarnya ada yang ingin kami bicarakan, dan ini mengenaimu."

Sehun memandang kedua orang tuanya bingung, namun sepertinya kebingungannya hanya sebentar karena ia melihat sang ibu yang gelisah dalam duduknya. "Mengenai aku? Apa kalian akan bercerai, begitu? Kalian tidak perlu mencemaskanku aku mengerti, dan aku tidak akan memilih salah satu diantara kalian."

"Maafkan kami Sehun-ah, kami sudah tidak dapat lagi mempertahankan keluarga ini. Eomma minta maaf," Nyonya Oh berkata lirih. Ya, walau bagaimanapun Sehun mengerti, dari pada bertahan dan selalu diakhiri dengan pertengkaran mungkin ini yang terbaik.

"Kami tidak akan memaksamu untuk ikut dengan siapa, kau boleh mengunjungi appa dan eomma bergantian." Tuan Oh angkat bicara.

Sehun beranjak, ia tidak mau mendengar lebih lanjut lagi bahkan makanannya pun masih belum habis tapi ia lebih memilih pergi. Dan sebelum ia berlalu ia berkata, "Aku mengerti, lakukanlah yang terbaik menurut kalian." Tanpa membalikan tubuhnya.

Back in Love

Menapaki hari yang berbeda, Suho menggeliat dalam tidurnya tanda sebentar lagi ia akan bangun. Membuka matanya perlahan, demi menyesuaikan cahanya yang menyambut paginya. Setelah dirasa cukup ia merlirik jam yang tergantung didinding kamarnya.

"Pagi," ia mengeryit sejak kapan ada orang asing yang memasukikamarnya, ia meirik kesebelahnya takut-takut.

"Ya! Apa yang kau lakukan dikamarku?!" teriaknya histeris ketika mendapati seseorang dengan dengan rambutnya yang berantakan sama seperti dirinya—baru bangun tidur. Dan langsung menyelimuti tubuhnya dengan selimutnya meskipun itu percuma karena orang tersebut yang adalah Kris kekasihnya tengah ada diselimut yang sama dengannya.

"Aish! Kau ini seperti yeoja saja,"

Suho memadang Kris tajam, apa maksudnya? Dan apa yang Kris lakukan disini bahkan mereka tidur dalam ranjang yang sama, jangan-jangan. Tidak Suho langsung melihat tubuhnya sendiri dan ia bernafas lega ketika mendapati tubuhnya dengan pakaian yang masih lengkah.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya sekali lagi, mengingat tadi Kris tidak menjawab pertanyaannya. Kris memutar bola matanya malas, dan hal itu membuat Suho geram ia memukul kepala Kris brutal dengan bantal. "Ya! Aku bertanya padamu,"

"Tentu saja tidur apa lagi," ia menahan tangan Suho yang masih setia memukulnya dengan bantal. "Hentikan, kau ingin kekasihmu yang tampan ini berubah menjadi buruk rupa?"

Suho mendelik, "Kalau kau berubah menjadi buruk rupa aku tinggal mencari kekasih baru," ujarnya enteng. Kris menganga tidak percaya dengan jawaban yang diberikan Suho, segera ia menahan tangan Suho dan menghimpitnya. "Apa yang kau lakukan, menyungkir dari tubuhku."

Kris bukannya menyingkir, "Kau…"

"Apa?" ketus Suho

"Kau hanya miliku, tidak ada yang boleh memilikimu kecuali aku." Ujarnya posesif.

.

.

.

Back in Love

Kai dan Tao berjalan menysusuri koridor sekolah mereka, tadi mereka berangkat bersama karena semalam Kai menginap di rumah Tao. Semua siswa saling berbisik-bisik, ketika melihat kedatangan mereka.

"Ada apa?" tanya Kai bingung. Tao hanya mengangkat bahunya terlihat acuh, padahal dia sudah tahu para siswa tengah membicarakan mereka wajar saja mereka tidak tahu kalau Tao dan Kai sepupu, ingat Tao tidak pernah cerita apapun dan yang mengetahunya hanya teman dekatnya saja selebihnya tidak ada yang tahu.

"Jangan didengarkan," katanya. Mendengar jawaban Tao membuat Kai acuh juga tidak peduli. Mereka berhenti didepan kelas Kai karena kelas Tao ada dilantai tiga sedangkan kelas Kai ada dilantai dua jadilah ia sekaligus mengantar sepupunya itu. "Masuklah Baekhyun sudah menunggu." Ia mengusak rambut Kai lembut membuat beberapa orang yang melihatnya tidak suka.

Kai mengerucutkan bibirnya juga jangan lupakan pipinya yang ia gembungkan yang malah membuat Tao semakin gemas, ia mencubit kedua pipi Kai menariknya kekanan dan kekiri membaut Kai meringgis. "YA! Apa yang kau lakukan?" katanya sambil memegang kedua pipinya yang sudah memerah akibat ulah Tao.

"Jangan lakukan itu, kalau kau mau selamat."

"Apa maksudmu?" tanyanya bingung.

"Pokoknya jangan lakukan itu kalau tidak bersamaku." Peringat Tao.

"Memang kenapa?"

"Sudah lupakan." Kai semakin cemberut ketika Tao meninggalkannya bukannya menjawab pertanyaannya.

"Ish dasar menyebalkan," gerutunya ketika sudah samapi dibangkunya, disana Baekhyun sudah menunggunya, ia menatap Kai heran ketika anak itu masih cemberut.

"Jangan lakukan itu, kalau tidak kucium kau sekarang juga." Ujar Baekhyun, Kai langsung terdiam. Ia memandang Baekhyun sambil memicingkan matanya. "Apa?"

"Kau menyukaiku?" tudingnya pada Baekhyun. Luhan dan Sehun yang memang sudah ada dikelas memandang Baekhyun tidak suka namun mereka deg deg gan juga sih ingin mendengar jawaban Baekhyun.

Baekhyun tertawa, "Kalau ia kenapa?" tanya Baekhyun acuh tak acuh, Kai melotot dengan mulut terbuka, tidak pecaya dengan apa yang barusan Baekhyun katakan. "Kenapa?"

Kai menyeringai, ketika ia melirik Luhan juga Sehun yang tengah memperhatiannya. Sebenarnya bukan hanya mereka berdua tapi seluruh siswa dikelas itu tengah memperhatikan keduanya. Kai mendekatkan wajahnya pada wajah Baekhyun membuat Baekhyun mundur sedikit. Dan satu hal yang Kai ketahui Baekhyun tidak memiliki perasaan apapun padanya, kalau memang Baekhyun menyukainya ia tidak akan mundur dengan wajah tenangnya namun ia akan gugup.

"Tidak apa-apa," bisiknya ditelinga Baekhyun membuat Baekhyun merinding masalahnya anak itu berbisik dengan nada sedukatif.

GREB

Tubuh Kai terhempas kebelakang ketika seseorang menariknya, ia mendengus ketika tahu itu siapa. "Mwoya?" katanya sedikit ketus orang itu tidak peduli ia malah menarik Kai keluar dari kelas, menyisakan tatapan heran dan kagum dari teman-temannya. Apa yang terjadi sebenarnya.

"Ikut aku," sosok itu berujar dingin dan datar. Setelah mereka samapi pada koridor yang sepi sosok itu menghempaskan tubuh Kai pada dinding dan menghimpitnya. Ia memenjarakan Kai dengan kedua tangannya yang ia taruh di kedua sisi tubuh itu. Dan tentu saja Kai berontak tidak terima dengan perlakukan sosok itu yang tiba-tiba.

"Apa yang yang kau lakukan?" tanyanya.

Sehun—sosok itu yang tadi menarik Kai keluar dari kelas—tidak menjawab, ia diam dan malah menatap Kai dalam. "Harusnya aku yang bertanya seperti itu, apa yang kau lakukan dengan Baekhyun?" tanyanya tenang namun dengan penekanan disetiap katanya. Kai memandang sosok itu bingung, "Dan siapa tadi yang mengantarmu sampai depan kelas, hem?"

"Apa maksudmu?" tanya Kai. Dilihatnya sehun mendengus, Kai tersenyum amat manis sekarang, manis batin Sehun. "Kau cemburu?" tanya Kai, sekarang bukan senyum manis lagi yang terpampang melainkan sebuah seringaian nan sexy miliknya yang membuat Sehun berdecih tak suka. Oh ada apa dengan dirimu Oh Sehun?

"Ya aku cemburu, kau tahu itu." kata Sehun datar. Seringaian Kai semakin bertambah lebar apalagi ketika ia menangkap sosok itu, sosok yang ingin ia lupakan namun memang sulit baginya.

Maafkan aku Sehun. Aku berjanji aku akan mencobanya. Batinnya.

Kai mendekatkan wajahnya pada wajah Sehun, hingga ia dapat merasakan nafas panas Sehun menerpa wajahnya, Sehun memejamkan matanya merasakan nafas Kai menerpa wajahnya. Kai semakin mendekatkan wajahnya hingga akhirnya tidak ada jarak diantara keduanya. Sehun tidak percaya apa yang terjadi, Kai menciumnya? Tuhan jangan bagunkan Sehun kalau ini mimpi, perlahan Sehun membuka matanya benar ini bukan mimpi ia dapat melihat dengan jelas Kai ada dihadapannya tengah menciumnya dengan mata terpejam sekarang, meski bibir keduanya hanya saling menempel merasakan manisnya satu sama lain.

Kai masih menempelkan bibirnya pada bibir Sehun, sampai akhirnya Sehun menutup matanya kemabali dan mulai menggerakkan bibirnya pada bibir Kai, melumatnya perlahan hingga akhirnya Kai membalasnya.

Kai merasa kalau bibirnya dilumat dan disesap secara bergantian, atas dan bawah. Ciuman keduanya masih berlangsung intens, dan semakin intens di detik-detik berikutnya. Tangan Sehun melingkar di pinggang Kai, sementara Kai meremas kemeja seragam bagian depan Sehun. Keduanya saling meleguh, mereguk kenikmatan satu sama lain.

Tangan Sehun tidak tinggal diam, tangannya mulai bergerak mengelus pinggang ramping itu hingga berhenti di butt Kai, meremasnya, membuatnya mengerang. Sehun menyeringai dan memasukkan lidahnya kedalam gua hangat Kai menginvasi seluruh isi yang ada didalamnya tidak lupa juga mengajak tuan rumahnya bertarung, hingga akhirnya lidah keduanya saling membelit.

Sehun terlihat sangat ahli dan lihai dalam mendominasi Kai yang memilih diam dan tak berdaya, kakinya lemas seakan tidak dapat lagi menopang tubuhnya untung saja Sehun memegang pinggangnya menahan agar dirinya tidak merosot kelantai.

"Eunghh…" Kai mengerang saat lidah Sehun membelai langit-langit mulutnya, tangannya mencengkram lebih erat kemeja seragam Sehun, pemuda tan itu malah semakin menarik Sehun untuk memperdalam ciumannya.

Kai memiringkan kepalanya ke samping, untuk memberikan lebih banyak akses pada Sehun. Dan ciuman keduanya semakin liar dan dalam. Lidah Sehun mengekporasi seluruh isi mulut Kai sementara tangannya masih berada di butt Kai, meremasnya perlahan-lahan, kemudian sedikit kasar. Kai mengerang di tengah ciuman sambil merasakan buttnya yang diremas kasar oleh Sehun. Disisi lain Sehun menarik Kai lebih dekat padanya dan memperdalam ciumannya.

Mereka masih saling berciuman, sedangkan Luhan—sosok itu yang dari tadi memperhatikan keduanya—mengeram kesal, kedua tanganya mengepal dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Kemudian membalikan tubuhnya dan melangkah minggalkan mereka yang tidak mengetahui keberadaannya dengan perasaan yang err entahlah, marah, cemburu semuanya bercampur menjadi satu.

Kai langsung meraup oksigen sebanyak yang ia bisa ketika Sehun melepas ciuman panasnya. Namun itu tak berlangsung lama. Sehun kembali menyambut bibir Kai dengan lumatan-lumatannya. Ia menjilati bibir Kai meminta akses lebih untuk memasuki gua panas itu kembali, Kai meleguh karena tangan Sehun yang meremas buttnya gemas. Hingga akhirnya lidah itu menerobos masuk, menggelitiki langit-langit mulut Kai. Persendian Kai seperti mati rasa, tulang-tulangnya terasa lemas.

Kai tak dapat melakukan apa-apa, kecuali membalas Sehun sebisanya. Ini gila, Sehun bahkan hampir tak memberinya kesempatan untuk membalas ciuman itu. Seolah Sehun ingin mendominasinya, dan mengintimidasinya dengan ciuman.

Ciuman itu terlepas. Menyisakan benang tipis yang menghubungkan bibir keduanya. Sehun melepaskan tangannya dari pinggang Kai. Ia menghapus saliva yang tampak di bibir Kai dengan ibu jarinya. Setelahnya ia tersenyum dan memandang Kai yang kini wajahnya telah memerah.

Sehun menatap Kai yang masih terengah-engah, "Kau sungguh manis, Kai" ucap Sehun membuat Kai semakin bersemu, sebenarnya dia tidak tahu apa yang ia rasakan pada Sehun saat ini. Tapi ucapan Sehun membuatnya bersemu. Sehun menyeringai, "Jadi, apakah cukup puas?" tanyanya.

Kai memiringkan kepalanya, "Aku tidak tahu. Puas dalam apa?" katanya masih terengah-engah.

Sehun tersenyum ia memandang Kai dalam, "Aku tahu kau masih bingung dengan perasaanmu, dan kau belum dapat melupakannya. Tapi aku bersunggung-sunggu." Katanya tulus. Kai tahu apa maksud Sehun dan dia tahu Sehun mengatakannya sungguh-sungguh. Ia mengangguk pelan membuat Sehun langsung membawanya kedalam pelukan hangatnya.

Maafkan aku, aku akan mencoba sebisaku.

Back in Love

"Kai apa yang Sehun lakukan padamu tadi?" tanya Baekhyun penasaran, ya siapa yang tidak akan penasaran jika kau melihat pangeran sekolahmu yang terkenal dingin dan datar menarik seseorang dengan paksa seperti tadi yang ia lakukan pada Kai.

"Sehun, ada apa dengan dia? Dia menganggumu?" tanya Tao khawatir, terlihat jelas dari raut wajahnya dan nada bicaranya.

Kai yang ditanya hanya menggeleng malas.

"Sehun? Kau diapakan olehnya?" Chen tak kalah antusias dari Baekhyun, sedangkan Kyungsoo ia hanya diam meski sebenarnya ia penasaran juga.

"Aku tidak melakukan apapun padanya," suara itu terdengar datar, mereka menoleh—kecuali Kai ia tahu itu Sehun. Ya Sehun menghampiri mereka, ada angin apa gerangan dan itu membuat semua orang yang ada di Cafetaria bertanya-tanya 'ada hubungan apa sebenarnya antara Sehun dan Kai?' tapi kedua orang itu tidak begitu peduli.

Kai lebih sibuk memakan pastanya, tanpa melihat Sehun. Sementara anak itu sudah mendudukkan dirinya disebelah Kai.

"Sebanarnya kalian ada hubungan apa?" tanya Baekhyun yang sudah penasaran tingkat tinggi. Yang diangguki Chen dan Kyungsoo dengan semangatnya, ingin mendengar yang sebenarnya dari Sehun. Tao dia memilih diam memperhatikan mereka.

Greb

Tiba-tiba tangan Sehun sudah melingkar indah dipinggang Kai, membuat orang-orang yang ada disana menjerit histeris begitu juga dengan Baekhyun, Chen dan Kyungsoo. Tao hanya tersenyum penuh arti melihatnya.

"Apa yang kau lakukan, lepas!" pekik Kai, dia risih sebenarnya diperlakukan seperti itu oleh Sehun dan dia tidak percaya Sehun benar-benar akan melakukannya.

"Wae? Kau kekasihku ada yang salah?" tanya Sehun enteng.

"APA?" teriakan tiga orang yang memiliki suara paling indah dengan kencangnya. Seketika mereka menutup telinga mereka mendengarnya.

"KALIAN PACARAN SEJAK KAPAN?" teriak ketiganya lagi. Yang kali ini sukses mendapat pelototan dari HunKai.

"Tidak usah berteriak kenapa?" Tao angkat bicara, seketika ChenBaekSoo menoleh kearah Tao yang terlihat santai-santai saja seperti tidak terjadi sesuatu. "Kenapa kau setengan itu? JANGAN-JANGAN—" teriak ketiganya histeris.

"Kalian mau membuatku tuli, eoh?" nada suara itu membuat ChenBaekSoo diam seketika, merengut ditempat duduk masing-masing, Kai kalau sedang marah sungguh menakutkan pikir mereka.

"Kau membuat mereka takut, Baby / Kai," Sehun dan Tao berujar berbarengan, Kai menghembuskan nafas lelah.

"Maafkan aku," ia berujar lirih, entah apa yang ia pikirkan hingga ia membuat teman-temannya takut. Setelahnya Kai melepaskan tangan Sehun dari pinggangnya dan pergi dari sana, meninggalkan Sehun juga teman-temannya yang melihatnya bingung.

"Dia kenapa?" tanya Chen polos, yang digelengi kepala oleh yang lain. Masalahnya mereka juga tidak tahu ada apa dengan Kai.

Tanpa mereka ketahui dari tadi Luhan terus memperhatikan mereka bersama Kris, dan Chanyeol.

"Kenapa aku tidak tahu kalau Sehun dan anak baru itu pacaran?" Kris menoleh kearah Chanyeol, "Apa kau tahu?" tanyanya.

"Dia tidak cerita apapun," pandangannya kembali kearah meja Sehun juga Kai tadi. "Mungkin Luhan tahu, diakan sepupunya." Katanya.

"Sehun tidak ceita apapun." Jawab Luhan singkat dan tenang, tapi kalau kalian melihat kebawah kedua tangannya sudah terkepal erat menahan emosi.

Back in Love

Kai mengenggelamkan kepalanya diantara lipatan kedua tangannya diatas meja, berkali-kali ia menghembuskan nafas lelah. Lelah? Apa sebenarnya yang terjadi? Dia tidak tahu kenapa semuanya seperti ini, Sehun benar-benar melakukannya. Kai bimbang tidak tahu harus berbuat apa, mungkin dia memang menyukai Sehun tapi kata 'mungkin' tidak dapat diartikan 'cinta' bukan? Dia akui kalau berada dekat pemuda itu, dia merasa nyaman. Tapi ia tidak mau mengakuinya.

"Ada apa denganmu, kau sakit?" suara lembut milik Baekhyun menyapa indra pendengarannya, Kai tidak merespon ia hanya diam pada posisinya.

"Maaf," lirih.

Baekhyun duduk disebelahnya, mengusap-usap punggung Kai sayang. "Untuk?"

"Aku membentakmu tadi,"

Baekhyun tidak marah, ia tersenyum. "Tidak apa-apa. aku paham suasana harimu sedang tidak baik, eoh?" katanya. Kai mendongak menatap wajah Baekhyun, ia mengangguk. "Kau bisa cerita kapanpun kau mau, aku akan mendengarkan." Ujarnya lembut.

Entah apa yang ada dipikiran Kai, dia mengangguk dan memeluk Baekhyun. Dia menyayangi Baekhyun seperti saudaranya sendiri, pemuda itu dapat mengerti keadaannya. Ia balas memeluk Kai sambil menepuk-nepuk kepalanya pelan meyalurkan kasih sayangnya. Ya, Baekhyun juga menyayangi pemuda tan itu, pemuda yang lebih tinggi darinya sejak awal mereka bertemu ia langsung menyayanginya, dia sudah menganggapnya sebagai adiknya.

Seorang namja manis memasuki kelas dengan terburu, ia menghampiri tempat Luhan. "Luhan, kau melihat Sehun?" tanyanya sambil mengatur nafasnya yang terenggah, mungkin tadi dia berlari.

Luhan yang memang sedang memainkan ponselnya berhenti, "Aku tidak bersamanya dari tadi, ada apa Suho?"

Suho namja manis itu merubah ekspresinya menjadi khawatir. "Tadi dia dipanggil, kepsek." Luhan meletakan ponselnya disakunya. "Kau melihatnya?"

"Ada masalah?" Suho menggeleng, "Mungkin dia dilapangan basket."

Suho menggeleng, "Dia tidak ada disana." Ujarnya pelan.

.

.

Semilir angin berhembus menerbangkan dedaunan yang berguguran, seorang pemuda tengah menikmati tidur siangnya dibawah pohon rindang yang menghalaunya dari sengatan sinar matahari. Rambutnya bergoyang dipermainkan angin yang berhembus, wajahnya terlihat tenang seperti tidak ada beban.

Seorang namja manis menghampirinya, ia duduk disebelah pemuda yang tengah tidur. Kedua ujung bibirnya terangkat membentuk suatu kurva yang membuat orang yang melihatnya tidak ingin menghalihkan pandangannya, pemuda manis itu tersenyum amat manis memandang wajah tenang itu. tangannya terangkat untuk menyingkirkan helaian rambut yang menutupi mata indah tersebut.

Jarinya mulai menjelajah wajah itu, mata, pipi, hidung, dan berahkir dibibir. Manis, begitulah yang pernah ia rasakan ketika bibir itu bersentuhan dengan bibirnya. Tiba-tiba wajahnya memerah ketika ia mengingat kejadian dimana mereka tengah berciuman, tangannya mengelus bibir itu pelan.

Gerakannya terhenti ketika merasakan jarinya digenggam oleh seseorang, dan betapa terkejutnya ia ketika orang itu tengah membuka matanya sambil tersenyum, "Kau menginginkannya?" godanya, namja manis itu menunduk malu. Kenapa ia bisa tertangkap basah seperti itu sih? Apa yang aku pikirkan? "Kau diam berarti iya,"

Namja manis itu mengangkat wajanya menatap mata itu, mata yang membawanya jatuh pada namja tampan yang ada didepannya sekarang.

.

Kris memandang heran sosok yang tengah tersenyum dalam tidurnya, dahinya mengeryit dengan alis yang bertaut. Mimpi apa dia samapi-sampai tersenyum dalam tidurnya, ia berjongkok memperhatikan Sehun yang terus tersenyum. mendekatkan mulutnya ditelingan Sehun sebelum berbisik. "Kau dipanggil kepsek," ujarnya sedukatif.

Kening Sehun berkerut kenapa kepsek? Bukankah dia sedang… "YA! Apa yang kau lakukan, dasar menjijikan!" serunya, mendorong tubuh Kris yang terlalu dekat dengannya. Ia memandang Kris sengit.

Kris tertawa, "Harusnya aku yang berkata seperti itu, kau mimpi apa samapi tersenyum-senyum seperti itu?" tanyanya setelah berhasil meredakan tawanya.

Mimpi jadi itu mimpi, kenapa ia harus bermimpi ditengah bolong begini. "Kau tadi bicara apa?" tanyanya setelah berhasil merubah ekspresinya seperti biasanya.

"Kepsek memanggilmu, katanya ada yang perlu dibicarakan." Sehun beranjak melirik arlojinya waktu menunjukan pukul 13.19 KWS setempat. "Kau mau kemana?" tanya Kris.

"Tentu saja menemui kepsek, apa lagi?" tanyanya malas.

Back in Love

Sehun berjalan menyusuri koridor sekolahnya menuju ruang kepsek yang letaknya dilantai satu, dengan kedua tangan yang ia masukan kedalam saku celananya. Seperti biasanya memang poker facenya. Koridor sedang sepi karena jam pelajaran sedang berlangsung. Langkahnya terhenti ketika ia sudah berdiri didepan sebuah pintu coklat yang diatasnya beruliskan 'Kepsek Room', menghembuskan nafas pelan sebelum mengetuk pintu itu, walau bagaimanapun ia masih punya sopan santun. Setelah mendengar seruan 'masuk' dari seorang wanita yang diyakini penghuni ruangan tersebut, Sehun menarik knop pintu pelan.

"Waseyo, duduklah."

"Ada apa?" tanya Sehun malas,

"Ketus sekali sama eomma mu sendiri." Ya, memang benar pemilik sekolah ini adalah keluarga Oh jadi wajar saja jika Sehun berkata seenaknya terhadapa sang kepsek. Sehun diam dia tidak menjawab pandangannya menyapu seluruh ruangan tidak ingin menatap sang kepsek. Dan pandangannya terhenti disebuah figura yang sengaja dipasang diruangan itu. "Kau sudah memutuskan untuk acara liburan musim panas kali ini?"

"Wisata alam sepertinya mengasyikan, Sajangnim." jawaban singkat yang ia berikan dengan penekanan diakhir kata. Oh sejak kapan Sehun akan memanggilnya seformal itu ketika bertemu di ruangannya meski hanya berdua biasanya Sehun akan memanggilnya eomma.

"Apa yang terjadi denganmu? Tidak biasanya kau memanggilku seformal itu—"

"Tidak ada, sudah sewajarnya bukan aku memanggilmu Sajangnim. Bukankah itu yang seharusnya aku lakukan selama ini." Sehun memotong dengan cepat, ia tidak ingin terlibat pembicaran yang akan berujung membahas masalah keluarga. Dia ingin cepat keluar dari temapt ini, tidak ingin melihat wajah itu lebih lama.

Wanita paruh baya itu memijit pelipisnya pelan. Tidak habis pikir kenapa putranya semakin hari semakin dingin padanya, apalagi sekarang Sehun tidak menampilkan banyak ekspresi. Meski dia tahu benar putranya tersebut memang jarang sekali menampilkan ekspresi yang berarti dan terakhir kali ia melihatnya mungkin ketika Sehun masih duduk dibangku Sd. Dan itu sudah lama sekali dan dia merindukannya.

Namun ini semua memang salahnya, apalagi setelah pembicaraan mengenai perceraiannya dengan suamainya—ayah kandung Sehun. Bahkan anak itu jarang sekali ada dirumah, selalu pergi entah kemana bahkan Luhan yang selalu bersamanya tidak tahu menahu.

"Kalau tidak ada yang dibicarakan lagi, saya permisi." Dia melangkah pergi dan terhenti ketika sampai didepan pintu, "Aku akan menyerahkannya pada Osis," katanya tanpa berbalik.

.

.

Ruang Osis sudah dipenuhi oleh anggotanya yang memang tadi sudah dikumpulkan karena akan mengadakan rapat, tinggal satu orang yang belum hadir Oh Sehun putra dari pemilik sekolah meskipun ia tidak menjabat apapun tapi kehadirannya sangat diperlukan karena dia yang memegang kendali.

Padahal tadi ia yang menghubungi Suho sang ketua osis dan menyuruh mereka berkumpul secepatnya tapi malah dia sendiri yang datang terlambat, dan mereka sudah menunggu selama 15 menit. Mengundang pertanyaan dari para anggota tersebut, Sehun tidak biasanya terlambat ada apa denganya? Sungguh Suho rasanya ingin mendendang manusia albino itu kekutub utara biar dia membeku sekalian disana.

"Ini sudah terlambat dari waktu yang ditentukan," Kyungsoo angkat bicara yang diangguki anggota yang lainnya. "Tidak biasanya dia terlambat," imbuhnya.

"Kita tunggu sebentar lagi, mungkin dia masih ada urusan." Suho berkata bijak.

"Ada apa dia mengumpulkan kita?" tanya Xiumin heran, tidak biasanya Sehun mengumpulkan mereka dan ikut rapat, biasanya anak itu hanya akan menandatangani dan menyetujui rencana kerja yang selalu diserahkan oleh Suho.

"Mungkin ada yang penting." Kris ikut menimpali. Meski diapun penasaran sebenarnya ada apa dengan temannya itu. "Kau tahu sesuatu Lu?" dia berbalik menghadap Luhan yang duduk dihadapannya.

"Tidak." Singkat, karena Luhan memang sedang sibuk dengan Xiumin membaca proposal, "Tapi mungkin berhubungan dengan acara yang akan diadakan libur musim panas kali ini." Ya, karena Luhan sedang membaca profosal tersebut, dan mungkin saja tebakannya benar kalau pikirannya tidak meleset.

"Ah, benar juga." Koor mereka serempat.

Cklek

Pintu terbuka tampaklah sosok Sehun yang berjalan dengan santainya seakan ia tidak bersalah sama sekali. Tidak memperdulikan tatapan dari teman-temannya yang menatapnya kesal karena keterlambatannya. Ia berjalan menuju kursinya yang berada disebelah Suho, dan duduk dengan tenang disana.

"Sebenarnya ada apa sehingga kau mengumpulkan kami?" Tao angkat bicara, yang dari tadi hanya diam saja duduk dengan tenang disebelah Kyungsoo.

"Tentang libur musim panas, apa ada usul?"

Benarkan pemikiran Luhan memang tidak pernah meleset. Dan mereka semua hanya menghela nafas mereka mengira akan ada hal penting apa.

"Bagaimana kalau ke Busan." Usul Xiumin kalau mengenai acara liburan dialah orang yang paling semangat. "jelajah alam disana. Kita tidak pernahkan, selama ini kita hanya liburan tidak ada acara lainnya" lanjutnya ketika semua mata memandang kearahnya.

"Benar juga, itu akan mengasyikan." Timpal Luhan, ah dia memang akan selalu menyetujui usul kekasihnya itu.

"Selain Busan, mungkin ada tempat yang kalian ingin kunjungi?" Sehun memandang satu persatu anggotanya yang terlihat sedang berpikir kemana sebaiknya mereka akan pergi kali ini.

"Gangneung, mungkin?"

"Seogwipo,"

"Yeosu?"

"Jeongseon-gun,"

Tok tok

Sedang asyik mengusulkan tiba-tiba pintu diketuk dari arah luar.

"Masuk,"

.

.

.

To be Continue…

Sekian dulu ya maaf chanpter ini pendek banget, dan juga ceritanya makin aneh dan gaje…

Mian sekali lagi…